BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
4. Analisis Data
a. Penentuan pembelian yang paling optimal
Untuk menganalisis penentuan jumlah pembelian bahan baku yang optimal untuk setiap kali pembelian dengan menggunakan rumus EOQ. Untuk kelancaran proses produksinya maka setelah mengetahui kebutuhan bahan bakunya perusahaan perlu menghitung berapa kali pembelian harus dilakukan, dengan menggunakan metode EOQ perusahaan dapat menghitung pembelian yang optimal.
1) Pembelian yang paling optimal untuk tahun 2016 adalah :
EOQ = √
EOQ = √( )( )( ) = 2.069.07 m3
Frekuensi pembelian yang paling optimal untuk tahun 2016 : F =
= 10 kali
Jadi, jumlah bahan baku yang dipesan yang paling optimal pada PT. Mujur Timber Sibolga pada tahun 2016 adalah sebesar
2) Pembelian yang paling optimal untuk tahun 2017 adalah :
EOQ = √
= √( )( )( )
= 3.240,27 m3
Frekuensi pembelian yang paling optimal 2017 : F =
= 14 kali
Jadi, jumlah bahan baku yang dipesan yang paling optimal pada PT. Mujur Timber Sibolga pada tahun 2017 adalah sebesar
3.240,27 m3 dengan frekuensi pembelian 14 kali dalam tahun itu.
3) Pembelian yang paling optimal tahun 2018 adalah :
EOQ = √ = √( )( )( ) = 2.487,24 m3 F = = 10 kali
Jadi, jumlah bahan baku yang dipesan yang paling optimal pada PT. Mujur Timber Sibolga pada tahun 2018 adalah sebesar
2.487,24 m3 dengan frekuensi pembelian 10 kali dalam tahun itu.
Sedangkan pembelian yang optimal menggunakan metode konvensional yang digunakan perusahaan yaitu :
Pada tahun 2016 yaitu =
= 1.750,1 m3
Pembelian yang optimal menggunakan metode perusahaan pada tahun
2016 adalah sebesar 1.750,1 m3 dengan frekuensi pembelian 12 kali dalam tahun
itu.
Pada tahun 2017 yaitu =
= 3.991 m3
Pembelian yang optimal menggunakan metode perusahaan pada tahun
2017 sebesar 3.991 m3 dengan frekuensi pembelian 12 kali dalam tahun itu.
Pada tahun 2018 yaitu =
= 2.127,5 m3
Pembelian yang optimal menggunakan metode perusahaan pada tahun
2018 sebesar 2.127,5 m3 dengan frekuensi pembelian 12 kali dalam tahun itu.
Jadi, berdasarkan analisis perhitungan antara menggunakan metode EOQ dengan metode yang digunakan perusahan di atas dapat diketahui bahwa pembelian bahan baku yang paling efisien adalah dengan menggunakan metode
Economic Order Quantity karena lebih menghemat modal yang dikeluarkan
dengan menekan frekuensi pembeliannya.
b. Penentuan Persediaan Pengaman (Safety Stock)
Persediaan pengaman bergunan untuk melindungi perusahaan dari resiko kehabisan bahan baku dan keterlambatan penerimaan bahan baku yang dipesan. Safety Stock diperlukan untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan karena terjadinya stock out, tetapi pada tingkat persediaan dapat ditekan seminimal mungkin, oleh karena itu perusahaan perlu mengadakan perhitungan untuk menentukan safety stock yang paling optimal untuk menentukan besarnya pengaman digunakan analisis statistik. Dengan melihat dan mempertimbangkan penyimpangan – penyimpangan yang terjadi antara perkiraan pemakai bahan baku yang sesungguhnya. Dengan asumsi bahwa perusahaan menggunakan dua standar yang penyimpangan atau 5% penyimpangan yang mencolok tidak dapat dilihat serta menggunakan satu sisi normal, yang nilainya dapat dilihat pada tabel adalah 1,65. Untuk perhitungan standar deviasi dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4.5
Perhitungan Standar Deviasi Bahan Baku Tahun 2016
Bulan X Y x-y (x-y)2
Januari 607,03 1750,12 -1143,09 1.306.654,74 Februari 2.825,81 1750,12 1075,69 1.157.108,97 Maret 1.957,13 1750,12 207,01 42.853,14 April 895,17 1750,12 -854,95 730.939,50 Mei 131,57 1750,12 -1618,55 2.619.704,10 Juni 4.087,66 1750,12 2337,54 5.464.093,25 Juli 618,87 1750,12 -1131,25 1.279.726,56 Agustus 20,02 1750,12 -1730,1 2.993.246,01 September 169,73 1750,12 -1580,39 2.497.632,55 Oktober 3.178,61 1750,12 1428,49 2.040.583,68 November 2.039,82 1750,12 289,7 83.962,09
Desember 4.470,09 1750,12 2719,97 7.398.236,80
Jumlah 21.001,51 21.001,44 0.00 27.614.741,39
Sumber : data perusahaan yang diolah
SD = √ = 1.517 m3 Zō = SD x Z = 1.517 x 1,65 = 2.503,05 m3
Persediaan pengaman yang harus ada pada tahun 2016 adalah sebesar 2.503,05 m3.
Tabel 4. 6
Perhitungan Standar Deviasi Bahan Baku Tahun 2017
Bulan X Y x-y (x-y)2
Januari 453,01 3990,99 -3537,98 12.517.302,48 Februari 1.472,18 3990,99 -2518,81 6.344.403,81 Maret 2.361,10 3990,99 -1629,89 2.656.541,41 April 4.883,89 3990,99 892,9 688.734,01 Mei 6.220,19 3990,99 2229,2 510.932,64 Juni 9.623,74 3990,99 5632,75 31.727.872,56 Juli 7.069,14 3990,99 3078,15 9.475.007,42 Agustus 5.560,99 3990,99 1570 2.464.900 September 4.390,00 3990,99 399,01 159.208,98 Oktober 681,82 3990,99 -3309,17 10.950.606,08 November 1.626,18 3990,99 -2364,81 5.592.326,33 Desember 3.549,68 3990,99 -441,31 194.754,51 Jumlah 47.891,92 47.891.88 0,04 83.282.590,23
SD = √
= 2.634
Maka besarnya kuantitas persediaan pengaman (safety stock) adalah :
Zō = SD x Z
= 2.634 x 1,65
= 4.346,1 m3
Persediaan pengaman yang harus ada pada tahun 2017 adalah sebesar 4.346,1 m3.
Tabel 4.7
Perhitungan Standar Deviasi Bahan Baku Tahun 2018
Bulan X Y x-y (x-y)2
Januari 5.749,93 2127,59 3662,34 13.412.734,27 Februari 3.242,20 2127,59 1114,61 1.242.355,45 Maret 2.887,41 2127,59 759,82 577.326,43 April 1.389,66 2127,59 -737,93 544.540,68 Mei 1.382,59 2127,59 -745 555.025 Juni 507,06 2127,59 -1620,53 2.626.117,48 Juli 899,92 2127,59 -1227,67 1.507.173,62 Agustus 386,19 2127,59 -1741,4 3.032.473,96 September 598,28 2127,59 -1529,31 2.338.789,07 Oktober 776,53 2127,59 -1351,06 1.825.363,12 November 2.836,21 2127,59 708,62 502.142,30 Desember 4.874,58 2127,59 2746,99 7.545.954,06 Jumlah 25.531,1 25.531,08 39,48 35.709.995,44
Sumber : data perusahaan yang diolah
SD = √
Maka besarnya kuantitas persediaan pengaman (safety stock) adalah :
Zō = SD x Z
= 1.725 x 1,65
= 2.846,25 m3
Persediaan pengaman yang harus ada pada tahun 2018 adalah sebesar 2.846,25 m3.
Dari perhitungan safety stock di atas, dapat diketahui jumlah persediaan yang dapat dicadangkan sebagai pengaman kelangsungan proses produksi dari resiko kehabisan bahan baku (stock out). Persediaan pengaman sejumlah unit ini akan tetap di pertahankan walaupun bahan bakunya dapat diganti yang baru.
c. Penentuan Pemesanan Kembali (Reorder Point)
Saat pemesanan kembali adalah saat dimana perusahaan harus melakukan pemesanan bahan bakunya kembali, sehingga penerimaan bahan baku yang dipesan dapat tepat waktu. Karena dalam melakukan pemesanan bahan baku tidak dapat langsung diterima hari itu juga. Besarnya sisa bahan baku yang masih tersisa hingga perusahaan harus melakukan pemesanan kembali adalah sebesar ROP yang telah dihitung. Yang dimaksud dengan lead time dalam penelitian ini adalah tenggang waktu yang diperlukan antara saat pemesanan bahan baku dilakukan dengan datangnya bahan baku yang dipesan. Dengan demikian dapat dihitung ROP nya dengan rumus :
ROP tahun 2016 = Safety Stock + (Lead Time x Kebutuhan Per Hari)
= 2.503,05 + (1 x m3) = 2.503,05 + 72,92
= 2.575,97 m3
Jadi, perusahaan perlu melakukan pemesanan kembali pada saat persediaan tersisa 2.575,97 m3.
ROP tahun 2017 = Safety Stock + (Lead Time x Kebutuhan Per Hari) = 4.346,1 + (1 x
m3) = 4.346,1 + 166.29
= 4.512,39 m3
Jadi, perusahaan perlu melakukan pemesanan kembali pada saat persediaan tersisa 4.512,39 m3.
ROP tahun 2018 = Safety Stock + (Lead Time x Kebutuhan Per Hari)
= 2.846,25 + (1 x m3) = 2.846,25 + 88,64
= 2.934,89 m3
Jadi, perusahaan perlu melakukan pemesanan kembali pada saat persediaan tersisa 2.934,89 m3.
d. Perhitungan Total Biaya Persediaan Bahan Baku (TIC)
Perhitungan total biaya persediaan menurut metode EOQ akan dihitung dengan rumus Total Inventory Cost (TIC) dalam rupiah sebagai berikut:
TIC = √
TIC 2016 = √ = Rp 268.979.928
Jadi, TIC perusahaan menurut metode EOQ adalah Rp 268.979.928. TIC 2017 = √
= Rp 421.235.757
TIC 2018 = √ = Rp 323.341.699
Jadi, TIC perusahaan menurut metode EOQ adalah Rp 323.341.699. Sedangkan persediaan rata – rata bahan baku perusahaan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.8
Persediaan Rata – Rata Bahan Baku Perusahaan Tahun 2016 - 2018
Tahun Pemakaian Jumlah Bulan Persediaan Rata
– Rata
2016 21.001,51 m3 12 1.750,1 m3
2017 m3 12 3.991 m3
2018 m3 12 2.127,5 m3
Sehingga TIC menurut perusahaan sebagai berikut:
TIC perusahaan tahun 2016 = (1.750,1 x 130.000) + (13.250.000 x 12) = 227.513.000 + 159.000.000
= Rp 386.513.000
Jadi, TIC menurut kebijakan perusahaan sebesar Rp 386.513.000. TIC perusahaan tahun 2017 = (3.991 x 130.000) + (14.250.000 x 12)
= 518.830.000 + 171.000.000 = Rp 689.830.000
Jadi, TIC menurut kebijakan perusahaan sebesar Rp 689.830.000. TIC perusahaan tahun 2018 = (2.127,5 x 130.000) + (15.750.000 x 12)
= 276.575.000 + 189.000.000 = Rp 465.575.000