BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
3.5 Analisis Capaian Kinerja
A. Analisis Capaian Indikator Kinerja Utama
Sebagaimana telah ditetapkan pada BAB II, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan mempunyai 4 IKU yaitu: jumlah HKI yang didaftarkan, jumlah publikasi internasional, jumlah prototipe R&D (TRL s.d 6), dan Jumlah prototipe industri (TRL 7). Capaian kinerja Sasaran Strategis seperti terlihat pada tabel 3.1 diatas menunjukkan capaian IKU Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Tahun 2016, bahwa secara umum target berhasil dipenuhi, bahkan terdapat capaian yang melebihi target yang telah ditentukan. Secara lebih detil capaian indikator kinerja utama dijelaskan dalam analisis capaian kinerja sebagai berikut:
Produktivitas penelitian dan pengembangan dinilai oleh tiga indikator yaitu paten, publikasi ilmiah dan prototype R&D dan prototipe industri. Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi terus mendorong peningkatan perolehan HKI, diantaranya melalui instrumen kebijakan Insentif Riset SINas, disamping riset-riset dasar dan terapan untuk meningkatkan academic excellence juga mendorong lebih banyak lagi pelaksanaan riset melalui pola konsorsium yang melibatkan lembaga litbang, pemerintah dan dunia usaha/industri sehingga menghasilkan prototipe yang dapat diadopsi oleh industri. Disamping itu juga memfasilitas peningkatan perolehan HKI domestik, dengan memberikan insentif berupa insentif inventor yang ingin mendaftarkan paten, dan fasilitasi pembentukan dan penguatan sentra HKI.
Sasaran Kegiatan Indikator
Kinerja 2015-2019 Target Realisasi 2015 Target Realisasi Tahun 2016 %
Meningkatnya Produktivitas
Kekayaan Intelektual
Jumlah HKI yang
didaftarkan 2.400 1.521 1.735 3.184 183% Jumlah publikasi internasional 19.000 6.470 6.229 9.574 153% Meningkatkan Produktivitas Riset pendidikan tinggi, litbang dan pengabdian masyarakat Jumlah Prototipe R&D (TRL s.d 6) 1.200 1.611 632 791 125% Meningkatnya kesiapan teknologi laik industri Jumlah prototipe industri (TRL 7) 30 4 15 45 300%
29 Oleh karena itu Sasaran Strategis Meningkatnya Produktivitas Kekayaan Intelektual, Meningkatnya Produktivitas Riset Pendidikan Tinggi, Litbang dan Pengabdian Masyarakat, Meningkatnya Relevansi dan Produktivitas Riset dan Pengembangan merupakan upaya yang harus dilakukan dengan menetapkan indikator kinerja yang harus ditingkatkan yaitu: 1. Jumlah HKI yang didaftarkan 2. Jumlah publikasi internasional 3. Jumlah prototipe R&D (TRL s.d 6) 4. Jumlah prototipe industri (TRL 7).
Penjelasan masing-masing Capaian Indikator Kinerja Utama Tahun 2016 adalah sebagai berikut:
1. Jumlah Publikasi Internasional
Salah satu ukuran produktivitas hasil Iptek adalah publikasi baik dalam publikasi nasional maupun internasional yang bereputasi. Jumlah publikasi internasional merupakan IKU pertama Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan. IKU ini mengukur kinerja produktivitas riset iptek dan Pendidikan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan secara internasional. Capaian IKU ini pada tahun 2016 disajikan pada Tabel 3.2
Tabel 3.2. Jumlah Publikasi Internasional
Sasaran
Kegiatan Indikator Kinerja Target 2015-2019 (Nominal)
Realisasi
2015 Target Realisasi Tahun 2016% Realisasi dari Target % Realisasi dari Target Renstra Kenaikan dari capaian 2015 Meningkatnya Produktivitas Kekayaan Intelektual Jumlah publikasi internasional 19.000 6.470 6.229 9.574 153% 50.4% 48%
Jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan, pada tahun 2016 tingkat capaian indikator ini telah mencapai target yang ditetapkan bahkan telah melebihi target capaian. Dari target yang ditetapkan sebesar 6.229 Publikasi Internasional, terealisasi sebesar 9.574 Publikasi Internasional dengan persentase capaian kinerja sebesar 153%. Jika dibandingkan dengan tahun 2015 dengan capaian 6.470, maka capaian tahun 2016 mengalami peningkatan yang sangat signifikan sebesar 48%.
Walaupun capaian kinerja tahun 2016 melebihi target, namun jika dibandingkan dengan negara-negara Asean, khususnya dengan Thailand masih cukup jauh ketinggalan, terlebih jika dibandingkan dengan Malaysia, Singapura. Tetapi untuk Vietnam dan
30 Filipina jumlah publikasi internasional Indonesia masih di atas dua negara terakhir (lihat table 3.3.).
Tabel 3.3. Publikasi Internasional Negara Asean 2013-2016
Negara 2013 2014 2015 2016 Malaysia 25.176 28.199 26.560 24.910 Singapore 18.931 19.456 19.619 18.950 Thailand 12.206 13.483 12.652 13.142 Indonesia 5.068 6.380 7.766 9.574 Vietnam 3.664 4.029 4.404 5.123 Phillipines 1.889 2.131 2.468 2.382 Sumber : Scopus
Gambar 3 2 Grafik Publikasi Internasional Negara Asean 2013-2016
Dalam rencana strategis 2015-2019, target di akhir periode perencanaan jangka menengah untuk Publikasi Internasional adalah 19.000, sampai dengan tahun 2016 capaian jumlah Publikasi Internasionaladalah 9.574 atau 79,20%. Sehingga dalam kurun 3 (tiga) tahun waktu sampai dengan tahun 2019, harus dapat meningkatkan jumlah Publikasi Internasional sebanyak 2.515 atau dalam pertahun harus menghasilkan kurang lebih 838 Publikasi Internasional.
31 Dari grafik 3.2. terlihat bahwa jumlah Malaysia dan Thailand dalam tiga tahun terakhir memiliki kecenderungan turun, Singapura cenderung stagnan, sedangkan Indonesia terus menaik, bahkan di tahun 2016 ini angka kenaikan cukup signifikan yaitu di sekitar 2500 publikasi (lihat grafik publikasi negara-negara asean 2013-2016).
Gambar 3 3 Data Publikasi Internasional Terindeks di Scopusper 30 Desember 2016
Secara signifikan terlihat bahwa hampir setiap tahun, kinerja perguruan tinggi baik negeri maupun swasta meningkat dalam hal produktifitas publikasi baik di Jurnal Internasional maupun nasional yang terakreditasi. Posisi Indonesia di Scientific Journal Ranking (SJR) pada posisi 61dengan H-Indek sebesar 112. H-Indek ini merupakan indeks komposit dari 5 indikator: (1) jumlah dokumen atau publikasi dari tahun 1996-2007, (2) jumlah publikasi yang layak dikutip (citabel doucument), (3) jumlah kutipan (citation), (4) jumlah kutipan sendiri (selfcitations) dan (5) jumlah kutipan per dokumen (citation per doucuments). Diantara negara-negara ASEAN, posisi Indonesia hanya lebih baik dari Vietnam dan Filipina, seperti yang ditunjukkan pada tabel dibawah ini.
Sementara upaya membangun perguruan tinggi yang mengarah kepada universitas riset masih sulit dilakukan karena beberapa kendala, yaitu : (1) banyak perguruan tinggi lebih berorientasi pada penyelenggaraan program akademik dan program studi yang laku di pasaran (diploma dan kelas ekstensi) yang menjadi sumber pendapatan terbesar perguruan tinggi, (2) ketiadaan fokus pengembangan institusi untuk menjadi pusat unggulan sebagai wujud mission diferentiation dan (3) beban mengajar para dosen yang
32 sangat tinggi serta kurang tersedia waktu dan dana untuk melakukan penelitian/riset. Hal ini berdampak pada terbatasnya publikasi di jurnal ilmiah nasional maupun jurnal internasional.
Untuk meningkatkan kinerja publikasi ilmiah di jurnal internasional, maka diupayakan dosen/peneliti melakukan penelitian yang lebih fokus pada permasalahan kebutuhan strategis baik bersifat penelitian lokal, nasional maupun internasional dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada di perguruan, kemudahan penggunaan fasilitas laboratorium perguruan tinggi, pemberian regulasi kebijakan yang mengarah pada kemudahan akses penelitian, dan regulasi tentang manajemen administrasi penggunaan keuangan riset/penelitian dan sistem reward yang sangat memadai.
Untuk mendukung keberhasilan pencapaian target realisasi tahun 2016 telah dilaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas program Karya Ilmiah yang dipublikasikan menjadi Jurnal Internasional (penyusunan pedoman, sosialisasi dan pelatihan, klinik penulisan artikel ilmiah, perningkatan kapasitas lembaga pengelola jurnal, pengiriman dosen untuk mengikuti Seminar Internasional atau secara langsung membantu pembiayaan langganan jurnal internasional yang dapat diakses secara mudah dan gratis oleh dosen peneliti di perguruan tinggi). Secara rinci kegiatan dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 3.4. Program/Kegiatan Dalam Rangka Publikasi Internasional 2016
No Program Usulan
Proposal Target Realisasi % 1 Hibah Penulisan Buku Ajar/Teks 457 Judul 50 Judul 50 Judul 100% 2 Insentif Penulisan Buku (Buku
Terbit)
1.307 Judul 50 Judul 50 Judul 100% 3 Bantuan Seminar Luar Negeri 987 Judul 165 Judul 168 Judul 102% 4 Direktori Profil Publikasi
Internasional Perguruan Tinggi
- 1 Direktori 1 Direktori 100% 5 Pelatihan Penulisan Artikel
Jurnal Ilmiah Nasional
- 8 wilayah 8 wilayah 100%
33
No Program Usulan
Proposal Target Realisasi % Internasional
7 Pelatihan Penulisan Artikel di Jurnal Bereputasi Internasional
- 5 wilayah 5 wilayah 100%
8 Bantuan Konferensi Ilmiah Internasional
114 PT 15 PT 17 PT 113%
Dari kegiatan pemberian hibah, insentif, bantuan, langganan e-journal, sosialisasi, monitoring dan pelatihan/workshop penyusunan hasil penelitian, Pengabdian pada Masyarakat (PPM) serta kegiatan-kegiatan dalam rangka publikasi internasional sebagaimana tersebut di atas, sangat berpengaruh terhadap hasil penelitian yang dipublikasikan baik pada jurnal nasional dan internasional yang terakreditasi baik untuk dosen itu sendiri maupun perguruan tinggi sebagai capaian kinerja penelitian/PPM tersebut.
Beberapa kendala yang dihadapi dalam upaya pencapaian IKU jumlah publikasi internasional, diantaranya:
a. Kurang berkembangnya budaya menulisdi perguruan tinggi, dan/atau rendahnya kemauan dan kemampuan menulis hasil-hasil penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat dalam jurnal bermutu.
b. Sempitnya sirkulasi persebaran jurnal terkait oleh tiras yang sedikit, serta disebabkan oleh penggunaan bahasa yang tak terbacakan secara luas.
c. Motivasi melakukan penelitian belum diimbangi dengan tanggung jawab moral sebagai peneliti untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitiannya yang sangat berguna bagi masyarakat luas baik untuk kepentingan praktis maupun pengembangan teoritis.
d. Kurangnya mutu tata kelola jurnal secara elektronik mengakibatkan para penulis dan pengelola jurnal belum terbiasa dengan pengelolaan jurnal secara elektronik. Melihat hambatan dan permasalahan tersebut di atas, beberapa langkah antisipasi yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang adalah sebagai berikut:
34 a. Perlunya sosialisasi, pelatihan penulisan, klinik penulisan dan insentif/hibah bagi
dosen/peneliti guna memotifasi menulis artikel ilmiah bermutu;
b. Dilakukannya Akreditasi Jurnal Nasional secara elektronik, sehingga mampu meningkatkan jumlah dan memperluas sirkulasi persebaran jurnal nasional, serta meningkatkan jumlah jurnal internasional;
c. Perlu adanya kebijakan yang mendukung peningkatan publikasi ilmiah, seperti kewajiban menerbitkan artikel bagi calon lulusan pascasarjana.
d. Melakukan pelatihan penerapan aplikasi jurnal elektronik, memberikan keterampilan dalam mengelola jurnal secara elektronik dan melakukan pendampingan tata kelola jurnal secara elektronik disertai dengan pemberian bantuan tata kelola jurnal yang diperuntukkan pada pengembangan jurnal.
e. Melanggan akses e-jurnal yang berkualitas dan mensosialisasikan program tersebut berikut cara penggunaannya yang efektif.
Salah satu faktor untuk meningkatkan Publikasi Internasional, adalah terfasilitasi dan tersedianya wadah untuk menampung publikasi ilmiah berupa lembaga Jurnal Ilmiah di dalam negeri. Hal ini sangat membantu dalam rangka proses pembelajaran menuju Publikasi Internasional.
Sebagai dukungan dalam mencapai jumlah publikasi baik nasional dan internasional, saat ini telah beroperasi sistem akreditasi jurnal ilmiah menggunakan sepenuhnya metode on-line (daring), yaitu Sistem ARJUNA, http://arjuna.ristekdikti.go.id/ akronim untuk Akreditas Jurnal Nasional. Saat ini sudah ada 969 e-jurnal ilmiah yang telah mendaftarkan diri ke dalam Arjuna.
Faktor yang mendukung peningkatan jumlah publikasi internasional diantaranya adanya: a. Kebijakan yang memihak pada pertumbuhan publikasi Internasional yaitu : Surat Edaran Dirjen Dikti No. 152 tahun 2012 dimana setiap Sarjana (S1), Magister (S2) dan Doktor (S3) untuk dapat lulus harus mempublikasikan tugas akhirnya di jurnal nasional, nasional terakreditasi dan Internasional.
b. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 17 Tahun 2013 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka kreditnya
c. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 78 Tahun 2013 tentang pemberian tunjangan profesi dan Tunjangan kehormatan bagi Dosen yang menduduki Jabatan Akademik Profesor
35 d. Kebijakan-kebijakan yang telah disebut diatas, beserta instrument pendukung kebijakan yang dimiliki Kemenristekdikti diantaranya insentif, membuat jumlah publikasi internasional bisa diprediksi pertumbuhannya, berdasarkan sumber potensi publikasi yaitu dosen dan peneliti. Berdasarkan prediksi ini, di tahun 2019 Indonesia bisa mengungguli Malaysia.
2. Jumlah HKI Yang Didaftarkan
Kekayaan intelektual adalah kekayaan yang timbul dari kemampuan intelektual manusia yang dapat berupa karya di bidang teknologi, ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Karya ini dihasilkan atas kemampuan intelektual melalui pemikiran, daya cipta dan rasa yang memerlukan curahan tenaga, waktu dan biaya untuk memperoleh “produk” baru dengan landasan kegiatan penelitian atau yang sejenis. Kekayaan intelektual ini perlu ditindaklanjuti pengamanannya melalui suatu sistem perlindungan terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Penetapan Jumlah HKI yang didaftarkan sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU) bertujuan untuk meningkatkan perolehan perlindungan HKI dengan menggali secara maksimum potensi HKI yang diperoleh dari suatu kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang sedang berjalan maupun yang sudah selesai yang dilakukan oleh dosen/peneliti. Program perolehan dan pendaftaran HKI dibatasi untuk perolehan paten dan paten sederhana. Sedangkan yang berupa Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi untuk selama waktu tertentu.
Sangat disadari sepenuhnya bahwa proses peraihan Paten di Kementerian Hukum dan HAM RI memerlukan waktu cukup lama sejak sebuah pendaftaran invensi/penemuan dosen/peneliti pada lembaga tersebut. Hal ini sudah merupakan Granted, yang memang menjadi kebanggaan bagi si penemu/dosen/peneliti dan aset bagi keberhasilan perguruan tinggi/lembaga litbang dalam rangka pengembangan keilmuan.
Jumlah HKI yang didaftarkan merupakan Indikator Kinerja Utama Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan yang mengukur kualitas hasil riset iptek dan pendidikan tinggi untuk meningkatkan perolehan perlindungan HKI dengan menggali secara maksimum potensi HKI yang diperoleh dari suatu kegiatan penelitian, pengembangan, dan pengabdian masyarakat. Adapun perolehan HKI yang didaftarkan dapat dilihat pada Tabel 3.5.
36 Tabel 3.5. IKU HKI yang Didaftarkan
Sasaran
Kegiatan Indikator Kinerja 2015-2019 Target (Kumulatif)
Realisasi
2015 Target Realisasi Tahun 2016% Realisasi dari Target % Realisasi dari Target Renstra Kenaikan dari capaian 2015 Meningkatnya Produktivitas Kekayaan Intelektual Jumlah HKI yang didaftarkan 2.400 1.877 1.735 3.184 183% 133% 70%
Jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan, pada tahun 2016 tingkat capaian indikator ini melebihi target yang ditetapkan. Dari target yang ditetapkan sebesar 1.735 berhasil terealisasi sebesar 3.184 dengan persentase capaian kinerja sebesar 183%. Hal ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Dalam Rencana Strategis 2015-2019, target di akhir periode perencanaan jangka menengah untuk Jumlah HKI yang didaftarkan sebesar 2.400 HKI, capaian pada tahun 2015 sebesar 1.877 HKI sedangkan tahun 2016 jumlah HKI yang didaftarkan sudah mencapai 3.184 atau dengan persentase capaian kinerja 183% terhadap target Renstra 2015 – 2019.Capaian tersebut seperti terlihat pada tabel berikut.
Tabel 3.6. Jumlah Kumulatif Indikator Kinerja Jumlah HKI yang didaftarkan
Indikator Kinerja Target 2015-2019 2015 Tahun/Jumlah 2016
Jumlah HKI yang
37 Gambar 3.4 Target dan capaian Renstra
Sumber : Kemenkumham
Gambar 3.5 Perkembangan Paten Domestik Terdaftar Sumber : Kemenkumham
Pada tahun 2016 target kinerja Jumlah HKI yang didaftarkan terpenuhi, namun apabila melihat data tabel di atas, Indonesia masih tertinggal cukup jauh Malaysia, Filipina dan
38 Thailand, Indonesia masih diatas Vietnam. Sehubungan itu Indonesia masih terus selalu berupaya untuk secara terus menerus mengupayakan lebih keras lagi melakukan suatu terobosan baik fasilitas dana, maupun fasilitasi kebijakan dan termasuk meningkatkan sumberdaya hasil Riset yang mengarah pada permintaan Paten.
Gambar 3 6 Drafting Paten (Surabaya) dan Sosialisasi Insentif Raih (Makassar)
Gambar 3 7 Pelatihan TOT (Surabaya)
Meningkatnya capaian kinerja ini diantaranya terkait adanya Undang-Undang No. 13 Tahun 2016 tentang Paten, yang berisi solusi pengaturan mengenai beberapa substansi penting, antara lain:
a. Pemanfaatan dengan sistem elektronik KekayaanIntelektualuntukpeningkatan layanan dan manajemen Kekayaan Intelektual nasional.
b. Imbalan bagi peneliti Pegawai Negeri Sipil yang merupakan bagian dari Aparatur Sipil Negara untuk meningkatkan jumlah Paten dalam negeri, dan sekaligus mendorong semangat para peneliti yang berstatus Pegawai Negeri Sipil.
c. Dimungkinkannya kepemilikan Paten oleh Instansi pemerintah dan Inventor, kecuali diperjanjikan lain, akan memberikan semangat baru bagi peneliti untuk terus mempatenkan hasil karyanya walau sudah berusia menjelang purna tugas. d. Penyempurnaan ketentuan terkait invensi baru dan langkah inventif untuk publikasi
39 e. Hak Atas Paten dapat beralih/dialihkan dan bahkan dapat dijadikan objek jaminan
fidusia.
f. Menambah kewenangan Komisi Banding untuk memeriksa permohonan koreksi atas deskripsi, klaim, atau gambar setelah Permohonan diberi paten dan penghapusan Paten yang sudah diberi.
g. Pengangkatan dan pemberhentian ahli oleh Menteri sebagai Pemeriksa.Ketentuan ini merupakan terobosan untuk menjawab tantangan perkembangan teknologi yang sangat pesat, dimana diperlukan para professional pemeriksa yang memiliki tingkat kemampuan advance di bidang teknologi mutakhir dan juga untuk pemberdayaan ilmuwan dan ahli di bidang teknologi yang tersebar di perguruan tinggi dan litbang Pemerintah untuk berkiprah dalam pembangunan sistem paten nasional. Pengaturan mengenai force majeur dalam pemeriksaan administratif dan substantif Permohonan serta Pengaturan ekspor dan impor terkait Lisensi-wajib. h. Keharusan pengungkapan dengan jelas dan benar asal sumber daya genetik
dan/atau pengetahuan tradisional dalam deskripsi paten. Ketentuan ini sejalan dengan Nagoya Protokol yang dimaksudkan dalam rangka Access Benefic Sharing sebagai upaya melindungi Sumber Daya Genetik Pengetahuan Tradisional (SDGPT). Perubahan mekanisme pembayaran biaya tahunan paten dari setelah Pemegang Paten memanfaatkan hak ekskulsifnya menjadi sebelum Pemegang Paten memanfaatkan hak eksklusifnya.
i. Pengaturan Paten sederhana, yang memberikan kemudahan dan keberpihakan kepada para Peneliti dan Pengusaha lokal, utamanya UKM (Usaha Kecil dan Menengah) untuk mempatenkan hasil-hasil karyanya, akan mendorong semangat para pengusaha kecil dan menengah untuk bekerja sama dengan para peneliti dan sekaligus akan mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan ekonomi kreatif. j. Percepatan/Pengurangan waktu penyelesaian pemeriksaan substantif.
k. Pengecualian pembayaran biaya tahunan Paten bagi Perguruan Tinggi dan Litbang Pemerintah.
Namun demikian secara umum masih ada beberapa permasalahan dan kendala yang perlu mendapatkan perhatian, diantaranya:
a. Jumlah peneliti/perekayasa, dosen dan mahasiswa melakukan penelitian yang memiliki paten potensial tidak optimal. Pemahaman Hak Kekayaan Intelektual di lembaga litbang, perguruan tinggi dan industri, khususnya peneliti/perekayasa,
40 dosen dan mahasiswa masih kurang. Peneliti/perekayasa, dosen hanya sekadar melakukan penelitian semata, tetapi tidak mempunyai tujuan bahwa setiap penelitian harus menjadi sebuah invensi yang akan didaftarkan sebagai Paten atau Paten Sederhana, karena apabila suatu penelitian tidak ditujukan untuk menjadi invensi, maka hasil penelitian tersebut hanya akan menjadi pengisi jurnal ilmiah atau proceeding.
b. Pusat HKI di lembaga litbang dan Perguruan Tinggi masih belum sepenuhnya mendapat dukungan dari pemimpin.
c. Perlu adanya usaha untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang belum dimiliki oleh pengelola sentra HKI melalui training sehingga tidak terjadi kemandekan bahkan kemunduran kemampuan pengelola sentra HKI.
d. Terbatasnya jumlah peneliti/perekayasa, dosen dan mahasiswa yang melakukan penelitian yang berpotensi paten.
e. Pemahaman terhadap Hak Kekayaan Intelektual dikalangan lembaga litbang dan perguruan tinggi masih lemah.
f. Kekhawatiran para pemilik paten (Granted Paten) khususnya dikalangan lembaga litbang dan perguruan tinggi dalam hal pembiayaan pemeliharaan paten yang dikenakan setiap tahun, terlebih paten tersebut belum dapat dikomersialisasikan. Walaupun sejak November 2016 telah dilakukan penurunan tarif.
Melihat hambatan dan permasalahan tersebut di atas, beberapa langkah antisipasi yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan kualitas dan kuantitas Pelatihan, klinik penulisan artikel ilmiah, Pemanfaatan Hasil Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kreatifitas peneliti/perekayasa, dosen dan mahasiswa yang berpotensi paten yang di dalamnya memberikan pemahaman yang lebih untuk lembaga litbang dan universitas, khususnya, peneliti/perekayasa, dosen, mahasiswa dan peneliti, tentang pentingnya Hak Kekayaan Intelektual. Mendorong peneliti dari lembaga litbang dan perguruan tinggi untuk terus melakukan penelitian yang berpotensi paten.
b. Memberikan insentif dan pendanaan dalam rangka mendorong motivasi bagi peneliti maupun peningkatan kapasitas lembaga melalui berbagai program.
41 c. Mendorong pertemuan antara penemu dan pengusaha serta industri sebagai pengguna karya penelitian yang telah diberikan paten untuk memberikan lebih banyak kesempatan kepada pemilik paten untuk dapat dikomersialkan.
d. Memberikan pemahaman kepada lembaga litbang/perguruan tinggi khususnya peneliti/perekayasa, dosen dan mahasiswa akan arti pentingnya Hak Kekayaan Intelektual.
3. Jumlah Prototipe R&D TRL s.d 6
Tingkat Kesiapanterapan Teknologi (TKT) atau TRL (Technology Readiness Level) merupakan hasil dari rekayasa riset dan/atau penelitian untuk dapat disiapkan menjadi suatu bentuk teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat (pemerintah, masyarakat dan dunia industri). Terdapat 9 (sembilan) tingkat kesiapterapan teknologi yaitu dari tingkat 1 sampai dengan tingkat 9.
Sedangkan untuk tingkat TRL s.d 6 gambarannya adalah riset/penelitian dan pengembangan secara aktif dimulai. Hal ini dapat menyangkut studi analitis dan studi laboratorium untuk memvalidasi secara fisik atas prediksi analitis tentang elemen-elemen terpisah dari teknologi. Untuk memperjelas uraian dan gambaran tingkat kesiapan teknologi atau TRL, diperlihatkan dalamtabel dibawah ini :
Tabel 3.7. Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TRL, Technology Readiness Level)
TRL Penjelasan 9 Sistem benar-benar teruji/terbukti melalui keberhasilan pengoperasian
Aplikasi (penerapan) teknologi secara nyata dalam bentuk akhirnya dan di bawah kondisi yang dimaksudkan
(direncanakan) sebagaimana dalam pengujian dan evaluasi operasional. Pada umumnya, ini merupakan bagian/aspek terakhir dari upaya perbaikan/penyesuaian (bug fixing) dalam pengembangan sistem yang
sebenarnya. Contoh-contohnya termasuk misalnya pemanfaatan sistem dalam kondisi misi operasional.
8
Sistem telah lengkap dan memenuhi syarat (qualified) melalui pengujian dan demonstrasi dalam lingkungan/ aplikasi sebenarnya
Teknologi telah terbukti bekerja/berfungsi dalam bentuk akhirnya dan dalam kondisi sebagaimana yang
diharapkan. Pada umumnya, TKT ini mencerminkan akhir dari pengembangan sistem yang sebenarnya. Contohnya termasuk misalnya uji pengembangan dan evaluasi dari sistem dalam sistem persenjataan sebagaimana dirancang dalam rangka memastikan pemenuhan persyaratan spesifikasi desainnya.
42 TRL Penjelasan 7 Demonstrasi prototipe sistem dalam lingkungan/aplikasi sebenarnya
Prototipe mendekati atau sejalan dengan rencana sistem operasionalnya. Keadaan ini mencerminkan langkah perkembangan dari TKT/TRL 6, membutuhkan demonstrasi dari prototipe sistem nyata dalam suatu lingkungan operasional, seperti misalnya dalam suatu peswat terbang, kendaraan atau ruang angkasa. Contoh-contohnya termasuk misalnya pengujian prototipe dalam pesawat uji coba (test bed aircraft).
6 Demonstrasi model atau prototipe sistem/subsistem dalam suatu lingkungan yang relevan
Riset/penelitian dan pengembangan secara aktif dimulai. Hal ini dapat menyangkut studi analitis dan studi
laboratorium untuk memvalidasi secara fisik atas prediksi analitis tentang elemen-elemen terpisah dari teknologi. Contoh-contohnya misalnya komponen-komponen yang belum terintegrasi ataupun mewakili.
5 Validasi kode, komponen dan/atau breadboardvalidation dalam suatu lingkungan simulasi
Keandalan teknologi yang telah terintegrasi (breadboard technology) meningkat secara signifikan. Komponen-komponen teknologi yang mendasar diintegrasikan dengan elemen-elemen pendukung yang cukup realistis sehingga teknologi yang bersangkutan dapat diuji dalam suatu lingkungan tiruan/simulasi. Contoh-contohnya misalnya integrasi komponen di laboratorium yang telah memiliki keandalan tinggi ('high fidelity').
4 Validasi kode, komponen dan/atau breadboardvalidation dalam lingkungan laboratorium
Komponen-kompoenen teknologi yang mendasar diintegrasikan untuk memastikan agar bagian-bagian tersebut secara bersama dapat bekerja/berfungsi.Keadaan ini masih memiliki keandalan yang relatif rendah
dibanding dengan sistem akhirnya. Contoh-contohnya