• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Data dan Hasil Penelitian

BAB IV: HASIL PENETIAN DAN PEMBAHASAN

4.2. Analisis Data dan Hasil Penelitian

Sesuai dengan tujuan dari penelitian dan latar belakang masalah serta pemahaman tentang permasalahan, maka dalam penelitian ini permasalahan yang dihadapi dapat dirumuskan sebagai berikut: Mengetahui dan mendeskripsikan implementasi dari Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Kesejahteraaan Sosial, khususnya di Kecamatan Karangpilang Surabaya.

Penyelenggaraan kesejahteraan sosial adalah upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial.

Temuan data dalam penelitian ini pada dasarnya adalah sebagai landasan dalam memberikan deskripsi yang logis dan ilmiah terhadap fenomena yang akan diteliti, karena seperti yang tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2012 pada pasal 12 menerangkan bahwa :

1) Pemerintah Daerah wajib menangani penyandang masalah kemiskinan untuk meningkatkan kemampuan dirinya secara sosial dan ekonomi sehingga dapat mencapai kemandirian serta menikmati kehidupan yang layak.

2) Dalam memberikan pelayanan kesejahteraan sosial penyandang masalah kemiskinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah Daerah wajib melakukan :

a) Pendataan

b) Asessmen dan seleksi

c) Bimbingan sosial untuk meningkatkan motivasi diri

d) Pelatihan keterampilan kerja/usaha dan/atau pendampingan usaha

e) Fasilitasi dan pemberian bantuan permodalan dan/atau peralatan kerja

f) Fasilitasi pemasaran hasil usaha

g) Fasilitasi penempatan tenaga kerja

h) Peningkatan derajat kesehatan, pendidikan, pangan dan tempat tinggal

i) Peningkatan rasa aman dari tindak kekerasan dan kejahatan 3) Sasaran pelayanan kesejahteraan sosial penyandang masalah

kemiskinan meliputi : 1) Fakir miskin

2) Wanita rawan sosial-ekonomi; dan/atau 3) Warga miskin daerah kumuh.

Pada kenyataannya, realitas di lapangan tepatnya di Kecamatan Karangpilang Surabaya, masih terdapat kondisi bahwa belum sepenuhnya optimal karena angka Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial masih cukup tinggi di beberapa wilayah administratif Kecamatan Karangpilang. Seperti di Kelurahan Kedurus, Kelurahan Kebraon, Kelurahan Karangpilang, dan Kelurahan Warugunung untuk keluarga fakir miskin saja mencapai 658 jiwa total dari seluruh Kelurahan menurut data dari Kecamatan Karangpilang di tahun 2013.

Meskipun program-program dari Pemerintah telah di tuangkan dalam Peraturan Daerah, namun penyandang masalah kesejahteraan sosial masih terdapat di beberapa wilayah Kecamatan Karangpilang. Untuk itu, memerlukan kajian terhadap kebijakan-kebijakan program yang di jalankan pemerintah dalam penyelenggaran kesejahteraan sosial. Dalam penelitian ini akan dikemukakan pemaparan/deskripsi secara mendalam, berdasarkan masing-masing rumusan masalah yang di kemukakan.

Gambaran tentang penyelenggaraan kesejahteraan sosial di Kecamatan Karangpilang Surabaya, berdasarkan temuan data berupa wawancara dengan Sek.Camat Kecamatan Karangpilang, yakni Bapak Zuraidhi, diketahui bahwa : “ Dalam pelaksanaannya, kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan sosial yang ada di wilayah administratif Kecamatan Karangpilang saya rasa cukup bagus penyampaian program dan sasaran yang dituju. Walaupun masih banyak kekurangan dari aparatur kita, seperti kurangnya tenaga pelayanan dalam mewujudkan program-program untuk PMKS. Untuk contoh, saat ini data yang

banyak kita tangani itu, cukup banyak masyarakat di Kecamatan sini meminta surat keterangan tidak mampu untuk mendaftarkan anak-anak mereka sekolah. Tapi dengan catatan, tetap dengan syarat-syarat yang sudah kita tetapkan agar surat keterangan tersebut lebih tepat sasaran dan memang untuk masyarakat/keluarga yang benar-benar membutuhkan. Untuk Perda yang ada memang, program-progamnya sudah bagus, tinggal bagaimana kita dalam pelaksanaan dan pengawasannya. Tapi, kembali ke masalah SDM karena secara umum permasalahan yang ada di SKPD ini adalah jumlah karyawan semakin berkurang karena pension dan tidak ada segera penggantinya”

Berdasarkan temuan data penelitian wawancara tersebut,di ketahui bahwa pihak dari SKPD Kecamatan Karangpilang secara optimal telah melaksanakan program-program turunan dari Perda Kota Surabaya. Walaupun ada hambatan dari kurangnya SDM di SKPD Kecamatan Karangpilang.

Sementara itu, peneliti juga melakukan wawancara dengan masyarakat di sekitar Kecamatan Karangpilang mengenai gambaran program penyelenggaraan kesejahteraan yang ada di wilayah kerja Kecamatan. Berikut wawancara dengan Ibu Sugiarti

“ Seberapa banyak programnya saya memang kurang paham, hanya yang saya lihat sendiri dan saya dengar dari beberapa warga masyarakat, programnya macam-macam. Untuk yang sekarang, ada program untuk gakin (keluarga miskin)

berupa pelatihan pembuatan batik jumput. Tujuannya untuk peningkatan UMKM mas. Hasilnya nanti akan di setor ke pemerintah (pembuat program pelatihan), dan di bantu untuk pemasarannya”

Dari beberapa hasil wawancara tersebut, cukup menggambarkan bahwa pelaksanaan penyelengaraan kesejahteraan sosial yang ada di kecamatan Karangpilang Surabaya, sudah berjalan dan diterapkan serta di praktekkan di Kecamatan Karangpilang Surabaya.

4.2.1 Temuan data implementasi Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor

2 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial di

Kecamatan Karangpilang Surabaya

Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan sejauh mana implementasi Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial, yang mana Peraturan Daerah tersebut bertujuan untuk mempercepat program penyelenggaraan kesejahteraan sosial di wilayah Kecamatan Karangpilang Surabaya.

Karena seperti yang tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Kesejahteraan Sosial, pasal 3 bahwa program penyelenggaraan kesejahteraan sosial bertujuan untuk :

1) Meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas dan kelangsungan hidup

2) Memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian 3) Meningkatkan ketahanan sosial masyarakat dalam mencegah dan

menangani masalah kesejahteraan social

4) Meningkatkan kemampuan, kepedulian dan tanggungjawab sosial dunia usaha dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan

5) Meningkatkan kemampuan dan kepedulian masyarakat dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan, dan

6) Meningkatkan kualitas manajemen penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

Secara umum, realitas di Kecamatan Karangpilang Surabaya, program-program yang bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas dan kelangsungan hidup masyarakat sudah banyak dilaksanakan oleh aparatur pemerintahan. Walaupun demikian penyandang masalah kesejahteraan sosial masih terdapat di semua Kelurahan yang menjadi wilayah kerja Kecamatan Karangpilang. Untuk itu memerlukan kajian terhadap kebijakan-kebijakan yang menjadi turunan dari Peraturan Daerah, terutama yang menjadi fokus dalam penelitian ini.

4.2.2 Implementasi penyelenggaraan kesejahteraan sosial

Berdasarkan tujuan dari Peraturan Daerah berkaitan dengan penyelenggaraan kesejahteraan sosial, khususnya di wilayah Kecamatan Karangpilang, berikut hasil wawancara dengan Kepala Seksi Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Bapak Drs. Mustofa Cholil dan temuan data yang ada di Kecamatan Karang Pilang :

Bagaimana pendapat anda tentang Implementasi Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial di Kecamatan Karangpilang?

Jawaban responden :

“ Sampai dengan saat ini saya menjabat sebagai Kasi SosPenmas, untuk implementasi Perda sudah berjalan, walaupun memang masih adanya temuan PMKS di wilayah Kecamatan Karangpilang. Kita tidak memungkiri hal tersebut, tapi secara umum SKPD Kecamatan sudah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan implementasi Perda tersebut dengan melakukan pendataan, penyusunan rencana kerja, serta aktualisasi program di lapangan. Secara umum, semua pelaksanaan sudah sejalan dengan Perda tersebut”

Beliau juga menambahkan tentang program yang sedang berjalan di Kecamatan Karangpilang, dalam penanganan penyandang masalah kemiskinan yang diantaranya :

1) Memberikan Rekomendasi Surat Keterangan Tidak Mampu bagi warga kurang mampu untuk memperoleh hak pendidikan

2) Memberikan Rekomendasi bagi warga miskin (Gakin) untuk memperoleh Beras miskin (Raskin) berdasarkan pagu yang ditetapkan.

3) Memberikan Rekomendasi Surat Keterangan Tidak Mampu untuk memperoleh biaya pengobatan gratis

4) Memberikan Rekomendasi bagi Karang Wreda untuk memperoleh Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan bagi warga lanjut usia. Berdasarkan jawaban tesebut, dapat diketahui bahwa implementasi penyelenggaraan kesejahteraan sosial menurut responden ( Bapak Drs. Mustofa Cholil) menunjukkan bahwa perhatian yang di berikan pemerintah sudah cukup baik.

Selain melakukan wawancara dengan aparatur pemerintah di Kecamatan Karangpilang, peneliti juga melakukan wawancara dengan masyarakat di Kecamatan Karangpilang Surabaya, yang di temui di Kantor Kecamatan yaitu dengan Bapak Hartono, berikut wawancaranya :

“Sejauh mana perkembangan di Kecamatan Karangpilang dalam menyelenggarakan kesejahteraan sosial menurut Bapak, jika dilihat dan di rasakan oleh masyarakat, sudahkah program-programnya dijalankan?” Jawaban responden

“ Sing (yang) tak rasakan berjalan mas, karena saya sendiri penerima programnya. ini saya mengajukan surat keterangan kurang mampu untuk pendaftaran anak sekolah. Masio (walaupun), untuk pengajuannya rodo angel (sedikit sulit) soalnya banyak data yang di minta sama pihak Kecamatan. Mungkin biar tepat sasaran kayaknya, tapi yo g ngerti maneh mas alasan liyane (tapi tidak tahu lagi kalo ada alasan lain) mas”

Hasil dari wawancara dengan Bapak Hartono selaku warga sekitar Kecamatan Karangpilang Surabaya, menunjukkan bahwa memang Implementasi Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Sosial yang di jalankan SKDP Kecamatan Karangpilang secara umum sudah berjalan walaupun secara garis besarnya saja.

4.2.3 Temuan data yang menjadi faktor pendukung dan penghambat

Implementasi Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2012

Tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial

Sebagaimana diamanatkan dalam ketentuan Pasal 28 huruf c Undang-Undang Dasar 1945, bahwa secara yuridis setiap orang berhak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya demi meningkatkan kualitas hidupnya. Hal ini dijabarkan dalam ketentuan Pasal 22 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah kedua kali dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 dimana salah satu kewajiban daerah sehubungan dengan penyelenggaraan otonomi daerah adalah meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial guna mencapai kesejahteraan masyarakat.

Sejalan dengan ketentuan di atas, ketentuan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial memberikan lingkup tanggung jawab kabupaten/kota dalam hal kesejahteraan sosial, yaitu a) melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial di

wilayahnya/ bersifat lokal, termasuk tugas pembantuan; b) mengalokasikan anggaran untuk penyelenggaraan kesejahteraan sosial dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah; c) bantuan sosial sebagai stimulan kepada masyarakat yang menyelenggarakan kesejahteraan sosial; d) memelihara taman makam pahlawan; e) melestarikan nilai kepahlawanan, kepentingan dan kesetiakawanan sosial.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Pemerintah Daerah mempunyai tugas untuk menangani persoalan-persoalan kesejahteraan sosial di daerah. Selama ini Pemerintah Kota Surabaya telah memberikan pelayanan kesejahteraan sosial melalui SKPD di tiap Kecamatan, namun karena kompleksitas persoalan sosial perkotaan di Kota Surabaya, maka agar penanganannya lebih optimal perlu didukung dengan Peraturan Daerah.

SKPD Kecamatan Karangpilang Surabaya ini dijalankan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat. Penelitian ini berupaya untuk mendeskripsikan Implementasi Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial secara spesifik dengan kondisi yang di dihadapi masyarakat di Kecamatan Karangpilang yang di tinjau dari segi keberadaan faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial tersebut.

Berdasarkan teorinya tentang implementasi, Edward III mengajukan pendekatan masalah implementasi dengan terlebih dahulu mengemukakan dua pertanyaan pokok, yakni: (i) faktor apa yang mendukung keberhasilan

implementasi kebijakan? dan (ii) faktor apa yang menghambat keberhasilan implementasi kebijakan? Berdasarkan kedua pertanyaan tersebut dirumuskan empat faktor yang merupakan syarat utama keberhasilan proses implementasi, yakni komunikasi, sumber daya, sikap birokrasi atau pelaksana dan struktur organisasi, termasuk tata aliran kerja birokrasi. Empat faktor tersebut menjadi kriteria penting dalam implementasi suatu kebijakan

1. Komunikasi, Implemetasi kebijakan publik agar dapat mencapai keberhasilan mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilakukan secara jelas. Apa yang menjadi tujuan dan sasaran kebijakan harus diinformasikan kepada kelompok sasaran (target group) sehingga akan mengurangi distorsi implementasi. Apabila penyampaian tujuan dan sasaran suatu kebijakan tidak jelas, tidak memberikan pemahaman atau bahkan tujuan dan sasaran kebijakan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok sasaran, maka kemungkinan akan terjadi suatu penolakan atau resistensi dari kelompok sasaran yang bersangkutan. Oleh karena itu diperlukan adanya tiga hal, yaitu; (1) penyaluran (transmisi) yang baik akan menghasilkan implementasi yang baik pula (kejelasan); (2) adanya kejelasan yang diterima oleh pelaksana kebijakan sehingga tidak membingungkan dalam pelaksanaan kebijakan, dan (3) adanya konsistensi yang diberikan dalam pelaksanaan kebijakan. Jika yang dikomunikasikan berubah-ubah akan membingungkan dalam pelaksanaan kebijakan yang bersangkutan.

2. Sumberdaya, dalam implementasi kebijakan harus ditunjang oleh sumberdaya baik sumberdaya manusia, materi dan metoda. Sasaran, tujuan dan isi kebijakan walaupun sudah dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, tetapi apabila implementor kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan, implementasi tidak akan berjalan efektif dan efisien. Tanpa sumberdaya, kebijakan hanya tinggal di kertas menjadi dokumen saja tidak diwujudkan untuk memberikan pemecahan masalah yang ada di masyarakat dan upaya memberikan pelayan pada masyarakat.

3. Disposisi, suatu disposisi dalam implementasi dan karakteristik, sikap yang dimiliki oleh implementor kebijakan, seperti komitmen, kejujuran, komunikatif, cerdik dan sifat demokratis. Implementor baik harus memiliki disposisi yang baik, maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan dan ditetapkan oleh pembuat kebijakan. Implementasi kebijakan apabila memiliki sikap atau perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses implementasinya menjadi tidak efektif dan efisien. Apabila implementor memiliki disposisi yang baik, maka dia akan menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan.

4. Struktur birokrasi, organisasi menyediakan peta sederhana untuk menunjukkan secara umum kegiatan-kegiatannya dan jarak dari puncak menunjukkan status relatifnya. Garis-garis antara berbagai

posisi-posisi itu dibingkai untuk menunjukkan interaksi formal yang diterapkan. Kebanyakan peta organisasi bersifat hirarki yang menentukan hubungan antara atasan dan bawahan dan hubungan secara diagonal langsung organisasi melalui lima hal harus tergambar, yaitu; (1) jenjang hirarki jabatan-jabatan manajerial yang jelas sehingga terlihat “Siapa yang bertanggungjawab kepada siapa?”; (2) pelembagaan berbagai jenis kegiatan oprasional sehingga nyata jawaban terhadap pertanyaan “Siapa yang melakukan apa?”; (3) Berbagai saluran komunikasi yang terdapat dalam organisasi sebagai jawaban terhadap pertanyaan “Siapa yang berhubungan dengan siapa dan untuk kepentingan apa?”; (4) jaringan informasi yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, baik yang sifatnya institusional maupun individual; (5) hubungan antara satu satuan kerja dengan berbagai satuan kerja yang lain. Dalam implementasi kebijakan, struktur organisasi mempunyai peranan yang penting. Salah satu dari aspek struktur organisasi adalah adanya prosedur operasi yang standar (standard operating procedures/SOP). Fungsi dari SOP menjadi pedoman bagi setiap implementor dalam bertindak. Struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan red-tape, yakni birokrasi yang rumit dan kompleks. Hal demikian pada gilirannya menyebabkan aktivitas organisasi tidak fleksibel.

Sehingga temuan dan analis data dalam penelitian yang relevan dengan fokus penelitian dalam hal ini menjadi faktor pendukung dan penghambat dalam Implementasi Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial di Kecamatan Karangpilang, adapun faktor-faktornya sebagai berikut :

1) Komunikasi, Implemetasi kebijakan publik agar dapat mencapai keberhasilan, mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilakukan secara jelas. Keberadaan sebuah program ataupun kebijakan akan dapat berjalan dengan baik sesuai rencana yang ditetapkan bila terdapat berbagai unsur yang menunjang implementasi program tersebut, salah satunya adalah sejauh mana informasi dari program kebijakan dapat disampaikan, dikomunikasikan dan diterima dengan pemahaman yang baik oleh obyek pelaksana, dan masyarakat sasaran dari penerapan kebijakan itu sendiri. Kondisi keberadaan komunikasi yang belum efektif, berdasarkan temuan data dan kajian dalam penelitian ini menjadi salah satu penghambat dalam Implementasi Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial, dimana masih ada kesan belum mudah dan transparan khususnya dalam hal pemberian informasi perihal kebijakan yang akan dan telah ditetapkan.

2) Sumber Daya, dalam implementasi kebijakan harus ditunjang oleh sumberdaya baik sumberdaya manusia, materi dan metoda. Sasaran, tujuan dan isi kebijakan walaupun sudah dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, tetapi apabila implementor kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan, implementasi tidak akan berjalan efektif dan efisien. Tanpa sumberdaya, kebijakan hanya tinggal di kertas menjadi dokumen saja tidak diwujudkan untuk memberikan pemecahan masalah yang ada di masyarakat dan upaya memberikan pelayan pada masyarakat. Seperti halnya yang terjadi di Kecamatan Karangpilang, peneliti mendapat temuan yang disampaikan oleh Kasi SosPenmas bahwa tantangan yang dihadapi SKPD pada umumnya terdiri dari :

a) Jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) semakin berkurang karena pension dan belum ada penggantinya.

b) Kurangnya motivasi karyawan untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

c) Kurangnya pembinaan yang berkesinambungan kepada karyawan.

Berkaitan dengan adanya ketimpangan sumber daya yang ada di implementor, akan berpengaruh pada pelaksanaan program itu sendiri.

3) Disposisi, suatu disposisi dalam implementasi dan karakteristik, sikap yang dimiliki oleh implementor kebijakan, seperti komitmen, kejujuran, komunikatif, cerdik dan sifat demokratis. Implementor baik harus memiliki disposisi yang baik, maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan dan ditetapkan oleh pembuat kebijakan. Implementasi kebijakan apabila memiliki sikap atau perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses implementasinya menjadi tidak efektif dan efisien. Dari sisi masyarakat, poin penting yang di rasakan di dalam era otonomo adalah semakin transparannya pengelolaan pemerintahan di tiap SKPD dan pendeknya rantai birokrasi yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh positif terhadap jalannya penyelenggaran kesejahteraan sosial. Perlunya keberadaan delegasi masyarakt dalam kegiatan Musrenbang di tingkat Kabupaten/Kota gagasannya adalah pembuka partisipasi masyarakat untuk ikut menentukan dan mengawasi penentuan kebijakan. Namun demikian, muncul pendapat bahwa keberadaan masyarakat hanya sekedar pemenuhan kuota adanya partisipasi dari masyarakat dalam proses Musrenbang sebagaimana di tetapkan undang-undang.

4) Struktur Birokrasi, faktor penunjang untuk implementasi Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial, dalam penelitian ini struktur birokrasi yang ada di SKPD Kecamatan Karangpilang serta komponen yang berkaitan dengan penyelenggaraan sosial di Kecamatan Karangpilang.

Keterpaduan antar kelembagaan yang ada di Pemerintah Kota hingga tingkat SKPD Kecamatan yaitu : kelembagaan pemerintah-politik, kelembagaan ekonomi-dunia usaha/swasta, dan kelembagaan masyarakat. Kelembagaan pemerintah, bagaimana kebijakan dan program pemerintah dapat diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, sehingga masyarakat dapat memiliki kemudahan akses dalam suatu kebijakan dan sumberdaya setempat. Kelembagaan ekonomi, didorong untuk menciptakan sistem ekonomi yang kondusif bagi tumbuh kembangnya usaha menengah kecil mikro yang produktif bagi masyarakat miskin. Sementara itu, kelembagaan masyarakat ditujukan untuk kelembagaan sosial-ekonomi masyarakat yang tumbuh dan berkembang.

Di samping tiga kelembagaan tersebut, kelembagaan Lembaga Swadaya Masyarakat dapat difungsikan sebagai katalisator dan fasilitatir dari pelaksanaan ekonomi rakyat. Strategi jangka pendek, antara lain adalah : (1) identifikasi masalah kemiskinan; (2) mengkaji potensi yang dimiliki baik SDA, SDM, dan Kelembagaan yang ad; (3) identifikasi kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan dari lembaga yang ada; (4) Koordinasi dan sinkronisasi program antar dinas atau instansi pemerintah terkait; (5) konsistensi antara program dengan

alokasi anggaran; (6) menentukan kelompok sasaran dan merumuskan perencanaan serta pelaksanaan program secara partisipatif.

Dokumen terkait