• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis atau Pendekatan Equivalen Kepastian

Dalam dokumen MANAJEMEN KEUANGAN II FINANCIAL MANAGEME (Halaman 115-118)

RESIKO DALAM INVESTAS

3.3. Analisis atau Pendekatan Equivalen Kepastian

Pendekatan ekuivalen kepastian (certainty equivalent) akan membuat seseorang

untuk memberikan penilaian yang sama antara sejumlah arus kas yang sudah pasti diterima dengan sejumlah arus kas tertentu yang belum pasti dan mengandung resiko. Dalam pendekatan ini penyesuaian resiko dilakukan secara langsung terhadap arus kas yang diperkirakan akan terjadi diwaktu yang akan datang. Dengan mengurangi arus kas diharapkan yang mengandung ketidak pastian itu menjadi arus kas yang pasti, sebenarnya kita kembali lagi bersangkutan dengan penilaian proyek investasi yang dalam keadaan

kepastian. Untuk itu harus digunakan tingkat diskonto bebas resiko (risk free rate).

Apabila certainty equivalent NPV lebih besar dari nol maka usul investasi diterima. Jik a kurang dari nol maka usul investasi sebaiknya ditolak.

Misalkan :

Lempar sekeping mata uang, jika muncul Rp, anda mendapat 1 juta, jika tidak anda mendapat 0. Nilai harapan anda adalah (0,5 x 1 juta) + (0,5 x 0) = 0,5 juta. Jumlah uang ini tidak pasti anda terima (beresiko). Jika anda tidak ingin melempar keping uang tap i sebagai gantinya meminta sejumlah uang yang pasti, misalnya 0,3 juta, maka 0,3 juta adalah certainty equivalent. Jadi "Equivalent Certainty" adalah merubah sesuatu yang tidak pasti menjadi sesuatu yang pasti. Pada umumnya semakin tinggi resiko, semakin kecil certainty equivalentnya.

Ada beberapa cara menghitung "certainty equivalent cash flow (CE) sebagai berikut :

a. Estimasi arus kas dikurangi dengan sejumlah standard deviasi yang cuk up untuk menjamin bahwa dalam distribusi normal, kemungkinan kejadiannya akan terjadi dengan pasti. Hal ini dilakukan dengan cara misalnya mengurangi mean dari estimasi

arus kas untuk setiap periodenya dengan 3 σ (standard deviasi):

̅

C.Et adalah "certainty equivalent" untuk periode t, ̅ t adalah mean arus kas yang

diharapkan untuk periode t, dan σ adalah standard deviasi. Pengurangan mean arus

kas yang diharapkan dengan 3SD membuat kita punya kepastian99,7 %. Contoh :

Mean dari estimasi arus kas setiap periode selama 3 tahun sebesar Rp 10.000,- dan standard deviasi setiap periode Rp 1.500,-. Berdasarkan atas data tersebut besarnya "certainty equivalent cash flow" setiap 99,7 %.

Contoh :

Mean dari estimasi arus kas setiap periode selama 3 tahun sebesar Rp 10.000,- dan standard deviasi setiap periode Rp 1.500,-. Berdasarkan atas data tersebut besarnya "certainty equivalent cash flow" setiap periode dapat dihitung :

Herispon, SE. M.Si Manajemen Keuangan II | 116

C.Et = 10.000 – 3(1.500) = Rp 5.500

Apabila proyek tersebut memerlukan jumlah investasi sebesar Rp 15000,- dan tingkat diskonto bebas resiko 10% maka certainty equivalent NPV dari proyek tersebut adalah :

Atau dengan cara menggunakan rumus PVIFA

[ ]

Atau dengan dengan menggunakan tabel A2 yaitu :

NPV = - 15.000 + (5500 x 2,4868) = Rp – 1.323

Karena equivalen NPV negatif, maka usul invesntasi tersebut sebaiknya ditolak.

b. Metode kedua untuk menghitung "certainty equivalent cash flow"ialah dengan

mengurangi mean dari estimasi arus kas dengan sejumlah kas sebesar koefisien variasi dari arus kas tersebut. Dan contoh diatas dapat dihitung koefisien variasi yaitu : CV= 1.500 / 10.000 = 0,15. Berdasarkan metode ini, maka :

C.Et = 10.000 – 0,15(10.000) = Rp 8.500

[ ]

Karena "certainty equivalent NPV" dari usul investasi yang diperoleh adalah positif, maka usul investasi dapat diterima.

c. Metode ketiga untuk menghitung "certainty equivalent cash flow"ialah dengan cara

mengkalikan mean dari estimasi arus kas dengan suatu faktor tertentu yang disebut "Certainty Equivalent Coefficient" disingkat CEC. CEC akan mendekati 1,0 kalau arus kas yang pasti dan arus kas yang diestimasikan akan sama. Kalau kita menjadi kurang pasti bahwa arus kas yang diestimasikan akan sama dengan arus kas yang pasti, maka CEC akan makin kecil dan secara ekstrim akan menjadi No. 1. CEC ini kemudian diterapkan pada pembilang (numerator) pada formula NPV atau arus kas yang diestimasikan sehingga menjadi "certainty equivalent cash flow" dan menggunakan tingkat diskonto bebas resiko sebagai penyebutnya (denominator).

Herispon, SE. M.Si Manajemen Keuangan II | 117

Apabila diketahui bahwa CEC sebesar 0,60 untuk setiap periodenya selama 3 tahun, maka besarnya certainty equivalent NPV" : [ ]

Karena certainty equivalen NPV negatif maka usul investasi ditolak. d. Metode keempat dari perhitungan certainty equivalen ialah yang dinamakan “time adjusted method”. Pada prinsipnya metode ini sama dengan metode ketiga, tetapi dengan diadakan penyesuaian CEC untuk setiap periodenya. Jika kita merasa kurang pasti terhadap estimasi arus kas selama umur proyek, kita dapat menentukan CEC yang maik kecil dari tahun ke tahun. Misal dari contoh diatas kita menentukan CEC setiap tahunnya selama 3 tahun sebagai berikut : Tahun ke 1 : CEC1 = 0,80 Tahun ke 2 : CEC2 = 0,70 Tahun ke 3 : CEC3 = 0,60 Maka certainty equivalen NPV :

Karena certainty equivalen NPV positif maka usul investasi diterima. 3.4. Pendekatan Tingkat Disconto Yang Disesuaikan Dengan Resiko

Pada pendekatan certainty equivalen unsur resiko secara langsung dimasukkan pada arus kas yang diharapkan yang merupakan numerator, sedang pendekatan tingkat disconto yang disesuaikan dengan resiko, unsur resiko dimasukan dalam tingkat diskonto yang merupakan denominator. Dalam metode ini tingkat diskonto disesuaikan untuk mengimbangi resiko. Apabila suatu proyek yang besar tersebut, diperlukan return yang besar pula untuk mengimbangi resiko yang besar tersebut. Untuk itu maka akan digunakan tingkat diskonto yang besar apabila tingkat resiko yang terkandung dalam suatu proyek makin besar. Dengan makin besarnya tingkat diskonto yang digunakan, akan memperkecil nilai sekarang (present value) dari arus kas neto yang diharapkan selanjutnya memperkecil NPV dari proyek tersebut sehingga menjadikan proyek tersebut kurang menarik. Risk adjusted rate of return sebenarnya mengandung dua unsur utama ; 1) tingkat bunga bebas resiko (risk free rate of interest /

Herispon, SE. M.Si Manajemen Keuangan II | 118

discount rate), 2) premi resiko (risk premium). Tingkat bunga bebas resiko biasanya ditetapkan sebesar tingkat bunga obligasi Negara ( tidak ada resiko).

Contoh : Proyek A :

Membutuhkan biaya investasi sebesar Rp 20.000

Arus kas yang diharapkan Rp 5.000 pertahun selama 8 tahun Pasar produk proyek A lebih baik dari proyek B

Standard deviasi proyek A Rp 1.000 Tingkat diskonto proyek A 12 % Proyek B :

Membutuhkan biaya investasi sebesar Rp 20.000

Arus kas yang diharapkan Rp 6.000 pertahun selama 8 tahun Pasar produk proyek B lebih baik dari proyek A

Standard deviasi proyek B Rp 4.000 Tingkat diskonto proyek B 20 % Penyelesaian

[ ]

[ ]

NPVa lebih besar karena tingkat bunga lebih kecil dari pada NPVb

Dalam dokumen MANAJEMEN KEUANGAN II FINANCIAL MANAGEME (Halaman 115-118)

Dokumen terkait