H. Kekuatan Hukum Putusan Mahkamah Agung
I. Analisa Surat Keputusan Gubernur No.660.1/30 2016 Pasca Putusan MA
No.99 PK/TUN 2016.
Dengan menyikapi keputusan gubernur jawa tengah yang mengeluarkan keputusan gubernur No.660.1/30 tahun 2016 pasca putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, yang dimana surat keputusan gubernur jawa tengah tersebut menimbulkan permasalahan serta menimbulkan kekacauan hukum administrasi dikarenakan terbitnya surat keputusan menyebabkan ketidakpastian hukum dalam pelaksanaan putusan PK MA No.99 PK/TUN 2016. Bahwa dalam Pasal 97 ayat (8) dan ayat (9) UU No.5 Tahun 1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara yaitu ayat (8) Dalam hal gugatan dikabulkan, maka dalam putusan pengadilan tersebut dapat ditetapkan kewajiban yang harus dilakukan badan atau pejabat tata usaha negara yang mengeluarkan keputusan tata usaha negara. Ayat (9) Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (8) berupa;
a) Pencabutan Keputusan Tata Usaha Negara yang bersangkutan; b) Pencabutan Keputusan Tata Usaha Negara yang bersangkutan dan
menerbitkan Keputusan Tata Usaha Negara yang baru; atau
c) Pencabutan Keputusan Tata Usaha Negara dalam hal gugatan didasakan pada Pasal 3.
Bahwa SK Jawa Tengah diterbitkan bertentangan dengan Putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap yaitu Putusan MA Nomor 99 PK/TUN/2016. Gubernur Jawa Tengah telah bertindak sewenang-wenang. Untuk itu, konsekuensinya dilihat dalam Pasal 19 ayat (1) yaitu: „ Keputusan dan/atau Tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan dengan melampaui Wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf a dan Pasal 18 ayat (1) serta
35
Keputusan dan/atau Tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan secara sewenang-wenang sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 ayat (2) huruf c dan Pasal 18 ayat (3) tidak sah apabila telah diuji dan ada Putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap‟. Serta didukung oleh teori kewenangan yakni pemerintah dapat menjalankan fungsinya atas dasar wewenang yang diperolehnya. Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 660.1/30 tahun 2016 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan Bahan Baku Semen dan Pembangunan Serta Pengoperasian Pabrik Semen PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah tidak memenuhi beberapa asas-asas Negara Hukum dalam menjalankan asas-asas umum pemerintahan yang baik. Asas negara hukum yang menjadi tolak ukur adalah asas kepastian hukum, asas kemanfaatan, dan asas legalitas.
Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa tengah merupakan contoh pejabat TUN yang tidak memiliki dasar hukum secara pasti dalam menjalankan kewenagannya dengan mengeluarkan kebijakan surat keputusan gubernur nomor 660.1/30/2016 pasca putusan mahkamah agung nomor 99 PK/TUN/2016. Sekalipun pada tanggal 16 januari 2017 gubernur jawa tengah ganjar pranowo mengeluarkan keputusan gubernur japada tanggal 16 januari 2017 gubernur jawa tengah ganjar pranowo mengeluarkan keputusan gubernur jawa tengah nomor 660.1/4/2017 tentang pencabutan keputusan gubernur jawa tengah nomor 660.1/30 tahun 2016 tentang izin lingkungan kegiatan penambangan bahan baku ssemen dan pembangunan serta pengoperasian pabrik semen PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.
36
Berdasarkan konsiderans keputusan gubernur yang tercantum pada bagian menimbang yang menyebutkan Bahwa kegiatan penambangan dan pembangunan pabrik semen oleh PT. Semen Gresik(Persero) Tbk. Di Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah telah memiliki izin lingkungan sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 660.1/17/Tahun 2012 tentang izin lingkungan kegiatan penambangan dan pembangunanpabrik semen oleh PT. Semen Gresik( Persero) Tbk. Kabupaten Rembang Provinsi Jawa tengah.
Isi konsiderans tersebut menjadi bukti bahwa SK gubernur tersebut bertentangan dengan asas legalitas dan asas dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan serta keputusan yang dikeluarkan bertentangan dengan relaas pemberitahuan putusan eksekusi dari Mahkamah Agung RI.
Putusan MA No.99 PK/TUN 2016 (bersifat inkracht) mengikat dan saling berkaitan antara objek sengketa a quo dengan SK Gubernur terbaru. Sesuai dengan UU Peratun No. 5 Tahun 1986 merumuskan bahwa keputusan pejabat tata usaha negara dinyatakan tidak sah oleh peradilan tata usaha negara apabila tidak memenuhi syarat formil dan materil, dalam duduk perkara keputusan gubernur dinyatak batal demi hukum dan mengandung cacat formil atau disebut cacat yuridis. sehingga, tidak ada dasar hukum untuk menimbulkan suatu keadaan hukum baru.
Dapat dijelaskan bahwa keputusan pejabat administrasi tersebut menimbulkan keadaan hukum baru. Artinya bahwa sesuai dengan teori kewenangan yang mengamanatkan supaya keputusan tersebut tidak bertentangan dengan peraturan undangan yang berlaku. Peraturan perundang-undangan memuat beberapa substansi terkait Asas Umum Pemerintahan Yang
37
Baik (AUPB) sebagaiamana sudah dijelaskan di atas tentang penyelenggaraan administrasi pemerintahan yang baik tercantum dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan.
Sebagaimana dijelaskan dalam konsep teori ahli, tindakan pemerintahan administrasi negara tergolong dalam tiga aspek, yaitu:
1. Aspek negatif (het negatieve aspect) : menetukan bahwa tindakan pemerintahan tidak boleh bertentangan degan undang-undang. Tindakan pemerintahan adalah tidak sah jika bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
Undang-Undang No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan sebagai dasar hukum pejabat pemerintah dalam mengeluarkan surat keputusan yang diikuti dengan norma-norma dalam AUPB. Artinya bahwa keputusan pejabat administrasi negara tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
2. Aspek formal-positif (het formeel-positeve aspect) : menetukan bahwa pemerintah hanya memiliki kewenangan tertentu sepanjang diberikan atau berdasarkan undang-undang.
Dalam aspek tersebut pejabat administrasi negara tidak boleh semena-mena mengeluarkan surat keputusan tanpa ada dasar dan kepastian hukum, artinya bahwa keputusan pejabat administrasi negara dinyatakan tidak sah / dan atau batal apabila mengandung cacat yuridis.
3. Aspek materil-positif (het materieel-positieve aspect) : menetukan bahwa undang-undang memuat aturan umum yang mengikat tindakan pemerintahan. Hal
38
ini berarti bahwa kewenangan itu harus memiliki dasar perundang-undangan dan juga bahwa isinya ditentukan normanya oleh undang-undang.
Isi keputusan pejabat administrasi negara menimbulkan akibat hukum dan keadaan hukum baru yang bersifat mengikat dan dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan ditentukan oleh norma-norma yang dimuat dalam asas-asas umum pemerintahan yang baik
Surat keputusan pejabat administrasi negara No. 660.1/30 tahun 2016 bertentangan dengan norma-norma hukum dalam AUPB. artinya bahwa Peraturan Daerah Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2010-2030 Juncto Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2011 tentang Penetapan Cekungan Air Tanah (CAT) Cekungan Watuputih adalah kawasan lindung imbuhan air yang seharusnya dilindungi dan tidak diperbolehkan untuk mendirikan bangunan yang akan dapat merusak lingkungan kawasan yang dimanfaatkan oleh para petani dan masyarakat untuk kebutuhan mereka sehari-hari.