• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.2 Analisis Data

Sub bab analisis data ini menyajikan hasil pengujian prasyarat analisis yang berupa uji normalitas data, uji homogenitas data, uji linieritas data, uji keberartian model sebagai syarat dapat digunakannya analisis regresi sederhana maupun ganda untuk pengujian hipotesis dan hasil analisis regresi sederhana dan ganda dalam rangka pengujian hipotesis. Mengingat data-data dalam variable penelitian ini satuannya berbeda, maka sebelum dilakukan analisis terhadap data-data tersebut terlebih dahulu dilakukan pembakuan skor dengan jalan nilai hasil pengujian dikurangi rata-rata dibagi standar deviasi kali 10 ditambah 50.

Hasil dari analisis data penelitian baik hasil penyujian prsarayat analisis dan hasil pengujian hipotesis penelitian dapat disajikan sebagai berikut:

4.1.2.1 Uji Prasyarat Analisis 1) Uji Normalitas

Dalam menguji kenormalan data penelitian ini digunakan rumus

kolmogorov smirnov. Jika setelah diuji dengan rumus kolmogorov smirnov data hasil penelitian ini berdistribusi normal maka dapat digunakan statistik parametrik yaitu analisis regresi, akan tetapi jika tidak normal maka digunakan statistik non parametrik yaitu rank spearman.

Berdasarkan hasil uji normalitas data dengan menggunakan rumus

kolmogorov smirnov melalui perhitungan komputer program SPSS release 12 diperoleh hasil sebagai berikut :

48

Tabel 4.2.

Hasil Uji Normalitas Data Penelitian

Variabel Kolmogorov

Smirnov Signifikansi Kriteria Reaksi (X1)

Kelincahan (X2) Hasil footwork (Y)

0,774 0,524 0,795 0,588 0,946 0,552 Normal Normal Normal Sumber : Analisis Data Penelitian 2009

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa harga kolmogorov smirnov variabel reaksi (X1), kelincahan (X2), dan hasil footwork (Y) memiliki signifikansi lebih besar dari 0,05, hal ini menunjukkan bahwa ketiga data penelitian tersebut berdistribusi normal.

2) Uji Homogenitas

Untuk menguji homogenitas data dalam penelitian ini digunakan rumus

levens test. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan komputer program SPSS release 12 diperoleh hasil seperti terangkum pada tabel berikut :

Tabel 4.3.

Hasil Uji Homogenitas Data

Variabel Chi Square Signifikansi Kriteria Reaksi (X1)

Kelincahan (X2) Hasil footwork (Y)

0,857 1,714 2,429 1,000 0,995 0,657 Homogen Homogen Homogen Sumber : Analisis Data Penelitian 2009

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa harga levens statistic variabel reaksi (X1) dan kelincahan (X2), dengan hasil footwork (Y) masing-masing memiliki signifikansi lebih besar dari 0,05, hal ini menunjukkan bahwa data data penelitian tersebut homogen.

3) Uji Linieritas Data

Uji linieritas data merupakan uji untuk mengetahui linier tidaknya data variabel bebas dengan variabel terikat. Hasil analisis ini dijadikan sebagai pertimbangan bisa tidaknya data penelitian yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis regresi linier. Untuk menguji kelinieran garis regresi dengan uji F dan berdasarkan perhitungan menggunakan komputer program SPSS release 12 diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.4.

Hasil Uji Linieritas Data

Variabel Fhitung Signifikansi Kriteria X1 – Y X2 - Y 6,715 9,673 0,029 0,013 Linier Linier Sumber : Analisis Data Penelitian 2009

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa variabel reaksi (X1) dan kelincahan (X2) memiliki signifikansi lebih besar dari 0,05, hal ini menunjukkan bahwa antara data-data variabel bebas dan terikat dalam penelitian membentuk model yang linier.

4) Uji Keberartian Model Regresi

Uji keberartian model regresi merupakan uji untuk mengetahui apakah model regresi yang diperoleh dapat digunakan untuk menggambarkan bentuk sumbangan variabel bebas terhadap variabel terikat atau tidak. Untuk menguji keberartian garis regresi dengan uji t dan berdasarkan perhitungan menggunakan komputer program SPSS release 12 diperoleh hasil sebagai berikut :

50

Tabel 4.5.

Hasil Uji Linieritas Data

Variabel thitung Signifikansi Kriteria X1 – Y X2 - Y 2,238 3,065 0.045 0.010 Signifikan Signifikan Sumber : Analisis Data Penelitian 2009

Hasil uji keberartian model regresi pada tabel di atas diperoleh nilai thitung

untuk variabel reaksi (X1) dan kelincahan (X2) yang memiliki signifikansi lebih kecil dari 0,05, hal ini menunjukkan bahwa model regresi yang diperoleh dapat digunakan untuk menggambarkan bentuk hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat.

4.1.2.2 Uji Hipotesis

1) Sumbangan Reaksi terhadap Hasil Footwork

Hasil analisis diperoleh koefisien korelasi (r) antara reaksi terhadap hasil

footwork seperti tersaji pada tabel berikut ini: Tabel 4.6.

Hasil Koefisien Koerelasi Reaksi dengan Hasil Footwork

ANOVAb 382.801 1 382.801 5.010 .045a 916.925 12 76.410 1299.726 13 Regression Residual Total Model 1 Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Constant), X1 a.

Dependent Variable: Y b.

Sumber : Analisis Data Penelitian 2009

Berdasarkan hasil tersebut terlihat bahwa nilai F sebesar 5.010 ( signifikansi 0,045) hal ini berarti bahwa ada sumbangan reaksi terhadap hasil

reaksi dengan hasil footwork pada mahasiswa IKK bulutangkis I Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Semarang tahun 2009.

Besarnya sumbangan reaksi terhadap hasil footwork dapat diketahui dari kuadrat korelasi (r2), yaitu 0,295. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sumbangan reaksi terhadap hasil footwork pada mahasiswa IKK bulutangkis I Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Semarang tahun 2009 dalam kategori rendah, yaitu sebesar 29,5%

Berdasarkan hasil analisis diperoleh pula persamaan regresi antara reaksi dengan hasil footwork seperti tersaji pada tabel berikut ini:

Tabel 4.7.

Hasil Koefisien Regresi reaksi dengan Hasil Footwork

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 22.873 12.343 1.853 0.089

X1 0.543 0.242 0.543 2.238 0.045

Sumber : Analisis Data Penelitian 2009

Berdasarkan Hasil tersebut menunjukkan bahwa model regresi antara reaksi terhadap hasil footwork adalah :

Y= 22,873 + 0,543X1...(1) Nilai koefisien regresi yang bertanda positif tersebut menunjukkan bahwa bentuk sumbangan antara reaksi dengan hasil footwork adalah sumbangan yang positif, dimana setiap terjadi kenaikan 1 satuan reaksi akan diikuti dengan meningkatnya hasil footwork sebesar 0,543 satuan pada konstanta 22,873 satuan dan sebaliknya setiap terjadi penurunan 1 satuan reaksi akan diikuti dengan menurunnya hasil footwork sebesar 0,543 satuan pada konstanta 22,873 satuan. 2) Sumbangan Kelincahan terhadap Hasil Footwork

52

Hasil analisis diperoleh koefisien korelasi (R) antara kelincahan terhadap hasil footwork seperti tersaji pada tabel berikut ini:

Tabel 4.8.

Hasil Koefisien Korelasi Kelincahan dengan Hasil Footwork

ANOVAb 570.652 1 570.652 9.392 .010a 729.074 12 60.756 1299.726 13 Regression Residual Total Model 1 Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Constant), X2 a.

Dependent Variable: Y b.

Sumber : Analisis Data Penelitian 2009

Berdasarkan hasil tersebut terlihat bahwa nilai F sebesar 9.392 ( signifikansi 0,010) hal ini berarti bahwa ada sumbangan kelincahan terhadap hasil

footwork di terima. Maka dapat diputuskan bahwa ada sumbangan yang signifikan antara kelincahan terhadap hasil footwork pada mahasiswa IKK bulutangkis I Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang tahun 2009.

Besarnya sumbangan kelincahan terhadap hasil footwork dapat diketahui dari kuadrat korelasi (r2), yaitu 0,439. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sumbangan kelincahan terhadap hasil footwork pada mahasiswa IKK bulutangkis I Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Semarang tahun 2009 dalam kategori sedang, yaitu sebesar 43,9%

Berdasarkan hasil analisis diperoleh pula persamaan regresi antara kelincahan dengan hasil footwork seperti tersaji pada tabel berikut ini:

Tabel 4.9.

Hasil Koefisien Regresi Kelincahan dengan Hasil Footwork

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 16.871 11.009 1.533 0.151 X2 0.663 0.216 0.663 3.065 0.010

Sumber : Analisis Data Penelitian 2009

Berdasarkan Hasil tersebut menunjukkan bahwa model regresi antara kelincahan terhadap hasil footwork adalah :

Y= 16,871 + 0,663X2...(2) Nilai koefisien regresi yang bertand positif tersebut menunjukkan bahwa bentuk sumbangan antara kelincahan terhadap hasil footwork adalah sumbangan yang positif, dimana setia terjadi kenaikan 1 satuan kelincahan akan diikuti dengan meningkatnya hasil footwork sebesar 0,663 satuan pada konstanta 16,871 satuan dan sebaliknya setiap terjadi penurunan 1 satuan kelincahan diikuti dengan menurunnya hasil footwork sebesar 0,663 satuan pada konstanta 16,871 satuan. 3) Sumbangan Reaksi dan Kelincahan terhadap Hasil Footwork

Berdasarkan hasil analisis diperoleh koefisien korelasi ganda antara reaksi dan kelincahan terhadap hasil footwork seperti terlihat pada tabel berikut ini :

54

Tabel 4.10.

Hasil Koefisien Korelasi Reaksi dan Kelincahan terhadap Hasil Footwork ANOVAb 678.243 2 339.121 6.002 .017a 621.483 11 56.498 1299.726 13 Regression Residual Total Model 1 Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Constant), X2, X1 a.

Dependent Variable: Y b.

Berdasarkan hasil tersebut terlihat bahwa nilai F sebesar 6.002 ( signifikansi 0,017) hal ini berarti bahwa ada sumbangan kelincahan terhadap hasil

footwork di terima.. Uji keberatian koefisien korelasi tersebut dilakukan dengan analisis varians yang hasilnya seperti terjadi pada tabel berikut :

Tabel 4.11.

Hasil Analisis Varians antara reaksi dan Kelincahan terhadap Hasil Footwork Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. Regression 678.243 2 339.121 6.002 0.017 Residual 621.483 11 56.498 Total 1299.726 13

Sumber : Hasil Analisis Data Penelitian 2009

Berdasarkan hasil tersebut diperoleh Fhitung = 6,002 > Ftabel = 4,10 untuk α= 5% dengan dk = 2:11. Dengan demikian dapat diputuskan bahwa terdapat sumbangan yang signifikan antara reaksi dan kelincahan terhadap hasil footwork

pada mahasiswa IKK bulutangkis I Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang tahun 2009.

Besarnya sumbangan reaksi dan kelincahan terhadap hasil footwork dapat diketahui dari kuadrat korelasi (r2), yaitu 0.435. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa sumbangan reaksi dan kelincahan terhadap hasil footwork

pada mahasiswa IKK bulutangkis I Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Negeri Semarang tahun 2009 dalam kategori sedang, yaitu sebesar 43,5%

Berdasarkan hasil analisis diperoleh pula persamaan regresi antara reaksi dan kelincahan dengan hasil footwork seperti tersaji pada tabel berikut:

Tabel 4.12.

Hasil Koefisien Regresi reaksi dan Kelincahan dengan Hasil Footwork Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 7.751 12.505 0.620 0.548 X1 0.318 0.230 0.318 1.380 0.195 X2 0.527 0.230 0.527 2.287 0.043

Sumber : Analisis Data Penelitian 2009

Berdasarkan output tersebut menunjukkan bahwa model regresi antara reaksi terhadap hasil footwork adalah :

Y= 7,751 + 0,318X1 + 0,527 X2...(3) Hasil tersebut menunjukkan bahwa bentuk sumbangan antara reaksi dan kelincahan terhadap hasil footwork adalah sumbangan yang positif karena koefisien-koefisien regresi yang diperoleh bertanda positif. Berdasarkan persamaan regresi tersebut dapat dijelaskan bahwa setia terjadi kenaikan 1 satuan reaksi dan 1 satuan kelincahan secara bersama-sama akan diikuti dengan meningkatnya hasil footwork sebesar 0,318+0,527 satuan pada konstanta 7,751 satuan dan sebaliknya setiap terjadi penurunan 1 satuan reaksi dan 1 satuan

56

kelincahan secara bersama-sama akan diikuti dengan menurunnya hasil footwork

sebesar 0,318+0,527 satuan pada konstanta 7,751 satuan

4.2Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama reaksi dan kelincahan memberikan sumbangan yang signifikan terhadap hasil footwork pada mahasiswa IKK bulutangkis I Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang tahun 2009. Hasil tersebut memberikan bukti nyata bahwa dalam bulutangkis unsur reaksi dan kelincahan merupakan salah satu unsur kondisi fisik yang dapat dioptimalkan untuk menunjang olah kaki (footwork) sehingga dapat menguasai semua sudut lapangan secara memadai.

Diantara reaksi dan kelincahan yang memberikan sumbangan paling besar terhadap hasil footwork berdasarkan penelitin ini adalah kelincahan yaitu 43,9% sedangkan untuk reaksi hanya memberikan sumbangan 29,5%. Hal tersebut cukup beralasan sebab olah kaki (footwork) bulutangkis ke depan maupun membalikkan badan ke belakang, melenting ke kanan, ke kiri, ke depan dan sebagainya memerlukan kelincahan yang tinggi agar dapat merubah arah gerak secara cepat. merubah arah yang cepat dan efektif tersebut hanya dapat dilakukan bila pemain memiliki kelincahan yang tinggi.

Seorang pemain yang memiliki kelincahan tinggi akan dapat menguasai lapangan permain secara baik dengan melakukan gerakan merubah arah secepat-cepatnya, dengan kelincahan pula pemain dapat bergerak secara bebas

memanfaatkan lebar lapangan. Kecepatan gerak tubuh untuk melakukan kelincahan juga harus diimbangi dengan komponen lain seperti keseimbangan tubuh sehingga mampu mengontrol tubuhnya dan dapat mencapai hasil yang baik.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat M. Sajoto (1995:9), bahwa seseorang yang dapat mengubah pada posisi berbeda dalam kecepatan yang tinggi dengan koordinasi yang baik, berarti kelincahanya cukup baik. Sedangkan menurut Suharno HP (1986:47), kelincahan merupakan kemampuan dari seseorang untuk mengubah posisi badan secepat mungkin sesuai situasi yang di hadapi. Kelincahan sangat penting fungsinya untuk meningkatkan prestasi dalam cabang olahraga. Secara langsung kelincahan digunakan untuk mengkoordinasikan gerakan-gerakan berganda (simultan), mempermudah penguasaan teknik-teknik tinggi, mempermudah orientasi terhadap lawan dan lingkungan.

Walaupun tidak sebesar kelincahan, reaksi juga memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap hasil footwork bulutangkis. Hal ini dikarenakan pelaksanaa olah kaki (footwork) dalam bulutangkis diperlukan reaksi yang besar untuk menunjang gerak kaki melangkah ke depan, ke belakang, ke samping kanan, dan ke samping kiri secara cepat. Dengan reaksi yang besar memungkinkan langkah pemain lebih cepat sehingga pergerakannya ke semua sudut lapangan menjadi semakin cepat.

Kenyatan tersebut didukung pendapat (M. Sajoto, 1995:3), bahwa rekasi merupakan kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menanggapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera, syaraf atau feeling lainnya. Selain itu Ismaryati (2002:104), menyatakan bahwa reaksi merupakan periode antara diterimanya rangsang (stimulus) dengan permulaan munculnya

58

jawaban (respon). Semua informasi yang diterima indera dari dalam atau dari luar tersebut rangsang. Indera akan mengubah informasi tersebut menjadi impuls-impuls saraf dengan bahan yang dipahami otak. Dengan demikian tampak bahwa semakin tinggi reaksi pemain bulutangkis memungkinkan mereka dapat menanggapi setiap rangsangan yang timbul untuk melangkahkan kaki sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Secara bersama-sama sumbangan reaksi dan kelincahan terhadap hasil

footwork besar (43,5%). Hal ini dikarenakan olah kaki (footwork) bulutangkis memerlukan kemampuan gerak yang komplek, disamping cepat dalam melangkahkan kaki juga harus cepat dalam membalikkan badan ke posisi siap untuk menerima suttlecoc lawan berikutnya. Untuk dapat melangkahkan kaki secara cepat ini hanya dapat dilakukan apabila pemain memiliki reaksi yang besar, sedangkan untuk dapat mengubah arah yang cepat hanya dapat dilakukan apabila pemain memiliki tingkat kelincahan yang tinggi.

Mengingat kedudukan reaksi dan kelincahan sangat penting dalam menunjang olah kaki (footwork) bulutangkis. Reaksi maupun kelincahan merupakan unsur-unsur diantara unsur-unsur komponen kondisi fisik yaitu kemampuan biomotorik manusia, yang dapat ditingkatkan sampai batas-batas tertentu dengan melakukan latihan-latihan tertentu yang sesuai. Untuk itu agar pemain bulutangkis memiliki olah kaki (footwork) yang baik, selain melalukan berbagai latihan teknik olah kaki (footwork) perlu juga melatih komponen-komponen kondisi fisik seperti reaksi dan kelincahan secara optimal dengan menggunakan bentuk-bentuk latihan tertentu secara terprogram dan terencana.

59

BAB V

Dokumen terkait