• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODE PENELITIAN

4.2. Analisa Pengujian Kelompok Penelitian

Tabel 4.2.1. Tabel Perbedaan Rerata penggunaan dosis Propofol pada kelompok yang mendapatkan obat Ketamin dan Midazolam

Obat Anestesi N Dosis Propofol Nilai p t-test Mean Std. Deviation Ketamin 0,3 mg/kgBB IV 27 82,70 14,451 0,015 Midazolam 0,03 mg/kgBB IV 27 92,67 14,581

Tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata dosis Propofol yang diberikan lebih rendah pada kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV dibandingkan dengan yang mendapatkan obat koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV. Berdasarkan uji statistik dengan t-test didapatkan nilai p< 0,05 yang menjelaskan bahwa adanya perbedaan dosis Propofol yang bermakna diantara kelompok yang menggunakan koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV dibandingkan dengan kelompok yang menggunakan koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV.

Tabel 4.2.2. Tabel Perbedaan Dosis Propofol per Berat Badan pada kelompok yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV dan Midazolam 0,03 mg/kgBB IV Kelompok Ketamin Rerata Rerata Dosis Propofol / Berat Badan Nilai p (t-test) antar kelompok Berat Badan 60,11 1,38 mg/kgBB IV Dosis Propofol 82,70 Kelompok Midazolam 0,0001 Berat Badan 57,33 1,63 mg/kgBB IV Dosis Propofol 92,67

Tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata dosis Propofol per kilogram berat badan yang diberikan lebih rendah pada kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin (1,38 mg/kgBB IV) dibandingkan dengan yang mendapatkan obat koinduksi Midazolam (1,63 mg/kgBB IV). Berdasarkan uji statistik dengan t-test didapatkan nilai p<0,05 yang menjelaskan bahwa adanya perbedaan dosis Propofol per kilogram berat badan yang bermakna dengan menggunakan koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV dibandingkan dengan menggunakan koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV.

Hasil pengamatan terhadap kondisi hemodinamik dari kelompok penelitian yang mendapatkan koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.2.3. Tabel Perbedaan Rerata Tekanan Darah (Sistolik dan Diastolik), MAP dan Laju Jantung sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok yang mendapatkan obat Koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV.

No Kelompok Ketamin 0,3 mg/kgBB IV N Mean Std. Deviation Nilai p t-test Rerata Penurunan

1 Sistolik sebelum koinduksi 27 126,07 9,055 1,00 0%

Sistolik setelah koinduksi 27 126,07 8,687

2

Sistolik setelah koinduksi 27 126,07 8,687

0,0001 12% Sistolik setelah induksi 27 110,41 8,149

3

Diastolik sebelum koinduksi 27 77,07 7,473

0,199 1%

Diastolik setelah koinduksi 27 76,26 7,926

4

Diastolik setelah koinduksi 27 76,26 7,926

0,0001 10% Diastolik setelah induksi 27 68,67 6,972

5

MAP Sebelum koinduksi 27 93,22 7,516

0,381 1%

MAP Setelah koinduksi 27 92,67 7,184

6

MAP setelah koinduksi 27 92,67 7,184

0,0001 11%

MAP setelah induksi 27 82,59 6,851

7

Laju Jantung sebelum koinduksi 27 81,41 13,599

0,699 0%

Laju Jantung setelah koinduksi 27 81,07 12,089

8

Laju Jantung setelah koinduksi 27 81,07 12,089

0,001 5%

Laju Jantung setelah induksi 27 76,96 10,747

Berdasarkan tabel di atas, subjek penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV menunjukkan bahwa nilai rerata tekanan darah sistolik sebelum koinduksi dan sistolik setelah koinduksi tidak menunjukkan adanya perubahan dan secara statistik dengan t-test tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p>0,05). Namun

nilai rerata tekanan darah sistolik setelah induksi lebih rendah 12% dari setelah koinduksi dan secara statistik dengan t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05).

Tabel di atas menjelaskan bahwa subjek penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV menunjukkan bahwa nilai rerata tekanan darah diastolik setelah koinduksi mengalami penurunan sebesar 1% dibandingkan dengan sebelum koinduksi dan secara statistik dengan t-test tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p>0,05). Namun nilai rerata tekanan darah diastolik setelah induksi mengalami penurunan sebesar 10% dari setelah koinduksi dan secara statistik dengan t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05).

Dari tabel di atas dapat dilihat subjek penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV menunjukkan bahwa nilai rerata MAP setelah koinduksi hanya mengalami penurunan sebesar 1% dibandingkan dengan sebelum koinduksi dan secara statistik dengan t-test tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p>0,05). Namun nilai rerata MAP setelah induksi mengalami penurunan sebesar 11% dari setelah koinduksi dan secara statistik dengan t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05). ). Tabel di atas menunjukkan subjek penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV menunjukkan bahwa nilai rerata laju jantung sebelum koinduksi dan setelah koinduksi relatif tidak mengalami perubahan dan secara statistik dengan t-test tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p>0,05). Namun nilai rerata laju jantung setelah induksi mengalami penurunan sebesar 5% dari setelah koinduksi dan secara statistik dengan t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05).

Dari seluruh parameter hemodinamik pada kelompok yang mendapatkan koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV penurunan terbesar terjadi pada rerata tekanan darah sistolik setelah induksi yaitu sebesar 12 %.

Pada penelitian ini terbukti bahwa pemberian koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV tidak memberikan pengaruh yang bermakna terhadap hemodinamik. Namun setelah induksi dengan propofol secara titirasi dijumpai penurunan tekanan hemodinamik secara bermakna dibandingkan dengan sebelum koinduksi. Penurunan tekanan darah sistolik yaitu rata-rata sebesar 12% dan tekanan darah diastolik yaitu rata-rata sebesar 10% .

Pemberian koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV juga tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap MAP dan laju jantung. Namun setelah induksi dengan propofol dijumpai penurunan secara bermakna nilai MAP dan laju jantung dibandingkan dengan kondisi sebelum koinduksi yaitu penurunan MAP rata-rata sebesar 11% dan penurunan laju jantung yaitu rata-rata sebesar 5%.

Selanjutnya hasil pengamatan terhadap kondisi hemodinamik dari kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV yang diberikan induksi Propofol dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.2.4. Tabel Perbedaan Rerata Tekanan Darah (Sistolik dan Diastolik), MAP dan Laju Jantung sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok yang mendapatkan obat Koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV.

No Kelompok

Midazolam 0,03 mg/kgBB IV N Mean Std. Deviation

Nilai p t-test

Rerata Penurunan

1

Sistolik sebelum koinduksi 27 125,89 6,512 0,022

2% Sistolik setelah koinduksi 27 123,81 6,239

2

Sistolik setelah koinduksi 27 123,81 6,239

0,001 12% Sistolik setelah induksi 27 108,67 4,891

3

Diastolik sebelum koinduksi 27 78,78 4,964

0,019 2%

Diastolik setelah koinduksi 27 77,30 6,126

4

Diastolik setelah koinduksi 27 77,30 6,126

0,001 11% Diastolik setelah induksi 27 69,15 5,397

5

MAP sebelum koinduksi 27 94,19 4,641

0,011 2%

MAP setelah koinduksi 27 92,48 5,625

6

MAP setelah koinduksi 27 92,48 5,625

0,0001 11%

MAP setelah induksi 27 81,96 4,519

7

Laju Jantung sebelum koinduksi 27 81,81 10,370

0,049 2% Laju Jantung setelah koinduksi 27 80,07 8,875

8

Laju Jantung setelah koinduksi 27 80,07 8,875

0,013 3% Laju Jantung setelah induksi 27 77,59 9,544

Berdasarkan tabel di atas subjek penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV menunjukkan bahwa nilai rerata tekanan darah sistolik setelah koinduksi mengalami penurunan sebesar 2% dibandingkan dengan sebelum koinduksi dan secara statistik dengan t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05). Nilai

rerata tekanan darah sistolik setelah induksi mengalami penurunan sebesar 12% dari setelah koinduksi dan secara statistik dengan t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05).

Pengamatan terhadap tekanan darah diastolik terhadap subjek penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV menunjukkan bahwa nilai rerata tekanan darah diastolik setelah koinduksi mengalami penurunan sebesar 2% dibandingkan sebelum koinduksi secara statistik dengan t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05). Demikian juga nilai rerata tekanan darah diastolik setelah induksi mengalami penurunan sebesar 11% dibandingkan setelah koinduksi dan secara statistik dengan t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05).

Dari tabel di atas dapat dilihat subjek penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV menunjukkan bahwa nilai rerata MAP setelah koinduksi mengalami penurunan sebesar 2% dibandingkan sebelum koinduksi dan secara statistik dengan t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05). Hal yang sama nilai rerata MAP setelah induksi mengalami penurunan sebesar 11% dibandingkan setelah koinduksi dan secara statistik dengan t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05).

Pengamatan terhadap laju jantung subjek penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV menunjukkan bahwa nilai rerata laju jantung setelah koinduksi mengalami penurunan sebesar 2% dari sebelum koinduksi yang secara statistik dengan t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05). Nilai rerata laju jantung setelah induksi mengalami penurunan sebesar 3% dibandingkan dengan setelah koinduksi dan secara statistik dengan t-test menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05).

Dari seluruh parameter hemodinamik pada kelompok yang mendapatkan koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV penurunan terbesar terjadi pada rerata tekanan darah sistolik setelah induksi yaitu sebesar 12 %.

Walaupun terjadi penurunan hemodinamik yang secara statistik bermakna setelah induksi baik yang menggunakan koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV maupun Midazolam 0,03 mg/kgBB IV, namun pada seluruh sampel penelitian tidak dijumpai efek hipotensi yang ditandai dengan penurunan hemodinamik >20% dari nilai awal.

Tabel 4.2.5. Tabel Perbedaan Rerata Perubahan Hemodinamik pada kelompok yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV dan

Midazolam 0,03 mg/kgBB IV Perubahan

Hemodinamik Kelompok Penelitian N Mean

Std. Deviation Nilai p (t-test) Penurunan sistolik setelah koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV 27 0 ,0000 4,31455 0,088 Midazolam 0,03 mg/kgBB IV 27 2,0741 4,43696 Penurunan sistolik setelah induksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV 27 15,6667 6,72538 0,761 Midazolam 0,03 mg/kgBB IV 27 15,1481 5,71573 Penurunan diastolik setelah koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV 27 0,8148 3,21100 0,439 Midazolam 0,03 mg/kgBB IV 27 1,4815 3,06808 Penurunan diastolik setelah induksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV 27 7,5926 4,90886 0,671 Midazolam 0,03 mg/kgBB IV 27 8,1481 4,63850 Penurunan MAP setelah koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV 27 0,5556 3,23839 0,197 Midazolam 0,03 mg/kgBB IV 27 1,7037 3,22031 Penurunan MAP setelah induksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV 27 10,0741 5,35599 0,375 Midazolam 0,03 mg/kgBB IV 27 10,5185 4,17290

Penurunan laju jantung setelah koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV 27 0,3333 4,43760 0,246 Midazolam 0,03 mg/kgBB IV 27 1,7407 4,38172 Penurunan laju jantung setelah induksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV 27 4,1111 5,78016 0,265 Midazolam 0,03 mg/kgBB IV 27 2,4815 4,81480

Gambar 4.2.1. Grafik Perubahan Hemodinamik dari Kelompok obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV dan obat koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV

62 64 66 68 70 72 74 76 78 80

Diastolik awal Diastolik

sebelum koinduksi Diastolik setelah koinduksi Diastolik setelah induksi Ketamin Midazolam 95 100 105 110 115 120 125 130

Sistolik awal Sistolik

sebelum koinduksi Sistolik setelah koinduksi Sistolik setelah induksi Ketamin Midazolam

Berdasarkan tabel dan grafik di atas menunjukkan bahwa penurunan sistolik sebelum dan sesudah koinduksi lebih tinggi pada kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV dibandingkan dengan kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV. Namun secara statistik dengan t-test tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p>0,05).

Tabel di atas menunjukkan bahwa penurunan sistolik sesudah koinduksi dan setelah induksi relatif sama antara kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV dengan kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV dan secara statistik dengan t-test tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p>0,05).

75 80 85 90 95 100

MAP awal MAP Sebelum

koinduksi MAP setelah koinduksi MAP setelah induksi Ketamin Midazolam 72 74 76 78 80 82 84 Laju Jantung awal Laju Jantung sebelum koinduksi Laju Jantung setelah koinduksi Laju Jantung setelah induksi Ketamin Midazolam

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa penurunan diastolik sebelum dan sesudah koinduksi lebih tinggi pada kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV dibandingkan dengan kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV. Namun secara statistik dengan t-test tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p>0,05).

Tabel di atas menunjukkan bahwa penurunan diastolik sesudah koinduksi dan setelah induksi relatif hampir sama antara kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV dengan kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV dan secara statistik dengan t-test tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p>0,05).

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa penurunan nilai MAP sebelum dan sesudah koinduksi lebih tinggi pada kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV dibandingkan dengan kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV. Namun secara statistik dengan t-test tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p>0,05).

Tabel di atas menunjukkan bahwa penurunan nilai MAP sesudah koinduksi dan setelah induksi relatif sama antara kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV dengan kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV dan secara statistik dengan t-test tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p>0,05).

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa penurunan laju jantung sebelum dan sesudah koinduksi lebih tinggi pada kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV dibandingkan dengan kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV. Namun secara statistik dengan t-test tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p>0,05).

Tabel di atas menunjukkan bahwa penurunan Laju jantung antara sesudah koinduksi dan setelah induksi lebih tinggi pada kelompok penelitian yang mendapatkan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV dibandingkan dengan kelompok penelitian yang mendapatkan obat Midazolam 0,03 mg/kgBB IV. Namun secara statistik dengan t-test tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p>0,05).

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dijelaskan bahwa walaupun secara umum terjadi penurunan hemodinamik yang lebih besar pada kelompok yang mendapatkan koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV dibanding dengan kelompok yang mendapatkan koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV namun secara statistik tidak ada perubahan hemodinamik yang bermakna antara kedua kelompok penelitian yang menggunakan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV maupun koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV.

Tabel 4.2.6.Tabel Komplikasi pulih sadar pada pemberian Ketamin dan Midazolam

Komplikasi pulih sadar

Ketamin 0,3 mg/kgBB IV Midazolam 0,03 mg/kgBB IV n % n % Tidak ada 27 100 27 100 Ada 0 0 0 0

Tabel di atas menunjukkan bahwa seluruh subjek penelitian tidak ada yang mengalami komplikasi pulih sadar baik yang diberikan obat koinduksi Ketamin 0,3 mg/kgBB IV maupun koinduksi Midazolam 0,03 mg/kgBB IV.

Dokumen terkait