HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Belajar Siswa
2. Analisis Data Hasil Belajar Siswa
Tahap analisis dimulai dengan membaca keseluruhan data yang ada dari berbagai sumber. Data yang diperoleh berupa kalimat-kalimat bermakna
lxxi
dan alamiah. Untuk data tes hasil belajar, lembar observasi dan kuisioner dibuat dengan menggunakan analisis statistik deskriptif.
Hasil pengamatan pada siklus I, data hasil belajar fisika siswa diambil melalui perangkat tes pilihan ganda yang diberikan sebelum (pretes) dan sesudah (postes) pembelajaran. Berdasarkan data yang diambil tersebut diperoleh ringkasan data hasil balajar fisika siswa sebagaimana terdapat pada tabel 4.5. Skor pretes yang diberikan sebelum pembelajaran didapatkan hasil rata-rata nilai sebesar 49,29 dengan nilai tertinggi 70 dan nilai terendahnya sebesar 25. Setelah melalui proses pembelajaran dan pemberian tindakan berupa penerapan model Pembelajaran Berdasarkan Masalah, hasil belajar siswa mengalami peningkatan dengan rata-rata nilai sebesar 73,5 dengan nilai tertinggi 85 dan nilai terendah sebesar 50. Jika kita konfersikan dengan skor penguasaan konsep yang diperoleh dari data hasil belajar, penerapan model Pembelajaran Berdasarkan Masalah mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terlihat dari rata-rata nilai hasil pretes siswa yang masuk dalam kategori kurang (49,29) dan meningkat menjadi kategori baik (73,5) dari hasil postes setelah diberi perlakuan berupa tindakan penerapan model Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Perhitungan skor hasil belajar dapat dilihat pada lampiran.
Besarnya peningkatan hasil belajarpun tampak terlihat langsung dari rata-rata nilai Gain ternormalisasi sebesar 0,49 yang termasuk dalam kategori sedang. Melihat hasil ini, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa model Pembelajaran Berdasarkan Masalah yang diterapkan dalam pembelajaran cukup efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Perhitungan gain ternoramlisasi dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 4.3
Ringkasan Data Hasil Belajar Fisika Siswa
Data Pretes Postes Gain ternormalisasi
N 38 38 38
Maks 70 85 0,75
lxxii
Rerata 49,29 73,5 0,49
SD 7,73 9,61 0,19
Sedangkan dari segi ketuntasan belajar yang menunjukan kemampuan siswa dalam menyerap materi pembelajaran yang diberikan selama proses pembelajaran, siswa dikatakan tuntas belajar bila 75 % dari siswa dapat menjawab soal postes dengan nilai > 65. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, 84,2 % siswa dapat menjawab soal postes dengan nilai > 65. Penghitungan presentase ketuntasan hasil belajar dapat dilihat pada lampiran.
Kemudian untuk melihat signifikansi perbedaan nilai rata-rata pretes dan postes maka dilakukan pengujian dua sampel dengan uji statistik. Sebelum dilakukan pengujian, data terlebih dahulu diuji normalitas dan homogenitasnya.
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini, uji normalitas didapat dengan menggunakan uji Chi-Kuadrat, dengan ketentuan bahwa data berdistribusi normal bila memenuhi kriteria χ2
hitung < χ2tabel diukur pada taraf signifikansi
dan tingkat kepercayaan tertentu.
Hasil uji normalitas pretes dan postes dapat dilihat seperti pada tabel dibawah ini, sedangkan perhitungan lengkap dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 4.4
Hasil Uji Normalitas Pretes Dan Postes
Statistik Pretes Postes
N 38 38 x 48,29 73,5 S 7,73 9,61 χ2 hitung 7,21 22,58 χ2 tabel 11,070 11,070
lxxiii
Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan 95% (α = 0,05) dengan derajat kebebasan dk = 5 untuk kedua data hasil penelitian tersebut. Dari tabel dapat disimpulkan bahwa data pretes berdistribusi normal karena memenuhi kriteria χ2
hitung < χ2tabel atau 7,21 < 11,070. Sedangkan data postes tidak
berdistribusi normal karena tidak memenuhi kriteria χ2
hitung < χ2tabel atau
22,58 > 11,070. Pada data postes data tidak berdistribusi normal karena sebagian besar siswa mendapat nilai diatas rata-rata yang mengakibatkan kurva berada disebelah kanan kurva distribusi normal.
Setelah uji normalitas, selanjutnya dicari nilai homogenitasnya. Dalam penelitian ini, nilai homogenitas didapat dengan menggunakan uji Barlet. Kiteria pengujian yang digunakan yaitu, kedua data dikatakan homogen jika χ2
hitung < χ2tabel diukur pada taraf signifikansi dan tingkat kepercayaan
tertentu.
Hasil uji homogenitas pretes dan postes dapat dilihat pada tabel dibawah ini, sedangkan perhitungan lengkap dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 4.5
Hasil Uji Homogenitas Pretes dan Postes
Statistik S2pretes 59,75 S2postes 92,37 S2gabungan 76,06 χ2 hitung 1,74 χ2 tabel 3,841 Keputusan Homogen Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan 95% (α = 0,05) dengan derajat kebebasan dk = 1 untuk kedua data hasil penelitian tersebut. Dari tabel dapat disimpulkan bahwa kedua data tersebut berasal dari sampel yang homogen karena memenuhi kiteria χ2
hitung < χ2tabel atau 1,74 < 3,841.
Setelah data diuji normalitas dan homogenitasnya, kesimpulan dari pengujian tersebut data tidak berdistribusi normal maka uji statistik yang
lxxiv
dipakai ialah uji Mann-Whitney (uji-Zsampel) sebagai pengganti dari uji-t. Langkah selanjutnya ialah mengajukan hipotesis sebagai berikut:
H0 : μ1 =μ2
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa sebelum dan sesudah pembelajaran
Ha : μ1 ≠μ2
Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa sebelum dan sesudah pembelajaran
Pengujian hipotesis tersebut diuji dengan menggunakan rumus uji-Zsampel, dengan kriteria sebagai berikut:
Jika - Ztabel < Zsampel < Ztabel maka H0 diterima pada taraf kepercayaan
0,95.
Jika Zsampel < - Ztabel atau Ztabel < Zsampel maka Ha diterima pada taraf
kepercayaan 0,95.
Rekapitulasi pengujian dapat dilihat pada tabel berikut, sedangkan perhitungan lengkap dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 4.6
Pengujian Rata-Rata Perbedaan Pretes dan Postes Hasil Belajar Fisika Siswa
N Zsampel Ztabel Keputusan
Pretes-Postes 38 7,52 1,68 signifikan
Dari perhitungan diperoleh nilai Zsampel sebesar 7,52 dan Ztabel sebesar
1,68. Hasil pengujian yang diperoleh menunjukan bahwa Zsampel berada di
daerah penerimaan Ha, yaitu Ztabel < Zsampel atau 1,68 < 7,52. Dengan
demikian H0 ditolak dan Ha diterima pada taraf kepercayaan 0,95, hal ini
menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa sebelum dan sesudah pembelajaran.
Setelah itu untuk melihat signifikansi peningkatan hasil belajar siswa melalui nilai rata-rata Gain ternormalisasi maka dilakukan pengujian dua
lxxv
sampel dengan uji statistik. Sama halnya dengan uji statistik pretes-postes, sebelum dilakukan pengujian data terlebih dahulu diuji normalitasnya.
Pengujian normalitas dalam pengujian kali ini menggunakan uji Chi-kuadrat seperti halnya dalam pengujian sebelumnya. Adapun hasil uji normalitas nilai rata-rata N-Gain dapat dilihat seperti pada tabel dibawah ini, sedangkan perhitungan lengkap dapat dilihat pada lampiran
Tabel 4.7
Hasil Uji Normalitas N-Gain
Statistik N-Gain N 38 x 0,49 S 0,19 χ2 hitung 17,64 χ2 tabel 11,070
Keputusan Tidak berdistribusi normal
Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan 95% (α = 0,05) dengan derajat kebebasan dk = 5 untuk data hasil penelitian tersebut. Dari tabel dapat dilihat bahwa data tidak berdistribusi normal karena tidak memenuhi kriteria χ2
hitung < χ2tabel atau 17,64 > 11,070. Pada data nilai rata-rata N-Gain tidak
berdistribusi normal karena sebagian besar siswa mendapat nilai diatas rata-rata yang mengakibatkan kurva berada disebelah kanan kurva distribusi normal.
Kesimpulan dari pengujian tersebut data tidak berdistribusi normal maka uji statistik yang dipakai sama dengan uji statistik sebelumnya yaitu uji
Mann-Whitney (uji-Zsampel) sebagai pengganti dari uji-t. Langkah selanjutnya ialah mengajukan hipotesis sebagai berikut:
H0 : μ1 =μ2
Penerapan model Pembelajaran Berdasarkan Masalah tidak dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa
lxxvi
Penerapan model Pembelajaran Berdasarkan Masalah dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa
Pengujian hipotesis tersebut diuji dengan menggunakan rumus uji-Zsampel, dengan kriteria sebagai berikut:
Jika - Ztabel < Zsampel < Ztabel maka H0 diterima pada taraf kepercayaan 0,95.
Jika Zsampel < - Ztabel atau Ztabel < Zsampel maka Ha diterima pada taraf kepercayaan 0,95.
Rekapitulasi pengujian dapat dilihat pada tabel berikut, sedangkan perhitungan lengkap dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 4.8
Pengujian Rata-Rata Nilai Gain Ternormalisasi
N Zsampel Ztabel Keputusan
Pretes-Postes 38 - 7,47 -1,68 signifikan
Dari perhitungan diperoleh nilai Zsampel sebesar -7,47 dan Ztabel
sebesar -1,68. Hasil pengujian yang diperoleh menunjukan bahwa Zsampel
berada di daerah penerimaan Ha, yaitu Zsampel < - Ztabel atau -7,47 < -1,68.
Dengan demikian H0 ditolak dan Ha diterima pada taraf kepercayaan 0,95, hal
ini menunjukan bahwa Penerapan model Pembelajaran Berdasarkan Masalah dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa.
Analisis untuk data hasil lembar observasi dan kuisioner persepsi siswa terhadap model Pembelajaran Berdasarkan Masalah dilakukan dengan menghitung persentase dari masing-masing skor yang diperoleh. Dari hasil pengamatan melalui lembar observasi, dari 15 aspek yang diamati secara keseluruhan rata-rata persentase aktivitas belajar siswa dilakukan dengan baik. Pengamatan melalui lembar obseravsi ini dilakukan pada pertemuan kedua, ketiga dan keempat. Dari hasil pengamatan, pada pertemuan ke dua skor rata-rata awal aktivitas siswa diperoleh sebesar 43,50. Kemudian pada pertemuan ketiga meningkat menjadi 44,50. Begitu juga pada pertemuan keempat skor rata-rata aktivitas belajar siswa meningkat menjadi 51,75 dan secara
lxxvii
keseluruhan diperoleh skor rata-rata aktivitas belajar siswa sebesar 46,67. Dari skor ini kemudian di olah sehingga secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa sekitar 77,8% siswa melakukan aktivitas pembelajaran dengan baik melalui penerapan model Pembelajaran Berdasarkan Masalah pada pembelajaran fisika.Hasil pengamatan tentang aktivitas siswa melalui lembar observasi dan perhitungan lengkap dapat dilihat pada lampiran.
Kemudian setelah postes diberikan, untuk mengetahui respon siswa terhadap model Pembelajaran Berdasarkan Masalah maka siswa diberikan kuisioner yang berisi pernyataan-pernyataan tentang tanggapan terhadap model Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Berdasarkan hasil kuisioner yang telah diberikan pada siswa setelah kegiatan pembelajaran diakhir siklus, siswa mempunyai persepsi yang positif terhadap model Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Artinya siswa senang belajar dengan menggunakan model Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Berdasarkan data yang diperoleh, rata-rata persentase siswa yang berpandangan positif terhadap model Pembelajaran Berdasarkan Masalah lebih besar daripada siswa yang mempunyai pandangan negatif yaitu sekitar 78,4% siswa berpandangan positif dan 21,6% siswa berpandangan negatif.