• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

C. Analisis Data Kiat Belajar terhadap Prestasi Belajar Mata

Setelah kedua data yaitu kiat belajar dan prestasi belajar mata kuliah Asuhan Kebidanan II tersebut diperoleh, maka data tersebut diolah dengan uji analisis Gamma dan Somers’d menggunakan bantuan software SPSS for windows versi 17.0. Dari hasil uji analisis diperoleh nilai koefisien korelasi (r)

sebesar +0,324 dengan nilai p = 0,004 (p<0,05). Dengan demikian, hipotesis penelitian diterima kebenarannya yaitu ada hubungan antara kiat belajar dengan prestasi belajar mata kuliah Asuhan Kebidanan II pada mahasiswa semester IV di STIKES ‘Aisyiyah Surakarta.

Nilai p tersebut < 0,05 yang berarti ada hubungan yang signifikan antara kiat belajar dengan prestasi belajar mata kuliah Asuhan Kebidanan II.

commit to user

Selanjutnya, nilai koefisien korelasi (r) sebesar +0,324 yang menunjukkan bahwa tingkat hubungan keduanya tergolong lemah karena nilai r berada dalam rentang 0,20 - 0,399. Sedangkan arah korelasinya positif (+) yang berarti bahwa semakin baik kiat belajar maka semakin tinggi prestasi belajar mata kuliah Asuhan Kebidanan II pada mahasiswa.

commit to user 43 BAB V PEMBAHASAN

Berdasarkan uji analisis korelasi yang telah dilakukan, diperoleh nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,324 dan nilai p sebesar 0,004. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kiat belajar dengan prestasi belajar mata kuliah Asuhan Kebidanan II karena nilai p kurang dari 0,05. Tingkat hubungan keduanya tergolong lemah karena nilai r berada dalam rentang antara 0,20 - 0,399.

Sedangkan arah korelasinya positif atau searah yang menunjukkan bahwa semakin baik kiat belajar maka semakin tinggi prestasi belajar mata kuliah Asuhan Kebidanan II pada mahasiswa.

Dari hasil analisis data, terlihat bahwa kiat belajar kurang berperan dalam menentukan prestasi belajar. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Mugiyanto (2003) bahwa keberhasilan belajar seseorang akan sangat bergantung pada bagaimana mereka menerapkan kiat belajar. Kurangnya peranan tersebut karena belajar juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal memiliki pengaruh yang cukup mendasar bagi sukses tidaknya belajar. Seperti hasil penelitian dari Panjahitan (2008) yang menyatakan bahwa tingkat intelegensi memberikan sumbangan sebesar 38 % terhadap prestasi belajar. Motivasi juga turut memberikan sumbangan sebesar 36 % terhadap prestasi belajar pada penelitian yang sama. Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Widiyatmo (2010), faktor minat memberikan sumbangan terhadap prestasi belajar sebesar 7,5 %. Selain faktor tersebut, faktor lain seperti bakat, sikap,

commit to user

kondisi kesehatan, kondisi lingkungan serta ketersediaan fasilitas belajar juga turut mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa.

Selain faktor-faktor di atas, hal lain yang menyebabkan kiat belajar kurang berperan terhadap prestasi belajar adalah kurangnya keteraturan dan kedisiplinan mahasiswa dalam menerapkan kiat belajar. Seperti yang diungkapkan Surya (2004) bahwa untuk dapat mencapai kesuksesan belajar, seorang mahasiswa perlu belajar secara teratur dan disiplin. Keteraturan belajar salah satunya ditunjukkan dari kesadaran mahasiswa untuk menyusun jadwal belajar. Dari hasil kuesioner kiat belajar, terdapat sekitar 87 % mahasiswa jarang atau bahkan tidak pernah menyusun jadwal belajar. Hal tersebut menunjukkan bahwa aktifitas belajar sebagian besar mahasiswa belum tersusun secara teratur.

Di samping itu, kedisiplinan mahasiswa dalam menerapkan kiat belajar masih cukup rendah dalam beberapa hal. Di antaranya dalam hal belajar dengan menghafal materi pelajaran. Sekitar 61 % mahasiswa menyatakan hanya akan belajar dengan menghafal materi pada saat menjelang ujian saja. Padahal, belajar dengan menghafal materi merupakan salah satu usaha dalam rangka menguasai ilmu pengetahuan. Selain itu, dalam hal mempelajari ulang materi masih jarang dilakukan. Terbukti hanya 17 % mahasiswa yang terbiasa mempelajari ulang materi yang pernah didapat pada pembelajaran sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa masih kurang menyadari pentingnya mempelajari ulang materi untuk lebih memperdalam penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan.

commit to user

Kenyataan lain yang dapat bermakna kurangnya kedisiplinan belajar adalah masih banyaknya mahasiswa yang belajar semalam suntuk menjelang ujian.

Terbukti sekitar 66 % mahasiswa sering atau bahkan selalu menerapkan cara belajar tersebut. Mahasiswa yang membutuhkan belajar semalam suntuk menunjukkan bahwa mereka kurang siap dalam menghadapi ujian akibat kurang disiplin dalam belajar. Apabila mereka telah memiliki pola belajar yang disiplin dan teratur dalam kesehariannya tentu telah siap menghadapi ujian kapan saja dan tidak perlu untuk belajar terlalu berlebihan seperti dengan belajar semalam suntuk.

Jadi, persiapan ujian pada dasarnya terletak pada aktifitas belajar mahasiswa sehari-hari. Apabila mahasiswa sudah terbiasa dengan aktifitas belajar yang baik, maka mereka tidak akan mengalami kesulitan dalam mempersiapkan ujian.

Kiat belajar yang diterapkan mahasiswa juga dipengaruhi oleh faktor budaya yaitu berupa kebiasaan belajar mereka sewaktu di Sekolah Menengah Atas (SMA). Aktifitas belajar di SMA lebih bersifat dibimbing dan diperhatikan penuh oleh guru. Hal ini berbeda dengan aktifitas belajar sewaktu mereka sudah mencapai perguruan tinggi. Seperti yang dikemukakan oleh Suwardjono (2004) bahwa belajar di perguruan tinggi lebih memerlukan kemandirian dan disiplin pribadi yang tinggi. Pengajar/ dosen tidak lagi membimbing dan memperhatikan mahasiswa karena semua keputusan tentang belajar sepenuhnya ada di tangan mahasiswa. Dosen hanya bersifat memfasilitasi keperluan belajar sehingga mahasiswa dituntut untuk lebih aktif berpartisipasi. Hal inilah yang perlu dipahami oleh mahasiswa. Selain itu, mahasiswa juga harus mengubah kebiasaan belajar mereka. Dengan menyesuaikan aktifitas belajar sesuai dengan sistem

commit to user

belajar yang ada di perguruan tinggi, maka mahasiswa akan dapat memperbaiki kiat belajar mereka dalam usaha mendapatkan prestasi yang lebih baik.

commit to user 47 BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat dibuat kesimpulan yaitu :

1. Ada hubungan antara kiat belajar dengan prestasi belajar mata kuliah Asuhan Kebidanan II pada mahasiswa semester IV program studi D III Kebidanan STIKES ’Aisyiyah Surakarta dengan tingkat hubungan yang lemah yaitu sebesar 0,324.

2. Kiat belajar yang telah diterapkan oleh sebagian besar mahasiswa semester IV program studi D III Kebidanan STIKES ’Aisyiyah Surakarta adalah kiat belajar yang sedang.

3. Prestasi belajar untuk mata kuliah Asuhan Kebidanan II pada sebagian besar mahasiswa semester IV program studi D III Kebidanan STIKES

’Aisyiyah Surakarta adalah prestasi belajar yang sedang.

B. Saran

1. Bagi mahasiswa semester IV D III Kebidanan STIKES ’Aisyiyah

Mahasiswa diharapkan lebih meningkatkan kiat belajarnya baik ketika belajar sendiri, pada saat kuliah maupun pada saat belajar untuk persiapan ujian agar mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik.

commit to user

2. Bagi staf pendidik D III Kebidanan STIKES ’Aisyiyah

Tenaga pendidik diharapkan memberikan metode pembelajaran yang lebih variatif yang dapat menarik perhatian mahasiswa serta mendorong mereka untuk meningkatkan kiat belajar, seperti dengan kegiatan diskusi kelas, pemberian tugas dan ujian seperti pre test dan post test.

3. Bagi institusi D III Kebidanan STIKES ’Aisyiyah

Institusi pendidikan diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang sistem belajar di perguruan tinggi yang berbeda dengan di SMA serta membutuhkan kemandirian dan kedisiplinan tinggi.

4. Bagi peneliti selanjutnya

Peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian lebih lanjut dengan mengendalikan faktor perancu lain agar dapat diketahui peranan faktor tersebut terhadap prestasi belajar.

Dokumen terkait