Setelah data sudah terkumpul data yang diperoleh dari penelitian selanjutnya adalah dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif, yaitu dengan mendeskripsikan data dan fakta yang dihasikan atau dengan kata lain yaitu dengan menguraikan data dengan kalimat-kalimat yang tersusun secara terperinci, sistematis dan analisis, sehingga akan mempermudah dalam membuat kesimpulan dari penelitian dilapangan dengan suatu interpretasi, evaluasi dan pengetahuan umum.Setelah data dianalisis maka kesimpulan terakhir dilakukan dengan metode induktif yaitu berfikir berdasarkan fakta- fakta yang bersifat umum, kemudian bersifat khusus.
V. PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang diuraikan, maka dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut :
1. Pertanggungjawaban pidana dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat No 2060/Pid.Sus/2015/PN.Jkt.Brt sudah tepat mengenai pasalnya yaitu Undang–Undang No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak Pasal 76D jo Pasal 81 ayat (1). Permasalahan lainnya yaitu penuntut umum tidak mendakwakan perbuatan terdakwa mengenai Voortgezette Handeling (perbuatan berlanjut) yang mana terdakwa melakukan perbuatan tersebut telah dilakukan sebanyak 12 kali dengan rentan waktu yang tidak lama dan telah memenuhi unsur perbuatan berlanjut. Apabila seseorang melakukan perbuatan yang sama beberapa kali dan diantara perbuatan–perbuatan itu terdapat hubungan yang sedemikian eratnya sehingga rangkain tersebut harus dianggap perbuatan berlanjut, seharusnya jaksa dalam hal ini harus mendakwakan terdakwa lebih berat dari yang telah didakwakan oleh jaksa.
2. Dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana kepada pelaku yang melakukan persetubuhan terhadap anak adalah kesesuaian unsur pasal yang didakwakan,kemampuan bertanggungjawab, ancaman pasal yang didakwakan (ancaman minimal dan maksimal), akibat perbuatan kepada diri korban dan keluarga, hal yang meringankan dan memberatkan serta hakim dalam menjatuhkan pidana menggunakan teori pertimbangan hakim yaitu teori keseimbangan,pendekatan intuisi dan teori pendekatan keilmuan. Selain hakim menjadikan hukuman pidana penjara dan denda sebagai sarana pembalasan terhadap diri terdakwa juga menjadikan hukuman pidana penjara dan denda sebagai sarana tujuan yaitu memberikan pelajaran kepada terdakwa agar dilain waktu setelah keluar dari penjara tidak mengulangi perbuatan cabul atau perbuatan kriminal apapun dan sebagai shock therapy untuk masyarakat supaya tidak mengikuti perbuatan tersebut.
B. Saran
1. Pertanggung jawaban pelaku tindak pidana persetubuhan terhadap anak, hendaknya pelaku tindak pidana tersebut dijatuhi hukuman yang lebih maksimal lagi karena tindak pidana persetubuhan terhadap anak merupakan salah satu kejahatan kemanusiaan berat yang didalamnya terdapat bentuk pelecehan terhadap kaum perempuan terutama anak-anak serta cara perbuatannya menggunakan kekerasaan atau ancaman baik secara fisik atau secara mental. Dan mengakibatkan trauma yang mendalam serta rusaknya
masa depan sang anak karena anak juga merupakan generasi muda penerus bangsa.
2. Jaksa harus lebih cermat dalam menyusun dakwaan, demikian pula Hakim diharapkan lebih cermat dalam memeriksa dan memberikan pertimbangannya dalam proses peradilan.
3. Kepada Pemerintah agar lebih mensosialisasikan undang-undang yang berkaitan dengan perlindungan korban anak, hal ini dimaksudkan agar setiap anak yang menjadi korban tindak pidana dapat mengetahui hak-haknya dan mempergunakan hak tersebut dengan sebagaimana mestinya.
Buku/Literatur :
Abidin Farid, Zainal. 2007. Hukum Pidana 1. Jakarta : Sinar Grafika
Ali, Achmad. 2008. Menguak Realitas Hukum: Rampai Kolom & Artikel Dalam Bidang Hukum. Jakarta :Kencana
Amirudin, 2004. Pengantar Metode Penelitian Hukum. Jakarta :Raja Grafindo Persada
Andrisman,Tri.2009 Hukum Pidana. Lampung: Unila,
Bola, Mustafa dan Judhariksawan. 2004. Pedoman Pemeriksaan Perkara Hukum. Makasar : Fakultas Hukum Universitas Hasananuddin
Chazawi, Adami. 2005. Pelajaran Hukum Pidana Bagian I. Jakarta :PT Raja Grafindo Persada
Gultom, Maidin. 2010. Perlindungan Terhadap Anak Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak Di Indonesia. Bandung : Refika Aditama
Hamzah, Andi. 1997. Asas – Asas Hukum Pidana. Jakarta :Rineka Cipta Hidayat, Bunadi. 2009. Pemidanaan Anak di Bawah Umur. Bandung :Alumni
Huda, Chairul. 2011. Dari Tiada Pidana Tanpa Kesalahan Menuju Kepada Tiada Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan. Jakarta: Kencana
Ilyas, Amir. 2012. Asas – asas Hukum Pidana, Memahami Tindak Pidana Dan Pertanggungjawaban Pidana Sebagai Syarat Pemidanaan Yogyakarta :Rangkang Education
Moeljatno. 2009. Asas – Asas Hukum Pidana. Jakarta :Rineka Cipta
---, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban dalam Hukum Pidana,Bina Aksara, Jakarta 1993
---, Membangun Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta,1985.
Muladi dan Barda Nawawi Arief. 2005. Teori dab Kebijakan Pidana. Bandung : Alumni Bandung
Nawawi Arief, Barda. 2002. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. Bandung :PT Citra Aditya Bakti
---, Pendekatan Keilmuan dan Pendekatan Religius dalam rangka Optimalisasi dan Reformasi Penegakan Hukum (Pidana) di Indonesia. Semarang : Badan Penerbit UNDIP.
Prakoso, Djoko dan Nurwachid. 1984. Studi Tentang Pendapat-pendapat Mengenai Efektivitas Pidana Mati Di Indonesia Dewasa Ini. Jakarta : Ghalia Indonesia
Prodjodikoro, Wirjono. 2003. Asas – Asas Hukum Pidana Di Indonesia. Bandung :Refika aditama
Purba, Michael. 2009. Kamus Hukum Internasional Dan Indonesia. Jakarta :Widyatamma
Rama K, Tri. 2001. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Karya Agung. Surabaya. Reksodiputo, Mardjono, Sistem Peradilan Pidana Indonesia, Melihat Kejahatan dan
Penegakan Hukum dalam batas – batas Toleransi, Pusat Keadilan dan Pengabdian Hukum, Jakarta,1994.
Rifai, Ahmad.2010. Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Perspektif Hukum Progresif. Jakarta :Sinar Grafika
Shaleh, Roeslan. 1983. Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana. Jakarta :Aksara Baru
Shant, Dellyana. 1998. Konsep Penegakan Hukum. Yogyakarta :Liberty
Soekanto, Soerjono. 1986. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta :Rineka Cipta Soesilo, R. 1995. Kitab Undang-Undang Hukum Hukum Pidana (KUHP) Serta
Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Bogor :Politeia Sudarsono. 2007. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta :Rineka Cipta
Sudarto. 1997. Hukum Pidana. Semarang :Fak Hukum UNDIP
Wahyudi. 2012. Tinjaun Yuridis Terhadap Delik Pembunuhan Berencana Di Kabupaten Maluku Tengah. Makasar.
Waluyo, Bambang, 2002. Pidana dan Pemidanaan, Bandung : Sinar Grafika.
Waluyadi, 2009. Kejahatan, Pengadilan dan Hukum Pidana, Bandung : CV Mandar Maju
Undang – Undang :
UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana