• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. MATERI DAN METODE

3.2. Metode

3.2.4. Analisis Bahan Organik Sedimen

Sample sedimen untuk mengukur kandungan bahan organik didapatkan dengan menggunakan cetok semen atau menggunkan alat pipa paralon yang sudah termodifikasi. Sample yang didapatkan di letakkan dalam wadah kemudian diukur kandungan bahan oraganik di laboratorium. Analisis bahan organik seddimen ini menggunakan metode pengukuran dari (Delgado et al., 1991 dalam Hermanto dan K. Manengkey, 2010) dengan tahapan sebagai berikut :

1. Sampel dimasukkan ke dalam cawan ke-ramik dengan berat 20 gram setiap cawan;

2. Mengeringkan sampel pada oven pengering selama 10 jam dengan suhu 900C, selanjutnya dilakukan penimbangan (mengawali pelaksanaan penimbangan sampel terlebih dahulu didinginkan da-lam dessicator serta mencatat hasilnya (berat awal);

3. Sampel dimasukkan dalam oven pemba-kar selama 5 jam pada suhu 5000C selanjutnya di-dinginkan dalam dessicator, kemudian dilakukan penimbangan untuk menda-patkan berat akhir (setelah pemba-karan).

4. Menimbang sampel setelah berat abu sedimen konstan. Perbedaan berat awal sampel sedimen dan berat abu sedimen merupakan kadar bahan organik. Perhitungan menggunaka rumus :

LI = Wo-Wt x 100 % Wo

Keterangan :

LI : Loss in Ignition atau bahan organik (%) Wo : Berat awal (gr)

Wt : Berat akhir (gr)

3.3 Analisis Data

3.3.1. Indeks Keanekaragaman

Menurut Fachrul (2007) dalam Riswandha et al., (2015) menjelaskan bahawa indeks keanekaragaman berguna dalam mempelajari gangguan faktor-faktor lingkungan (abiotik) terhadap suatu komunitas, atau untuk mengetahui suksesi atau stabilitas suatu komunitas. Tujuan utama teori informasi Shannon-Wienner adalah untuk mengukur tingkat keteraturan dan ketidakteraturan dalam suatu sistem. Adapun persamaan Indeks

Shannon – Wiener adalah sebagai berikut:

Keterangan : H’ = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner Pi = ni/N

ni = Jumlah individu dari suatu jenis ke-i N = Jumlah total individu seluruh jenis

Indeks keanekaragaman (H’) terdiri dari beberapa kriteria, yaitu : H’ > 3,0 = menunjukkan keanekaragaman sangat tinggi H’ 1,6 - 3,0 = menunjukkan keanekaragaman tinggi

H’ 1,0 - 1,5 = menunjukkan keanekaragaman sedang H’ < 1 = menunjukkan keanekaragaman rendah

3.3.2. Indeks Keseragaman

Menurut Odum (1993) dalam Riswandha et al., (2015) indeks keseragaman adalah indeks yang menggambarkan ukuran jumlah individu antara spesies dalam suatu komunitas ikan. Semakin merata penyebaran individu antar spesies, maka keseimbangan fungsi ekosistem semakin mantap. Adapun persamaan Indeks Keseragaman Jenis adalah sebagai berikut:

E= H’ . H max

Keterangan : E = Indeks Kemerataan

H max = ln s (s adalah jumlah genera) H’ = Indeks keanekaragama

Indeks keseragaman terdiri dari beberapa kriteria, yaitu : e < 0,4 = keseragaman populasi kecil

0,4 < e < 0,6 = keseragaman populasi sedang e > 0,6 = keseragaman populasi tinggi 3.3.3. Kelimpahan Relatif

Untuk menentukan jumlah individu suatu spesies bintang laut terhadap jumlah total individu digunakan Kelimpahan Relatif (KR) (Odum, 1971 dalam Asmoro et al., 2016):

KR = Pi x 100%

Keterangan :

KR : Kelimpahan relatif

Pi : Peluang spesies i dari total individu

3.3.4. Pola Sebaran

Analisa data untuk menghitung pola sebaran bintang laut (Asteroidea) pada kedalaman dan jarak pantai, dapat diketahui dengan melihat besarnya nilai mean (nilai rata-rata) dan nilai varian (standart error) (Odum, 1971 dalam Asmoro 2016). Untuk mencari besarnya nilai varian digunakan rumus :

Untuk mencari nilai mean (m) digunakan rumus:

dimana:

v = varian

n = jumlah individu m = mean

N = jumlah seluruh sampel

Menurut Odum (1971) dalam Asmoro (2016), pola sebaran individu-individu organisme di alam dibagi menjadi tiga bagian pola dasar yaitu random

(acak), uniform (seragam), dan clumped (mengelompok) hasilnya akan mempunyai arti yaitu apabila:

v = m berarti distribusinya random (acak)

v > m berarti distribusinya clumped (mengelompok) v < m berarti distribusinya uniform (seragam) 3.3.5. Analisis Korelasi Linier Sederhana

Analisis Korelasi adalah metode statstika yang digunakan untuk menentukan kuatnya atau derajat hubungan linier antara dua variabel atau lebih.

Semakin nyata hubungan linier (garis lurus), maka semakin kuat atau tinggi derajat hubungan garis lurus antara kedua variabel atau lebih. Ketentuan nilai r berkisar dari harga (-1≤ r ≤ +1). Apabila nilai r = -1 artinya bahwa korelasinya negatif sempurna (menyatakan arah hubungan antara X dan Y adalah negatif dan sangat kuat), r = 0 artinya tidak ada korelasi, r = 1 berarti bahwa korelasinya positif sempurna sempurna , menyatakan arah hubungan antara X dan Y adalah positif dan sangat kuat ( Hasanah, 2013 ).

Variabel bebas (x) dalam penelitian ini adalah bahan organik sedimen, sedangkan variabel terikat (y) dalam penelitian ini adalah bintang laut . Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi sebagai berikut:

0,00 - 0,199 = sangat rendah 0,20 - 0,399 = rendah 0,40 - 0,599 = sedang 0,60 - 0,799 = kuat 0,80 - 1,000 = sangat kuat

Bintang Mengular (Ophiuroidea) Pada Daerah Teluk Dan Daerah Lepas Pantai Pada Perairan Pantai Krakal, Gunung Kidul, Yogyakarta. Journal Of Management Aquatic Of Resources Volume 4, Nomor 2 Halaman 65-74.

Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan Dan Konservasi Alam BTNKJ.2004.Penataan Zonasi Taman Nasional Karimunjawa Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah.

Djibran, Fadilah, Chairunnisah J. L, Abubakar Sidik Katili. 2014. Diversitas Jenis Bintang Laut (Asteroidea) Di Perairan Torosiaje Kecamatan Popoyato Kabupaten Pohuwato. Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo.

Fitriana, Narti. 2010.Inventarisasi Bintang Laut (Echinodermata:Asteroidea) Di Pantai Pulau Pari, Kabupaten ADM. Kepualauan Seribu. Jurnal Ilmiah Faktor Exacta Volume. 3 Nomor 2.

Furqon. 2002. Statistik Penerapan Untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung.

Hawari ,Akmal, B.Amin,dan Efriyeldi. 2012. Hubungan Antara Bahan Organik Sedimen Dengan Kelimpahan Makrozoobenthos Di Perairan Pantai Pandan Provinsi Sumatera Utara. Fisheries and Marine Science Faculty University of Riau

Hermanto, W.K. Manengkey. 2010. Kandungan Bahan Organik Pada Sedimen Di Perairan Teluk Buyat Dan Sekitarnya.VI-3.

Juariah, Siti. 2014. Aktivitas Senyawa Antibakteri Bintang Laut (Asterias forbesii) Terhadap Beberapa jenis Bakteri Patogen. Tesis Fakultas MIPA Universitas Sumatra Utara.

Katili, Abubakar Sidik. 2011. Struktur Komunitas Echinodermata Pada Zona Intertidal Di Gorontalo. Jurnal Penelitian dan Pendidikan, Volume 8 Nomor 1.

Khatib, Anwar, Yolly Adriati, Angga Endy Wahyudi. 2013. Analisis Sedimentasi Dan Alternatif Penangananya Di Pelabuhan selat Baru Bengkalis.

Konferensi Nasional Teknik Sipil 7 Universitas Sebelas Maret.

Korwa,Junet I.S, Esry T. Opa1 dan R.Djamaludin. 2013. Karakteristik Sedimen Litoral Di Pantai Sindulang Satu Jurnal Pesisir Dan Laut Tropis.1(1).

Napitupulu, Patritia, Hanny Tioho, Agung Windarto. 2013. Struktur Populasi Acanthaster palnci Di Rataan Terumbu Bagian Selatan Pulau Bunaken.

Jurnal Pesisir dan Laut Tropis Volume 1, Nomor 1.

Perdana, Tio, Winny Retna Melani, Andi Zulfikar. 2013. Kajian Kandungan Bahan Organik Terhadap Kelimpahan Keong Bakau (Telescopium telescopium) Di Perairan Teluk Riau Tanjungpinang. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Maritim Raja Ali Haji.

Permadi, Martantya Bagus, Ruswahyuni, Suryanti. 2015. Perbedaan Kelimpahan Teripang (Holothuroidea) Pada Ekosistem Lamun Dan Terumbu Karang Di Pulau Karimunjawa Jepara. Journal Of Management Of Aquatic Resources Volume 5, Nomor 1.

Puspitasari, Suryanti, Ruswahyuni. 2012. Studi Taksonomi Bintang Laut (Asteroidea, Echinodermata) Dari Kepulauan Karimunjawa, Jepara.

Journal Management Aquatic Of Resource Volume 1, Nomor 1, Halaman 1-7.

Ramadhan, Muhammad Fajri. 2008. Sebaran Lokal Asteroidea (Echinodermata) Di Pulau Tikus, Gugusan Pulau Pari, Kepualauan Seribu. Skripsi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor.

Riniatsih, Ita. 2015. Ditribusi Muatan Padatan Tersuspensi (MPT) Di Padang Lamun Di perairan Teluk Awur dan Pantai Prawean Jepara. Jurnal Kelautan Tropis Vol. 18(3):121–126.

Riswandha, Novrizal Soni, Anhar Solichin, Norma Afiati. 2015. Struktur Komunitas Larva Ikan pada Ekosistem Mangrove dengan Umur Vegetasi yang Berbeda di Desa Timbulsloko, Demak. Journal Of Management Aquatic Of Resources Volume 4, Nomor 4, Halaman 164-173

Ruswahyuni. 2008.Struktur Komunitas Makrozoobentos Yang Berasosiasi Dengan Lamun Pada Pantai Berpasir Di Jepara Jurnal Saintek Perikanan Volume 3 Nomor 2 Halaman 33 – 36.

Sari, Tiara Asmika, Warsito Atmodjo, Rina Zuraida. 2014. Studi Bahan Organik Total (BOT) Sedimen Dasar Laut di Perairan Nabire, Teluk Cendrawasih Papua JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 3 Nomor 1 Halaman 81-86.

Sofiana, Ucik Ramita, Bambang Sulardiono, Mustofa Nitisupardjo. 2016.

Hubungan Kandungan Bahan Oraganik Sedimen dengan Kelimpahan Infauna pada Kerapatan Lamun yang Berbeda di Pantai Bandengan Jepara Journal Of Management Aquatic Of Resources Volume 5 Nomor 3 Halaman 135-141.

Sriyanti I., A. Salmanu. 2014. Keanekaragaman gastropoda pada Zona Intertidal Tengah (Midle Intertidal Zone) dan Zona Intertidal Bawah (LowerIntertidal Zone) Daerah Padang Lamun Desa Waai Biopendix, 1 (1).

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kunatitatif Kualitatif dan R&D. Bandung.

Alfabeta.

Triana, Rani. Dewi Elfidasari, Indra Bayu Vimono. 2015. Identifikasi Echinodermata di Selatan Pulau Tikus, Gugusan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta. PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON Volume 1 Nomor 3 Halaman 455-459.

Vijaya,I dan N. Suhartati M. 2010. Tipe Sedimen Permukaan Dasar Laut Selatan Dan Utara Kepulauan Tambelan Perairan Natuna Selatan.Universitas Padjajaran.

Yusuf, Muh. 2013. Kondisi Terumbu Karang dan Potensi Ikan di Perairan Taman Nasional Karimunjawa, Kabupatan Jepara. Buletin Oseanografi Marina Volume 2 Halaman 54 – 60.

Dokumen terkait