• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adalah Kemampuan tempat tumbuh bagi suatu jenis kayu dalam memberi hasil, tergantung dari sifat tanah dan iklim. Klas Bonita dengan angka Romawi I-VI, memiliki kelipatan setengah (0,5). Makin besar angka bonita tanah makin subur. Bonita ditentukan dengan grafik Bonita dengan input: peninggi (Opperhoogte) dan umur (Leeftijd).

43

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

Dasar mentukan bonita memakai ukuran tinggi pohon, karena tinggi pohon dianggap satu-satunya ukuran yang lebih tergantung pada kelas kesuburan tanah. Untuk menetapkan nilai bonita ini diperoleh dari Tabel normal Wolff Von Wulffing (Tabel WVW) dan grafik Bonita (Tabel 4.2).

Tabel 4.2. Lembar-lembar dari Isi Tabel Tegakan Jati 1932 dari Balai Penyelidikan Kehutanan (Tabel H.E.

Wolff Von Wulffing/ Tabel WVW)

Keterangan:

OH = Opperhoogte = Peninggi N = Jumlah pohon per hektar

D = Rata2 diameter setinggi dada (1.30 cm)

G = Luas bidang dasar total pada setinggi dada per Hektar

- PELAKSANAAN PERISALAHAN HUTAN-

44

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

hg = Tinggi rata-rata, yaitu rata-rata tinggi pada luas bidang dasar rata- rata tegakan

gd = Diameter luas bidang rata-rata dari tegakan, yaitu diameter yang dihitung dari luas bidang dasar rata-rata, bagian tunggak tidak

dihitung.

Vdk = Isi kayu tebal (volume dengan kulit sampai diameter ≤ 7 cm)

Vst = Isi kayu batang tanpa kulit yang terletak diantara tinggi tunggak dan permulaan tajuk/cabang pertama

Dengan input berupa umur tanaman dan klas bonita, maka berdasarkan Tabel WVW dapat dibaca parameter peninggi (OH), jumlah pohon per hektar (N), luas bidang dasar per hektar (G), dan Volume (Vdk atau Vst).

KU = Klas Umur, untuk tanaman jati menggunakan interval klas besarnya 10, yaitu KU Jati :

KU I (1-10 tahun)

Umur tanaman = 68 tahun, pada tabel tidak ada nilai N yang pas pada umur tersebut, yang ada umur 65 tahun = 370 dan umur 70 tahun = 353. Hasil interpolasi menggunakan cara pertama adalah nilai N pada umur 68 tahun = N65 – {(68-65)/5} x [N70 – N65] = 370 – (3/5) x [-17] = 370 – (3/5) x 17 = 370 – 10,2 =

45

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

359,8 atau hasil interpolasi menggunakan cara kedua adalah nilai N pada umur 68 tahun dicari dengan cara

= N70 + {(70- 68)/5} x [N70 – N65] = 353 + (2/5) x [-17] = 353 + 6,8 = 359,8. Hasilnya baik dengan cara pertama atau cara kenua adalah sama.

Pada cara pertama menggunakan tanda minus (–) karena nilai N pada umur 65 ke umur 70 adalah menurun, jika nilainya menaik maka menggunakan tanda plus (+). Tanda kurung […] artinya nilai mutlak, berapapun nilainya menjadi plus, yang berarti angka dalam kurung tersebut mengandung makna selisih.

Peninggi adalah rata-rata 100 pohon tertinggi dalam area 1 ha atau 1 pohon tertinggi dalam 100m2 (dalam petak 10m x 10m), tinggi yang berlaku adalah tinggi total. Sering peninggi ditentukan dari rata-rata dari 10% pohon tetinggi yang tersebar merata dalam PU. Contoh untuk Plot 0,02 ha, maka jumlah pohon peninggi = 0,02 ha/1 ha x 100 pohon = 2 pohon.

Berdasarkan dari kombinasi Peninggi dan Umur Tanaman pada tabel normal tersebut dapat menentukan nilai bonita dari suatu anak petak/petak.

Umur tanaman didapat dari kondisi tanaman saat ini dikurangi tahun tanamnya, sementara peninggi diperoleh dari tinggi rata-rata 100 pohon tertinggi per hektar atau sekitar 10% dari jumlah pohon per PU.

Dalam menentukan nilai Bonita suatu petak/anak petak ditentukan lebih dahulu Bonita setiap PU rata-rata dari bonita PU tersebut atau peninggi rata-rata PU dan apabila angka/nilai tidak bulat maka ditetapkan nilai terendah, contoh: 3,2 -->

3; 3,6 ---> 3,5 dst., hal ini karena nilai bonita memiliki interval setengah (1/2).

- PELAKSANAAN PERISALAHAN HUTAN-

46

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

Gambar 4.6. Grafik Bonita (Klas Kesuburan Tanah).

2. Jumlah Pohon per Hektar

Jumlah pohon yang dimaksud adalah jumlah pohon per hektar (ha), yakni banyaknya pohon dalam 1 hektar (N/ha) dihitung berdasarkan jumlah pohon rata-rata dalam petak ukur dibagi dengan luas petak ukurnya. Jumlah pohon per hektar (N/ha) ini biasanya dipakai sebagai dasar dalam mempertimbangkan urgensinya penjarangan dengan jalan membandingkannya dengan Tabel normal (Tabel WVW).

Cara menghitung N/ha ini disajikan dalam rumus sebagai berikut:

Dalam menentukan jumlah pohon per hektar pada tabel normal hanya dapat dilakukan pada umur yang mempunyai kelipatan atau interval 5 tahun,

47

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

apabila tidak berkelipatan 5 tahun maka dapat ditentukan dengan menggunakan perhitungan pendekatan interpolasi sebagai mana contoh untuk perhitungan jumlah pohon per hektar pada umur 36 tahun bonita 3, sebagai berikut:

3. Derajat Kerapatan Tegakan

Derajat Kerapatan Tegakan (DKn) adalah suatu angka yang menunjukkan tingkat kesempurnaan jumlah pohon di lapangan (N lapangan) terhadap tabel hasil/tabel normal (N tabel). Jumlah pohon di lapangan ini diperoleh dari jumlah pohon yang ada pada setiap PU dan selanjutnya dikonversi menjadi jumlah pohon per hektar sebagaimana dijelaskan pada sub pokok bahasan di atas, sehingga DKn diperoleh dengan rumus sebagai berikut:

N36th = ((N40th – N35th) x ( 36th – 35th))/5 + (N35th) N36th = ((386-442) x (36-35))/5 + 442 pohon/ha N36th = ((-56)x(1))/5 +442 pohon/ha

N36th = (-11,2) + 442 pohon/ha N36th = 430,8 pohon/ha

N36th ≈ 431 pohon (dibulatkan ke atas)

- PELAKSANAAN PERISALAHAN HUTAN-

48

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

Dimana untuk mendapat N tabel diperoleh dari tabel normal, dengan rumus interpolasi sebagaimana dijelaskan pada sub pokok bahasan di atas.

4. Kerapatan Bidang Dasar

Kerapatan Bidang Dasar (KBD) adalah suatu angka yang menunjukkan tingkat kesempurnaan luas bidang dasar tegakan di lapangan (Lbds lapangan) dibandingkan dengan tabel hasil /tabel normal (Lbds tabel). Perhitungan Lbds tiap PU dilakukan dengan menjumlah Lbds dari semua pohon dalam PU tersebut.

Lbds pohon dihitung dengan mengukur keliling/diameter (setinggi 130 cm dari permukaan tanah) tiap pohon di dalam PU. Selanjutnya Lbds lapangan diperoleh dengan rumus sebagai berikut:

Untuk mendapatkan nilai KBD prosesnya sebagai berikut:

1) Luas bidang dasar tegakan per ha (Lbds lapangan)=

===> Lbds lapangan = n x ¼ π d2

2) Luas bidang dasar tabel per ha (Lbds tabel)

====> Lbds tabel = n x ¼ π d2 dimana :

- B1 : Lbds PU1, = n1 x ¼ π d12

- B2 : Lbds PU2, dst - P : Jumlah PU,

49

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

3) Kerapatan Bidang Dasar (KBD).

a. KBD dapat dipecah menjadi

Untuk menghitung Lbds Tanaman Jati yang berumur di bawah lima tahun (< 5 tahun), biasanya akan mengalami kesulitan, karena pohon masih kecil, sehingga KBD dianalogkan dengan DKn pada umur dan bonita yang sama.

5. Penentuan Kelas Hutan

Kelas hutan ditentukan dari hasil pelaksanaan perisalahan hutan yang dituangkan dalam ekstrak hasil perisalahan hutan dan telah mendapatkan persetujuan Kepala Biro Perencanaan cq. Kepala seksi Perencanaan sumber daya hutan. Kelas Hutan dibedakan berdasarkan fungsi hutan dan tujuan pengelolaannya. Prosedur Kerja SMPHT 01- 004 tahun 2013 dan Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia nomor P.60/Menhut-II/2011, terbagi atas kelas hutan berikut ini. Kawasan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani, terbagi atas dua fungsi yakni : a. Hutan Lindung (HL)

b. Hutan Produksi.

Hutan Lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah (UU

- PELAKSANAAN PERISALAHAN HUTAN-

50

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

No. 41 tahun 1999). Dalam perisalahan hutan pada hutan lindung ditetapkan sebagai kelas HL. Kondisi vegetasi hutan lindung dijelaskan dalam variable klasifikasi khusus. Hutan Produksi (HP) adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan (UU No. 41 tahun 1999).

Berdasarkan tujuan pengelolaanya, hutan produksi terbagi menjadi induk kelas hutan:

a. Kawasan untuk perlindungan.

b. Kawasan untuk produksi.

c. Kawasan untuk penggunaan lain.

Dalam buku ajar ini difokusan pada penentuan kelas hutan di kawan hutan untuk produksi. Kawasan untuk produksi terbagi kedalam 2 (dua) bagian, yakni:

a. Kawasan Kelas Perusahaan

b. Kawasan Bukan Kelas Perusahaan.

Gambar 4.7. Skema Pembagian Kelas Hutan pada Kawasan untuk Produksi

51

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

Penjelasan gambar 4.7 pembagian skema kelas hutan pada kawasan untuk poduksi di atas:

a. Kawasan Kelas Perusahaan

1) Produktif dalam Kawasan Kelas Perusahaan a) Kelas Umur (KU)

KU merupakan kelas hutan tanaman produktif yang dicirikan dengan KBD ≥ 0,60 dan atau DKn ≥ 0,5 untuk umur di bawah 40 tahun. Untuk tanaman awal pertumbuhannya tidak dapat diketahui, maka umur rata- rata tegakan ditentukan dengan cara menghitung lingkaran tahun atau dengan pembacaan tabel bonita pada tinggi dan bonita. Interval KU dibedakan untuk jenis Kelas Perusahaan (KP) sebagai berikut:

Tabel 4.3. Interval Kelas Umur pada Jenis Kelas Perusahaan.

Kesambi, Damar, Kayu Putih.

4. FGS 1

b) Masak Tebang (MT)

Kelas MT ditetapkan pada areal-areal yang mempunyai tegakan yang baik, dengan kriteria sebagimana tabel di bawah ini.

- PELAKSANAAN PERISALAHAN HUTAN-

52

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

Tabel 4.4. Kelas Hutan Masa Tebang untuk berbagai Jenis Tegakan.

No .

Jenis Tegakan Umur (th)

KBD DKn

1. Jati ≥ 81 ≥ 0,60

2. Pinus ≥ 61 ≥ 0,60

3. Mahoni ≥ 61 ≥ 0,60

4. Damar ≥ 61 ≥ 0,60

5. Sonokeling ≥ 61 ≥ 0,60

6. Rasamala ≥ 61 ≥ 0,60

7. Meranti ≥ 61 ≥ 0,60

8. Kesambi ≥ 61 -

0,50

9. Kayu Putih ≥ 61 -

0,50

c) Miskin Riap (MR)

Kelas MR ditetapkan pada areal-areal tegakan yang mempunyai pertumbuhan riap kurang optimal, namun tetap masih digolongkan kawasan hutan produktif. Kelas MR ini ditentukan dengan kriteria sebagai berikut:

53

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

Tabel 4.5. Kelas Hutan Miskin Riap pada berbagai Jenis Tegakan

Apabila didapat kondisi tegakan seperti kriteria pada tabel dibawah ini dapat dibuat anak petak tersendiri.

- PELAKSANAAN PERISALAHAN HUTAN-

54

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

Tabel 4.6. Penentuan Anak Petak berdasarkan Kombinasi KBD, DKn dan Umur

No. KBD Umur DKn

< 41 tahun ≥ 41 tahun

1. ≥ 0,6 KU KU -

2. 0,30 – 0,59 KU MR ≥ 0,5

TBK MR < 0,5

3. 0,06 – 0,29 TBK TBK -

4. < 0,05 TK TK -

e) Kelas Hutan untuk Jarak Tanam di luar ketentuan tabel WVW

Tabel 4.7. Penentuan Kelas Hutan untuk Jarak Tanam di luar Ketentuan pada Tabel WVW

Umur DKn KBD Kelas Hutan

< 5 th > 0,50 ≥ 0,60 KU, TKL, TJKL

0,30 – 0,49 TBK, TKLR, TJKLR

< 0,30 TK, TKTBKP

Tanaman Jenis Kelas

Perusahaan

6 – 15 th

≥ 0,50 ≥ 0,60 KU

< 0,50

0,30 – 0,49 0,06 – 0.59 TBK

< 0,30

55

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

Tanaman Jenis Bukan Kelas Perusahaan

6 – 15 th

≥ 0,50 ≥ 0,30 TKL, TJKL

< 0,50

0,30 – 0,49 0,06 – 0.29 TKLR, TJKLR

< 0,30

≥ 16 th

Tanaman Jenis KP:

menggunakan ketentuan Standar pada Kombinasi KBD, DKn, dan Umur

Tanaman Jenis Bukan KP:

menggunakan ketentuan standar KBD

2) Tidak Produktif dalam Kawasan Kelas Perusahaan Dalam kelompok kelas hutan tidak produktif dalam kawasan kelas perusahaan adalah lapangan-lapangan yang tegakannya tidak memenuhi kriteria produktif, tediri atas:

a) Lapangan Tebang Habis Jangka Lalu (LTJL) Kelas LTJL berupa lapangan bekas tebang habis, baik tebangan A, B, maupun D, yang akan ditanami pada tahun berikutnya.

Penetapan kelas hutan ini ditujukan untuk kepentingan statistik, yakni membedakan antara lahan bekas tebangan A dengan tanah kosong.

- PELAKSANAAN PERISALAHAN HUTAN-

56

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

b) Tanah Kosong (TK)

Kelas TK berupa lapangan-lapangan yang tidak mempunyai tegakan (tanah kosong), 56embal kosong, padang rumput, semak blukar atau kondisi serupa lainnya dengan KBD ≤ 0,50. Namun lapangan ini dapat dilakukan permudaan 56embali dan mempunyai harapan untuk tumbuh baik.

Selain itu juga lapangan yang berisi trubusan yang umurnya kurang dari 1 (satu) tahun.

c) Tanaman Bertumbuhan Kurang (TBK)

Kelas TBK berupa lapangan yang berisikan tanaman jenis Kelas Perusahaan, dengan potensi atau pertumbuhan yang kurang baik.

Pada umumnya kondisi ini disebabkan oleh pengerusakan hutan, kurang baiknya pemeliharaan hutan maupun kegagalan tanaman atau karena factor tanah/lahan.

Trubusannya yang umumnya lebih dari 1 (satu) tahun dan memenuhi KBD ysng dipersyaratkan dapat dimasukan ke dalam kelas hutan TBK. Kelas Hutan TBK memiliki KBD antara 0,06 – 0,59.

d) Kawasan Bukan Kelas Perusahaan

3) Produktif dalam Kawasan Bukan Kelas Perusahaan

Produktif dalam Kawasan Bukan Kelas Perusahaan adalah lapangan-lapangan yang berisi jenis tanaman bukan kelas perusahaan, tetapi memiliki nilai komersial (produktif). Areal ini dapat berupa campuran jenis kelas perusahaan, namun komposisinya bukan untuk kelas perusahaan. Kawasan ini terdiri atas:

57

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

a) Tanaman Kayu Lain (TKL)

Kelas TKL adalah lapangan yang berisi tegakan bukan jenis tanaman kelas perusahaan yang tumbuh pada tempat- tempat yang baik untuk jenis kelas perusahaan (KP) dengan kondisi pertumbuhan relatif baik (KBD ≥ 0,3). Kelas TKL bila telah mencapai daur atau akan direboisasi selanjutnya dikembalikan ke jenis tanaman kelas perusahaan. Apabila jenis tanaman ini tersebar dalam skala luasan yang memadai dan memiliki luas minimal tertentu, akan dihitung dalam rencana pengaturan hasil tersendiri, maka digolongkan ke dalam jenis TJKL.

b) Tanaman Jenis Kayu Lain (TJKL)

Kelas TJKL adalah lapangan berisi tanaman jenis bukan kelas perusahaan dengan potensi cukup produktif (KBD ≥ 0,3), yang kondisi tanahnya tidak baik untuk jenis tanaman kelas perusahaan atau seperti yang dijelaskan pada butir di atas.

4) Tidak produktif dalam Bukan kelas Perusahaan, Tidak produktif dalam Bukan kelas Perusahaan adalah lapangan yang berisi tegakan bukan jenis tanaman kelas perusahaan, denagn kondisi rusak, hampir kosong dan kosong, sehingga perlu segera ditanami kembali. Kawasan ini terdiri atas:

a) Tanaman Kayu Lain Rusak (TKLR)

Kelas TKLR adalah lapangan berisi jenis tanaman bukan kelas perusahaan yang tumbuh pada tempat- tempat baik untuk jenis tanaman

- PELAKSANAAN PERISALAHAN HUTAN-

58

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

kelas perusahaan dengan kondisi pertumbuhan jelek (KBD = 0,06 - 0,29).

b) Tanaman Jenis Kayu Lain Rusak (TJKLR)

Kelas TJKLR adalah lapangan berisi jenis tanaman bukan kelas perusahaan yang tumbuh pada tempat- tempat tidak baik untuk jenis tanaman kelas perusahaan dengan kondisi pertumbuhan jelek (KBD = 0,06 - 0,29).

c) Tanah Kosong Tak Baik untuk Kelas Perusahaan (TKTBKP)

Kelas TKTBKP adalah lapangan dalam kondisi kosong atau hampir kosong (KBD ≤ 0,05) yang kondisi tanahnya baik untuk jenis tanaman kelas perusahaan.

59

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

C. Latihan Soal

1. Jelaskan perbedaan antara kerapatan bidang dasar (KBD) dengan derajat kenormalan (DKN) 2. Diketahui 2 petak hutan jati ditanam tahun

2000, misalnya petak no. 155 dan petak no. 160.

Hasil pengukuran petak no. 155 menunjukkan rata-rata peninggi dari kelima plot adalah: 25,0;

23,5; 23,0; 24,5; 24,5 meter. Sedangkan petak no. 160 peningginya adalah: 19,5; 18,2; 18,0;

19,6; 20,5 meter. Dengan menggunakan grafik bonita,

a. Tentukan klas bonita masing- masing petak hutan jati tersebut,

b. Berikan analisis saudara tentang perbandingan kondisi kedua petak hutan jati tersebut. Jawaban tidak perlu sertakan gambar grafik.

- DAFTAR PUSTAKA-

60

INVENTARISASI SUMBERDAYA HUTAN (PERISALAHAN HUTAN)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013. Prosedur Kerja. PK-SMPHT.01-004. Risalah Hutan. Kantor Pusat Perum Perhutani. Jakarta

Suwandi, N. 2018. Inventarisasi HUtan.

Pusdikbang SDM Perum Perhutani. Modul Ganis PHPL Perem Perhutani. Madiun Suwandi, N. 2016. Penataan Hutan dan RPKH.

Pusdikbang SDM Perum Perhutani.

Madiun

Soedarwono, H. 1976. Tabel Tegakan Tanaman Jati H.E. Wolff Von Wulffing. Yogyakarta:

Fakultas Kehutanan Universitas lambung Mangkurat.

Husch, B. 1982. Perencanaan Inventarisasi Hutan. Terjemahan oleh Agus Styarso.

Jakarta: Universitas indonesia (UI-Press) Simon, H. 1984. Inventore Hutan. Proyek

Pendidikan dan latihan Dalam Rangka Peng-Indonesiaan Tenaga Kerja Pengusahaan Hutan. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.

Freese, F. 1962. Elementary Forest Sampling.

USDA Agricultural Handbook No.232.

Dokumen terkait