• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS CAPAIAN KINERJA …

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

3.2 ANALISIS CAPAIAN KINERJA …

Sesuai dengan Penetapan Kinerja DKP tahun 2014, sasaran strategis pembangunan kelautan dan perikanan adalah :

1. Meningkatnya kapasitas sentra-sentra produksi kelautan dan perikanan yang memiliki komoditas unggulan

2. Meningkatnya ketersediaan produk konsumsi hasil kelautan dan perikanan 3. Terwujudnya pemanfaatan sumber daya laut dan perairan umum secara

bertanggungjawab

4. Terwujudnya pengelolaan konservasi kawasan secara berkelanjutan

5. Meningkatnya jumlah kelompok masyarakat pelaku usaha kelautan dan perikanan yang mandiri

Sasaran strategis di atas ditetapkan berdasarkan pertimbangan bahwa potensi sumber daya kelautan dan perikanan dapat menjadi unggulan strategis sebagai motor penggerak dalam pembangunan perekonomian daerah Banyuwangi.

Peranan sektor kelautan dan perikanan dalam pembangunan daerah terutama adalah mendorong pertumbuhan agroindustri melalui penyediaan bahan baku, meningkatkan kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani atau nelayan serta menunjang pembangunan daerah. Sejalan dengan itu, maka kebijaksanaan umum pembangunan sektor kelautan dan perikanan harus berorientasi pada peningkatan produktivitas, nilai tambah, perluasan kesempatan kerja dan efisiensi usaha serta peningkatan pendapatan usaha sektor kelautan dan perikanan. Dengan demikian maka sasaran pembangunan kelautan dan perikanan perlu ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan.

Strategi yang dilakukan untuk mencapai sasaran tersebut adalah seperti yang tertera di dalam Rencana Strategis (Renstra) DKP 2011–2015. Keberhasilan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) 2014

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 51 pencapaian kelima sasaran tersebut ditentukan berdasarkan lima indikator utama.

Adapun analisa pencapaian dari masing-masing indikator tersebut adalah sebagai berikut:

3.2.1 Produksi Perikanan

Indikator pengukuran untuk pencapaian sasaran strategis meningkatnya kapasitas sentra-sentra produksi kelautan dan perikanan yang memiliki komoditas unggulan adalah peningkatan produksi perikanan. Pengukuran capaian untuk tahun 2014 menunjukkan melampaui target sampai dengan 127,5%. Hal ini ditunjang oleh pencapaian produksi perikanan tangkap dan budidaya yang bisa melampaui target.

Capaian jumlah produksi perikanan tahun 2014 meningkat 16% dibandingkan dengan tahun 2013 yaitu dari 73.145,5 ton naik menjadi 84.829 ton. Peningkatan ini dipengaruhi oleh peningkatan produksi sektor perikanan tangkap yang cukup signifikan yaitu meningkat 22% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (dari 49.682 ton meningkat menjadi 60.466 ton).

Peningkatan produksi tangkap selain dipengaruhi oleh faktor alam dimana lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya juga dipengaruhi oleh perubahan pola tangkap nelayan dan penggunaan alat bantu penangkap ikan yaitu rumpon.

Sedangkan untuk sektor budidaya perikanan juga terus menunjukkan perkembangan yang cukup baik dari tahun ke tahun. Jumlah produksi selalu bisa melampaui target. Data menunjukkan bahwa hasil produksi sektor budidaya perikanan mengalami peningkatan 3,2% yaitu dari 23.463,5 ton di tahun 2013 menjadi 24.217 di tahun 2014.

Pengembangan budidaya perikanan sedikit lebih mudah dibandingkan dengan perikanan tangkap, karena didalam budidaya perikanan interfensi rekayasa manusia bisa berpengaruh lebih besar dari pada faktor alam. Kendala

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 52 terbesar yang dihadapi saat ini dalam pengembangan budidaya perikanan adalah tingginya harga pakan dan sulitnya pengendalian hama penyakit ikan.

Di tahun 2014, pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Banyuwangi, telah melakukan berbagai strategi untuk meningkatkan produksi perikanan, yaitu antara lain dengan meningkatkan kapasitas sentra-sentra produksi kelautan dan perikanan yang memiliki komoditas unggulan. Adapan penjabaran program dan kegiatan penunjang tercapainya sasaran strategis tersebut adalah sebagai berikut :

3.2.1.1 Jumlah produksi perikanan budidaya dan peningkatan luas pemanfaatan usaha budidaya

Melalui program pengembangan budidaya perikanan, banyak kegiatan yang telah dilakukan untuk peningkatan produksi dan luas usaha perikanan budidaya. Ada 3 jenis usaha budidaya perikanan yang menjadi sasaran kegiatan yaitu budidaya perikanan air tawar, budidaya perikanan air payau dan

budidaya air laut. Masing-masing sektor memberi kontribusi yang signifikan

untuk pencapaian target produksi perikanan.

Sektor budidaya perikanan air tawar memberi kontribusi 14% terhadap

total produksi perikanan budidaya. Jumlah produksi perikanan air tawar tahun 2014 adalah sebesar 3.185 ton dengan nilai produksi sebesar Rp. 64.665.140.000,-. Berdasarkan data, perkembangan jumlah produksi budidaya perikanan air tawar terus meningkat sejak 5 tahun terakhir.

Tabel 3.3 Data Jumlah & Nilai Produksi Budidaya Air Tawar 5 Tahun Terakhir (2010-2014)

Tahun Produksi (ton) Nilai (Rp)

2010 1.648 13.983.521.500

2011 2.051 19.924.460.000

2012 2.521 26.590.905.000

2013 3.130 53.629.363.000

2014 3.185 64.665.140.000

Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) 2014

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 53

500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 2010 2011 2012 2013 2014

Produksi (ton)

Produksi (ton)

Data diatas menunjukkan bahwa produksi perikanan budidaya air tawar meningkat cukup signifikan dari tahun ke tahun. Demikian pula dengan nilai produksi nya. Meskipun kontribusinya untuk total produksi perikanan budidaya berada jauh dibawah budidaya air payau namun usaha budidaya air tawar merupakan sektor usaha yang banyak dilakukan oleh masyarakat perikanan skala kecil menengah (UKM).

Jika digambarkan dalam bentuk grafik maka perkembangan produksi budidaya perikanan air tawar dalam 5 tahun terakhir adalah sebagi berikut :

Gambar 3.1 Grafik Perkembangan Produksi Budidaya Air Tawar Tahun 2010-2014

Karena mayoritas pelaku usaha perikanan air tawar adalah kelompok masyarakat usaha kecil, dengan strategi pemerintah yang pro growth, pro poor dan pro job, maka sektor ini menjadi fokus utama pemerintah dalam program pengembangan budidaya perikanan.

Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan untuk menunjang sektor budidaya air tawar pada tahun 2014 adalah sebagai berikut :

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 54  Kegiatan pembangunan kolam ikan untuk demplot budidaya nila, budidaya

lele dan kolam air deras. Yaitu berupa bantuan pembangunan kolam yang mana masing-masing diberikan kepada 1 kelompok pembudidaya. Lokasi dari masing-masing kegiatan yaitu demplot budidaya nila di kecamatan Sempu (ds. Jambewangi), demplot budidaya lele di kecamatan Genteng (ds. Gentengwetan), dan demplot budidaya ikan kolam air deras di kecamatan Glenmore.

Gambar 3.2 Kegiatan demplot budidaya nila, lele dan kolam air deras

 Bantuan bibit ikan unggul untuk POKDAKAN. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengakomodir usulan masyarakat yang diajukan melalui MUSRENBANGCAM. Kegiatan pemberian bantuan bibit ini juga diharapkan akan ikut mendukung program Gerakan 10.000 kolam pekarangan.

Dalam pelaksanaannya bantuan bibit ikan dan pakan diberikan kepada 13 kelompok pembudidaya ikan yang tersebar di delapan kecamatan yaitu Sempu, Purwoharjo, Muncar, Wongsorejo, Srono, Glenmore, Tegalsari, Banyuwangi. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat membantu meringankan biaya produksi pokdakan dan meningkatkan produksi budidaya ikan air tawar.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) 2014

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 55

Gambar 3.3 Kegiatan pemberian bantuan bibit ikan untuk POKDAKAN

 Demplot budidaya sidat. Dalam kegiatan ini telah diberikan bantuan bibit ikan sidat dan pakan kepada 2 kelompok pembudidaya ikan di kecamatan Gambiran dan Singojuruh. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat membantu penyediaan modal usaha bagi pembudidaya ikan skala kecil, meningkatnya pemanfaatan lahan budidaya oleh masyarakat untuk usaha budidaya ikan sidat, dan meningkatnya pengetahuan serta ketrampilan kelompok pembudidaya ikan melalui demplot budidaya ikan sidat.

Gambar 3.4 Bantuan Bibit Ikan Sidat

Budidaya sidat bagi kelompok masyarakat masih belum begitu berkembang di Banyuwangi . Hal ini disebabkan sulitnya proses pembenihan sidat. Benih sidat yang umumnya didatangkan dari luar daerah dan harganya cukup mahal. Melihat tingginya nilai harga maupun manfaat ikan sidat, pemerintah mencoba menggalakkan budidaya komoditas ini.

 Pembinaan dan pengembangan budidaya ikan dalam kolam terpal. Pada tahun 2014 telah diberikan bantuan 256 unit kolam terpal untuk 14 pokdakan. Kegiatan ini dapat mendukung tercapainya target peningkatan luas usaha perikanan. Selain itu kegiatan ini juga untuk mendukung program gerakan 10.000 kolam pekarangan. Kolam terpal dapat digunakan oleh pembudidaya yang memiliki lahan terbatas.

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 56

Gambar 3.5 Bantuan kolam terpal

Sentra usaha budidaya kolam air tawar berpotensi paling besar dibandingkan dengan budidaya karamba atau mina padi. Perbandingan perkembangan produksi budidaya ikan dalam kolam, karamba dan mina padi di Kabupaten Banyuwangi selama 5 tahun terakhir (2010-2014) dapat dilihat pada gafik berikut :

Tabel 3.4 Data Jumlah Produksi Budidaya Kolam Air Tawar 5 Tahun Terakhir (2009-2014) Tahun Produksi (Kg) Nilai (Rp) Luas (ha) 2010 1.517.850 13.139.436.500 146,47 2011 2.051.242 19.924.460.000 169,54 2012 2.521.283 25.556.660.000 171,18 2013 3.103.302 53.629.363.000 171,20 2014 3.082.493 62.399.035.000 171,20

Karena melihat potensi ini maka pemerintah daerah Banyuwangi mencanangkan program Gerakan 10.000 kolam pekarangan pada awal tahun 2012.

Meskipun sentra usaha kolam ikan air tawar dianggap paling potensial untuk jenis budidaya air tawar, namun pemerintah tetap berusaha mengembangkan jenis-jenis usaha budidaya air tawar lainnya. Dukungan pemerintah pada tahun 2014 dalam bentuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) 2014

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 57  KJA Percontohan Budidaya Ikan Air Tawar. Dalam pelaksanaannya telah

diberikan bantuan 1 unit karamba jaring apung (KJA) budidaya ikan air tawar berikut bibit ikan nila dan pakan kepada 1 kelompok pembudidaya di kecamatan Gambiran.

Proses budidaya dengan menggunakan KJA biasanya dilakukan di sungai/ waduk/dam dengan kedalaman lebih dari 3m.

Gambar 3.6 Bantuan sarana budidaya KJA percontohan budidaya ikan air tawar

 Demplot budidaya ikan dalam karamba. Dalam kegiatan ini diberikan bantuan 60 unit karamba beserta benih ikan dan pakan kepada 5 kelompok pembudidaya. Kelompok penerima bantuan berasal dari kecamatan Siliragung, Glenmore, dan Purwoharjo.

Budidaya ikan dalam karamba dilakukan di sungai-sungai yang dangkal yang kedalamannya tidak mencapai 3 meter. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu penyediaan sarana usaha bagi pembudidaya ikan sistem karamba, meningkatnya pemanfaatan lahan aliran sungai oleh masyarakat sekitar untuk usaha budidaya ikan dalam karamba, dan meningkatnya pengetahuan serta keterampilan kelompok pembudidaya ikan di sekitar wilayah aliran sungai.

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 58

Gambar 3.7 Bantuan Sarana Budidaya Ikan Dalam Karamba

Perkembangan produksi budidaya ikan dalam karamba di Banyuwangi dalam 4 tahun terakhir (2011-2014) cukup menggembirakan dan cenderung meningkat. Berikut adalah data perkembangan jumlah produksi budidaya karamba dari tahun 2010-2014 :

Tabel 3.5 Data Jumlah Produksi Budidaya Perikanan Karamba di Kabupaten BanyuwangiTahun 2010-2014 Tahun Poduksi (Kg) Nilai (Rp) 2010 49.760 745.725.000 2011 27.121 406.815.000 2012 42.910 632.920.000 2013 69.769 1.255.935.000 2014 70.458 1.542.295.000

Meskipun kontribusi produksi budidaya karamba terhadap total produksi perikanan budidaya dianggap kecil, namun usaha budidaya ini dapat menjadi salah satu alternatif lapangan kerja dengan modal kecil dan cukup dengan memanfaatkan lahan perairan sungai dangkal.

Sentra usaha budidaya kedua yang menjadi fokus pembangunan Dinas

Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi adalah sentra usaha budidaya air laut. Bentuk kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung sentra usaha budidaya air laut yaitu pemberian bantuan sarana untuk demplot budidaya rumput laut.

Pada tahun 2014 telah diberikan bantuan bibit dan sarana produksi rumput laut kepada 2 kelompok pembudidaya rumput laut di kecamatan Wongsorejo. Kecamatan Wongsorejo termasuk cluster pengembangan budidaya

Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) 2014

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 59 perikanan dengan komoditas unggulan rumput laut, dan secara rutin selama 4 tahun terakhir menjadi sasaran lokasi kegiatan demplot budidaya rumput laut.

Pengembangan budidaya rumput laut terus dilakukan dari tahun 2011 - 2014. Dalam kurun waktu empat tahun tersebut ssejumlah 10 kelompok pembudidaya rumput laut telah menjadi kelompok binaan Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi. Perkembangan produksi rumput laut selama empat tahun terakhir cukup signifikan dan terus meningkat dari tahun ke tahun sebagaimana ditunjukkan dalam tabel data sebagai berikut:

Tabel 3.6 Perkembangan Produksi Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Banyuwangi Tahun Produksi (Kg) Nilai (Rp) Luas Area (ha) 2010 2.942.600 4.413.900.000 36 2011 7.722.850 9.267.420.000 163 2012 9.417.550 9.752.320.000 167 2013 9.140.850 10.969.020.000 825 2014 9.143.190 10.971.828.000 825

Tujuan dari pelaksanaan kegiatan demplot budidaya rumput adalah sebagai model / contoh usaha pemanfaatan lahan perairan laut oleh masyarakat. Diharapkan dengan adanya usaha budidaya rumput laut dapat ikut menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi perilaku penangkapan ikan secara tidak ramah lingkungan.

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 60

Gambar 3.8. Kegiatan Demplot Budidaya Rumput Laut

Sentra usaha budidaya perikanan ketiga yang menjadi fokus

pengembangan budidaya perikanan adalah usaha budidaya ikan air payau. Sentra ini menjadi penyumbang nilai produksi terbesar untuk jenis usaha budidaya perikanan. Kontribusinya untuk produksi perikanan budidaya mencapai 49 %.

Jenis komoditas utama budidaya air payau di Banyuwangi adalah udang vanname yaitu 95% dari seluruh usaha tambak yang ada. Perkembangan jumlah dan nilai produksi budidaya air payau 5 tahun terakhir adalah sebagaimana data yang tersaji dalam tabel berikut :

Tabel 3.7 Data Produksi& Nilai Produksi Budidaya Perikanan Tambak di Kabupaten Banyuwangi 2010-2014

Tahun Produksi (Kg) Nilai (Rp)

2010 7.094.410 243.081.960.000

2011 7.373.230 325.898.725.000

2012 9.815.350 438.221.400.000

2013 11.191.727 657.726.662.500

2014 11.888.078 799.434.405.000

Kabupaten Banyuwangi memiliki potensi lahan untuk budidaya air payau (tambak udang vanname) seluas 1.417,2 ha. Jumlah lahan yang telah dimanfaatkan sebesar 1.381 ha dengan kondisi lahan yang harus direvitalisasi sebesar 610 ha.

Program revitalisasi tambak membutuhkan anggaran yang sangat besar sehingga pemerintah daerah membutuhkan dukungan dari dana dari pemerintahan pusat (Kementrian Kelautan dan Perikanan). Kementrian Kelautan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) 2014

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 61 dan Perikanan (KKP) telah mengucurkan anggaran APBN melalui Tugas Pembantuan (TP) untuk program revitalisasi tambak sejak tahun 2013. Dan pada tahun 2014 anggaran TP yang digunakan untuk progam tersebut adalah sebesar Rp. 800.000.000,- (Delapan ratus juta rupiah). Sedangkan dukungan APBD untuk program tersebut sebesar Rp. 200.000.000,- (Dua ratus juta rupiah) yang digunakan untuk kegiatan normalisasi saluran tambak. Lokasi kegiatandi Desa Wringinputih, Kec. Muncar. Dengan adanya normalisasi saluran tambak maka proses produksi tambak akan berjalan lebih baik dan dapat meningkatkan jumlah produksi. Sehingga kegiatan ini dapat menunjang tercapainya target produksi perikanan budidaya.

Gambar 3.9 Kegiatan normalisasi saluran tambak di tahun 2014

3.2.1.2 Jumlah produksi benih BBI

Jumlah produksi benih BBI tahun 2014 mencapai 3.384.150 ekor, dengan rincian produksi benih BBI Genteng sebesar 2.030.490 ekor dan BBI Pakistaji sebesar 1.353.660 ekor. Capaian ini melampaui target sampai dengan 113%. Meskipun jumlah produksi melampaui target, namun jika dibandingkan dengan tahun 2013, produksi benih mengalami penurunan yang cukup besar yaitu 25%. Kendala terbesar yang dihadapi BBI adalah kurangnya persediaan air di musim kemarau, serangan hama penyakit pada induk ikan, dan minimnya kuantitas dan kualitas SDM pengelola BBI.

Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan di tahun 2014 untuk meningkatkan produksi benih BBI antara lain penyediaan sarana produksi dan

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 62 sarana penunjang BBI, peningkatan kuantitas SDM pengelola BBI melalui perekrutan Tenaga Harian Lepas (THL), rehab saluran dan bak reservoir air.

Gambar 3.10 Beberapa Kegiatan Pembangunan di BBI tahun 2014

Untuk mendukung peningkatan jumlah produksi benih daerah, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Banyuwangi juga melaksanakan kegiatan untuk pengembangan UPR. Kegiatan berupa pemberian bantuan induk unggul, calon induk beserta pakan kepada 5 kelompok UPR, dan bantuan peralatan pembenihan kepada 10 kelompok UPR. Kelompok UPR tersebut tersebar di 10 kecamatan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan produksi benih rakyat. Sehingga diharapkan produksi benih rakyat bisa membantu BBI dalam mencukupi kebutuhan benih ikan didalam daerah.

Gambar 3.11 Bantuan Induk, Bibit Ikan dan Pakan untuk UPR

3.2.1.3 Jumlah produksi perikanan tangkap (laut & perairan umum)

Realita menunjukkan bahwa perkembangan produksi perikanan tangkap sangat dipengaruhi oleh kondisi alam. Namun pemerintah tetap harus melakukan langkah-langkah ataupun strategi untuk mengoptimalkan hasil perikanan tangkap dan mempertahankan kelestariannya. Perkembangan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) 2014

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 63

0 10.000.000 20.000.000 30.000.000 40.000.000 50.000.000 60.000.000 70.000.000 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Produksi (kg)

produksi perikanan tangkap (laut dan perairan umum) dalam 5 tahun terakhir adalah sebagaimana tersaji dalam data sebagai berikut :

Tabel 3.8 Jumlah Produksi Perikanan Tangkap (Laut & Perairan Umum) Tahun

2010-2014

Tahun Produksi (Kg) Nilai (Rp)

2009 51.443.636 164.873.013.200 2010 29.368.824 148.027.364.500 2011 40.527.587 350.768.713.500 2012 44.576.035 406.841.259.355 2013 49.682.095 659.391.962.500 2014 60.605.545 1.025.738.062.700

Perkembangan perikanan tangkap di kabupaten Banyuwangi mulai membaik setelah tahun 2009, dan terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan sampai dengan tahun 2014. Jika digambarkan dalam bentuk grafik, maka perkembangan produksi perikanan tangkap adalah sebagai berikut :

Gambar 3.12 Grafik Perkembangan Produksi Perikanan Tangkap Tahun 2009 - 2010

Untuk menunjang tercapainya target jumlah produksi perikanan tangkap, strategi yang dilakukan oleh pemerintah adalah:

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 64 a) meningkatkan sarana penangkap ikan nelayan kecil dengan motorisasi

armada. Diharapkan dengan motorisasi armada, para nelayan kecil bisa melakukan penangkapan ikan di area yang lebih jauh. Pada tahun 2014 telah diberikan bantuan perahu bermotor kepada 3 kelompok nelayan (Banyuwangi & Wongsorejo), dan 33 unit mesin perahu untuk 6 kelompok nelayan di Pesanggaran, Tegaldlimo, Muncar, Kabat dan Kalipuro.

b) melakukan strategi gerakan pemanfaatan rumpon. Rumpon adalah alat bantu penangkap ikan. Rumpon menjadi tempat berkumpulnya ikan-ikan sehingga area dimana rumpon berada bisa disebut sebagai fishing ground buatan. Tahun 2014 telah diberikan bantuan 30 unit rumpon laut dangkal kepada 4 kelompok nelayan dan 3 unit rumpon laut dalam kepada 3 kelompok nelayan

c) meningkatkan pemanfaatan alat tangkap yang legal dan ramah lingkungan. Untuk strategi ini pemerintah mengambillangkah memberikan bantuan alat tangkap jaring senar, gillnet, dan jaring millenium untuk 5 kelompok nelayan di Pesanggaran, Purwoharjo, dan Wongsorejo

d) meningkatkan mutu hasil tangkap dengan memberikan bantuan sarana penyimpan ikan diatas kapal kepada nelayan tradisional.

e) meningkatkan kemampuan nelayan untuk mendapatkan modal usaha dari perbankan. Langkah yang dilakukan pemerintah yaitu dengan menfasilitasi nelayan untuk proses sertifikasi hak atas tanah (SEHAT) nelayan secara gratis. Tahun 2014 telah dilaksanakan SEHAT untuk 20 nelayan di Muncar dan Grajagan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) 2014

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 65

Gambar 3.13 Beberapa bantuan sarana yang diberikan kepada kelompok nelayan pada tahun anggaran 2014

f) melakukan kegiatan restocking di perairan umum daerah untuk meningkatkan ketersediaan SDI di perairan umum. Tahun 2014 telah dilakukan kegiatan restocking di 5 kecamatan yaitu Srono, Glenmore, Songgon, Tegalsari dan Sempu

Gambar 3.14 Kegiatan restocking SDI pada tahun anggaran 2014

Selain kegiatan pendampingan pada kelompok nelayan, untuk menunjang pengembangan perikanan tangkap juga dilakukan pembangunan dan pengembangan fasilitas sarana prasarana TPI.

Pada tahun 2014 telah dilaksanakan kegiatan pembangunan dan peningkatan infrastruktur TPI yaitu :

a) pembangunan TPI di desa Badean kecamatan Kabat. Pembangunan ini dilaksanakan untuk mengakomodir usulan masyarakat nelayan di kawasan tersebut. Karena kawasan pesisir wilayah Badean mulai ramai sebagai tempat pendaratan perahu nelayan.

b) rehabilitasi TPI Grajagan. TPI ini sudah beroperasi lebih dari 20 tahun dan perlu dilakukan renovasi.

c) pembangunan instalasi air bersih di TPI Satelit.

d) rehab trap/tangga di kawasan TPI Brak Kalimoro. Kondisi trap sudah rusak parah karena hempasan ombak, sehingga perlu diperlu diperbaiki supaya bisa berfungsi kembali.

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 66 29 29,5 30 30,5 Target Capaian

e) pengadaan alat-alat penunjang operasional TPI seperti kursi, sound system dan timbangan.

Gambar 3.15 Beberapa kegiatan pembangunan Sarpras Kelautan dan Perikanan tahun 2014

3.2.2 Nilai Konsumsi Ikan

Indikator kinerja nilai konsumsi ikan (kg/kap/th) digunakan untuk mengukur tingkat ketersediaan hasil produk perikanan untuk dikonsumsi yang mana produk tersebut bisa berasal dari perikanan tangkap maupun budidaya. Berdasarkan Renstra Dinas Kelautan dan Perikanan 2010-2015 target konsumsi adalah 30,1 kg/kap/th. Tingkat pencapaian sementara adalah 30,1 kg/kap/th atau tercapai 100% sesuai target. Dibandingkan dengan tahun 2013 maka angka konsumsi ikan meningkat 1%. Jika menelaah periode 5 tahun kebelakang (tahun 2010) yang mana angka konsumsi ikan saat itu adalah 29 kg/kap/th, maka peningkatan angka konsumsi ikan mencapai 3,79 %

Perbandingan perkembangan target dan capaian tingkat konsumsi ikan selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 3.16 Grafik Perkembangan Target dan Capaian Tingkat Konsumsi Ikan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) 2014

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 67 Angka diatas menunjukkan bahwa ketersediaan produk perikanan untuk konsumsi di tingkat daerah tercukupi dan tersedia dengan baik. Hal ini didukung oleh adanya peningkatan produksi perikanan dalam daerah, baik perikanan tangkap maupun budidaya. Pencapaian konsumsi ikan di atas juga tidak terlepas dari pelaksanaan kegiatan fasilitasi penguatan dan pengembangan usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan di daerah, dimana melalui pelaksanaan kegiatan ini dapat diwujudkan tercapainya indikator kinerja kegiatan yang mendukung peningkatan konsumsi ikan sebagai berikut:

1) Promosi dan pemasaran produk hasil perikanan melalui kegiatan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) dan pameran.

GEMARIKAN merupakan wajib yang telah dicanangkan sejak tahun 2010 oleh pemerintah pusat. Tahun 2014 telah dilakukan kampanye gemar makan ikan kepada ± 1500 orang. Bentuk kegiatan berupa :

- Pemberian makanan tambahan berbahan dasar ikan untuk BALITA di POSYANDU

- Sosialisasi/ kampanye GEMARIKAN kepada siswa sekolah dan atlit - Lomba masak ikan

- Gerakan kantin GEMARIKAN

Dampak dari pelaksanaan kegiatan adalah meningkatnya pengetahuan dan wawasan guru, siswa maupun orang tua tentang arti pentingnya manfaat

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 68 makan ikan dalam kehidupan sehari-hari. Dan juga masyarakat bisa lebih mengenal variasi olahan produk konsumsi hasil perikanan.

Gambar 3.17 Kegiatan Kampanye Gemar Makan Ikan

Untuk kegiatan pameran, telah ikut berpartisipasi dalam pameran yang diselenggarakan oleh pemda, pemprop dan pemerintah pusat. Tahun 2014 DKP Kab. Banyuwangi ikut serta dalam 4 acara pameran yaitu : Pameran APKASI (Jakarta), Jatim Fair (Surabaya), Pameran UMKM Garden Mall (Surabaya), dan pameran dalam acara Banyuwangi Batik Festival (Banyuwangi).

Tujuan dari keikutsertaan dalam pameran adalah untuk mempromosikanan memperkenalkan produk hasil daerah ke luar daerah. Selain itu, juga diharapkan kita bisa mempelajari sekaligus membandingkan produk unggulan dari daerah lain.

Produk-produk hasil perikanan daerah Kab. Banyuwangi yang dipamerkan umumnya belum memiliki ciri khas daerah secara spesifik. Sehingga belum memiliki keunikan atau ciri khusus yang bisa membuat produknya lebih unggul/menarik dibandingkan daerah lain. Untuk mengembangkan pemasaran produk daerah keluar daerah, pemerintah daerah, dalam hal ini DKP, perlu menyusun langkah dan strategi untuk menciptakan produk olahan hasil perikanan khas daerah yang bisa diminati oleh daerah lain.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (LAKIP) 2014

Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Banyuwangi 69

Gambar 3.18 Kegiatan Pameran Produks Hasil Perikanan Yang Diikuti Tahun 2014

2) Pelatihan dan pemberian bantuan sarana pengolahan/pemasaran kepada

Dokumen terkait