• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. METODOLOGI PENELITIAN

4.9 Analisis Data

4.9.2 Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel dependen dan variabel independen. Karena kedua veriabel merupakan data yang berbentuk kategorik, maka untuk melihat hubungan antara keduanya digunakan uji kai kuadrat. Pada analisis bivariat akan didapat apakah variabel independen (karakteristik anak, durasi pemberian ASI, asupan gizi, aktivitas fisik dan karakteritik orang tua) yang diteliti memiliki hubungan dengan variabel dependen (kegemukan pada anak prasekolah).

Formula yang digunakan untuk uji kai kuadrat, sebagai berikut (Hastono, 2006):

= ( − )

= ( − 1)( − 1) Keterangan :

X = Nilai Chi Square b = Jumlah Baris O = Nilai Observasi k = jumlah kolom E = Nilai Ekspektasi

df = Derajat Kebebasan

BAB 5

HASIL PENELITIAN

5.1 Gambaran Umum Lokasi dan Subjek Penelitian

Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK) Islam Al-Azhar 4 adalah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Pembangunan Ummat Islam (YPUI) bekerja sama dengan Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar (YPI Al-Azhar).

KB dan TK Al-Azhar 4 didirikan pada tanggal 23 Desember 1982 dan telah terakreditasi dengan predikat A sejak 23 Desember 2002. Selain terdapat KB dan TK, Yayasan ini juga memiliki SD yang letaknya saling berhadapan. KB dan TK Islam Al-Azhar 4 berlokasi di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sekolah ini memiliki 7 kelas, yang terdiri dari 2 kelas TK A, 2 kelas TK B dan 3 Kelas KB. Tiap kelas TK A dan TK B memiliki jumlah murid sebanyak 17-18 anak.

Sedangkan untuk KB, setiap kelasnya memiliki jumlah murid yang lebih sedikit, yaitu sebanyak 12-15 anak.

Fasilitas yang tersedia diantaranya Ruang kelas ber-AC, ruang PSB (Pusat Sumber Belajar) atau perpustakaan yaitu tempat untuk belajar membaca dan bermain musik, kolam renang serta taman bermain. Beberapa kegiatan yang dilakukan murid di KB dan TK Al-Azhar 4 antara lain bermain, belajar, mengaji, sholat berjamaah, upacara bendera yang diadakan 1 minggu sekali, dimana para murid dilatih sebagai petugas upacaranya. Serta terdapat pula berbagai ekstrakurikuler sepert berenang, menari, melukis, dan membaca iqra. Dapat diasumsikan sebagian besar murid KB dan TK Al-Azhar 4 berasal dari golongan ekonomi menengah ke atas. Hal ini dapat terlihat dari besar uang pangkal dan uang sekolah per bulannya di sekolah tersebut. Untuk kelas KB besar uang pangkalnya berkisar antara Rp. 4.500.000 – Rp. 5.500.000 dan besar uang sekolahnya Rp. 500.000/ bulan. Sedangkan untuk TK A dan B uang pangkalnya berkisar antara Rp. 7.500.000 – Rp. 8.500.000 dan uang sekolahnya sebesar Rp.

630.000/ bulan.

5.2 Hasil Analisis Univariat

Jumlah responden yang memenuhi kriteria inklusi adalah 104 anak. Dari jumlah tersebut terdapat 5 anak yang memenuhi kriteria eksklusi. Sehingga terdapat 99 anak yang dilakukan pengukuran tinggi badan serta penimbangan berat badan. Setelah diukur dan ditimbang, responden yang telah memenuhi kriteria tersebut, dibagikan lembar informed consent, kuesioner, serta diari makanan. Responden yang bersedia mengisi dan mengembalikan kuesioner beserta lembar isian lainnya berjumlah 75 anak. Dari 75 anak tersebut, semuanya menjawab seluruh pertanyaan dengan lengkap. Namun terdapat 1 data yang ekstrim, yaitu data mengenai durasi pemberian ASI sehingga data tersebut harus dikeluarkan. Sehingga total responden yang datanya dapat diolah sebanyak 74 anak.

5.2.1 Status Gizi Murid KB dan TK

Data status gizi memiliki distribusi yang normal dengan nilai rata – rata z-scorenya adalah 1.31 yang merupakan status gizi normal. Sedangkan untuk nilai score terendahnya adalah -2.33 yang merupakan status gizi kurus dan nilai z-score tertingginya adalah 6.01 yang dapat digolongkan berstatus gizi sangat gemuk.

Tabel 5.1 Distribusi Data Nilai Z-score

Mean Median SD Minimum Maximum

1.31 0.98 1.77 -2.33 6.01

Status gizi siswa dan siswi KB/TK Al-Azhar 4 berdasarkan IMT/U dibagi menjadi 4 kategori, yaitu sangat gemuk (> 3 SD), gemuk (> 2 SD), normal (-2 SD sampai 2 SD) dan kurus (< -2 SD). Distribusi status gizi berdasarkan 4 kategori tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah.

Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Status Gizi

Status Gizi Berdasarkan IMT/U n %

Sangat Gemuk 14 18.9

Gemuk 10 13.5

Normal 49 66.2

Kurus 1 1.4

Total 74 100.0

Dari tabel di atas, diketahui sebesar 18.9 % (14 anak) memiliki status gizi sangat gemuk, 13.5% (10 anak) berstatus gizi gemuk, 66.2 % (49 anak) berstatus gizi normal dan 1.4 % (1 anak) berstatus gizi kurus. Selanjutnya untuk memudahkan dalam analisis bivariat, maka kategori status gizi dibedakan menjadi 2 kategori, yaitu status gizi gemuk (≤ 2 SD) dan tidak gemuk (> 2 SD).

Distribusinya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Gemuk dan Tidak Gemuk

Status Gizi Berdasarkan IMT/U n %

Gemuk 24 32.4

Tidak Gemuk 50 67.6

Total 74 100.0

Sebesar 32.4 % (24 anak) dikategorikan gemuk dan lainnya sebesar 67.6%

(50 anak) dikategorikan tidak gemuk. Sehingga dapat dikatakan KB/TK Al-Azhar 4 pada tahun 2012 memiliki prevalensi kegemukan sebesar 32.4 %.

5.2.2 Karakteristik Anak

Data karakteristik anak meliputi asal kelas, umur, jenis kelamin, dan berat lahir anak. Distribusi data usia tergolong tidak normal maka diketahui nilai median usia responden ialah 5.12 tahun dengan usia terendah 2.42 tahun dan tertingi 6.5 tahun. Sedangkan berat lahir yang datanya berdistribusi normal memiliki nilai mean sebesar 3.17 kg dengan berat lahir terendah 2.00 kg dan tertinggi 4.5 kg. Untuk lebih jelasnya, berikut disajikan dalam tabel dibawah ini.

Tabel 5.4 Distribusi Data Umur dan Berat Lahir

Karakteristik Anak Mean Median SD Minimum Maximum

Umur (tahun) 4.97 5.12 0.86 2.42 6.50

Berat Lahir (kg) 3.17 3.20 0.49 2.00 4.50

Siswa-siswi yang menjadi reponden berasal dari 2 kelas yaitu KB dan TK dengan proporsi yang berbeda. Untuk jenis kelamin dibagi menjadi laki-laki dan peremuan, sedangkan untuk variabel berat lahir dikategorikan menjadi berat lahir berlebih (> 3.5 kg), berat lahir tidak berlebih (≤3.5 kg). Distribusi masing-masing variabel tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.5 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Anak

Variabel n %

Kelas

- KB 16 21.6

- TK 58 78.4

Jenis Kelamin

- Laki-laki 45 60.8

- Perempuan 29 39.2

Berat Lahir

- Berat Lahir Lebih 14 18.9

- Berat Lahir Tidak Lebih 60 81.1

Total 74 100.0

Proporsi responden yang berasal dari kelas KB sebesar 21.6% (16 anak) dan kelas TK sebesar 78.4 % (58 anak). Sementara itu untuk jenis kelamin responden, diketahui sebagian besar adalah laki-laki, yaitu sebesar 60.8 % (45 anak) sedangkan 39.2 % (29 anak) lainnya adalah perempuan.

Karakteristik anak lainya adalah berat lahir. Untuk proporsi berat lahir, dari tabel diatas diketahui bahwa terdapat sebanyak 18.9% (14 anak) yang memiliki berat lahir berlebih dan 81.1 % (60 anak) memiliki berat lahir tidak berlebih.

5.2.3 Riwayat Pemberian ASI

Data durasi pemberian ASI memiliki distribusi yang tidak normal dengan nilai mediannya ialah 8 bulan. Durasi pemberian ASI terendah adalah 0 bulan atau dengan kata lain tidak diberikan ASI sama sekali dan durasi tertinggi adalah 36 bulan. Untuk lebih jelasnya, distribusi data ditampilkan pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.6 Distribusi Data Durasi Pemberian ASI (bulan)

Mean Median SD Minimum Maximum

11.05 8.00 9.28 0 36

Durasi pemberian ASI dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu ≤ 6 bulan, 7 – 12 bulan dan > 12 bulan. Sebagai tambahan, maka akan ditampilkan pula distribusi sampel berdasarkan pemberian ASI secara eksklusif. Untuk itu, maka dikategorikan menjadi 3, diantaranya ASI eksklusif, ASI tidak eksklusif dan tidak diberikan ASI sama sekali.

Tabel 5.7 Distribusi Responden Berdasarkan Riwayat Pemberian ASI

Variabel n %

Pemberian ASI

- Tidak Diberi ASI 4 5.4

- Diberi ASI 70 94.6

Durasi Pemberian ASI

- ≤ 6 bulan 35 47.3

- 7-12 bulan 15 20.3

- > 12 bulan 24 32.4

Permberian ASI Eksklusif

- ASI Eksklusif 20 27.0

- ASI Tidak Eksklusif 50 67.6

- Tidak Diberi ASI 4 5.4

Total 74 100.0

Dari data diatas diketahui terdapat 4 anak atau sebesar 5.4 % yang tidak diberi ASI. Sedangkan sebagian besar anak yaitu 94.6 % (70 anak) diberi ASI.

Hasil penelitian juga meninjukkan bahwa sebesar 47.3% (35 anak) hanya diberikan ASI sampai usia 6 bulan atau kurang. Lalu, sebesar 20.3 % (15 anak) diberikan ASI hingga usia berkisar antara 7 sampai 12 bulan. Sedangkan anak

yang diberikan ASI lebih lama, yaitu lebih dari 12 bulan sebesar 32.4 % (24 anak). Data tambahan mengenai konsumsi ASI lain menunjukkan bahwa anak yang mendapat ASI eksklusif hanya sebesar 27 % (20 anak), sementara yang mendapat ASI namun tidak secara eksklusif sebesar 67.6 % (50 anak), sedangkan sisanya sebesar 5.4 % (4 anak) tidak diberikan ASI sejak lahir. Pada responden yang tidak diberikan ASI, sebesar 100% dikarenakan faktor ASI yang sulit keluar.

Berdasarkan data dalam kuesioner, dua alasan terbanyak mengapa para ibu berhenti menyusui anaknya pada saat itu ialah dikarenakan air susu ibu berhenti keluar (38.6 %) serta karena bayi tidak mau lagi menyusu (31.4 %). Alasan lainnya ibu berhenti menyusui diantaranya ibu bekerja (25.7 %), ibu sedang hamil (10 %), ibu sadang sakit (4.2 %) dan bayi sakit (1.4 %).

5.2.4 Asupan Gizi

Data asupan gizi yang terdiri dari asupan energi, karbohidrat, protein, dan lemak memiliki distribusi yang normal. Sedangkan asupan serat memiliki distribusi data yang tidak normal, dengan nilai mean/ median, SD, angka minimum dan angka maksimum dari masing-masing variabel ditampilkan pada tabel berikut.

Tabel 5.8 Distribusi Data Asupan Gizi Anak Usia 1-3 tahun

Asupan Gizi Mean Median SD Minimum Maximum

Tabel 5.9 Distribusi Data Asupan Gizi Anak Usia 4-6 tahun

Asupan Gizi Mean Median SD Minimum Maximum

Untuk variabel asupan energi, karbohidrat, protein, dan lemak, masing-masing dikelompokkan menjadi 2 kategori, diantaranya asupan lebih dan cukup.

Untuk asupan energi dikatakan lebih jika melebihi 110 % AKG dan dikatakan

cukup jika asupannya ≤ 110 % AKG. Sedangkan untuk karbohidrat, protein dan lemak, secara berturut-turut dengan cut off pointnya adalah 65 %, 20 %, dan 30

%. Sedangkan untuk asupan serat dibedakan menjadi 2 kategori yaitu, asupan kurang dan cukup. Dikatakan kurang jika serat yang dikonsumsi kurang dari 10 g/1000 kkal (WNPG, 2004). Untuk lebih jelasnya mengenai distribusi responden berdasarkan asupan gizi dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.10 Distribusi Responden Berdasarkan Asupan Gizi

Variabel Asupan n %

Setelah dilakukan pengolahan data asupan menggunakan software nutrrisurvey dan dilakukan perhitungan statistik, didapat sebesar 59.5 % anak yang asupan energinya tergolong lebih, sedangkan lainnya sebesar 40.5 % tergolong cukup. Dengan rata-rata asupan energi sebesar 1640 kkal (usia 2-3 tahun) dan 1769 (usia 4-6 tahun). Selain itu, sebesar 37.8 % mengonsumsi karbohidrat berlebih dengan nilai rata-rata 221.95 gram (usia 2-3 tahun) dan 231.8 (usia 4-6 tahun). Sebesar 28.4 % anak mengonsumsi protein berlebih dengan nilai rata-rata 63.10 gram (usia 2-3 tahun) dan 63.8 gram (usia 4-6 tahun). Dan asupan lemak terdapat 82.4 % anak mengonsumsi lemak berlebih dengan nilai rata-rata 59.28 gram (usia 2-3 tahun) dan 65.8 gram (usia 4-6 tahun). Sedangkan pada distribusi asupan serat, sebagian besar anak yaitu 87.8 % mengonsumsi serat

dalam jumlah yang kurang, hanya sebesar 12.2 % yang mengonsumsi dalam jumlah cukup.

5.2.5 Aktivitas Fisik

Distribusi data aktivitas fisik yang terdiri dari kebiasaan olahraga dan kebiasaan menonton/nermain games, keduanya tidak normal. Berikut ini disajikan tabel nilai median, SD, minimum dan maksimum yang kedua data tersebut.

Tabel 5.11 Distribusi Data Aktivitas Fisik

Aktivitas Fisik Mean Median SD Minimum Maximum

Kebiasaan Olahraga (kali/minggu) 1.32 1 1.11 0 7

Kebiasaan Menonton/Bermain Games (jam/hari)

3.93 4 2.05 0 10

Variabel kebiasaan olahraga dibedakan menjadi 2 kategori diantaranya kurang (< 3 kali per minggu) dan cukup ( ≥ 3 kali per minggu). Sedangkan, kebiasaan menonton TV/ bermain games, dibedakan menjadi 2 kategori diantaranya lebih ( > 2 jam per hari) dan kurang ( ≤ 2 jam per hari).

Tabel 5.12 Distribusi Responden Berdasarkan Aktivitas Fisik

Variabel n %

Dari tabel diatas diketahui bahwa terdapat 11 anak (14.9 %) yang tidak pernah melakukan olahraga selama seminggu terakhir. Hanya delapan anak, yaitu sekitar 10.8 % melakukan olahraga dengan frekuensi cukup. Rata-rata frekuensi olahraga seluruh anak adalah 1 kali dalam seminggu. Sementara untuk kebiasaan menonton TV, sebagian besar anak yaitu sebanyak 94.6 % menonton TV atau DVD setiap harinya dan sebanyak 74.3 % juga gemar bermain games setiap harinya. Frekuensi menonton TV/ DVD dan bermain games diakumulasikan, sehingga didapat sebanyak 73 % dari mereka memiliki frekuensi menonton dan bermain games yang tergolong lebih.

5.2.6 Karakteristik Orang Tua

Variabel karakteristik orang tua terdiri dari status gizi orang tua dan persepsi orang tua. Data yang digunakan untuk menentukan status gizi orang tua adalah IMT ayah dan IMT ibu. Sedangkan untuk persepsi orang tua data didapat dengan cara memberikan skor untuk masing-masing jawaban, dengan nilai total skor tertingginya adalah 45 poin. Data IMT ayah dan ibu memiliki distribusi yang tidak normal namun data skor persepsi orang tua berdistribusi normal. Berikut ini disajikan tabel nilai median, SD, minimum dan maksimum dari kedua data tersebut.

Tabel 5.13 Distribusi Data Karakteristik Orang Tua

Karakteristik Orang Tua Mean Median SD Minimum Maximum

IMT Ayah (kg/m2) 25.09 24.18 3.95 17.30 34.75

IMT Ibu (kg/m2) 23.71 22.63 4.77 16.40 37.77

Skor Persepsi Orang Tua 35.07 36.00 5.72 20 45

Status gizi orang tua dibedakan menjadi 3 kategori diantaranya kategori ayah dan ibu tidak gemuk (jika keduanya memiliki IMT ≤ 25), ayah atau ibu gemuk (jika salah satunya memiliki IMT > 25 ), dan kategori ayah dan ibu gemuk (jika keduanya memiliki IMT > 25). Namun, untuk memudahkan dalam pengolahan data statistik maka kategori diperkecil menjadi 2, yaitu orang tua gemuk dan orang tua tidak gemuk. Definisi dari kategori orang tua gemuk adalah anak yang memiliki orang tua gemuk baik salah satu maupun keduanya.

Sedangkan orang tua tidak gemuk adalah anak yang memiliki kedua orang tua

tidak gemuk. Selanjutnya untuk persepsi orang tua dibedakan menjadi 2 kategori diantaranya kurang baik (jika score < mean kelompok) dan baik (jika score ≥ mean kelompok). Distribusi responden berdasarkan status gizi orang tua dan persepsi orang tua dapat dilihat pada tabel dibawah.

Tabel 5.14 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Orang Tua

Variabel N %

Status Gizi Orang Tua

- Ayah atau Ibu Gemuk 27 36.5

- Ayah dan Ibu Gemuk 14 18.9

- Ayah dan Ibu Tidak Gemuk 33 44.6

Status Gizi Orang Tua (2 kategori)

- Orang Tua Gemuk 41 55.4

- Orang Tua Tidak Gemuk 33 44.6

Persepsi Orang Tua

- Kurang Baik 33 44.6

- Baik 41 55.4

Total 74 100.0

Dari tabel diatas diketahui bahwa terdapat 36.5 % yang memiliki kedua orang tua gemuk, 18.9 % memiliki salah satu orang tua gemuk dan 44.6 % lainnya memiliki kedua orang tua tidak gemuk. Setelah dikelompokkan menjadi 2 kategori maka, orang tua yang tergolong gemuk sebanyak 55.4 %. Sementara untuk persepsi orang tua, sebanyak 55.4 % anak memiliki orang tua dengan persepsi yang baik mengenai kegemukan, selain itu terdapat 44.6 % anak memiliki orang tua dengan persepsi yang kurang baik terhadap kegemukan.

Dengan nilai rata-rata skor-nya adalah 35.07 dari total skor yang seharusnya adalah 45.

Persepsi orang tua dinilai berdasarkan penilaian terhadap beberapa pernyataan mengenai kegemukan pada anak yang terdiri dari 9 buah pernyataan/

anggapan yang selama ini berkembang di masyarakat, dengan pilihan jawaban terdiri dari sangat setuju, setuju, ragu-ragu, kurang setuju dan tidak setuju. Berikut ini adalah distribusi responden untuk masing-masing pernyataan.

Tabel 5.15 Distribusi Responden Berdasarkan Pernyataan Persepsi Orang Tua

5 Sering menonton TV dan bermain video games tidak menyebabkan gemuk

9 Penyakit degeneratif tidak mungkin dialami anak

1 1.4 5 6.8 7 9.5 22 29.7 39 52.7

Pertanyaan pertama menanyakan pandangan orang tua mengenai anggapan bahwa anak yang bertubuh gemuk lebih sehat dibandingkan anak yang bertubuh

Pertanyaan ke-dua menanyakan pandangan orang tua mengenai anggapan bahwa anak yang bertubuh gemuk menggemaskan dan disukai banyak orang. Dari 74 responden, sebanyak 6.8 % (5 anak) yang beranggapan sangat setuju, 40.5 % (30 anak) setuju, 5.4 % (4 anak) ragu-ragu, 31.1 % (23 anak) kurang setuju dan 16.2 % (12 anak) tidak setuju. Jawaban untuk pertanyaan ini cukup beragam, berdasarkan persentase sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anak yang

bertubuh gemuk memang menggemaskan dan akan lebih disukai oleh banyak orang, namun kecenderungannya memang lebih banyak orang tua yang beranggapan bahwa tidak semua anak yang bertubuh gemuk menggemaskan dan disukai banyak orang.

Pertanyaan ke-tiga menanyakan pandangan orang tua mengenai anggapan bahwa memiliki anak yang bertubuh gemuk menandakan kehidupan yang makmur dan berkecukupan. Dari 74 responden, sebanyak 1.4 % (1 anak) yang beranggapan sangat setuju, 9.5 % (7 anak) setuju, 6.8 % (5 anak) ragu-ragu, 35.1

% (26 anak) kurang setuju dan 47.3 % (35 anak) tidak setuju. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar orang tua beranggapan bahwa memiliki anak yang bertubuh gemuk tidak menandakan kehidupan yang makmur dan berkecukupan.

Pertanyaan ke-empat menanyakan pandangan orang tua mengenai anggapan bahwa anak yang jarang berolahraga tidak akan menjadi gemuk. Dari 74 responden, sebanyak 2.7 % (2 anak) yang beranggapan sangat setuju, 16.2 % (12 anak) setuju, 10.8 % (8 anak) ragu-ragu, 45.9 % (34 anak) kurang setuju dan 24.3 % (18 anak) tidak setuju. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar orang tua beranggapan bahwa jarang berolahraga dapat menyebabkan anak menjadi gemuk, namun masih terdapat cukup banyak orang tua yang beranggapan hal yang sebaliknya.

Pertanyaan ke-lima menanyakan pandangan orang tua mengenai anggapan bahwa anak yang sering menonton TV dan bermain video games tidak akan menjadi gemuk. Dari 74 responden, sebanyak 1.4 % (1 anak) yang beranggapan sangat setuju, 17.6 % (13 anak) setuju, 25.7 % (19 anak) ragu-ragu, 35.1 % (26 anak) kurang setuju dan 20.3 % (15 anak) tidak setuju. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar orang tua cenderung beranggapan bahwa sering menonton TV dan bermain video games dapat menyebabkan anak menjadi gemuk, namun masih terdapat cukup banyak orang tua yang ragu-ragu dan beranggapan hal yang sebaliknya.

Pertanyaan ke-enam menanyakan pandangan orang tua mengenai anggapan bahwa pemberian makan pada anak yang melebihi kebutuhannya membuat anak menjadi sehat. Dari 74 responden, tidak terdapat orang tua yang beranggapan sangat setuju, 9.5 % (7 anak) setuju, 5.4 % (4 anak) ragu-ragu, 44.6

% (33 anak) kurang setuju dan 40.5 % (30 anak) tidak setuju. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar orang tua beranggapan bahwa pemberian makan yang berlebihan dapat menyebabkan kegemukan pada anak.

Pertanyaan ke-tujuh menanyakan pandangan orang tua mengenai anggapan bahwa makanan dan minuman manis tidak menyebabkan kegemukan.

Dari 74 responden, tidak terdapat orang tua yang beranggapan sangat setuju, 14.9

% (11 anak) setuju, 12.2 % (9 anak) ragu-ragu, 36.5 % (27 anak) kurang setuju dan 36.5 % (27 anak) tidak setuju. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar orang tua beranggapan bahwa pemberian makanan dan minuman manis dapat menyebabkan kegemukan pada anak, namun tidak sedikit pula yang kurang mengetahui dan sebagian lagi, tidak sedikit yang beranggapan makanan dan minuman manis tidak akan menyebabkan kegemukan pada anak.

Pertanyaan ke-delapan menanyakan pandangan orang tua mengenai anggapan bahwa pemberian makanan cepat saji tidak menyebabkan kegemukan pada anak. Dari 74 responden, tidak terdapat orang tua yang beranggapan sangat setuju, 10.8 % (8 anak) setuju, 16.2 % (12 anak) ragu-ragu, 33.8 % (25 anak) kurang setuju dan 39.2 % (29 anak) tidak setuju. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar orang tua beranggapan bahwa pemberian makanan cepat saji dapat menyebabkan kegemukan pada anak, namun tidak sedikit pula yang masih belum mengetahui hal ini ditandakan dengan cukup banyak orang tua yang menjawab ragu-ragu.

Pertanyaan ke-sembilan menanyakan pandangan orang tua mengenai anggapan bahwa penyakit degenaratif yang merupakan akibat dari kegemukan tidak mungkin dialami oleh anak-anak. Dari 74 responden, terdapat orang tua yang beranggapan sangat setuju sebanyak 1.4 % (1 anak), 6.8 % (5 anak) setuju, 9.5 % (7 anak) ragu-ragu, 29.7 % (22 anak) kurang setuju dan 52.7 % (39 anak) tidak setuju. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar orang tua beranggapan bahwa penyakit degeneratif seperti diabetes, jantung dan hipertensi bisa saja terjadi pada anak-anak.

Dari seluruh penyataan yang diajukan tersebut, dapat disimpulkan bahwa persepsi keliru yang masih berkembang di sebagian besar orang tua di populasi ini ialah bahwa memiliki anak yang gemuk memang menggemaskan dan disukai

banyak orang. Dengan persentase orang tua yang setuju cukup tinggi, yaitu 40,5

% dan yang sangat setuju sebesar 6.8 %. Sebanyak 16.2 % orang tua mengganggap jarang olahraga tidak berpengaruh terhadap kegemukan dan sebesar 17.6 % orang tua juga menganggap perilaku sedentary pada anak (menonton TV/

bermain video games) tidak akan menyebabkan kegemukan. Sedangkan untuk persepsi lainnya yang berkembang di populasi ini dapat dikatakan sudah cukup baik.

Tabel 5.16 Rekapitulasi Hasil Analisis Univariat

No Variabel Keterangan N %

5.3 Analisis Bivariat 5.3.1 Karakteristik Anak

5.3.1.1 Hubungan Jenis Kelamin dengan Kegemukan

Tabel 5.17 Distribusi Responden Berdasarkan Status Gizi dan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Tabel di atas menunjukkan hasil analisis bivariat antara jenis kelamin dengan kegemukan. Terlihat bahwa persentase kegemukan terjadi lebih banyak pada anak laki-laki. Dari 45 anak yang berjenis kelamin laki-laki, persentase yang mengalami kegemukan sebesar 37.8 %. Sementara 29 anak yang berjenis kelamin perempuan, persentase yang mengalami kegemukan sebesar 24.1 %. Namun, setelah dilakukan uji statistik dengan chi-square diperoleh nilai p-value nya 0.332 (> 0.05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kegemukan.

5.3.1.2 Hubungan Berat Lahir dengan Kegemukan

Tabel 5.18 Distribusi Responden Berdasarkan Status Gizi dan Berat Lahir

Tabel di atas menunjukkan hasil analisis bivariat antara berat lahir dengan kegemukan. Terlihat bahwa persentase kegemukan pada anak dengan berat lahir lebih sebanyak 21.4% sedangkan persentase kegemukan pada anak dengan berat

Berat Lahir

lahir tidak berlebih ditemukan sebanyak 35%. Hasil uji statistik dengan chi-square diperoleh nilai p-value nya 0.527 (> 0.05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara berat lahir dengan kegemukan.

Namun, setelah dilakukan analisis korelasi antara berat lahir dengan status gizi diperoleh hubungan yang lemah dan berpola negatif dengan nilai r = - 0.108, yang artinya adanya kecenderungan bahwa semakin rendah berat lahir maka angka kejadian kegemukan semakin meningkat.

5.3.2 Hubungan Durasi Pemberian ASI dengan Kegemukan

Tabel 5.19 Distribusi Responden Berdasarkan Status Gizi dan Durasi Pemberian ASI

Durasi ASI (bulan)

Status Gizi Total

P-Value OR 95 % CI Gemuk Tidak Gemuk

n % n % n %

≤ 6 14 40.0 21 60.0 35 100 0.235 2.000

7-12 4 26.7 11 73.3 15 100 0.908 1.091

> 12 6 25.0 18 75.0 24 100

Total 24 32.4 50 67.6 74 100

Tabel di atas menunjukkan hasil analisis bivariat antara durasi pemberian ASI dengan kegemukan. Terlihat bahwa persentase kegemukan paling banyak terjadi pada anak yang durasi menyusuinya paling singkat ( ≤ 6 bulan), yaitu sebesar 40%. Sementara itu pada anak yang durasi menyusuinya antara 7 hingga 12 bulan, terdapat 26.7 % anak yang mengalami kegemukan. Dan anak yang memiliki durasi pemberian ASI paling lama (> 12 bulan) terdapat 25 % yang mengalami kegemukan. Hasil uji statistik dengan chi-square diperoleh nilai p-value 0.235 dan 0.908 (> 0.05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara durasi pemberian ASI dengan kegemukan.

Namun pada hasil penelitian terlihat bahwa adanya penurunan angka kejadian kegemukan seiring dengan meningkatnya durasi pemberian ASI. Hal ini terlihat setelah dilakukan analisis korelasi antara durasi pemberian ASI dengan status gizi diperoleh hubungan yang lemah dan berpola negatif dengan nilai r = - 0.023, yang

artinya adanya kecenderungan semakin rendah durasi pemberian ASI maka angka kejadian kegemukan semakin meningkat.

5.3.3 Asupan Gizi

5.3.3.1 Hubungan Asupan Energi dengan Kegemukan

Tabel 5.20 Distribusi Responden Berdasarkan Status Gizi dan Asupan Energi

Asupan Energi

Status Gizi Total

P-Value OR 95 % CI Gemuk Tidak Gemuk

n % n % n %

Lebih 19 43.2 25 56.8 44 100 0.032 3.800

Cukup 5 16.7 25 83.3 30 100 1.227 – 11.768

Total 24 32.4 50 67.6 74 100

Tabel di atas menunjukkan hasil analisis bivariat antara asupan energi dengan kegemukan. Terlihat bahwa persentase kegemukan terjadi lebih banyak pada anak yang asupan energinya tergolong lebih, yaitu sebesar 43.2 %.

Sementara itu pada anak yang asupan energinya tergolong cukup terdapat 16.7 % yang mengalami kegemukan. Hasil uji statistik dengan chi-square diperoleh nilai

Sementara itu pada anak yang asupan energinya tergolong cukup terdapat 16.7 % yang mengalami kegemukan. Hasil uji statistik dengan chi-square diperoleh nilai