• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

B. Analisis dan Pembahasan

1. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2007 : 169).

Tabel. 4.3

Hasil Uji Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Mean

Std. Deviation Disiplin 108 19 40 32.31 3.793 Kompetensi 108 21 40 32.81 3.145 Kepemimpinan 108 18 25 21.47 1.852 Kinerja 108 12 29 23.69 3.053 Valid N (listwise) 108

Berdasarkan hasil uji Statistik Deskriptif di atas menunjukkan dari jumlah responden sebanyak 108 orang, nilai disiplin terendah adalah 19

d an

nilai disiplin tertinggi adalah dengan nilai rata -rata disiplin dari 108 responden adalah 32,31 dengan standar deviasi 3,793.

Selanjutnya nilai kompetensi terendah adalah 21 dan nilai kompetensi tertinggi adalah 40, dengan nilai rata-rata kompetensi dari 108 responden adalah 32,81 dengan standar deviasi 3,145.

Sementara itu bila dilihat dari nilai kepemimpinan, yang terendah adalah 18 dan nilai kepemimpinan tertinggi adalah 25, dengan nilai rata-rata kepemimpinan dari 108 responden adalah 21,47 dengan standar deviasi 1,852.

Yang terakhir nilai kinerja terendah adalah 12 dan nilai kinerja tertinggi adalah 29, dengan nilai rata-rata kinerja dari 108 responden adalah 23,69 dengan standar deviasi 3,053.

2. Uji Kualitas Data

a. Uji Validitas

Menurut Sugiyono (2007 : 137-147), hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:

1) Jika r hasil positif, serta r hasil > r tabel, maka variabel tersebut valid.

) Jika r hasil tidak positif, maka r hasil < r tabel, maka variabel tidak valid.

1) Variabel Disiplin

Tabel 4.4 Uji Validitas Disiplin No Konstruk Penilaian Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Ket. 1 X1.1 0,471** 0,000 108 Valid 2 X1.2 0,641** 0,000 108 Valid 3 X1.3 0,617** 0,000 108 Valid 4 X1.4 0,727** 0,000 108 Valid 5 X1.5 0,757** 0,000 108 Valid 6 X1.6 0,518** 0,000 108 Valid 7 X1.7 0,736** 0,000 108 Valid 8 X1.8 0,493** 0,000 108 Valid

Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan hasil tabel di atas dapat dilihat bahwa semua butir pertanyaan memiliki nilai pearson correlation yang positif dan r hitung lebih besar dari pada r tabel (0,1891). Jadi dapat disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan untuk variabel disiplin adalah valid.

2) Variabel Kompetensi

Tabel 4.5

Uji Validitas kompetensi No Konstruk Penilaian Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Ket. 1 X2.1 0,650** 0,000 108 Valid 2 X2.2 0,547** 0,000 108 Valid 3 X2.3 0,749** 0,000 108 Valid 4 X2.4 0,716** 0,000 108 Valid 5 X2.5 0,664** 0,000 108 Valid

No Konstruk Penilaian Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Ket. X2.6 0,660** 0,000 108 Valid 7 X2.7 0,657** 0,000 108 Valid 8 X2.8 0,685** 0,000 108 Valid

Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan hasil tabel di atas dapat dilihat bahwa semua butir pertanyaan memiliki nilai pearson correlation yang positif dan r hitung lebih besar dari pada r tabel (0,1891). Jadi dapat disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan untuk variabel kompetensi adalah valid.

3) Variabel Kepemimpinan

Tabel 4.6

Uji Validitas Kepemimpinan No Konstruk Penilaian Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Ket. 1 X1.1 0,607** 0,000 108 Valid 2 X1.2 0,713** 0,000 108 Valid 3 X1.3 0,619** 0,000 108 Valid 4 X1.4 0,606** 0,000 108 Valid 5 X1.5 0,656** 0,000 108 Valid

Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan hasil tabel di atas dapat dilihat bahwa semua butir pertanyaan memiliki nilai pearson correlation yang positif dan r hitung lebih besar dari pada r tabel (0,1891). Jadi dapat disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan untuk variabel disiplin adalah valid.

) Variabel Kinerja

Tabel 4.7 Uji Validitas Kinerja No Konstruk Penilaian Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Ket. 1 X1.1 0,748** 0,000 108 Valid 2 X1.2 0,796** 0,000 108 Valid 3 X1.3 0,780** 0,000 108 Valid 4 X1.4 0,753** 0,000 108 Valid 5 X1.5 0,763** 0,000 108 Valid 6 X1.6 0,546** 0,000 108 Valid

Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan hasil tabel di atas dapat dilihat bahwa semua butir pertanyaan memiliki nilai pearson correlation yang positif dan r hitung lebih besar dari pada r tabel (0,1891). Jadi dapat disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan untuk variabel kinerja adalah valid.

b. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan untuk menguji konsistensi alat ukur, apakah hasilnya tetap konsisten atau tidak jika pengukuran diulang. Instrument kuesioner yang tidak reliable maka tidak konsisten untuk pengukuran sehingga hasil pengukuran tidak dapat dipercaya. Uji reliabilitas yang banyak digunakan pada penelitian yaitu menggunakan metode Cronbach s Alpha. Kriteria pengujian dilakukan dengan menggunakan pengujian Cronbach s Alpha ( ). Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach s Alpha > 0,60 (Priyatno, 2012 : 105-108).

Tabel 4.8 Uji Reliabilitas

Variabel Cronbach s Alpha Keterangan

Disiplin 0,771 Reliabel

Kompetensi 0,821 Reliabel

Kepemimpinan 0,637 Reliabel

Kinerja 0,799 Reliabel

Sumber: Data primer yang diolah

Dapat disimpulkan bahwa seluruh pernyataan yang berkaitan dengan variabel independen (disiplin, kompetensi, kepemimpinan) dan variabel dependen (kinerja) dalam kuesioner dikatakan reliabel. Hal ini dapat dilihat dari nilai Cronbach s Alpha yang positif berturut-turut 0.771, 0.821, 0.637, dan 0.799 lebih besar dari 0,60. Dengan kata lain bahwa seluruh pernyataan pada penelitian ini memiliki tingkat kehandalan yang baik dan dapat digunakan dalam analisis pada penelitian ini.

3. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Uji normalitas model regresi bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik seharusnya distribusi regresi residual normal atau mendekati normal. Dasar pengambilan keputusan untuk mendeteksi kenormalan adalah jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

S ed an g k an

jika data menyebar jau dhari garis diagonal atau tidak m

en g ik u

ti arah d iagonalmaka mel regdoresi tidak memenuhi asumsi n

o rm

alitas (Priyatno, 2012 : 60 - 61).

Gambar 4.2

GrafikNormal Probability Plot

Gambar 4.3 Grafik Histogram

engan melihat tam gilanprafik normal probability plot m au p u n

grafik histogram di ata at dapdisimpulkan bahwa pada g

rafik normal probability plot terlihat titik -titik menyebar di sekitar garis diagonal dan penyebarannya mengikuti arah garis diagonal, begitu pula pada grafik histogram yang memberikan pola distribusi yang normal (tidak terjadi kemiringan). Kedua grafik di atas menunjukkan bahwa model regresi layak dipakai karena memenuhi asumsi normalitas. Pengujian normalitas juga diperkuat oleh nilai Kolmogorov-Smirnov Test yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.9

One-SampleKolmogorov-Smirnov Test

Unstandardize d Predicted

Value

N 108

Normal Parametersa,,b Mean 23.6851852 Std. Deviation 2.25717580 Most Extreme Differences Absolute .093 Positive .067 Negative -.093 Kolmogorov-Smirnov Z .971

Asymp. Sig. (2-tailed) .302

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. Sumber: data yang diolah

Dari tabel 4.9 di atas dapat dilihat bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) 0,302. Karena nilai signifikansi lebih dari 0,05 (0,302 > 0,05), maka nilai residual terstandarisasi. Dengan demikian menunjukkan

b ah w

a data terdistribusi dengan normal dan analisis Regresi Linear

Berganda telah memenuhi asumsi normalitas.

b. Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model regresi yang baik mensyaratkan tidak adanya multikolinearitas dengan cara melihat nilai Tolerance dan VIF (Variance Inflation Factor). Metode pengambilan keputusan yaitu jika semakin kecil nilai Tolerance dan semakin besar nilai VIF maka semakin mendekati terjadinya masalah multikolinearitas. Dalam kebanyakan penelitian menyebutkan bahwa jikaTolerancelebih dari 0,1 dan VIF kurang dari 10 maka tidak terjadi multikolinearitas (Priyatno, 2012 : 61).

Tabel 4.10 Uji Multikolinearitas

Sumber: data yang diolah Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. Collinearity Statistics B Std.

Error Beta Tolerance VIF

1(Constant) -7.070 2.897 -2.441 .016 DISIPLIN .296 .057 .368 5.215 .000 .877 1.140 KOMPETEN SI .387 .072 .399 5.375 .000 .793 1.261 KEPEMIMPI NAN .396 .116 .240 3.412 .001 .881 1.135

ari tabel di atas dapat dilihat bwa tidahak ada nilai tolerance y

an g

lebih dari danVIF yang kurang dari 10. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

c. Uji Heteroskedatisitas

Uji heteroskedestisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Deteksi ada atau tidaknya heteroskedestisitas dapat dilihat dari ada atau tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit) maka mengindikasikan bahwa telah terjadi heteroskedestisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik yang menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y maka tidak terjadi heteroskedestisitas (Imam Ghozali, 2011 : 139). Selanjutnya dengan melihat nilai korelasi variabel independen dengan Unstandardized Residual memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada model regresi.

Gambar 4.4 GrafikScatterplot

Tabel 4.11 Uji Spearman s rho S p earm an 's rho DISIP-LIN KOMPE-TENSI KEPEM-IMPINAN Unstanda-rdized Residual DISIPLIN Correlation Coefficient 1.000 .293** .169 -.166 Sig. (2-tailed) . .002 .080 .086 N 108 108 108 108 KOMPETENSI Correlation Coefficient .293** 1.000 .338** -.049 Sig. (2-tailed) .002 . .000 .618 N 108 108 108 108 KEPEMIMPINAN Correlation Coefficient .169 .338** 1.000 -.066 Sig. (2-tailed) .080 .000 . .496 N 108 108 108 108 Unstandardized Residual Correlation Coefficient -.166 -.049 -.066 1.000 Sig. (2-tailed) .086 .618 .496 . N 108 108 108 108

T erlih

at b ahwa titik -titik menyebar secara acak baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. dan nilai korelasi variabel independen dengan Unstandardized Residual memiliki nilai signifikansi lebih dari 0,05 hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi. Dengan demikian, model regresi ini layak dipakai untuk variabel disiplin, kompetensi, dan kepemimpinan terhadap kinerja para pegawai.

4. Analisis Regresi Linear Berganda

Pada uji regresi linear berganda, terdapat beberapa analisis yang digunakan, yaitu:

a. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R²) bertujuan mengukur seberapa jauh kemampuan variabel independen (Pengaruh, Disiplin, Kompetensi, dan Kepemimpinan) dalam menjelaskan variasi variabel dependen (kinerja karyawan). Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Penelitian ini menggunakan nilai R², jika nilai R² adalah sebesar 1 berarti fluktuasi variabel dependen seluruhnya dapat dijelaskan oleh variabel independen dan tidak ada faktor lain yang menyebabkan fluktuasi variabel dependen. Nilai R² berkisar dari 0 sampai 1. Jika mendekati 1 berarti semakin kuat kemampuan variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen. Sebaliknya, jika nilai R² semakin medekati angka 0 berarti semakin lemah kemampuan

v ariab

el independen untuk dapat menjelaskan fluktuasi variabel d ep en d en(Imam Ghozali, 2011 : 97). Tabel 4.12

Uji Koefisien Determinasi

Nilai R Square sebesar 0,547 atau 54,7% ini menunjukkan bahwa kinerja karyawan yang dapat dijelaskan oleh variabel disiplin, kompetensi dan kepemimpinan adalah sebesar 54,7%, sedangkan sisanya sebesar 0,453 atau 45,3% (1-0,547) dijelaskan oleh faktor yang tidak disertakan dalam penelitian ini.

b. Uji Signifikansi Simultan (Uji F)

Uji F digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen secara bersama - sama terhadap variabel dependen. Pembuktian dilakukan dengan cara membandingkan Ftabel dengan nilai Fhitung. Kriteria pengambilan keputusan Uji F adalah Fhitung Ftabel pada = 5% jadi Ho diterima dan Fhitung > Ftabel pada = 5% jadi Ho ditolak

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .739a .547 .534 2.085

a. Predictors: (Constant), KEPEMIMPINAN, DISIPLIN, KOMPETENSI

b. Dependent Variable: KINERJA Sumber: Data yang diolah

(Priyatno, 2012 : 57). Hasil uji koefisien signifikan simultan dapat dilihat pada tabel berikut:

N i

Hasil perhitungan statistik yang menggunakan SPSS 17 yang tertera pada tabel di atas, diperoleh Fhitung sebesar 41,797 sedangkan nilai Ftabelsebesar 2,690 yang diperoleh dengan melihat tabel F dengan derajat df = k - 1 (4 - 1) dan df = n - k (108 - 4) pada taraf signifikasi 0,05. Karena Fhitung > Ftabel = 41,797 > 2,69. Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, yang artinya dapat dikatakan bahwa variabel disiplin, kompetensi, dan kepemimpinan secara bersama-sama (simultan) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel kinerja pegawai. Hasil ini sesuai dengan hasil analisis yang dilakukan oleh Destia (2011) yang menyatakan bahwa terdapat

Tabel 4.13

Uji Signifikansi Simultan (Uji F) ANOVAb Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regressio n 545.148 3 181.716 41.797 .000a Residual 452.148 104 4.348 Total 997.296 107

a. Predictors: (Constant), KEPEMIMPINAN, DISIPLIN, KOMPETENSI

b. Dependent Variable: KINERJA Sumber: Data yang diolah

p en g aru h yg sigannifikan antara variabel kin daneppimeman disiplin k erja terhap kadinerja pegawai

c Uji Signifikansi Parsial (Uji t)

Uji t dilakukan untuk menguji pengaruh variabel independen (disiplin, kompetensi dan kepemimpinan) secara parsial terhadap variabel dependen (kinerja pegawai). Hal tersebut dapat dilakukan dengan membandingkan nilai thitung dibandingkan dengan nilai ttabel. Kriteria pengambilan keputusan untuk uji t (uji parsial) adalah thitung

ttabelatau - thitung -ttabelpada = 5% jadi Ho diterima dan thitung> ttabel

atau -thitung< -ttabelpada = 5% jadi Ho ditolak (Priyatno, 2012 : 59).

Tabel 4.14

Uji Signifikansi Parsial (Uji t)

B e Model Unstandardized Coefficients Standardiz ed Coefficient s T Sig. B Std. Error Beta 1(Constant) -7.070 2.897 -2.441 .016 DISIPLIN .296 .057 .368 5.215 .000 KOMPETENSI .387 .072 .399 5.375 .000 KEPEMIMPIN AN .396 .116 .240 3.412 .001 a. Dependent Variable: KINERJA

b

e rdasarkan tabel !"#! di atas maka diperoleh persamaan reg

resi sebagai berikut$

Artinya nilai konstanta sebesar -7,070 menyatakan bahwa jika tidak ada variabel independen (disiplin, kompetensi, dan kepemimpinan) maka nilai Y (kinerja) sebesar -7,070. Artinya variabel kinerja memang sangat dipengaruhi oleh variabel independen, tanpa adanya variabel independen (disiplin, kompetensi, dan kepemimpinan) maka kinerja akan mengalami penurunan.

Angka koefisien X1 0,296 menunjukkan bahwa setiap peningkatan disiplin sebesar 1% akan meningkatkan kinerja pegawai sebesar 0,296. Koefisien X2 0,387 menunjukkan bahwa setiap peningkatan kompetensi sebesar 1% akan meningkatkan kinerja pegawai sebesar 0,387. Koefisien X3 0,396 menunjukkan bahwa setiap peningkatan kepemimpinan sebesar 1% akan meningkatkan kinerja pegawai sebesar 0,396.

Hasil pengujian variabel independen (disiplin, kompetensi, dan kepemimpinan) terhadap variabel dependen (kinerja) secara individual (parsial) yang dilakukan dengan uji t (tabel 4.13) dan membandingkan tingkat probabilitas 0,05 dengan nilai signifikansi dan thitung dengan ttabelsebesar 1,9825 yang diperoleh dari Tabel t dengan df = n-2

%= 106) dan alpha 0,05, maka dapat disimpulkan mengenai pengujian hipotesis yang telah dibuat sebelumnya sebagai berikut:

1) Pengaruh disiplin terhadap kinerja pegawai

Dapat dilihat pada tabel 4.13 variabel disiplin mempunyai t hitung lebih besar daripada t tabel (5,215 > 1,9825) dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya variabel disiplin memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel kinerja karyawan. Hasil analisis ini diperkuat oleh hasil analisis yang dilakukan oleh Harlie (2010) yang menyatakan bahwa disiplin memiliki pengaruh yang kuat terhadap kinerja. Hasil ini didukung oleh teori Sutrisno (2009 : 104) yang menyatakan bahwa disiplin kerja sangat dibutuhkan oleh pegawai untuk mencapai keberhasilan instansi. Dengan adanya disiplin maka seorang pegawai dapat mengetahui kesalahan yang telah dilanggarnya, sehingga pegawai akan memperbaiki diri dan patuh pada peraturan yang telah ditetapkan oleh instansi. Semakin tinggi tingkat kedisiplinan kerja pegawai maka semakin tinggi pula kinerja pegawai yang dihasilkan. Sedangkan menurut Mangkunegara disiplin pegawai merupakan pembentukan perilaku pegawai yang bertujuan agar pegawai dapat bertanggung jawab terhadap perbuatannya dan untuk perubahan perilaku yang lebih baik (Mangkunegara, 2011 : 131). Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

dihkan lebarapih mkan kakegenedisiplinan pegawai karena disiplin meru p ak an

faktor yan juga mgemiliki paruheng terhadap kinerja p

eg aw ai

&

') Pengaruh kompetensi terhadap kinerja pegawai

Dapat dilihat pada tabel 4.13 variabel kompetensi mempunyai t hitung lebih besar daripada t tabel (5,375 > 1,9825) dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya variabel kompetensi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel kinerja karyawan. Hasil analisis ini diperkuat oleh hasil analisis yang dilakukan oleh Suhaji (2010) yang menyatakan bahwa kompetensi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pegawai. Hasil ini juga sesuai dengan Darsono dan Siswandoko yang juga mengatakan bahwa kompetensi adalah perpaduan keterampilan, pengetahuan, kreativitas dan sikap positif terhadap pekerjaan tertentu yang diwujudkan dalam kinerja (Darsono dan Siswandoko, 2011 : 123). Rivai dan Sagala juga menyatakan bahwa kompetensi mengacu pada pengetahuan (knowledge), kemampuan (skills), kecakapan (abilities) dan kepribadian (personality) individu yang secara langsung mempengaruhi kinerja mereka (Rivai dan Sagala, 2009 : 713). Berdasarkan hasil ini Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dapat terus

men in g k atk an

kmpetensi po a kegawainy arena berparuheng terh

ad ap kinerja pegawai(

)) Pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja pegawai

Dapat dilihat pada tabel 4.13 variabel kepemimpinan mempunyai t hitung lebih besar daripada t tabel (5,412 > 1,9825) dengan tingkat signifikansi sebesar 0,001 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya variabel kepemimpinan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel kinerja karyawan. Hasil analisis ini diperkuat oleh hasil analisis yang dilakukan oleh Destia (2011) yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan variabel kepemimpinan terhadap kinerja pegawai. Umam juga menyatakan bahwa kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi pikiran, perasaan, tingkah laku dan mengarahkan semua fasilitas untuk mendapat tujuan yang telah ditetapkan bersama (Umam, 2010 : 270). Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Veitzal dan Deddy tentang kepemimpinan yang merupakan sebuah proses untuk memengaruhi orang lain baik di dalam organisasi maupun di luar organiasasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam suatu situasi dan kondisi tertentu. (Veitzal dan Deddy, 2011 : 23). Hal ini berarti kepemimpinan mempengaruhi kinerja pegawai.

BAB V

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

Dokumen terkait