Pengelolaan usahatani adalah kemampuan petani menentukan, mengorganisir dan mengkoordinasikan faktor-faktor produksi dengan sebaik-baiknya dan memberikan produksi pertanian sebagaimana yang diharapkan. Ukuran dari keberhasilan pengelolaan itu adalah produktivitas dari setiap faktor produksi tersebut (Hernanto, 1996).
33 Tabel 12. Rata-rata Biaya Produksi dan Pendapatan Per hektar pada Usahatani Padi Sawah di Dusun Mbaling Kelurahan Mbay II Kecamatan Aesesa Kabupaten Nagekeo
Uraian Jumlah (Unit) Harga per Unit (Rp) Nilai (Rp) 1. Produksi (Kg) 4.705,506 8.000 37.644.046,1 2. Biaya Variabel : Benih (Kg) NPK (Kg) Urea (Kg) Pestisida Tenaga kerja : - Peng. Lahan (HOK) - Pembibitan (HOK) - Penanaman (HOK) - Panen (HOK) - Pasca Panen (HOK) - Sewa alat (Rp) 3. Biaya Tetap : - Penyusutan alat (Rp) - Pajak (Rp) 4. Total biaya 25,6 155,3 155,3 - 2,36 5,31 11,465 11,901 5,13 - - 10.000 115.000 90.000 - 60.000 50.000 50.000 50.000 60.000 - - 256.081,946 373.559,539 293.854,034 620.358,514 364.916,773 265.685,02 572.983,355 595.390,525 307.298,335 608.194,623 2.913.796,41 105.921,894 7.279.961,6 5. Pendapatan (Rp) 30.359,731,1
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2016
Tabel 12 menunjukkan bahwa dari total biaya yang dikeluarkan untuk biaya benih, pupuk, pestisida dan tenaga kerja, yang mana biaya pestisida paling banyak jumlahnya yaitu sebesar Rp. 620.358,514 per ha dibandingkan biaya lainnya. Total biaya yang dikeluarkan petani responden di Dusun Mbaling Kelurahan Mbay II sebesar Rp. 113.713.000. Sedangkan Total biaya per ha sebesar Rp. 7.279.961,26
34 1) Penerimaan Usahatani
Penerimaan usahatani adalah hasil perkalian dari produksi yang diperoleh dengan harga jual. Jumlah produksi adalah hasil yang diperoleh dari usahataninya, sedangkan harga jual adalah nilai atau harga dari usahatani per satuan produksi. Suatu usahatani dikatakan berhasil apabila situasi pendapatan memenuhi persyaratan yaitu cukup untuk membayar semua sarana produksi, upah tenaga kerja atau bentuk lainnya selama proses produksi.
2) Analisis Biaya
Biaya mempunyai peranan yang amat penting dalam pengambilan keputusan usahatani. Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi menentukan besarnya harga pokok dari produk yang akan dihasilkan, dalam hal ini biaya produksi padi sawah .
Jenis biaya yang digunakan dalam analisis biaya yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam melaksanakan aktivitas usahatani padi sawah yang besarannya tidak mempengaruhi besarnya produksi dan dinyatakan dalam satuan rupiah, yang tergolong dalam biaya tetap meliputi penyusutan alat, sewa alat pertanian dan pajak. Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam melaksanakan aktivitas usahatani padi sawah yang besarannya mempengaruhi besarnya produksi dan dinyatakan dalam satuan rupiah, yang tergolong dalam biaya variabel yaitu benih, pupuk, pestisida dan upah tenaga kerja.
Berdasarkan hasil wawancara, petani menggunakan traktor untuk mengolah lahan yang akan ditanami padi sawah. Waktu kerja untuk pengolahan
35 lahan tergantung dari luas lahan yang dimiliki oleh petani dan kemampuan bekerja petani.
Pengolahan lahan dilakukan dengan tujuan untuk mempersiapkan lahan yang akan ditanami. Pengolahan tanah pertama menggunakan bajak yang berfungsi membalikkan tanah agar sisa-sisa tanaman terbenam di dalam tanah. Kemudian melakukan pembajakan kedua yang berfungsi memperkecil bongkahan tanah pada pembajakan pertama menjadi remah. Setelah tanah dibajak pada pengolahan tanah pertama dan kedua, tanah bajakan tersebut diratakan dan dihaluskan menggunakan garu/sisir. Tahap-tahap pengolahan tanah tersebut untuk memperbaiki struktur tanah dan sirkulasi udara serta untuk memperbaiki fisik dan kimia tanah.
Pembibitan untuk tanaman padi direndam terlebih dahulu agar cepat berkecambah. Lama perendaman 24 jam, kemudian diangkat dan dikeringkan selama 8 jam. Apabila benih sudah berkecambah, benih disebar di tempat persemaian. Setelah mencapai umur 10-18 hari, bibit siap untuk ditanam.
Petani menggunakan benih padi sawah dengan harga Rp10.000/Kg yang ada di toko-toko tani terdekat di Kabupaten Nagekeo.
Jumlah penggunaan benih yang disesuaikan dengan luas lahan, namun terdapat beberapa petani yang menggunakan benih melebihi kebutuhan yang semestinya, hal ini karena petani beranggapan bahwa jika benih yang digunakan lebih banyak maka produksi yang diperoleh akan banyak pula namun semakin banyak benih yang digunakan maka makin banyak pula pupuk yang akan digunakan nantinya. Petani biasanya menyediakan benih sekitar 40 sampai 45 Kg
36 untuk setiap hektar tanah yang akan ditanaminya. Jumlah benih tersebut jauh di atas kebutuhan sebenarnya.
Berdasarkan hasil wawancara, jumlah benih yang dibutuhkan maksimal 25 sampai 30 Kg/Ha. Berlebihnya penggunaan benih padi berpengaruh terhadap mutu bibit padi yang dihasilkan. jika terlalu banyak maka saat disebar di atas persemaian, benih-benih tersebut akan sangat rapat. Akibatnya, bibit akan tumbuh saling berjejal sehingga sinar matahari tidak dapat menembus ke sela-selanya. Kondisi ini dapat menjadikan bibit tumbuh memanjang dan lemah serta mudah patah pada saat dicabut sehingga saat dipindahkan ke lahan banyak yang mati.
Petani menggunakan insektisida dan herbisida untuk mencegah serangan hama dan penyakit serta gulma. Insektisida yang umumnya digunakan petani responden adalah Dangke 40 WP, Explore 250 EC, Penalty 50 SC dan Chix 25 EC. Sedangkan herbisida yang digunakan adalah DMA 400 ml, Rumpas 120 EW. Dengan harga masing-masing Dangke 40 WP Rp. 35.000, Explore 250 EC Rp. 90.000, Penalty 50 SC Rp. 50, Chix 25 EC Rp. 40.000, DMA 400 ml Rp. 40.000 dan Rumpas 120 EW Rp. 35.000.
Masih banyaknya responden menggunakan pestisida melebihi dosis yang dianjurkan karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki. Dosis yang berlebihan bisa berbahaya bagi manusia, mencemari lingkungan dan mengakibatkan tanaman keracunan pestisida. Cara yang baik adalah menggunakan dosis sesuai dengan yang dianjurkan pada label kemasan insektisida atau herbisida atau menyesuaikan dengan kebutuhan tanaman yang dibudidayakan. Sesuai pendapat Djojosumanto (1999) bahwa waktu aplikasi merupakan salah satu faktor yang menentukan
37 efektivitas insektisida yang diaplikasikan. Karena pentingnya saat aplikasi suatu insektisida, maka ada yang berpendapat bahwa lebih baik terjadi sedikit kesalahan dalam cara aplikasinya daripada kesalahan dalam penentuan aplikasi.
Pemupukan dilakukan dengan tujuan untuk menambah unsur hara yang tidak terdapat dalam tanah. Pemupukan dilakukan sesuai keadaan tanah tersebut, agar pertumbuhan tanaman dapat berjalan dengan baik. Pupuk yang digunakan petani pada umumnya yaitu pupuk Urea/Kaltim dan NPK.
Pemupukan dilakukan melalui 3 tahap, yaitu : (1) Pemberian pupuk pada saat tanaman padi berumur 7-10 hst. Karena pada saat ini perakaran padi sudah mulai berkembang, (2) Pemberian pupuk pada minggu ke 3 atau 21 hst, (3) Pemberian pupuk pada saat tanaman berumur 30-40 hst. Sewaktu tanaman padi mengeluarkan malai.
Panen dilakukan pada saat tanaman berumur 3 Bulan. Pemanenan dilakukan dengan memotong padi pmenggunakan sabit. Setelah di panen, padi di tumpuk sementara di lahan sawah, kemudian dirontok. perontokan menggunakan mesin perontok padi untuk memisahkan bulir-bulir padi dengan jerami. Dengan menggunakan mesin perontok padi, petani tentu akan lebih bisa menghemat waktu dan juga tenaga. Karena perontok padi dapat dengan mudah memisahkan bulir-bulir padi dengan jerami. pengangkutan padi ke rumah petani menggunakan gerobak traktor, setelah itu dikeringkan, dimasukkan dalam karung kemudian digiling lalu disimpan.
38 3) Pendapatan
Pendapatan adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya. Pendapatan yang diterima oleh seseorang dari penjualan produk barang maupun produk jasa yang dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam membiayai produk barang maupun produk jasa.
Rata-rata pendapatan usahatani padi sawah yang diperoleh petani dalam 1 kali musim tanam di Dusun Mbaling Kelurahan Mbay II sebesar Rp 474.219.000,00 Sedangkan rata-rata pendapatan per ha sebesar Rp 30.359.731,1
39
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata penerimaan usahatani padi sawah yang diperoleh petani di Dusun Mbaling Kelurahan Mbay II sebesar Rp 588.000.000,00 sedangkan rata-rata penerimaan per ha sebesar Rp 37.644.046,1
Rata-rata biaya usahatani padi sawah yang dikeluarkan petani di Dusun Mbaling Kelurahan Mbay II sebesar Rp 113.713.000,00 Sedangkan rata-rata biaya per ha sebesar Rp 7.279.961,59
Rata-rata pendapatan usahatani padi sawah yang diperoleh petani dalam 1 kali musim tanam di Dusun Mbaling Kelurahan Mbay II sebesar Rp 474.219.000,00 Sedangkan rata-rata pendapatan per ha sebesar Rp 30.359.731,1
6.2 Saran
1. Terkait dengan analisis pendapatan usahatani padi sawah bahwa sebaiknya petani perlu menerapkan sistem tumpang sari agar unsur hara tanah tidak berkurang. Apabila pengolahan lahan yang terus menerus dapat mengurangi unsur hara tanah sehingga berpengaruh terhadap pendapatan petani.
2. Penghasilan usahatani dapat ditingkatkan bahkan dapat memperluas areal penanaman dengan efisiensi biaya untuk mendapatkan hasil yang maksimal serta diharapkan ada terobosan mengenai sistem tanam. Perlu
40 disempurnakan agar produktivitas usahatani padi sawah dan pendapatan petani dapat lebih meningkat.
3. Pemerintah harus serius memperhatikan petani guna meningkatkan pembangunan Ekonomi masyarakat Desa untuk memperkokoh ketahanan Ekonomi secara nasional.
41
DAFTAR PUSTAK A
Al- ashari, Nurul. 2014. Analisis Pendapatan Usahatani Bayam Di Kelurahan Bontolebang Kecamatan Galesong Utara Kabupaten Takalar. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah, Makassar.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Metodelogi penelitian. Bina Aksara. Yogyakarta Badan Pusat Statistik Kabupaten Nagekeo. 2015. Luas tanam, Luas Panen,
Produksi dan produktivitas Padi Kabupaten Nagekeo.
Bandini dan Azis. 2000. Pengantar ekonomi Pertanian. Bumi Aksara Jakarta. Djojosumarto. 2008. Pestisida Dan Aplikasinya. Jakarta. PT. Agromedia Pustaka. Endang Widowati, 2007. ”Analisis Ekonomi Usahatani Padi Organik Di
Kabupaten Sragen”, Tesis. MESP UNS. Surakarta.
Fatmawati M. Lumintang. 2013. Analisis Pendapatan Petani Padi Di Desa Teep Kecamatan Langowan Timur. Jurnal EMBA Vol.1 No.3 September 2013, Hal. 991-998. Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Sam Ratulangi Manado
Ferryanto. 2011. Laporan Ektan Stuktur Penerimaan Usahatani Desa BPI
Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma. (on-line). http:// Lidiayuliana79.blogspot.com/laporan ektan- strktur-penerimaan-usaha. hml \Diakses 20 Januari 2016.
Hadi Prayitno dan Lincolin Arsyad, 2007. ”Petani Usahatani padi”. Skripsi. FE-UNS. Surakarta.
Hernanto. 1996. Ilmu Usahatani. Penebar swadaya. Jakarta
IRRI. 2008. Brown Spot. Rice Fact Sheets. Produced By The International Ri ce Research Institute (IRRI). Rice Science For a Better World.
Kumar, K. V. K., M.S. reddy, J.W. Kloepper, K.S. Lawrence. D.E. Groth, and M.E. Miller, 2009. Sheath Blight Disease Of Rice (Oryza sativa L.). An overview. Biosciences. Biotechnology Research Asia 6(2): 465-480. Mubyarto. 2003. Ekonomi Pertanian Lembaga Penelitian dan Penyelenggaraan
Ekonomi Sosial (LP3S). Jakarta.
42 Mosher, A.T. 1991. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. CV. Yasaguna.
Jakarta.
Kurnianti, Novik. 2013. Budidaya Tanaman Padi Sawah.
http://www.tanijogonegoro.com/2013/01/budidaya-tanaman-padi-sawah.htmls. Diakses tanggal 30 Januari 2016
Sudarman, I made. 2013. Penyakit Tanaman padi (Oryza sativa L.). Graha Ilmu. Yogyakarta.
Sudarman. 2001. Teori Ekonomi Mikro. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Jakarta.
Sugiyono, DR. 2013. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung. Suratiyah. 2002. Ilmu Usaha tani. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suratiyah, Ken. 2011. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta.
Soekartawi, 1993. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Soekartawi ,1995. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Soekartawi, 1995. Ilmu Usahatani. BPFE. Yokyakarta.
Soekartawi, 2006. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Soekartawi, 2002. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani
Kecil, Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Soetrisno. 2002. Paradigma Baru Pertanian. Sebuah Tinjauan Sosiologis. Kanisius. Yogyakarta.
Slamet. 2003. Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. IPB Press. Bogor
Poli H, Maria. 2010. Proposal Penelitian Analisis Pendapatan Usahatani Padi
Sawah (Oryzae Sativa L) Di Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang. Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana Kupang.
Prawirokusumo, S. 1990. Ilmu Usahatani. BPFE. Yogyakarta.
Puspito, Joko.2011. Analisis Komparatif Usahatani Padi (Oriza sativa L.) Sawah Irigasi Bagian Hulu Dan Sawah Irigasi Bagian Hilir Daerah Irigasi Bapang Kabupaten Sragen. Skripsi. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
43 Made, Supartama, Made Antara, Rustam Abd Rauf. 2013.Analisis Pendapatan Dan Kelayakan Usahatani Padi Sawah Di Subak Baturiti Desa Balinggi Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi Moutong. Jurnal Agrotekbis 1(2) :
166-172, Juni 2013. Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu
44
45 KUISIONER PENELITIAN
ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH DI DUSUN