Bentuk massa bangunan dapat bermacam-macam, namun ada 3 bentuk dasar yang dapat kita bandingkan dari berbagai segi, seperti orientasi, hemat energi, stabilitas struktur, estetika dan efektivitas ruangnya. Di bawah ini adalah tabel analisa bentuk masa bangunan:
Tabel IV.3.1. Analisa Bentuk Massa Bangunan
Kriteria Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3
Orientasi Lebih baik Terbaik Baik
Hemat listrik Terbaik Lebih baik Baik
Stabilitas Baik Lebih baik Terbaik
Estetika Baik Lebih baik Terbaik
Efektivitas Terbaik Lebih baik Baik
Dari tabel diatas, bentuk massa bangunan yang dipilih adalah kotak atau kubus. Yang menjadi pertimbangan utama yaitu dari segi hemat listrik, efisiensi dan efektivitas bangunan. Hal lain seperti estetika, orientasi dan stabilitas dapat dicari pemecahannya melalui tahap perancangan selanjutnya.
Selanjutnya yang perlu dipertimbangkan adalah pola massa bangunannya, apakah dipilih massa tunggal atau massa banyak. Masing-masing pola massa banguna memiliki kelebihan dan kekurangannya seperti yang terlihat dibawah ini.
Tabel IV.3.2. Analisa Pola Massa Bangunan
Kriteria Alternatif 1 Alternatif 2
Massa tunggal Massa banyak
Pencahayaan alami Kurang baik Lebih baik
Pengudaraan alami Kurang baik Lebih baik
Stabilitas Lebih baik Kurang baik
Efektivitas Lebih baik Kurang baik
Pola massa bangunan yang dipilih adalah alternatif 2, hal ini karena pengudaraan alami dapat lebih dicapai dibandingkan dengan massa tunggal. Pengudaraan menjadi pertimbangan penting karena energi listrik yang dibutuhkan untuk pengudaraan buatan sangat besar bahkan mencapai 70% dari seluruh energi yang digunakan bangunan.
Untuk fungsi asrama, ada dua pilihan pola ruang, apakah single loaded atau double loaded. Untuk single loaded, satu koridor melayani satu sisi kamar, sedangkan double loaded, satu koridor melayani dua sisi kamar. Tentu saja lebih efisien apabila double loaded, namun apabila ingin dicapai cross ventilation maka single loaded lebih tepat sebagai pilihan.
Tabel IV.3.3. Analisa Single dan Double Loaded
Kriteria Alternatif 1 Alternatif 2
Single loaded Double loaded
Pencahayaan alami Lebih baik Kurang baik
Pengudaraan alami Lebih baik Kurang baik
Efektivitas Kurang baik Lebih baik
Untuk mencapai bangunan yang hemat energi maka pada proyek ini dipilih single loaded. Hal ini karena pencahayaan dan pengudaraan alami dapat tercapai. Cross ventilation dapat maksimal sehingga penghuni asrama bisa tetap nyaman walaupun tidak menggunakan pengkondisian udara.
Selanjutnya yang penting untuk dipertimbangkan adalah letak core atau inti bangunan. Berikut ini akan dilihat perbandingan tiga alternatif letak core yang dapat dipilih.
Tabel IV.3.4. Analisa Inti Bangunan
Kriteria Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3
Efektivitas Lebih baik Terbaik Baik
Keamanan Baik Terbaik Lebih baik
Kenyamanan Lebih baik baik Terbaik
Tipe letak inti yang paling baik untuk tipe hunian dan dipilih dalam proyek ini yaitu alternatif 2. Hal ini karena tidak akan ada dead coridor sehingga keamanan penghuni lebih baik serta penataan ruangnya paling efektif.
IV.3.2. Struktur Bangunan
Struktur bangunan yang digunakan adalah struktur yang dapat menahan seluruh beban yang ada baik beban hidup maupun beban mati pada bangunan. Pelaksanaan konstruksi dipilih yang paling efisien misalnya dengan diding precast pada dinding terluar akan memudahkan pelaksanaan, selain itu menghemat waktu pengerjaan.
Tabel IV.3.5. Analisa Struktur Bangunan
Upper Structure
Tipe Kelebihan Kekurangan
Rectangular Grid Material beragam, cocok untuk hunian, pengerjaan mudah, kuat
Monoton
Diagonal Grid Pengerjaan cepat Material besi, mahal, kurang cocok pada hunian.
Sub Structure
Tipe Kelebihan Kekurangan
Tiang Pancang Waktu pengerjaan cepat, kemampuan menahan beban vertikal baik
Pengerjaannya harus sangat teliti
Tiang Bor Daya tahan beban lebih besar
Waktu pengerjaan lama
Rakit Cocok untuk bangunan
dengan ruang bawah tanah
Pembuatannya boros bahan dan energi
Struktur rigid frame / rangka kaku dengan beton bertulang sangat baik digunakan untuk hunian, karena bentangannya tidak terlalu lebar.
Selain itu sesuai dengan kemampuan para tenaga kerja bangunan lokal.
Pondasi menggunakan tiang pancang yang lebih cepat pemasangannya daripada jenis pondasi lainnya dan memiliki kemampuan menahan gaya vertikal yang baik. Sedangkan pondasi rakit tidak digunakan karena boros bahan dan energi.
IV.3.3. Material Bangunan
Material yang sebaiknya digunakan yaitu bahan-bahan lokal seperti kayu, bambu, batu, dan tanah liat, yang dapat diolah menjadi elemen struktur dan arsitektur yang menarik. Bahan-bahan tertentu,
seperti alumunium, sangat boros energi listrik pada saat pembuatannya, tetapi cukup rendah biaya perawatannya. Seng bergelombang baik digunakan sebagai isolator pada atap karena seng memantulkan sebagaian besar panas yang diterima.
IV.3.4. Sistem Utilitas Air
Gambar IV.3.4.1. Sistem Pasokan Air
Sumber: Panduan Sistem Bangunan Tinggi (2005)
Pada umumnya terdapat dua sistem pasokan air bersih yaitu sistem pasokan ke atas (up feed), (baik dengan atau tanpa tangki penampung air), dan pasokan ke bawah (down feed). Pada sistem pasokan ke atas (up feed) air bersih dialirkan dengan tekanan pompa, sedangkan pada pasokan ke bawah (down feed), pompa digunakan untuk mengisi tangki air di atas atap. Dengan menggunakan sakerlar pelampung, pompa akan berhenti bekerja, jika air dalam tangki sudah penuh dan selanjutnya air diailrkan dengan memanfaatkan gaya gravitasi.
Tabel IV.3.3.1. Sistem Pasokan Air Bersih
Kriteria Up Feed Down Feed
Hemat listrik Kurang baik Lebih baik
Kemudahan Perawatan Lebih baik Kurang baik
Sistem pasokan air bersih yang dipilih yaitu down feed. Hal ini
feed, selain itu sistem up feed membuat pompa cepat rusak. Sumber airnya sendiri berasal dari PDAM dan instalasi daur ulang air. Sebaiknya tidak menggunakan air tanah karena pengeboran air tanah dapat mengganggu keseimbangan alam. Berikut ini perhitungan kebutuhan air bersih per hari:
Tabel IV.3.3.2. Kebutuhan Air Bersih
Fungsi Standar Keterangan Total kebutuhan air (liter)
Asrama 45 liter/orang 800 orang 36000
Pertokoan 5 liter/m2 2852 m2 14260
Hidran ∑ . (400). (30) 20 unit 240000
Tangki Srinkler 20%. ∑ . (18). (30) 633 unit 68364
Total 358624
Pengamanan Terhadap Kebakaran
Konsep konstruksi tahan api terkai tada kemampuan dinding luar, lantai, dan atap untuk dapat menahan api di dalam bangunan atau kompartemen.
Sprinkler dan hidran membutuhkan cadangan air yang diperhitungkan ntuk jangka waktu selama 30 menit. Selang waktu ini diambil dengan asumsi bahwa jika api belum juga padam, maka petugas pemadam kebakaran sudah tiba di lokasi. Menurut Jimmy S. Juwana (2005), jumlah hidran yang dibutuhkan yaitu 1 buah per 800 m2. Maka pada proyek ini dengan luas bangunan 15.812 m2 , dibutuhkan 20 unit hidran. Sementara sprinkler, 1 buah per 25m2. Maka dibutuhkan 633 unit
Sirkulasi Vertikal
Karena peruntukan bangunan adalah asrama atlet dengan jumlah lapis hanya 6 pada tower maka sirkulasi vertikal yang akan digunakan dan diutamakan adalah tangga. Sementara lift disediakan hanya untuk barang dan bagi penyandang cacat.
Tangga Darurat
Peryaratan tangga kebakaran, khususnya yang terkait dengan kemiringan tangga, jarak pintu dengan anak, tinggi pegangan tangga, dan lebar serta ketinggian anak tangga, dapat dilihat pada Gambar IV.3.4.2.
dibawah ini:
Gambar IV.3.4.2. Tangga Darurat
Sumber: Panduan Sistem Bangunan Tinggi (2005)
Jarak antar pintu darurat yang disyaratkan adalah 30 m (bangunan tanpa sprinkler) dan 45 (bangunan dengan spinkler). Dindingnya harus dapat menahan api selama 2 jam dan pintunya dapat menahan api selama 1,5 jam. Lebar pintu keluar minimum 80 cm, sedangkan lebar tangga dan koridor minimum adalah 120 cm. Semua pintu membuka ke arah dalam kecuali pada lantai dasar yang membuka ke arah luar.
Listrik
Listrik berasal dari PLN. Alternatif lainnya adalah menggunakan pasokan listrik mandiri yang dalam konsep hemat energi disebut dengan
perancangan aktif. Selain itu, disediakan set generator sebagai listrik cadangan.
Telekomunikasi
Telekomunikasi meliputi pelayanan telepon, internet, dan televisi.
Jaringan ini menjadi salah satu kebutuhan dasar untuk masyarakat kota modern.
Sistem Tata Suara
Sistem tata suara meliputi integrasi sistem alarm, media informasi, keperluan musik, serta keperluan audio lainnya.
Pengolahan Sampah dan Limbah
Sistem pembuangan sampah yang dipilih adalah sistem pembuangan sampah tanpa alat pembakaran. Sistem pemisahan antara sampah basah dan kering juga digunakan agar dapat memperoleh manfaat lebih seperti daur ulang.
Septik tank yang dibutuhkan oleh bangunan ini menurut panduan sistem bangunan tinggi dan dengan perhitungan jumlah orang dalam bangunan sebanyak 800 orang adalah 2 buah septik tank dengan volume 32 m3 dengan ukuran 2,50 x 7,00 x 2,10.
Perkiraan volume SPT yang dibutuhkan 900 kg dengan standar 1,0kg /orang. Perkiraan jumlah sampah sama dengan SPT yaitu 900 kg dengan standar 1,0 kg/orang.
Sementara itu, dengan luas lantai tipikal tower sekitar 2000 maka volume sumur resapan yang dibutuhkan adalah 120 m3
Pencahayaan
Pada proyek ini, cahaya yang digunakan adalah cahaya alami dan buatan. Pada pagi hari sampai sore hari, cahaya almi masih dapat diandalkan. Lampu LED dan lampu solar cell adalah contoh lampu buatan yang sesuai dengan konteks hemat energi.
Penghawaan
Tabel IV.3.3.3. Tipe Penghawaan
Keterangan Penghawaan Alami Penghawaan Buatan Kelebihan - Hemat energi listrik
- Baik bagi kesehatan
- Sangat stabil
Kekurangan - Tidak stabil - Boros energi listrik - Kurang baik bagi
kesehatan
Sistem penghawaan yang digunakan adalah penghawaan alami &
buatan, dimana kamar penghuni menggunakan ventilasi alami namun beberapa fasilitas seperti ruang fitness menggunakan penghawaan buatan.
Yang menjadi pertimbangan adalah pemeliharaan instalasi penyejuk udara merupakan masalah yang besar. Anggaran biaya bangunan dan pemeliharaan sangat banyak dipengaruhi oleh adanya instalasi penyejuk udara. Iklim buatan mempengaruhi keseimbangan organisme manusia jika perbedaan iklim luar dan iklim dalamnya besar.
Gangguan kesehatan bisa timbul bila berada lama atau sering keluar masuk ruangan seperti itu.