• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKUNTABILITAS KINERJA

3.1. ANALISIS CAPAIAN KINERJA

Pengukuran capaian kinerja LAPAN dilakukan dengan cara membandingkan antara target rencana dan realisasi IKU. Tahun 2016, LAPAN bertanggung jawab terhadap 11 Indikator Kinerja Utama (IKU) yang tertuang dalam dokumen Perjanjian Kinerja (PK) awal tahun. Dari hasil pengukuran kinerja, secara keseluruhan tingkat capaian kinerja LAPAN terhadap capaian IKU adalah sebesar 109%. Nilai tersebut dihitung berdasarkan rata-rata persentase dari seluruh capaian IKU. Dari 11 (sebelas) IKU yang diperjanjikan, sebanyak 9 (sembilan) IKU dinyatakan berhasil, 1 (satu) IKU tidak tercapai dan 1 (satu) IKU belum dapat dilaksanakan. IKU dinyatakan berhasil jika capaiannya ≥ 100% dari target yang telah ditetapkan. Adapun rincian dari realisasi kinerja LAPAN berdasarkan sasaran strategis dan IKU adalah sebagai berikut:

AKUNTABILITAS KINERJA

Sasaran Strategis dan IKU Target Realisasi Capaian

1. Meningkatnya penguasaan dan kemandirian Iptek penerbangan dan antariksa

• IKU 1 : Jumlah tipe roket untuk

penggunaan khusus 2 Tipe 2 Tipe 100%

• IKU 2 : Jumlah tipe satelit untuk

pemantauan 2 Tipe 2 Tipe 100%

• IKU 3 : Jumlah tipe pesawat udara tanpa

awak untuk pemantauan 2 Tipe 2 Tipe 100%

• IKU 4 : Jumlah produk desain pesawat transport nasional yang siap diproduksi oleh industri penerbangan

1 Produk desain 1 Produk desain 100%

• IKU 5 : Jumlah model pemanfaatan Iptek penerbangan dan antariksa untuk pemantauan SDA, lingkungan serta mitigasi bencana dan perubahan iklim

15 Model 15 Model 100%

• IKU 6 : Jumlah publikasi nasional

terakreditasi 60 Makalah 60 Makalah 100%

• IKU 7 : Jumlah publikasi internasional yang terindeks di bidang teknologi penerbangan dan antariksa

20 Makalah 37 Makalah 185%

• IKU 8 : Jumlah Hak Kekayaan Intelektual

(HKI) yang berstatus granted 3 HKI 2 HKI 66,66%

2. Meningkatnya layanan Iptek penerbangan dan antariksa yang prima

• IKU 9 : Jumlah instansi pengguna layanan

Iptek penerbangan dan antariksa Instansi130 Instansi178 136%

• IKU 10 : Indeks Kepuasan Masyarakat atas pelayanan Iptek penerbangan dan antariksa

78,5 83,25 106,05%

3. Terlaksananya penyelenggaraan keantariksaan yang memenuhi standar

• IKU 11 : Persentase penyelenggara keantariksaan di Indonesia yang memenuhi standar

- -

-RATA-RATA CAPAIAN 109%

Tabel 3.1. Capaian Indikator Kinerja Utama 2016

Pendahuluan Perencanaan Kinerja Akuntabilitas Kinerja Peningkatan Akuntabilitas Kinerja Penutup

01 05 11 78 85

Berdasarkan tabel 3.1., berikut disampaikan analisis capaian kinerja LAPAN yang diuraikan berdasarkan sasaran strategis dan Indikator Kinerja Utamanya masing-masing.

Sasaran Strategis ke-1

Meningkatnya penguasaan dan kemandirian Iptek penerbangan dan antariksa

Sasaran strategis ke-1 bertujuan untuk mewujudkan salah satu tujuan dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 yaitu mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing bangsa dan negara dalam penyelenggaraan keantariksaan. Sasaran strategis ke-1 terdiri dari 8 (delapan) IKU yang dapat menggambarkan upaya pencapaian sasaran strategis tersebut, yaitu : Jumlah tipe roket untuk penggunaan khusus, Jumlah tipe satelit untuk pemantauan, Jumlah tipe pesawat udara tanpa awak untuk pemantauan, Jumlah produk desain pesawat transport nasional yang siap diproduksi oleh industri penerbangan, Jumlah model pemanfaatan Iptek penerbangan dan antariksa untuk pemantauan SDA, lingkungan serta mitigasi bencana dan perubahan iklim, Jumlah publikasi nasional terakreditasi, Jumlah publikasi internasional yang terindeks di bidang teknologi penerbangan dan antariksa, dan Jumlah Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang berstatus granted.

Indikator Kinerja Utama 1:

Jumlah tipe roket untuk penggunaan khusus IKU ini bertujuan untuk mengukur hasil pelaksanaan penelitian, pengembangan dan perkayasaan roket LAPAN dan selanjutnya dapat digunakan secara khusus oleh pengguna. Pada IKU ini, LAPAN menargetkan 2 tipe roket untuk penggunaan khusus yaitu: RX-1220 dan RX-450. Kegiatan pengembangan roket ini dilakukan melalui kerjasama pengembangan di dalam konsorsium roket nasional di bawah koordinasi kementerian terkait. Capaian yang diperoleh tahun 2016 adalah:

1. Roket RX-1220

Kegiatan pengembangan roket tipe RX-1220 tahun 2016 adalah penyempurnaan dari kegiatan tahun sebelumnya untuk menghasilkan roket berjarak jangkau roket sejauh ± 32 km. Kegiatan pengembangan roket RX-1220 pada tahun 2016 berada di bawah bimbingan Tim Teknis dari luar negeri. Kegiatan ini dimulai dengan kegiatan fabrikasi propelan dan dimasukkan ke dalam tabung motor roket secara case-bonded. Agar proses pengisian propelan secara case-bonded ini dapat dilakukan, terlebih dahulu dilakukan penelitian formulasi propelan, dimana salah satunya menggunakan bahan plasticiser agar viskositas slurry propelan tidak tinggi, sehingga bisa langsung dicetak di tabung motor roketnya. Pada bulan Februari 2016 telah dilakukan pengujian statis motor roket, dimana dihasilkan profil gaya dorong dan tekanan, sesuai dengan hasil perancangannya. Namun kondisi fisik dari propelan sendiri memang terdapat

kekurangsempurnaan, sehingga pada motor roket yang lain, terdapat crack (retakan) pada propelan tersebut, sehingga motor roket tersebut harus dilakukan demolisi, tanpa dilakukan pengujian statik.

LAPAN melakukan proses evaluasi uji statik, hasilnya dilakukan formulasi ulang propelan roket, dengan mengubah ratio Hydroxyl Terminated Poly Butadiene (HTPB) dan Isophorone Diisocyonate (IPDI). Dengan formulasi propelan tersebut, dilakukanlah fabrikasi propelan dan dicetak ke dalam tabung motor roket sebanyak 4 unit, yang diperuntukkan untuk pengujian dinamis roket. Setelah dilakukan assembling motor roket, dilanjutkan dengan integrasi sirip dan nosecone yang berisi material radar reflector, maka roket siap dilakukan pengujian dinamis. Pada bulan Agustus 2016, bertempat di Ambal, Kebumen Jawa Tengah, telah dilakukan pengujian dinamis terhadap 2 unit roket RX-1220. Sebagai pendeteksi jarak jangkau dan lintasan roket, digunakan peralatan radar. Dari hasil tracking menggunakan radar tersebut, diketahui kedua roket menghasilkan kinerja yang serupa dan terdeteksi berhasil mencapai jarak jangkau ± 32 km. Selain itu dari hasil pengamatan visual juga terlihat bahwa roket terbang dengan sangat stabil, sesuai dengan desainnya.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional 14

2. Roket RX-450

Kegiatan pengembangan roket RX-450 pada tahun 2016 berbasis pada hasil kegiatan evaluasi pada tahun sebelumnya yaitu beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan proses uji dinamis/uji terbang roket diantaranya static margin dan kemungkinan terjadinya flutter pada siripnya. Kegiatan tahun 2016 difokuskan untuk menambah static margin, yaitu dengan menambah ballast di bagian depan, serta memperluas permukaan siripnya. Disamping itu juga dengan menambah ketebalan siripnya, agar tidak terjadi flutter yang bisa mengakibatkan ketidakstabilan. Kegiatan pengembangan dimulai dengan pengujian statik. Hal ini dilakukan untuk memverifikasi kinerja propelan, sekaligus motor roketnya akibat sebagian menggunakan bahan baku propelan yang baru. Dari hasil uji statik diketahui bahwa kinerja propelan dan juga motor roketnya, tidak mengalami perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan hasil pengujian statik tahun sebelumnya.

Proses selanjutnya adalah fabrikasi roket yang digunakan untuk uji terbang dengan pemasangan nosecone, ballast dan sirip sesuai dengan desain yang terbaru, yang telah mempertimbangkan semua aspek

terkait dengan kestabilan terbang roket. Disamping itu pada pengujian dinamis kali ini, digunakan muatan (payload) roket yang berisi modul GPS telemetri dan radar. Setelah proses fabrikasi roket selesai, tahapan selanjutnya adalah uji dinamis roket. Pengujian dinamis roket RX-450 dilakukan pada bulan Desember 2016 di Balai Uji Teknologi Penerbangan dan Antariksa dan Pengamatan Atmosfer Garut Jawa Barat. Dari hasil pengamatan visual diketahui bahwa roket terbang lurus secara stabil hingga tidak mampu dilihat, dikarenakan tertutup oleh awan yang tebal. Namun, berdasarkan data accelerometer yang diterima, dapat dikonfirmasi bahwa roket ini terbang dengan stabil baik sumbu x, y maupun z. Sementara itu terkait jarak jangkau yang dicapai oleh roket ini, data yang diperoleh dari GPS maupun radar menunjukkan data dapat diterima pada detik ke-120, dengan jarak jangkau pada saat itu berkisar ± 52 km. Namun dari data yang diterima pada saat itu, belum dapat diverifikasi apakah roket sudah menyentuh permukaan laut, atau masih berada pada ketinggian tertentu. Dapat disimpulkan pengembangan tipe roket RX-450 telah berhasil dicapai.

Gambar 3.1. Pengujian terbang RX-1220 di Ambal, Agustus 2016

Pendahuluan Perencanaan Kinerja Akuntabilitas Kinerja Peningkatan Akuntabilitas Kinerja Penutup

01 05 11 78 85

Adapun perkembangan capaian IKU Jumlah tipe roket untuk penggunaan khusus tahun 2015 s.d 2016 dapat dilihat pada tabel berikut :

IKU 1 2015 2016

Rencana Realisasi Capaian Rencana Realisasi Capaian

Jumlah tipe roket untuk

penggunaan khusus 2 Tipe

• RX-1220 • RX-450 2 Tipe • RX-1220 • RX-450 • Roket Petir 150% 2 Tipe • RX-1220 • RX-450 2 Tipe • RX-1220 • RX-450 100% Tabel 3.2. Perbandingan Capaian IKU 1

Dengan melihat tabel di atas, capaian Tahun 2016 dapat terlaksana 100%. Terdapat penurunan capaian yang disebabkan bahwa berdasarkan proses evaluasi internal LAPAN, roket petir tidak lagi dihitung sebagai realisasi karena dikategorikan bukan merupakan roket untuk penggunaan khusus. Namun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kegiatan litbangyasa roket RX-1220 dan RX-450 mengalami peningkatan kinerja. Pada tahun 2015, Roket RX-1220 metode pembuatan propelan masih menggunakan metoda konvensional, yang masih mencakup proses pemotongan dan penyambungan propelan secara manual. Dari hasil uji dinamis diketahui roket mampu terbang stabil dengan mencapai jarak jangkau maksimum 31 Km, namun beberapa roket masih menunjukkan ketidakstabilan terbang, artinya LAPAN masih memiliki masalah

ketidakkonsistenan dalam performa roket. Pada tahun 2016, pengembangan Roket RX-1220 telah mengaplikasikan proses pengisian propelan dengan metode yang lebih modern yaitu case bonded. Dari hasil pengujian dinamis/terbang 2 unit roket RX-1220 jenis ini, menunjukkan roket mampu terbang stabil dan menghasilkan jarak jangkau 32 Km secara konsisten.

Selain itu, kegiatan litbangyasa juga mengalami peningkatan kinerja dari tahun sebelumnya, yaitu tahun 2015, roket RX-450 masih terjadi fenomena wobbling (ketidakstabilan terbang) sebelum uji dinamis/ uji terbang sehingga uji terbang tidak jadi dilaksanakan. Tahun 2016, roket RX-450 berhasil dilakukan uji dinamis/uji terbang dan roket ini mampu terbang lurus secara stabil dan menghasilkan jarak jangkau 52 Km.

Indikator Kinerja Utama 2:

Jumlah tipe satelit untuk pemantauan

IKU ini bertujuan untuk mengukur hasil pelaksanaan penelitian, pengembangan dan perekayasaan satelit LAPAN dan selanjutnya dapat berfungsi untuk pemantauan. Pada IKU ini, LAPAN menargetkan 2 tipe satelit untuk pemantauan yaitu: LAPAN A2/LAPAN-Orari dan LAPAN A3/LAPAN-IPB. Capaian yang diperoleh tahun 2016 adalah:

1. Satelit LAPAN-A2/LAPAN-Orari

Satelit ini telah diluncurkan pada tanggal 28 September 2015, dirancang bangun secara mandiri oleh tenaga ahli LAPAN yang seluruh proses Assembly Integration and Test (AIT) dilakukan dengan menggunakan fasilitas yang dimiliki LAPAN di Rancabungur, Bogor

Jawa Barat. Mode satelit yang digunakan adalah mode otomatis dimana satelit dapat diarahkan pada target yang telah ditentukan sebelumnya. Satelit LAPAN-A2 juga dapat mendeteksi seluruh data AIS yang berada di area dekat ekuator antara 6 derajat LS - 6 derajat LU. Satelit ini berada pada ketinggian 650 km dengan kecepatan edar 7.5km/det yang dikendalikan oleh Pusat Kendali Satelit LAPAN.

Pengawasan posisi kapal dapat diamati sebanyak 14 kali dalam sehari dan dalam setiap harinya sekitar 2.4 juta pesan yang dapat diterima untuk diolah menjadi data posisi kapal.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional 16

Salah satu muatan satelit LAPAN-A2/LAPAN-Orari adalah perangkat radio amatir, yakni Automatic Position Reporting System (APRS) dan voice repeater yang telah dimanfaatkan oleh Orari. Muatan tersebutlah yang membuat LAPAN-A2/LAPAN-Orari disebut sebagai INDONESIA OSCAR (Orbiting Satellite Carrying Amateur Radio)-86, dan merupakan satelit radio amatir pertama dari Indonesia.

Satelit LAPAN-A2 ini melakukan tiga misi penting yaitu:

• Misi survey dari ketinggian 650 km dari permukaan bumi di orbit dekat ekuator (Near Equator) dengan inklinasi antara 6-8° yang dapat mengamati wilayah bencana, wilayah maritime dan perbatasan dengan menggunakan dua buah sistem kamera resolusi tinggi hingga enam meter. • Dengan menggunakan perangkat Automatic Identification System (AIS), dilakukan pengamatan

lalu lintas kapal laut di wilayah perairan Indonesia. Sehingga berguna sebagai alat bantu navigasi kapal dan menghindari terjadinya illegal logging, pencurian SDA, perampokan, penyelundupan, trafficking melalui wilayah maritime Indonesia. Dengan regulasi International Maritime Organization (IMO), maka seluruh kapal dengan bobot diatas 300 ton wajib menggunakan AIS Transceiver sebagai pelengkap peralatan navigasi kapal.

• Membangun sistem komunikasi amatir APRS dalam rangka membantu para pengguna komunikasi amatir nasional (ORARI) untuk membangun komunikasi yang lebih luas dalam melakukan aktifitas saat terjadi bencana atau eksplorasi wilayah pegunungan dan hutan dimana sarana komunikasi tidak tersedia.

Gambar 3.3. Data AIS diambil dari satelit LAPAN-A2

Setelah 1 (satu) tahun berada di orbit sejak diluncurkannya pada tanggal 28 September 2015 satelit LAPAN-A2/LAPAN-Orari telah menghasilkan cukup banyak data baik data TTC, citra satelit maupun data AIS serta APRS / voice repeater yang telah dimanfaatkan oleh Orari. Selain itu, data AIS Satelit LAPAN-A2 sudah dimanfaatkan oleh PT. Gemilang Ananta. Berikut adalah perolehan gambar yang dihasilkan Satelit LAPAN-A2/LAPAN-Orari:

Pendahuluan Perencanaan Kinerja Akuntabilitas Kinerja Peningkatan Akuntabilitas Kinerja Penutup

01 05 11 78 85

Dokumen terkait