• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE

3.5 Analisis Data

Data yang diperoleh diolah secara statistik menggunakan program SPSS 16.0 (Statistical Program for Social Science) for windows. Data yang digunakan dalam analisis statistik adalah Kadar Gula Darah Puasa dan Kadar Kolesterol Total baik sebelum perlakuan maupun setelah perlakuan. Data jumlah sel β pankreas dan gambaran histologi pankreas yang diperoleh dari pembuatan preparat histologi pankreas dianalisis secara deskriptif. Analisis yang digunakan adalah uji distribusi normal (Kolmogorov-Smirnov) dan uji homogenitas (uji Levene). Jika data yang dinyatakan terdistribusi normal dan homogen, uji dilanjutkan dengan uji analisis varian satu arah (ANOVA). Jika terdapat perbedaan yang signifikan, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Jika data yang diperoleh dinyatakan tidak terdistribusi normal atau tidak homogen, uji dilanjutkan dengan analisis non parametik (uji KruskalWalis) dan uji Tukey HSD.

33 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Berat Badan Hewan Uji

Berat badan hewan uji merupakan salah satu faktor penting dalam pemberian ekstrak pada hewan uji. Pengambilan data berat badan dilakukan setelah tahap aklimatisasi kemudian setiap minggu dilakukan penimbangan berat badan hewan uji selama penelitian.

Berdasarkan data berat badan di atas, terlihat bahwa berat badan hewan uji secara keseluruhan mengalami kenaikan dimana pada saat awal penelitian, berat badan hewan uji rata-rata berada pada 89-120 g, kemudian diakhir penelitian berat badan hewan uji berada pada pada kisaran 326-372 g. Kenaikan berat badan dipengaruhi pemberian PTL selama penelitian.

0

Gambar 7. Diagram batang rerata berat badan hewan uji selama penelitian

Berdasarkan gambar diatas, kelompok hewan uji yang mengalami DM tipe 2 dan kelompk hewan uji yang diberikan perlakuan metformin mengalami penurunan berat badan. Hal ini terjadi karena pada kondisi DM tipe 2, kadar glukosa darah pada tubuh tidak dapat masuk ke dalam sel-sel otot. Adanya resistensi insulin mengakibatkan insulin tidak mampu menempel pada reseptor yang ada di membran sel otot sehingga GLUT 4 tidak terbuka dan glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel otot. Hal ini tentunya akan megurangi massa tubuh sehingga hewan uji yang mengalami DM akan mengalami penurunan berat badan (Farida et al. 2010). Penggunaan metformin juga menimbulkan penurunan berat badan karena penyerapan glukosa pada saluran intestinal ditekan sehingga kadar glukosa dalam tubuh berkurang. Pengukuran berat badan hewan uji penting dilakukan untuk mengtahui volume ekstrak yang akan diberikan ke hewan uji.

4.2 Data Kadar Glukosa Darah Hewan Uji Selama 21 Hari

Gambar 8. Diagram batang rerata kadar glukosa darah hewan uji selama penelitian (antar hari dalam kelompok)

Gambar 8. Diagram batang rerata kadar glukosa darah hewan uji selama penelitian (antar kelompok dalam hari). Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang bermakna (P<0.05)

Pengambilan data kadar glukosa darah hewan uji dilakukan untuk melihat pengaruh dari pemberian bahan uji yang terlihat dari penurunan kadar glukosa darah hewan uji selama percobaan. Data kadar glukosa darah hewan uji selama percobaan dapat dilihat pada gambar 8. Pengukuran kadar glukosa darah hewan uji dilakukan pada saat awal perlakuan atau pada hari ke-0. Hal ini bertujuan untuk mengelompokkan hewan uji yang telah mengalami DM tipe 2.

Pengelompokan hewan model dilakukan dengan mengukur kadar glukosa yang ada di dalam darah hewan uji. Pengukuran kadar glukosa darah pada awal perlakuan dilakukan untuk memastikan bahwa hewan model yang akan diberikan perlakuan mengalami kondisi hiperglikemia dan juga mengurangi variansi antar individu tikus. Menurut Antônio et al., (2003), kadar glukosa darah normal pada tikus berada pada kisaran 50-135 mg/dl. Tikus putih (Rattus norvegicus L) yang memiliki kadar glukosa diatas 180-200 mg/dl dikatakan telah mengalami hiperglikemia dan dapat dijadikan hewan model DM type 2. Kadar glukosa darah hewan uji pada perlakuan yang mengalami DM adalah > 300 mg/dl. Tikus yang tidak memiliki kadar glukosa di atas rentang 180-200 mg/dl tidak dapat digunakan dalam percobaan dikarenakan kadar glukosa darah belum stabil dan dapat menimbulkan kesalahan data pada saat percobaan. Data kadar glukosa darah hewan uji pada hari ke-0 menjadi dasar analisis data untuk melihat perubahan kadar glukosa darah hewan uji selama perlakuan.

Kondisi hiperglikemia yang dialami oleh hewan uji dikarenakan adanya induksi yang berasal dari bahan kimia yaitu STZ dan pakan yang telah dimodifikasi yaitu pakan tinggi lemak-fruktosa (PTL). Bahan kimia yang

digunakan adalah streptozotocin dengan dosis rendah (30 mg/Kg BB) dimana bahan ini dikenal sebagai agen diabetogen atau bahan yang mampu menginduksi DM pada hewan uji. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Zhang (2008) menunjukan bahwa pemberian STZ pada dosis rendah yang dikombinasikan dengan pemberian pakan tinggi lemak dan glukosa memberikan efek resistensi insulin pada hewan percobaan dan juga menyebabkan kondisi hiperglikemia pada hewan uji. Kondisi tersebut dapat terlihat pada kadar glukosa hari ke-0 pemberian bahan uji dimana semua hewan uji mengalami hiperglikemia dengan rerata kadar glukosa darah berada pada rata-rata 345 mg/dl.

Selain itu, kondisi hiperglikemia tersebut tidak terlepas dari pengaruh pemberian STZ dalam dosis rendah. Menurut Wilson (1984), STZ dapat menyebabkan kerusakan pada sel β pankreas yang berada pada pulau langerhaens.

Sel β ini dilindungi oleh 3 senyawa kimia, diantaranya adalah 3-aminobenzena, nicotinamida, dan gugus hydroxyl. Ketiga senyawa kimia tersebut mempunyai fungsi untuk melindungi sel β pankreas dari senyawa-senyawa toksik. Selain itu, efek yang ditimbulkan dari pemberian STZ adalah kerusakan pada struktur DNA sel β. Jika ketiga senyawa tadi rusak dan juga disertai adanya kerusakan pada struktur DNA, sel β tidak dapat meregenerasi dan menimbulkan kematian sel yang ditandai dengan berkurangnya jumlah sel β pada pulau Langerhans (Uchigata, 1981). STZ terakumulasi di dalam sel β pankreas melalui GLUT 2, salah satu glucose transporter dengan afinitas rendah yang berada pada membran plasma.

STZ dapat merusak sel β pankreas dengan mengubah gugus alkil pada guanin

yang menyebabkan rusaknya struktur DNA dan terjadi fragmentasi DNA (Lenzen, 2008).

Penurunan kadar glukosa darah pada hewan uji yang diberi perlakuan dosis formula ekstrak terlihat sejak hari ke-4 pemberian dosis formula ekstrak.

Data menunjukan bahwa pada hari ke-4 perlakuan, hewan uji pada kelompok metformin, kelompok D2 (200 mg/Kg BB) dan kelompok D3 (400 mg/Kg BB) mengalami penurunan kadar glukosa darah. Hal ini menunjukan bahwa ekstrak klabet dapat menurunkan (P<0.05) kadar glukosa darah dimulai hari ke-4 pemberian. Hal ini terjadi karena adanya interaksi antara senyawa–senyawa bioaktif yang membuat kemampuan ekstrak dalam menurunkan kadar glukosa darah semakin baik. Namun pada hari ke-4, kelompok hewan uji yang diberikan perlakuan formula dosis ekstrak rendah (100mg/Kg BB) tidak menunjukan adanya penurunan kadar glukosa darah. Hal ini terjadi karena dosis tersebut merupakan dosis terendah yang digunakan selama percobaan. Tingginya kadar glukosa darah hewan uji belum mampu diturunkan oleh dosis rendah formula yang mengandung ekstrak biji klabet pada hari ke-4. Penurunan (P<0.05) kadar glukosa darah hewan uji juga dialami oleh kelompok hewan uji yang diberi perlakuan metformin.

Hari ke-7 pengukuran kadar glukosa darah menunjukan penurunan (P<0.05) yang cukup signifikan pada kelompok hewan uji yang diberikan metformin. Hal ini terjadi karena metformin bekerja dengan menghambat rantai respirasi kompleks I mitokondria. Sebagai akibat dari proses tersebut, proses glukoneogenesis yang terjadi didalam tubuh terhambat dan mencegah glukosa di dalam hati beredar ke dalam darah, sehingga kadar glukosa darah dapat turun

dengan cepat. (Viollet et al., 2012). Penurunan kadar glukosa darah pada hewan uji dosis 2 (200 mg/Kg BB) dan dosis 3 (400 mg/Kg BB) pada hari ke-7 menunjukan perbedaan yang bermakna (P<0.05).

Pengukuran kadar glukosa darah hari ke-10 menunjukan tren yang sama dan juga terlihat adanya perbedaan yang nyata antar kelompok perlakuan (P<0.05). Semua kelompok hewan uji kecuali kelompok negatif mengalami penurunan kadar glukosa darah. Penurunan terjadi berdasarkan besarnya dosis yang diberikan kepada hewan uji. Semakin tinggi dosis formula yang mengandung ekstrak klabet diberikan kepada hewan uji, maka semakin tinggi penurunan kadar glukosa darah hewan uji. Namun pada kelompok perlakuan metformin, terjadi kenaikan kadar glukosa darah pada hewan uji. Hal ini dikarenakan metformin tidak secara konstan menurunkan kadar glukosa darah pada hewan uji. Metformin bekerja langsung terhadap hati sehingga dapat menurunkan proses glukogenolisis sehingga kadar glukosa darah yang di dalam plasma dapat berkurang, namun tidak merangsang sekresi insulin oleh kelenjar pankreas sehingga kadar glukosa darah hewan uji pada kelompok metformin kembali naik pada hari ke-10 (Diani & Pulungan, 2010).

Pengukuran hari ke-14 menunjukan pola penurunan kadar glukosa darah yang sama dengan pengukuran pada hari ke-10, namun hewan uji pada kelompok D2 pada hari ke-14 mengalami kenaikan kadar glukosa darah dibandingkan dengan hari ke-10, namun tidak berbeda nyata (P<0.05).

Berdasarkan hasil penelitian pada hari ke- 21 hari pelakuan terhadap hewan uji DM tipe 2, seluruh hewan uji mengalami kenaikan kadar glukosa darah.

Hal ini terjadi karena hewan uji mengonsumsi pakan yang lebih banyak sehingga glukosa darah pada hewan uji mengalami kenaikan, termasuk hewan uji yang berada pada kelompok normal. Ketiga dosis formula ekstrak biji klabet (Trigonella foenum graceum L) dapat menurunkan (p<0.05) kadar glukosa di dalam darah hewan uji DM tipe 2 yang diinduksi streptozotocin dosis rendah dan pakan tinggi lemak-fruktosa.

Berdasarkan gambar 9, kelompok normal tidak menunjukan perbedaan bermakna (P<0.05) selama perlakuan. Hal ini terjadi karena hewan uji pada kelompok normal tidak diberi perlakuan sehingga kadar glukosa darah pada hewan uji kelmpok normal tetap dan tidak mengalami fluktuasi kenaikan ataupun penurunan secara signifikan. Kelomok hewan uji yang diberikan metformin selama 21 hari perlakuan mengalami penurunan kadar glukosa darah secara berbeda bermakna (P<0.05) dimulai hari ke-4 perlakuan. Namun, pada hari ke-7

a

Gambar 9. Diagram batang rerata kadar glukosa darah hewan uji selama penelitian (antar hari dalam kelompok). Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang bermakna (P<0.05)

hingga hari ke-21 kadar glukosa darah tidak stabil. Kelompok hewan uji negatif atau yang tidak diberi perlakuan ekstrak dan metformin tidak mengalami perbedaan bermakna (P<0.05) sejak hari ke-0 hingga hari ke-21 perlakuan. Hal ini menunjukan bahwa pemodelan DM tipe 2 pada hewan uji berhasil dan kondisi hiperglikemia yang terjadi bersifat stabil. Kelompok hewan uji pada dosis 1 (100mg/Kg BB) tidak menunjukan perbedaan bermakna (P<0.05) sejak hari ke-0 hingga hari ke-21. Hal ini menunjukan bahwa dosis ekstrak 100 mg/Kg BB tidak memberikan pengaruh yang signifikan dalam menurunkan kadar glukosa darah hewan uji yang mengalami DM tipe 2. Hal ini terjadi karena senyawa aktif dalam ekstrak tidak mampu bekerja dalam memulihkan fungsi insulin dan memperbaiki sel β. Kelompok hewan uji pada dosis 2 (200 mg/Kg BB) mengalami penurunan kadar glukosa darah sejak hari ke-4 namun tidak berbeda bermakna (P<0.05) dengan hari ke-0. Perbedaan bermakna (P<0.05) terjadi sejak hari ke-7 hingga hari ke-21 pemberian ekstrak. Hal yang sama juga terjadi pada hewan uji yang berada pada kelompok dosis 3 (400 mg/Kg BB).

Persentase penurunan kadar glukosa darah selama perlakuan pada kelompok metformin, kelompok dosis 1, kelompok dosis 2, dan kelompok dosis 3 secara berturut-turut ialah 49 %, 8%, 24%, dan 34%. Data tersebut menunjukan bahwa persentase penurunan kadar glukosa darah terbesar selama perlakuan 21 hari berada pada kelompok dosis 3. Hal ini dikarena kelompok dosis 3 merupakan kelompok hewan uji yang diberi perlakuan dosis formula ekstrak paling tinggi dengan 400 mg/Kg BB, sehingga senyawa-senyawa aktif yang berperan dalam penurunan kadar glukosa darah juga dimungkinkan lebih banyak.

Hormon yang berperan penting dalam penurunan kadar glukosa darah ialah insulin. Sekresi insulin pada tikus normal dipengaruhi oleh keberadaan sel β pada pulau langerhans pankreas. Insulin akan disekresikan jika terjadi peningkatan kadar glukosa terjadi diantara sel β. Glukosa kemudian masuk ke dalam sel β melalui GLUT 2 Glucose transporter. Glukosa yang telah berada di dalam sel β kemudian dimetabolisme dan membentuk ATP sehingga menyebabkan peningkatan rasio ATP/ADP dan kadar glukosa. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya depolarisasi membran sel. Kemudian Cell-surface voltage dependent calcium channels (VDCC) aktif pada membran sel. Kalsium kemudian masuk kedalam sel β, memicu terjadinya exositosis insulin. Insulin kemudian dikeluarkan dari dalam sel β dan masuk ke dalam aliran darah. Insulin membutuhkan GLUT 4 Glucose transporter untuk masuk ke dalam sel otot dan jaringan lemak yang akan menurunkan kadar glukosa di dalam plasma (Fu & Liu, 2013). Namun, kondisi DM khususnya pada tipe 2 menunjukan adanya penurunan fungsi insulin dalam menurunkan kadar glukosa darah.

Tabel 5. Hasil Penapisan Fitokimia Formula Ekstrak Biji Klabet

Senyawa yang Diidentifikasi

Bahan Kimia yang

Digunakan Indikator Kesimpulan

Alkaloid Dragendorff Mayer Adanya warna merah +

Flavonoid Amilalkohol Adanya warna dan

terjadi pemisahan

+

Saponin HCL 1 % Terbentuk busa +

Tanin Pereaksi Stiasny Tidak adanya

endapan putih -

Steroid dan Triterpenoid Lieberman Burchard Adanya warna hijau +

Kumarin NH4OH 10% Adanya warna biru

Penurunan kadar glukosa darah yang terjadi pada hewan uji disebabkan adanya beberapa zat aktif yang terkandung di dalam formula yang megandung ekstrak biji klabet. Berdasarkan data pada tabel 5, senyawa aktif yang terdapat di dalam ekstrak klabet adalah alkaloid, flavonoid, saponin, steroid dan triterpenoid, serta kumarin. Salah satu senyawa yang berperan penting yang terdapat di dalam formula ekstrak biji klabet adalah trigonellin. Trigonellin merupakan senyawa golongan alkaloid (Priya, 2011). Trigonelin berfungsi dalam membangun kembali sel-sel β pankreas yang telah rusak dan meningkatkan respons sel terhadap kenaikan kadar glukosa darah. Trigonellin juga mempunyai fungsi untuk meningkatkan konsentrasi insulin plasma (Subramanian & Prasath, 2014).

Trigonellin dilaporkan juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan melindungi sel-sel β pankreas dari kerusakan dan meningkatkan kemampuan regenerasi sel β pankreas. Senyawa trigonellin yang terdapat di dalam biji klabet (Trigonella foenum graceum L) juga menghambat penyerapan glukosa yang ada di dalam saluran pencernaan sehingga glukosa yang ada di dalam darah tidak naik jumlahnya secara signifikan (Zhou et.,al 2011).

Gambar 10. Mekanisme Trigonellin sebagai anti DM

Trigonelline

Selain itu senyawa trigonellin juga mengatur ekspresi dari PPARγ. PPARγ mempunyai fungsi dalam adipogenesis, metabolism lemak dan glukosa, fungsi imun, pertumbuhan dan diferensiasi sel. Aktivasi dari PPARγ juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin (Ikawati, 2006).

Selain trigonellin, mekanisme penurunan kadar glukosa darah juga dipengaruhi oleh adanya senyawa golongan flavonoid. Flavonoid berperan dalam menstimulasi sel β pankreas dalam memproduksi lebih banyak insulin untuk mengurangi kadar glukosa darah. Selain itu, aktivitas flavonoid juga meningkatkan pemanfaatan glukosa perifer pada otot skleletal (Jadhav &

Puchchakayala, 2012). Senyawa flavonoid terbagi menjadi beberpapa struktur.

Struktur flavonoid tersebut yang memiliki potensi sebagai anti DM adalah diosmin, fisetin, morin, eriodictiol, hesperidin, naringenin, apigenin, baikalein, chrysin, luteolin, tangeretin, wogonin, isorhamnetin, kaemprefol, rutin, genistein, daidzein, vitexin dan quercetin (Vinayagam & Xu, 2015).

Secara garis besar, adanya senyawa flavonoid dalam formula ekstrak yang mengandung biji klabet dapat membantu menurunkan glukoneogenesis serta meningkatkan glikogenesis. Selain itu, mekanisme selanjutnya adalah serum IL-1β membantu memperbaiki peradangan yang terjadi pada pulau Langerhans pankreas. Mekanisme tersebut akan memperbaiki fungsi dari sel β dan juga memperbaiki fungsi insulin. Selain itu, mekanisme yang terjadi selanjutnya ialah flavonoid meningkatkan sensitifitas insulin dalam menurunkan kadar glukosa darah serta menurunkan sintesis kolesterol dan kadar trigliserida. Semua

mekanisme diatas akan mengatur kadar glukosa darah dalam keadaan seimbang serta menurunkan resistensi insulin (Vinayagam & Xu, 2015).

Hal ini tentunya dapat membantu tubuh dalam mengurangi kadar glukosa yang ada di dalam darah dan mengembalikan fungsi insulin yang mengalami resistensi sebagaimana diagnosis awal pada penderita DM tipe 2.

.

Senyawa yang juga berperan di dalam pengaturan kadar glukosa darah adalah saponin. Saponin merupakan suatu senyawa yang terdiri dari glikon dan aglikon. Saponin yang terkandung di dalam biji klabet (Trigonella foenum graceum L) adalah saponin steroid. Jenis-jenis saponin steroid yang terdapat di dalam biji klabet (Trigonella foenum graceum L) antara lain diosgenin, tigogenin, trigoneosida, dan gitogenin (Kurnia, 2015). Menurut Murakami (2000), telah ditemukan di dalam biji klabet (Trigonella foenum graceum L) struktur saponin yang mempunyai fungsi salah satunya sebagai antihiperglikemia yaitu trigoneosida Xa, Xb, XI b, XIIa, XIIb, dan XIIIa. Saponin bekerja dengan beberapa mekanisme diantaranya adalah mempercepat pelepasan insulin dari sel β

Gambar 11. Mekanisme flavonoid sebagai anti DM (Vinayagam & Xu, 2015) Dietary Flavonoids

Gambar 12. Mekanisme saponin pada DM (Barky & Hussein, 2017)

pankreas, menghambat pemecahan disakarida. Selain itu, saponin juga mengaktifkan sisntesis glikogen, menghambat gluconeogenesis, menghambat aktifitas enzim α-glukosidase, menghambat ekspresi mRNA terhadap glikogen fosforilase dan glukosa-6-fosfatase, dan meningkatkan ekspresi GLUT4 (Barky &

Hussein, 2017).

Senyawa aktif lainnya yang terkandung dalam ekstrak klabet yang berfungsi dalam menurunkan kadar glukosa darah adalah kumarin dan steroid triterpenoid. Kumarin merupakan salah satu senyawa kimia yang mampu menurunkan kadar glukosa darah dari kondisi hiperglikemia. Komponen dari kumarin yang bisa digunakan sebagai antidiabetes adalah Umbelliferone, Fraxetin, Esculin, Esculetin, Osthole, Scoparone dan Aculeatin. Derivat-derivat dari kumarin tersebut mampu menekan kadar glukosa darah menuju ke batas normal dengan cara meningkatkan sensitivitas insulin, mengaktivasi PPARγ,

menghambat kerja enzim pada proses metabolisme karbohidrat sehingga glukosa yang dihasilkan semakin sedikit, dan juga menekan sintesis glukosa dari senyawa bahan lain seperti lipid dan protein (Li, 2017).

Senyawa terakhir yang berperan sebagai antidiabetes pada ekstrak klabet adalah steroid dan triterpenoid. Steroid dan triterpenoid diketahui dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan cara menghambat kerja dari enzim alfa glukosidase dan alfa amylase. Selain itu juga menghambat kerja enzim glikogen fosforilase, gliseron fosfatase, gliseraldehid -3 fosfatase sehingga tidak terjadi perubahan asam gimneik menjadi gliserol 3-fosfat. Hal ini tentunya akan mengurangi produksi glukosa dalam darah (Nazaruk, 2015).

Secara keseluruhan, data kadar glukosa darah menunjukan bahwa pada perlakuan dosis, seluruh hewan model mengalami penurunan (p<0.05) kadar glukosa darah setelah diberikan formula yang mengandung ekstrak biji klabet.

Penurunan kadar glukosa darah terjadi di setiap kelompok hewan model kecuali kelompok negatif atau kelompok hewan uji yang mengalami DM tipe 2.

Penurunan kadar glukosa darah efektif pada hewan uji yang diberikan dosis formula ekstrak sebesar 200 mg/Kg BB (D2) dan 400 mg/Kg BB (D3) dan mengalami perbedaan yang nyata terhadap kelompok negatif (p<0.05) sejak hari ke-7 pemberian formula ekstrak. Namun pemberian dosis formula ekstrak sebesar 100 mg/Kg BB tidak menunjukan penurunan yang signifikan atau tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap kelompok negatif (p<0.05). Selain itu, pada kelompok hewan model yang diberikan perlakuan metformin, kadar glukosa darah hewan uji mengalami penurunan yang cukup tinggi pada hari ke- 7 namun

kembali naik pada hari ke-10. Hal ini terjadi karena mekanisme kerja metformin yang hanya mengatur kadar glukosa darah dimana proses tersebut terjadi pada hati dan saluran pencernaan tanpa meningkatkan sensitivitas insulin. Hal ini menyebabkan kadar glukosa darah tidak mengalami penurunan (p<0.05) secara stabil. Hewan uji pada kelompok negatif atau kelompok hewan yang mengalami DM menunjukan kadar glukosa yang stabil dan tidak mengalami penurunan kadar glukosa darah yang signifikan selama perlakuan. Hasil dari penelitian ini diharapkan akan dikembangkan menuju uji klinis sehingga formula yang mengandung ekstrak biji klabet (Trigonella foenum graceum L) dapat digunakan sebagai obat antidiabetes.

4.3 Data Histologi Pankreas Hewan Uji

Pembuatan preparat histologi pankreas bertujuan untuk melihat kondisi sel β pada pulau Langerhans pankreas. Analisis yang dilakukan meliputi perhitungan jumlah sel β, jumlah pulau Langerhans beserta luasnya, dan deskripsi kondisi pulau Langerhans seluruh kelompok hewan uji.

Jumlah sel β pada kelompok normal mempunyai jumlah yang paling banyak. Hal ini terjadi karena pada kelompok normal tidak terjadi kerusakan sel β akibat induksi STZ dan PTL. Penurunan jumlah sel β pankreas pada pada kelompok negatif dibandingkan dengan kelompok normal sebesar 55%. Formula ekstrak klabet menunjukan adanya peningkatan jumlah sel β pada semua dosis 1, dosis 2 dan dosis 3 masing-masing sebesar 25%, 27% dan 39%.

Gambar 13. Pankreas tikus kontrol normal. (a) Kapiler (b) Pulau Langerhans (c) Sel β (Dokumentasi Pribadi, 2017).

Gambar 14. Pankreas tikus kontrol metformin (+). (a) Kapiler (b) Pulau Langerhans (c) Sel β (Dokumentasi Pribadi, 2017).

400 X 40 X

Kelompok Metformin (+)

a

b c

400 X

40 X a

b

c

Gambar 15. Pankreas tikus kelompok Negatif (-) (a) Kapiler (b) Pulau Langerhans (c) Sel β (Dokumentasi Pribadi, 2017).

Gambar 16. Pankreas tikus kelompok D1. (a) Kapiler (b) Pulau Langerhans (c) Sel β (Dokumentasi Pribadi, 2017).

Kelompok Negatif (-)

400 X

a b c

Kelompok Dosis 100 mg/Kg BB (D1)

400 X 40 X

40 X a

c b

Gambar 18. Pankreas tikus kelompok D3. (a) Kapiler (b) Pulau Langerhans (c) Sel β (Dokumentasi Pribadi, 2017).

Gambar 17. Pankreas tikus kelompok D2. (a) Kapiler (b) Pulau Langerhans (c) Sel β (Dokumentasi Pribadi, 2017).

Kelompok Dosis 400 mg/Kg BB (D3)

40 X

a b

c

40 X

a

400 X

c b

400 X

Perbaikan sel β pada pulau Langerhans ditunjukkan oleh dosis 400 mg/Kg BB. Sel-sel β terlihat kembali kedalam bentuk normal dan jumlah sel β di dalam pulau Langerhans juga meningkat. Perbaikan sel β pankreas terkait dengan senyawa bioaktif yakni flavonoid yang telah banyak dibuktikan memiliki aktivitas antioksidan. Aktivitas antioksidan mampu menghambat aktivitas radikal bebas yang berpotensi dalam merusak sel-sel β. Kerusakan sel-sel β juga dihambat sehingga beberapa sel β yang masih ada masih dapat berfungsi. Selain itu, antioksidan yang terdapat di dalam ekstrak juga melindungi sel β yang masih normal sehingga fungsinya tetap optimal. (Mandasari et al., 2011).

Sel-sel β yang masih dapat berfungsi kemudian akan beregenerasi dengan cara proliferasi dan diferensiasi endokrin dari sel duktal dan duktular yang akan membangun kembali pulau-pulau Langerhans. Bertambahnya jumlah sel β akan memicu pengeluaran insulin dari dalam pankreas yang akan mengoptimalkan pengaturan kadar glukosa darah (Mandasari et al., 2011).

4.4 Rata-Rata Jumlah Pulau Langerhans dan Sel β dan Luas Pulau Langerhans

Data rata-rata jumlah pulau langerhans dan sel β dilakukan dengan

Data rata-rata jumlah pulau langerhans dan sel β dilakukan dengan

Dokumen terkait