INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
2.5 Analisis Data
3.1.4 Perhitungan Jumlah Bakteri Total dan Pengamatan Koloni Bakteri yang Dominan Secara Kualitatif
Jumlah bakteri yang tumbuh pada media ini merupakan total bakteri yang terdapat pada sampel air tersebut. Hasil plating bakteri dari air selokan tertera pada Gambar 6 dan air tandon pada Gambar 7.
13
Gambar 6. Koloni bakteri yang berasal dari air selokan pada media TSA yang berumur 1x24 jam pada suhu inkubasi 28-30oC
Gambar 7. Koloni bakteri yang berasal dari air tandon pada media TSA yang berumur 1x24 jam pada suhu inkubasi 28-30oC Morfologi koloni pada sumber air selokan dan air pemeliharaan pada perlakuan kontrol (+), pencegahan dan pengobatan didapatkan bakteri yang beragam. Pada air tandon dan air pemeliharaan perlakuan kontrol (-) ditemukan bakteri dengan morfologi koloni yang homogen.
Perhitungan jumlah total bakteri pada tiap sumber air dan air pemeliharaan dilakukan pada akhir pemeliharaan. Jumlah total bakteri yang terdapat pada sumber air dan air pemeliharaan terdapat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil perhitungan bakteri pada sumber air dan air pemeliharaan pada setiap perlakuan di akhir pemeliharaan
Sampel Kepadatan Bakteri
(CFU/ml) Morfologi Koloni
Air Selokan 4,8×104 Beragam
Air Tandon 3,32×104 Homogen
Kontrol (+) 1,24×106 Beragam
Kontrol (-) 4,82×105 Homogen
Pencegahan 7,92×105 Beragam
Pengobatan 6,5×105 Beragam
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa jumlah kepadatan bakteri pada sampel air selokan sebesar 4,48×104 CFU/mllebih banyak dibandingkan dengan sampel air tandon sebesar 3,32×104 CFU/ml. Pada sampel air di akhir pemeliharaan pada bak perlakuan didapatkan hasil dari jumlah kepadatan bakteri yang berbeda. Jumlah kepadatan bakteri terbanyak terdapat pada bak perlakuan kontrol (+) sebesar 1,24×106 CFU/ml, selanjutnya pada bak pencegahan sebesar
14
7,92×105 CFU/ml, bak pengobatan sebesar 6,5×105 CFU/ml dan bak perlakuan kontrol (–) sebesar 4,82×105 CFU/ml.
3.1.5 Karakterisasi Isolat Bakteri Terpilih
Uji karakterisasi isolat bakteri terpilih dilakukan terhadap bakteri yang terdapat pada air tandon. Hasil karakterisasi isolat bakteri terpilih dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Karakterisasi isolat bakteri terpilih
Uji Hasil
Pewarnaan Gram Gram negatif
Oksidasi/Fermentasi -
Katalase +
Oksidase -
Motilitas +
Berdasarkan hasil uji dan indentifikasi dengan menggunakan tabel Cowan, maka didapatkan hasil bahwa isolat bakteri terpilih tersebut merupakan bakteri dalam genus Alcaligenes.
3.1.6 Kualitas Air
Parameter kualitas air yang diukur dalam penelitian ini adalah oksigen terlarut, suhu, pH, amoniak dan jumlah bakteri. Parameter kualitas air diamati pada awal pemeliharaan, saat pertengahan pemeliharaan dan akhir uji tantang. Data kualitas air dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Kualitas air selama pemeliharaan
Parameter Perlakuan Standar
(pustaka) K (+) K (-) PC PG Suhu (oC) 25-29 25-29 25-29 25-29 25-32 a Ph 6,31-7,15 6,96 -7,31 6,7-7,23 6,71-7,41 6,5-8,5 a DO (mg/l) 3,5-5,5 3,6-5,9 3,1-5,4 4 -5,4 >3 a Amoniak (NH3) (mg/l) 0,020 0,026 0,024 0,034 0,7-2,4 b Keterangan : a) SNI 7550:2009 b ) Boyd (1982)
Tabel 5 menunjukkan nilai kualitas air selama pemeliharaan. Dari hasil analisis kualitas air, menunjukkan bahwa nilai kualitas air relatif tidak berbeda antar perlakuan dan masih dalam batas toleransi untuk pertumbuhan ikan lele.
15 3.2 Pembahasan
Berbagai jenis bakteri banyak ditemukan di setiap perairan. Bakteri-bakteri yang sering dijumpai pada perairan tawar di antaranya adalah Pseudomonas, Flavobacterium dan Proteus (Irianto, 2005). Bakteri yang terdapat di alam tidak semuanya bersifat patogen. Bakteri yang bersifat patogen di antaranya seperti Aeromonas hydrophila, Vibrio harveyi, Streptococcus agalactiae dan Vibrio alginolyticus. Penyakit pada ikan yang disebabkan oleh bakteri patogen disebut sebagai penyakit bakterial. Penyakit bakterial dapat dikendalikan dengan penggunaan imunostimulan. Imunostimulan merupakan suatu bahan yang berasal dari mahluk hidup atau gabungan dari bahan-bahan sintetik yang dapat meningkatkan sistem pertahanan tubuh. Imunostimulan dapat memberikan efek pada sejumlah komponen yang ada pada sistem imun seperti dengan adanya peningkatan aktivitas fagositosis (Sakai, 1999 dalam Tacchi et al., 2011). Imunostimulan dapat diberikan melalui oral atau secara injeksi. Imunostimulan yang diberikan melalui pakan lebih efektif dibandingkan dengan metode injeksi dalam hal biaya ketika mempertimbangkan dari segi pemberian pakan (Tacchi et al., 2011).
Beberapa bahan imunostimulan yang telah digunakan dalam pakan untuk kegiatan budidaya adalah seperti lipopolisakarida (LPS) (Guttvik et al., 2002, Nya dan Austin, 2010 dalam Tacchi et al., 2011), ekstrak dari tumbuhan seperti jahe, dan ekstrak teh hijau (Camellia sinensis) (Abdel et al., 2010 dalam Tacchi et al., 2011) dan penggunaan bawang putih (Sahu et al, 2007 dalam Suman dan Csaba, 2011). Penggunaan imunostimulan dapat dijadikan sebagai bahan alternatif untuk menggantikan penggunaan antibiotik dan bahan-bahan kimia lainnya yang sudah mulai dilarang penggunaanya karena dapat meninggalkan residu pada tubuh ikan dan membahayakan jika dikonsumsi oleh konsumen. Antibiotik juga dapat menyebabkan meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotik yang digunakan.
Potensi tanaman sebagai imunostimulan bagi ikan mulai banyak diterapkan dalam dunia perikanan. Salah satu bahan fitofarmaka yang cukup efektif dalam mengatasi beberapa penyakit adalah bawang putih dan meniran. Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian yang telah dilakukan dalam skala laboratorium seperti penggunaan bawang putih dan meniran untuk mengatasi
16
penyakit akibat bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele (Kurniawan, 2010), penyakit akibat bakteri Streptococcus agalactiae pada ikan nila (Fauziah, 2012) dan penyakit akibat bakteri Vibrio alginolyticus pada ikan kerapu macan (Miranti, 2012).
Penelitian-penelitian tersebut dapat membuktikan bahwa ikan mampu memanfaatkan bahan-bahan aktif yang terdapat pada bawang putih dan meniran. Bahan aktif yang terdapat pada bawang putih adalah allicin. Menurut Durairaj et al. (2009), bawang putih bekerja sebagai antibakteri dan dapat menekan pertumbuhan bakteri serta dapat membunuh bakteri dari golongan Gram negatif dan Gram positif. Allicin pada bawang putih bersifat antibakteri dengan cara menghambat sintesis RNA dan lipid bakteri. RNA yang diproduksi oleh bakteri dalam jumlah sedikit ataupun tidak diproduksi berakibat pada sintesis protein karena tidak adanya messenger RNA, ribosomal RNA dan transfer RNA. Hal ini yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri tersebut karena tidak dapat terbentuknya asam amino dan protein dalam tubuh bakteri. Selain menghambat RNA, allicin juga menghambat sintesis lipid yang berakibat pada sel lainnya terutama pada bagian phospholipid biolayer. Hal ini dapat menyebabkan pembentukan dinding sel yang kurang tepat pada tubuh bakteri baik pada bakteri Gram positif maupun Gram negatif.
Meniran berfungsi sebagai imunostimulator, yaitu mengaktifkan sistem imun. Hal ini sesuai dengan pendapat Sabir dan Rocha (2008) yang menyatakan bahwa meniran bekerja dengan cara mengaktifkan sistem kekebalan tubuh ikan setelah meniran tersebut dimakan oleh ikan. Kandungan zat aktif yang terdapat pada meniran adalah lignan, tanin, terpen, flavonoid, alkaloid dan saponin (Dhar et al, 1968 dalam Bagalkotkar et al, 2006 ). Menurut Suprapto (2006), flavonoid merupakan antioksidan yang mampu merangsang kekebalan tubuh ikan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jiao et al. (2001) dalam Maratani (2006) mengenai fungsi imunitas seluler yang dilakukan secara in vivo pada tikus menunjukkan bahwa senyawa flavonoid dapat memacu proloferasi limfosit dan meningkatkan jumlah sel T yang berperan dalam pembentukan sistem imun.
17
Berdasarkan hasil penelitian pada parameter kelangsungan hidup, perlakuan yang menunjukkan hasil yang paling baik adalah pada perlakuan pengobatan. Hal ini menunjukkan bahwa bahan aktif dalam bawang putih dan meniran bekerja pada saat setelah perlakuan uji tantang (pergantian sumber air) dilakukan. Menurut Muslim et al. (2009), bawang putih dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan bakteri. Bawang putih juga bekerja dalam menghambat pertumbuhan serta membunuh bakteri yang terdapat pada air selokan, diduga melalui pencucian (leaching) pakan yang mengandung bawang putih pada perlakuan pengobatan. Melalui pencucian pakan ke air diduga mampu membunuh bakteri pada air selokan yang diduga terdapat bakteri patogen di dalamnya. Sesuai dengan pendapat Durairaj et al. (2009) menyatakan bahwa allicin yang terdapat pada bawang putih mampu menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri yang ada.
Pada saat perlakuan pencegahan bakteri yang terdapat pada air tandon pun ditekan pertumbuhannya karena adanya allicin dalam pakan perlakuan. Namun pada perlakuan pencegahan tidak didapatkan hasil yang berbeda nyata antara semua perlakuan. Hal ini diduga karena bakteri-bakteri yang terdapat pada air tandon merupakan bakteri non patogen sehingga bakteri tersebut tidak memberikan pengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan. Berdasarkan hasil karakterisasi dan identifikasi dengan menggunakan tabel Cowan terhadap isolat bakteri terpilih (bakteri air tandon), didapatkan bahwa bakteri tersebut adalah bakteri dalam genus Alcaligenes. Bakteri Alcaligenes merupakan bakteri non patogen pada ikan (Austin dan Austin, 1999 dalam Irianto, 2005).
Setelah uji tantang (pergantian sumber air) pada perlakuan pengobatan, allicin pada pakan pengobatan bekerja dengan baik dengan cara menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri yang terdapat pada air selokan. Dengan demikian, pada perlakuan kontrol (+) dan pencegahan didapatkan kelangsungan hidup yang lebih rendah dibanding perlakuan pengobatan. Hal ini, diduga karena terdapat bakteri patogen pada air selokan yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup selama pemeliharaan. Dari hasil TPC air selokan didapatkan bakteri dengan warna koloni yang berbeda-beda (beragam), sedangkan pada hasil TPC air tandon didapatkan warna dan bentuk yang lebih seragam (homogen). Allicin dan
18
flavonoid yang terdapat pada pakan berkerjasama dalam menghambat dan membunuh bakteri yang terdapat pada air selokan, sehingga ikan-ikan dalam perlakuan pengobatan memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan kontrol (+) dan pencegahan.
Uji tantang yang dilakukan dalam penelitian ini berbeda dengan uji tantang yang pada umumnya yang dilakukan dalam penelitian skala laboratorium. Dalam penelitian ini, uji tantang dilakukan dengan cara membuat ikan stres. Menurut Irianto (2005), stressor atau faktor stres pada ikan dapat diklasifikasikan menjadi empat macam diantaranya adalah stressor kimiawi, stressor fisik, stressor biologis dan stressor prosedural. Uji tantang dalam penelitian ini menggunakan stressor biologis dan stressor prosedural. Stressor biologis adalah stressor yang diakibatkan karena adanya masalah seperti densitas terlalu tinggi, multikultur (adanya spesises-spesies yang agresif dan persaingan tempat), dan mikroba (kehadiran mikroba patogenik maupun non patogenik). Stressor biologis yang terdapat dalam penelitian ini diakibatkan oleh mikroba. Dengan adanya pergantian air dari air tandon menjadi air selokan yang keduanya memiliki jumlah mikroba yang berbeda. Berdasarkan hasil TPC bakteri pada media TSA, diketahui bahwa pada air selokan memiliki jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah bakteri pada air tandon. Selain stressor biologis, dalam penelitian ini juga menggunakan stressor prosedural yaitu cara penanganan pada saat uji tantang. Ikan-ikan tersebut diangkat dari terpal dan selanjutnya dimasukkan ke dalam ember agar ikan menjadi lebih padat selama 30 menit. Hal ini dilakukan agar terjadi luka pada kulit ikan yang dapat menyebabkan ikan stres dan serangan dari bakteri yang ada pada air selokan. Dengan demikian, pengaruh dari pemberian pakan dengan campuran bawang putih dan meniran dapat dilihat pengaruhnya.
Jumlah kepadatan bakteri pada suatu perairan merupakan salah satu penyebab timbulnya penyakit. Jumlah kepadatan bakteri akan menyebabkan penyakit atau menjadi patogen jika telah mencapai kepadatan tertentu. Pada bakteri Aeromonas hydrophila akan menjadi patogen pada suatu perairan jika telah mencapai kepadatan 104 CFU/ml (Irianto, 2003 dalam Bijanti et al., 2011). Kepadatan bakteri pada sumber air selokan yang digunakan untuk uji tantang sebesar 4,48×104 CFU/mldan kepadatan bakteri pada sumber air tandon sebesar
19
3,32×104 CFU/ml. Dari hasil TPC yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa bakteri pada air tandon lebih sedikit jumlahnya dan koloni yang terbentuk lebih homogen dilihat dari warna koloni yang dihasilkan dibandingkan pada bakteri di air selokan dengan jumlah yang lebih banyak dan beragam dilihat dari warna koloni yang dihasilkan berbeda-beda. Dari hasil indentifikasi bakteri, pada sumber air tandon didapatkan bakteri dalam genus Alcaligenes yang bersifat non patogen bagi ikan (Austin dan Austin, 1999 dalam Irianto, 2005).
Pertumbuhan baik pada laju pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan harian pada penelitian menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada semua perlakuan. Namun demikian, dari grafik laju pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan harian dapat dilihat bahwa ikan uji menunjukkan pertumbuhan selama perlakuan. Sartika (2011) dalam penelitiannya juga mendapatkan hasil bahwa pemberian pakan yang mengandung bawang putih dan meniran tidak memberikan hasil yang berbeda nyata (P>0,05) dengan kontrol pada parameter pertumbuhan.
Kualitas air selama pemeliharaan menunjukkan nilai yang berada pada kisaran normal. Suhu berkisar 25-32oC, pH 6,5-8,5, DO> 3 mg/l (SNI 7550:2009) dan amoniak < 0,1 (Boyd, 1982).
20 IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari penelitian ini disimpulkan bahwa perlakuan pengobatan bawang putih 2,8% dan meniran 1,4% efektif untuk pengendalian penyakit bakterial dalam pembesaran ikan lele Clarias sp. dengan memberikan kelangsungan hidup sebesar 95,38%.
4.2 Saran
Perlu dilakukan dengan metode uji tantang yang lain untuk dapat mengamati pengaruh dari pakan yang mengandung bawang putih dan meniran dalam upaya pencegahan pada ikan lele untuk skala lapangan.
21 DAFTAR PUSTAKA
Angka SL. 2005. Kajian penyakit motile aeromonad septicaemia (MAS) pada ikan lele dumbo Clarias sp.: patologi, pencegahan dan pengobatannya dengan fitofarmaka. [Disertasi]. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Astrini R. 2012. Pencegahan infeksi Aeromonas hydrophila pada benih ikan lele Clarias sp. yang berumur 11 hari menggunakan bawang putih dan meniran. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ayuningtyas A. 2008. Efektivitas campuran meniran Phyllanthus niruri dan bawang putih Allium sativum untuk pengendalian infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
[BBPBAT] Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi. 2012. Target Produksi Perikanan Budidaya Naik 38 %. www.bbpbat.net. [19 Oktober 2012].
Bagalkotkar G, Sagineedu SR, Saad MS, Stanslas J. 2006. Phytochemicals from Phyllanthus niruri Linn. and their pharmacological properties. Journal of Pharmacy and Pharmacology 58, 1559-1570.
Bijanti R, Gandul M, Wiwik T. 2011. Antigenesity protein of Aeromonas hydrophila caused ulcer disease on goldfish (Cyprinus carpio Linn) using indirect ELISA technique. Kongres Nasional. Asosiasi Farmakologi dan Farmasi Veteriner Indonesia. Denpasar.
Boyd CE. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. Elsevier Publishing Company. New York.
Cowan S, Steel K. 1974. Manual for the Identification of Medical Bacteria, sec ed. Cambrige University Press. 161-180p.
Durairaj S, Srinivasan S, Lakshamanaperumalsamy P. 2009. In vitro antibacterial activity and stability of garlic extract at different pH and temperature. Electronic Journal of Biology 5(1), 5-10.
Fauziah RN. 2012. Penggunaan campuran ekstrak bawang putih Allium sativum –
meniran Phyllanthus niruri dalam pakan untuk pencegahan infeksi bakteri Streptococcus agalactiae pada ikan nila Oreochromis niloticus. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
22
Irianto A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
KKP. 2010. Yogyakarta konsumen lele tertinggi. www.wpi.kkp.go.id. [17 Oktober 2012].
Kurniawan D. 2010. Efektivitas tepung meniran Phyllanthus niruri dan bawang putih Allium sativum dalam pakan untuk pencegahan infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Maratani A. 2006. Pengaruh pemberian rebusan buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) terhadap produksi reactive oxygen intermediate (ROI) makrofag pada mencit Balb/c yang diinfeksi Salmonella typhimurium. [Skripsi]. Fakultas Kedokteran. Universitas Diponegoro. Semarang.
Miranti S. 2012. Penggunaan campuran tepung meniran-bawang putih dalam pakan untuk pengendalian infeksi Vibrio alginolyticus pada benih ikan kerapu macan Epinephelus fuscoguttatus. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Muslim, Holty MP, Widjajanti H. 2009. Penggunaan ekstrak bawang putih (Allium sativum) untuk mengobati benih ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Jurnal Akuakultur Indonesia 8(1), 91-100.
Sabir SM, Rocha JBT. 2008. Water-extractabel phytochemicals form Phyllanthus niruri exhibit distinct in vitro anti-oxidant and in vivo hepatoprotective activity against paracetamol-induced liver damage in mice. J. Food Chemistry 111, 845-851.
Sartika Y. 2011. Efektivitas fitofarmaka dalam pakan untuk pencegahan infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Setyotomo K. 2011. Efektivitas campuran bubuk meniran Phyllanthus niruri dan bawang putih Allium sativum dalam pakan untukpengobatan infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sholikhah EH. 2009. Efektivitas campuran meniran Phyllanthus niruri dan bawang putih Allium sativum dalam pakan untuk pengendalian infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
23
[SNI] Standar Nasional Indonesia. 2009. Produksi ikan nila Oreochromis niloticus Bleeker kelas pembesaran di kolam air tenang. Badan Standardisasi Nasional/ BSN. SNI 7550:2009.
Suman BC, Csaba H. 2011. Application of phytochemicals as immunostimulant, antipathogenic and antistress agents in finfish culture. Reviews in Aquaculture 3, 103-119.
Suprapto. 2006. Tubuh Kebal dengan Herbal. http://64.203.71.11/kesehatan/news/
[20 Oktober 2012].
Tacchi L, Ralph B, Alex D, Christoper JS, Samuel AMM. 2011. Transcriptomic responses to functional feeds in Atlantic salmon ( Salmon salar). Fish and Shellfish Immunology 31, 704-715.
Widiani I. 2011. Lama pemberian pakan mengandung tepung meniran Phyllanthus niruri dan bawang putih Allium sativum untuk pencegahan infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
25 Lampiran 1. Beberapa hasil penelitian pakan yang mengandung bawang putih dan meniran pada komoditas ikan yang
berbeda Bentuk bahan perlakuan Konsentrasi meniran dan bawang putih
Ikan uji Stadia ikan Uji tantang Metode
pemberian
Lama pemberian
Kelangsungan
hidup Pustaka
Ekstrak meniran dan
bawang putih 5 ppt dan 20 ppt Ikan lele 11-13 cm
Bakteri
Aeromonas hydrophila
Penyuntikan 14 hari 73,33% Ayuningtyas
(2008) Ekstrak meniran dan
bawang putih 5 ppt dan 20 ppt Ikan lele 11-13 cm
Bakteri Aeromonas hydrophila Spray melalui pakan 14 hari 58,33% Sholikhah (2009)
Tepung meniran dan
bawang putih 0,7% dan 1,4 % Ikan lele 12,08 cm
Bakteri
Aeromonas hydrophila
Formulasi
dalam pakan 14 hari 60% Kurniawan (2010)
Tepung meniran dan
bawang putih 0,8% dan 1,4% Ikan lele 11,39 cm
Bakteri
Aeromonas hydrophila
Formulasi
dalam pakan 14 hari 46,67% Setyotomo (2011)
Tepung meniran dan
bawang putih 0,7% dan 1,4 % Ikan lele 7,81 g
Bakteri
Aeromonas hydrophila
Formulasi
dalam pakan 14 hari 66,67% Sartika (2011)
Tepung meniran dan
bawang putih 0,7% dan 1,4 % Ikan lele
11,67 cm Bakteri
Aeromonas hydrophila
Formulasi
dalam pakan 21 hari 93,33%
Widiani (2011)
Tepung meniran dan
bawang putih 1,5% dan 2% Ikan nila 10,33 g
Bakteri
Streptococcus niloticus
Formulasi
dalam pakan 14 hari 83,33%
Fauziah (2012) Tepung meniran dan
bawang putih 25 g dan 25 g
Ikan kerapu
macan 7,74 cm
Bakteri Vibrio alginolyticus
Formulasi
dalam pakan 14 hari 83,33%
Miranti (2012) Tepung meniran dan
bawang putih 5 ppt dan 25 ppt Ikan lele 1,53 cm
Aeromonas hydrophila
Formulasi
dalam pakan 21 hari 81,11% Astrini (2012)
Tepung meniran dan
bawang putih 1,4% dan 2,8% Ikan lele 7,27 cm
Pergantian sumber air
Formulasi
26 Lampiran 2. Tata letak terpal penelitian
Keterangan : K+ U1 = Kontrol (+) ulangan 1 K+ U2 = Kontrol (+) ulangan 2 K+ U3 = Kontrol (+) ulangan 3 K- U1 = Kontrol (-) ulangan 1 K- U2 = Kontrol (-) ulangan 2 K- U3 = Kontrol (-) ulangan 3 PC U1 = Pencegahan ulangan 1 PC U2 = Pencegahan ulangan 2 PC U3 = Pencegahan ulangan 3 PG U1 = Pengobatan ulangan 1 PG U2 = Pengobatan ulangan 2 PG U3 = Pengobatan ulangan 3
27 Lampiran 3. Analisis statistik derajat kelangsungan hidup sebelum dan
sesudah uji tantang, laju pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan harian ikan lele selama penelitian
a) Derajat kelangsungan hidup awal
Uji Homogenitas
Levene Statistic db1 db2 Sig.
0,075 2 6 0,929 ANOVA Jumlah kuadrat db Kuadrat tengah F Sig. Perlakuan 56.167 2 28,083 0,559 0,599 Sisa 301.333 6 50,222 Total 357.500 8
b) Derajat kelangsungan hidup akhir
Uji Homogenitas Levene Statistic db1 db2 Sig. 1,153 3 8 0,385 ANOVA Jumlah kuadrat db Kuadrat tengah F Sig. Perlakuan 164,620 3 54,873 1,932 0,203 Sisa 227,212 8 28,401 Total 391,832 11
28 Duncan Perlakuan N α = 0.1 1 2 Kontrol (+) 3 86,9233 Pencegahan 3 94,6167 94,6167 Pengobatan 3 95,3833 Kontro (-) 3 96,1533 Sig. 0,115 0,743
c) Laju pertumbuhan mutlak
Uji Homogenitas Levene Statistic db1 db2 Sig. H7 1,947 3 8 0,201 H14 3,903 3 8 0,055 H21 0,421 3 8 0,743 H28 0,295 3 8 0,828 H35 1,659 3 8 0,252 ANOVA Jumlah kuadrat db Kuadrat tengah F Sig. H7 Perlakuan 0,003 3 0,001 0,745 0,555 Sisa 0,010 8 0,001 Total 0,012 11 H14 Perlakuan 0,003 3 0,001 0,323 0,809 Sisa 0,023 8 0,003 Total 0,025 11 H21 Perlakuan 0,001 3 0,000 0,125 0,943 Sisa 0,019 8 0,002 Total 0,020 11 H28 Perlakuan 0,004 3 0,001 1,359 0,323 Sisa 0,007 8 0,001 Total 0,010 11 H35 Perlakuan 0,006 3 0,002 1,216 0,365 Sisa 0,014 8 0,002 Total 0,020 11
29
d) Laju pertumbuhan harian
Uji Homogenitas Levene Statistic db1 db2 Sig. 0,820 3 8 0,518 ANOVA Jumlah kuadrat db Kuadrat tengah F Sig. Perlakuan 0,687 3 0,229 1,370 0,320 Sisa 1,337 8 0,167 Total 2,024 11
EFEKTIVITAS PENGENDALIAN PENYAKIT BAKTERIAL
PADA PEMBESARAN IKAN LELE Clarias sp. DENGAN
PAKAN YANG MENGANDUNG BAWANG PUTIH DAN
MENIRAN
WAHYU AFRILASARI
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
21 DAFTAR PUSTAKA
Angka SL. 2005. Kajian penyakit motile aeromonad septicaemia (MAS) pada ikan lele dumbo Clarias sp.: patologi, pencegahan dan pengobatannya dengan fitofarmaka. [Disertasi]. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Astrini R. 2012. Pencegahan infeksi Aeromonas hydrophila pada benih ikan lele Clarias sp. yang berumur 11 hari menggunakan bawang putih dan meniran. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Ayuningtyas A. 2008. Efektivitas campuran meniran Phyllanthus niruri dan bawang putih Allium sativum untuk pengendalian infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
[BBPBAT] Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi. 2012. Target Produksi Perikanan Budidaya Naik 38 %. www.bbpbat.net. [19 Oktober 2012].
Bagalkotkar G, Sagineedu SR, Saad MS, Stanslas J. 2006. Phytochemicals from Phyllanthus niruri Linn. and their pharmacological properties. Journal of Pharmacy and Pharmacology 58, 1559-1570.
Bijanti R, Gandul M, Wiwik T. 2011. Antigenesity protein of Aeromonas hydrophila caused ulcer disease on goldfish (Cyprinus carpio Linn) using indirect ELISA technique. Kongres Nasional. Asosiasi Farmakologi dan Farmasi Veteriner Indonesia. Denpasar.
Boyd CE. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. Elsevier Publishing Company. New York.
Cowan S, Steel K. 1974. Manual for the Identification of Medical Bacteria, sec ed. Cambrige University Press. 161-180p.
Durairaj S, Srinivasan S, Lakshamanaperumalsamy P. 2009. In vitro antibacterial activity and stability of garlic extract at different pH and temperature. Electronic Journal of Biology 5(1), 5-10.
Fauziah RN. 2012. Penggunaan campuran ekstrak bawang putih Allium sativum –
meniran Phyllanthus niruri dalam pakan untuk pencegahan infeksi bakteri