BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E. Analisis Data
1. Uji Asumsi
Uji asumsi dilakukan untuk membuktikan sebaran data yang dimiliki
telah mengikuti kurva normal atau tidak (Santoso, 2010).
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan pengujian One Sample Kolmogorov-Smirnov Test dalam program SPSS for Windows 16.0. Distribusi data penelitian dikatakan normal jika nilai signifikansinya
lebih besar dari 0,05 (p > 0,05). Sebaliknya, distribusi data penelitian
dikatakan tidak normal jika nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05
(p < 0,05)
Tabel 17 :Hasil Uji Normalitas
Variabel One–Sample
Kolmogorov-Smirnov Test
Asymp. Sig. (2-tailed)
Keterangan
Konsep Diri 0,833 0,492 Normal Kecemasan 0,715 0,686 Normal
probabilitas (p) yang lebih besar dari 0,05 (p > 0,05) yang menunjukkan
bahwa sebaran data variabel konsep diri dan kecemasan mengikuti
distribusi normal.
b. Uji Linearitas
Uji linearitas dilakukan untuk menguji apakah hubungan antara
konsep diri dan kecemasan mengikuti garis lurus atau tidak (Santoso,
2010). Uji ini dilakukan dengan menggunakan pengujian Test for Linearity
dalam program SPSS for Windows 16.0. Jika nilai signifikansi atau
probabilitas yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05), maka
menunjukkan bahwa hubungan antar variabel dalam penelitian ini
mengikuti garis lurus.
Tabel 18 : Uji Linearitas
F Signifikansi Keterangan Konsep Diri *
Kecemasan
Linearity 75,348 0,000 Linear
Hasil uji linearitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi dari konsep diri
dan kecemasan adalah 0,000 sehingga disimpulkan bahwa hubungan antara
variabel konsep diri dan kecemasan mengikuti garis lurus. Jadi, peningkatan
atau penurunan kuantitas di satu variabel diikuti secara linear oleh
2. Uji Hipotesis
Hipotesis penelitian diuji menggunakan Pearson Product Moment dalam program SPSS for Windows 16.0.
Tabel 19 : Uji Hipotesis
Correlations
konsep_diri kecemasan konsep_diri Pearson Correlation 1 -.754**
Sig. (1-tailed) .000
N 42 42
kecemasan Pearson Correlation -.754** 1
Sig. (1-tailed) .000
N 42 42
**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa hipotesis yang diuji dalam
penelitian diterima. Koefisien korelasi uji hipotesis yang diperoleh sebesar
-0,754 dengan nilai signifikansi 0,000 yang berarti lebih kecil dari 0,05 (p <
0,05). Kesimpulannya adalah ada hubungan yang signifikan dan negatif antara
konsep diri dan kecemasan narapidana menjelang bebas di Lembaga
Pemasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta.
Peneliti juga melakukan uji korelasi masing-masing aspek dalam konsep
diri dan kecemasan. Tabel uji korelasi disajikan dalam table 20, 21. Dan 22
Tabel 20 : Uji Korelasi Aspek Pengetahuan dan Kecemasan
Correlations
pengetahuan Kecemasan pengetahuan Pearson Correlation 1 -.736**
Sig. (1-tailed) .000
N 42 42
kecemasan Pearson Correlation -.736** 1
Sig. (1-tailed) .000
N 42 42
**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).
Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa nilai signifikansi 0,000 yang berarti
lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05). Kesimpulannya bahwa ada hubungan yang
signifikan dan negatif antara aspek pengetahuan dan kecemasan narapidana
menjelang bebas di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Wirogunan
Yogyakarta.
Tabel 21 : Uji Korelasi Aspek Harapan dan Kecemasan
Correlations
Harapan Kecemasan
harapan Pearson Correlation 1 -.728**
Sig. (1-tailed) .000 N 42 42 kecemasa n Pearson Correlation -.728** 1 Sig. (1-tailed) .000 N 42 42
Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa nilai signifikansi 0,000 yang berarti
lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05). Kesimpulannya bahwa ada hubungan yang
signifikan dan negatif antara aspek harapan dan kecemasan narapidana
menjelang bebas di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Wirogunan
Yogyakarta.
Tabel 22 : Uji Korelasi Aspek Penilaian dengan Kecemasan
Correlations
penilaian Kecemasan penilaian Pearson Correlation 1 -.588**
Sig. (1-tailed) .000
N 42 42
kecemasan Pearson Correlation -.588** 1
Sig. (1-tailed) .000
N 42 42
**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).
Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa nilai signifikansi 0,000 yang berarti
lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05). Kesimpulannya bahwa ada hubungan yang
signifikan dan negatif antara aspek penilaian dan kecemasan narapidana
menjelang bebas di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Wirogunan
Yogyakarta.
F. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan negatif antara konsep diri
korelasi (r) sebesar -0,754 dengan p sebesar 0,000 (p<0,05). Hipotesis
hubungan negatif antara konsep diri dan kecemasan narapidana menjelang
bebas di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta
diterima. Semakin positif konsep diri narapidana, semakin tinggi rendah
kecemasan narapidana menjelang bebas. Sebaliknya, semakin negatif konsep
diri narapidana, semakin tinggi kecemasan narapidana menjelang bebas.
Calhoun dan Acocella (1990) mengatakan bahwa individu dengan konsep
diri positif berarti mampu mengetahui dirinya, menghargai diri dan optimis
memandang masa depannya. Individu yang mampu mengetahui dirinya
termasuk mengenali kelebihan, kekurangan dan potensinya. Sedangkan
individu dengan konsep diri negatif tidak mengenali keterbatasan, potensi, dan
peluang yang dimiliki. Jika individu mengetahui kondisi dirinya maka tingkat
kecemasannya rendah. Namun jika individu tidak mengetahui kondisi dirinya
maka tingkat kecemasannya tinggi.
Selain mengetahui tentang diri, individu yang memiliki konsep diri positif
menilai atau mengevaluasi dirinya secara positif (Calhoun dan Acocella,
1990). Burns (1993) mengatakan bahwa individu yang memiliki konsep diri
positif, percaya bahwa dirinya mampu menyelesaikan masalah hidup
meskipun dihadapkan pada kegagalan. Sedangkan individu yang memiliki
konsep diri negatif mengevaluasi dirinya secara negatif. Jika individu mampu
menilai dirinya positif maka tingkat kecemasannya rendah. Namun jika
individu tidak mampu menilai dirinya secara positif maka tingkat
Individu dengan konsep diri positif tidak hanya mengetahui dan menilai
diri positif. Konsep diri positif membuat invididu optimis memandang masa
depannya. Individu mempunyai harapan atau tujuan hidup yang realistis dan
mampu mewujudkan sesuai kemampuan yang dimiliki dan berusaha agar
tujuannya terwujud (Calhoun dan Acocella. 1990). Burns (1993) menyatakan
bahwa orang yang memiliki konsep diri positif tidak merasa khawatir terhadap
masa lalu dan masa depan. Jika individu bersikap optimis dan berusaha
mewujudkan harapannya maka tingkat kecemasannya rendah. Namun, jika
individu memiliki pandangan pesimis terhadap masa depannya maka tingkat
kecemasannya tinggi.
Hasil uji hipotesis aspek konsep diri dan kecemasan menunjukkan bahwa
aspek pengetahuan memiliki korelasi yang paling tinggi, yaitu sebesar -0,736
dengan nilai signifikansi 0,000. Aspek pengetahuan merupakan dasar bagi
individu untuk mampu benar-benar mengenali dirinya sehingga mampu
menilai dirinya secara positif dan optimis memandang masa depannya.
Pemahaman terhadap diri menjadi modal bagi individu untuk menjalin relasi
dengan orang lain. Jika individu mampu mengenali dirinya tingkat maka
BAB V
PENUTUP
A. KesimpulanPenelitian ini diterima dengan koefisien korelasi sebesar -0,754
dan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hubungan signifikan dan
negatif antara konsep diri dan kecemasan narapidana menjelang bebas di
Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta diterima.
Semakin positif konsep diri, semakin rendah kecemasan narapidana
menjelang bebas. Sebaliknya, semakin negatif konsep diri, semakin tinggi
kecemasan narapidana menjelang bebas.
B. Keterbatasan Penelitian
Penelitian dilakukan dengan subjek narapidana menjelang bebas.
Dinamika korelasi antara konsep diri dan kecemasan tidak dilihat lengkap
sejak awal narapidana menjalani pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan.
C. Saran
1. Bagi Subjek Penelitian
Subjek penelitian disarankan mempertahankan konsep diri yang positif
dengan mengetahui diri, menilai diri dan memiliki harapan yang positif
terhadap masa depannya karena menurunkan tingkat kecemasan
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya disarankan memperluas cakupan subjek sejak awal
DAFTAR PUSTAKA
Al-Jauhar, M. 2014. Konstruksi Masyarakat Terhadap Mantan Narapidana.
Skripsi. Fakultas Sosiologi Universitas Negeri Surabaya.
Astuti, A. 2011. Pembinaan Mental Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta : Prodi PPKn FKIP Universitas Ahmad Dahlan.
Azwar, S. 2003. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Azwar, S. 2009. Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Azwar, S. 2011. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Batista, Y. 2012. Hubungan Konsep Diri dengan Empati Pada Mahasiswa.
Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Burns, R. 1993. Konsep Diri Teori, Pengukuran, Perkembangan dan Perilaku.
Jakarta: Arcan.
Calhoun, J. F & Acocella, J. R. 1990. Psychology of Adjusment and Human Relationship. New York : McGraw Hill.
Fitriani, L. 2010. Pengungkapan Diri Pada Mantan Narapidana. Skripsi. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma
Handayani, O. 2010. Pelaksanaan Pembinaan Narapidana Dalam Rangka Mencegah Pengulangan Tindak Pidana (Recidive) Di Lapas Kelas IIA Sragen. Skripsi. Fakultas Hukum : Universitas Hukum Sebelas Maret Harian Jogja. 2014. http://www.harianjogja.com/baca/2014/04/29/lapas
wirogunan-raih-penghargaan-lapas-terbaik-2014505241. Diunduh pada tanggal 21 Agustus 2014.
Hurlock. 1991. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Indiyah. 2001. Hubungan antara Religiusitas dan Kepercayaan Diri dengan Kecemasan pada Narapidana Menjelang Masa Bebas. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Kuncoro. 2003. Metode Riset Untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta : Erlangga. Murti, C. 2013. Hubungan Antara Kematangan Beragama Dengan Konsep
Diri Pada Remaja Yang Menjadi Narapidana. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Nevid, J. S., Rathus, S. A., & Beverly, G. 2005. Pengantar Psikologi Abnormal.
Bandung: Erlangga.
Nolen, H. S. 2007. Abnormal Psychology 4th Edition. New York : Mc Graw Hill. Novianto, P. 2008. Dinamika Konsep Diri Pada Narapidana Menjelang Bebas di
Lembaga Pemasyakatan Sragen. Skripsi. Fakultas Psikologi: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Prakoso, F. 2008. Hubungann Antara Konsep Diri Dengan Kecemasan
Menghadapi Masa Depan Pada Narapidana di Lembaga
Pemasyarakatana II B Klaten. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Suryabrata, S. 2005. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta: Andi. Undang-Undang Republik Indonesia Nomoer 12 Tahun 1995 Tentang
Pemasyarakatan. 1995. http://hukum.unsrat.ac.id/ uu/uu_12_95.htm.
Diunduh pada tanggal 3 September 2014.
Utari, I, dkk. 2013. Gambaran Kecemasan Pada Warga Binaan Wanita Menjelang Bebas di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas II A Bandung. Skripsi. Bandung : Universitas Padjajaran.
West, R & Turner, L.H. 2008. Pengantar Teori Komunikasi, Analisis dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Humanika.
Widagdo, S. 2012. Kamus Hukum. Jakarta: PT Prestasi Pustakarya
Widiantoro, W. 2006. Kecemasan Narapidana Saat Menghadapi Masa Menjelang Bebas (Studi Kasus Pada Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Sukamiskin Bandung). Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.
Widiyastuti, N & Melinda, Vitry. 2004. Hubungan antara Komitmen Beragama Dengan Kecemasan Pada Narapidana Perempuan Menjelang Bebas. Jakarta : Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara.
Wiramihardja, S. 2005. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: Rineka Aditama.