BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
F. Analisa Putusan Nomor 55/Pdt.G/2017/PN Kla
Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012, apabila pemilik hak merasa dirugikan dan keberatan terhadap tindakan-tindakan atau ketetapan-ketetapan yang dilaksanakan dalam pengadadan tanah, maka untuk memenuhi rasa keadilan terhadap Pemilik hak, ada cara yang diberikan undang-undang ini untuk menyelesaikan hal tersebut.
Dalam hal Pemilik Hak atas Tanah keberatan terhadap diterbitkannya Keputusan Tata Usaha Negara oleh badan/pejabat tata usaha Negara atau dalam hal ini Pemilik Hak keberatan terhadap Penetapan Lokasi Pengadaan tanah meskipun sebelumnya telah dilaksanakan musyawarah dengan mufakat maka menurut undang-undang ini Pemilik Hak dapat mengajukan gugatan ke pengadilan Tata Usaha Negara seperti yang tertuang dalam Pasal 23:
(1) Dalam hal setelah penetapan lokasi pembangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (6) dan Pasal 22 ayat (1) masih terdapat keberatan, Pihak yang Berhak terhadap penetapan lokasi dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara setempat paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak dikeluarkannya penetapan lokasi.
Dalam Hal pemilik hak atas tanah keberatan terhadap bentuk dan/atau besarnya ganti kerugian, maka Pemilik Hak dapat mengajukan gugatan Perdata sebagaimana dalam Pasal 38 yang berbunyi:
(1) Dalam hal tidak terjadi kesepakatan mengenai bentuk dan/atau besarnya Ganti Kerugian, Pihak yang Berhak dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan negeri setempat dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah musyawarah penetapan Ganti Kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1).
(2) Pengadilan negeri memutus bentuk dan/atau besarnya Ganti Kerugian dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diterimanya pengajuan keberatan.
Dalam Putusan Mahkamah Agung No 55/Pdt.G/2017/PN Kla, sengketa yang terjadi adalah Pemohon merasa keberatan terhadap besarnya ganti kerugian yang diberikan terhadap pengadaan tanah untuk kepentingan umum yaitu pembangunan Infrastrtuktur Jalan Tol Bakauheni – Terbanggi Besar atas tanahnya yang seluas 25.191 m2. Oleh sebab itu, pemohon mengajukan Gugatan Perdata di Pengadilan Negeri Kalianda sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 38 UU No. 2 Tahun 2012.
Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesian Nomor 3 tahun 2016 Mengatur bagaimana tata cara pengajuan keberatan dan penitipan ganti kerugian ke pengadilan negeri dalam pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. Jadi proses pengajuan keberatan tersebut mengacu pada PERMA tersebut. Menurut PERMA ini ada beberapa tahapan dalam penyelesaian sengketa keberatan ganti kerugian dalam pengadaan tanah, yaitu sebagai berikut:
1. Pemohon melengkapi persyaratan pengajuan kebereratan yaitu berupa pencantuman identitas Pemohon keberatan, pencantuman identitas termohon keberatan, penyebutan secara lenngkap dan jelas penetapan lokasi pembangunan, penyebutan waktu dan tempat pelaksanaan serta berita hasil musyawarah penetapan ganti kerugian (apabila ada berita hasil musyawarah penetapan ganti kerugian), Uraian yang menjadi dasar keberatan yang berisikan kedudukan hukum pemhon keberatan, penjelasan pengajuan keberatan masih dalam tenggang waktu 14 hari setelah hasil
musyawarah penetapan ganti kerugian, dan alasan-alasan keberatan, hal pokok yang dimohonkan dalam permohonan, dan melampirkan alat-alat bukti pendahuluan.
2. Setelah Panitera menyatakan lengkap berkas keberatan maka keberatan tersebut dicatat dalam buku perkara gugatan dan diberi nomor perkara serta diberikan kepada Ketua Pengadilan. Setelah Ketua Pengadilan menunjuk hakim yang akan menangani sengketa, maka Hakim menentukan jadwal sidang.
3. Pelaksanaan pemeriksaan persidangan yang dimulai dengan pemanggilan para pihak pada sidang. Pemeriksaan tersebut wajib diputus dalam waktu 30 hari sejak perkara deregister. Pemeriksaan persidangan dilaksanakan tanpa melakukan proses mediasi terlebih dahulu meskipun Hakim tetap mengupayakan perdamaian di antara kedua belah pihak. Jika tidak tercapai perdamaian, proses persidangan yang akan dijalani adalah Pembacaan Keberatan Pemohon, Jawaban Keberatan termohon, Pemeriksaan alat-alat bukti, dan pengucapan putusan.
4. Dalam pembacaan putusan, amar putusan pada pokoknya memuat:
a. Keberatan dikabulkan b. Keberata ditolak
c. Dalam hal Pemohon Keberatan tidak pernah hadir dan tidak mengirimkan wakil atau kuasanya yang sah walaupun sudah dipanggil secara sah 2 kali berturut-turut, maka amar putusannya berisi:
menyatakan keberatan pemohon keberatan gugur dan menghukum
pemohon keberatan untuk membayar biaya perkara.
d. Dalam hal pemohon keberatan tidak mempunyai kedudukan hukum, diajukan melewati tenggang waktu, dan/atau tidak memenuhi syarat formal lainnya, maka isi amar putusannya berisi: menyatakan keberatan pemohon keberatan tidak dapat diterima dan menghukum pemohon keberatan untuk membayar biaya perkara.
e. Dalam hal pengadilan tidak berwenang, maka isi amar putusannya berisi: menyatakan pengadilan tidak berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus dan menyelesaikan keberatan dan menghukum pemohon keberatan untuk membayar biaya perkara.
5. Upaya hukum yang bisa dilakukan para pihak adalah Permohonan Kasasi kepada Mahkamah Agung.
Menurut PERMA No. 6 Tahun 2016 Pasal 1 Angka (6), bahwa Pemohon yaitu Saimi Saleh sudah memenuhi syarat sebagai pihak yang berhak mengajukan keberatan ke Pengadilan negeri, dimana kedudukannya di sini sebagai pemegang hak atas tanah. Dalam Hal ini Pemohon menarik Kepala Badan Pertanahan Nasional c.q. Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Lampung c.q. Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah Pembangunan Jalan Tol Bakauheni - Terbanggi Besar (sebagai Termohon Keberatan), Kantor Penilai Publik Asmawi Dan Rekan (Turut Termohon Keberatan I), Kementrian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Direktorat Jendral Bina Marga c.q. Direktorat Jalan Bebas Hambatan (Turut Termohon Keberatan II) sebagai Pihak Termohon Keberatan yang sudah sesuai dengan Pasal 1 angka (7) yang menyebutkan bahwa
Termohon Keberatan adalah lembaga pertanahan sebagai lembaga pemerintah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertanahan yang terdiri atas Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi atau Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota sesuai dengan hierarkinya yang secara nyata menjadi ketua pelaksana pengadaan tanah dan Instansi yang memerlukan tanah.
Mengenai mekanisme Pengadaan tanah sebagaimana telah diatur dalam UU No. 2 Tahun 2012 dan dalam Peraturan pelaksananya yaitu PP No. 71 Tahun 2012, sebenarnya sudah sangat jelas bagaimana tata urutan pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan. Namun, dalam putusan ini terdapat kesalahpahaman Pemohon Keberatan terkait mekanisme Pengadaan Tanah.
Menurut Pasal 13 Pengadaan Tanah untuk Kepentingan diselenggarakan melalui tahapan: perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan penyerahan hasil. Di dalam putusan tersebut, tim pengadaan tanah sudah melaksanakan tahapan sebagaimana mestinya, meskipun mengenai tahapan pemberitahuan rencana pembangunan tidak dijelaskan kapan dilaksankan dalam putusan ini.
Dalam Putusan ini Pemohon keberatan mengira tahapan pengadaan tanah tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya yaitu meniadakan tahapan musyawarah bentuk ganti kerugian yang menurut Pemohon Keberatan pertemuan pada tanggal 17 Maret 2017 masih pada tahapan Pemberitahuan resmi Lokasi Jalan Tol bukan muysawarah yang dalam hal ini sudah dibantah oleh Pihak Termohon melalui bukti berupa undangan musyawarah kepada Pemohon Keberatan mengenai bentuk ganti kerugian pada tanggal 14 Maret 2017 yang tidak dihadiri Pemohon Keberatan dan Undangan Musyawarah Bentuk Ganti Rugi ke-2 pada tanggal 17
Maret 2017 yang dihadiri semua pihak, dan kesaksian dari 2 orang dari Pihak Termohon.
Apabila berpatokan pada tanggal musyawarah bentuk ganti rugi pertama yaitu pada tanggal 14 Maret 2017 maka jelas bahwa Pemohon keberatan sudah melewati batas pengajuan keberatan yang sesuai Pasal 5 PERMA No. 3 Tahun 2016 yaitu 14 hari setelah musyawarah bentuk ganti kerugian, dimana Pemohon Keberatan mengajukan keberatan pada tanggal 26 September 2016 yang sudah lebih dari 6 bulan melewati masa 14 hari tersebut.
Terlepas dari jangka waktu pengajuan keberatan yang sudah melewati batas yang ditentukan, ada hal yang menurut Penulis perlu diperhatikan terkait Pertimbangan Hakim yaitu mengenai “Musyawarah dalam pemberian ganti kerugian”, ada kejanggalan dan kebingungan yang didapati penulis. Majelis hakim dalam Pertimbangannya menyatakan bahwa “mengenai besar ganti kerugian merupakan kewenangan mutlak dari tim penilai (appraisal)”.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indoonesia kata Mutlak memiliki makna:
mengenai segenapnya (segalanya); seutuhnya, tiada terbatas; penuh, tidak boleh tidak; harus ada. Melihat pengertian ini, Pertimbangan hakim seakan-akan menitikberatkan masalah besarnya nilai ganti kerugian sepenuhnya kepada Tim Penilai dan tidak dapat diganggu gugat oleh pihak manapun.
Menurut salah satu Prinsip Pengadaan Tanah yaitu Prinsip musyawarah, bahwasanya pada dasarnya musyawarah dilaksanakan bukan hanya terkait penentuan bentuk ganti kerugian namun juga terkait besarnya ganti kerugian.
Bahkan dalam Pasal 34 ayat (2) PP 71 Tahun 2012 dinyatakan: Nilai Ganti
Kerugian berdasarkan hasil penilaian Penilai menjadi dasar musyawarah penetapan Ganti Kerugian.
Memang pada UU No. 2 Tahun 2012 dan PP No. 71 Tahun 2012 dijelaskan bahwa Tim penilai dibentuk untuk menentukan besarnya ganti kerugian atas tanah. Tetapi hal tersebut bukan berarti masyarakat yang tanahnya terkena pengadaan tanah tidak bisa berembuk atau bermusyawarah terkait besanya ganti kerugian atas tanah. Bila seperti itu, tentulah Prinsip keadilan dan musyawarah tidak bisa tercapai dalam pengadaan tanah.
Selanjutnya dalam pertimbangan Hakim dijelaskan kembali bahwa musyawarah dalam hal besaran nilai ganti kerugian bukanlah hal yang wajib dan lebih mengutamakan musyawarah terkait bentuk ganti kerugian. Majelis Hakim mendasarkan pertimbangan tersebut dari Pasal 37 ayat (1) UU No. 2 Tahun 2012 yang dalam bunyi Pasalnya : “Lembaga Pertanahan melakukan musyawarah dengan Pihak yang Berhak dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak hasil penilaian dari Penilai disampaikan kepada Lembaga Pertanahan untuk menetapkan bentuk dan/atau besarnya Ganti Kerugian berdasarkan hasil penilaian Ganti Kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34.”
Penggunaan kata dan/atau dalam bunyi Pasal tersebut menurut Majelis Hakim diartikan bahwa musyawrah mengenai besarnya ganti kerugian tidaklah diwajibkan.
Sedangkan menurut hemat penulis, apabila musyawarah terkait nilai ganti kerugian tidak diwajibkan, hal tersebut berarti tidak sejalan dengan Pasal 34 ayat (2) yang menyatakan bahwa Nilai Ganti Kerugian berdasarkan hasil
penilaian Penilai menjadi dasar musyawarah penetapan Ganti Kerugian. Apabila dicermati dari bunyi pasal tersebut terkait nilai ganti kerugian berarti diwajibkan ikut dalam bagian musyawarah karena nilai ganti kerugian tersebutlah yang menjadi dasar musyawarah.
Selanjutnya apabila musyawarah terkait nilai ganti kerugian tidak diwajibkan menjadi bagian dalam musyawarah, ini mengindikasikan tidak adanya keterbukaan oleh Tim Pengadaan tanah dan Tim Penilai terkait besarnya ganti kerugian. Masyarakat yang terkena pengadaan tanah menjadi tidak memahami bagaimana unsur penilaian dari Tim Penilai atau bagaimana asal usul sebuah nilai bisa ditetapkan dalam sebidang tanah. Menurut Penulis hal ini harus dijelaskan kepada masyarakat agar tidak ada pemikiran masyarakat yang menyangka bahwa adanya pihak provokasi dalam penentuan nilai ganti kerugian.
Musyawarah terkait besarnya nilai ganti kerugian haruslah menjadi sarana bagi pemerintah untuk menunjukkan sikap yang adil, tidak mencari keuntungan, dan keterbukaan. Karena besar kecilnya nilai ganti kerugian akan dibicarakan dalam musyawarah ini sehingga pandangan masyarakat bahwa adanya perbenturan ganti kerugian atas tanahnya karena pengadaan tanah bisa diminimalisir.
Sangat disayangkan karena ketidaktahuan atau kurang mengertinya Pemohon Keberatan tentang mekanisme pengadaan tanah dan syarat formal pengajuan keberatan membuat pemohon keberatan tidak bisa melakukan apa-apa terkait tanahnya yang terkena pengadaan tanah. Apalagi nilai atas sebidang tanahnya yang sangat jauh berbeda dari tanah-tanah yang berbatasan langsung
dengan tanah pemohon keberatan yang menurut Pemohon sangat tidak adil.
Putusan ini berakhir dengan dimenangkan oleh Pihak Termohon Keberatan karena pengajuan keberatan tersebut tidak memenuhi syarat formal yaitu sudah melampaui batas waktu pengajuan keberatan sehingga keberatan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima.
1. Pengaturan mengeni Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum di Indonesia sudah melalui proses yang sangat panjang. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria menjadi dasar dilaksanakannya Pengadaan Tanah di Indonesia, hingga pada saat ini pengaturannya diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dengan aturan-aturan pelaksananya yaitu Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 yang telah beberapa kali dikaji dan disempurnakan, yaitu dengan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Perpres Nomor 71 Tahun 2012, Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2014 Tentang Perubahan Kedua Atas Perpres Nomor 71 Tahun 2012, Peraturan Presiden Nomor 30 Tahun 2015 Tentang Perubahan Ketiga Atas Perpres Nomor 71 Tahun 2012, dan Peraturan Presiden Nomor 148 Tahun 2015 Tentang Perubahan Keempat Atas Perpres Nomor 71 Tahun 2012. Fungsi sosial hak atas tanah dalam pasal 6 UUPA menjadi dasar atau landasan fundamental bagi tercapainya atau terwujudnya tanah yang bermanfaat bagi sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat yang dapat direalisasikan melalui pengadaan tanah untuk kepentingan umum. Pengadaan tanah sendiri merupakan kegiatan menyediakan tanah dengan cara memberi ganti kerugian yang layak dan adil kepada pihak yang berhak
2. Salah satu jenis pengadaan tanah untuk kepentingan umum adalah pembangunan infrastruktur jalan tol seperti yang tertuang dalam Pasal 10 butir (b) UU No.2 Tahun 2012. Dalam Undang-Undang tersebut Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum diselenggarakan melalui tahapan perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan penyerahan hasil. Salah satu prinsip pengadaan tanah adalah Prinsip Musyawarah, dimana di dalam mencapai kesepakatan dalam pengadaan tanah harus didasarkan atas musyawarah agar tercapai keadilan dan keseimbangan dalam pengadaan tanah terutama terkait bentuk dan besarnya ganti kerugian atas pengadaan tanah. Bilamana musyawarah terkait bentuk dan besarnya ganti kerugian atas tanah tidak tercapai maka ganti keugian akan dititipkan di Pengadilan Negeri.
3. Di dalam pemberian besararan ganti kerugian atas pengadaaaan tanah sering sekali masyarakat kecewa akan nilai yang ditetapkan oleh Tim Penilai. Salah satu contohnya pada Putusan Nomor 55/Pdt.G/2017/PN Kla.
Kurang mengertinya Pemohon Keberatan akan mekanisme Pengadaan Tanah menjadi penyebab utama Pemohon Keberatan menjadi tidak bisa melakukan apa-apa di persidangan dan keberatan Pemohon tidak dapat diterima karena tidak memenuhi syarat formal pengajuan keberatan.
Musyawarah terkait perencanaan pengadaan tanah, bentuk dan besarnya ganti kerugian harus betul-betul didiskusikan dengan Pemilik Hak atas tanah agar tidak terjadi ketidakpahaman akan pengadaan tanah dan agar tidak terjadi perbenturan ganti kerugian atas pengadaan tanah yang merugikan masyarakat.
D. Saran
1. Di dalam melaksanakan pengadaan tanah untuk kepentingan umum, peran serta masyarakat harus diikutsertakan dalam semua tahapan pengadaan tanah agar menghindari ketidakpahaman masyarakat tentang apa itu pengaadaan tanah untuk kepentingan umum tersebut. Musyawarah harus betul-betul dijadikan sebagai sarana untuk mempertemukan perbedaan kepentingan antara pemilik hak atas tanah dan pihak yang memerlukan tanah sehingga perbenturan ganti kerugian atas pengadaan tanah bisa dihindari.
2. Merevisi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan Untuk kepentingan Umum terkait dasar Tim Penilai menetapkan Besarnya nilai ganti keruggian atas tanah, apakah berdasar pada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) atau harga pasar, atau hal lainnya. Hal ini dilakukan agar adanya kejelasan hukum dan keterbukaan pemerintah ketika melakukan pengadaan tanah masyarakat dan tidak terjadi kerancuan atau tafsiran yang berbeda di masyarakat terkait dasar penilaian tersebut.
3. Mensosialisasikan pengadaan tanah untuk kepentingan umum kepada masyarakat agar masyarakat mengerti akan hak dan kewajibannya atas tanah yang dimilikinya, mengerti akan fungsi sosial atas tanah, mengerti akan hak menguasai Negara atas tanah sehingga ketika terjadi pengadaan
tanah atas tanah milik masyarakat tersebut kelancaran proses pengadaan tanah bisa tercapai karena sudah sama-sama mengerti tujuan dari pengadaan tanah untuk kepentingan umum tersebut.
tanah dan pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangungan untuk kepentingan umum di Indonesia, P.T. Citra Aditya Bakti, Bandung Ahmad, Z. Ansori, 1986, Sejarah dan Kedudukan B.W, Rajawali, Jakarta Arba, 2015, Hukum Agraria Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta
Bungin, Burhan, 2003, Analisis Data dan Penelitian Kualitatif; Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Model Aplikasi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Chomzah, Ali Achmad, 2003, Hukum Pertanahan Seri III Penyelesaina Sengketa atas Tanah dan Seri IV Pengadaan Tanah untuk Instansi Pemerintah, Prestasi Pustaka, Jakarta
Dalimunthe, Chadidjah, 2008, Politik Hukum Agraria Nasional Terhadap hak-hak Atas Tanah, Yayasan Pencerahan Mandailing, Medan
Ediwarman, 2015, Monograf Metodologi Penelitiaan Hukum Panduan Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi, PT. Sofmedia, Medan
Kalo, Syafruddin, 2004, Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Pustaka Bangsa Press, Jakarta
Limbong, Bernahard, 2011, Pengadaan Tanah untuk Pembangunan, CV. Rafi Maju Mandiri, Jakarta
Lova, Evi Fajriantina, 2016, Pengadaan Tanah Dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan Tol Oleh Badan Usaha Milik Negara (Persero),
Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang
Lubis, Muhammad Yamin dan Abdul Rahim Lubis, 2011, Pencabutan Hak, Pembebasan, dan Pengadaan Tanah, Mandar Maju, Medan
Muhadar dan Ratnaningsih, 2006, Viktimisasi Kejahatan di Bidang Pertanahan, Laksbang PRESSIndo, Yogyakarta
Parlindungan, A.P, 1993, Berakhirnya Hak Atas Tanah menurut Sistem UUPA, Mandar Maju, Bandung
_______________, 1993, Pencabutan dan Pembebasan Hak atas Tanah Suatu Studi Perbandingan, Mandar Maju, Bandung
_______________, 1993, Pembebasan Tanah Untuk Pemerintah dan Swasta, dalam Dialog Ultah UUPA di Fakultas Hukum USU Bekerjasama dengan BPN, Medan
Sahnan, 2016, Hukum Agraria Indonesia, Setara Press, Malang
Sihombing, Irene Eka, 2009, Segi-segi Hukum Tanah Nasional Dalam Pengadaan Tanah untuk Pembangunan, Universitas Trisakti, Jakarta Sugiharto, Umar Said dan Suratman dan Noorhudha Muchsin, 2015, Hukum
Pengadaan Tanah, Setara Press, Malang
Sutedi, Adrian, 2008, Impelemtasi Prinsip Kepentingan Umum Dalam Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan, Sinar Grafika, Jakarta Yamin, Muhammad, 2011, Beberapa Dimensi Filosofis Hukum Agraria,
Pustaka Bangsa Press, Medan
Zakie, Mukmin, 2013, Kewenangan Negara Dalam Pengadaan Tanah Bagi
Kepntingan Umum di Indonesia dan Malaysia, Mata Padi Pressindo, Yogyakarta