• Tidak ada hasil yang ditemukan

ZπŸÒƒÌsùš∅ÏiΒ

HASIL PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian

C. Analisis Data

1. Pengujian Validasi dan Reabilitas a. Uji Validasi

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu pernyataan pada kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pernyataan pada kuesionermampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur. Jika r hitung lebih besar dari rtabel dan nilai positif maka butir pernyataan atau indikator tersebut dinyatakan valid. Jika r hitung > dari r tabel (pada taraf signifikansi 0.05) maka pernyataan tersebutdinyatakan valid (Ghozali, 2016: 52). terlihat bahwa korelasi antara masing-masing indikator terhadap total skor konstruk dari setiap pernyataan menunjukkan hasil yang signifikan, dapat dilihat bahwa keseluruhan item variabel penelitian mempunyai rhitung > r tabel yaitu pada taraf signifikan 5% ( α =0,05) dan n = 75 (n = 75 - 2) diperoleh r tabel = 0,227 maka dapat diketahui r hitung tiap-tiap item > 0,2272Pengujian validitas selengkapnya dapat dilihat berikut ini :

Tabel 4.11 Hasil Uji Validitas

Variabel Pernyataan Rhitung Rtabel KETERANGAN

PEMAHAMAN X1.P1 0,767 0,227 Valid X1.P2 0,715 0,227 Valid X1.P3 0,749 0,227 Valid X1.P4 0,738 0,227 Valid X1.P5 0,748 0,227 Valid X1.P6 0,597 0,227 Valid KESADARAN X2.P1 0,755 0,227 Valid

X2.P2 0,600 0,227 Valid X2.P3 0,453 0,227 Valid X2.P4 0,496 0,227 Valid X2.P5 0,666 0,227 Valid X2.P6 0,578 0,227 Valid KEPATUHAN Y1.P1 0,671 0,227 Valid Y1.P2 0,637 0,227 Valid Y1.P3 0,648 0,227 Valid Y1.P4 0,720 0,227 Valid Y1.P5 0,669 0,227 Valid Y1.P6 0,721 0,227 Valid PENDAPATAN Z1.P1 0,482 0,227 Valid Z1.P2 0,499 0,227 Valid Z1.P3 0,715 0,227 Valid Z1.P4 0,599 0,227 Valid Z1.P5 0,526 0,227 Valid

Sumber: Data Primer yang diolah 2018

Tabel 4.11 tersebut memperlihatkan bahwa seluruh item pernyataan memiliki nilai koefisien korelasi positif dan lebih besar dari pada r-tabel 0,227. Hal ini berarti bahwa data yang diperoleh telah valid dan dapat dilakukan pengujian data lebih lanjut.

b. Uji Relibilitas

Reliabilitas adalah untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten, apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur yang sama pula. Uji reliabilitas alat ukur bisa dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal, pengujian dapat dilakukan test-retest, equivalent, dan gabungan keduanya. Secara internal, reliabilitas alat ukur dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada

68

instrumen dengan teknik tertentu.4 SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur

realibilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha ( ). suatu variabel atau konstruk dikatakan reliabel jika memberikan nilai ( ) 0,70. Hasil pengujian realibilitas untuk masing-masing variabel pada tabel berikut ini:

Tabel 4.12

Hasil Pengujian Realibilitas

Variabel Cronbach's

Alpha

Keterangan

Pemahaman (X1) 0,781 Reliabel

Kesadaran (X2) 0,734 Reliabel

Kepatuhan (Y) 0,769 Reliabel

Pendapatan (Z) 0,715 Reliabel

Sumber: Lampiran Output SPSS, 2018

Pada tabel 4.12 diatas menunjukkan bahwa hasil uji realibilitas tersebut semua variabel mempunyai koefisien Alpha yang cukup besar yaitu diatas 0,7 sehingga dapat dikatakan semua konsep pengukur masing-masing variabel dari kuesioner adalah reliabel sehingga untuk selanjutnya item-item pada masing-masing konsep variabel tersebut layak digunakan sebagai alat ukur.

2. Uji Asumsi Klasik

Sebelum menggunakan teknik analisis regresi linier berganda untuk uji hipotesis, maka terlebih dahulu dilaksanakan uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik dilakukan untuk melihat apakah asumsi-asumsi yang diperlukan dalam analisis

4Syofian Siregar, Statiska Deskriptif Untuk Penelitian, Ed 1, Cet 4, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 173

regresi linear terpenuhi, uji asumsi klasik dalam penelitian ini menguji normalitas data secara statistik, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedasitas.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Untuk lebih memastikan apakah data residual terdistribusi secara normal atau tidak, maka uji statistik yang dapat dilakukan yaitu pengujian one sample

kolmogorov-smirnov. Uji ini digunakan untuk menghasilkan angka yang lebih detail,

apakah suatu persamaan regresi yang akan dipakai lolos normalitas.5 Uji K-S

dilakukan dengan membuat hipotesis sebagai berikut:

1) Jika nilai signfikan atau nilai probablitas > 0,05 maka H0 diterima atau data distribusi normal.

2) Jika nilai signfikan atau nilai probablitas < 0,05 maka H0 ditolak atau tidak berdistribusi normal.

Tabel 4. 13

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 75

Normal Parametersa,b Mean .0000000

Std. Deviation 2.08435383

Most Extreme Differences Absolute .081

Positive .081

5Imam Ghozali, Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. (Semarang, Badan Penerbit Unpid, 2006), h. 156

70

Negative -.068

Test Statistic .081

Asymp. Sig. (2-tailed) .228

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance.

Sumber : Output SPSS 24 (2018)

Berdasarakan hasil uji normalitas diatas diketahui nilai signifikansi 0,200 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa signifikansi data terdistribusi secara normal, atau H0 diterima. Selanjutnya faktor lain yang dapat digunakan untuk melihat apakah data terdistribusi dengan normal yaitu dengan melihat grafik normal plot sebagai berikut :

Gambar 4.14

Gambar 4.14 menunjukkan adanya titik-titik (data) yang tersebar di sekitar garis diagonal dan penyebaran titik-titik tersebut mengikuti arah garis diagonal. Hal ini berarti bahwa model-model regresi dalam penelitian ini memenuhi asusmsi normalitas berdasarkan analisis grafik normal probability plot

b. Uji Multikolineritas

Uji ini bertujuan menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas. Dalam penelitian ini untuk mendeteksi ada tidaknya multikolenirietas didalam model regresi dapat dilihat dari nilai tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF).6 Pengujian multikolinearitas dapat dilihat dari

Tolerance Value atau Variance Inflation Factor (VIF), sebagai berikut:

1) Jika nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10, maka dapat diartikan bahwa tidak terdapat multikoliniearitas pada penelitian tersebut.

2) Jika nilai tolerance < 0,10 dan VIF > 10, maka dapat diartikan bahwa terdapat multikoliniearitas pada penelitian tersebut.

Tabel 4.15

Hasil Uji Multikoloneritas

Model Collinearity Statistic

Tolerance VIF

Pemahaman (X1) 0,972 1,029

Kesadaran (X2) 0,973 1,029

Pendapatan (Z) 0,999 1,001

Sumber: Lampiran Output SPSS 24 2018

72

Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 4.15 diatas, karena nilai tolerance untuk semua variabel lebih besar dari 0,10 dan VIF untuk semua variabel memiliki nilai lebih kecil dari pada 10 maka dapat disimpulkan bahwa model regresi terbebas dari multikoloneritas antar variabel.

c. Uji Heteroskedastisitas

Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas. Untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas pada penelitian ini, digunakan metode Uji Glejser. Pengujian Glejser ini digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas secara lebih akurat dibandingkan dengan pengujian grafik plots. Dari hasil pengujian Glejser dapat dilihat hasil output SPSS sebagai berikut:

Scatterplot yang dihasilkan dari output program SPSS versi 24 sebagai berikut: Tabel 2.16

Hasil Heteroskedastisitas (Uji Glejser) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 2.155 1.063 1.253 .149 pemahaman .414 .157 .029 .846 .087 kesadaran .539 .266 .068 .583 .062 pendapatan .235 .077 .202 1.746 .025

a. Dependent Variable: Kepatuhan

Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 4.16 diatas, nilai signifikan dari semua variabel di bawah tingkat kepercayaan 5 %. maka dapat disimpulkan bahwa model regresi terbebas dari heteroskedastisitas.

3. Analisis Regresi Linear Berganda

a. Hasil Regresi Berganda Hipotesis Penelitian H1 dan H2

Analisis regresi digunakan untuk menguji hipotesis tentang pengaruh secara parsial dan secara simultan variabel bebas terhadap variabel terikat. Model persamaan regresi yang baik adalah yang memenuhi persayaratan asumsi klasik, antara lain semua data berdistribusi normal, model harus bebas dari gejala multikoloneritas dan terbebas dari heterokedastisitas. Dan analisis sebelumnya membuktikan bahwa penelitian ini sudah dianggap baik.

Tabel 4.17

Hasil Pengujian Regresi

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 7.342 3.218 2.607 .006 Pemahaman .185 .078 .185 2.562 .024 Kesadaran .631 .047 .654 8.357 .000

Sumber: Lampiran output SPSS 2017

Dari tabel diatas, hasil perhitungan variabel bebas dapat disusun dalam suatu model berikut:

Y = 7.342+ 0.185 + 0.631 + 3.218+ e.... Keterangan:

Y = Kepatuhan

74

X2 = Variabel bebas yaitu Kesadaran

Hasil analisis tersebut dapat diinterprestasikan sebagai berikut:

1. Nilai konstanta persamaan diatas sebesar 7.342 angka tersebut menunjukan bahwa jika X1 (pemahaman), dan X2 (kesadaran), konstanta atau X = 0, maka kepatuhan sebesar 7.342

2. X1 (pemahaman) menunjukan nilai koefesien sebesar 0.185, hal ini berarti bahwa jika terjadi peningkatan harga sebesar 1% maka akan meningkatkan kepatuhan membayar zakat sebesar 0.185 atau sebesar 18% dengan asumsi variabel independen yang lain dianggap konstan.

3. X2 (kesadaran) menunjukan nilai koefesien 0.631, menyatakan bahwa semakin tinggi kesadaran sebesar 1% maka akan meningkatkan kepatuhan membayar zakat sebesar 0.631 atau sebesar 63% dengan asumsi variabel independen yang lain dianggap konstan.

Tabel 4.18

Koefisien Determinasi (R2)

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 . 821a . 548 . 518 1.218

a. Predictors: (Constant), Pemahaman, Kesadaran b. Dependent Variable: Kepatuhan

Sumber: Lampiran output SPSS 2018

Berdasarkan tabel 4.17 besarnya adjusted R2 adalah sebesar 0.518, hal ini

berarti 51,8% variabel dependent dapat dijelaskan dari kedua variabel independent, sedangkan sisanya (100% - 51,8% = 48,2%), hal ini menunjukkan bahwa 48,2%

kepatuhan membayar zakat dipengaruhi oleh variabel pemahaman dan kesadaran. Sisanya sebesar 49% dipengaruhi oleh variabel lain yang belum diteliti dalam penelitian ini.

Tabel 4.19 Hasil Uji Simultan

ANOVAa

Model

Sum of

Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 173.770 2 89.878 40.627 .000b

Residual 146.817 72 2.189

Total 320.587 74

a. Dependent Variable: Kepuasan Pasien b. Predictors: (Constant), Harga, Fasilitas

Sumber: Lampiran output SPSS 2018

Dari uji ANOVA atau uji F didapat nilai Fhitung sebesar 40.627 > Ftabel 3,12

dengan tingkat signifikansi 0,000 lebihkecil dari 0,05. maka Ho ditolak dan Ha

diterima. Maka ini berarti variable pemahaman dan kesadaran secara bersama-sama berpengaruh terhadap kepatuhan membayar zakat.

Tabel 4.20 Hasil Uji t (Uji Parsial)

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 7.342 3.218 2.607 .006 Pemahaman .185 .078 .185 2.562 .024 Kesadaran .631 .047 .654 8.357 .000

76

Berdasarkan tabel 4.19 maka hasl pengujian variabel bebas dijabarkan sebagai berikut:

1. Variabel Pemahaman menunjukan nilai thitung lebih besar dari ttabel (2,562 > 1,66629), atau sig < α (0,000< 0,05), berarti variabel pemahaman berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan petani membayar zakat di Kecamatan Mapilli dengan demikian hipotesis kedua diterima.

2. Variabel kesadaran menunjukan nilai thitung lebih besar dari ttabel (8.357 > 1,66629) atau sig < α (0,000< 0,05). Berarti variabel kesadaran berpengaruh terhadap kepatuhan petani membayar zakat di Kecamatan Mapilli dengan demikian hipotesis kedua diterima.

b. Hasil moderasi menggunakan nilai selisih mutlak (absolute defference value) terhadap hipotesis penelitian H3 dan H4

Langkah uji nilai selisih mutlak dalam penelitian ini dapat digambarkan dengan persamaan regresi berikut:

Y = α + β1X1+ β2X2+ β3Z3 + β4|X1-Z3| + β5|X2-Z3| + e

Pengujian nilai selisih mutlak dilakukan untuk mengetahui pengaruh pendapatan sebagai variabel moderasi terhadap hubungan pemahaman dan kesadaran. Berikut merupkan tabel dari hasil pengujian nilai selisih mutlak

Pembahasan terkait pengujian hipotesis yang melibatkan variabel moderasi dapat dijabarkan sebagai berikut :

Tabel 4.21 Uji Determinasi R2 Model Summary

Model R R Square

Adjusted R

Square Std. Error of the Estimate

1 .834a .726 .705 1.145

a. Predictors: (Constant), MX2, MX1, Zscore: Pemahaman, Zscore: Pendapatan, Zscore: Kesadaran

Sumber: Lampiran output SPSS 2017

Berdasarkan tabel 4.20 hasil uji koefisien determinasi nilai R2 (Adjusted R

Square) cukup tinggi sebesar 0.705 dapat dijelaskan oleh variabel moderator, Zscore

pendapatan, Zscore pemahaman dan Zscore kesadaran sekitar 70,5%. Sisanya 29,5% dipengaruhi oleh variabel lain yang belum diteliti dalam penelitian ini.

Tabel 4.22 Uji Simultan F (Uji F)

ANOVAa

Model

Sum of

Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 188.985 5 35.675 29.867 .000b

Residual 79.356 69 1.254

Total 268.341 74

a. Dependent Variable: Kepatuhan

b. Predictors: (Constant), MX2, MX1, Zscore: Pemahaman, Zscore: Pendapatan, Zscore: Kesadaran

Sumber: lampiran output 2017

Hasil uji F menunjukkan bahwa nilai F-hitung sebesar 29.867 dengan tingkat signifikan 0,000 jauh dibawah 0,05. Hal ini berarti bahwa variabel Moderator, Zscore

78

Pendapatan, Zscore Pemahaman dan Zscore Kesadaran secara bersama-sama atau simultan mempengaruhi Kepatuhan.

Tabel 4.23 Uji Parsial (Uji t) Hasil Uji Selisih Mutlak

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 22.401 .212 68.142 .000 Zscore: Pemahaman .289 .138 .135 1.402 .039 Zscore: Kesadaran .973 .238 .396 2.857 .000 Zscore: Pendapatan .973 .189 .396 5.604 .000 MX1 .044 .181 .015 .223 .608 MX2 .629 .337 .213 2.262 .016

a. Dependent Variable: Kepatuhan

Sumber: Lampiran output SPSS 2018

Berdasarkan hasil diatas, maka model MRA yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Y = 22.401 + 0.289 + 973 + 973 + 0.044 + 0.629

1. Interaksi antara pemahaman terhadap kepatuhan membayar zakat yang dimoderasi oleh pendapatan hasil pertanian. (H3)

Dari hasil nilai selisih mutlak yang terlihat pada tabel 4.22 menunjukan bahwa variabel moderasi MXI mempunyai thitung sebesar 0,223 < ttabel1,99346 dengan tingkat

signifikan 0,608 yang lebih besar dari 0,05 (0,608 > 0,05), maka Ha ditolak. Hal ini

memperkuat atau memperlemah hubungan variabel pemahaman terhadap kepatuhan membayar zakat. Jadi hipotesis ketiga (H3) yang mengatakan bahwa pemahaman

terhadap kepatuhan membayar zakat yang dimoderasi pendapatan hasil pertanian tidak terbukti atau ditolak.

2. Interaksi antara kesadaran terhadap kepatuhan membayar zakat yang dimoderasi oleh pendapatan hasil pertanian (H4).

Dari hasil niali selisih mutlak yang terlihat pada tabel 4.20 menunjukan bahwa variabel moderasi MX2 mempunyai thitung sebesar 2,262 > ttabel 1,99346 dengan

tingkat signifikan 0,016 yang lebih kecil dari 0,05 (0,016 < 0,05) maka Ha diterima.

Hal ini berarti bahwa variabel pendapatan merupakan variabel moderasi yang memperkuat hubungan variabel kesadaran terhadap kepatuhan membayar zakat. Jadi hipotesis keempat (H4) yang menyatakan bahwa pendapatan hasil pertanian

memoderasi kesadaran terhadap kepatuhan membayar zakat terbukti atau diterima.

D. Pembahasan

1. Pengaruh pemahaman terhadap kepatuhan membayar zakat.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pemahaman terhadap kepatuhan membayar zakat di Kecamatan Mapilli, ini dlihat dari tabel 4.19, sangat signifikan sebesar 0,024 dimana lebih kecil dari 0,05 (0,024 < 0,05) dan koefisien regresi bernilai positif yaitu 0,185, sehingga hipotesis hasil pengujian persamaan regresi 1 menunjukkan bahwa pemahaman berpengaruh positif terhadap kepatuhan membayar zakat. Makna dari temuan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pemahaman dan

80

kepatuhan membayar zakat di Kecamatan Mapilli. Hal ini berarti semakin baik pemahaman muzakki terhadap zakat maka kepatuhan untuk membayar zakat juga meningkat.

Temuan dari penelitian ini sejalan dengan Muh. Abdul Azis (2015) tentang pengaruh pemahaman, reliugitas dan kondisi keuangan muzakki terhadap kepatuhan zakat profesi di kota yogyakarta. Dalam penelitiannya membuktikan bahwa adanya hubungan positif dan signifikan antara pemahaman dan kepatuhan zakat profesi di kota Yogyakarta. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Bachmid, dkk (2012): Kesadaran membayar zakat mal sesuai dengan ketentuan syariat, seperti nishab, haul, serta cara mengeluarkannya secara benar (melalui amil) merupakan bentuk dan perwujudan kepatuhan muzakki terhadap perintah zakat. Bentuk dan perwujudan kepatuhan merupakan penggambaran dari perilaku muzakki dalam membayar zakat mal, yang banyak dipengaruhi oleh tingkat keyakinan, pemahaman, kecenderungan dan minat yang dimiliki oleh muzakki.

Hasil dari penelitian ini dapat juga dijelaskan dari firman Allah SWT melalui Al-Qur’an surah Al-Baqarah (2) : 43

(#θßϑŠÏ%r&uρ

nο4θn=¢Á9$#

(#θè?#uuρ

nο4θx.¨“9$#

(#θãèx.ö‘$#uρ

yìtΒ

tÏèÏ.≡§9$#

∩⊆⊂∪

Terjemahnya:

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku’.

Kandungan dari ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt. memerintahkan kepada hambanya untuk mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Sehubungan dengan perintah zakat bahwa zakat adalah bagian dari peraturan Islam tentang kehartabendaan dan kemasyarakatan. Zakat juga merupakan ibadah yang saling beriringan dengan ibadah sholat, nah pemahaman seperti inilah yang harus kita tanamkan dalam diri kita khususnya para muzakki agar kepatuhan dalam membayar zakat lebih meningkat.

2. Pengaruh kesadaran terhadap kepatuhan membayar zakat.

Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kesadaran dan kepatuhan membayar zakat, ini dilihat dari tabel 4.20, nilai signifikan 0,000 dimana lebih kecil dari 0,05 dan koefisien regresi B bernilai positif yaitu 0,631. Berdasarkan analisis ini menunjukkan bahwa hasil uji t untuk variabel kesadaran (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan membayar zakat di Kecamatan Mapilli (Y). Dengan demikian, Hipotesis kedua (H2) terdukung karena secara empirik telah terbukti.

Interpretasi dari temuan penelitian ini membuktikan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kesadaran muzakki dan kepatuhan membayar zakat di Kecamatan Mapilli, hal ini menandakan bahwa kepatuhan membayar zakat di Kecamatan Mapilli harus pula didukung oleh kesadaran muzakki artinya semakin tinggi tingkat kesadaran muzakki maka kepatuhan untuk membayar zakat juga meningkat.

Temuan dari penelitian ini sejalan dengan “Lessy (2005), dalam penelitiannya menyatakan bahwa untuk meningkatkan kesadaran masyarakat membayar zakat dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan melalui pendekatan penerapan nilai-nilai

82

yang ada pada zakat tersebut. Nilai yang dimaksudkan ialah nilai tarbiyatulruhiyah serta nilai-nilai sosial yang ada pada zakat. Penjelasan tentang nilai zakat ini akan memunculkan kesadaran masyarakat untuk membayar zakat.

3. Pengaruh pemahaman terhadap kepatuhan membayar zakat yang dimoderasi oleh Pendapatan

Hasil penelitian yang diperoleh bahwa pendapatan tidak memoderasi pemahaman terhadap kepatuhan membayar zakat, ini dilihat dari tabel 4.23, signifikan sebesar 0,608 dimana lebih besar dari 0,05, dan koefisien regresi (B) yaitu 0,044. Berdasarkan analisis ini menunjukkan bahwa pendapatan tidak memoderasi pemahaman terhadap kepatuhan membayar zakat. Dengan demikian hasil dari hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa pendapatan memoderasi pemahaman terhadap kepatuhan membayar zakat ditolak.

Interpretasi dari temuan penelitian ini membuktikan bahwa pemahaman muzakki terhadap kepatuhannya membayar zakat hasil pertanian tidak dipengaruhi oleh pendapatan. Artinya meskipun pendapatan yang diperoleh para petani dari hasil pertanian relatif besar itu tidak berarti meningkatkan pemahaman muzakki untuk membayar zakat.

4. Pengaruh kesadaran terhadap kepatuhan membayar zakat yang dimoderasi oleh Pendapatan

Hasil penelitian yang diperoleh bahwa pendapatan memoderasi kesadaran terhadap kepatuhan membayar zakat, ini dilihat dari table 4.23, signifikan 0,016 dimana lebih kecil dari 0,05, dan koefisien regresi (B) yaitu 0,629. Berdasarkan

analisis ini menunjukkan bahwa pendapatan memoderasi kesadaran terhadap kepatuhan membayar zakat. Dengan demikian hasil dari hipotesis keempat yang menyatakan bahwa pendapatan memoderasi kesadaran terhadap kepatuhan membayar zakat diterima.

Interpretasi dari temuan penelitian ini membuktikan bahwa kesadaran muzakki terhadap kepatuhannya membayar zakat hasil pertaniannya dipengaruhi oleh pendapatan. Artinya semakin tinggi pendapatan yang diperoleh dari hasil pertanian maka kesadaran untuk membayar zakat hasil pertanian pun meningkat. Temuan dari penelitian ini sejalan dengan “Haerunniza (2005) faktor jantina, umur, taraf perkawinan, pendapatan dan perbelanjaan merupakan faktor yang mempengaruhi kepatuhan seseorang untuk membayar zakat. Faktor-faktor tersebut secara signifikan mempengaruhi tingkat kesadaran seseorang untuk membayarkan zakat. Namun, antara semua faktor tersebut, faktor pendapatan ialah faktor yang paling mempengaruhi seseorang untuk membayarkan zakat. Hal ini disokong oleh Zyadi dan Mariani (1999) yang menyatakan bahwa tahap pendapatan serta perbelanjaan individu dan isi rumah secara signifikan mempengaruhi kesadaran untuk membayar zakat. Ini bermakna, semakin tinggi pendapatan seseorang, maka akan meningkatkan kesadaran untuk membayarkan zakat.”

84

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Berdasarkan koefisien regresi pemahaman muzaki yang dihasilkan, secara parsial pemahaman muzaki berpengaruh positif signifikan terhadap kepatuhan membayar zakat di Kecamatan Mapilli, dengan demikian hasil ini sesuai dengan hipotesis. Semakin tinggi pemahaman muzaki maka tingkat kepatuhan membayar zakat akan semakin meningkat.

2. Berdasarkan koefisien regresi kesadaran yang dihasilkan, secara parsial kesadaran berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan membayar zakat, dengan demikian hasil ini sesuai dengan hipotesis, bahwa kesadaran mempengaruhi tinggi rendahnya kepatuhan membayar zakat di Kecamatan Mapilli.

3. Pendapatan hasil pertanian tidak mampu memoderasi pengaruh pemahaman terhadap kepatuhan membayar zakat, ini merupakan variabel pendapatan bukan merupakan variabel yang mampu memperkuat atau memperlemah melainkan variabel independen.

4. Pendapatan memoderasi pengaruh kesadaran terhadap kepatuhan membayar zakat, Hal ini berarti bahwa semakin tinggi pendapatan hasil pertanian maka

akan meningkatkan kesadaran masyarakat petani untuk membayar zakat di Kecamatan Mapilli.

B. Saran

Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan diatas, maka saran dalam penelitan ini sebagai berikut:

1. Diharapkan agar kedepannya pemerintah di Kecamatan Mapilli mengadakan sosialisasi atau kajian lebih mendalam tentang zakat agar pemahaman masyarakat petani di Kecamatan Mapilli lebih baik lagi.

2. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah variabel independen yang disinyalir dapat mempengaruhi kepatuhan membayar zakat karena dari hasil penelitian masih terdapat di atas 40% variabel lain yang mempengaruhi. Variabel-variabel yang bersifat eksternal.

3. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperbesar ruang lingkup penelitian sehingga hasil yang didapat lebih dapat menggambarkan objek penelitian.

4. Penelitian selanjutnya sebaiknya memperpanjang waktu penelitian, sehingga hasil yang didapat lebih akurat dan bervariasi. Kemudian juga dapat menggunakan teknik analisis data lainnya maupun metode lain seperti metode kualitatif agar didapatkan hasil yang lebih luas.

86

Dokumen terkait