MODUL I
ANALISA PRODUK DAN GAMBAR TEKNIK 1.1 PENDAHULUAN
1.1.1. Latar Belakang Produk
Memproduksi jenis kursi , khusus nya kursi lab. Melihat keaadan saat ini kursi lab sangat tidak nyaman ketika di duduki dan terbuat dari kayu serta tidak tahan lama maka dari Itu kami merancang kursi lab agar nyaman saat di duduki serta tahan lama dengan mekanisme kursi lab diperkecil dan dengan material lebih ringan serta kuat
1.1.2. Tujuan Produk
• Agar mudah dibawa
• Nyaman
• Tahan Lama, Terbuat dari besi 1.1.3. Analisa Pasar
Untuk memudahkan masyarakat, khususnya mahasiswa dalam meletakan dan menggunakan kursi lab sesuai keinginan.
1.1.4. Sasaran Produk
• Perguruan Tinggi
• Perkantoran
• Sekolah
1.2 ANALISA PRODUK
Memudahkan penggunan kursi lab di area yang terbatas, membuat duduk lebih nyaman dan badan lebih efisien dan ergonomi adapun uraian produk yang meliputi:
Tipe produk : Kursi Lab Dimensi Produk : 510 x 280 mm
Kelebihan Produk : Kuat dan tahan lama serta nyaman Bahan komponen : Papan, Besi Holo, kain, karet Jumlah Komponen : 12
2
1.2.1. Perhitungan Peramalan Permintaan dan produksi :
• Pengertian Peramalan
Suatu Teknik Analisa perhitungan yang dilakukan dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif memperkirakan kejadian dimasa depan dengan menggunakan referensi data – data di masa lalu.
• Kegunaan Peramalan:
✓ Sebagai alat bantu untuk merencanakan yang efektif dan efisien
✓ Untuk menetapkan kebutuhan sumber daya pada masa yang akan datang
✓ Untuk membuat keputusan yang tepat.
• Jenis – jenis peramalan:
✓ Peramalan jangka panjang
Adalah yang meliputi waktu yang lebih panjang dari 18 bulan, seperti contohnya peramalan yang di butuhkn dalam hubungannya dengan menanm modal,
merencanakan fasilitas dan merencanakan untuk kegiatan penelitian pengembangan
✓ Peramalan Jangka Menengah
Adalah yang meliputi waktu antara 3 sampai 18 bulan, seperti contohnya peramalan untuk merencanakan penjualan, merencakan produksi dan merencanakan tenaga kerja tidak tetap.
✓ Perencanaan jangka pendek
Adalah yang meliputi jangka waktu kurang dari tiga bulan, seperti contohnya peramalan dalam berkaitannya dengan merencanakan pemebelian material, membuat jadwal kerja dan menugaskan karyawan.
• Langkah – langkah peramalan
✓ Penentuan tujuan
Pada tahap ini penentuan tujuan dari setiap peramalan harus di sebutkan secara tertulis, formal dan eksplisit, sebelum membuat suatu ramalan kita harus bertanya lebih dahulu mengapa peramalan tersebut dibutuhkan dan bagaimana
mengguanakan hasil ramalan tersebut.
Peramalan disipkan sedemikian rupa sehingga menajemen dapat membuat keputusan – keputusan yang tepat mengenai alokasi sumber daya yang
3
sekarag dan oleh karena itu si pembuat ramalan harus memahami kegunaan-kegunaan dari proyeksi – proyeksi yang di tetapkan.
✓ Pencarian data yang tepat
Tahap ini merupakan tahap yang cukup rumit dan seringkali merupakan tahap yang paling kritikal karena tahap – tahap berikutnya dapat dilakukan atau tidak tegantung pada relevansi data yang diperoleh tersebut.
✓ Pemilihan tahap Relevan
Setelah tujuan peramalan di tetapkan, langkah berikutnya adalah menentukan hubungan teoritas yang menentukan perubahan – perubahan Variabel yang di ramalkan, suatu teori tepat guna akan selalu membuat seorang peramal mengidentifikasi setiap kendala yang ada untuk dipecahkan dan dimasukan kedalam proses peramalan.
✓ Analisa Data
Pada tahap ini dilakukan penyeleksian data karena karena dalam proses peramalan seringkali kita mempunyai data yang berlebihan atau bisa juga terlalu sedikit, beberapa data mungkin tidak relevan dengan masalah yang akan kita analisis sehingga mungkin dapat mengurangi akurasi dari peramalan. Data yang lain mungkin tepat guna tetapi hanya untuk beberapa periode waktu saja.
✓ Pengestimasian model awal
Tahap ini adalah tahap dimana kita menguji kesesauian (fitting) data yang telah kita kumpulkan kedalam model peramalan dalam artian meminimumkan kesalahan peramalan, semakin sederhana suatu model biasanya semakin baik model tersebut dalam artian bahwa model tersebut mudah di terima oleh para manajer yang akan membuat proses pengambilan keputusan perusahaan.
✓ Penyajian Ramalan Sementara pada Manajemen
Demi keberhasilan suatu peramalan, maka dibutuhkan input dari manajemen pada tahap ini dibutuhkan penyesuain – penyesuaian juga mental untuk melihat
pengaruh dari resesi suatu perekonomian pengaruh
4
perubahan inflansi, kemungkinan pemogokan tenaga kerja atau perubahan kebijakan pemerintah dan sebagainya.
✓ Evaluasi dan Revisi Model
Sebelum kita melakukan secara aktual, suatu model harus di uji lebih dahulu untuk menentukan akurasi, validitas dan keandalan yang diharpkan, jika berbagai uji keandalan dan akurasi telah ditetapkan pada model tersebut, mungkin revisi perlu dilakukan dengan memasukan faktor – faktor keselahan dalam model tersebut penyajian Ramalan sementara kepada manajemen.
✓ Revisi Terakhir
Seperti tealah dikemukakan tidak peramalan yang bersifat statis penyiapan suatu ramalan yang baru akan dilakukan tergantung pada hasil evaluasi tahap-tahap sebelumnya.
✓ Pendistribusian Hasil Peramalan
Pendistribusian hasil peramalan kepada manajemen harus pada waktu tepat dalam format yang konsisten , jika tidak nilai ramalan tersebut akan berkurang,
peramalan harus menentukan siapa yang harus menerima hasil peramalan tersebut, tingkat kerincian ramalan harus sesuai dengan para penggunanya dan berapakali penggunanya harus diberikan dan di perbaiki, setelah itu peramal harus melakukan diskusi dengan pengguana ramalan tersebut berkenan kegunaan dan informasi peramal tersebut.
✓ Penetapan Langkah Pemantauan
Suatu kegiatan peramal yang baik membutuhkan penetapkan langkah – lankah pemantauan untuk mengevaluasi peramalan ketika sedang berlangsung dan langkah pemantauan yang memungkinkan peramal untuk mengantisipasi perubahan yang tak terduga, peramalan harus dibandingkan hasil aktual untuk mengetahui hasil aktual untuk mengetahui akurasi metodologi yang di gunakan, jika ramalan tersebut meleset, seorang harus mencari apa sebabnya dan segera memperbaiki
5 1.3 PENGOLAHAN DATA
1.3.1. Perhitungan peramalan
• Perhitungan
✓ Data penjualan kursi lab tahun 2020
• METODE WMA3
WMA 3 dilakukan dengan cara memberikan pembobotan pada data pemintaan actual 3 bulan terakhir. Peramalan dimulai pada bulan Mei, Contoh perhitungan peramalan pada bulan mei adalah sistem pembobotannya adalah data permintaan actual pada bulan januari dikalikan 1, bulan februari dikalikan 2, maret dikalikan 3, Kemudian hasil dari pembobotan tersebut dijumlahkan dan dibagi 10, dimana 10 adalah jumlah dari bobot masing-masing. Begitu juga pada bulan- bulan selanjutnya. Sebagai contoh perhitungan peramalan permintaan bulan juni adalah sebagai berikut:
Juni = ((890*1)+(780*2)+(734*3))/6 = 775,3
6
• Hasil Peramalan dan Grafik Peramalan WMA 3
Bulan Demand Forecast
January 760
September 812 776,667
October 780 787,833
November 834 784,833
December 830 812,333
January 823 823
February 415,667 827,167
March 138,333 620,5
April 813,333 344,889
May 775,333 522,055
June 771,667 681,833
July 798,5 779,833
August 807,167 785,695
September 776,667 798,361
October 787,833 790,473
November 784,833 787,333
December 812,333 784,472
7
• Grafik Peramalan
• Analisa peramalan dan pemilihan penggunaan
Berdasarkan perhitungan diatas, kita bisa menggunakan data yang diperoleh menggunakan metode WMA 3 karena MAD yang dihasilkan kecil.
8 JIP:
BULAN DEMAND FORECAST
JANUARI 760
SEPTEMBER 812 776,667
OKTOBER 780 787,833
NOVEMBER 834 784,833
DESEMBER 830 812,333
JANUARI 823 823
FEBRUARI 415,667 827,167
MARET 138,333 620,5
APRIL 813,333 344,889
MEI 775,333 522,055
JUNI 771,667 681,833
JULI 798,5 779,833
AGUSTUS 807,167 785,695
SEPTEMBER 776,667 798,361
OKTOBER 787,833 790,473
NOVEMBER 784,833 787,333
DESEMBER 812,333 784,472
9
• Lampiran Gambar
Gambar Teknik Kursi Lab
10 MODUL 2
OPERATION PROCESS CHART (OPC) 2.1 MAKSUD DAN TUJUAN
2.1.1 Adapun maksud dan tujuan praktikum yang dilakukan diantara lain:
• Melatih kemampuan dalam membuat peta-peta kerja dalam suatu proses kerja.
• Melatih kemampuan dalam menggunakan peta-peta kerja untuk mengidentifikasi, menganalisis, menyimpulkan permasalahan yang ada.
• Melatih kemampuan dalam mengamati secara detail rangkaian operasi yang spesifik.
• Melatih kemampuan dalam menggunakan peta-peta kerja sebagai alat analisis untuk perbaikan suatu sistem kerja.
2.1.2 Alat dan Bahan
2.1.3 Latar Belakang Masalah
Berbicara tentang perancangan sistem kerja, tidak lepas dari dua nama, yaitu F.W. Taylor dan F.B. Gilbreth, dua orang yang mengawali pengembangan ilmu tentang Perancangan Sistem Kerja. Memang dari penelitian merekalah, walaupun tidak dilakukan bersama-sama, yang dikemudian hari sampai sekarang digabungkan sebagai suatu kesatuan dan di kenal sebagai perancangan sistem kerja atau methods engineering
11 2.2 PENGOLAHAN DATA
Peta-peta kerja merupakan alat sistematis peta-peta kerja terdiri dari peta kerja keseluruhan peta kerja setempat. Peta-peta kerja merupakan alat untuk menggambarkan langkah-langkah yang dialami suatu benda dari masuk pabrik hingga menjadi produk jadi melalui peta. peta kerja dapat diketahui proses dari pengerjaan suatu produk, waktu yang diperlukan, dan informasi- informasi lain yang diperlukan untuk memperbaiki suatu metode kerja seperti dalam pembuatan kursi lab. Pembuatan kursi lab ini dilakukan karena dalam penyelesaiannya yang tidak terlalu sulit serta alat dan bahan yang digunakan mudah didapat dan terjangkau. Produk kursi lab yang berbahan dasar kayu pada modul peta-peta kerja ini diproses dan dibuat peta-peta kerja
keseluruhan ataupun setempat untuk mengetahui proses kerja yang dilakukan dari awal hingga akhir. Pembuatan peta-peta kerja pada produk kursi lab bertujuan agar proses pembuatan kursi lab yang sama berikutnya dapat lebih efisien baik dari segi tenaga, waktu, dan bahan yang digunakan dll
12
Tabel Simbol Standar Jenis Aktivitas Produksi
13 PENYANGGA KAKI KURSI 4 UNIT
Pengukuran
14
➢ Perhitungan waktu siklus running
Gambar 2 waktu siklus running
Waktu siklus running yaitu 824 s
• Perhitungan waktu siklus non running
Gambar 3 rough lumber
Waktu siklus pada rough lumber yang terbesar adalah 176 (bagian pemotongan kaki kursi )
Gambar 4 Fabrikasi
15
Waktu siklus pada fabrikasi yang terbesar adalah 4.226,9 (bagian las)
Gambar 5 Assembly
Waktu siklus pada assembly yang terbesar adalah 824 Sehingga perhitungan waktu siklus non running adalah
waktu siklus rough lumber + waktu siklus fabrikasi + waktu siklus assembly + beban kerja
waktu siklus rough lumber 176 waktu siklus fabrikasi 4.226,9 waktu siklus assembly824 kerja inpeksi 9,5 +
5.276,4
Jadi waktu yang di butuhkan untuk membuat sebuah kursi adalah 5.276,4 atau setara dengan 1,5 jam.
16 MODUL III ROUTING SHEET
3.1
PENDAHULUANRouting sheet atau lembar pengurutan merupakan langkah-langkah yang dicakup dalam memproduksi komponen tertentu dan rincian yang perlu diketahui dari hal-hal yang saling berkaitan satu sama lain. Sebuah routing sheet menujukan secara detail mengenai operasi yang dibutuhkan untuk sebuah bagian dalam sebuah produksi. Hal ini memungkinkan juga untuk mengatur waktu untuk setiap operasi dan setiap mesin. Proses routing ini menyimpulkan langkah-langkah operasi yang diperlukan untuk merubah bahan baku menjadi produk yang dikehendaki dimana untuk itu beberapa informasi harus menyertai di dalam langkah ini yaitu nama dan komponen yang akan dibuat, nomor dari gambar kerja dari komponen tersebut, macam operasi kerja dan nomor operasinya, mesin dan peralatan produksi yang dipakai, serta waktu standar yang ditetapkan untuk masing-masing operasi kerja (Apple, 1990).
Mesin, perkakas, peralatan pembantu seperti jigs dan fixture, dan lain-lain yang harus dicantumkan secara spesifik didalam proses routing ini karena pada akhirnya perencanaan tata letak pabrik akan ditujukan untuk mengatur semua fasilitas produksi ini. Routing sheet menghasilkan beberapa informasi yang diperlukan dalam perancangan tata letak fasilitas yaitu jumlah mesin teoritis yang diperlukan untuk setiap proses pengerjaan, banyaknya siklus mesin dan bahan baku yang diperlukan, memperbaiki metode kerja, dengan menurunkan waktu standar, dan menentukan apakah waktu lembur lebih murah dibanding penambahan mesin, serta menentukan apakah kerusakan mesin dapat mengganggu seluruh lintasan produksi.
Pembuatan Routing sheet memerlukan data-data sebagai berikut yaitu kapasitas mesin, persentase scrap, dan efisiensi mesin (Apple, 1990).Suatu langkah dasar dalam pengaturan tata letak pabrik yang baik adalah dengan menentukan jumlah mesin atau peralatan produksi yang dibutuhkan secara tepat. Tentu saja di samping penentuan jumlah mesin ini, suatu keputusan
17
yang tepat di dalam pemilihan jenis atau tipe mesinnya itu sendiri juga merupakan langkah yang harus diperhatikan benar-benar. Pemilihan alternatif penggunaan tipe mesin tertentu pada dasarnya akan .dilandasi dengan pertimbangan- pertimbangan yang bersifat teknis dan ekonomis.
Untuk keperluan penentuan jumlah mesin yang dibutuhkan, maka di sini terdapat beberapa informasi yang harus diketahui sebelumnya, yaitu volume produksi yang dicapai, estimasi scrap pada setiap proses operasi, dan waktu kerja standar untuk proses operasi yang berlangsung (Wignjosoebroto, 2009)
Pengukuran Besi penyangga Kaki kursi Meteran 20.000 0 16.402 16.402 18.225 0.911 1.000 1.452 Pemotongan Besi penyangga Kaki kursi Mesin potong 8.000 1.33 16.184 16.402 18.225 2.278 3.000 1.452 MultiPlek
Pengukuran kayu multiplek Meteran 20.000 0 4.335 4.335 4.817 0.241 1.000 1.452 Pemotongan multiplek Mesin potong 8.000 6.667 4.046 4.335 4.817 0.602 1.000 1.452 Pengamplasan kayu multiplek Mesin
Amplas
8.000 0 4.046 4.046 4.496 0.562 1.000 1.452
18
Pengecatan Mesin Cat 12.000 0 4.046 4.046 4.496 0.375 1.000 1.452
Pengedrilan Kayu multiplek Mesin drill 16.000 0 4.046 4.046 4.496 0.281 1.000 1.452 1.452 Pemasangan Busa Dudukan Lem 6.000 0 4.046 4.046 4.496 0.749 1.000
Pemasangan Kain Streples 26.000 0 4.046 4.046 4.496 0.173 1.000 1.452 Busa
Pengukuran Busa Alas Duduk Meteran 20.000 0 4.150 4.150 4.611 0.231 1.000 1.452 Pemotongan Busa Alas Duduk Mesin potong 8.000 2.5 4.046 4.150 4.611 0.576 1.000 1.452 Kain
Pengukuran Kain Meteran 20.000 0 4.046 4.046 4.496 0.225 1.000 1.452 Pemotongan Kain Mesin potong 8.000 0 4.046 4.046 4.496 0.562 1.000 1.452
19
Variabel routing sheet merupakan suatu lembaran yang terdiri dari beberapa kolom
perhitungan.. Kolom 1 merupakan deskripsi yaitu nama operasi yang dilakukan pada urutan nomor urut operasi. Kolom 2 merupakan nama mesin yaitu nama mesin yang digunakan pada setiap operasi sesuai dengan urutan mesin yang digunakan. Kolom A merupakan produksi mesin/jam, dimana berisi banyak unit produk yang dihasilkan dalam waktu 1 jam atau 60 menit . Kolom B merupakan Persentase Scrap
yang dihasilkan dalam sebuah proses. Kolom C merupakan permintaan Hasil forecasting. Kolom D
merupakan bahan disiapkan. Kolom E merupakan Efisiensi mesin. Kolom F merupakan jumlah mesin
teoritis (JMT) yaitu jumlah mesin secara teoritis untuk setiap operasi sesuai dengan peta proses operasi.
Kolom G merupakan jumlah mesin aktual. Kolom ini berisi tentang jumlah mesin yang akan digunakan pada proses produksi, dimana diperoleh dari pembulatan hasil pada jumlah mesinteoritis. Sedangkan Kolom H merupakan Waktu yang dibutuhkan dalam sekali Proses perjam
20 TABEL RESUME KAKI KURSI
Nama Operasi
Rought Lumber Fabrication Assembling
Theory Actual
TABEL RESUME PENYANGGA KURSI
Nama Mesin
Rought Lumber Fabrication Assembling
Theory Actual
21 TABEL RESUME MULTIPLEK
Nama Operasi
Rought Lumber Fabrication Assembling
Theory Actual
Theor y Actua l Theor y Actua l
Pengukuran
0,241 1
Pemotongan 0,602 1
Penghalusan 0,562 1
Pengecatan 0,375 1
Pengedrillan 0,281 1
Pemasangan busa dudukan 0,749 1
Pemasangan kain 0,173 1
TOTAL 0,241
1 1,820 4
0,922 2
22 TABEL RESUME BUSA
Nama Mesin
Rought Lumber Fabrication Assembling
Theory Actual
Rought Lumber Fabrication Assembling
Theory Actual untuk alat bending , satu buah alat las buah alat, satu buah alat drill ,satu buah alat cat dan 1 buah obeng untuk perakitan.
23
Sementara untuk proses penyangga kursi dibutuhkan satu buah alat ukur, satu buat mesin potong. Sedangkan pada proses multiplek dibutuhkan satu buah alat ukur, satu buat mesin potong serta satu buah mesin penghalus, satu buah mesin cat, satu buah alat drill, lem dan satu buah strepples besar.
Pada proses busa membutuhkan satu buah alat ukur dan satu buah alat potong, begitupun pada proses kain hanya membutuhkan satu alat ukur dan satu alat potong.
24 MODUL IV
FROM TO CHART (FTC) 4.1 PENDAHULUAN
From to chart (FTC) merupakan gambaran tentang penanganan waktu mesin dalam pembuatan dengan material dari suatu bagian aktifitas mesin ke aktifitas mesin berikutnya dalam hsil satu produksi, dengan cara bekerja yang berbeda dapat di ketahui sebagai berikut :
✓ Pengukuran (Meteran & Penggaris
✓ Pemotongan (Gerinda & Cutter)
✓ Pengamplasan (Amplas)
✓ Pembandingan (Banding/Tangan)
✓ Pengelasan (Las)
✓ Pengedrilan (Bor & Mata Bor)
✓ Pengecatan (kuas)
✓ Pengeleman (Kuas)
✓ Penyetreplesan (stepler)
✓ Perakitan (Manual Dan Alat)
✓ Pemeriksaan (Manual) 4.2 PENGOLAHAN DATA
Berdasarkan data Proses waktu mesin hingga sampai jadi satu produk dalam tabel perhitungan from to chart (FTC), karena waktu mesin ini telah di pertimbangkan oleh departemen berikut ini gambar from to chart
(FTC).
25
Berdasarkan tabel mengenai from to chart (FTC) dapat di lihat bahwa waktu pembuatannya lebih efisien dan keselamatannyapun lebih terjaga. Hal tersebut karena tidak mudah menciderai manusia pada saat menggunakan mesin karena terdapat buku panduan mengenai tatacara pemakaian mesin tersebut dan bagamiana memperbaiki jika terjadi kerusakan di mesin tersebut.
26 MODUL V
MULTY PRODUCT PROCESS CHART
5.1 PENDAHULUAN
Apabila didefinisikan MPPC merupakan suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang akan dialami oleh bahan, baik bahan baku maupun bahan tambahan, seperti urutan-urutan operasi, pemeriksaan dan penyimpanan, serta dalam menggambarkannya dipisahkan antara Rough Lumber, Fabrikasi dan Assembling, atau dapat di katakan MPPC adalah suatu peta yang menggambarkan jumlah pemakaian kebutuhan mesin dari Routing Sheet.
Simbol-simbol yang di pergunakan dalam MPPC ini sama dengan simbol- simbol yang di gunakan pada OPC, antara lain operasi, pemeriksaan dan penyimpanan. Hanya saja pada cara penomorannya dilakukan berdasarkan urutan- urutan proses operasi perkomponen.
5.1.1 Maksud dan tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari MPPC adalah :
✓ Praktikan menguasai dan memahami proses pembuatan dan kalkulasi Multiple Process Product Chart.
✓ Mampu menghitung kebutuhan / jumlah mesin menurut teori.
✓ Mampu menghitung kebutuhan mesin aktual.
✓ Mampu menghitung jumlah tiap jenis mesin pada tiap tahap produksi (rought lumber, fabrication, assembling, dan assembling box).
✓ Mampu menghitung dan menganalisis tipe layout berdasarkan group teknologi, produk, fleksibilitas manufacturing sistem dan sebagainya guna mendapatkan layout yang lebih baik.
✓ Sebagai dasar penyusunan Luas Lantai, Material Handling Cost, Tempalate dan Proposal.
27 5.1.2 Alat dan bahan
Alat dan bahan yang di gunakan dalam membuat MPPC
✓ Kertas milimeter blok.
✓ Kertas asturo berwarna
✓ Tabel routing sheet
✓ Kertas HVS ukuran A4, berat 80gram
✓ Plastik cover dan kertas karton A4 berwarna merah jambu.
5.2 PENGOLAHAN MPPC
5.2.1 Informasi yang didapat dari MPPC :
✓ Dapat diketahui jumlah mesin menurut teori.
✓ Dapat mengetahui kebutuhan mesin actual.
✓ Mengetahui jenis mesin apa saja yang dipakai pada tiap tahap produksi (Rought Lumber, Fabrication, Assembling&
Assembling Box).
✓ Pada MPPC pembulatan nilai jumlah mesin actual dilakukan setelah melakukan penjumlahan MRT keseluruhan per mesin.
✓ Pada Routing Sheet jumlah mesin yang ada berdasarkan
pembulatan per mesin, dan pada MPPC untuk jenis mesin yang sama dilakukan penjumlahan sehingga pembebanan mesin seimbang dan penggunaan mesin efisien sesuai yang diperlukan
28 Berikut ini adalah tabel dari pengolahan MPPC
(A5)
29
5.3
KESIMPULANMPPC bisa dibuat jika ada table routing sheet dan opc, tujuan dibuat mppc adalah untuk mengetahui nilai mesin menurut teoritis, dan nilai mesin menurut data actual dan mengetahui bahan dan peralatan apa saja yang diperlukan pada saat pembuatan kursi, pada routing sheet jumlah mesin yang ada berdasarkan pembulatan per mesin, untuk jenis mesin yang sama dilakukan penjumlahan agar pembebanan mesin seimbang dan penggunaan mesin lebih efisien.
30 MODUL VI SISTEM MANAJEMEN 6.1 PENDAHULUAN
Manajemen adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari proses perencanaan penggunaan semua daya organisasi dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Manajemen memegang peranan utama dalam produktifitas suatu organisasi karena manajemen secara langsung menentukan sikap, motivasi dan produktivitas selain itu juga mempengaruhi sikap kerja seluruh karyawan. Untuk memperoleh produktifitas yang tinggi, dalam pelaksanaan konsep-konsep yang ada harus memperhatikan hal-hal berikut :
✓ Manajemen harus menerima partisipasi karyawan
Hal ini berarti adanya kesadaran bahwa pemecahan masalah yang partisipasif merupakan cara yang lebih baik untuk menyelesaikan pekerjaan, dengan demikian manajemen perlu mengusulkan gagasan dari karyawan sehingga tercipta suasana pekerjaan yang mengarahkan partisipasi karyawan dalam bekerja.
✓ Manajemen harus menyediakan infrastruktur yang mendukung
Dimulai dengan disediakannya fasilisator yang mempunyai kemampuan, ruang-ruang pertemuan dan bahan-bahan latihan. Manajemen harus mengajak seluruh organisasi saling bekerja sama sehingga tercipta kenyamanan dalam bekerja.
✓ Manajemen harus menciptakan sistem untuk mengenali prestasi Penghargaan terhadap diri sendiri merupakan motor penggerak program, penghargaan merupakan bahan bakarnya. Banyak cara untuk memperlihatkan dukungan dan menghargai prestasi sehingga lebih terarah, lebih mudah, dan lebih baik.
31 6.2 METODOLOGI
✓ Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah kaki kursi sedangkan objek penelitian ini adalah perbaikan dan meminimalisir masalah pada proses keseimbangan kaki kursi.
✓ Rancangan Penelitian
Dalam melaksanakan penelitian diperlukan suatu rancangan penelitian agar dapat membantu didalam menentukan langkah- langkah penelitian.
Rancangan penelitian ini diharapkan dapat memperlancar dan dapat mencapai sasaran sesuai dengan apa yang diinginkan yang sebagaimna telah dipaparkan bahwa penelitian ini bertujuan menemukan dan memperbaiki kualitas kursi dengan menggunakan konsep PDCA yang digabungkan dengan 8 langkah proses gugus kendali mutu (GKM) adapun bentuk tahapan yang sistematis dalam rancangan penelitian ini yaitu:
• Pengumpulan data dasar penelitian yang dilakukan dilapangan dengan mengambil data produk yang Not Good (NG)
• Data dari lapangan kemudian dikumpulkan dan akan dianalisa pada tahapan selanjutnya menggunakan alur proses delapan langkah gugus kendali mutu.
✓ Pengumpulan Data
Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Ada dua jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, yaitu:
• Data Primer Merupakan data yang secara langsung bersumber dari observasi lapangan, identifikasi masalah, analisa kondisi saat ini, data pengukuran jumlah cacat pada proses pemotongan kaki kursi
• Data Sekuder Merupakan data-data yang bersumber dari data-data yang sudah ada dari pihak perusahaan serta referensi dari sumber-sumber yang ada mengenai gugus kendali mutu.
✓ Identifikasi Masalah dan Menentukan Tema
Setelah data dikumpulkan dengan menggunakan tools check sheet selanjutnya melakukan identifikasi masalah dengan menggunakan diagram
32
Pareto. Dari diagram pareto nanti akan terlihat masalah yang lebih dominan.
Masalah yang lebih dominan tersebut yang nantinya akan dijadikan sebagai tema dalam proses gugus kendali mutu ini.
✓ Menetapkan Target dan Membuat Rencana Kerja
Pada tahap ini, penelitian akan difokuskan pada penetapan target untuk menurunkan jenis produk yang Not Good yang lebih dominan. Dilanjutkan dengan membuat rencana kerja untuk perbaikan dengan memetakan permaslahan utama kedalam fishbone diagram. Fishbone Diagram yaitu
Pada tahap ini, penelitian akan difokuskan pada penetapan target untuk menurunkan jenis produk yang Not Good yang lebih dominan. Dilanjutkan dengan membuat rencana kerja untuk perbaikan dengan memetakan permaslahan utama kedalam fishbone diagram. Fishbone Diagram yaitu