• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

3.1. Analisis Capaian Kinerja

Dalam mencapai visi dan misinya, Baristand Industri Banjarbaru melaksanakan kegiatan yang mengacu pada Rencana Strategis (Renstra) BPPI tahun 2015-2019 dan Renstra Baristand Industri Banjarbaru tahun 2015-2019 yang setiap awal Tahun Anggaran ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kinerja (Perkin) Baristand Industri Banjarbaru tahun 2018.Pada Tahun Anggaran 2018 Perkin Baristand Industri Banjarbaru meliputi 4 (empat) Sasaran Strategis untuk melaksanakan kinerjanya yaitu :

1. Sasaran Strategis I : Meningkatnya Hasil-hasil Litbang yang Dimanfaatkan oleh Industri

2. Sasaran Strategis II : Meningkatnya Publikasi Ilmiah Hasil Litbang 3. Sasaran Strategis III : Meningkatnya Kualitas Pelayanan Publik 4. Sasaran Strategis IV : Meningkatnya Penerapan Reformasi Birokrasi

Berdasarkan Rencana Strategis Balai Riset dan Industri Banjarbaru TA. 2015-2019, capaian kinerja yang dapat terealisasi adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1

Capaian Kinerja Renstra Baristand Industri Banjarbaru TA. 2015-2018

Pada umumnya target tahun berjalan sesuai dengan target yang ada pada Renstra meskipun ada yang berkurang dari target renstra. Namun pada tahun 2018 ini, ada target pada renstra yang tidak dijadikan target pada tahun berjalan. Hal ini disebabkan kegiatan tersebut dilakukan secara terencana dan terawasi secara berkala melalui monitoring dan evaluasi kegiatan. Selama kurun waktu empat tahun ini bila dibandingkan dengan target jangka menengah, terdapat beberapa indikator yang telah mencapai target yaitu:

a. Hasil litbang yang telah diimplementasikan

b. Kerjasama Litbang dengan Instansi/ Lembaga/ Industri c. Lingkup Survailen ISO 17025

Sedangkan indikator yang tidak mencapai target adalah: a. Hasil litbang prioritas

b. Hasil teknologi yang dapat menyelesaikan permasalahan industri (problem solving) c. Paket peralatan laboratorium dan sarana pendukung balai

d. Indeks kepuasan pelanggan

Indikator-indikator tersebut tidak mencapai target disebabkan antara lain:

a. Indikator “Hasil Litbang Prioritas” tidak mencapai target karena hasil Technology

Readiness Level (TRL) dari litbang prioritas yang dilaksanakan tidak mencapai angka

Selain itu para peneliti selama ini juga terkendala dalam pengujian sampel uji yang harus menggunakan penyedia jasa dari luar dikarenakan fasilitas laboratorium di lingkup Baristand Industri Banjarbaru masih terbatas.

b. Indikator “Hasil teknologi yang dapat menyelesaikan permasalahan industri (problem

solvingi) tidak mencapai target jika dibandingkan dengan target jangka menengah,

namun tercapai jika dibandingkan dengan target tahun berjalan. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan target pada Renstra dan Perjanjian Kinerja. Penurunan target pada tahun berjalan dilakukan setelah adanya evaluasi dan analisis dari resiko dan pengalaman tahun ke tahun.

c. Indikator“Paket Peralatan Laboratorium dan Sarana Pendukung Balai” tidak mencapai target jangka menengah disebabkan indikator tersebut baru dimasukkan ke dalam Sasaran Renstra pada Tahun 2016 dan adanya perbedaan target pada Renstra dan Perjanjian Kinerja. Namun pada tahun 2018, indikator ini tidak dimasukkan dalam Perjakin dan tetap direalisasikan dalam tahun berjalan dengan hasil capaian sesuai target Renstra.

d. Indikator “Indeks Kepuasan Pelanggan” tidak tercapai target pada tahun 2016-2017 karena hasil survey kepuasan masyarakat tidak terpenuhi disebabkan pemenuhan SPM yang belum maksimal.

Memperhatikan realisasi yang tercapai sampai dengan TA. 2018, untuk memenuhi semua target pada akhir periode Renstra TA. 2019. Langkah-langkah yang akan dilaksanakan agar semua target dapat terealisasi adalah:

- Melakukan observasi pada kebutuhan industri dan berkoordinasi dengan para pelaku industri sehingga hasil penelitian diharapkan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi oleh pelaku industri.

- Meningkatkan fasilitas pengujian di Laboratorium Baristand Industri Banjarbaru. - Melakukan analisis dan evaluasi target pada Hasil Teknologi yang dapat menyelesaikan

permasalahan industri (problem solving) dengan perencanaan penelitian yang lebih memperhatikan hasil observasi lapangan dan berkoordinasi dengan para pelaku industri.

- Melakukan analisis dan evaluasi kuesioner kepuasan pelanggan

- Melakukan pengawasan terhadap proses pelayanan publik terutama dalam merespon pelanggan dan pemenuhan SPM Pengujian.

Untuk capaian kinerja kegiatan Baristand Industri Banjarbaru dengan alur IKU Renstra Kementerian Perindustrian dan Renstra Badan Penelitian dan Pengembangan Industri adalah sebagai berikut:

Tabel 3.2

Matriks Alur IKU Kementerian Perindustrian, BPPI sampai Perjanjian Kinerja Baristand Industri Banjarbaru TA. 2018

Dari matriks tersebut, telah disusun Rencana Aksi Perjanjian Kinerja Baristand Industri Banjarbaru Tahun Anggaran 2018, sebagai berikut:

Rencana Aksi Perjanjian Kinerja Baristand Industri Banjarbaru TA. 2018 Target Antara (%) Rencana kegiatan Target Antara (%) Rencana Kegiatan Target Antara (%) Rencana Kegiatan Target Antara (%) Rencana Kegiatan 1 5 6 7 8 9 10 11 12 1 25 Penyusunan KAK, studi pustaka, pengambilan bahan baku dan peralatan

25 Determinasi preparasi bahan baku dan ekstraksi

25 Pembuatan formulasi, analisis sifat fisik, kimia dan parmatologi 25 Analisis ekonomi, pembuatan laporan 25 Penyusunan KAK, studi pustaka, pengambilan bahan baku dan peralatan

25 Pembuatan pati sagu dan pengujian hasil

25 Pembuatan gelatin dan pengujian

25 Pengolahan data dan penyusunan laporan 25 Studi Literatur, pengadaan bahan dan peralatan 25 Proses ekstraksi kayu ulin 25 Proses perendaman dan pengujian kayu

25 Pengolahan data dan penyusunan laporan

25 Survei lapangan dan sosialisasi alat pengaduk multiguna untuk produk pangan

25 Unjuk kerja alat pengaduk multiguna untuk produk pangan

25 Proses kerja alat pengaduk multiguna untuk produk pangan

25 Penyusunan laporan

25 Survei lapangan dan sosialisasi alat pengering serbaguna produk pangan skala IKM

25 Unjuk kerja alat pengering serbaguna produk pangan skala IKM

25 Proses kerja alat pengering serbaguna produk pangan skala IKM

25 penyusunan laporan

1 Kerjasama

2 25 Identifikasi hasil

litbang untuk KTI

25 Proses penulisan KTI dan publikasi dalam jurnal

25 Proses penulisan KTI dan publikasi dalam jurnal

25 Laporan

25 Proses identifikasi dan seleksi hasil litbang untuk prosiding

25 Proses penulisan hasil litbang untuk prosiding

25 Proses penulisan hasil litbang untuk prosiding 25 Laporan 3 25 Pelaksanaan pengembangan pelayanan publik, penataan internal balai untuk pelayanan publik (SDM, sarana prasarana, sistem manajemen, teknologi informasi) dan implementasi nya ; penyiapan kuesioner kepuasan pelanggan, identifikasi responden, rencana dan pelaksanaan penyebaran kuesioner 25 Pelaksanaan dan pengembangan pelayanan publik, penyebaran dan pengumpulan kuesioner dan responden 25 Pelaksanaan dan pengembangan pelayanan publik, pelaksanaan temu pelanggan , konsinyering PPID, penyebaran dan pengumpulan kuesioner dari responden 25 Pelaksanaan pelayanan publik, penyebaran dan pengumpulan kuesioner dan responden, pengolahan data kepuasan pelanggan, evaluasi data kepuasan pelanggan dan penyusunan laporan 4

Karya Tulis Ilmiah yang diterbitkan di Prosiding Nasional dan/atau Internasional 10 KTI 25 Monev Triwulan IV

25 25 Monev Triwulan III

Tingkat Kepuasan Pelanggan

3,6 Indeks

Tingkat Maturitas SPIP

3,2 Indeks Monev Triwulan I

Meningkatnya publikasi ilmiah hasil itbang

Karya Tulis Ilmiah yang diterbitkan di Jurnal Nasional yang terakreditasi dan/atau Jurnal Internasional yang terindeks global 2 KTI 25 Monev Triwulan II Meningkatnya penerapan Reformasi Birokrasi Meningkatnya kualitas pelayanan publik

Hasil litbang yang telah diimplementasikan 1 Penelitian Pengembangan Prototipe Pengaduk Multiguna untuk Produk Pangan

Kerja sama litbang dengan industri/ instansi/lembaga terkait Hasil Teknologi Industri yang dapat menyelesaikan permasalahan industri (problem solving) 1 Penelitian Pengembangan Prototipe Pengering Serbaguna Produk Pangan Skala IKM

2 3 4

Meningkatnya hasil-hasil litbang yang dimanfaatkan oleh industri

Hasil litbang prioritas yang dikembangkan

3 Penelitian Ekstrak Kulit Kayu Bangkal (Nauclea

latifolia ) sebagai

Sediaan Masker dalam Bentuk Gel Peel Off dan Masker Sheet

No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target

Rencana Aksi

Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV

Konversi Pati Sagu dari Pohon Rumbia (Metroxylon sagu

Rottb ) sebagai Bahan

Baku Gelatin-Like Cangkang Kapsul

Peningkatan Kayu Kelas Kuat Rendah Menggunakan Pengawet Alami Ekstrak Kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri ) 25 Pembahasan 25 25 25 rencana kerjasama, pengajuan proposal dan pengajuan kerjasama Pengajuan proposal kerjasama, desain kerjasama dan proses kerjasama

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, pada tahun 2018 Baristand Industri Banjarbaru melaksanakan kegiatan yang terdiri darI 4 (empat) Sasaran Strategis dengan 8 (delapan) Indikator Kinerja. Dalam pelaksanaannya, setiap triwulan dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap capaian tersebut melalui Laporan Triwulanan, e-monitoring dan ALKI. Adapun realisasi fisik per triwulan dari Rencana Aksi yang dimaksud adalah:

Tabel 3.4

Dari tabel di atas dapat kita lihat pada umumnya, indikator kinerja telah mencapai target yang ditetapkan, bahkan untuk beberapa indikator kinerja melebihi target yang ditetapkan.Namun terdapat satu indikator yang realisasinya tidak mencapai target yaitu: Hasil Litbang Prioritas yang Dikembangkan yang memiliki target 3 (tiga) Penelitian yang mencapai TRL 6 pada akhir Tahun Anggaran 2018. Realisasi dari indikator ini adalah 1 (satu) Penelitian TRL 5 dan 2 (dua) Penelitian TRL 4. Kendala yang menyebabkan tidak tercapainya target tersebut adalah:

a. Penelitian belum pernah dilakukan sebelumnya sehingga belum yakin akan hasil penelitiannya.

b. Kebutuhan investasi sebagai syarat dari TRL 6 belum terealisasi secara keseluruhan. c. Hasil penelitian berupa pengujian dan prototipe telah diterima dan layak dalam skala

Diharapkan pada tahun selanjutnya, capaian kinerja dapat mencapai target yang telah ditetapkan sebagai bahan untuk tindak lanjut, evaluasi dan perbaikan dalam pelaksanaan program/kegiatan periode 1 (satu) tahun yang akan datang.

3.1.1. Analisis Capaian Kinerja Berdasarkan Perjanjian Kinerja TA. 2018

Adapun, penjelasan hasil capaian kinerja yang telah dilaksanakan dari masing-masing Sasaran Strategis tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sasaran Strategis I : Meningkatnya Pengembangan Inovasi dan Penguasaan Teknologi

Sasaran Strategis I ini berfokus kepada peningkatan hasil Litbang Baristand Industri Banjarbaru yang dapat dimanfaatkan oleh pihak industri yang memiliki keterkaitan dengan hasil Litbang tersebut dan kerja sama litbang dengan industri/ instansi/ lembaga/ terkait, Sasaran Strategis ini memiliki 4 (empat) indikator, yaitu : a. Indikator Kinerja I.1 : Hasil litbang prioritas yang dikembangkan

1) Hasil yang telah dicapai

Hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan memiliki kriteria, yaitu: 1. Penelitian dan Pengembangan prioritas yang mendukung Industri Prioritas

Berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN).

2. Hasil litbang dengan tekno meter yang mencapai minimal skala 6 dan memiliki studi kelayakan.

Libang prioritas yang dikembangkan pada Baristand Industri Banjarbaru adalah sebanyak 3 (tiga) penelitian dengan capaian 90% dikarenakan 1 (satu) penelitian dinilai sebagai TRL 5 dan 2 (dua) penelitian dinilai sebagai TRL 4. Judul-judul penelitian tersebut antara lain:

1. Penelitian Ekstrak Kulit Kayu Bangkal (Nauclea latifolia) Sebagai Sediaan Masker Dalam Bentuk Gel Peel Off dan Masker Sheet

Penelitian ini bermaksud untuk mengeksplorasi pemanfaatan kulit kayu bangkal sebagai bahan baku dan sediaan kosmetik. Penggunaan kulit kayu Indikator Kinerja I.1 Target Capaian % Capaian Hasil litbang prioritas yang

dikembangkan

bangkal secara tradisional oleh penduduk lokal menunjukkan kepercayaan akan khasiat bangkal terhadap perawatan kecantikan.

Tujuan penelitian secara umum adalah membuat formulasi sediaan ekstrak kayu bangkal yang digunakan sebagai bahan aktif masker gel peel off dan masker sheet produk kosmetika. Tujuan umum ini akan dicapai melalui beberapa tujuan khusus yaitu :

1. Mengoptimalkan ekstraksi kayu bangkal dengan tiga metode ekstraksi dan 4 jenis pelarut

2. Skrining aktivitas anti bakteri P. acne dan S. aureus penyebab jerawat serta anti radikal dari ekstrak kayu bangkal

3. Membuat formulasi masker gel peel of dan masker sheet yang mengandung ekstrak kayu bangkal.

Keluaran dari penelitian ini adalah formula masker peel off dan masker sheet yang mempunyai aktivitas anti jerawat.

Ruang lingkup kegiatan penelitian meliputi studi pustaka/ literatur, survey potensi kayu bangkal dan pengolahan bedak dingin bangkal, pengumpulan bahan baku, proses ekstraksi kulit kayu, pengujian ekstrak (skrining fitokimia, aktivitas antibakteri dan antioksidan /radikal DPPH) dan pembuatan formulasi masker.

Lokasi kegiatan survey di daerah Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Daerah pengambilan sampel kulit kayu bangkal di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Proses ekstraksi dan pengujian sebagian besar dilaksanakan di Laboratorium Baristand Industri Banjarbaru sementara formulasi serta pengujian masker dilakukan di Prodi Farmasi, Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat.

Kemungkinan resiko yang dihadapi dalam penelitian ini antara lain keterbatasan perangkat ekstraksi soxhlet yang masih menggunakan peralatan laboratorium pengujian, sehingga pemakaiannya bergantian dengan pengujian sampel jasa layanan. Hal ini mengakibatkan waktu proses ekstraksi menjadi lebih lambat dari seharusnya. Resiko lainnya adalah kerusakan yang sering terjadi pada perangkat rotary evaporator karena usia alat yang sudah tua. Hal ini menghambat proses penguapan ekstrak yang dapat berdampak pada stabilitas ekstrak, sehingga memerlukan proses tambahan seperti tahap penyimpanan dingin. Alternatif lain saat alat dalam proses perbaikan selain disimpan pada suhu dingin (rendah) adalah subkontrak proses penguapan di lab. Farmasi Universitas Lambung Mangkurat.

Gambar 3.1 Proses Ekstraksi

Gambar 3.2. Kenampakan gel peel off

Hasil dari penelitian ini adalah pelarut akuades memberikan hasil rendemen yang paling tinggi dibanding pelarut etanol dan etil asetat. Penggunaan pelarut etanol 96% dalam ekstraksi mampu meningkatkan total kandungan senyawa fenolik, flavonoid dan tanin dalam ekstrak. Tingginya kandungan senyawa fenolik pada ekstrak etanol tidak berkorelasi linier terhadap aktivitas antioksidan (penangkapan radikal DPPH) maupun aktivitas antibakteri. Ekstrak akuades mampu memberikan aktivitas antibakteri P. acne yang hampir setara dengan ekstrak etil asetat Ekstrak terpilih untuk proses formulasi masker sementara adalah ekstrak akuades dan etanol 96%. Penelitian

ini berhasil mencapai teknometer level 5 (bukti terlampir).

2. Penelitian Konversi Pati Sagu Dari Pohon Rumbia (Metroxylon sagu Rottb) Sebagai Bahan Baku Gelatin-like Cangkang Kapsul

Tanaman rumbia dikenal dengan nama sagu (Metroxylon sagu Rottb) termasuk tanaman yang tumbuh subur di daerah rawa berair tawar. Proses gelatinasi yang terjadi pada pati sagu dimanfaatkan untuk pembuatan cangkang kapsul. Secara definisi gelatinasi merupakan suatu proses pemecahan bentuk kristalin granula pati sehingga setiap lapisan permukaan molekulnya dapat menyerap air. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk memanfaatkan hasil hutan yaitu pohon rumbia (Metroxylon sagu Rottb) yang diambil kandungan patinya, untuk di konversi menjadi bahan baku pembuatan cangkang kapsul.

Penelitian diawali dengan pembuatan pati, dilanjutkan dengan pembuatan edible film. Tahap pertama pati sagu yang dibuat sebagai edible film dilakukan pengujian organoleptik berupa warna dan bau dimana memberikan hasil yang sesuai standard yaitu normal. Pengujian kadar air menggunakan metode gravimetri diperoleh hasil untuk sagu dengan keadaan yang dikeringkan sesuai dengan standard SNI 06.3735.1995 dan FI ed. IV. Serta pada tahap ini dilakukan pengujian logam berat menggunakan AAS, yang memberikan hasil yang negatif untuk semua variasi. Pengujian fisik berupa viskositas dengan metode Brook field semakin tinggi kadar karagenan viskositas semakin rendah, sedangkan untuk uji kuat tarik edible film berdasarkan metode ASTM D 882-2002 yang memberikan hasil positif untuk sagu kering 21,05 Kg/cm2; sagu segar dimodifikasi dengan 20% dan 30% karagenan masing-masing 5,33 Kg/cm2; dan 18,18 Kg/cm2. Selain itu juga dalam pengujian kandungan proksimat yang merupakan nilai lebih dari bahan baku nabati memberikan nilai yang baik dibandingkan dengan gelatin komersial.

Gambar 3.4. Proses pengambilan sampel (Batang Rumbia) di Desa Margasari Kab. Tapin Kalimantan Selatan

Gambar 3.5. Proses pembuatan Edible film untuk melakukan pengujian pendahulan sebelum pencetakan cangkang kapsul

Gambar 3.6. Hasil pencetakan cangkang kapsul dari pati sagu

dan perbandingan dengan kapsul komersial (orange putih) kapsul rumput laut (merah) kapsul pati sagu (putih)

Penentuan cangkang kapsul dengan kualitas mutu yang baik berdasarkan hasil uji kekerasan untuk cangkang kapsul pati sagu telah mendekati dari cangkang kapsul komersial dan rumput laut yaitu 4,7 kg; 6,5 kg; dan 5,4 kg berdasarkan SNI 06.3735.1995 dan FI ed. IV. Selain itu untuk pengujian ketahanan dalam air, asam lambung, dan usus cangkang kapsul pati sagu memberikan nilai yang bagus dan telah memenuhi standard. Pengujian aktivitas antibakteri sangat dipengaruhi dari tempat dan proses pembuatan cangkang kapsul sehingga nilai hasil pengujian masih positif untuk uji ALT dan

Staphylococcus aureus, akan tetapi memberikan nilai negatif untuk pengujian E. Coli dan Salmonella. Penelitian ini telah dilakukan penilaian teknometer dengan

nilai TRL 4 (bukti terlampir).

3. Penelitian Peningkatan Kayu Kelas Kuat Rendah Menggunakan Pengawet Alami Ekstrak Kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri)

Pada proses pengawetan kayu, umumnya digunakan bahan kimia sebagai bahan pengawet. Penggunaan bahan kimia ini cukup berbahaya jika digunakan dalam konsentrasi tinggi. Pada industri pengolahan kayu, khususnya industri kayu ulin yang merupakan kelas awet I, menghasilkan limbah berupa serbuk gergaji yang jumlahnya cukup banyak. Banyaknya limbah yang belum termanfaatkan secara optimal inilah, menjadi pertimbangan serbuk gergajian kayu ulin untuk dimanfaatkan sebagai pengawet alami.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan daya awet kayu kelas awet rendah dengan memanfaatkan ekstrak limbah padat serbuk gergajian kayu ulin sebagai pengawet alami kayu kelas awet rendah. Tahapan dari penelitian ini adalah melakukan ekstraksi serbuk kayu ulin, pengujian ekstrak ulin, proses pengawetan kayu sengon dan kayu karet serta pengujian kayu yang

telah diawetkan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah didapatkannya serbuk ekstrak kayu ulin yang dapat meningkatkan keawetan kayu karet dan kayu sengon. Semakin tinggi konsentrasi serbuk ulin dalam pelarut, rendemen ekstrak dan hasil uji fitokimia, nilainya cenderung mengalami penurunan dikarenakan kondisi larutan yang sudah jenuh. Berdasarkan uji fitokimia, ekstrak kayu ulin mengandung senyawa tanin, alkaloid, flavonoid, saponin, dan total fenolik.

Pada uji ketahanan terhadap serangan rayap tanah (Coptotermes

curvignathus Holmgren), ekstrak kayu ulin mampu menaikkan klasifikasi

ketahanan hingga 2 (dua) tingkat, meskipun masih ada serangan pada kayu karet dan kayu sengon. Mortalitas rayap tanah yang diumpankan ke kayu karet dan kayu sengon adalah sebesar 100% baik 5% hingga 20%. Sedangkan untuk uji ketahanan terhadap serangan rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus

Light) masih belum efektif dikarenakan masih ada serangan serta rayap kayu

kering juga masih banyak yang hidup.

Ekstrak setelah disaring Ekstrak+maltodextrin (setelah mixing)

Ekstrak setelah dihancurkan dan dihaluskan Ekstrak setelah dikeringkan Gambar 3.7. Kondisi ekstrak ulin awal hingga setelah pengeringan

Pada penelitian ini dilakukan uji sifat mekanik kayu yang telah diawetkan. Parameter yang diuji antara lain MOR, MOE, Keteguhan tekan sejajar serat, keteguhan tekan tegak lurus serat, keteguhan tarik, keteguhan belah, dan keteguhan

geser. Berdasarkan hasil penelitian, pengawetan 20% ekstrak selama 1 jam, mampu meningkatkan sifat mekanik kayu karet secara berturut-turut MOR, MOE, Keteguhan tekan sejajar serat, keteguhan belah sebesar 12,63%; 18,0%; 28,37%; 27,12%. Sedangkan untuk kayu sengon mampu meningkatkan sifat mekanik kayu karet secara berturut-turut MOR, MOE secara sebesar 0,033% dan 11% Peningkatan sifat mekanik tertinggi adalah pada paremeter keteguhan geser hingga 178% untuk kayu karet dan kayu sengon sebesar 107%. Resiko yang dapat terjadi selama kegiatan penelitian antara lain, kesulitan dalam memperoleh bahan baku, peralatan laboratorium yang mengalami kerusakan, adanya waktu tunggu dalam pelaksanaan pengujian hasil baik ekstrak maupun dalam pengujian kayu.Berdasarkan penilaian teknometer, capaian TRL adalah 4 (bukti terlampir).

Gambar 3.8. Produk Kayu

Apabila dibandingkan, maka Jumlah Hasil Penelitian dan Pengembangan yang Siap Diterapkan dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2015 dan Hasil Litbang Prioritas yang Dikembangkan TA. 2018 adalah sebagai berikut :

Tabel 3.5

Perbandingan Capaian Jumlah Hasil Penelitian dan Pengembangan Prioritas 2013-2018 Indikator Kinerja Capaian TA. 2013 Capaian TA. 2014 Capaian TA. 2015 Indikator Kinerja Capaian TA. 2016 Capaian TA. 2017 Capaian TA. 2018 Hasil litbang yang siap diterapkan 3 4 2 (1 TRL 6, 1 TRL 5) Hasil Litbang prioritas yang dikembangkan 1 (TRL 5) 1 (TRL 5) 3 (2 TRL 4, 1 TRL 5)

Hasil litbang yang yang siap diterapkan dan hasil litbang prioritas yang dikembangkan dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir ini memiliki memiliki peningkatan yang signifikan sampai tahun 2014. Namun sejak tahun 2015 mengalami

penurunan target dengan hanya memiliki hasil litbang yang siap diterapkan sebanyak 2 (dua) judul. Demikian pula tahun 2017, hasil litbang prioritas yang dikembangkan sebanyak 1 (satu) judul. Pada tahun 2018 target kembali ditingkatkan menjadi sebanyak 3 (tiga) litbang.

2) Analisa hasil yang telah dicapai

Penurunan target sejak tahun 2015 disebabkan judul litbang tahun berjalan yang memenuhi kriteria sebagai litbang yang siap diterapkan dan litbang prioritas terbatas, sehingga target untuk litbang yang siap diterapkan diturunkan sejak tahun 2015. Pada tahun 2018, dari ketiga judul tersebut belum ada yang bisa mencapai target TRL 6. Target TRL 6 terakhir yang dapat dicapai adalah hasil litbang pada tahun 2015.

Beberapa kendala yang dihadapi TA. 2018 antara lain:

a. Pengujian yang masih banyak menggunakan jasa dari penyedia jasa pengujian luar karena keterbatasan pengujian di Laboratorium Baristand Industri Banjarbaru sehingga mempengaruhi waktu pelaksanaan pengujian.

b. Hasil penelitian berupa hasil pengujian dan prototipe yang telah layak diterima dalam skala industri belum terealisasi.

Kendala TA. 2017 yang telah ditindaklanjuti pada TA. 2018 adalah observasi lapangan sehingga jumlah penelitian yang dilaksanakan meningkat. Namun hal ini masih belum memberikan hasil yang maksimal yaitu mampu mencapai TRL 6.

3) Rekomendasi

Tindak lanjut terhadap kendala di atas telah dilakukan evaluasi dan analisis sehingga telah dilakukan upaya untuk menurunkan resiko pengaruh dari kendala tersebut. Upaya yang dilakukan adalah perencanaan penelitian yang matang oleh peneliti harus bersumber dari Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN), selain melakukan observasi lapangan dan berkoordinasi dengan pelaku industri. Sehingga diharapkan penelitian yang dihasilkan bisa menjadi litbang prioritas yang bermanfaat langsung kepada pelaku industri terkait.

b. Indikator Kinerja I.2 : Hasil Litbang yang Telah Diimplementasikan 1) Hasil yang telah dicapai

Hasil litbang yang telah diimplementasikan, memiliki kriteria:

1. Hasil litbang/perekayasaan yang telah diterapkan di dunia usaha/industri pada Tahun Anggaran 2018;

2. Sudah ada bukti kerjasama (MoU);

Realisasi fisik dari indikator hasil litbang yang telah diimplementasikan ini sebesar 100%. Hasil litbang yang telah diimplementasikan untuk Tahun Anggaran 2018 Baristand Industri Banjarbaru adalah penelitian dengan judul “Pengembangan Prototype Pengaduk Multiguna Untuk Produk Pangan” dengan peneliti Budi Tri C

Dokumen terkait