• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bidang JSK

HASIL ANALISA SITUASI

4.2. Analisa Situasi 1. Analisa Profil

4.2.3. Analisa RCA

Berdasarkan penentuan prioritas masalah di atas dan hasil yang ditemukan di lapangan terkait penanganan TB Paru di Kabupaten Kebumen dapat dianalisis sebagai berikut:

a. Penemuan Kasus TB Paru di bawah Standar

Gambar 4 RCA Penemuan Kasus TB Paru di Bawah Standar

Berdasarkan data yang diperoleh angka penemuan kasus TB di Kabupaten Kebumen pada tiga tahun terakhir tidak mengalami peningkatan mendekati

Penemuan kasus TB Paru di bawah standar

Jumlah kader atau Relawan masih terbatas

Kesadaran pasien untuk periksa rendah ketika ada gejala TB

Kurangnya pengetahuan ttg TB Jarak dengan fasyankes jauh

Nilai-nilai budaya setempat

Kemiskinan-(angka kemiskinan meningkat)

Tk pendidikan rata-rata rendah Transportasi kurang terjangkau Pendanaan terbatas

Kerjasama lintas sektoral masih minim termasuk kerjasama dg perangkat di

tingkat desa/kecamatan Toga/tomas kurang dilibatkan

SOP penanganan TB belum ada/ Sebagian yankes ada SOP namun tingkat kepatuhan

belum optimal

Komitmen dan Strategi Penerapan SOP Penanggulangan Penyakit Menular belum

Komprehensif disetiap Puskesmas

DAMPAK

PENYEBAB LANGSUNG

PENYEBAB TIDAK LANGSUNG

Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen Page 33

standar MDGs namun menunjukan angka penurunan yang cukup berarti. Pada tahun 2011 penemuan kasus sebesar 60,44%,; tahun 2012 sebesar 59,95% dan tahun 2013 sebesar 51,88%. Pada gambar 5 terlihat bahwa terdapat dua faktor utama yang dominan menyebabkan secara langsung penemuan kasus TB masih di bawah standar MDGs (85%). Faktor tersebut adalah: tenaga kesehatan yang terbatas dan kesadaran pasien untuk periksa rendah. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

1) Jumlah kader atau relawan

Secara operasional yang memiliki fungsi untuk melakukan penanganan secara langsung baik secara promotif, preventif maupun kuratif adalah Puskesmas. Kabupaten Kebumen memiliki 35 puskesmas yang tersebar di 26 kecamatan. Dari 26 kecamatan tersebut memiliki sejumlah 460 desa/kelurahan. Masing-masing puskesmas hanya memiliki satu orang petugas kesehatan yang khusus menangani TB. Namun kepala puskesmas memiliki tanggungjawab untuk melaksanakan fungsi koordinatif seluruh desa/kelurahan di wilayahnya. Sehingga bisa dirata-rata setiap petugas memiliki tanggung jawab menangani masalah TB di 17 atau 18 desa/kelurahan. Selanjutnya di tingkat desa/kelurahan ada petugas yang bertanggungjawab atas kondisi kesehatan masyarakat di wilayahnya yaitu “Bidan Desa”. Hal ini sesuai dengan Keputusan Kementrian Kesehatan RI Nomor: 369/Menkes/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan Desa. Dalam pelaksanaanya dapat dibuat tim yang lebih operasional khusus kader atau relawan dalam penanggulangan TB, baik yang akan dilibatkan mulai dari sosialisasi, menemukan penderita TB, melapor, maupun melaksanakan fungsi PMO. Namun kenyataan di lapangan jumlah kader atau relawan yang benar-benar mau dalam melaksanakan fungsinya sangat terbatas.

Keterbatasan tersebut disebabkan karena : a) Pendanaan yang terbatas,

Total anggaran untuk program kesehatan di Kabupaten Kebumen adalah Rp. 88. 631.616.908 atau 5,21% dari total APBD. Anggaran

Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen Page 34

tersebut digunakan untuk pembiayaan 5 (lima) program yaitu: Bidang Jaminan dan Sarana Kesehatan (JSK), Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK), Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Kesehatan (PSDMK), Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) dan Sekretariat Dinas Kesehatan. Khusus untuk anggaran PMK subbidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (semua) tahun ini sebesar Rp. 175.000.000. Dengan keterbatasan dana dari pemerintah, swadaya masyarakat atau partisipasi dari pihak-pihak swasta masih sangat diperlukan. Namun saat ini pendanaan yang terbatas masih menjadi kendala dalam penanggulangan TB di Kabupaten Kebumen.

b) Kerjasama lintas sektoral masih minimal

Pengendalian dan penanganan TB masih lebih bersifat sektoral. Selama ini masih lebih menjadi wilayah dari tugas Dinas Kesehatan. Sebenarnya masalah tersebut akan memberikan hasil yang lebih maksimal jika penanganannya juga melibatkan pihak-pihak lain, diantaranya adalah Dinas Lingkungan Hidup (LH), Dinas Perhubungan (Dishub), Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Bapemades), Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disikpora), pihak-pihak swasta, organisasi sosial, LSM dan lain sebagainya.

c) Pemberdayaan Masyarakat yang kurang

Pemberdayaan masyarakat masih belum optimal. Hal ini dibuktikan masih kurangnya jumlah kader yang aktif untuk mengatasi TB dan masih kurangnya kepedulian aparat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama dan masyarakat itu sendiri.

2) Kesadaran pasien untuk periksa

a) Kurangnya pengetahuan tentang TB

Sosialisasi tentang TB kepada masyarakat baik oleh kader maupun petugas kesehatan jarang dilaksanakan. Keterbatasan sumberdaya dan wilayah yang cukup luas mengakibatkan sosialisasi dilakukan

Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen Page 35

secara bergilir belum bisa dilakukan secara periodisasi. Sosialisasi ke masyarakat biasanya dilakukan melalui forum PKK, posyandu maupun pengajian-pengajian. Lebih ditekankan pada forum yang diikuti oleh ibu hal ini disebabkan karena asumsi bahwa ibu-ibu lebih dekat dengan wilayah domestik keluarga. Sehingga diharapkan jika ada anggota keluarga yang memiliki gejala TB maka bisa segera di atasi dengan optimal. Namun karena dorongan kebutuhan aspek kehidupan yang lain (misal : ekonomi/ nilai-nilai budaya setempat) lebih kuat sehingga mempengaruhi kesadaran pasien untuk periksa menjadi berkurang.

Disamping itu, berdasarkan rata-rata tingkat pendidikan penduduk yang terkena penyakit TB memiliki latarbelakang pendidikan rendah. Kondisi pendidikan tersebut selanjutnya akan mempengaruhi pola pikir dan perilakunya dalam berbagai aspek kehidupannya. Ada kecenderungan bahwa semakin rendah tingkat pendidikan semakin rendah pula kebutuhan atas informasi di luar rutinitas kegiatan sehari-hari.

b) Jarak dengan fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak terjangkau Permasalahan tentang jarak dan fasilitas pelayanan kesehatan adalah dari wilayah yang kondisi geografisnya pegunungan. Diantaranya adalah Kecamatan Sempor, Kecamatan Padureso, Kecamatan Puring dan beberapa kecamatan lainnya. Kondisi geografis yang demikian, terutama untuk desa-desa yang jauh dari ibukota kecamatan transportasi umum yang tersedia adalah ojek. Angkutan pedesaan memang tersedia tetapi jumlahnya tidak banyak dan hanya beroperasi pada waktu tertentu. Penggunaan ojek akan mengakibatkan biaya transportasi tinggi.. Ketika pertimbangan biaya transportasi tinggi maka masyarakat terutama bagi penderita TB yang akan pergi berobat harus menyisihkan uang yang cukup. Bagi pasien yang ada pada kategori miskin atau hampir miskin maka uang yang mereka miliki akan lebih

Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen Page 36

digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok atau kebutuhan primer. Dari data yang diperoleh pada tiga tahun terakhir masyarakat yang memiliki kategori miskin dan hampir miskin di Kabupaten Kebumen secara kuantitas mengalami tren meningkat pada tahun 2011 berjumlah 535.252 jiwa, tahun 2011 berjumlah 624.641 jiwa dan pada tahun 2013 berjumlah 755.211 jiwa. Sebenarnya kendala biaya dan transportasi ini bisa diatasi dengan pengoptimalan peran tenaga kesehatan dan relawan didesa untuk membantu dan memfasilitasinya.

c) Nilai-nilai budaya setempat

Nilai-nilai budaya setempat yang menjadi kendala dalam penemuan kasus TB diantaranya adalah:

(1) Batuk yang tak kunjung sembuh dan sampai mengeluarkan darah merupakan akibat “santet”

(2) Keyakinan atas agama yang dianut memunculkan persepsi bahwa segala macam penyakit itu obatnya semata-mata dari Tuhan. Sehingga kalau dengan penyakit TB sampai meninggal itu merupakan takdir yang juga datangnya dari Tuhan

(3) Memandang penderita TB jangan sampai diketahui oleh banyak pihak karena anggapan TB merupakan penyakit yang memalukan

Selain itu pada tempat-tempat komunitas seperti pesantren, panti asuhan, asrama dan lembaga pemasyarakatan hanya memiliki petugas kesehatan yang sangat minimal atau bahkan tidak memiliki sama sekali. Ketika penghuni tempat-tempat komunitas tersebut tidak terjamah oleh sosialisasi masalah kesehatan maka akan sangat potensial menjadi tempat penyebaran TB. Dan hal tersebut akan semakin parah jika penghuninya padat dan memiliki lingkungan yang kurang sehat.

Selama ini banyak anggapan bahwa masalah kesehatan khususnya TB merupakan urusan petugas kesehatan, terlebih jika

Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen Page 37

tokoh-tokoh agama dan masyarakat kurang dilibatkan maka permasalahan di atas akan terus tetap terjadi.

Dari dua penyebab langsung di atas apabila di tarik akar permasalahannya adalah sebagai berikut: standar operating procedure (SOP) terkait penanganan TB lintas sektoral di Kabupaten Kebumen yang ditetapkan oleh pemerintah daerah belum ada. Manakala SOP belum ada maka mekanisme, jejaring kemitraan akan berjalan apa adanya. Sehingga hasil yang di capai belum optimal. Bagi Puskesmas yang bersertifikat SNI ISO 9001-2008 telah memiliki SOP terkait penanganan TB, namun dalam tatanan operasional tingkat kepatuhan terhadap SOP belum optimal karena masih bersifat kondisional. Untuk itu diperlukan komitmen dan strategi penerapan SOP secara komprehensif di setiap puskesmas.

Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen Page 38 b. Succes Rate di Bawah Standar

Gambar 5 RCA Succes Rate di Bawah Standar

Succes rate di Kabupaten Kebumen berdasarkan data yang diperoleh pada tiga tahun terakhir masih di bawah standar yang ditetapkan yaitu sebesar 87%. Pada tahun 2011 penemuan kasus sebesar 85,64%,; tahun 2012 sebesar

Succes rate di bawah standar

Terlambat mengambil keputusan Terlambat mendapatkan yankes Kurangnya pengetahuan ttg TB Gizi buruk

Nilai-nilai budaya setempat

Koordinasi RS-puskesmas kurang Jarak jauh dari fasyankes Kondisi geografis yang sulit

Peran kader belum optimal Peran PMO kurang optimal

Penghasilan rendah

Penggerakan partisipasi masyarakat kurang Kerjasama lintas sektor yang kurang

Kurang mampu mengakses fasyankes Toga/Tomas kurang partisipasinya

Peran PMO belum optimal Informasi ttg TB masih kurang

Kemiskinan Tingkat pendidikan rendah

SOP penanganan TB secara komprehensif belum ada

Penanganan TB secara sinergis belum dilaksanakan dengan baik

Regulasi/ Peraturan Daerah dan Kebijakan Dasar Penanggulangan TB DAMPAK PENYEBAB TIDAK LANGSUNG PENYEBAB MENDASAR PENYEBAB LANGSUNG

Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen Page 39

81,54% dan tahun 2013 sebesar 84,54%. Pada gambar 6 terlihat bahwa terdapat dua faktor utama yang dominan menyebabkan secara langsung penemuan kasus TB masih di bawah standar MDGs. Faktor-faktor tersebut adalah:

1) Pasien terlambat mengambil keputusan

Keterlambatan pasien TB di dalam mengambil keputusan untuk berobat disebabkan oleh 3 (tiga) hal yaitu :

a) Kurangnya pengetahuan pasien tentang TB;

Sebagaimana penjelasan di atas bahwa kurangnya pengetahuan masyarakat termasuk di dalamnya adalah pasien dipengaruhi oleh sosialisasi tentang TB baik oleh kader maupun petugas kesehatan jarang dilaksanakan. Keterbatasan sumberdaya dan wilayah yang cukup luas mengakibatkan sosialisasi dilakukan secara bergilir belum bisa dilakukan secara periodisasi. Kurangnya pengetahuan pasien TB juga bisa berakibat ketidakpatuhan pada pengobatan atau drop out (DO). Setelah memulai proses pengobatan jika pasien merasa lebih sehat dan didukung tidak ada kontrol dari pihak manapun maka ia berhenti atau tidak patuh lagi pada proses pengobatan selanjutnya. Sosialisasi ke masyarakat lebih ditekankan pada forum yang diikuti oleh ibu-ibu hal ini disebabkan karena asumsi bahwa ibu-ibu lebih dekat dengan wilayah domestik keluarga. Namun pengambilan keputusan keluarga untuk berobat atau tidak tergantung pada keputusan “Bapak”. Hal ini berhubungan dengan kedudukan dan peran bapak sebagai kepala keluarga sekaligus pencari nafkah utama dalam keluarga.

b) Nutrisi atau gizi buruk;

Kondisi ekonomi yang rendah akan mempengaruhi kemampuan masyarakat untuk menyediakan dan mengkonsumsi nutrisi atau gizinya. Pasien TB sangat membutuhkan gizi yang baik, karena untuk mendukung perbaikan sistem kekebalan tubuh manusia. Konsumsi makanan seadanya merupakan hal yang terjadi pada rata-rata pasien

Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen Page 40

penderita TB. Banyak dari pasien penderita TB yang melakukan pengobatan (80%) belum didukung dengan gizi yang baik. Sehingga hasil pengobatan pasien TB akan sangat tergantung pada kondisi tubuhnya.

c) Nilai budaya setempat;

Nilai-nilai budaya setempat yang menjadi kendala dalam succes rate kasus TB diantaranya adalah: adanya anggapan bahwa penderita TB merupakan penyakit yang memalukan sehingga dalam proses pengobatan diupayakan tidak diketahui oleh banyak; pengobatan yang panjang mengakibatkan sebagian dari pasien merasa bosan atau lelah sehingga kepasrahan total terhadap Tuhan atas kesembuhan penyakitnya. Sembuh atau tidak dan kematian semuanya adalah takdir Tuhan.

Disamping itu, berdasarkan rata-rata tingkat pendidikan penduduk yang terkena penyakit TB memiliki latarbelakang pendidikan rendah. Kondisi pendidikan tersebut akan mempengaruhi pola pikir dan perilakunya dalam berbagai aspek kehidupannya. Ada kecenderungan bahwa semakin rendah tingkat pendidikan semakin rendah pula kebutuhan atas informasi di luar rutinitas kegiatan sehari-hari. Masyarakat miskin atau yang hampir miskin disebabkan karena tingkat pendidikan yang rendah, akibatnya keterampilan yang mereka miliki menjadi terbatas. Keterbatas tersebut membuat mereka hanya memiliki penghasilan yang rendah.

2) Terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan

a) Jarak dengan fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak terjangkau Sebagaimana permasalahan yang disampaikan di atas bahwa jarak dengan fasilitas pelayanan kesehatan akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Permasalahan tentang jarak dan fasilitas pelayanan kesehatan terutama untuk desa-desa yang jauh dari ibukota kecamatan dan transportasi umum yang tersedia adalah ojek. Angkutan pedesaan memang tersedia tetapi jumlahnya tidak banyak dan hanya

Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen Page 41

beroperasi pada waktu tertentu. Penggunaan ojek akan mengakibatkan biaya transportasi mahal. Ketika pertimbangan biaya transportasi mahal maka masyarakat terutama bagi penderita TB yang akan pergi berobat harus menyisihkan uang yang cukup. Bagi pasien yang ada pada kategori miskin atau hampir miskin maka uang yang mereka miliki akan lebih digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok atau kebutuhan primer.

b) Peran kader yang kurang optimal

Peran kader yang kurang optimal karena keterbatasan sumber daya yang ada baik secara kualitas maupun kuantitas. Selama ini kader yang telah bekerjasama dengan pemerintah dalam penanganan TB di daerah adalah SSR dari Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Kebumen dan kader posyandu. Saat ini kader (relawan) aktif dari SSR memiliki 72 orang, 2.087 posyandu aktif. Secara operasional bersama-sama petugas kesehatan dari puskesmas mereka melakukan penanganan secara langsung baik secara promotif, preventif maupun kuratif adalah Puskesmas.

Kabupaten Kebumen memiliki 35 puskesmas yang tersebar di 26 kecamatan. Dari 26 kecamatan tersebut memiliki sejumlah 460 desa/kelurahan. Relawan yang berasal dari SSR masing-masing membawahi atau beroperasi rata-rata pada 6 sampai dengan 7 desa/kelurahan. Mereka berkomitmen untuk terlibat mulai dari proses penanganan TB secara promotif dan preventif (bekerjasama dengan kader posyandu atau pemerintah desa dan petugas kesehatan setempat), maupun kuratif sampai sembuh (bekerjasama dengan petugas yankes). Memberikan pelatihan PMO pasien TB. Dari segi kuantitas dan kualitas, setiap petugas maupun relawan memiliki tugas yang cukup berat. Selama ini tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat belum terlibat secara aktif.

Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen Page 42

c) Peran PMO kurang optimal.

Partisipasi untuk menjadi PMO masih rendah. Namun karena informasi yang terbatas dan tidak ada pelatihan atau pembekalan untuk PMO, maka peran PMO menjadi kurang optimal. Keaktifan PMO juga masih rendah. Sebagai contoh sering yang mengantar berobat adalah anaknya, anak tersebut yang beda rumah dengan pasien TB dan hanya pasrah obat kepada anggota keluarga lain yang serumah dengan pasien. Fungsi pengawasanpun menjadi kurang optimal.

Selama ini pembekalan untuk PMO dari petugas kesehatan hanya dilakukan pada saat anggota keluarga mengantarkan obat ke puskesmas. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas rata-rata petugas kesehatan harus membawahi 17 sampai 18 desa/kelurahan. Meskipun demikian secara periodik yaitu 3 atau 4 bulan sekali SR mengadakan pembekalan bagi PMO. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi munculnya kasus DO sehingga akan lebih memberikan kontribusi positif terhadap succes rate di Kabupaten Kebumen.

Dari permasalahan dapat di tarik akar permasalahannya adalah perlu adanya peraturan daerah (perda) atau regulasi tertulis dari pemerintah daerah terkait penanggulangan penyakit menular khususnya pengendalian TB belum ada. Jika perda atau regulasi dari pemerintah daerah ada maka komitmen politik, sosial dan ekonomi dari berbagai pihak akan dapat terbangun dengan baik. Selama ini di Kabupaten Kebumen belum ada regulasi tentang hal tersebut. Dari regulasi pemerintah selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan a) standar operating procedure (SOP) terkait penanganan TB secara komprehensif, b) penanganan TB secara sinergis dapat dilaksanakan dengan baik

Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen Page 43

c. Kematian Akibat TB Paru Meningkat

Gambar 6 RCA Kematian Akibat TB

Multi Drug Resistent (MDR)

Kekebalan tubuh menurun

Pengobatan terhenti

Gizi buruk

Lingkungan tempat tinggal dan/lingkungan kerja tidak sehat

Pola hidup yang tidak sehat Aktifitas fisik yang tidak sehat

Kurangnya pengetahuan ttg TB Peran PMO kurang optimal

Jarak jauh dari fasyankes Kondisi geografis yang sulit

Penghasilan rendah

Partisipasi Toga/tomas masih kurang

Akses yang kurang terjangkau Peran kader belum optimal

Pelatihan PMO belum ada Petugas kesehatan memiliki sumber

daya terbatas Kemiskinan

Tingkat pendidikan rendah Nilai-nilai budaya setempat

SOP penanganan TB belum ada/ Sebagian yankes ada SOP namun tingkat kepatuhan belum sebagaimana

yang diharapkan

Kerjasama lintas sektoral penanganan TB belum dilaksanakan Anggaran penanganan TB masih sangat terbatas

REGULASI PEMERINTAH

Kematian akibat TB Paru meningkat

DAMPAK

PENYEBAB LANGSUNG

PENYEBAB TIDAK LANGSUNG

Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen Page 44

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen angka pada tiga tahun terakhir adalah 1,43/100.000 penduduk (2011), 2,06/100.000 penduduk (2012) dan 2,63/100.000 penduduk (2013). Angka tersebut memang masih di bawah standar MDGs (39) namun tren yang meningkat menunjukan bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan oleh berbagai pihak belum berhasil menurunkan angka kematian akibat TB. Potensi tersebut bisa jadi akan terus berlanjut dan angka yang terus meningkat jika tidak ada tindakan yang berarti sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Pada gambar 7 terlihat bahwa terdapat dua faktor utama yang dominan menyebabkan secara langsung seseorang tertular Mycobacterium Tubercolusis. Faktor tersebut adalah: kekebalan tubuh menurun dan pengobatan terhenti.

1) Kekebalan tubuh menurun

Kekebalan tubuh pasien TB disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu: gizi atau nutrisi buruk; lingkungan tempat tinggal dan atau lingkungan kerja yang tidak sehat; pola hidup yang tidak sehat; dan aktifitas fisik yang tidak sehat pula.

Faktor-faktor tersebut disebabkan oleh kemiskinan tingkat pendidikan yang rendah dan nilai-nilai budaya yang kurang mendukung kesehatan masyarakat.

2) Pengobatan terhenti

Pengobatan terhenti tersebut disebabkan oleh: 1) Kurangnya pengetahuan pasien TB tentang proses pengobatan. Proses pengobatan yang lama kadang membuat lelah atau bosan pasien sehingga kurangnya pengetahuan pasien mengakibatkan berhenti di tengah proses pengobatan, 2) Peran PMO yang kurang optimal, 3) Jarak yang jauh dan kondisi geografis yang sulit bagi pasien TB.

Dari permasalahan dapat di tarik akar permasalahannya adalah perlu adanya peraturan daerah (perda) atau regulasi tertulis dari pemerintah daerah terkait penanganan dan atau pengendalian TB belum ada. Jika perda atau regulasi dari pemerintah daerah ada maka komitmen politik,

Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen Page 45

sosial dan ekonomi dari berbagai pihak akan dapat terbangun dengan baik. Selama ini di Kabupaten Kebumen belum ada regulasi tentang hal tersebut. Dari regulasi pemerintah selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan a) standar operating procedure (SOP) terkait penanganan TB , b) kerjasama lintas sektoral dan perluasan jejaring kemitraan dalam penanganan dan pengendalian TB yang lebih fungsional, c) pendanaan penanganan TB yang lebih memadai

Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen Page 46

2.4.3. Analisa Peran

Analisa peran dilakukan untuk menentukan rekomendasi dan kerangka aksi, sehingga bisa menentukan sasaran advokasi yang tepat.

Tabel 10

Analisa Kesenjangan Kapasitas Pemegang Peran Penderita TB, Keluarga-PMO, Stakeholders, Petugas Kesehatan dan Dinkes/Bapeda/Bupati/DPRD Terhadap Wewenang – Tanggungjawab – Sumberdaya Pemegang peran

Kapasitas

Penderita TB Keluarga, PMO Stakeholders

(Kader/LSM/Ormas)

Petugas Kesehatan Dinkes/ Bapeda/Bupati/DPRD

Wewenang - Kurangnya kesadaran penderita TB terhadap arti pentingnya kesehatan keluarga - Tanggungjawab untuk memeriksakan diri sendiri terkait kesehatan kurang meski gejala sakit ada - Tidak mendatangi yankes terdekat untuk berkonsultasi atau periksa - Tanggungjawab untuk memeriksakan anggota keluarga terkait kesehatan kurang meski gejala sakit ada - Sesama anggota keluarga

kurang saling perhatian - Anggota keluarga yang tidak

lengkap

- Fungsinya hanya bersifat sambilan

- Perannya hanya berfungsi manakala ada sikap kooperatif dari penderita (tidak memiliki power terhadap penderita)

- Semua anggota keluarga

- Kader kurang maksimal dalam mensosialisasikan tentang penyakit TB ke masyarakat - Kurang berperan membantu

petugas kesehatan dalam mengatasi penyakit TB - Tugas P2TB tidak menjadi

bagian dari posyandu/bidan (kader sehat)

- Kader di desa –Posyandu/ lainnya; SSR; Ormas

- Kurang memahami

wewenang dan tugas sebagai petugas kesehatan

- Kurang patuh terhadap SOP - Tidak berkoordinasi dengan kader dan masyarakat(Toga-Tomas) dalam program pengendalian dan pengobatan TB

- Tidak mamahami strategi dan aturan tugas sebagai PMO

- Belum memiliki manajemen yankes TB yang memadai

- Puskesmas

- Penderita TB yang tidak berobat secara rutin/tidak berobat sama sekali belum ada konsekuensi yang berarti - Belum maksimal ikut

berpartisipasi dalam upaya meningkatkan derajad kesehatan masyarakat - Kerjasama lintas sektoral

belum dilaksanakan secara maksimal dalam penanganan TB di daerah

- Penanganan TB belum menjadi prioritas program di Kabupaten - Kebijakan TB dan

pencegahan belum disusun dalam perda

- Dinkes, Bapeda, Bupati, DPRD

Dokumen terkait