• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I : PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

8. Analisis Data

Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurut data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.43 Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif yaitu “upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan

43 Lexy, J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1994), h. 280.

menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain”. 44

Data yang diperoleh disusun secara sistematis, kemudian dianalisa secara kualitatif untuk mencapai kejelasan terhadap masalah yang akan dibahas. Analisis data kualitatif adalah suatu cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif analisis yaitu apa yang dinyatakan oleh responden secara tertulis atau lisan dan juga perilakunya yang nyata, diteliti dan dipelajari secara utuh.

Pengertian analisis di sini dimaksudkan sebagai suatu penjelasan dan penginterpretasian secara logis dan sistematis. Logis sistematis menunjukkan cara berpikir induktif-deduktif dan mengikuti tata tertib dalam penulisan laporan penelitian ilmiah. Setelah dianalisis data selesai maka hasilnya akan disajikan secara deskriptif yaitu dengan menuturkan dan menggambarkan apa adanya sesuai dengan permasalahan yang diteliti.

Dalam menganalisis data yang diperoleh akan digunakan cara berfikir yang bersifat induktif yaitu data hasil penelitian dari hal yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum. Dengan metode induktif diharapkan akan diperoleh jawaban permasalahan.

44 Ibid., h. 248.

BAB II

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB JUAL BELI TANAH PERTANIAN MASIH DILAKSANAKAN BERDASARKAN HUKUM ADAT PADA

MASYARAKAT DI KECAMATAN BAKTI RAJA KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN

PROVINSI SUMATERA UTARA

A. Tinjauan Umum Jual Beli (KUH Perdata)

Perjanjian jual beli diatur dalam Pasal 1457-1540 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Perjanjian jual beli pada umumnya merupakan perjanjian konsensual karena mengikat para pihak saat terjadinya kesepakatan para pihak tersebut mengenai unsur esensial dan aksendential dari perjanjian tersebut.

Menurut Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, jual beli adalah suatu perjanjian (agreement) dengan mana pihak lainuntuk membayar harga yang telah dijanjikan. Pengertian yang diberikan Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, persetujuan jual beli sekaligus membebankan dua kewajiban yaitu:45

1) Kewajiban pihak penjual menyerahkan barag yang dijual kepada pembeli.

2) Kewajiban pihak pembeli membayar harga barang yang dibeli kepada penjual.

Pihak penjual berkewajiban (obliged) menyerahkan objek jual beli kepada pembeli dan berhak menerima harga dan pembeli berkewajiban membayar harga dan berhak menerima objek tersebut. Unsur yang terkandung dalam defenisi tersebut adalah:

45M.Yahya Harahap, Segi-Segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung, 1986, h.181.

1) Adanya subyek hukum, yaitu penjual dan pembeli

2) Adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli tentang barang dan harga 3) Adanya hak dan kewajiban (obligation) yang timbul dari para pihak

Unsur pokok dalam perjanjian jual beli adalah barang dan harga, dimana antara penjual dan pembeli harus ada kata sepakat tentang harga dan benda yang menjadi objek jual beli. Suatu perjanjian jual beli yang sah lahir apabila kedua belah pihak telah setuju tentang harga dan barang. Sifat konsensual (convensual) dari perjanjian jual beli tersebut ditegaskan dalam Pasal 1458 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang berbunyi “ jual beli dianggap sah terjadi antara kedua belah pihak seketika setelahnya orang-orang ini mencapai sepakat tentang kebendaan tersebut dan harganya, maupun harganya belum dibayar.”

Jual beli yang dianut di dalam Hukum Perdata ini bersifat obligator, yang artinya bahwa perjanjian jual beli baru meletakkan hak dan kewajiban timbal balik antara kedua belah pihak, penjual dan pembeli (seller and buyer), yaitu meletakkan kepada penjual kewajiban untuk menyerahkan hak milik atas barang yang dijualnya, sekaligus memberikan kepadanya hak untuk menuntut pembayaran harga yang telah dusepakati, dan disebelah lain meletakkan kewajiban kepada pembeli untuk membayar harga barang sebgaai imbalan haknya untuk menuntut penyerahan hak milik atas barang yang dibelinya. Atau dengan kata lain , bahwa jual beli yang dianut dalam hukum Perdata, jual beli belum memindahkan hak milik.46

46Sudaryo Soimin, Status Hak dan Pembebasan Tanah, Sinar Grafika, Jakarta, 1994, h.94

Beralihnya hak atas benda dari penjual dan pembeli, maka harus dilakukan penyerahan secara yuridis (Juridisch Levering), sebagaimana diatur dalam Pasal 1459 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pasal 1459 Kitab Undang Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa, “Hak milik (right of ownership) atas barang yang telah dijual tidak pindah kepada pembeli selama barang itu belum diserahkan menurut Pasal 612, 613, dan 616”. Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa menurut hukum barat, agar hak atas benda beralih dari penjual kepada pembeli, maka harus dilakukan 2 (dua) perbuatan hukum yang berbeda, yaitu:

1) Perjanjian jual beli (menurut hukum perjanjian).

2) Penyerahan yuridis (menurut hukum benda atau hukum agraria dalam hal obyek perjanjian adalah tanah).

Terdapat 2 unsur penting dalam jual beli, yaitu:

1. Barang / benda yang diperjualbelikan

Bahwa yangb harus diserahkan dalam persetujuan jual beli adalah barang berwujud benda / zaak. Barang adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan objek harta benda atau harta kekayaan. Menurut ketentuan Pasal 1332 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, hanya barang-barang yang biasa diperniagakan saja yang boleh dijadikan objek persetujuan. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengenal tiga macam barang dalam Pasal 503 - Pasal 505 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu:

a) Ada barang yang bertubuh dan ada barang yang tak bertubuh.

b) Ada barang yang bergerak dan ada barang yang tak bergerak.

c) Ada barang yang bergerak yang dapat dihabiskan dan ada yang tidak dapat dihabiskan; yang dapat dihabiskan adalah barang-barang yang habis karena dipakai.

Penyerahan barang-barang (delivery of goods) tersebut diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sebagaimana berikut:

a) Untuk barang bergerak cukup dengan penyerahan kekuasaan atas barang itu (Pasal 612 Kitab Undang Undang Hukum Perdata).

b) Untuk barang tidak bergerak peyerahan dilakukan dengan pengumuman akta yang bersangkutan yaitu dengan perbuatan yang dinamakan balik nama di muka pegawai kadaster yang juga dinamakan pegawai balik nama (Pasal 616 dan Pasal 620 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

c) Untuk barang tidak bertubuh dilakukan dengan akta otentik atau dibawah tangan yang melimpahkan hak-hak (bestow right) atas barang-barang itu kepada orang lain ( Pasal 613 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

2. Harga

Harga (price) berarti suatu jumlah yang harus dibayarkandalam bentuk uang.

Pembayaran harga dalam bentuk uang lah yang dikategorikan jual beli. Harga ditetapkan oleh para pihak.47 Pembayaran harga yang telah disepakati (agreed upon) merupakan kewajiban utama dari pihak pembeli dalam suatu perjanjian jual beli. Pembayaran tersebut dapat dilakukan dengan memakai metode pembayaran sebagai berikut:

47Yahya Harahap, Segi-segi Perjanjian, Bandung, Alumni, 1986, h.182

a) Jual Beli Tunai Seketika

Metode jual beli dimana pembayaran tunai seketika ini merupakan bentuk yang sangat klasik, tetapi sangat lazim dilakukan dalam melakukan jual beli. Dalam hal ini harga rumah diserahkan semuanya, sekaligus pada saat diserahkannya rumah sebagai objek jual beli kepada pembeli.

b) Jual Beli dengan Cicilan / kredit

Metode jual beli dimana pembayaran dengan cicilan ini dimaksudkan bahwa pembayaran yang dilakukan dalam beberapa termin, sementara penyerahan rumah kepada pembeli dilakukan sekaligus dimuka, meski pun pada saat itu pembayaran belum semuanya dilunasi. Dalam hal ini, menurut hukum, jual beli dan peralihan hak sudah sempurna terjadi, sementara cicilan yang belum di bayar menjadi hutang piutang.

c) Jual Beli dengan Pemesanan / Indent

Merupakan metode jual beli perumahan dimana dalam melakukan transaksi jual beli setelah indent atau pemesanan (pengikatan pendahuluan) dilakukan, maka kedua belah pihak akan membuat suatu perjanjian pengikatan jual beli yang berisi mengenai hak-hak dan kewajiban keduanya yang dituangkan dalam akta pengikatan jual beli.

Kewajiban Penjual

Bagi penjual ada kewajiban utama, yaitu:

1) Menyerahkan hak milik atas barang yang diperjualbelikan. Kewajiban menyerahkan hak milik meliputi segala perbuatan yang menurut hukum diperlukan untuk mengalihkan hak milik atas barang yang diperjual belikan itu dari penjual kepada si pembeli.

2) Menanggung kenikmatan tenteram atas barang tersebut dan menanggung terhadap cacat-cacat tersembunyi.48

Kewajiban Pembeli

Menurut Abdulkadir Muhammad, kewajiban pokok pembeli itu ada dua yaitu menerima barang-barang dan membayar harganya sesuai dengan perjanjian dimana jumlah pembayaran biasanya ditetapkan dalam perjanjian.49 Sedangkan menurut Subekti, kewajiban utama si pembeli adalah membayar harga pembelian pada waktu dan di tempat sebagaimana ditetapkan menurut perjanjian. Harga tersebut haruslah sejumlah uang meskipun hak ini tidak ditetapkan dalam Undang-Undang.50

1. Jual Beli Menurut Hukum Adat

Menurut hukum adat (customary law) jual beli tanah bukan merupakan perjanjian seperti yang dimaksudkan dalam Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tersebut diatas, melainkan suatu perbuatan hukum yang berupa penyerahan tanah yang bersangkutan oleh penjual kepada pembeli untuk selama-lamanya pada saat mana pihak pembeli menyerahakan harganya kepada penjual.51

Dalam masyarakat Hukum Adat jual beli tanah dilaksanakan secara terang dan tunai. Terang berarti perbuatan hukum jual beli tersebut benar-benar dilaksanakan dihadapan Kepala Adat (customary head) atau Kepala Desa (village

48Subekti, Aneka Perjanjian, Bandung, Alumni, 1982, h.8.

49Abdulkadir Muhammad, Hukum Perjanjian, Op.Cit, h.257-258

50Subekti, Op.Cit, h.20

51Effendi Perangin, Hukum Agraria Indonesia, Suatu Telaah dari Sudut Pandang Praktisi Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994, h.15.

head). Tunai berarti adanya dua perbuatan yang dilaksanakan secara bersamaan, yaitu pemindahan hak atas tanah yang menjadi obyek jual beli dari penjual kepada pembeli dan pembayaran harga dari pembeli kepada penjual terjadi serentak dan secara bersamaan.52

Dalam penelitian ini, desa Simangulampe adalah salah satu desa di Kecamatan Bakti Raja Kabupaten Humban Hasundutan yang terletak di pinggiran Danau Toba mempunyai potensi Wisata Alam juga Wisata Sejarah yaitu wisata Aek Sipangolu dengan batas-batas sebagai berikut:

- Timur berbatasan dengan Desa Huta Lontung kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara;

- Barat berbatasan dengan Desa Sinambela kecamatan Bakti Raja Kabupaten Humbang Hasundutan;

- Selatan berbatasan dengan Desa Snambela Habeahan Kecamatan Lintong Nihuta;

- Utara berbatasan dengan Danau Toba dengan luas ± 8000 m2 (kurang lebih delapan ribu meter persegi).

Jumlah Penduduk di 7 (tujuh) desa yang ada di kecamatan Baktiraja memiliki jumlah penduduk sebagai berikut:

1. Desa Simangulampe dengan jumlah penduduk 593 (lima ratus sembilan puluh tiga) jiwa dengan memiliki jumlah laki-laki sebanyak 287 (dua ratus delapan puluh tujuh) jiwa dan perempuan sebanyak 306 (tiga ratus enam) jiwa;

52Ibid , h.19

2. Desa Sinambela dengan jumlah penduduk 1100 (seribu seratus) jiwa dengan memiliki jumlah laki-laki sebanyak 569 (lima ratus enam puluh sembilan) jiwa dan perempuan sebanyak 531 (lima ratus tiga puluh satu) jiwa;

3. Desa Simamora dengan jumlah penduduk 758 (tujuh ratus lima puluh delapan) jiwa dengan memiliki jumlah laki-laki sebanyak 374 (tiga ratus tujuh puluh empat) jiwa;

4. Desa Siunong Unong Julu dengan jumlah penduduk 627 (enam ratus dua puluh tujuh) jiwa dengan memiliki jumlah laki-laki sebanyak 298 (dua ratus sembilan puluh delapan) jiwa dan permpuan sebanyak 329 (tiga ratus dua puluh sembilan) jiwa;

5. Desa Marbun Toruan dengan jumlah penduduk 1129 (seribu seratus dua puluh sembilan) jiwa dengan memilki jumlah laki-laki sebanyak 580 (lima ratus delapan puluh) jiwa dan perempuan sebanyak 329 (tiga ratus dua puluh sembilan) jiwa;

6. Desan Marbun Tonga Marbun Dolok dengan jumlah penduduk 1240 (seribu dua ratus empat puluh) jiwa dengan memiliki jumlah laki-laki sebanyak 607 (enam ratus tujuh) jiwa dan perempuan sebanyak 633 (enam ratus tiga puluh tiga) jiwa;

7. Desa Tipang dengan jumlah penduduk 1741 (seribu tujuh ratus empat puluh satu) jiwa dengan memiliki jumlah laki-laki sebanyak 861 (delapan ratus enam puluh satu) jiwa dengan memiliki jumlah perempuan sebanyak 880 (delapan ratus delapan puluh) jiwa.

Dari ketujuh desa diatas memiliki total jumlah penduduk 7188 (tujuh ribu seratus delapan puluh delapan) jiwa dengan total jumlah laki-laki 3576 (tiga ribu lima ratus tujuh puluh enam) jiwa dan perempuan dengan total jumlah 3612 (tiga ribu enam ratus dua belas) jiwa dengan total rasio jenis kelamin yaitu 99,00 (sembilah puluh sembilan).53 Dari total diatas masyarakat Kecamatan Baktiraja memiliki mata pencaharian 90% (sembilan puluh persen) petani/pekebun.

Letak Astronomis dan geografis kecamatan Bakti Raja dalam hal ini luas wilayah kecamatan seluas 2.231,91 (dua ribu dua ratus tiga puluh satu koma sembilan puluh satu) Hektare.54 Desa-desa yang ada di Bakti Raja yaitu:

1. Desa Simangulampe dengan luas wilayah 263.26 (dua ratus enam puluh tiga koma dua puluh enam) Hektare dengan memiliki jumlah dusun yaitu 2 (dua) dusun;

2. Desa Sinambela dengan luas wilayah 186.14 (seratus delapan puluh enam koma empat belas) Hektare dengan memiliki jumlah dusun yaitu 2 (dua) dusun;

3. Desa Simamora dengan luas wilayah 301.37 (tiga ratus satu koma tiga puluh tujuh) Hektare dengan memiliki jumlah dusun yaitu 2 (dua) dusun;

4. Desa Siunong-unong Julu dengan luas wilayah 198.55 (seratus sembilan puluh delapan koma lim apuluh lima) Hektare dengan memiliki jumlah Dusun yaitu 2 (dua) dusun;

5. Desa Marbun Toruan dengan luas wilayah 308.02 (tiga ratus delapan koma kosong dua)Hektare dengan memiliki jumlah dusun yaitu 2 (dua) dusun;

6. Desa Marbun Tonga Marbun Dolok dengan luas wilayah 462.25 (empat ratus enam puluh dua koma dua puluh lima) Hektare dnegna memiliki jumlah dusun yaitu 2 (dua) dusun; dan

7. Desa Tipang dengan luas wilayah 512.33 (lima ratus dua belas koma tiga puluh tiga) Hektare dengan memiliki jumlah dusun yaitu 3 (tiga) dusun.55

Bentuk-bentuk jual bei tanah dalam hukum adat (customary law) antara lain yaitu:

53Proyeksi Penduduk Kabupaten Humban Hasunduatan 2010-2015 dalam buku Kecamatan Bakti Raja Dalam Angka 2018, h.17

54Data Kantor camat Bakti Raja 2015 dalam buku Kecamatan Bakti Raja Dalam Angka 2018, h.3.

55Ibid, h.4

1) Jual Lepas

Jual lepas (sell off) merupakan proses pemindahan hak atas tanah yang bersifat terang dan tunai, dimana semua ikatan antara bekas penjual dengan tanahnya menjadi lepas sama sekali.

2) Jual Gadai

Jual Gadai (sell pawning) merupakan suatu perbuatan pemindahan hak atas tanah kepada pihak lain yang dilakukan secara ternag dan tunai sedemikian rupa sehingga pihak yang melakukan pemindahan hak mempunyahak untuk menebus kembali tanah tersebut. Dengan demikian maka pemindahan hak atas tanah pada jual gadai bersifat sementara, walaupun kadang-kadang tidak ada patokan tegas mengenai sifat sementara waktu tersebut.

3) Jual Tahunan

Jual tahunan (annual sale) merupakan suatu perilaku hukum yang berisikan peyerahan hak atas sebidang tanah tersebut kepada subyek hukum lain dengan menerima sejumlah uang tertentu dnegna ketentuan bahwa setelah jangka waktu tertentu. Dalam hal ini terjadi peralihan hak atas tanah yang bersifat sementara waktu.

4) Jual Gangsur

Pada jual gangsur {sell gangsur) ini walaupun telah terjadi pemindahan hak atas tanah kepada pembeli, akan tetapi tanah tetap berada di tangan penjual.

artinya bekas penjual masih tetap ınempunyai hak pakai yang bersuınber pada ketentuan yang disepakati oleh penjual dengan pembeli (jadi hak pakai tersebut bukan bersuınber pada hak peserta warga negara hukuın adat).

5) Jual Beli Dengan Cicilan

Yang diaksud dengan jual beli dengan cicilan (installment) dalam praktek sehari-hari sering timbul walaupun tidak diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

Menurut M. Yahya Harahap :

Jual beli cicilan, merupakan salah satu bentuk penjualan kredit, pembeli wajib membayar barang secara termein atau berkala. Sebaliknya penjual biasanya masih tetap berhak menarik barang yang dijual dari tangan si pembeli, apabila pembeli tidak tepat waktu, membayar harga cicilan, menurut termein yang dijadwalkan.56

2. Jual Beli Menurut Undang-Undang Pokok Agraria

Didalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria istilah jual beli hanya disebutkan dalam Pasal 26 yaitu yang menyangkut jual beli hak milik atas tanah (land ownership rights).

Dalam pasal-pasal lainnya, tidak ada kata yang menyebutkan jual beli, tetapi disebutkan sebagai dialihkan. Pengertian dialihkan menunjukkan suatu perbuatan hukum yang disengaja untuk memindahkan hak atas tanah kepada pihak lain melalui jual beli, hibah, tukar menukar (exchange) dan hibah wasiat. Jadi, meskipun dalam pasal hanya disebutkan dialihkan, termasuk salah satunya adalah perbuatan hukum pemindahan dak atas tanah karena jual beli.

Jual beli tanah berdasarkan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) tidak diterangkan secara jelas, akan tetapi dalam Pasal 5 Undang-Undang Pokok

56M.Yahya Harahap, Op.Cit, h.26

Agraria (UUPA) disebutkan bahwa Hukum Tanah menurut hukum adat yang telah disempurnakan / dihilangkan sifat kedaerahannya (regionalism).57

- Jual Beli Atas Tanah Di Bawah Tangan

Peralihan hak atas tanah (transfer of land rights) merupakan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh pemilik tanah kepada orang lain yang berakibat beralihnya hak dan kewajiban hak dan kewajiban tanah tersebut. Peralihan hak atas tanah dapat dilakukan di bawah tangan (under the hand) ini dilakukan din depan kepala desa oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk melakukan jual beli yang dilakukan dihadapan para saksi, kerabat dan tetangga (relatives and neighbors).

Peralihan hak atas tanah di bawah tangan ini dilakukan dengan suatu perjanjian yang dibuat diatas kwitansi yang dibubuhi materai atau kertas segel yang didalamnya dituangkan perjanjian yang mengikat kedua belah pihak (binding on both parties)yang harus ditandatangani oleh pihak dan saksi-saksi. Peralihan hak atas tanah secara jual beli yang dilakukan dengan di bawah tangan, dapat dikuatkan dengan para saksi yang dinyatakan sah menurut Hukum Adat (customary law).

Jual beli tanah yang dilakukan di bawah tangan yang merupakan suatu perjanjian jual beli tanah dalam Hukum Adat (customary law) dimana perbuatan hukum (legal action) yang dilakukan berupa pemindahan hak dengan pembayaran tunai, artinya bahwa harga yang disetujui dibayar

57Andrian Sutedi, Peralihan Hak Atas Tanah dan Pendaftarannya, Sinar Grafika, Jakarta, 2007, h.76

penuh pada saat dilakukan jual beli tersebut. Adapun jual beli yang dilakukan secara di bawah tangan sebagaimana yang dimaksud oleh Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh penjual dan pembeli (seller and buyer) dengan maksud untuk memindahkan hak atas tanah dengan cara membuat surat perjanjian (agreement letter) dengan materai secukupnya dan telah diketahui oleh Kepala Adat atau Kepala Desa atau Lurah.

- Hak dan kewajiban para pihak dalam jual beli

Hak dari penjual menerima harga barang yang telah dijualnnya dari pihak pembeli sesuai dengan kesepakatan harga antara kedua belah pihak.

Begitu pula hak dari pembeli menerima barang yang telah dibelinya dari pihak penjual dengan kesepakatan antara kedua belah pihak (both sides).

Kewajiban yang timbul dari suatu perikatan yang lahir dari perjanjian maupun perikatan yang lahir dari Undang-Undang disebut juga kewajiban hukum.

Kewajiban hukum(legal obligations) adalah kewajiban yang harus dipenuhi sebab apabila tidak dipenuhi akan menimbulkan akibat hukum, yaitu adanya tuntutan yang berhak agar yang mempunyai kewajiban itu memenuhi kewajibannya dan melahirkan putusan hakim pengadilan (decision of the court judge) dapat memaksa (compel) agar kewajibannya dipenuhi.58 Sehubungan dengan kewajiban penjual dalam jual beli dapat dilihat dari ketentuan Pasal 1474 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.59

Kewajiban pihak (party obligations) penjual adalah sebagai berikut : a. Menyerahkan hak milik atas barang yang diperjualbelikan.

Penyerahan (submission)barang dalam jual beli merupakan tindakan pemidahan barang yang dijual kedalam kekuasaaan dan kepemilikan pembeli. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengenal tiga jenis benda yaitu benda bergerak, benda tidak bergerak dan tidak bertubuh. Penyerahan hak milik pun ada 3 macam yang berlaku untuk masing-masing barang tersebut, yaitu :60

1) Peyerahan Benda Bergerak

Penyerahan benda bergerak (surrender of moving objects) terdapat dalam Pasal 612 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan ”penyerahan benda bergerak kecuali yang tak bertubuh dilakukan dengan penyerahan yang nyata akan kebendaan itu oleh atas nama pemilik, atau dengan penyerahan kunci-kunci dari bangunan dalam mana kebendaan itu berada.

2) Penyerahan Benda Tidak Bergerak

Penyerahan atau penunjukan barang tak bergerak (submission or appointment of immovable objects) dilakukan dengan pengumuman akta yang bersangkutan dengan cara seperti yang ditentukan dalam Pasal 620 (Pasal 616 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

58Bachsan Mustafa, Sistem Hukum Indonesia Terpadu, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, h. 41.

59M.Yahya Harahap, Op.Cit, h.190.

60Ahmadi Miru, Hukum Kontrak dan Perancangan Kontrak, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, h.128

Penyerahan benda tidak bergerak diatur dalam Pasal 616-620 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyebutkan bahwa penyerahan barang tidak bergerak dilakukan dengan balik nama.

Untuk tanah dilakukan dengan Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah sedangkan yang lain dilakukan dengan akta notaris.

3) Penyerahan Benda Tidak Bertubuh (submission of non bodied objects)

Diatur dalam Pasal 613 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyebutkan penyerahan akan piutang atas nama dilakukan dengan akta notaris atau akta dibawah tanganyang harus diberitahukan kepada debitur secara tertulis, disetujui dan diakuinya.

Penyerahan tiap-tiap piutang karena surat bawa dilakukan dengan penyerahan surat itu, penyerahan tiap-tiap piutang karena surat tunjuk dilakukan dengan penyerahan surat disertai dengan endosemen.61

b. Memberi jaminan bahwa barang yang dijual tidak mempunyai sangkutan apapun baik berupa tuntutan (demands) maupun pembebanan (loading). Kewajiban untuk menjamin barang yang dijualnya merupakan kewajiban yang kedua dari penjual. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 1491 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Berdasarkan ketentuan pasal ini, penjual harus menjamin barang yang dijual dalam keadaan :

61Ibid, h.129

1) Tentram dan damai dalam kekuasaan kepemilikan pembeli

1) Tentram dan damai dalam kekuasaan kepemilikan pembeli

Dokumen terkait