BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.5 Analisis data laboratorium
Setelah seluruh data-data yang diperoleh baik dari pengujian sifat fisik kemudian dilakukan pengumpulan data serta pemilahan data yang diperoleh. Setelah data dikumpulkan kemudian dilakukan analisa dari hasil pengujian yang telah kita lakukan.
BAB IV
Penelitian dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah, Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara dengan sampel tanah yang diuji berasal dari PTPN II Patumbak, Deli Serdang, Sumatera Utara. Material pupuk kalium diperoleh dari toko.
4.2 Pengujian Sifat Fisik Tanah 4.2.1 Pengujian sifat fisik tanah asli
Adapun hasil uji sifat fisik tanah asli ditunjukkan pada Tabel 4.1 berikut.
Hasil-hasil pengujian sifat fisik tanah ini meliputi :
Kadar Air
Berat Jenis
Batas-batas Atterberg
Uji Analisa Butiran
Tabel 4.1 Data uji sifat fisik tanah
No Pengujian Hasil
1 Kadar Air (Water content) 34,43 % 2 Berat Spesifik (Specific gravity) 2,65 3 Batas Cair (Liquid limit) 47,33 % 4 Batas Plastis (Plastic limit) 17,45 % 5 Indeks Plastisitas (Plasticity index) 29,88 % 6 Persen Lolos Saringan no. 200 48,81 %
Menurut sistem klasifikasi tanah AASHTO, dari data diatas tanah yang dilakukan pengujian lolos saringan no.200 sebesar 48,81% dan nilai liquid limit
29,88% maka sampel tanah diatas memenuhi persyaratan minimal lolos ayakan no. 200 sebesar 36%, memiliki liquid limit (batas cair) ≥ 41 dan plasticity index (indeks plastisitas) > 11, sehingga tanah diatas dapat diklasifikasikan dalam jenis tanah A-7-6. Menurut sistem klasifikasi USCS, dimana diperoleh data berupa nilai plasticity index (indeks plastisitas) sebesar 29,88% dan nilai liquid limit (batas cair) sebesar 47,33% sehingga dilakukan plot pada grafik penentuan klasifikasi tanah yaitu yang ditunjukkan pada Gambar 4.1. Dari hasil plot diperoleh tanah termasuk dalam kelompok CL yaitu lempung anorganik dengan plastisitas rendah sampai sedang.
Gambar 4.1 Plot grafik klasifikasi USCS Nilai liquidity index dari tanah asli adalah : LI =
(0 ≤ LI ≤ 1) menunjukan bahwa tanah asli didaerah plastis.
Indeks grup untuk tanah asli adalah :
GI = (48,81 – 35) [0,2 + 0,005 (47,33 - 40) + 0,01 (48,81 – 15) (29,88 – 10) = 8,97 9.
Indeks grup untuk tanah asli dan 15% Pupuk dengan lama pemeraman 3 hari adalah :
GI = (48,81 – 35) [0,2 + 0,005 (38,28 – 40) + 0,01 (48,81 – 15) (18,95 – 10) = 5,68 6.
Gambar 4.2 Grafik analisa saringan tanah asli
D10 = 0,0025 mm D30 = 0,015 mm D60 = 0,175 mm
Gambar 4.3 Grafik batas cair (Liquid limit), Atterberg limit
4.2.2 Pengujian sifat fisik pupuk
Adapun hasil uji sifat fisik pupuk ditunjukkan pada Tabel 4.2 berikut hasil pengujian sifat fisik tanah ini meliputi :
Berat Jenis
Batas-batas Atterberg
Uji Analisa Butiran
Tabel 4.2 Data Uji Sifat Fisik Pupuk
No Pengujian Hasil
1 Berat Spesifik (Specific gravity) 2,48 2 Batas Cair (Liquid limit) Non plastis 3 Batas Plastis (Plastic limit) Non plastis 4 Indeks Plastisitas (Plasticity index) Non plastis 5 Persen Lolos Saringan no. 200 -
Dari data di atas, berdasarkan sistem klasifikasi AASHTO tidak ada yang lolos ayakan no. 200 sedangkan nilai liquid limit (batas cair), nilai plastic limit (batas plastis), dan nilai plasticity index (indeks plastisitas) merupakan non plastis.
D10 = 0,885 mm D30 = 1,262 mm D60 = 1,689 mm
4.2.3 Pengujian sifat fisik tanah dengan bahan stabilisator
Pengujian ini dilakukan kepada tanah yang sudah dicampur dengan stabilisator, sehingga dapat diketahui pengaruh stabilisator dari setiap kadar variasi yang ditentukan, dari nilai batas cair (liquid limit), nilai batas plastis (plastic limit), dan juga nilai indeks plastisitas (plasticity index). Hasil pengujian Atterberg pada setiap kadar variasi diperlihatkan pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Data uji Atterberg limit
Sampel
4.2.3.1 Batas cair (Liquid limit)
Gambar 4.5 Grafik hubungan antara nilai batas cair (LL) dengan variasi campuran pupuk
Gambar 4.5 tersebut menunjukkan bahwa batas cair akibat penambahan Pupuk mengalami penurunan. Semakin besar persentase campuran Pupuk, maka semakin kecil batas cairnya. Pada tanah asli batas cair mencapai 47,33%, sedangkan nilai batas cair terendah pada penambahan 30% pupuk adalah sebesar 25,97%.
4.2.3.2 Batas plastis (Plastic limit)
Pada Gambar 4.6 menunjukkan terjadinya peningkatan nilai batas plastis akibat penambahan kapur. Untuk tanah asli batas plastisnya yaitu 17,45% dan terus meningkat sampai variasi campuran 30% Kapur dengan nilai batas plastis mencapai 20,71%.
4.2.3.3 Indeks plastisitas (Plasticity index)
Gambar 4.7 Grafik hubungan antara nilai indeks plastisitas (IP) dengan variasi campuran pupuk
Gambar 4.7 menunjukkan bahwa dengan penambahan bahan stabilisasi maka nilai indeks plastisitas akan menurun. Indeks plastisitas dari tanah asli yang awalnya dengan nilainya sebesar 29,88% kemudian turun sampai 5,26% pada penambahan 30% Pupuk.
Penurunan nilai indeks plastisitas (IP) dapat mengurangi potensi penyusutan dari tanah. Terlihat bahwa semakin tinggi kadar kapur batas plastis meningkat dan batas cair menurun, sehingga indeks plastisitas (IP) tanah menurun.
Selain itu, silica (Si ) dari pupuk bercampur dengan air membentuk pasta yang mengikat partikel lempung dan menutupi pori-pori tanah. Rongga-rongga pori yang dikelilingi bahan sementasi yang lebit sulit ditembus air akan membuat campuran tanah dan kapur lebih tahan terhadap penyerapan air sehingga
4.3 Pengujian Sifat Mekanis Tanah
4.3.1 Pengujian pemadatan tanah asli (Compaction)
Dalam pengujian ini diperoleh hubungan antara kadar air optimum dan berat isi kering maksimum. Peneliti menggunakan metode pengujian dengan uji pemadatan Proctor Standart. Dimana alat dan bahan yang digunakan diantaranya:
Mould cetakan Ø 10,2 cm, diameter dalam Ø 10,16 cm.
Berat penumbuk 2,5 kg dengan tinggi jatuh 30 cm.
Sampel tanah lolos saringan no 4.
Hasil uji pemadatan Proctor Standart tanah asli ditampilkan pada Tabel 4.4 dan kurva pemadatan ditampilkan pada Gambar 4.8.
Tabel 4.4 Data uji pemadatan tanah asli
no Hasil Pengujian Nilai
1 Kadar air optimum 21,12%
2 Berat isi kering maksimum 1,34 gr/cm3
Gambar 4.8 Kurva kepadatan tanah asli
4.3.2 Pengujian pemadatan tanah (Compaction) dengan bahan stabilisator Hasil pengujian sifat mekanis tanah yang telah dicampur dengan bahan stabilisator berupa pupuk ditunjukkan pada Tabel 4.5 dan hubungan antara nilai berat isi kering dengan variasi campuran untuk waktu pemeraman 3 hari.
Tabel 4.5 Data hasil uji pemadatan tanah dengan bahan stabilisator
Sampel γd maks
(gr/cm³)
wopt
(%)
Tanah Asli 1,34 21,12
Tanah Asli + 3% Pupuk 1,45 21,73
Tanah Asli + 6% Pupuk 1,52 21,47
Tanah Asli + 9% Pupuk 1,56 21,20
Tanah Asli + 12% Pupuk 1,61 20,77
Tanah Asli + 15% Pupuk 1,68 20,41
Tanah Asli + 18% Pupuk 1,58 20,55
Tanah Asli + 21% Pupuk 1,49 20,71
Tanah Asli + 24% Pupuk 1,47 20,74
Tanah Asli + 27% Pupuk 1,38 20,85
Tanah Asli + 30% Pupuk 1,34 20,88
4.3.2.1 Berat isi kering maksimum (γd maks)
Dari pengujian pemadatan tanah yang telah dilakukan pada tanah asli diperoleh nilai berat isi kering tanah asli sebesar 1,34 gr/cm³. Pada Gambar 4.9 dapat dilihat bahwa nilai berat isi kering mengalami penurunan setelah ditambahkan pupuk dimulai dari penambahan 3% hingga 30% pupuk, pada penambahan 15% pupuk memiliki berat isi kering terendah sebesar 1,68 gr/cm3. Dan mengalami penurunan ketika penambahan kadar pupuk selanjutnya.
Peningkatan berat isi kering ini terjadi karena bahan stabilisator mengisi rongga pori pada tanah, yang pada kondisi tanah asli, rongga pori tersebut diisi oleh air dan udara. Akibat adanya bahan stabilisator dalam rongga tanah ini, persentase air yang dikandung tanah menjadi berkurang. Peningkatan jumlah partikel padat pada tanah berdampak pada peningkatan berat isi keringnya dibandingkan dengan kondisi tanah asli. Sedangkan penurunan berat isi kering tanah ini terjadi karena tanah telah melewati penambahan efektif bahan stabilisator. Jumlah bahan stabilisator yang semakin bertambah terhadap berat tanah asli yang tetap akan membuat kemampuan mengikatnya berkurang sehingga akan memperkecil lekatan antar butiran pada tanah dan air sehingga tanah pun jadi mudah pecah.
Gambar 4.9 Grafik hubungan antara berat isi kering maksimum (γd maks) tanah dengan variasi campuran pupuk
4.3.2.2 Kadar air optimum (wopt )
Hasil kadar air optimum dari percobaan yang dilakukan diketahui bahwa nilai kadar air optimum tanah asli yaitu 21,12% dan selanjutnya mengalami kenaikan. Gambar 4.10 menunjukkan kadar air optimum pada saat mencapai berat isi kering maksimum dan mengalami peningkatan ketika melewati berat isi kering maksimum. Penurunan kadar air optimum ini disebabkan karena bahan stabilisator mendesak air keluar dari pori tanah dan rongga pada tanah yang berisi air akan digantikan oleh bahan stabilisasi sehingga air pun tidak bisa masuk kembali kedalam mikropori tanah, akibatnya persentase air yang dikandung tanah menjadi berkurang. Kenaikan kadar air optimum ini disebabkan karena bahan stabilisator kapur mengakibatkan tanah menjadi panas sehingga campuran membutuhkan kadar air yang lebih banyak untuk saling berikatan. Serta disebabkan karena semakin banyaknya persentase bahan stabilisator dan berat tanah aslinya tetap, mengakibatkan berkurangnya daya ikat dari campuran.
Gambar 4.10 Grafik hubungan antara kadar air optimum tanah (wopt ) dengan variasi campuran pupuk
4.3.3 Pengujian CBR (California Bearing Ratio)
Pengaruh pencampuran kapur pada tanah lempung terhadap kekuatan tanah lempung dapat dilihat dari hasil pengujian CBR dalam kondisi tidak terendam (unsoaked), dengan tiap variasi tanah yang telah dicampur dengan bahan stabilisasi kapur dengan waktu pemeraman selama 3 hari.
Pengujian ini dilakukan dalam kondisi tidak terendam (unsoaked) karena relatif lebih cepat. Pada umumnya nilai CBR tidak terendam (unsoaked) lebih tinggi dari CBR terendam (soaked), namun soaked merupakan kondisi yang sering dialami di lapangan sehingga di dalam perhitungan konstruksi bangunan, harga CBR soaked yang dipergunakan sebagai dasar perhitungan karena dalam kenyataannya air selalu mempengaruhi konstruksi bangunan. CBR rendaman (soaked) digunakan untuk mendapatkan besarnya nilai CBR asli di lapangan pada keadaan jenuh air dan tanah mengalami pengembangan maksimum.
Ikatan antar butir merupakan kemampuan saling mengunci antar butiran, dan adanya rekatan yang merekatkan permukaan butiran tersebut, semakin kuat ikatan antar butir akan menghasilkan nilai CBR semakin tinggi dan begitu pula sebaliknya. Uji CBR yang dilakukan pada penelitian ini dimaksudkan untuk melihat apakah penambahan persentase additive akan memberikan pengaruh terhadap nilai CBR.
Tabel 4.6 Data hasil CBR dengan berbagai variasi penambahan pupuk
Sampel γd maks
(gr/cm³)
Wopt (%)
CBR (%)
Tanah Asli 1,34 21,12 6,29
Tanah Asli + 3% Pupuk 1,45 21,73 7,64
Tanah Asli + 6% Pupuk 1,52 21,47 7,88
Tanah Asli + 9% Pupuk 1,56 21,20 8,85
Tanah Asli + 12% Pupuk 1,61 20,77 9,90
Tanah Asli + 15% Pupuk 1,68 20,41 10,87
Tanah Asli + 18% Pupuk 1,58 20,55 9,76
Tanah Asli + 21% Pupuk 1,49 20,71 8,91
Tanah Asli + 24% Pupuk 1,47 20,74 8,47
Tanah Asli + 27% Pupuk 1,38 20,85 7,94
Tanah Asli + 30% Pupuk 1,34 20,88 7,53
Gambar 4.11 Grafik hubungan nilai CBR dengan variasi persentase penambahan campuran pupuk
Pada Gambar 4.11 memperlihatkan pengaruh terhadap variasi penambahan campuran kapur terhadap nilai CBR. Pada grafik yang ditunjukkan oleh Gambar 4.11 diatas, didapat nilai CBR terbesar pada variasi 15% Pupuk yaitu 10,87%. Akan tetapi pada penambahan selanjutnya nilai CBR cenderung mengalami penurunan, hal ini disebabkan berat volume tanah berkurang karena pori-pori tanah terisi oleh campuran kapur menyebabkan hasil penetrasi pada pengujian CBR menurun.
4.3.4 Pengujian kuat tekan bebas (Unconfined Compression Test)
Dalam pengujian ini akan diperoleh hubungan antara nilai kuat tekan bebas tanah (qu) pada tanah asli dan tanah remoulded (buatan) serta nilai kuat tekan bebas tanah (qu) pada tiap variasi tanah yang telah dicampur dengan bahan stabilisasi pupuk dengan waktu pemeraman selama 3 hari. Selanjutnya dari hasil nilai qu diperoleh nilai Kohesi (cu) yaitu sebesar ½ qu.
Hasil pengujian kuat tekan bebas yang dilakukan pada setiap variasi campuran kapur. Pada Tabel 4.7 ditunjukkan perbandingan nilai kuat tekan tanah (qu) antara tanah asli dengan tanah remoulded dan pada table 4.8 ditunjukkan nilai kuat tekan tanah (qu) yang diperoleh di setiap variasi campuran.
Tabel 4.7 Data hasil uji kuat tekan bebas dengan berbagai variasi penambahan pupuk
Sampel qu
(kg/cm²) cu (kg/cm²)
Tanah Asli 1,42 0,71
Tanah Remoulded 0,71 0,35
Tanah Asli + 3% Pupuk 1,88 0,94 Tanah Asli + 6% Pupuk 2,43 1,21 Tanah Asli + 9% Pupuk 2,82 1,41 Tanah Asli + 12% Pupuk 2,99 1,49 Tanah Asli + 15% Pupuk 3,10 1,55 Tanah Asli + 18% Pupuk 2,75 1,37 Tanah Asli + 21% Pupuk 2,48 1,24 Tanah Asli + 24% Pupuk 2,12 1,06 Tanah Asli + 27% Pupuk 1,72 0,86 Tanah Asli + 30% Pupuk 1,50 0,75
Tabel 4.8 Perbandingan kuat tekan tanah asli dan tanah remoulded Strain (%) Tanah Asli
qu (kg/cm²)
Tanah Remoulded qu (kg/cm²)
0,5 0,30 0,16
1 0,46 0,23
2 0,69 0,41
3 1,18 0,54
4 1,42 0,61
5 1,16 0,71
6 1,08 0,57
7 0,83 0,39
Gambar 4.12 Grafik hubungan antara nilai kuat tekan tanah (qu) dengan regangan (strain) yang diberikan pada sampel tanah asli dan remoulded
Pada Gambar 4.12 dapat dilihat nilai kuat tekan tanah pada tanah asli adalah sebesar 1,42 kg/cm. pada tanah remoulded didapat sebesar 0,71 kg/cm².
Terjadi penurunan yang cukup besar seperti terlihat pada Gambar 4.12.
Penurunan ini diakibatkan oleh perlakuan berupa kerusakan struktur tanah yang diterima oleh tanah buatan (remoulded). Sifat berkurangnya kekuatan tanah akibat adanya kerusakan struktural tanah tersebut disebut kesensitifan (sensitivity). Nilai sensitifitas inilah yang akan menentukan klasifikasi tanah menurut sensitifitasnya.
Sampel tanah yang digunakan dalam penelitian ini, memiliki rasio kesensitifian sebesar 2,00. Dimana tergolong ke dalam tanah sentifitas sedang.
Artinya, kerusakan struktural yang dialami tanah tidak berpengaruh besar terhadap perubahan kuat tekan maupun kuat geser tanah.
Gambar 4.13 Grafik kuat tekan dengan berbagai variasi penambahan pupuk
Berdasarkan Gambar 4.13 tersebut didapat nilai kuat tekan tanah asli (qu) sebesar 1,42 kg/cm². Kemudian dengan adanya penambahan pupuk nilai kuat tekan semakin meningkat tetapi hanya sampai dengan variasi campuran 15%
pupuk, pada variasi campuran tersebutlah nilai kuat tekan tanah yang paling maksimum yaitu sebesar 3,10 kg/cm².
Pada penambahan pupuk selanjutnya nilai kuat tekan tanah akan semakin kecil. Hal ini dikarenakan penambahan pupuk yang terlalu banyak pada tanah akan memperkecil lekatan antara butiran tanah dan air, sehingga tanah menjadi mudah pecah ketika diberi tekanan vertikal.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai pengaruh bahan stabilisator kapur terhadap tanah lempung dengan kadar campuran yang telah ditetapkan dan masa pemeraman (curing time) selama 3 hari, dapat disimpulkan bahwa :
1. Berdasarkan klasifikasi USCS, sampel tanah asli tersebut termasuk dalam jenis CL (Clay-Low Plasticity) yaitu lempung anorganik dengan plastisitas rendah sampai sedang.
2. Berdasarkan klasifikasi AASHTO, sampel tanah asli termasuk dalam jenis A-7-6 (9). Pada pemeraman 3 hari, campuran tanah dan 12% kapur termasuk jenis A-7-6 (6).
3. Dari hasil uji Water Content didapat bahwa nilai kadar air tanah asli sebesar 34,33%.
4. Dari hasil uji Specific Gravity didapat bahwa nilai berat spesifik tanah asli yaitu 2,65 dan berat spesifik kapur sebesar 2,48.
5. Dari uji Atterberg tanah asli diperoleh nilai Liquid Limit (LL) sebesar 47,33% dan indeks plastisitas sebesar 29,88%. Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan diketahui bahwa Penambahan 30% Pupuk, memiliki indeks plastisitas (IP) yang paling rendah yaitu 5,24%. Dengan nilai liquid limit sebesar 25,97%.
6. Dari hasil uji Proctor Standard menghasilkan nilai kadar optimum pada tanah asli sebesar 21,12% dan Berat Isi Kering Maksimum sebesar 1,34 gr/cm³, sedangkan nilai kadar air optimumnya dan berat isi kering maksimum dari semua campuran pada variasi 15% Pupuk dimana sebesar kadar air optimumnya yaitu 20,41%. Dan berat isi kering maksimum 1,68 gr/cm³.
7. Dari hasil uji Nilai CBR Laboratorium yang dilakukan pada tanah asli diperoleh nilai CBR sebesar 6,29%. Dari hasil penelitian yang dilakukan nilai CBR yang paling besar pada variasi campuran 15% Pupuk dimana nilai CBR sebesar 10,87%.
8. Dari uji unconfined compression test yang dilakukan diperoleh nilai kuat tekan tanah (qu) pada tanah asli sebesar 1,42 kg/cm2, sedangkan pada tanah remoulded diperoleh nilai sebesar 0,71 kg/cm2. Dan nilai kuat tekan tanah (qu) maksimum dari semua campuran terdapat pada variasi campuran 15%
Pupuk dimana nilai qu sebesar 3,10 kg/cm2.
5.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai pengaruh bahan stabilisator kapur terhadap tanah lempung, penulis memberikan saran bahwa:
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pengaruh penambahan pupuk pada jenis tanah yang lain.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan variasi lama pemeraman yang berbeda sehingga dapat dilakukan perbandingan nilai antar variasi untuk setiap bahan pencampur.
3. Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai nilai ekonomis penggunaan pupuk sebagai bahan stabilisator pada tanah lempung jika dikombinasikan dengan bahan pencampur semen.
4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penambahan jenis pupuk yang berbeda pada jenis tanah lain.
DAFTAR PUSTAKA
Hardiyatmo, H. C. 1992. Mekanika Tanah I. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka.
Hardiyatmo, H. C. 2002. Mekanika Tanah I Edisi 3. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka.
Hardiyatmo, H. C. 2013. Stabilisasi Tanah Untuk Perkerasan Jalan. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Soedarmo, G. D. dan Purnomo, S. J. E. 1997. Mekanika Tanah I, Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.
Das, B. M. 1991. Mekanika Tanah, Prinsip-prinsip Rekayasa Geoteknis, Jilid I.
Jakarta: Erlangga.
Das, B. M. 1995. Mekanika Tanah, Prinsip-prinsip Rekayasa Geoteknis, Jilid II.
Jakarta: Erlangga.
Das, B. M. (2002). Principles of Geotechnical Engineering. Pacifif Grove:
Brooks. Cole.
Das, B. M. (1998). Mekanika Tanah (Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknis) Jilid I.
Jakarta: Erlangga.
Craig, R. F. 1989. Mekanika Tanah. Jakarta: Erlangga.
Grim, R. E. (1953). Clay Mineralogi. McGraw Hill. New York.
Lambe, T. W. and Whitman, R. V. (1959). The Role of Effective Stress in The Behavior of Expansive Soils. Quarterly of The Colorado School of Mines. Vol.54.
No.4. October 1959.
Lambe, T. W. (1960). Compacted Clays; Structure, Trans. ASCE, Vol.125. pp.
62871
Bowles, J. E. 1991. Sifat-sifat Fisis dan Geoteknis Tanah (Mekanika Tanah).
Jakarta: Erlangga..
Risman. 2011. Analisis daya dukung tanah lempung yang distabilisasi dengan kapur dan pasir. Program Studi Teknik Sipil, Politeknik Negeri Semarang.
Ghazali, F. 2010. Pengaruh Penambahan Kapur Ca(OH)₂ pada Tanah Lempung (Clay) terhadap Plastisitas dan Nilai CBR Tanah Dasar (Subgrade) Perkerasan Jalan. Program Studi Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara.
Siagian, D. R. W. H. 2012. Pengaruh Penambahan Kapur Ca(Oh)2 Dan Abu Sekam Padi Pada Tanah Lempung (Clay) A-7-6 Terhadap Nilai CBR Tanah Dasar (Subgrade) Pada Perkerasan Jalan. Program Studi Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara.
Fadilla, N. 2014. Pengujian Kuat Tekan Bebas (Unconfined Compression Test) pada Stabilitas Tanah Lempung dengan Campuran Semen dan Abu Sekam Padi.
Program Studi Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara.
Sofyan, T. A. 2017. Pengaruh Penggunaan Kapur (Cao) Dan Abu Vulkanik Sebagai Bahan Stabilisasi Pada Tanah Lempung Ditinjau Dari Nilai CBR Dan Pengujian Kuat Tekan Bebas (Unconfined Compression Test). Program Studi Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara.
Limbong, M. N. 2017. Stabilisasi Tanah Lempung Menggunakan Kapur (Cao) Ditinjau Dari Nilai CBR Dan Pengujian Kuat Tekan Bebas. Program Studi Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara.
Siregar, D. S. 2019. Stabilisasi Tanah Lempung Dengan Kapur Tohor (Cao) Dan Bottom Ash Ditinjau Dengan Uji Tekan Bebas Dan Nilai California Bearing Ratio. Program Studi Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara.
LAMPIRAN
SUMMARY Pengujian Index Properties
Sampel Kadar Air Berat Spesifik Atterberg Limit
Lolos Saringan no. 200
LAMPIRAN 1
DATA KADAR AIR DAN BERAT
JENIS
No Sampel : Tanah Asli Tanggal : 21 Maret 2019 Quarry : PTPN II Kebun Patumbak Dikerjakan : Yusuf Ullo
No Sampel
Berat krus + tanah basah (gr) Berat krus + tanah kering (gr)
Berat Air (gr)
Nama Sampel : Tanah Asli Tanggal :
Dikerjakan : Yusuf Ullo Purba Quarry : PTPN II Kebun Patumbak
No. Percobaan No. Piknometer a Berat Piknometer (W1) b Berat Piknometer + Tanah (W2) c Berat Tanah (W2-W1)
d Berat Piknometer + Tanah + Air (W3) e Berat Piknometer + Air Sebelum Koreksi (W4) f Temperatur (ToC)
g Faktor Koreksi
h Berat Piknometer + Air Setelah Koreksi (W4') i Isi Tanah (W2 - W1 + W4 - W3)
Nama Sampel : Pupuk Tanggal : 21 Maret 2019 Projek : Tugas Akhir Dikerjakan : Yusuf Ullo Purba Quarry : PTPN II Kebun Patumbak
No. Percobaan No. Piknometer a Berat Piknometer (W1) b Berat Piknometer + Kapur (W2) c Berat Kapur (W2-W1)
d Berat Piknometer + Kapur + Air (W3) e Berat Piknometer + Air Sebelum Koreksi (W4) f Temperatur (ToC)
g Faktor Koreksi
h Berat Piknometer + Air Setelah Koreksi (W4') i Isi Tanah (W2 - W1 + W4 - W3)
LAMPIRAN 2
DATA ANALISA SARINGAN
Sampel : Tanah Asli Lokasi : Lab. Mekanika Tanah USU
Proyek : Tugas Akhir Tanggal : 22 Maret 2019
Dikerjakan : Yusuf Ullo
A. Fraksi Kasar Berat Tanah Kering = 200,00 gr
Saringan Berat diatas Jlh Brt diatas Persen diatas Persen melalui Persen seluruh
Nomor (gr) (gr) (%) (%) Contoh melalui (%)
Saringan Berat diatas Jlh Brt diatas Persen diatas Persen melalui Persen seluruh
Nomor (gr) (gr) (%) (%) Contoh melalui (%)
3/8 inch - 0,00 0,00 100,00 100,00
No. 4 0,00 0,00 0,00 100,00 100,00
No. 8 0,00 0,00 0,00 100,00 100,00
C. Fraksi Halus Berat Tanah Kering = 200,00 gr
Saringan Berat diatas Jlh Brt diatas Persen diatas Persen melalui Persen seluruh
Nomor (gr) (gr) (%) (%) Contoh melalui (%)
No. 10 6,21 6,21 3,11 96,90 96,90
No. 20 11,12 17,33 8,67 91,34 91,34
No. 40 22,57 39,90 19,95 80,05 80,05
No. 80 28,01 67,91 33,96 66,05 66,05
No. 100 9,86 77,77 38,89 61,12 61,12
No. 200 19,47 97,24 48,62 51,38 51,38
(Sieve Analysis Test)
ANALISA SARINGAN
HIDROMETER
Lempung Lanau Kerikil
(Clay) (Silt) Pasir (sand) (Gravel)
No Sampel : Tanah Asli Dikerjakan : Yusuf Ullo
: 14 0404 052
Lolos sari saringan/Passing of Sieve (%) 0.075 0.15 0.18 0.43 0.58 2.00 2.36 4.75 19.06 25.40 76.20
200 100 80 40 20 10 8 4 3/4 1 33/8 1/2
Sampel : Pupuk Lokasi : Lab. Mekanika Tanah USU
Proyek : Tugas Akhir Tanggal : 22 Maret 2019
Dikerjakan : Yusuf Ullo
A. Fraksi Kasar Berat Tanah Kering = 200,00 gr
Saringan Berat diatas Jlh Brt diatas Persen diatas Persen melalui Persen seluruh
Nomor (gr) (gr) (%) (%) Contoh melalui (%)
Saringan Berat diatas Jlh Brt diatas Persen diatas Persen melalui Persen seluruh
Nomor (gr) (gr) (%) (%) Contoh melalui (%)
3/8 inch - 0,00 0,00 100,00 100,00
No. 4 0,00 0,00 0,00 100,00 100,00
No. 8 0,00 0,00 0,00 100,00 100,00
C. Fraksi Halus Berat Tanah Kering = 200,00 gr
Saringan Berat diatas Jlh Brt diatas Persen diatas Persen melalui Persen seluruh
Nomor (gr) (gr) (%) (%) Contoh melalui (%)
No. 10 27,24 27,24 13,62 86,38 86,38
No. 20 157,44 184,68 92,34 7,66 7,66
No. 40 11,96 196,64 98,32 1,68 1,68
HIDROMETER
Lempung Lanau Kerikil
(Clay) (Silt) Pasir (sand) (Gravel)
Sampel : pupuk Nama : Yusuf Ullo
: 14 0404 052
Lolos sari saringan/Passing of Sieve (%) 0.075 0.15 0.18 0.43 0.58 2.00 2.36 4.75 19.06 25.40 76.20
200 100 80 40 20 10 8 4 3/4 1 33/8 1/2
LAMPIRAN 3
DATA ATTERBERG LIMIT
Nama Sampel : Tanah Asli Quarry : PTPN II Kebun Patumbak :
Proyek : Tugas Akhir Tanggal :
Dikerjakan : Yusuf Ullo Purba
Batas Cair (LL) 15 Kali 23 35 Kali 47 Kali Batas Plastis
No krus
Berat krus + contoh basah gr 47,41 45,18 43,35 44,29 12,79 13,04
Berat krus + contoh kering gr 34,95 33,72 32,89 34,02 12,45 12,47
Berat air gr 12,46 11,46 10,46 10,27 0,34 0,57
Berat krus gr 10,29 10,15 9,47 10,08 10,51 9,19
Berat contoh kering gr 24,66 23,57 23,42 23,94 1,94 3,28
Kadar air % 50,53 48,62 44,66 42,90 17,53 17,38
LL PL PI Catatan
Nama Sampel : Pupuk Quarry : PTPN II Kebun Patumbak :
Proyek : Tugas Akhir Tanggal :
Dikerjakan : Yusuf Ullo Purba
Batas Cair (LL) Kali Kali Kali Batas Plastis
No krus
Berat krus + contoh basah gr Berat krus + contoh kering gr
Berat air gr
Berat krus gr
Berat contoh kering gr
Kadar air %
Nama Sampel : T.A + 15% pupuk Quarry : PTPN II Kebun Patumbak :
Proyek : Tugas Akhir Tanggal :
Dikerjakan : Yusuf Ullo Purba
Batas Cair (LL) 15 Kali 22 30 Kali 40 Kali Batas Plastis
No krus
Berat krus + contoh basah gr 41,67 44,88 42,65 40,64 12,66 12,86
Berat krus + contoh kering gr 32,23 34,67 34,01 32,81 12,13 12,45
Berat air gr 9,44 10,21 8,64 7,83 0,53 0,41
Berat krus gr 10,45 9,52 10,11 9,01 9,45 10,28
Berat contoh kering gr 21,78 25,15 23,90 23,80 2,68 2,17
Kadar air % 43,34 40,60 36,15 32,90 19,78 18,89
LL PL PI Catatan
LAMPIRAN 4
DATA COMPACTION TEST
PERCOBAAN PEMADATAN (COMPACTION TEST)
No Sampel : Tanah Asli Lokasi : PTPN II PATUMBAK
Tanggal : 09 April 2019
Proyek : Tugas Akhir Dikerjakan : Yusuf Ullo
Berat isi
Sampel : +15% Pupuk Lokasi : PTPN II PATUMBAK Station : -
Proyek : Tugas Akhir Tanggal : 09 April 2019
Dikerjakan: Yusuf Ullo
Berat tanah basah (gr) 2000 2000 2000 2000 2000
Kadar air mula-mula (%) - - - -
-Penambahan air (%) 2 4 6 8 10
Penambahan air (cc) 40 80 120 160 200
Berat isi
Berat tanah + cetakan (gr) 6034 6283 6397 6332 6128
Berat cetakan (gr) 4476 4476 4476 4476 4476
Berat tanah basah (gr) 1558 1807 1921 1856 1652
Isi cetakan t= 11,60 d= 10,13 938 938 938 938 938
Berat isi basah ( γtb ) 1,661 1,926 2,048 1,979 1,761
Berat isi kering(γd) = γtb/(100+w)*100% (gr/cc) 1,427 1,622 1,696 1,618 1,415 Kadar air
Tanah basah + cawan (gr) 23,67 25,46 23,47 24,76 23,89
Tanah kering + cawan (gr) 21,53 22,85 20,87 21,82 20,91
Berat air (gr) 2,14 2,61 2,60 2,94 2,98
Berat cawan (gr) 8,51 8,93 8,35 8,62 8,71
Berat tanah kering (gr) 13,02 13,92 12,52 13,20 12,20
Kadar air (%) 16,44 18,75 20,77 22,27 24,43
ZAV = (Gs* γw)/(1+Gs*w) W = 16,44 % g = 0,000 gr/cm3
Gs = = W = 24,43 % g = 0,000 gr/cm3
Berat Isi Kering Maksimum =1,681 gr/cm3 Kadar Air Optimum = 20,41 %
Sampel : +15% Pupuk Lokasi : PTPN II PATUMBAK
Station : -
Proyek : Tugas Akhir Tanggal : 09 April 2019
Dikerjakan: Yusuf Ullo
Berat tanah basah (gr) 2000 2000 2000 2000 2000
Kadar air mula-mula (%) - - - -
-Penambahan air (%) 2 4 6 8 10
Penambahan air (cc) 40 80 120 160 200
Berat isi
Berat tanah + cetakan (gr) 6034 6283 6397 6332 6128
Berat cetakan (gr) 4476 4476 4476 4476 4476
Berat cetakan (gr) 4476 4476 4476 4476 4476