• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dengan diterapkannya UU nomor 12 tahun 1967 di desa Pabelan, kecamatan Pabelan, maka terbentuklah Badan Usaha Unit Desa (BUUD). KUD Sumber Karya Pabelan Kabupaten Semarang berdiri pada tanggal 28 mei 1973. KUD Sumber Karya Pabelan Kabupaten Semarang disahkan oleh Kantor Koperasi

8

dengan Badan Hukum Nomor: 8389.c/BH/PAD/KWK.II/96 pada tanggal 31 Oktober 1996. Untuk memenuhi tuntutan dan perkembangan zaman serta peningkatan berbagai usaha, KUD Sumber Karya Pabelan telah mengalami perubahan Badan Hukum dengan Nomor: 37/BH/PAD/KWK.11.1/1884/XII/2003 pada tanggal 11 Desember 2003.

Dalam mendukung usaha yang dilakukan, KUD Sumber Karya Pabelan Kabupaten Semarang senantiasa melengkapi dengan berbagai sarana pendukung kegiatan usaha dengan maksud untuk memenuhi persyaratan yuridis dalam berusaha, yaitu:

1. Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) 2. Tanda Daftar Perusahaan (TDP) 3. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Visi, Misi, dan Motto KUD Sumber Karya:

Visi yang dimiliki KUD Sumber Karya adalah terbentuknya KUD Sumber Karya Pabelan yang mandiri dilandasi dengan keimanan dalam bertindak, ikhlas dan jujur dalam melangkah yang didukung sepenuhnya oleh anggota dan mampu bersaing serta berkembang sebagai soko guru perekonomian nasional. Serta misi di KUD Sumber Karya adalah menyelenggarakan kegiatan perekonomian dengan prinsip koperasi secara maksimal guna meningkatkan kesejahteraan anggota, meningkatkan kemampuan setiap unit usaha untuk mencapai unit usaha yang otonom sehingga setiap unit usaha akan mampu dan mandiri dalam bersaing, meningkatkan secara optimal kepada setiap anggota untuk berperan aktif dalam memberikan kontribusi khususnya dalam membayar simpanan wajib, serta meningkatkan kemampuan Sumber Daya KUD Sumber Karya Pabelan, sehingga mampu berperan aktif dan bersaing dalam bidang perekonomian.Motto yang dimiliki KUD Sumber Karya Pabelan adalah “BIJAK” yang berarti bahwa KUD Sumber Karya Pabelan ialah “Beriman, Ikhlas, Jujur dan Akhlakul Karimah”.

Jumlah petani yang terdapat di KUD Sumber Karya pada tahun 2013 hingga 2015 berjumlah tetap, yaitu sebanyak 217 petani susu segar, yang dibagi menjadi 5 kelompok petani sesuai pengambilan. Pembagian kelompok petani susu segar

9

terdiri dari kelompok Ujung-ujung (11 petani), kelompok Setro (31 petani), kelompok Andy I (71 petani), kelompok Warak (25 petani), serta kelompok Andy II (79 petani). Dengan rata–rata jumlah sapi yang dimiliki setiap petani adalah sebanyak 3 ekor.

Analisis Program Dan Upaya Penanganan Kualitas Susu Segar

Masalah-masalah yang dihadapi oleh KUD Sumber Karya di unit susu segar adalah pada tahun 2015 terjadi pembuangan susu segar, sehingga pihak unit susu segar telah mengalami kerugian besar dari rusaknya susu segar sebanyak 2.200 liter. Hal ini disebabkan oleh listrik padam dari PLN, sehingga alat yang digunakan untuk operasional unit usaha susu segar terhenti. Disamping itu pemadaman listrik terjadi saat sore hari, ketika para petugas selesai mengambil susu segar dari para petani untuk di cek dan di masukkan ke dalam milk cooling.

Pemadaman listrik yang terjadi dalam satu tahun pun dalam frekuensi jarang, jadi dari pihak KUD pun tidak terlalu memperhatikan genset. Sehingga pada saat listrik padam KUD Sumber Karya tidak dapat memakai genset dikarenakan error.

Perbaikan genset membutuhkan waktu minimal 2 jam, sehingga susu segar dari para petani yang masih berada dalam milk can akan rusak. Karena umur susu segar maksimal untuk bertahan hanya 2 jam diluar alat pendingin. Masalah yang lainnya adalah karena adanya penolakan susu segar yang terjadi di tahun 2014 dan 2015 yang dihadapi oleh KUD Sumber Karya. Penolakan terjadi karena kualitas susu segar yang tidak sesuai dengan standar di IPS (Industri Pengolah Susu).

Demi menjaga kualitas susu segar di KUD Sumber Karya, maka dilakukan usaha-usaha untuk menjaga kualitas produk, yaitu dengan mengadakan program dan upaya dalam menghindari kerusakan maupun mencegah penurunan kualitas susu segar.

Program-program yang dilaksanakan oleh KUD Sumber Karya dalam meningkatkan dan menjaga kualitas susu segar, yaitu: Pertama, mengadakan Studi Sebulan Sekali (S3), yaitu sebuah studi yang dilakukan selama satu bulan sekali dan bertempat di KUD Sumber Karya dengan membahas berbagai informasi dan melakukan pelatihan-pelatihan yang dapat menjadi ilmu bagi para

10

petani susu segar terkait kualitas susu segar. Contoh informasi yang diberikan pihak PT Sari Husada kepada para petani susu segar adalah bagaimana cara para petani mendapatkan kualitas susu segar yang bagus, karena kualitas susu segar yang dipengaruhi pula oleh cuaca. Kedua, membentuk pertemuan yang ditujukan untuk para petani susu segar di KUD Sumber Karya. Melalui program ini, para petani susu segar akan di pertemukan untuk bertukar pendapat dan berdiskusi terkait dengan kualitas susu segar yang dihasilkan. Selain berdikusi para petani mengadakan kegiatan rutin berupa arisan yang diadakan satu bulan sekali yang diadakan di KUD Sumber Karya Pabelan. Ketiga, sudah adanya SOP (Standart Operating Procedure) pada unit susu segar di mana SOP tersebut sudah aktif berjalan semenjak tahun 2011.

Upaya yang dilakukan oleh KUD Sumber Karya Pabelan untuk menjaga kualitas susu segar, yaitu dengan cara lebih memperhatikan setiap proses yang bersangkutan dengan susu segar dalam menghindari kerusakan. Pertama, membersihkan milk can dan milk cooling (mesin pendingin yang dimiliki KUD Sumber Karya untuk menyimpan susu segar dari para petani). Milk can dan Milk cooling dibersihkan dengan menggunakan air panas dan bahan kimia berupa Tepol secara berkala, yaitu setiap hari. Kedua, setiap petugas yang bertugas dalam pengambilan susu segar menggunakan sebuah alat, yaitu bodek. Ketiga, pengambilan susu segar dari para petani susu harus ABC (Asli, Bersih, Cepat).

Keempat, setelah susu dicampur semua dan sebelum masuk kedalam mesin pendingin, susu tersebut harus dicek terlebih dahulu dengan mesin Lactoscan.

Cara kerja mesin Lactoscan yaitu dengan cara memasukkan susu sebanyak 5 ml hingga 10 ml ke dalam mesin tersebut, yang nantinya mesin tersebut akan menghasilkan sebuah data yang menggambarkan kualitas susu yang diuji secara terperinci. Selain dengan menggunakan mesin Lactoscan, cara lain yang ditempuh, yaitu dengan melakukan Gerber. Gerber merupakan pengujian yang dilakukan secara manual dengan mengambil sampel susu sebanyak 5 ml. Sampel susu tersebut dicampurkan dengan asam sebanyak 1 tetes. Pengujian ini memiliki tujuan untuk pemeriksaan kadar lemak susu. Apabila dari campuran tersebut ada

11

pemisahan antara susu yang menggumpal dan air, maka susu dinyatakan rusak.

Pengecekan Berat Jenis susu dilakukan dengan menggunakan alat bodek, dalam perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa susu yang encer adalah susu yang memiliki BJ (Berat Jenis) susu yang rendah. Pengecekan lainnya adalah Resasolin yang maksudnya adalah pengecekan yang berfungsi untuk mengetahui tingkat kesegaran susu serta umur susu agar dapat sesuai dengan standar pabrik. Zat yang dipakai adalah Netrolet, yaitu dengan cara mencampurkan susu segar 5 ml dan 1 tetes netrolet. Apabila dari campuran tersebut terjadi perubahan warna, maka susu segar dinyatakan rusak.

Masalah yang dihadapi KUD Sumber Karya adalah pada tahun 2014 dan 2015 terjadi penolakan susu segar pada Cita Nasional dan Sari Husada dikarenakan susu segar yang telah dikirim oleh KUD Sumber Karya ke masing- masing IPS (Industri Pengolah Susu) tidak memenuhi standart susu yang diinginkan oleh pihak Cita Nasional dan Sari Husada. Upaya-upaya yang dilakukan pada kasus di atas adalah susu yang ditolak akan dibawa kembali ke KUD untuk ditampung dan dicampur dengan susu segar yang sudah ada dengan kualitas yang berstandar. Sumber Karya. Maka dapat disimpulkan biaya yang dikeluarkan untuk kualitas susu segar merupakan biaya kualitas. Biaya kualitas dipakai untuk menentukan kualitas susu segar dan harga penjualan susu segar. Tabel 1 menunjukkan biaya-biaya yang dikeluarkan KUD Sumber Karya yang berkaitan dengan kualitas susu segar sesuai dengan upaya-upaya dan program-program yang dilakukan KUD Sumber Karya.

12

Tabel 1. Rincian Biaya Kualitas Unit Susu Segar (dalam Anggaran)

Biaya: Program Frek Total /tahun 7. Pengecekan Sebelum susu segar masuk di milk

cooling

1. Upah kepada karyawan yang bertanggung jawab pada

1 kali 200,000 0.24 susu segar yang dibawa kembali dari IPS ( Industri

Pengolah

Susu) ke KUD Sumber Karya

2. Upah tambahan karyawan Laborat 1 kali 120,000 Total Biaya Kegagalan Eksternal 320,000

TOTAL BIAYA KUALITAS 134,748,000 100

Sumber : data primer yang diolah, 2016

Rincian anggaran biaya yang dibuat KUD Sumber Karya terkait dengan kualitas susu segar per tahunnya adalah sebesar Rp 134,748,000 dengan persentase terbesar dikeluarkan untuk biaya pencegahan yaitu sebesar 95,90%.

Persentase biaya penilaian adalah sebesar 1,86%, persentase biaya kegagalan internal tiap 1000 liternya sebesar 2%, dan biaya kegagalan eksternal adalah sebesar 0,24% setiap kali keterjadian. KUD Sumber Karya membuat batasan

13

bahwa biaya kegagalan internal tidak memiliki batasan yang dikatakan jumlah yang materiil dan tidak materiil, namun biaya kegagalan eksternal memiliki batasan untuk dinyata kan bahwa jumlah tersebut materiil adalah sebesar 0%

sampai 2% dari total Biaya Kualitas.

Biaya Kualitas Biaya Pencegahan

Sumber dari Studi Sebulan Sekali (S3) yang dilaksanakan di KUD Sumber Karya adalah dari Sari Husada. Biaya jamuan untuk tim dari Sari Husada adalah 8 orang dan semua petani susu segar yaitu sebanyak 217 orang, dengan anggaran Rp. 9.000/orang. Jadi, biaya jamuan untuk para petani dan tim PT Sari Husada berupa snack yang di bagikan setelah pelatihan yang disampaikan oleh tim PT Sari Husada. Biaya yang dikeluarkan untuk S3 selama sebulan sebesar Rp 2.025.000, dan akumulasi biaya dalam setahun adalah sebesar Rp 24.300.000 (12 bulan x Rp 2.025.000)

Kegiatan kedua adalah pertemuan antar petani susu di KUD Sumber Karya.

Biaya jamuan yang dianggarkan adalah Rp. 30.000 untuk setiap petani, terdapat 100 petani susu segar. Sehingga biaya jamuan yang dikeluarkan untuk tiap bulan adalah Rp 3.000.000 (100 petani x Rp. 30.000) atau Rp. 36.000.000 selama satu tahun (12 bulan x Rp 3.000.000)

Pembersihan milk cooling dan milk can setiap harinya dengan menggunakan air hangat dan bahan kimia yaitu tepol. Tepol yang digunakan setiap harinya

adalah sebanyak 5 liter dengan biaya sebesar

Rp 20.000/liter, jadi biaya untuk pembelian tepol adalah sebesar Rp 100.000/harinya atau Rp. 37.200.000/tahun. Selain itu, kegiatan ini membutuhkan gas untuk memasak air panas dalam satu minggu membutuhkan dua tabung gas 3 kg seharga Rp. 18.000/tabung. Sehingga untuk pembelian tabung gas adalah sebesar Rp. 1.728.000/tahun. Biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan ini adalah Rp. 38.928.000/tahun.

14

Lima petugas pengambil susu segar masing – masing diberi alat bodek. Alat ini akan digunakan oleh para petugas pengambil susu untuk menentukan apakah susu segar dari para petani layak untuk diterima atau tidak. Biaya pembelian alat bodek untuk uji berat jenis susu segar (BJ) adalah sebesar Rp. 1.500.000/ unit dengan umur ekonomis 1 tahun. Biaya pada tahap keempat dalam setahun adalah sebesar Rp 7.500.000

Setelah susu dicampur semua dan sebelum masuk ke dalam milk cooling, susu tersebut harus diuji terlebih dahulu dengan mesin Lactoscan, mesin tersebut berharga Rp. 20.000.000 dengan umur ekonomis 1 tahun. Alat ini dimiliki oleh pihak KUD Sumber Karya hanya sampai ditahun 2013 saja. Biaya pengujian Gerber, pengecekan berat jenis susu dilakukan dengan pencampuran susu segar 5 ml dengan 1 tetes asam. Harga dari asam adalah Rp. 150.000/liter dengan 1 liter untuk 3 bulan. Maka biaya yang dikeluarkan untuk membeli asam dalam setahun adalah sebesar Rp. 600.000; Alat untuk pengecekan BJ susu adalah seharga Rp.

1.500.000 dengan umur ekonomis 1 tahun. Maka biaya yang dikeluarkan untuk membeli alat bodek dalam satu tahun sebesar 1.500.000; penggunaan Netrolet yang memiliki harga Rp 100.000/liter. Satu liter netrolet dapat dipakai selama 3 bulan, maka biaya untuk membeli netrolet dalam satu tahun sebesar Rp. 400.000.

Pada kegiatan ini total biaya yang dikeluarkan dalam setahun adalah sebesar Rp penelitian ini menemukan adanya kerusakan susu segar di tahun 2015 saja. Susu segar dinyatakan rusak sebelum susu segar di pasarkan atau dikirim ke IPS, maka

15

susu segar yang telah rusak atau susu yang telah pecah dan tidak layak konsumsi akan dijual kembali ke para petani susu segar. Penjualan susu segar yang telah pecah diberi harga Rp 1.000/liter.

Pendapatan dari penjualan tersebut adalah sebesar Rp 2.200.000 (2.200 liter x Rp 1.000). Sisa dari kerugian yang dialami KUD Sumber Karya akan masuk pada biaya Kegagalan internal. Besarnya Biaya kegagalan Internal di tahun 2015 dapat dihitung dengan jumlah susu rusak dikali dengan Rp 2.700 (Rp 3.700 – Rp 1.000).

Biaya Kegagalan Eksternal

Adanya penolakan susu segar pada IPS ( Industri Pengolah Susu) tertentu pada tanggal 21 Januari 2014, 21 Februari 2014 dan 10 Desember 2015, maka susu segar akan di bawa kembali ke KUD Sumber Karya. Hal ini membutuhkan biaya, diantaranya adalah upah karyawan yang mengangkat susu segar kembali dari IPS ke KUD Sumber Karya sebanyak empat orang yang masing-masing menerima Rp 50.000, sehingga setara dengan Rp 200.000; upah lembur petugas laborat unit susu segar yang seharusnya menjaga kantor saja, namun harus menunggu susu segar yang dibawa kembali ke KUD Sumber Karya untuk diperiksa kembali dan dimasukkan ke dalam milk can. Biaya tersebut sesuai dengan langkah-langkah susu segar sebelum masuk dalam milk can. Biaya untuk dua karyawan bagian laborat susu segar KUD Sumber Karya adalah sebesar Rp 120.000 (Rp 60.000 x 2 karyawan = Rp 120.000)

16 Sumber: data primer yang diolah, 2016

Gambar 1

Biaya Kualitas KUD Sumber Karya Tahun 2013 s/d 2015

Dengan rincian biaya kualitas yang benar – benar terjadi tahun 2013 sampai 2015 dari tabel 1, maka dapat dilihat dari tahun 2013 sampai 2015 alokasi persentase masing biaya-biaya kualitas:

Tabel 2. Persentase Klasifikasi Biaya Kualitas dari 2013 s/d 2015

BIAYA KUALITAS BIAYA KUALITAS BIAYA KUALITAS

Dari tahun 2013 sampai 2015 biaya kualitas terbesar dikeluarkan untuk biaya pencegahan. Biaya yang dikeluarkan untuk penilaian susu segar stabil dari tahun 2013 sampai 2015. Biaya kegagalan internal pada tahun 2015 muncul sebesar 5,03% dari total biaya kualitas, karena KUD Sumber Karya tidak ada batasan untuk biaya kegagalan dikatakan materiil atau tidak maka besarnya persentase biaya kegagalan internal dianggap masih non-materiil dan tidak ada masalah.

Tidak adanya batasan kegagalan internal (kerusakan susu dianggap wajar) di KUD Sumber Karya karena KUD Sumber Karya unit susu segar memiliki

17

pandangan bahwa dengan menjual bahan pangan yang sensitif untuk cepat rusak maka tidak diperlukan batasan. Namun jika diteliti, kerusakan susu segar yang terjadi dapat diatasi.

Kerusakan yang terjadi yaitu sebelum susu dikirim ke IPS (Industri Pengolah Susu) dikarenakan mati lampu dari PLN, sehingga kerusakan dapat di estimasi maupun dicegah dengan genset. Apabila genset error disebabkan karena genset tidak pernah dipakai dan tidak ada pengecekan, maka susu segar akhirnya harus rusak dan terbuang. Sehingga, susu dari para petani tidak dapat dimasukkan ke milk cooling karena masih menunggu perbaikan genset. Perbaikan genset yang dilakukan membutuhkan waktu yang cukup lama minimal dua jam. Sehingga susu yang ada di milk can dipastikan akan rusak karena tidak langsung didinginkan setelah diperiksa. Sedangkan yang sudah di milk cooling tidak ada masalah karena masih dalam keadaan dingin.

Besarnya persentase biaya kegagalan internal terhadap biaya kualitas adalah sebesar kerugian yang akan ditanggung oleh KUD Sumber Karya. masalah lain adalah adanya penolakan susu segar tahun 2014 dan 2015, yang menyebabkan munculnya biaya kegagalan eksternal. Penolakan yang terjadi tahun 2014 sebesar 0,57% (dua kali penolakan) dan tahun 2015 adalah 0,27%. Penolakan susu segar dari IPS terjadi, meskipun KUD Sumber Karya sudah melakukan penilaian sebelum melakukan pengiriman ke IPS yang dituju. Hal ini disebabkan dari Keterbatasan alat yang dipakai untuk melakukan pengecekan, cuaca, dan pengambilan susu segar yang tidak ABC (Asli, Bersih, Cepat) dari petani susu segar. Keterbatasan alat yang dipakai adalah mulai tahun 2014 KUD Sumber Karya tidak lagi memakai alat Lactoscan, alat ini adalah alat yang menghasilkan rincian kualitas susu secara rinci dan akurat.

Cuaca seperti saat hujan akan mempengaruhi kualitas susu segar, karena dengan musim hujan, rumput yang dihasilkan adalah rumput muda yang mengandung kadar air yang cukup tinggi sehingga dapat menyebabkan susu akan lebih encer. Cara mengatasinya adalah dengan ternak harus diberi tambahan makanan yaitu selain rumput, sapi diberi konsentrat dengan protein 16%. Dan

18

pengambilan susu yang ABC dari awal haruslah diperhatikan. Namun terkadang untuk pengambilan susu segar dari petani, petugas pengambil susu segar mengalami kesulitan yaitu dengan masalah di kendaraan. Karena persentase yang dihasilkan adanya biaya kegagalan eksternal kurang dari 1% dari total biaya kualitas yang dikeluarkan, maka adanya kegagalan eksternal masih dalam keadaan non-materiil bagi KUD Sumber Karya.

Pendapatan KUD Sumber Karya

Pendapatan yang diperoleh KUD Sumber Karya pada unit susu segar didapat dari penjualan susu segar ke IPS (Industri Pengolah Susu). Penjualan susu segar dilakukan pada IPS (Industri Pengolah Susu) PT Sari Husada, PT. Cita Nasional dan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang menjual susu segar. Dengan adanya perbedaan harga dan waktu penjualan di setiap tempat penjualannya. Harga susu segar dari KUD Sumber Karya kepada PT. Sari Husada pada tahun 2013 sampai 2015 adalah sebesar Rp. 4.100/liter. Penjualan serta pengiriman susu segar yang dilakukan KUD Sumber Karya kepada PT. Sari Husada adalah 85% volume susu segar per harinya. Dengan adanya perhitungan khusus yang ditawarkan PT Sari Husada kepada KUD Sumber Karya dengan mengkonversi liter ke kilogram untuk penerimaan susu segar yang diterima PT Sari Husada dan distabilkan kembali untuk pembayaran dari kilogram ke liter untuk pembayaran PT Sari Husada ke KUD Sumber Karya. Terdapat perbedaan konversi yaitu 1 liter adalah sama dengan 0,8 kg dan 1 kg adalah sama dengan 1,3 liter. Harga penjualan kepada PT.

Cita Nasional adalah Rp. 4.200/ liter susu segar. Penjualan serta pengiriman dilakukan setiap 3 hari sekali dengan kuantitas 10% setiap volume susu segar per harinya. UKM masyarakat dihargai Rp. 5.000/liter susu segar. Penjualan dilakukan setiap harinya dengan kuantitas yang menyesuaikan volume susu segar di KUD Sumber Karya.

19

1 liter = 0,8 Kilogram 1 Kilogram = 1,3 liter.

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Gambar 2

Mekanisme Konversi Liter dan Kilogram pada PT Sari Husada

Dengan tarif susu segar yang sama dari tahun 2013 sampai 2015, pendapatan yang diterima dapat dilihat dari unit susu segar yang terjual di KUD Sumber Karya. Apabila terjadi penolakan susu segar di IPS, maka akan mempengaruhi besarnya pendapatan. Seperti penolakan yang terjadi di tahun 2014 pada IPS PT Cita Nasional yang terjadi dua kali, yaitu pada 21 Januari dan 21 Februari sebanyak 497,2 liter akan langsung dialokasikan ke UKM dengan tarif susu segar yang lebih tinggi. Pada tahun 2015 yaitu pada tanggal 10 Desember penolakan pada PT Sari Husada sebanyak 4.200 liter akan langsung dialokasikan ke PT Cita Nasional dengan tarif yang lebih tinggi.

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Gambar 3

Penjualan Susu Segar dalam Unit Tahun 2013 s/d 2015

Gambar penjualan susu segar dalam unit tahun 2013 sampai dengan 2015 menunjukkan bahwa dari tahun 2013 sampai 2015, penjualan susu segar dari para petani mengalami kestabilan, kecuali di bulan Oktober, November dan Desember.

20

Bulan–bulan tersebut adalah bulan yang merupakan musim penghujan. Meskipun musim peghujan, tiap–tiap 3 bulan terakhir tersebut mengalami kondisi yang berbeda, dapat dilihat dengan unit susu yang terjual, hal ini disebabkan karena masalah berada pada umur rumput. Dari tahun 2013 hingga 2015, setiap bulan Oktober terjadi kenaikan unit susu yang terjual, dikarenakan rumput yang dipakai untuk pakan sapi menggunakan setengah rumput sisa bulan September yang merupakan rumput yang sudah tua dengan dicampur dengan setengah rumput yang ada di bulan Oktober. Bulan November mengalami penurunan unit susu segar terjual, dikarenakan pada bulan ini menggunakan setengah rumput pada bulan Oktober dan setengah bulan November, dengan musim hujan yang terus menerus di 3 bulan terakhir, maka rumput yang dipakai untuk makan sapi pada bulan November adalah rumput muda. Bulan Desember rumput yang dipakai untuk makan sapi adalah sama, yaitu rumput muda dari rumput setengah bulan November dan setengah bulan Desember, namun para petani menambah makanan rumput muda dengan makanan pendukung yaitu konsentrat yang memiliki protein tinggi, maka dari itu unit susu segar yang dihasilkan bulan Desember meningkat dari tahun 2013 hingga 2015. Pencampuran makanan pendukung pada sapi, hanya dilakukan hanya bulan Desember saja walaupun keadaan rumput untuk makan sapi yang sama antara bulan November dan Desember. Pengambilan keputusan memberi konsentrat hanya pada bulan Desember tergantung pada kepentingan para petani.

21

Biaya Kualitas terhadap Pendapatan

Sumber: data primer yang diolah, 2016

Gambar 4

Biaya Kualitas vs Pendapatan KUD Sumber Karya Tahun 2013 s/d 2015 Perbandingan antara grafik total biaya kualitas yang dikeluarkan dengan pendapatan yang diterima KUD Sumber Karya unit susu segar menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pendapatan yang diterima KUD Sumber Karya yang berasal dari unit susu yang terjual serta kualitas susu segar. Selain itu, terbukti bahwa dengan adanya upaya dan program yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas susu segar dapat meminimkan pembuangan susu segar, sehingga produktivitas susu segar yang meningkat. Produktivitas tersebut dapat dilihat dari

Biaya Kualitas vs Pendapatan KUD Sumber Karya Tahun 2013 s/d 2015 Perbandingan antara grafik total biaya kualitas yang dikeluarkan dengan pendapatan yang diterima KUD Sumber Karya unit susu segar menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pendapatan yang diterima KUD Sumber Karya yang berasal dari unit susu yang terjual serta kualitas susu segar. Selain itu, terbukti bahwa dengan adanya upaya dan program yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas susu segar dapat meminimkan pembuangan susu segar, sehingga produktivitas susu segar yang meningkat. Produktivitas tersebut dapat dilihat dari

Dokumen terkait