• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Perupaan Anting Perak Desak Nyoman Suarti Periode 2005

4.1.3 Analisa Perupaan Perhiasan Perak Desak Nyoman Suarti dengan Fungsi Anting periode 2005-2007

4.1.3.1 Analisa Perupaan Anting Perak Desak Nyoman Suarti Periode 2005

Tabel IV.9. Sampel anting perak Desak Nyoman Suarti periode 2005

Keterangan Sampel I Sampel II Sampel III

Perupaan

Bentuk dasar Lar Setengah lingkaran Geometris

Pola Geometris Geometris Pola tiga

Ragam hias Abstraksi parang, mlinjon dan tumpal

Bun dan stilasi tumpal Penggayaan huruf W, Bun dan bentuk wajik

Komposisi Asimetris Simetris Simetris

Tekstur Relief Elaborasi antara aplikasi

permukaan yang polos berkilau, granulasi dan oksidasi

Elaborasi polos berkilau dan oksidasi

Garis Geometris dinamis Kurvilinear dan geometris Geometris Material lain Kecubung Aksen lapis emas berbentuk

lingkaran di tengah anting

-

Sistem kuncian Tusuk Tusuk Tusuk

Sampel pertama di atas merupakan salah satu bagian dari satu set perhiasan bertemakan

“Batik” yang dikeluarkan oleh Suarti “Ritual of Fire” pada tahun 2004. Desain anting ini diproduksi untuk sasaran konsumen di Amerika bekerja sama dengan QVC, sebagai tivimedia di negara setempat. Anting yang terbuat dari perak 9,25% atau umum dikenal dengan istilah sterling silver ini secara bentuk dasar menggunakan bentuk geometris lingkaran yang dikembangkan. Material tambahan yang digunakan adalah batu kecubung yang dipotong dengan teknik brillian cut.

Secara garis besar anting ini dihiasi oleh tiga jenis ornamen yang dibatasi oleh garis antara satu ornamen dengan ornamen lainnya. Bagian paling luar anting ini dihiasi oleh bentuk S dan lingkaran yang disusun bergantian. Jika dilihat dari keseluruhan perupaan anting, bentuk S tersebut menghadap ke arah kanan. Bagian tengah anting perak ini dihiasi dengan garis-garis diagonal yang membentuk garis imajiner berupa segitiga yang disusun saling berkebalikan. Ornamen yang dikomposisikan berada dekat batu kecubung ini tidak lain merupakan ragam hias pilin berganda yang diaplikasikan mendatar mengikuti lekuk bentuk dasar anting.

Gambar IV.23. Detail perupaan anting perak Suarti periode 2005 sampel I Sumber: Penulis

Jika dianalisa berdasarkan tema yang melatarbelakangi anting ini, bentuk dasar anting mengingatkan pada bentuk ragam hias Lar yang umum tampil pada batik keraton. Ragam hiasa Lar adalah penggayaan sayap Garuda, yaitu hewan mitologi Hindu-Jawa yang merupakan gabungan dari kuda dan burung. Selanjutnya ragam hias berbentuk huruf S yang dikomposisikan bergantian dengan bentuk lingkaran merupakan abstraksi dari ragam hias parang dan mlinjon.

Motif parang merupakan salah satu motif larangan dalam masyarakat pramoderen Jawa.

Ragam hias parang merupakan stilasi dari pelbagai bentuk, mulai dari stilasi teratai, keris dan golok sebagai beberapa contohnya. Motif parang dalam kain batik kerap dikomposisikan secara berulang, teratur dan diagonal. Ragam hias lain dalam ornamen terluar anting ini adalah lingkaran yang merupakan abstraksi dari bentuk mlinjon. Mlinjon sendiri dalam batik merupakan pengembangan dari motif ceplok merupakan representasi dari pola lima atau manca-pat dalam masyarakat pramoderen Jawa.

Pada bagian tengah anting terdapat garis-garis tegas yang dikomposisikan diagonal sehingga membentuk bangun imajiner berupa segitiga yang saling berkebalikan. Garis-garis ini merupakan abstraksi dari motif tumpal yang kerap hadir dalam batik tradisional.

Motif tumpal sendiri merupakan stilasi sulur-suluran dan tumbuhan lainnya. Bentuk segitiga sama sisi ini dianggap merupakan pengembangan dari kayon atau pohon kehidupan yang dalam dunia perwayangan digambarkan dalam bentuk gunungan. Pada bagian terdalam anting perak ini terdapat sebuah ragam hias pilin berganda yang disusun mendatar mengikuti lekuk anting.

Gambar IV.24. Detail perupaan anting perak Suarti periode 2005 sampel II Sumber: Penulis

Sampel selanjutnya seperti tampak pada deskripsi gambar IV.24 di atas menggunakan bentuk dasar geometris setengah lingkaran. Anting tusuk berkomposisi simetris ini menggunakan hiasan pinggir berbentuk segitiga yang dikomposisikan berkebalikan.

Bentuk geometris lain hadir pada bagian tengah anting berupa lingkaran dengan material batu onyx yang dipotong dengan teknik cabochon serta bulir perak yang membingkai penuh batu.

Ragam hias yang diaplikasikan pada anting ini menunjukkan unsur ragam hias batik yang kental. Segitiga terbalik yang dikomposisikan repetitif membingkai bagian luar anting ini merupakan stilasi dari motif tumpal pada batik, sedangkan bentuk lingkaran yang hadir sebagai isen diantara motif tersebut merupakan stilasi dari ceplok pada batik. Selanjutnya terdapat pula aplikasi wheat chain berbentuk setengah lingkaran pada bagian yang lebih dalam. Aplikasi ini selain menghadirkan tekstur anyaman pada permukaan anting juga menambah bobot perupaan anting ini selain melalui kontras dari aplikasi oksidasi pada bagian latar anting. Secara keseluruhan sampel anting kedua ini menghadirkan kesan klasik, masif dan ornamental.

Gambar IV.25. Detail perupaan anting perak Suarti periode 2005 sampel III Sumber: Penulis

Sampel anting terakhir di atas menggunakan bentuk dasar geometris berupa gabungan antara bentuk wajik dan teardrops pada bagian bawahnya. Pada bagian tengah bentuk wajik yang berukuran lebih kecil ini terdapat sebuah lingkaran, sedangkan pada bentuk teardrops di bawahnya ragam hias yang muncul adalah bentuk wajik yang dikomposisikan membentuk bangun imajiner segitiga dan penggayaan huruf W.

Bentuk dasar anting ini jika dilihat secara keseluruhan dapat dibagi menjadi tiga bagian secara vertikal. Bentuk wajik di bagian paling atas anting pada bagian ujungnya mengerucut dan membentuk segitiga, sedangkan bagian paling bawah berbentuk setengah lingkaran. Pertemuan dua buah bentuk geometris ini menciptakan dua sudut segitiga yang sejajar secara horisontal. Dalam masyarakat Indonesia pembagian pola seperti ini dikenal dengan istilah pola tiga.

Bentuk segitiga pada bagian atas anting ini merupakan representasi dunia atas, sedangkan bentuk setengah lingkaran yang mengingatkan paa bentuk wadah ini merepresentasikan dunia bawah. Segitiga imajiner sejajar yang dihasilkan dari pertemuan dua bentuk geometris ini tak lain merupakan manifestasi dari dunia tengah. Simbolisasi dunia tengah ini juga tampak pada perupaan anting secara keseluruhan. Bentuk lingkaran didalam wajik dan bentuk wajik didalam lingkaran merupakan representasi dari terjadinya penyatuan dan kelahiran entitas baru (dunia tengah). Jika dilihat dari bentuk yang digunakan untuk merepresentasikan dunia atas dan bawah, tampak bahwa dunia atas diduduki lelaki sedangkan perempuan merupakan representasi dari dunia bawah.

Dokumen terkait