• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.6 ANALISIS DAMPAK KENAIKAN HARGA BBM

Dampak kenaikan BBM yang terjadi sejak tahun 2003 sangat dirasakan oleh masyarakat terutama pada dunia usaha. Kenaikan ini telah mencapai lebih dari 100% seperti yang tercantum pada Tabel 2. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan industri di Indonesia khususnya industri kecil tahu di Kabupaten Bogor. Hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner pada Lampiran 1 dapat dilihat pada Lampiran 2. Ringkasan hasil wawancara tentang dampak kenaikan harga BBM terhadap industri kecil tahu yang merupakan hasil penelitian di Kabupaten Bogor disajikan pada Tabel 18

Tabel 18 Dampak kenaikan BBM terhadap industri kecil tahu. Setelah kenaikan harga BBM No Parameter yang dianalisis

I II III IV V VI

1 Jumlah bahan baku kedelai yang diolah

Naik X X X Turun X Tetap X X 2 Jumlah karyawan Naik Turun X X X Tetap X X X 3 Upah karyawan Naik X X X X X X Turun Tetap 4 Jenis bahan bakar

Biomassa X X X X

BBM (minyak tanah) X X

5 Perubahan jenis bahan bakar

Ya X X X X

Tidak X X

6 Harga tahu yang dihasilkan

Naik X X X

Turun

Tetap X X X

7 Ukuran tahu yang dihasilkan Ditambah

Dikurangi X X X X

52

Kenaikan harga BBM tersebut merupakan dampak dari pengurangan subsidi BBM oleh pemerintah. Akibatnya, memberikan dampak berantai pada berbagai sektor yaitu saling mempengaruhi antar sektor baik transportasi, industri maupun perdagangan. Misalnya, dalam suatu proses produksi dibutuhkan bahan bakar, kenaikan harga bahan bakar tentunya meningkatkan biaya produksi yang diperlukan, baik penggunaan bahan bakar secara langsung dalam proses produksi maupun kenaikan secara tidak langsung berupa kenaikan bahan baku produksi. Kenaikan bahan baku juga dipicu oleh kenaikan harga BBM karena tarif angkutan naik dan kebutuhan pokok lainya pun juga ikut naik.

4.6.1 Perubahan Pola Produksi

4.6.1.1 Pengaruh Kenaikan Harga BBM terhadap kapasitas produksi Tahu Industri kecil tahu merupakan jenis industri yang penting keberadaannya bagi kehidupan masyarakat karena tahu merupakan jenis makanan yang mengandung protein tinggi dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara (Lampiran 2) yang dilakukan pada 6 lokasi penelitian di Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM pada 1 Oktober 2005, semakin memberatkan industri kecil tahu. Apalagi ditambah dengan adanya isu formalin belum lama ini terjadi, yang menyebabkan omzet mereka turun drastis. Walaupun tidak semua industri kecil tahu menggunakan bahan tersebut, namun imbasnya dirasakan oleh semua industri kecil tahu. Bahkan ada yang mulai dari awal lagi untuk membuktikan bahwa tahu yang dihasilkan bebas zat pengawet tersebut.

Industri kecil tahu tersebut merupakan industri yang padat karya karena memiliki tingkat penyerapan tenaga kerja yang cukup tinggi dan memberi peluang yang luas untuk masyarakat dengan kelompok pendapatan menengah. Namun hasil penelitian (Lampiran 2 pada Tabel 2) menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM telah menyebabkan para pengrajin tahu dengan terpaksa mengurangi jumlah karyawan mereka karena pekerja menuntut kenaikan gaji. Sedangkan, meskipun gaji dinaikkan, tetap tidak ada perubahan apa pun pada produkstivitas marginal

53

para pekerja. Industri harus membayar gaji lebih tinggi daripada produktivitas marginal para pekerja. Hal ini yang menjadi pertimbangan para pengrajin untuk mengurangi penggunaan input tenaga kerja dan lebih diutamakan pada input barang modal. Di sisi lain tindakan tersebut menyebabkan masalah sosial yaitu peningkatan pengangguran.

Penurunan penyerapan jumlah tenaga kerja pada industri kecil tahu, menyebabkan terjadinya penurunan kapasitas produksi industri meskipun jumlah permintaan tahu meningkat. Pada proses produksi tahu, distribusi tenaga kerja harus tetap pada bagian proses masing-masing. Menurut hasil wawancara, pengrajin tidak akan rugi apabila 1 pekerja mampu mengolah 20 kg kedelai.

Data yang diperoleh di beberapa lokasi penelitian menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM menyebabkan jumlah permintaan tahu semakin meningkat karena tahu merupakan sumber protein yang bagus dan harganya terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan kapasitas produksi pada beberapa industri kecil tahu (Tabel 2 pada Lampiran 2) di Kabupaten Bogor. Fenomena ini terjadi karena sebelum kenaikan harga BBM pengrajin hanya memanfaatkan tenaga kerja di bawah kapasitas kerja mereka. Jadi, meskipun jumlah karyawan dikurangi, pengrajin tahu masih bisa meningkatkan jumlah produksi mereka. Namun jumlah produksi industri tahu tidak dapat ditingkatkan melebihi kapasitas tenaga kerja. Peningkatan jumlah produksi tahu juga tidak mengakibatkan kenaikan pedapatan para pengrajin tahu karena peningkatan jumlah produksi tahu juga diiringi dengan peningkatan biaya-biaya yang harus mereka keluarkan untuk produksi, distribusi dan pemasaran juga ikut bertambah.

4.6.1.2 Pengaruh Kenaikan Harga BBM Terhadap Mutu Produksi Tahu Bahan baku yang digunakan dalam industri tahu di lokasi penelitian terdiri dari kedelai lokal dan kedelai impor. Harga kedelai impor lebih murah daripada kedelai lokal. Berdasarkan hasil penelitian yang disajikan pada Lampiran 2, kebanyakan industri kecil tahu di Kabupaten Bogor lebih memilih menggunakan kedelai impor. Namun ada juga yang

54

mencampur antara kedua jenis kedelai tersebut. Pemilihan jenis bahan baku yang digunakan pada produksi tahu didasarkan pada pertimbangan teknis dan ekonomis. Pertimbangan teknisnya adalah kedelai lokal memiliki ekstrak protein kedelai yang lebih banyak sehingga rendemen tahu juga lebih banyak. Dari segi oraganoleptik, tahu dengan bahan baku kedelai lokal memiliki rasa yang lebih gurih dan beraroma. Pertimbangan dari segi ekonomi yaitu harga kedelai lebih mahal daripada kedelai impor sehingga menggunakan kedelai impor lebih menguntungkan.

Berdasarkan hasil wawancara diperoleh bahwa industri kecil tahu yang memproduksi tahu sumedang di lokasi III, mutu tahu yang dihasilkan tergantung pada jenis bahan baku dan juga pada panas yang dihasilkan pada proses pembakaran. Semakin besar panas yang dihasilkan, maka proses pemasakan akan berlangsung dengan cepat sehingga banyak protein kedelai yang dapat diekstrak. Sifat protein sendiri adalah mudah terurai apabila dipanaskan dalam waktu yang cukup lama. Jadi, industri keci tahu yang memproduksi jenis tahu sumedang tetap bertahan menggunakan minyak tanah karena masih tetap menguntungkan. Namun, secara umum kenaikan harga BBM tidak berpengaruh terhadap mutu produksi tahu karena mutu tahu tergantung pada jenis bahan baku kedelai yang digunakan.

4.6.2 Perubahan Pola Penggunaan Bahan Bakar

4.6.2.1 Pengaruh Kenaikan Harga BBM terhadap Penggunaan Jenis Bahan Bakar

Hasil wawancara pada industri kecil tahu di Kabupaten Bogor yang disajikan pada Lampiran 2 menunjukkan bahwa, kenaikan harga BBM menyebabkan terjadinya perubahan pola penggunaan bahan bakar pada proses produksi tahu. Perubahan pola penggunaan bahan bakar ini terjadi, sejak kenaikan harga BBM pada tahun 2003. Pada awal kenaikan BBM tersebut, industri kecil mulai mengganti jenis peralatan yang digunakan untuk proses produksinya. Semula tungku dirancang untuk jenis bahan bakar minyak tanah, setelah kenaikan harga BBM, mereka beralih menggunakan biomassa sehingga rancangan tungku disesuaikan dengan

55

bahan bakar yang digunakan. Hal ini mempengaruhi efisiensi sistem produksi karena pekerja harus memperhatikan pasokan bahan bakar biomassa pada tungku.

Perhitungan tentang biaya setiap input energi langsung pada produksi tahu setelah kenaikan harga BBM pada Oktober 2005 dapat dilihat pada Lampiran 15. Tabel 19 enyajikan total biaya energi langsung yang digunakan untuk menghasilkan 1 kg tahu. Dari tabel berikut, pola konsumsi energi yang yang membutuhkan energi paling kecil adalah pola konsumsi energi di lokasi I yaitu Rp 327.75/kg tahu atau Rp 1204.36/kg kedelai, jenis bahan bakar yang digunakan adalah limbah industri meubel yang berupa hasil pengempaan serbuk gergaji, panas yang dihasilkan juga tinggi yaitu 104oC. Namun kendalanya adalah hanya beberapa industri meubel yang menghasilkan jenis limbah seperti ini sehingga tidak mampu mencukupi kebutuhan seluruh industri tahu di Kabupaten Bogor. Jadi, pola konsumsi energi yang baik adalah pada lokasi V dengan total biaya energi langsung sebesar Rp 392.38/kg tahu atau Rp 1165.87/kg kedelai. Alasan pemilihannya adalah jenis bahan bakar yang digunakan adalah kayu bakar, dilakukan dengan sistem boiler dengan efisiensi sistem pemasakan sebesar 17.12%, panas yang dihasilkan sudah mencapai suhu pemasakan yaitu 99oC, tahu yang dihasilkan pun memiliki aroma yang lebih enak (tidak bau asap).

Tabel 19 Biaya energi langsung pada produksi tahu setelah kenaikan harga BBM pada Oktober 2005 (Rp per kg tahu)

Lokasi Jenis bahan bakar Biaya Ebb Biaya Em Biaya EL Biaya Emd Total biaya (Rp/kg tahu) Total biaya (Rp/kgkedelai) I Biomassa (limbah industri meubel) 66.37 238.94 0.03 22.40 327.75 1204.36 II Biomassa (limbah industri meubel) 77.15 294.58 0.00 26.51 398.24 1351.89 III Minyak tanah 277.60 1539.19 0.66 69.26 1886.72 7263.87 IV Biomassa 169.31 298.70 0.21 20.45 488.68 971.83 V Biomassa 75.73 302.91 0.12 13.63 392.38 1165.87 VI Minyak tanah 333.15 613.17 0.19 16.56 963.06 2437.09 Ket :

Ebb = Energi bahan bakar tungku (Rp/kg tahu) EL = Energi listrik (Rp/kg tahu)

56

Hasil perhitungan (lampiran 16) terhadap perubahan pola konsumsi energi yang terjadi pada contoh kasus di salah satu lokasi penelitian menunjukkan terjadinya biaya perubahan akibat kenaikan harga BBM pada Oktober 2005, serta penghematan biaya energi langsung akibat perubahan penggunaan jenis sumber energi bahan bahan bakar tungku pada proses produksi tahu.

Kenaikan harga BBM pada Oktober 2005 mengakibatkan terjadinya perubahan jenis sumber energi yang digunakan yaitu dari bahan bakar minyak tanah menjadi bahan bakar biomassa. Biaya perubahan akibat perubahan penggunaan peralatan (tungku) yang digunakan adalah sebesar Rp 3.05/kg tahu atau Rp 11.23/kg kedelai. Pengematan biaya akibat perubahan tersebut adalah sebesar Rp 189.30/kg tahu atau Rp 692.46/kg kedelai. Nilai penghematan ini cukup besar jika jumlah tahu yang dihasilkan di industri kecil tahu juga besar. Jadi, dengan jumlah produksi 502.21 kg tahu/hari maka penghematan biaya yang dapat dilakukan adalah sebesar Rp. 34699948.85 per tahun.

Beberapa industri kecil tahu di lokasi penelitian, ada yang masih tetap bertahan menggunakan bahan bakar minyak. Industri kecil tahu tersebut, memiliki beberapa pertimbangan sehingga tetap bertahan

menggunakan minyak tanah antara lain prosesnya lebih cepat, tempat lebih bersih, pekerja lebih konsentrasi dengan bagian masing- masing, tuntutan kebutuhan karena didistribusikan lagi oleh pedagang pengecer. Selain itu, mutu tahu yang dihasilkan lebih baik karena suplai panas untuk proses pemasakan tetap terjaga dan lebih stabil.

Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi I dan II, melakukan diversifikasi produk yaitu tahu kuning, tahu goreng dan tahu putih mengkombinasikan antara penggunaan bahan bakar biomassa dan minyak tanah. Bahan bakar biomassa digunakan untuk proses pemasakan dan perebusan tahu kuning. Tahu kuning dibuat dengan merebus kembali irisan tahu pada air yang diberi zat pewarna alami (kunyit). Tujuannya adalah agar tahu yang dihasilkan lebih tahan lama, memiliki aroma yang segar dan memberikan warna yang lebih menarik. Perebusan tahu kuning

57

ini juga menggunakan tungku dengan bahan bakar biomassa. Namun tidak seperti pemasakan, panas yang dibutuhkan pada proses ini tidak terlalu tinggi. Tungku pembakaran yang digunakan untuk membuat tahu goreng tetap menggunakan bahan bakar minyak tanah karena penggorengan tahu memerlukan panas yang tinggi agar tahu goreng dapat mengembang. Selain itu, panas yang dihasilkan dari tungku pembakaran mempengaruhi hasil tahu goreng, baik rasa maupun tampilan luar tahu tersebut.

4.6.2.2 Pengaruh Kenaikan Harga BBM terhadap Penggunaan Jumlah Bahan Bakar dan Efisiensi Produksi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan jumlah bahan bakar tergantung pada jumlah kedelai yang diolah masing-masing industri tahu (Lampiran 3 – Lampiran 8). Lama proses pemasakan tergantung jumlah pasokan bahan bakar pada tungku pembakaran. Semakin banyak pasokan bahan bakar pada tungku pembakaran, panas akan lebih tinggi, sehingga proses pemasakan berlangsung lebih cepat. Umumnya, jumlah bahan bakar tidak menjadi masalah bagi industri kecil tahu karena harga biomassa jauh lebih murah daripada menggunakan bahan bakar minyak tanah.

Khusus untuk industri kecil tahu yang mengganti jenis bahan bakar minyak menjadi bahan bakar biomassa, kenaikan harga BBM tersebut menyebabkan penurunan efisiensi produksi pada industri kecil tahu di lokasi penelitian karena aktivitas pekerja jadi terganggu. Pekerja juga harus memperhatikan pasokan bahan bakar pada tungku agar panas yang dihasilkan tetap tinggi. Sedangkan, output produksi tergantung pada pembagian kerja yang tepat dan konsentrasi di bagian masing-masing.

58

Dokumen terkait