HASIL PENELITIAN
B. Analisis Bivariat
Vital Exhaustion
65.0%
35.0%
Exhausted
Non Exhausted
Sebagian besar responden mengalami exhausted sebanyak 26 (65%) dan responden yang nonexhausted sebanyak 14 (35%).
B. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk menguji hubungan antara variable independent dengan variable dependen. Untuk menguji hubungan kedua variable tergantung jenis datanya, untuk jenis data numerik – katagorik menggunakan T independen.Variabel
yang menggunakan uji T independen yaitu beban kerja,status ekonomi dan usia.
Sedangkan untuk variabel yang jenis datanya berbentuk kategorik-kategorik Uji Chi Square digunakan. Adapun yang menggunakan uji Chi Square adalah variabel kualitas tidur, konflik keluarga, jenis kelamin, pendidikan dan status perkawinan dengan alpha 0,05 ( 5 % ).
1. Hubungan kualitas tidur dengan Vital Exhaustion
Hubungan kualitas tidur responden dengan Vital Exhaustion dapat dilihat pada tabel 5.6 berikut ini:
Tabel 5.6 Distribusi Responden menurut Kualitas Tidur dengan Vital Exhaustion di RSU. Cibabat Cimahi
dan RS. Rajawali Bandung, Juli 2008 (n=40) Vital Exhaustion
Non
exhausted Exhausted Total Kualitas
Dari hasil analisis hubungan antara kualitas tidur dan vital exhaustion pada responden diperoleh bahwa ada sebanyak 5 dari 13 (38,5 %) responden dengan kualitas tidur baik yang mengalami exhausted. Sedangkan responden dengan kualitas tidur buruk yang mengalami exhausted sebanyak 21dari 27(77,8%) Hasil uji statistik ini menunjukan bahwa ada hubungan signifikan antara kualitas tidur dengan terjadinya vital exhaustion ( p=0.019, α = 0,05) . Dari analisis diperoleh Odds Ratio (OR)=5.6, artinya responden dengan kualitas tidur buruk
mempunyai peluang 5,6 kali mengalami exhausted dibandingkan responden dengan kualitas tidur yang baik.
2. Hubungan beban kerja dengan vital exhaustion
Analisis bivariat hubungan beban kerja dengan vital exhaustion, dapat dilihat pada tabel 5.7 berikut ini:
Tabel 5.7 Distribusi Rata – Rata Beban Kerja responden menurut Vital Exhaustion di RSU. Cibabat Cimahi
dan RS. Rajawali Bandung, Juli 2008 (n=40)
Variabel Mean SD SE N P Value
Non exhausted Exhausted
46,57 55,85
8,698 15,406
2,325 3,021
14
26 0,020 Rata – rata beban kerja responden yang mengalami exhausted adalah 55,85 dengan standar deviasi 15,40, sedangkan untuk responden yang non exhausted, rata – rata beban kerjanya 46,57 dengan standar deviasi 8,698. Hasil uji statistik didapatkan ada hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan terjadinya vital exhaustion ( p = 0,020, α = 0,05).
3. Hubungan konflik keluarga dengan Vital Exhaustion
Hubungan konflik keluarga dengan vital exhaustion dapat dilihat pada tabel 5.8 berikut ini .
Tabel 5.8 Distribusi Responden menurut Konflik Keluarga dengan Vital Exhaustion di RSU. Cibabat Cimahi
dan RS. Rajawali Bandung, Juli 2008 (n=40) Vital Exhaustion
Non exhausted exhausted Total Konflik
Dari hasil analisis hubungan antara konflik keluarga dan vital exhaustion pada responden diperoleh bahwa ada sebanyak 6 dari 14 (42,9 %) responden yang tidak mempunyai konflik mengalami exhausted. Sedangkan responden yang mempunyai konflik keluarga ada 20 dari 26 (76,9%) yang mengalami exhausted.
Hasil uji statistik didapatkan ada hubungan signifikan antara konflik keluarga dengan terjadinya vital exhaustion (p= 0.036, α = 0,05). Dengan OR = 4,4 artinya responden yang mempunyai konflik keluarga mempunyai peluang 4,4 kali mengalami vital exhaustion dibandingkan responden yang tidak mempunyai konflik keluarga.
4. Hubungan status ekonomi dengan vital exhaustion
Jenis Status ekonomi berbentuk numerik maka dalam analisis berikut menggunakan T independen, hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut:
Tabel 5.9 Distribusi Rata – Rata Status Ekonomi Responden Menurut Vital Exhaustion di RSU. Cibabat Cimahi
dan RS. Rajawali Bandung, Juli 2008 (n=40)
Variabel Mean SD SE N p Value
Rata – rata status ekonomi yang mengalami exhausted adalah Rp 1.8 jt dengan standar deviasi Rp. 1.7 jt , sedangkan responden yang non exhausted rata – rata status ekonominya 1.9 jt dengan standar deviasi 1.4 jt. Hasil uji statistik menunjukan tidak ada hubungan signifikan antara status ekonomi dengan terjadinya vital exhaustion (p = 0,844, α = 0,05).
5. Hubungan usia dengan vital exhaustion
Hubungan usia responden dengan Vital Exhaustion dapat dilihat pada tabel 5.10 berikut ini.
Tabel 5.10 Distribusi Rata – Rata Usia Responden menurut Vital Exhaustion di RSU. Cibabat Cimahi
dan RS. Rajawali Bandung, Juli 2008 (n=40)
Variabel Mean SD SE N p Value
Rata – rata usia responden yang mengalami exhausted adalah 62,69 tahun dengan standar deviasi 12,54 tahun sedangkan responden yang non exhausted rata – rata usianya 64,21 tahun dengan standar deviasi 11,08 tahun. Hasil uji statistik didapatkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara usia dengan terjadinya vital exhaustion (p= 0.070614, α = 0,05).
6. Hubungan jenis kelamin dengan vital exhaustion
Hubungan jenis kelamin dengan vital exhaustion dapat dilihat pada tabel 5.11 berikut ini .
Tabel 5.11 Distribusi Responden menurut Jenis Kelamin dengan Vital Exhaustion di RSU. Cibabat Cimahi
dan RS. Rajawali Bandung, Juli 2008 (n=40) Vital exhaustion
Non
exhausted Exhausted Total Jenis
Dari hasil analisis hubungan antara jenis kelamin dan vital exhaustion diperoleh bahwa ada sebanyak 15 dari 26 (57,7 %) responden dengan jenis kelamin laki – laki yang mengalami exhausted. Sedangkan responden dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 11 dari 14 (78,8%) yang mengalami exhausted.
Selanjutnya hasil uji statistik didapatkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan terjadinya vital exhaustion (p= 0.299, α = 0,05).
7. Hubungan pendidikan dengan vital exhaustion
Tabel 5.12 memperlihatkan hubungan pendidikan responden dengan vital exhaustion.
Tabel 5.12 Distribusi Responden menurut Pendidikan dengan Vital Exhaustion di RSU. Cibabat Cimahi
dan RS. Rajawali Bandung, Juli 2008 (n=40) Vital exhaustion
Non exhausted Exhausted Total Pendidikan
Karena hasil uji statistik didapatkan sel yang mempunyai nilai harapan kurang dari 5, maka variabel pendidikan dikategorikan lagi menjadi pendidikan rendah (SD dan SMP) dan pendidikan tinggi (SMA dan Akademi/ PT). Dari hasil analisis hubungan antara pendidikan dan vital exhaustion diperoleh bahwa ada sebanyak 15 dari 20 (75 %) responden dengan pendidikan rendah yang mengalami exhausted. Sedangkan responden dengan pendidikan tinggi sebanyak 11 dari 20 (55 %) yang mengalami exhausted. Dari hasil uji statistik dihasilkan tidak ada hubungan signifikan antara pendidikan dengan terjadinya vital exhaustion (p=0,320 , α = 0,05).
8. Hubungan status perkawinan dengan vital exhaustion
Hubungan antara status perkawinan dengan vital exhaustion, dapat dilihat pada tabel 5.13 berikut ini:
Tabel 5.13 Distribusi Responden menurut Status Perkawinan dengan Vital Exhaustion di RSU. Cibabat Cimahi
dan RS. Rajawali Bandung, Juli 2008 (n=40) Vital Exhaustion
Non
exhausted Exhausted Total Status
Dari hasil analisis hubungan antara status perkawinan dan vital exhaustion diperoleh bahwa ada sebanyak 17 dari 29 (58,6 %) responden dengan status menikah mengalami exhausted. Sedangkan responden dengan status janda/ duda ada 9 dari 11 (81,8%) yang mengalami exhausted. Hasil uji statistik didapatkan
tidak ada hubungan signifikan antara status perkawinan dengan terjadinya vital exhaustion (p= 0.270 , α = 0,05).