BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
G. Analisis dan Pembahasan
Sebagaimana telah diuraikan dalam bab terdahulu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi PMA di DIY periode 1986-2011. Untuk mencapai tujuan tersebut, dalam penelitian ini menggunakan metode kuadrat terkecil (OLS) atau lebih dikenal dengan istilah Regresi Linier Berganda. Adapun formulasi modelnya adalah sebagai berikut :
Yt =
0 + 1X1t + 2X2t + 3X3t + 4X4t + e
dimana :
Yt = Besarnya penanaman modal asing (Milyar Rupiah)
X 1t = PDRB (Milyar Rupiah) X 2t = PMDN (Milyar Rupiah) X 3t = Tingkat Inflasi (%) X
4t = Tingkat Suku Bunga (%) 0 = Konstanta
1 – 4= Koefisien regresi
e = Residual
Dengan mengoperasikan persamaan tersebut atas data yang diperoleh dalam penelitian, maka diperoleh hasil regresi yang ditunjukkan pada tabel 4.1 berikut ini :
commit to user
123
Tabel 4.7
Hasil Estimasi Regresi Linier Berganda
Variabel Koefisien
Regresi (B) t hitung t tabel Keterangan
Konstanta - 7.518.544,64 - 1,417 1.708 Tidak Signifikan
PDRB (X1) 0.324 3,426 1.708 Signifikan
PMDN (X2) 0.106 3,780 1.708 Signifikan
Inflasi (X3) - 31.316,47 - 0,398 1.708 Tidak signifikan Suku Bunga (X4) 265.301,169 0,460 1.708 Tidak signifikan Standard Error = 5.455.530,69 Adjusted R Square = 0,830 R-Square = 0,857 R = 0,926 Sig-F = 0,000 F Hitung = 31,501
Sumber : Data Primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel 4.2 diatas, diperoleh variabel-variabel yang signifikan mempengaruhi PMA di DIY dalam bentuk persamaan regresi berikut :
Y = -7.518.544,64 + 0.324 X
1- 0.106 X2 + 1,380 D
Terlihat bahwa PMA di DIY dipengaruhi oleh variabel Produk Domestik Regional Bruto (X1) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (X2).
H. PengujianHipotesis
1. Uji F
Uji F dilakukan untuk menguji tingkat signifikansi pengaruh suku bunga, tingkat inflasi, penanaman modal dalam negeri, PDRB Provinsi D.I. Yogyakarta secara bersama-sama terhadap penanaman modal asing di DIY.
commit to user
124 Hipotesis:
Ho : Suku bunga, tingkat inflasi, penanaman modal dalam negeri, PDRB DIY secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap penanaman modal asing di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ha : Suku bunga, tingkat inflasi, penanaman modal dalam negeri, PDRB DIY secara simultan berpengaruh sinifikan terhadap penanaman modal asing di Daerah Istimewa Yogyakarta.
-1, n-k})
-1, n-k}) k
Diketahui F tabel dengan signifikansi 0,05 adalah 2,840 dan diperoleh nilai F hitung sebesar 31,501 dengan sig F=0,000. Oleh karena nilai F hitung > F tabel maka dapat kita ketahui bahwa Ho ditolak atau dengan kata lain bahwa suku bunga, tingkat inflasi, penanaman modal dalam negeri, dan PDRB berpengaruh signifikan terhadap penanaman modal asing di Daerah Istimewa Yogyakarta selama periode 1986 hingga 2011.
2. Uji t
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel-variabel penjelas terhadap variabel bebasnya secara individual.
Hipotesis:
Ho : Suku bunga, tingkat inflasi, penanaman modal dalam negeri, PDRB DIY secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap penanaman modal asing di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ha : Suku bunga, tingkat inflasi, penanaman modal dalam negeri, PDRB DIY secara simultan berpengaruh sinifikan terhadap penanaman modal asing di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Jika t hitung > t tabel atau –t hitung < -t tabel
Jik -t tabel diterima
commit to user
125 a. Variabel PDRB (X1)
Diperoleh nilai t hitung untuk variabel untuk PDRB adalah sebesar 3,426. Oleh karena nilai t hitung > t tabel (3,426 > 1,708) maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak. Artinya, variabel PDRB berpengatuh signifikan terhadap penanaman modal asing di Daerah Istimewa Yogyakarta.
b. Variabel PMDN (X2)
Berdasarkan tabel 4.2, diperoleh nilai t hitung untuk variabel untuk PMDN adalah sebesar 3,780. Oleh karena nilai t hitung > t tabel (3,780 > 1,708) maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak. Artinya, variabel PMDN berpengatuh signifikan terhadap penanaman modal asing di Daerah Istimewa Yogyakarta.
c. Variabel Inflasi (X3)
Berdasarkan tabel 4.2, diperoleh nilai t hitung untuk variabel inflasi adalah sebesar -0,398. Oleh karena nilai t hitung < t tabel (-0,398 < 1,708) maka dapat dikatakan bahwa Ho diterima. Artinya, variabel inflasi tidak berpengatuh signifikan terhadap penanaman modal asing di Daerah Istimewa Yogyakarta.
d. Variabel Suku Bunga (X4)
Berdasarkan tabel 4.2, diperoleh nilai t hitung untuk variabel suku bunga adalah sebesar 0,460. Oleh karena nilai t hitung < t tabel (0,460 < 1,708) maka dapat dikatakan bahwa Ho diterima. Artinya, variabel suku bunga tidak berpengatuh signifikan terhadap penanaman modal asing di Daerah Istimewa Yogyakarta.
3. Koefisien Determinan Majemuk
Uji R2 digunakan untuk menghitung seberapa besar variasi dari variabel tergantung dapat dijelaskan oleh variabel bebasnya. Berdasarkan tabel 4.2 di depan, diperolah nilai R2 (Adjusted R Square) sebesar 0,830.
commit to user
126
Artinya sebesar 83% variabel penanaman modal asing di Daerah Istimewa Yogyakarta (variabel dependen) yang dapat dijelaskan oleh variabel PDRB DIY, PMDN, Inflasi, dan suku bunga sebagai variable bebasnya. Sementara sisanya (17%) dijelaskan oleh variabel lain.
4. Uji terhadap Penyimpangan Asumsi Klasik Model OLS
Sebelum dilakukan interpretasi atas hasil regresi, terlebih dahulu perlu dilakukan pengujian penyimpangan terhadap asumsi-asumsi klasik dari model OLS (Ordinary Least Square), sehingga dapat diketahui apakah model yang dipakai tersebut relevan atau tidak. Pengujian yang dilakukan meliputi uji multikolinieritas, heterokedastisitas, dan autokorelasi.
a. Uji terhadap Gejala Multikolinieritas
Multikolinieritas berarti adanya hubungan linier yang sempurna atau pasti, diantara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dari model regresi (Damodar Gujarati: 1988). Jadi multikolinieritas digunakan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independentt. Untuk mengetahui keberadaan multikolinieritas antara lain dengan langkah pengujian terhadap masing-masing variabel independent dengan mengetahui seberapa jauh korelasinya (r2) yang didapat dari hasil regresi bersama variabel independent dengan variabel dependen. Jika ditemukan nilai r2 melebihi nilai R2 pada model penelitian, maka dari model persamaan tersebut terdapat multikolinieritas, dan sebaliknya jika R2 lebih besar dari semua r2 maka menunjukkan tidak terdapatnya multikolinieritas pada persamaan yang diuji.
Pengujian atas batasan ini untuk persamaan regresi yang digunakan dalam penelitian menghasilkan:
commit to user
127
Tabel 4.8 Uji Multikolinieritas
Variabel r2 R2 Kesimpulan
PDRB (X1) 0.283 0.857 Tidak ada Multikolinieritas
PMDN (X2) 0.312 0.857 Tidak ada Multikolinieritas
Inflasi (X3) -0.033 0.857 Tidak ada Multikolinieritas Suku Bunaga (X4) 0.038 0.857 Tidak ada Multikolinieritas Sumber: Data Primer yang diolah, 2012
Berdasarkan tabel 4.3 di atas, terlihat bahwa keseluruhan nilai r2 kurang dari 0.857. dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keempat variabel di atas bebas atau tidak saling berkorelasi.
b. Uji terhadap Gejala Heterokedastisitas
Pengujian terhadap heterokedastisitas dilakukan dengan pengujian Park. Caranya dengan meregresikan logaritma linier antara nilai residual kuadrat dan nilai variabel inbdependen untuk memperoleh nilai koefisien yang kemudian dilihat signifikansinya. Jika nilai signifikansinya lebih dari 5 % (0,05), maka tidak terdapat heterokedastisitas. Sebaliknya jika signifikansinya lebih kecil dari 5 % (0,05), maka terdapat heterokedastisitas.
Tabel 4.9
Uji Heterokedastisitas (Uji Park)
Variabel Sig.t Sig Kesimpulan
PDRB (X1) 1,000 0,05 Tidak ada heterokedastisitas
PMDN (X2) 1,000 0,05 Tidak ada heterokedastisitas
Inflasi (X3) 1,000 0,05 Tidak ada heterokedastisitas
Suku Bunaga (X4) 1,000 0,05 Tidak ada heterokedastisitas Sumber: Data Primer yang diolah, 2012
commit to user
128
Berdasarkan tabel di atas, semua nilai signifikansi variabel independen lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat heterokedastisitas dalam model regresi.
c. Uji terhadap Gejala Autokorelasi
Algifari (2000:89) mengemukakan bahwa autokorelasi merupakan korelasi antara anggota sampel yang di urutkan berdasarkan waktu. Untuk mendiagnosis adanya autokorekasi dalam suatu model regresi dilakukan dengan pengujian terhadap nilai uji Durbin Watson (DW) dengan ketentuan sebagai berikut :
Tabel 4.10
Pengukuran Autokorelasi
Hipotesis Keputusan Jika
Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0 < d < dl Tidak ada autokorelasi positif No Decision dl
Tidak ada autokorelasi negative Tolak 4-dl < d < 4
Tidak ada autokorelasi negative No Decision 4-du -dl
Tidak ada autokorelasi positif atau negative
Diterima du < d < 4-du
Sumber: Algifari, 2000
Adapun nilai dl dan du sesuai dengan tabel Durbin Watson dengan jumlah varibel 4 dan jumlah data 26 yaitu dl = 0,855 dan du = 1,517. Pengujian dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi antara anggota sampel yang diurutkan berdasarkan waktu. Berdasarkan model summary (lampiran) diperoleh nilai DWhitung
adalah 1,380. Dari 4.5 di atas, dapat kita ketahui bahwa nilai DWhitung
terletak pada interval 0,855 sampai dengan 1,517. Dengan demikian, DW jatuh pada daerah yang tidak terdapar korelasi positif antara anggota sampel yang diurutkan berdasarkan waktu.
commit to user
129
Berdasarkan hasil regresi OLS yang dilakukan untuk membuktikan praduga dalam penelitian ini, dapat dikatakan memenuhi semua asumsi klasik ekonometri, sehingga persamaan yang dihasilkan dapat digunakan untuk diintepretasikan secara ekonomi.
I. Interpretasi Ekonomi
Hasil pengujian statistik dan ekonometrik yang telah dilakukan diatas, dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi yang dihasilkan cukup baik untuk menerangkan perubahan-perubahan penanaman modal asing di DIY. Dari seluruh variabel utama yang dimasukkan ke dalam model, ternyata tidak semua variabel bebas signifikan. Hal ini berarti penanaman modal asing di DIY hanya dipengaruhi oleh sebagian dari variabel bebas yang diuji. Pengujian statistik yang telah dilakukan meliputi besaran-besaran koefisien determinasi (R2) dan pengujian arti penting statistik baik bagi masing-masing koefisien regresi secara individu (membandingkan t hitung dengan t tabel) maupun arti penting secara simultan (membandingkan F hitung dengan F tabel). Pengujian lain yang berkenaan dengan uji terhadap penyimpangan asumsi klasik atas gejala multikolinieritas, heterokedastisitas dan autokorelasi.
Koefisien determinasi (R2) yang diperoleh cukup tinggi, yaitu 0,830 (mendekati 1), sehingga dapat diartikan bahwa sebesar 83 % variabel penanaman modal asing di Daerah Istimewa Yogyakarta (variabel tergantung) dapat dijelaskan oleh variabel PDRB DIY, PMDN, Inflasi, dan suku bunga sebagai variabel bebasnya. Sementara sisanya (17%) dijelaskan oleh variabel yang lain.
Hasil pengujian yang telah dilakukan, diperoleh F hitung sebesar 31,501 yang lebih besar dari F tabel pada tingkat signifikansi 5% (2,840). Ini berarti bahwa penanaman modal asing di DIY secara simultan dipengaruhi oleh PDRB DIY, PMDN, Inflasi, dan suku bunga.
Interpretasi dari uji terhadap signifikansi masing-masing variabel yang diteliti dijelaskan sebagai berikut:
commit to user
130 1. PDRB
Hasil regresi diperoleh nilai t hitung untuk variabel PDRB sebesar 3,426 dengan signifikansi 0,003. Melihat t hitung yang lebih besar dari tabel (3,426 > 1,708) dapat dikatakan bahwa Ho daru uji hipotesis ditolak yang berarti bahwa variabel PDRB mempengaruhi secara signifikan perubahan modal asing di Daeerah Istimewa Yogyakarta. Pengaruh positif variabel PDRB (X1) dapat dilihat pada model regresi yang terbentuk, yaitu sebesar 3,426. Pengaruh positif ini memberi arti bahwa antara PDRB dan penanaman modal asing memiliki hubungan yang searah, yaitu jika PDRB ditingkatkan 1 satuan maka penanaman modal asing di DIY akan bertambah sebesar 3,426. Sebaliknya, jika PDRB berkurang 1 satuan maka penanaman modal asing akan turun sebesar 3,426.
Hal ini memberi indikasi bahwa upaya untuk mengurangi biaya antara dari masing- masing total produksi bruto dari tiap-tiap kegiatan, sub sektor atau sektor dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun) di Daerah Istimewa Yogyakarta telah banyak diupayakan oleh pelaku ekonomi atau unit-unit usaha, agar mampu memiliki kemampuan finansial. Unit-unit produksi yang dikelompokkan menjadi lapangan usaha, diarahkan agar mampu bersaing tanpa harus mengembangkan volume pembiayaan, sehingga usaha itu lebih survival, dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.
2. PMDN
Hasil regresi diperoleh nilai t hitung untuk variabel PMDN sebesar 3,780 dengan signifikansi 0,001. Melihat t hitung yang lebih besar dari tabel (3,780 > 1,708) dapat dikatakan bahwa Ho daru uji hipotesis ditolak yang berarti bahwa variabel PMDN mempengaruhi secara signifikan perubahan modal asing di Daeerah Istimewa Yogyakarta. Pengaruh positif variabel PMDN (X1) dapat dilihat pada model regresi yang terbentuk, yaitu sebesar 3,780. Pengaruh positif ini memberi arti bahwa antara PDMN dan penanaman modal asing memiliki hubungan yang searah, yaitu jika PMDN ditingkatkan 1 satuan maka penanaman modal
commit to user
131
asing di DIY akan bertambah sebesar 3,780. Sebaliknya, jika PMDN berkurang 1 satuan maka penanaman modal asing akan turun sebesar 3,780.
Peran pemerintah daerah propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif nampaknya akan memberikan hasil yang baik. Strategi untuk berperan secara sistematis sejajar terhadap pengusaha pribumi untuk lebih berkembang. Paradigma ini yang dikembangkan pemerintah dan pelaku usaha, sehingga peran PMDN akan semakin terasa manfaatnya, efeknya atau dampaknya. 3. Inflasi
Hasil regresi diperoleh nilai t hitung untuk variabel inflasi sebesar - 0,398 dengan signifikansi 0,695. Melihat t hitung yang lebih kecil dari tabel (-0,398 < 1,708) dapat dikatakan bahwa Ho daru uji hipotesis diterima yang berarti bahwa variabel inflasi tidak mempengaruhi secara signifikan perubahan modal asing di Daeerah Istimewa Yogyakarta. Pengaruh negatif variabel Inflasi (X3) dapat dilihat pada model regresi yang terbentuk, yaitu sebesar -0,398. Pengaruh negatif ini memberi arti bahwa antara Inflasi dan penanaman modal asing memiliki hubungan yang berbanding terbalik, yaitu jika Inflasi ditingkatkan 1 satuan maka penanaman modal asing di DIY akan berkurang sebesar 0,398. Sebaliknya, jika Inflasi berkurang 1 satuan maka penanaman modal asing akan bertambah sebesar 0,398.
Amat disayangkan bahwa pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta belum mampu menekan laju inflasi sehingga masih menciptakan kesenjangan antara pemilik modal besar dengan perusahaan bermodal menengah. Namun tingkat inflasi ini dirasakan secara nasional, sehingga tidak perlu banyak berpengaruh terhadap iklim usaha di Daerah Istimewa Yogyakarta itu sendiri.
4. Suku Bunga
Hasil regresi diperoleh nilai t hitung untuk variabel suku bunga sebesar 0,460 dengan signifikansi 0,650. Melihat t hitung yang lebih kecil dari tabel (0,460 < 1,708) dapat dikatakan bahwa Ho daru uji hipotesis
commit to user
132
diterima yang berarti bahwa variabel suku bunga tidak mempengaruhi secara signifikan perubahan modal asing di Daeerah Istimewa Yogyakarta. Pengaruh positif variabel Suku Bunga (X2) dapat dilihat pada model regresi yang terbentuk, yaitu sebesar 0,460. Pengaruh positif ini memberi arti bahwa antara suku bunga dan penanaman modal asing memiliki hubungan yang searah, yaitu jika suku bunga ditingkatkan 1 satuan maka penanaman modal asing di DIY akan bertambah sebesar 0,460. Sebaliknya, jika suku bunga berkurang 1 satuan maka penanaman modal asing akan turun sebesar 0,460.
Harus diakui bahwa tingkat suku bunga yang rendah akan memberikan dampak terhadap pengembangan usaha menengah dan kecil, bahkan mikro. Hal ini menjadi fokus usaha dari pemerintah dan sektor swasta dalam melaksanakan kegiatan bisnis dan memberi iklim yang kondusif terhadap kegiatan bisnis di Daerah Istimewa Yogyakarta itu sendiri mungkin secara mandiri.
Pengujian terhadap hipotesis yang telah dikemukakan diperoleh bahwa koefisien yang negatif adalah hanya pada variabel inflasi, sedangkan pada variabel lainnya, yaitu PDRB DIY, PMDN dan suku bunga menunjukkan hubungan yang positif. Akan tetapi variabel suku bunga dan tingkat inflasi tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penanaman modal asing di Indonesia. Berarti bahwa tidak seluruh variabel bebas yang diteliti sesuai dengan hipotesis yang telah dikemukakan dalam skripsi ini.
Variabel bebas yang signifikan mempengaruhi penanaman modal asing di DIY (yaitu PDRB DIY dan PMDN), terlihat bahwa variabel bebas yang memiliki koefisien terbesar adalah PMDN yaitu sebesar 3,870. Hal ini berarti PMDN memberikan pengaruh dominan terhadap penanaman modal asing dibandingkan variabel bebas yang lain. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa investor asing cenderung berani menanamkan modalnya dengan lebih besar di Indonesia jika ada hasil positif dari investasi tersebut yang tampak mata dan dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Percerminan dari hal ini adalah tingginya nilai penanaman modal dalam negeri atau PMDN itu sendiri.
commit to user
133BAB V
PENUTUP
A. KesimpulanBerdasarkan uraian yang telah disajikan dalam bab-bab sebelumnya dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut:
1. PDRB terhadap PMA DIY juga mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan sebesar 3,246. Ini berarti bahwa produk domestik yang berkembang dan dihasilkan oleh DIY cukup mendorong investor asing untuk menanamkan modalnya di DIY.
2. PMDN sebagai realisasi fisik dari adanya PMA mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan dengan PMA DIY sebesar 3,780. Ini berarti bahwa dengan tersedianya fasilitas PMA, pelaksanaan kegiatan investasi ini dapat berjalan dengan lancar.
3. Tingkat inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap penanaman modal asing di DIY.
4. Suku bunga Internasional tidak berpengaruh signifikan terhadap penanaman modal asing di DIY.
5. Fluktuasi tahunan atas PMA di DIY periode 1986-2011 disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya PDRB, PMDN, inflasi dan tingkat suku bunga internasional.
6. Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa suku bunga internasional dan tingkat inflasi di Indonesia tidak mempengaruhi perubahan investasi di DIY.
B. Implikasi
Dari hasil penelitian ini dapat dikemukakan beberapa masukan sebagai berikut:
1. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pengaruh variabel-variabel bebas terhadap PMA di DIY masih terbilang kecil sehingga dipandang perlu
commit to user
134
untuk meningkatkan usaha dalam rangka menciptakan iklim investasi yang menarik antara lain yaitu :
a. Terkait dengan PDRB, pemerintah dan pihak terkait diharapkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan membuat birokrasi yang mudah dan meningkatkan pemahaman aparat daerah tentang prosedur investasi, serta mengadakan promosi yang lebih gencar terhadap sektor-sektor usaha di DIY.
b. Terkait dengan PMDN, pemerintah diharapkan untuk meningkatkan ketersediaan dan kinerja fasilitas atau infrastruktur PMA. Selain itu melarang adanya pungutan retribusi yang tidak didasarkan atas adanya pelayanan jasa.
c. Meningkatkan ketersediaan dan kinerja fasilitas atau infrastruktur Penanaman Modal Asing (PMA).
d. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
e. Birokrasi yang mudah dan memberi peningkatan akan pemahaman aparat daerah tentang prosedur investasi.
f. Melarang adanya pungutan retribusi yang tidak didasarkan atas adanya pelayanan jasa.
g. Mengadakan promosi yang lebih gencar terhadap sektor-sektor usaha di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
2. Dalam menghadapi era globalisasi dan liberalisasi, kita harus dapat meningkatkan dan mengembangkan kesanggupan kita untuk menerima investasi asing yang bersifat offshore production dengan selalu menjaga biaya-biaya input yang kompetitif, peningkatan sumber daya manusia, peningkatan ketersediaan dan kinerja fasilitas atau infrastruktur sehingga memperlancar produksi.
C. Saran
Hasil dari penelitian ini dapat dikemukakan beberapa masukan atau saran-saran yaitu sebagai berikut:
1. Meskipun diakui oleh kalangan pelaku bisnis bahwa tingkat suku bunga internasional berpengaruh terhadap penanaman modal asing, namun