HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.2.1. Analisa Univariat
4.2.1.1. Tingkat Pengetahuan Pekerja
berdasarkan hasil analisis penelitian tingkat pengetahuan pekerja di PT. Dwisembada Karya mayoritas pada mayoritas pada tingkat pengetahuan baik sebesar 80 % pekerja. Kemudian disusul kelompok tingkat pengetahuan kurang sebanyak 4 atau sebanyak 13.3 % pekerja, terakhir pada pengetahuan cukup sebanyak 2 atau sebesar 6.7 % pekerja dari jumlah total 30 pekerja. Hal ini dapat dikarenakan perusahaan telah memberikan pelatihan dengan efesien mengenai cara penggunaan APAR yang baik dan aman.
Pelatihan yang diberikan dengan benar dapat menambah tingkat pengetahuan pekerja sehingga pekerja tidak hanya sekedar tahu namun juga dapat memahami materi yang diberikan. Pernyataan ini sesuai dengan Notoatmodjo menyatakan bahwa pengetahuan adalah merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. (7) Arti dari objek tertentu adalah bentuk dari pelatihan yang telah diberikan perusahaan sehingga pekerja dapat melihat dan mempraktikkan secara langsung sehingga dapat meningkatkan daya ingat pekerja. Pernyataan diatas didukung oleh hasil penelitian lain menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat pendidikan. (23)
41 Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi.
Pengetahuan yang tinggi juga dapat diperoleh dari pendidikan, pengalaman kerja dari diri sendiri maupun orang lain. Dari hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat pendidikan pekerja mayoritas berpendidikan tinggi dan memiliki pengalaman kerja diatas 3 tahun. Hal tersebut merupakan salah satu pendorong terkait dengan tingkat pengetahuan pekerja yang tinggi pula. Pernyataan ini sesuai dengan pernyataan Zar & Abu menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain terpenting bagi terbentuknya tindakan seseorang yang didapatkan dari pendidikan dan pengalaman kerja yang baik. (24) Pernyataan ini didukung oleh teori Notoatmojdo menyatakan bahwa, pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuaannya. (5)
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Situmorang didapatkan hasil gambaran pengetahuan pekerja dalam penggunaan APAR bahwa, pekerja memiliki tingkat pengetahuan baik tentang penggunaan APAR sebesar 52.1 % pekerja.
(23) Hasil yang sama juga didapatkan oleh Akbar didapatkan hasil gambaran pengetahuan pekerja terhadap 46 responden yang berpengetahuan baik menggunakan APAR sebesar 71.7 % pekerja. (24) Hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian Zar & Abu menyatakan bahwa tingkat pengetahuan
42 penggunaan APAR sebesar 63.1 % pekerja dengan tingkat pengetahuan baik. (25)
Dapat ditarik kesimpulan dari hasil penelitian mengenai tingkat pengetahuan pekerja bahwa, tingkat pengetahuan pekerja dapat mempengaruhi penggunaan APAR. Tingkat pengetahuan yang tinggi akan sebanding dengan tingkat pendidikan dan lamanya pengalaman kerja. Semakin tinggi pendidikannya maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuannya terkait penggunaan APAR.
Pernyataan ini didukung oleh Lestari hasil penelitian menyatakan bahwa pendidikan dan pengalaman kerja memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat pengetahuan pekerja tentang penggunaan APAR. (26) 4.2.1.2. Perilaku Pekerja
Berdasarkan hasil analisis penelitian distribusi perilaku penggunaan APAR pekerja di PT.
Dwisembada Karya. Didapatkan kelompok perilaku pekerja tertinggi pada perilaku baik sebesar 86.7 % pekerja, sedangkan pada perilaku kurang baik sebanyak 4 atau sebesar 13.3 % pekerja. Hal ini dapat dikarenakan pekerja memiliki pengalaman kerja yang baik, tingkat pendidikan yang tinggi dan pekerja sebagian besar memiliki usia dewasa awal.
Perilaku merupakan suatu tindakan yang dilakukan seseorang berdasarkan penglihatan, pendengaran dan perasaan dalam melakukan suatu kegiatan. Sedangkan menurut Notoatmodjo perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena itu
43 perilaku dapat terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan adanya respon. (5)
Perilaku baik dapat dipengaruhi oleh pengalaman kerja yang baik sehingga, pekerja mempersepsikan resiko terjadinya bahaya kerja. Hal ini dapat dikarenakan ada kecendrungan terhadap objek yang menyenangkan, maka secara psikologis akan timbul kesan yang sangat mendalam, dan akhirnya dapat membentuk sikap positif dalam kehidupan nyata. Hal ini sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo menyatakan bahwa semakin seseorang berpengalaman akan satu objek maka semakin memahami dan tahu. Artinya, pengalaman kerja mempengaruhi seseorang dalam melakukan tindakan.
Tidak hanya sekedar tahu namun pekerja mampu memahami dan mengaplikasikan penggunaan APAR dengan baik pula. (7) Pernyataan ini didukung oleh Ahmad menyebutkan bahwa perilaku baik didasari dengan adanya pengalaman terhadap suatu peristiwa yang dianggap baik dalam penyelesaian masalah.
(27)
Perilaku baik juga dapat diberasal dari tingkat pendidikan yang tinggi. Pendidikan yang tinggi akan mengembangkan kepribadian dan kemampuan seseorang dalam mempersepsikan suatu objek.
Pekerja yang memiliki pendidikan tinggi akan menerima informasi dengan mudah sehingga berdampak pada perilaku yang baik pula tentang aspek positif dalam penggunaan APAR. Pernyataan ini sesuai dengan teori Notoatmodjo menyebutkan bahwa pendidikan mempengaruhi proses belajar,
44 makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Pendidikan akan menentukan sikap seseorang terhadap objek tertentu, sehingga menumbuhkan sikap postif pada objek tersebut. (7)
Perilaku pekerja sudah dinilai memiliki perilaku yang baik. Hal ini juga tidak terlepas dari tingkat usia pekerja yang masih relatif dewasa awal dengan kisaran 18 sampai dengan 40 tahun. Pada usia ini pekerja akan lebih mampu memberikan respon yang lebih rasional terhadap penggunaan APAR. Pada usia ini juga pekerja akan berfikir sejauh mana keuntungan atau kemungkinan yang akan mereka peroleh dari suatu perilaku penggunaan APAR yang baik.
Pernyataan ini didukung oleh Notoatmodjo menyebutkan bahwa pada masa dewasa awal individu mulai merencanakan atau membuat hipotesis tentang masalah-masalah mereka, pemikiran lebih realistis, bertanggung jawab, menerima perbedaan pendapat, melibatkan intelektual pada suatu yang memiliki konsesuensi besar. (7) Pada usia ini juga kemapuan kognitif semakin meningkat sehingga tidak jarang pekerja pada usia dewasa awal memiliki perilaku yang baik dalam melakukan suatu tindakan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Abu & Zar menyebutkan bahwa perilaku baik dalam proteksi kebakaran sebesar 78.3% pekerja memiliki perilaku baik dalam penggunaan APAR. (25) Hal ini juga sesuai dengan hal penelitian Kris menyebutkan bahwa pekerja dalam penggunaan
45 APAR saat kebakaran sebesar 81.2% pekerja dengan perilaku baik yang telah diberikan pelatihan. (28)
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, pekerja dapat berperilaku baik dalam penggunaan APAR didasarkan faktor tingkat pendidikan yang tinggi dari pekerja itu sendiri. Pengalaman kerja juga mampu mempengaruhi perilaku pekerja secara psikologis dan pada usia dewasa awal pekerja mampu berfikir secara rasional dalam melakukan suatu tindakan. Perilaku yang baik dalam penggunaan APAR dapat dikatakan aman bila pekerja melakukannya sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan tampa membahayakan diri sendiri maupun orang lain.