BAB II BENTUK PENGATURAN TINDAK PIDANA PENAMBANGAN
4. Putusan Perk No 19/Pid C/2012/Pn Smp
3.2 Analisa Pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri Sumenep dalam
Menjatuhkan Pidana Denda Terhadap Per kar a Penambangan Pasir Tanpa Izin
Dari data perkara di Pengadilan Negeri Sumenep yang mengadili perkara tersebut dengan acara pemeriksaan cepat tindak pidana ringan, perkara tindak pidana melakukan usaha penambangan pasir tanpa ijin yang dijatuhkan pidana denda oleh Hakim adalah Perk. No. 07/Pid. C/2012/Pn. Smp, sedangkan perkara yang lain yakni berupa pidana penjara dan masa percobaan saja. Adapun pertimbangan hakim dalam penjatuhan pidana denda dalam Perk. No. 07/Pid. C/2012/Pn. Smp sebagai berikut:
Bahwa benar pada hari Selasa tanggal 10 April 2012 sekitar pukul 18.00 WIB para terdakwa masing-masing membawa truk yang bermuatan pasir laut tanpa dilengkapi surat ijin penambangan dari Samsat Pemerintah Kabupaten. Para terdakwa mengangkut pasir dari laut Sergeng dan rencananya mau dipasarkan di Pamekasan dengan harga ± Rp. 350.000,- (tiga ratus lima puluh ribu rupiah). Dalam hal mengangkut pasir dari laut Sergeng para terdakwa melakukan tanpa sepengetahuan bosnya, tetapi baru sekali ini mengangkut pasir laut Sergeng. Kemudian para terdakwa mengaku bersalah dan menyesali perbuatannya. Atas dasar hal pertimbangan tersebut akhirnya Hakim menjatuhkan Pidana denda kepada para terdakwa masing-masing sebesar Rp. 350.000.
Jadi disini jelas bahwa terdakwa memiliki hal yang memberatkan dan hal yang meringankan terhadap terdakwa. Adapun hal yang memberatkan terdakwa yakni terdakwa telah melakukan penambangan pasir tanpa memiliki izin sedangkan hal yang meringankan para terdakwa yakni:
a. Terdakwa belum pernah dihukum.
b. Baru sekali ini mengangkut pasir laut Sergeng.
c. Para terdakwa mengaku bersalah dan menyesali perbuatannya.
Dalam menjatuhkan tuntutan, hakim akan mencoba menggali nilai-nilai yang terjadi di dalam perkara itu makanya di dalam praktek dikenal keadilan hukum, keadilan moral, keadilan sosial. Kalo dipandang hanya cukup peringatan saja, maka hanya sekedar percobaan. Ada yang kena denda karena banyak yang diambil dan jika sudah pernah menjalani juga maka dihukum kurungan. Apabila terjadi perbedaan putusan dalam suatu perkara yang terjadi atau kita kenal dengan disparitas putusan, itu karena bergantung kepada jenis perkaranya, bergantung kepada kualitas perbuatannya itu sendiri, peristiwa itu sendiri dan tergantung pada hakimnya itu sendiri. Pertimbangannya hakim melihat posisi kasusnya seperti apa, sikapnya terdakwa gimana, kembali keyakinan hakim apakah harus dipenjara, mungkin hanya denda saja, atau karena masih coba-coba atau baru sekali maka hukuman percobaan saja. Dalam menjatuhkan hukuman, Hakim dasarnya kewenangan dan melihat sisi-sisi nurani, melihat dampaknya seperti apa.
Perbuatan melawan hukum seseorang tidak hanya dilihat pada diri terdakwa saja
tetapi pada lingkungan dan masyarakatnya.51
Penulis memandang putusan hakim terhadap 3 perkara penambangan pasir yakni Perk. No. 04/Pid. C/2011/ Pn. Smp,Perk. No. 18/Pid.C/2012/Pn. Smpdan Perk. No. 19/Pid. C/2012/Pn. Smp yang semuanya dijatuhi hukum kurungan percobaan, menurut penulis belum sebanding dengan perbuatan para terdakwayang telah merugikan negara. Selain itu 3 putusan perkara penambangan pasir tersebut, para terdakwa diperintah oleh Hakim untuk tidak usah menjalani hukuman kurungannya dan semua hanya berupa hukuman percobaan selama 4 bulan.Di dalamPasal 24 ayat (1) Peraturan Daerah Kabupaten Sumenep Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha Pertambangan Daerah Bahan Galian Golongan C, terhadap para terdakwa penambang pasir dapat dijatuhi selain hukuman kurungan yakni hukuman denda sebanyak-banyaknya Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah). Penjatuhan hukuman denda dirasa sangatlah tepat untuk memberikan efek jera kepada pelakunya dan dari uang denda tersebut dapat dipakai pemerintah sebagai biaya untuk reklamasi kerusakan lingkungan yang telah terjadi.
Sebaliknya putusan Hakim terhadap perkara penambangan pasir tanpa izin yakni Perk. No. 07/Pid.C/2012/PN. Smp yang dijatuhi pidana denda terhadap para terdakwa masing-masing sebesar Rp. 350.000 (tiga ratus lima puluh ribu rupiah), menurut penulis kurang maksimal dan masih tergolong rendah untuk diterapkan kepada para terdakwa. Karena dibandingkan dengan ancaman pidana denda di dalamPasal 24 ayat (1) Peraturan Daerah Kabupaten Sumenep Nomor 13 Tahun
51
Wawancara dengan Deny Indrayana, SH., Hakim Pengadilan Negeri Sumenep pada hari senin tanggal 22 April 2013 pukul 12.00 WIB.
2003 tentang Ijin Usaha Pertambangan Daerah Bahan Galian Golongan C sebanyak-banyaknya Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah), hukuman denda dalam putusan perkara tersebut tidak sebanding dengan kerusakan lingkungan yang telah terjadi. Sehingga penjatuhan pidana denda yang maksimal yang terdapat dalam Pasal 24 ayat (1) Perda Kabupaten Sumenep Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha Pertambangan Daerah Bahan Galian Golongan C dirasa sangat tepat memberikan efek jera terhadap para pelakunya tersebut. Walaupun disatu sisi pidana denda juga tidak menutup kemungkinan dapat dibayarkan oleh orang lain dan akhirnya tujuan daripada pemberian efek jera tidak tercapai sepenuhnya dikarenakan para terdakwa dan pelaku penambangan tanpa izin lain hanya berupa denda yang rendah saja yang akan dijatuhkan ketika tertangkap.
Dapat disimpulkan dari 4 putusan perkara penambangan pasir tanpa izin yang penulis pergunakan sebagai data dalam penelitian ini, penulis berkesimpulan bahwa Hakim Pengadilan Negeri Sumenep dalam memeriksa dan mengadili perkara tersebut sudah sesuai dengan Undang-undang serta peraturan-peraturan yang berlaku. Tetapi juga terdapat kekurangan dalam hal Hakim Pengadilan Negeri Sumenep menjatuhkan putusan terhadap perkara penambangan pasir tanpa izin tersebut yakni Hakim Pengadilan Negeri Sumenep kurang objektif dalam hal menjatuhkan putusan. Hal tersebut dikarenakan dalam menjatuhkan putusan berupa hukuman kurungan pada perkara penambangan pasir tanpa izin tersebut, Hakim memerintahkan agar terdakwa tidak usah menjalani hukum kurungannya dan terdakwa hanya menjalani hukuman percobaan selama 4 bulan. Dan dalam hal menjatuhkan putusan berupa hukuman denda terhadap perkara penambangan
pasir tanpa izin tersebut, Hakim Pengadilan Negeri Sumenep hanya menjatuhkan hukuman denda yang rendah daripada ancaman hukuman yang terdapat di dalam Pasal 24 ayat (1) Peraturan Daerah Kabupaten Sumenep Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ijin Usaha Pertambangan Daerah Bahan Galian Golongan C.
BAB IV PENUTUP
4.1Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
1. Dasar hukum yang dipakai terhadap para pelaku tindak pidana
penambangan pasir tanpa izin yakni Peraturan Daerah Kabupaten Sumenep Nomor 13 Tahun 2003 tentang izin Usaha Pertambangan Daerah Bahan Galian Golongan C, Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Namun dari semua perkara yang telah diadili oleh Pengadilan Negeri Sumenep, dasar hukum yang dipakai adalah Peraturan Daerah Kabupaten Sumenep Nomor 13 Tahun 2003 tentang izin Usaha Pertambangan Daerah Bahan Galian Golongan C Bab IX Pasal 24 ayat (1), Pasal 24 ayat (2), Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 24 ayat (2). Dalam Pasal 24 ayat (1) dan ayat (2) jelas bahwa pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan Daerah tersebut diancam pidana kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) dan bentuk tindak pidananya adalah pelanggaran.
2. Hakim Pengadilan Negeri Sumenep dalam menangani perkara tindak
pidana penambangan pasir tanpa izin sudah sesuai dengan ketentuan
pidana terdapat di dalam Undang-undang maupun Peraturan Daerah yang mengatur tentang izin usaha pertambangan pasir. Menurut data di Pengadilan Negeri Sumenep dari tahun 2011 sampai januari 2013 terdapat 4 (empat) kasus penambangan pasir tanpa izin yang masuk dan telah diputus semua. Dari 4 (empat) kasus penambangan pasir tanpa izin tersebut terdapat 3 (tiga) kasus yang dijatuhi pidana kurungan percobaan dan hanya ada 1 (satu) kasus saja yang dijatuhi pidana denda. Adapun hanya 1 (satu) kasus yang dijatuhi pidana denda dikarenakan hakim mempertimbangkan dan berkeyakinan untuk menjatuhkan pidana denda pada kasus tersebut. Hakim dalam menjatuhkan putusan berdasarkan kewenangan dan pertimbangan Hakim yang dilindungi oleh kekuasaan kehakiman.
4.2 Sar an
Dengan terselesainya skripsi ini, ada beberapa hal yang menjadi harapan penulis antara lain :
1. Bagi Masyarakat
Masyarakat sekitar lokasi pertambangan pada khususnya hendaknya membantu pemerintah dalam hal sosialiasasi terhadap penambang pasir yang kebanyakan dilakukan oleh warga sekitar lokasi agar mengurus izin usaha pertambangan terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan pertambangan pasir. Apabila melihat terjadinya kegiatan pertambangan pasir illegal atau tanpa izin segera melaporkan kepada instansi pemerintah terkait.
2. Bagi Instansi
Hakim dalam memeriksa dan mengadili para pelaku penambangan pasir tanpa izin hendaknya menjatuhkan pidana yang maksimal atau setimpal terhadap pelakunya. Dalam pengertian, jika dijatuhi pidana denda hendaknya dijatuhi pidana denda maksimal sesuai ketentuan undang- undang atau peraturan daerah yang dipakai terhadap pelakunya, karena melihat dari dampak lingkungan yang tidak dapat kembali ke asalnya.
Sedangkan jika diputus pidana kurungan hendaknya Hakim
memerintahkan terdakwa untuk menjalani, agar memberikan efek jera kepada terdakwa dan pelaku lainnya.
3. Bagi Pemerintah
Pemerintah harus lebih sering memberikan sosialisasi agar sebelum melaksanakan kegiatan pertambangan pasir terlebih dahulu mengurus izin usaha pertambangan di Badan Pelayanan Perizinan Terpadu sesuai aturan yang berlaku. Dalam hal penindakan terhadap kegiatan pertambangan pasir yang illegal atau tidak memiliki izin berupa Surat Izin Pertambangan Daerah, pemerintah dalam hal ini Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sebagai penegak Peraturan Daerah harus lebih sering mengadakan patroli rutin di lokasi-lokasi yang sering terjadi kegiatan pertambangan pasir tanpa izin.
Achmad Yulianto dan Fajar Mukti, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010
Adam Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2002, Cetakan ke-1
Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta, PT Raja Grafindo, 2011 Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Bandung, Cv Mandar Maju,
2008, Cetakan ke-1
Gatot Supramono, Hukum Pertambangan Mineral Dan Batu Bara Di Indonesia, Jakarta, Rineka Cipta, 2012, Cetakan ke-1
Isnu Guandi dan Jonaedi Efendi, Cepat dan Mudah Memahami Hukum Pidana, Jilid 1, Prestasi Pusta Karya, 2011, Cetakan ke-1
Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta, Rineka Cipta, 2009, Cetakan ke-8 M. Daud Silalahi, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan
Indonesia, edisi revisi, Alumni, Bandung, 2001
M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP, edisi kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 2008
Ninik Suparni, Eksistensi Pidana Denda Dalam Sistem Pidana Dan Pemidanaan, Sinar Grafika, Jakarta, 1996, Cetakan ke-1
Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Penerbit Universitas Indonesia (UI- Press, Jakarta, 1986, Cetakan ke-3
Salim HS, Hukum Pertambangan Mineral dan Batu bara, Sinar Grafika, Jakarta, 2012, Cetakan ke-3
Takdir Rahmadi, Hukum Lingkungan Di Indonesia, Rajawali Pers, Jakarta, 2011 Teguh Prasetyo, Kriminalisasi Dalam Hukum Pidana, Bandung, Nusamedia, 2010,
3. Pera tur an Per undang-Undangan
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah Undang-undang Nomor 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pertambangan
Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan Galian Peraturan Daerah Kabupaten Sumenep Nomor 13 tahun 2003 tentang Izin
Pertambangan Daerah Golongan C
4. Website
http://jatim.tribunnews.com/m/index.php//2012/11/26/penambangan-pasir-liar-di-
sumenep, diakses pada rabu tanggal 20 februari 2013 pukul 15.00 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Pasir, diakses pada hari selasa tanggal 5 februari 2013 pukul
17.00 WIB
http://idebangunan.blogspot.com/2012/08/jenisbeda-pasir-berdasarkan-
kegunannya.html, diakses pada hari selasa tanggal 5 februari 2013 pukul 06.30
WIB
5. Lain-lain
Standar Pelayanan Publik Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Sumenep
6. Wawancara
Wawancara dengan Deny Indrayana, S.H.