BAB III HASIL PENELITIANDAN PEMBAHASAN
B. Analisis Data
Berdasarkan hasil membaca dan menyimak keseluruhan cerpen yang terkumpul dalam buku kumpulan cerpen berjudul Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma, yang terdiri dari 16 cerpen yakni Saksi Mata, Telinga, Manuel, Maria, Salvador, Rosario, Listrik, Pelajaran Sejarah, Misteri Kota Ningi, Klandestin, Darah Itu Merah, Jenderal, Seruling Kesunyian, Salazar, Junior, Kepala di Pagar Da Silva, dan Sebatang Pohon di Luar Desa, ditemukan 47 majas simile atau perumpamaan yang terdapat dalam keseluruhan cerpen. Berikut analisisnya:
(1) “Dari lubang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus-menerus dari lubang itu.” (SM: 8)
Data no.1 menggambarkan keadaan tokoh Saksi Mata yang bersaksi di persidangan tanpa kedua matanya. Dari lubang kedua matanya mengalir darah berwarna merah yang mengucur terus-menerus secara perlahan. Darah yang mengalir dari lubang kedua mata Saksi Mata tersebut seolah-olah berwarna lebih merah dari darah yang biasa mengalir dalam tubuh manusia. Dan darah tersebut seolah mengalahkan warna merah yang lain selain warna darah yang keluar dari lubang kedua mata Saksi Mata.
Penggambaran warna darah dalam kutipan tersebut digambarkan pengarang seolah-olah di ruang pengadilan tidak ada warna merah lain yang dapat menggambarkan darah yang mengalir dari lubang kedua mata tokoh Saksi Mata. Pengarang menggunakan perumpamaan warna darah yang seolah-olah tidak ada warna merah selain darah yang mengalir tersebut karena ingin menggambarkan bahwa kejadian yang dialami oleh Saksi Mata terjadi begitu kejam dan sadis. Penggambaran warna darah tersebut juga digambarkan pengarang untuk memberikan penekanan dan penjelasan bahwa darah yang mengalir dari kedua mata Saksi Mata itu menjadi saksi kekejaman para penjahat yang dengan sadis tega mencongkel kedua mata tokoh Saksi Mata tersebut.
Pada data no. 1 tersebut juga dapat menggambarkan unsur intrinsik cerita berupa suasana yang mengerikan yang dialami oleh tokoh Saksi Mata. Hal itu dibuktikan dengan kalimat “mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah” yang menggambarkan bahwa pada lubang kedua matanya mengucur darah yang begitu deras. Hal itu juga dapat
menggambarkan bahwa kejadian pembantaian terjadi begitu kejam dan sadis, tanpa memerdulikan satu sama lain.
(2) “Ruang pengadilan jadi riuh kembali. Seperti
dengungan seribu lebah.”(SM: 10)
(3) “Lagi-lagi hadirin ribut dan saling bergunjing seperti di warung kopi.”(SM:10)
Data no. 2 menggambarkan tentang keadaan ruang persidangan yang ramai dan riuh oleh suara para hadirin yang mendengarkan kesaksian tokoh Saksi Mata di ruang pengadilan. Para hadirin menjadi ramai dan bersuara ketika tokoh Saksi Mata mengungkapkan kejadian yang dialaminya sampai kedua matanya hilang dan mengeluarkan darah. Pada data no. 2, pengarang menganalogikan suara para hadirin seperti dengungan seribu lebah yang mengaung-ngaung. Kegaduhan yang terjadi di dalam ruang persidangan sangat ramai sekali sekali sampa tidak jelas apa yang sedang para hadirin gaduhkan.
Data no. 3 yang masih menggambarkan keadaan yang sama di ruang pengadilan. Para hadirin langsung berbicara sendiri satu sama lain yang membuat suasana persidangan semakin panas. Hal itu karena para hadirin telah mendengar kesaksian tokoh Saksi Mata yang menurut para hadirin dan Pak Hakim tidak masuk akal. Pada data no. 3 lagi-lagi pengaranag menggambarkan keadaan ramai itu dengan perumpamaan beberapa orang yang sedang bergunjing di warung kopi. Pengarang menggunakan perumpamaan itu karena biasanya di warung kopi terdapat beberapa orang yang sedang asyik mengobrol serta mengumbar pembicaraan mengenai orang lain. Dari data no. 2 dan 3 tersebut kita dapat mengetahui keadaan yang terjadi di ruang persidangan ketika tokoh Saksi Mata bersaksi untuk mencari keadilan. Akan tetapi, para hadirin seolah tidak dapat menerima alasan dan cerita dari tokoh Saksi Mata karena tidak masuk akal dan dianggap hanya kebohongan belaka. Selanjutnya, pada data no. 2 dan 3 tersebut juga
dapat menggambarkan unsur intrinsik cerita berupa latar tempat dalam cerita yakni di ruang pengadilan.
(4) “Darah masih menetes perlahan-lahan, tapi terus-menerus dari lubang hitam bekas mata Saksi Mata yang berdiri seperti patung di ruang pengadilan.” (SM: 11)
Data no. 4 menggambarkan tentang keadaan tokoh Saksi Mata yang bersaksi di ruang persidangan dengan kondisi kedua matanya hilang dan mengalir darah dari kedua mata tersebut. Saksi Mata bersaksi di persidangan seorang diri tanpa ditemani siapapun. Dan ia berdiri di tengah-tengah ruang persidangan dalam keadaan berdiri dan tenpa bergerak sedikitpun. Saksi Mata itu bersaksi di ruang pengadilan dengan berdiri dan diam tanpa menoleh yang diibaratkan seperti patung yang disertai dengan keluarnya darah yang masih terus menetes dari lubang kedua matanya. Saksi Mata dengan keadaan kedua matanya yang hilang menjadi sebab pergerakannya tidak bebas atau tidak leluasa bergerak, bahkan berjalan-jalan. Hal itu dikarenakan tokoh Saksi Mata tidak mempunyai kedua matanya sehingga ia tidak bisa melihat keadaan di sekelilingnya. Oleh karena itu, pengarang menggambarkan keadaan Saksi Mata itu seperti patung yang diam membisu tanpa gerak apapun.
Patung yang digunakan pengarang untuk menggambarkan tokoh Saksi Mata pada dasarnya adalah sebuah benda mati yang sengaja dibuat orang untuk dijadikan sebagai suatu pemandangan. patung hanyalah benda mati yang tidak bisa bergerak karena hanya digunakan sebagai hiasan dan keindahan. Pengarang menggunakan perumpamaan patung itu karena tokoh Saksi Mata masih mampu bersaksi walaupun dalam keadaan kedua matanya hilang, tetapi pergerakannya terbatas.
Pada data no. 4 tersebut juga dapat menggambarkan unsur intrinsik cerita yakni penokohan atau watak tokoh Saksi Mata. Hal itu dibuktikan walaupun dengan keadaan yang dialaminya, ia masih berani bersaksi di ruang pengadilan dalam keadaan diam dan berdiri seperti patung. Hal ini ditunjukkan dengan kegigihan tokoh Saksi Mata yang bersaksi di pengadilan walaupun ia sudah tidak memiliki kedua matanya dan darah masih terus menetes dari lubang kedua matanya.
(5) “Saudara masih ingat bagaimana mereka menembak dengan serabutan dan orang-orang tumbang seperti pohon pisang ditebang?” (SM: 13)
Data no. 5 masih menggambarkan bagaimana Pak Hakim sedang menginterogasi tokoh Saksi Mata atas kejadian yang dialaminya. Saksi Mata itu bersaksi bahwa di dalam mimpinya orang-orang ditembaki dengan silang-silang dari semua arah sehingga korban langsung berjatuhan. Pengarang menggunakan perumpamaan seperti pohon pisang yang ditebang karena para korban yang tertembak seolah-olah langsung tumbang atau ambruk dan berjatuhan satu per satu sehingga para korban dapat dikatakan langsung meninggal pada saat itu juga. Pengarang juga menyamakan keadaan itu dengan tumbangnya pohon pisang yang ditebang karena seolah-olah kejadian penembakan itu dilakukan dengan sadis dan tanpa perikemanusiaan. Oleh karena itu pengarang menyamakan kejadian itu dengan pohon pisang yang ditebang.
Dari data no. 5 tersebut juga terdapat penggambaran latar suasana mencekam dalam cerita yakni yang terdapat pada kalimat “orang-orang tumbang seperti pohon pisang ditebang” yang menggambarkan seolah-olah kejadian penembakan itu terjadi dengan kejam dan sadis karena korban langsung berjatuhan satu per satu yang diumpamakan seperti tumbangnya pohon pisang ketika ditebang.
(6) “Dewi kadang-kadang juga merasa telinga itu seperti masih hidup, dan bergerak-gerak, bagaikan masih mampu mendengar suara-suara di sekitarnya.” (SM: 18)
(7) “Telinga itu bagaikan antena yang mampu menangkap pesan apa pun yang bertebaran di udara.” (SM: 18)
Data no. 6 menggambarkan tentang seorang Dewi yang memiliki kekasih yang ditugasi bekerja di medan perang untuk mencari seseorang yang dianggap sebagai mata-mata musuh. Dewi sering mendapat kiriman telinga dari kekasihnya sebagai kenang-kenangan dari medan perang dan sebagai bukti ucapan rindu bahwa ia sedang berjuang di tempat ia bekerja. Kiriman telinga itu berasal dari telinga seseoran yang dicurigai sebgai mata-mata musuh.
Pada data no. 6 menggambarkan bahwa Dewi yang kadang memandangi telinga kiriman dari kekasihnya itu melihat seolah-olah telinga itu masih dapat bergerak, padahal telinga itu sudah terpotong dari anggota badan lainnya. Akan tetapi, Dewi yang memandangi telinga itu seolah-olah masih hidup dan dapat bergerak layaknya belum terpotong dengan anggota badan lainnya. Tidak hanya itu, telinga yang sudah tidak berfungsi itu bahkan seolah-olah juga masih dapat mendengar dan menangkap pesan apapun yang ada di sekelilingnya. Perumpamaan telinga yang masih hidup dan dapat mendengar itu digambarkan pengarang karena telinga itu memang berasal dari telinga seseorang yang dicurigai sebagai mata-mata musuh sehingga pengarang menggambarkannya seperti masih hidup.
Begitu juga dengan data no. 7 yang masih menggambarkan telinga yang dapat bergerak, dan bahkan pengarang menggunakan perumpamaan bagaikan antena yang dapat menangkap sinyal pembicaraan apapun yang ada di sekelilingnya. Pengarang menggunakan perumpamaan antena karena antena memiliki fungsi
untuk menangkap sinyal apapun yang ada di sekelilingnya. Telinga yang disamakan dengan antena dianggap oleh pengarang akan dapat menangkap segala apa yang ada di sekelilingnya dari pembicaraan orang lain. Dan dari data no. 6 dan 7 tersebut juga terdapat penggambaran latar suasana aneh dan mengerikan dalam cerita karena telinga yang sudah terpotong dan tidak berfungsi lagi digambarkan seperti masih hidup dan mampu menangkap pesan apa pun yang ada di sekitarnya.
(8) “Ketika kami sampai di luar kota, hari sudah senja. Kuingat langit senja yang temaram kemerah-merahan itu, bagaikan menenggelamkan kehidupan kami yang sebelumnya selalu riang ke dalam kegelapan pekat malam yang sesekali diterangi cahaya roket yang ditembakkan untuk memusnahkan kami.” (SM: 25) Data no. 8 menggambarkan keadaan Manuel yang membayangkan senja sore itu seakan-akan mendatangkan semua kesedihan dan penindasan yang telah dialaminya selama ini. Manuel yang menjadi korban dalam tragedi penembakan itu menjadi teringat kembali dengan masa lalunya yang begitu tragis. Senja yang kemerah-merahan itu merupakan penggambran bahwa waktu menjelang malam yang digambarkan pengarang seolah-olah seperti kehidupan Manuel yang dahulu bahagia dan riang menjadi hilang.
Dan pada data no. 8 di atas, pengarang mengumpamakan senja sore sebagai cerminan kehidupan masa lalu Manuel yang sangat tragis. Senja yang tenggelam digambarkan pengarang seolah-olah langit yang senja kemerah-merahan itu seperti dapat menghilangkan semua kenangan indah bersama keluarganya sehingga yang muncul dalam pikirannya adalah kenangan pahit masa lalu yang telah ia rasakan. Hal itu diperkuat pula dalam data no. 8 tersebut bahwa masa lalu yang
dialami Manuel penuh dengan tembakan dari atas langit yang dilancarkan untuk membunuh para korban.
Selanjutnya, pada data no. 8 tersebut juga dapat menggambarkan suasana atau kondisi batin Manuel yang teringat kejadian masa lalunya. Penggambaran langit senja yang kemerah-merahan itu digambarkan pengarang seolah-olah dapat mengubah suasana hati Manuel yang telah menghilangkan kenangan indah masa lalunya. Akan tetapi dengan penggambaran langit itu justru mengingatkan kembali semua ingatan Manuel akan kejadian masa lalunya dan membuat hati manuel terasa sedih.
(9) “Kami, rombongan pengungsi yang beribu-ribu orang itu, kacau balau bagaikan semut yang ketakutan.” (SM: 25)
Data no. 9 menggambarkan tentang keadaan para warga yang mendapat serangan penembakan dan penyerbuan. Pada data tersebut, digambarkan bahwa ada beberapa rombongan warga yang sedang mengungsi di suatu tempat, tetapi penyerbuan itu masih terus datang. Dalam keadaan genting, rombongan pengungsi itu pun akhirnya bingung mencari tempat yang aman untuk bersembunyi dari teror serbuan musuh.
Rombongan pengungsi yang kebingungan itu digambarkan pengarang seperti semut yang ketakutan. Perumpamaan itu digunakan pengarang untuk menyatakan keadaan pengungsi pada waktu itu yang kacau balau karena datangnya penyerbuan itu. Selain itu pula yang disampaikan pengarang melalui perumpamaan semut yang ketakutan,
mengandung arti bahwa orang-orang pada waktu itu berlarian berhamburan tak tentu arah. Pengarang menggunakan perumpamaan “semut yang ketakutan” karena biasanya yang kita lihat adalah semut berjalan dengan cepat dan berbeda arah. Hal itulah yang ingin
digunakan pengarang untuk menggambarkan kondisi para pengungsi yang berhamburan ke sana ke mari tak tentu arah karena adanya serangan penyerbuan terhadap para pengungsi. Dan pada data no. 9 tersebut juga menggambarkan suasana genting atau darurat karena para rombongan pengungsi berlarian kacau balau tak tentu arah yang diumpamakan seperti semut yang ketakutan.
(10) “Dihadapan Maria bersimpuh seorang pemuda, tapi Maria tidak mengenalnya. Kepalanya penuh pitak
seperti hutan gundul, dengan cukuran yang tidak teratur.” (SM: 35)
(11) “Evangelista memeluk Maria dari belakang. Keduanya memandang lelaki itu bagaikan memandang sesosok makhluk dari planet lain.” (SM: 37)
Data no. 10 menggambarkan tentang keadaan seorang Ibu bernama Maria yang kehilangan anaknya, Antonio. Antonio menjadi korban pembantaian dalam penyerbuan yang terjadi di tempatnya. Maria berharap-harap Antonio segera kembali ke rumah dalam keadaan sehat, tetapi yang terjadi adalah Antonio kembali ke rumah dalam keadaan yang tidak dikenali.
Sebagaimana yang digambarkan pengarang dalam data no. 10 bahwa Antonio pulang ke rumah dalam keadaan kepala penuh pitak seperti seorang yang habis disiksa. Maria pun sampai tidak dapat mengenali bahwa yang datang adalah Antonio. Kepala Antonio yang penuh pitak digambarkan pengarang dengan perumpamaan seperti hutan gundul karena hutan yang gundul karena ditebang biasanya masih terdapat sedkit pepohonan di sana sini. Sama halnya dengan penggambaran rambut Antonio yang seperti hutan gundul karena masih terdapat banyak pitak dari hasil potongan-potongan rambut yang tidak teratur.
Data no. 11 masih menggambarkan tentang keluarga Maria yang menunggu kedatangan Antonio untuk pulang ke rumah. Evangelista, kakak Antonio juga terperanjat kaget ketika melihat kedatangan Antonio yang berubah kondisi badannya. Evangelista dan Maria tidak percaya bahwa yang datang itu adalah Antonio. Hal itu pula yang membuat Evangelista langsung memeluk mamanya dari belakang. Sebagaimana yang digambarkan pada data no. 11 bahwa Evangelista langsung memeluk Maria dari belakang seolah-olah ia kaget melihat keadaan sesosok pemuda yang berada di depannya. Evangelista melihat Antonio seperti yang digambarkan pada data no. 11 bahwa Antonio seperti bukan manusia pada umumnya. Antonio digambarkan pengarang dengan perumpamaan seperti makhluk yang berasal dari planet luar bumi. Penggambaran itulah yang seolah-olah membuat deskripsi bahwa Antonio mendapat perlakuan yang kejam dan tragis atas pembantaian yang telah dialaminya.
Pada data no. 10 dan 11 tersebut juga dapat menggambarkan suasana dalam cerita yakni suasana kaget dan aneh. Hal itu dapat digambarkan melalui kedatangan Antonio tidak seperti apa yang diharapkan oleh keluarga. Selain itu, kondisi Antonio yang disamakan dengan hutan gundul dan Ibunya seperti memandang makhluk dari planet lain.
(12) “Dari gurun terdengar bunyi seperti siulan yang panjang dan angin berubah menjadi badai pasir yang mengerikan.” (SM: 43)
Data no. 12 menggambarkan tentang keadaan ketika mayat Salvador dibawa ke tempat keramaian. Mayat Salvador digiring ke lapangan atau gerbang kota karena dianggap mencuri ayam. Salvador diikat dan dibiarkan berdiri di gerbang kota dengan bertuliskan “maling ayam”. Pada saat itu pula keadaan angin juga sangat kencang
yang membuat kondisi badan dan wajah Salvador menjadi kotor karena debu.
Pada data no. 12 tersebut menggambarkan keadaan angin ketika mayat Salvador berada di gerbang kota untuk ditawan. Angin yang datang dari gurun itu terasa sangat kencang dan seolah terdengar seperti bunyi siulan. Pengarang menggambarkan angin seperti bunyi siulan yang panjang seolah-olah angin itu terasa sangat kencang dan mengerikan yang membuat semua orang menjadi ketakutan. Bunyi siulan panjang yang diumpamakan pengarang juga dapat menjadikan angin berubah menjadi badai pasir yang terbang perlahan dan terus-menerus, yang membuat suasana menjadi mencekam dan mengerikan.
Pada data no. 12 terebut tersebut juga dapat menggambarkan latar suasana yang menegangkan. Hal itu dapat terlihat dari kondisi angin yang datang dari gurun disertai badai pasir yang mengerikan serta angin dari gunung yang menimbulkan bunyi-bunyian seperti siulan yang membuat suasana terasa semakin tegang. Kondisi angin itu yang mengiringi keberadaan mayat Salvador yang berada di tengah gerbanag kota.
(13) “Apakah engkau mengira rosario ini seperti pil yang bisa menyembuhkan masalahmu sehingga engkau menelannya?” (SM: 48)
(14) “Dipandanginya foto rontgen perut Fernando. Rosario itu melingkar seperti ular tidur.” (SM: 49) Data no. 13 dan 14 menggambarkan tentang keadaan Fernando yang menjadi korban pembantaian itu. Fernando terkena tembakan yang dilancarkan oleh musuh. Ia pun merasa ada penyakit aneh yang melanda dirinya selama 20 bulan. Dokter berusaha menggunakan rontgen untuk mendetekdi penyakit yang ada dalam dirinya. Ternyata peluru yang ditembakkkan ke Fernando masih mengapung dengan bentuk melingkar di dalam perutnya. Tetapi Fernando masih bisa
bertahan hidup dengan keadaan peluru yang berada di dalam perutnya selama 20 bulan. Hingga pada akhirnya Fernando pun tidak dapat menceritakan hal yang terjadi selama 20 bulan yang lalu kepada dokter yang menyembuhkannya.
Pada data no. 13 tersebut terdapat kata Rosario yang merupakan gambaran seperti tasbih yang melingkar dengan bentuk lonjong. Rosario itu digambarkan pengarang seperti sebuah pil atau obat yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Pengarang menggunakan perumpamaan Rosario itu seperti pil karena melihat keadaan Fernando yang masih dapat bertahan hidup walaupun dengan peluru yang ada di dalam perutnya. Sama halnya dengan orang yang menelan pil atau obat ketika sakit. Maka penyakit itu akan dipastikan dapat hilang. Sedangkan pada data no. 14, Fernando memandangi hasil rontgen dan ia melihat bahwa Rosario yang selama 20 bulan di perutnya itu berbentuk melingkar dan bulat. Pada data no. 14, pengarang menggunakan perumpamaan seperti ular tidur karena Rosario yang ada di dalam perut Fernando itu berbentuk bulat dan melingkar yang terlihat hampir mirip dengan seekor ular yang sedang tidur.
Dari data no. 13 dan 14 dapat menggambarkan kutipan suasana kaget dan aneh karena melihat ada Rosario atau semacam peluru di dalam perut Fernando. Apalagi dengan keadaan peluru yang melingkar di perutnya yang diumpamakan seperti ular tidur.
(15) “Ia teringat ketika pertama kali Fernando datang padanya. Fernando bagaikan muncul dari balik malam di ruang praktiknya…” (SM: 48)
(16) “… dan berbicara seperti seorang pemain drama.” (SM: 48)
(17) “Di matanya masih terbayang orang-orang roboh seperti pohon pisang ditebang.” (SM: 50)
Data no.15 menggambarkan seorang Dokter muda yang berusaha menyembuhkan penyakit Fernando dan sekaligus menjadi penenang bagi Fernando. Dokter itu teringat mimpinya akan kemunculan Fernando di ruang praktiknya yang meminta tolong untuk diobati. Fernando seolah meminta tolong dengan berkata-kata kepada dokter muda itu. Pengarang menggambarkan kemunculan Fernando dalam mimpi dokter muda itu seperti seorang makhluk yang tiba-tiba muncul dari balik malam di ruang kerja dokter itu. Fernando yang datang dalam mimpi dokter itu seolah terlihat menyeramkan karena datang secara tiba-tiba dan langsung meminta tolong kepada dokter muda itu.
Selain itu, pada data no. 16 tersebut juga masih terdapat perumpamaan lain yang digunakan pengarang yaitu kedatangan Fernando yang diumpamakan seperti pemain drama. Pengarang menggunakan perumpamaan berbicara seperti pemain drama karena Fernando yang datang langsung berbicara dan meminta tolong atas apa yang sedang dirasakannya. Fernando digambarkan pengarang seperti sedang memainkan peran dengan berbicara sendiri seperti orang yang kesakitan dan merintih meminta tolong.
Dari data no 15 dan 16 dapat menggambarkan suasana kaget karena secara tiba-tiba Fernando muncul di balik malam lalu berbicara sendiri seperti ingin meminta bantuan kepada orang lain, serta kalimat kedua yang menggambarkan suasana mencekam karena Fernando masih teringat akan kejadan masa lalunya.
Selanjutnya, data no. 17 yang juga masih menggambarkan keadaan Fernando yang trauma akan kejadian yang menimpanya. Fernando masih membayangkan bagaimana orang-orang berlarian untuk menghindar dari kecaman musuh, tetapi tetap saja terkena hantaman tembakan dari musuh. Orang-orang pun seketika itu pula langsung berjatuhan di tempat.
Pada data no. 17 tersebut diperlihatkan bahwa orang-orang yang terkena tembakan musuh langsug berjatuhan yang digambarkan pengarang seperti pohon pisang sedang ditebang. Begitu sadisnya penggambaran Seno tentang para korban yang seketika itu pula langsung tewas di tempat. Seno menggunakan perumpamaan seperti pohon pisang ditebang karena ia ingin menggambarkan bahwa serangan yang dilakukan terhadap para korban terjadi begitu sadis sehingga para korban itu langsung berjatuhan.
(18) “Kadang-kadang mayat yang berlubang-lubang karena berondongan peluru itu mereka dudukkan seperti orang hidup, dipasangi topi, dan diberi rokok pada mulutnya ….” (SM: 70)
Data no. 18 menggambarkan kejadian ketika Guru Alfonso