BAB III METODE PENELITIAN
3.6. Analisis Data
Semua data kecuali parameter pendukung diuji dengan sidik ragam (ANOVA) pada selang kepercayaan 95% dilanjutkan uji lanjut Duncan jika ditemukan pengaruh nyata dengan menggunakan software SPSS versi 20. Data kualitas air dianalisis secara deskriptif, hanya disajikan dalam bentuk tabel.
19 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Laju Pertumbuhan Spesifik
Spesific Growth Rate (SGR) ialah persentase pertumbuhan harian yang berupa perubahan bobot, tubuh ikan dalam beberapa waktu yang telah ditentukan.
Nilai SGR ikan dewa diperoleh hasil yang signifikan (Gambar 4.)
Gambar 4. Nilai laju pertumbuhan spesifik benih ikan dewa setiap dosis papain Pemeliharaan benih ikan dewa selama 40 hari menunjukan hasil analisis ragam bahwa pakan buatan yang ditambah enzim papain memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap SGR pada ikan dewa. Dilanjutkan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) memperlihatkan bahwa perlakuan A berbeda nyata terhadap perlakuan B, C, D dan E, tetapi perlakuan E (nilai maksimum) tidak berbeda nyata terhadap perlakuan C dan D. Pada perlakuan C, D, dan E diduga bahwa dosis papain yang berbeda masih dapat menghasilkan deposisi protein dalam tubuh yang sama, sehingga pertumbuhan yang dihasilkan sama. Sesuai pendapat Amalia et al., (2013) pakan yang ditambahkan enzim papain dapat meningkatkan deposisi senyawa protein dari pakan ke dalam tubuh untuk pertumbuhan ikan.
20
Hal ini dapat dilihat dari nilai efisiensi pakan (Gambar 7.) dan nilai rasio konversi pakan (Gambar 6.).
Nilai laju pertumbuhan spesifik tertinggi (Gambar 4.) terjadi pada perlakuan E sebesar 2,63±0,00%/hari dan nilai terendah pada perlakuan A (dosis 0%) sebesar 2,01±0,19%/hari. Dosis yang paling baik untuk efisiensi enzim papain pada penelitian ini yaitu perlakuan C sebesar 2,48 ± 0,2%/hari menunjukkan bahwa pakan buatan yang ditambah dengan enzim papain dosis sebesar 2% bisa meningkatkan pertumbuhan. Pertumbuhan ikan dewa menjadi lebih cepat karena diduga faktor aktivitas protease dari enzim papain yang dapat menghidrolisis protein dalam pakan menjadi senyawa lebih sederhana seperti peptide rantai pendek dan asam amino sehingga mudah diserap dan dimanfaatkan untuk pertumbuhan ikan. Ikan pada perlakuan C dapat mencerna pakan dengan baik untuk pertumbuhanya dan lebih efisien terhadap penggunaan enzim dibandingkan dengan perlakuan lain. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Irawati &
Rachmawati (2015) pakan yang dapat tercerna dengan baik maka akan menghasilkan energi untuk memenuhi segala aktivitas dan pemeliharaan tubuh yang terjadi melalui proses metabolism, apabila terdapat kelebihan energi dapat dimanfaatkan bagi pertumbuhan.
Nilai laju pertumbuhan spesifik tertinggi pada penelitian ini adalah 2,63±0,0%/hari. Penelitian ini menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari penelitian Muchlisin et al., (2016) pada ikan Tor tambra yaitu sebesar 2,19 ± 0,01%/hari dan bila dibandingkan pada jenis ikan lain pun memberikan efek yang sama terhadap pertumbuhan seperti penelitian Ananda et al., (2015) pada ikan patin yaitu sebesar 2,37±0,15%/hari. Hasil tersebut dikarenakan enzim papain yang digunakan pada penelitian ini dan penelitian sebelumnya berbeda. Nilai yang tertinggi pada penelitian Tor tambra menggunakan enzim papain sebesar 2,75% dan penelitian ikan patin dengan dosis enzim papain 0,75% sedangkan pada penelitian ini enzim papain yang digunakan untuk nilai tertinggi yaitu 4% kedalam pakan.
Pertumbuhan terjadi juga berkaitan dengan umur ikan, ketika umur ikan masih muda atau pada masa stadia benih merupakan stadia dimana kurva dengan laju pertumbuhan tertinggi. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Umar, Salam, & Omar (2012) bahwa benih ikan dapat mengalami pertumbuhan yang relatif cepat
21
sedangkan untuk ikan dewasa tetap mengalami pertumbuhan namun berjalan lambat, sebab makanan yang termakan oleh ikan dewasa lebih banyak digunakan untuk reproduksi, metabolisme, dan pemeliharaan tubuh daripada pertumbuhan.
4.2. Bobot Mutlak
Pertumbuhan bobot mutlak ialah perubahan bobot biomassa ikan selama masa pemeliharaan, atau selisih bobot biomassa akhir dengan bobot biomassa awal. Nilai bobot mutlak pada penelitian benih ikan dewa menunjukkan hasil yang signifikan (Gambar 5.).
Gambar 5. Nilai bobot mutlak benih ikan dewa setiap dosis papain
Hasil analisis ragam parameter bobot mutlak menunjukkan bahwa penambahan enzim papain pada pakan buatan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot mutlak ikan dewa. Dilanjutkan oleh uji wilayah ganda Duncan menunjukan perbedaan nyata pada perlakuan E terhadap perlakuan A, sedangkan perlakuan E tidak terjadi perbedaan yang nyata pada perlakuan B, C, D. Menurut Arief, Manan, & Pradana (2016) enzim papain yang ditambahkan pada pakan ikan akan menambahkan kandungan asam amino yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh ikan untuk kebutuhan pertumbuhan serta fisiologis. Sejalan dengan pendapat Hasan, (2000) menyatakan bahwa semakin banyak enzim yang ditambahkan ke dalam pakan, maka protein yang dihasilkan akan menjadi lebih banyak yang terhidrolisis menjadi asam amino, sehingga daya cerna ikan terhadap
5,00 ± 0,4a
22
pakan akan meningkat dan mempercepat proses pencernaan sehingga nutrien yang tersedia cukup untuk pertumbuhan dan keberlangsungan hidup ikan.
Perlakuan E merupakan nilai bobot mutlak tertinggi yaitu 6,40±0,44 g dan terendah pada perlakuan A sebesar 5,00±0,4 g. Pada perlakuan E dengan penambahan enzim papain sebesar 4% pada pakan buatan merupakan dosis yang tertinggi untuk menghidrolisis protein yang terkandung dalam pakan buatan menjadi asam amino agar lebih mudah untuk diserap dan dimanfaatkan untuk pertumbuhan bobot ikan serta efesien terhadap penggunaan enzim. Hasil ini sesuai dengan nilai laju pertumbuhan spesifik, bahwa pada perlakuan E merupakan nilai tertinggi untuk pertumbuhan pada ikan dewa selama pemeliharaan 40 hari. Hal ini diduga pada dosis 4% merupakan derajat hidrolisis tercepat sehingga berpengaruh pada protein pakan yang terhidrolisis lebih baik menjadi bentuk sederhana yaitu asam amino (Putra et al., 2020). Namun perlakuan E ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan B, C, D. Sejalan dengan pendapat Harahap et al., (2019) sebelum terjadinya pertumbuhan, kebutuhan protein digunakan untuk pemeliharaan tubuh dan harus terpenuhi terlebih dahulu. Saat ikan mengalami pertumbuhan menandakan protein untuk aktivitas dan pemeliharaan tubuh sudah terpenuhi. Sehingga kelebihan protein tersebut dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan (Nawir et al., 2015).
Nilai bobot mutlak tertinggi pada penelitian ini adalah 6,40±0,44 g.
Penelitian ini menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari penelitian Muchlisin et al., (2016) pada ikan Tor tambra yaitu sebesar 1,97 ± 0,15g dan penelitian Maulidin et al., (2016) pada ikan gabus yaitu sebesar 3,24±0,18 g. Namun lebih rendah dari penelitian Putra et al., (2020) pada ikan kerapu macan sebesar 19,97±2,81. Perbedaan pertumbuhan bobot pada ikan karena dipengaruhi beberapa faktor. Menurut Hidayat et al., (2013) pertumbuhan dipengaruhi dua faktor yaitu faktor luar dan dalam. Faktor dari luar meliputi sifat fisika, kimia dan biologi perairan, dan faktor dari dalam meliputi sifat keturunan, ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan dalam memanfaatkan makanan (terutama pada protein pakan). Secara umum, kebutuhan protein pada ikan menurun dengan meningkatnya ukuran dan umur ikan (National Research Council, 2011).
23
Ikan sangat memanfaatkan protein pada pakan untuk menghasilkan energi.
Berbeda dengan hewan darat yang sebagian besar menggunakan karbohidrat dan lipid untuk menghasilkan energi, sehingga kebutuhan protein pada ikan mencapai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan hewan lainnya (Crab et al., 2007). Hal ini menyebabkan dengan adanya penambahan enzim papain di dalam pakan yang dapat mempercepat penyerapan asam amino sehingga protein sebagai sumber utama pada ikan bisa terserap tubuh secara maksimal dan menghasilkan pertumbuhan.
4.3. Rasio Konversi Pakan
Feed Convertion Ratio (FCR) atau rasio konversi pakan ialah perbandingan antara pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan berat ikan yang terjadi selama penelitian. Semakin rendah nilai FCR atau yang mendekati 1 merupakan nilai yang terbaik. Pada penelitian benih ikan dewa menunjukkan nilai FCR yang signifikan (Gambar 6.).
Gambar 6. Nilai rasio konversi pakan benih ikan dewa setiap dosis papain
Rasio konversi pakan pada ikan dewa selama 40 hari pemeliharaan pada (Gambar 6.) perlakuan A memiliki nilai tertinggi sebesar 1,38±0,16 dan nilai terendah terjadi pada perlakuan E sebesar 1,08±0,10. Pada perlakuan E didapatkan nilai terendah dan terbail dengan pemberian dosis enzim papain sebanyak 4%.
Namun, nilai FCR yang optimum yaitu pada perlakuan C (dosis 2%) sebesar 1,17
1,38 ± 0,16c 1,36 ± 0,3c
24
± 0,06. Perlakuan C bila dianalisis tidak berbeda nyata dengan perlakuan E, dengan penggunaan enzim papain yang lebih sedikit namun menghasilkan pertumbuhan yang hampir sama sehingga lebih ekonomis untuk keberlangsungan budidaya. Nilai rasio konversi pakan yang semakin kecil maka pakan yang diberikan cukup baik dan sesuai untuk menunjang pertumbuhan ikan, begitu juga sebaliknya (Sulmartiwi & Suprapto, 2012). Papain tidak hanya membantu dalam proses penyerapan tetapi juga dapat menambahkan kadar nutrisi dalam pakan, oleh karena itu hasil FCR terbaik ini diduga dengan adanya penambahan enzim papain pada pakan yang membuat pakan lebih berkualitas (Putra et al., 2020).
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan enzim papain pada pakan buatan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai rasio konversi pakan ikan dewa. Dilanjutkan uji wilayah ganda Duncan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata pada perlakuan E terhadap perlakuan A, B dan D, sedangkan pada perlakuan E tidak berbeda nyata terhadap perlakuan C. Perlakuan C (dosis 2%) merupakan dosis optimum karena dengan dosis yang lebih rendah dari perlakuan E (dosis 4%) namun memberikan pengaruh nyata terhadap kontrol (dosis 0%) dan lebih efisien dalam penggunaan enzim papain. Rasio konversi pakan yang tinggi pada perlakuan A, B, dan D disebabkan oleh pakan yang relatif kurang dimanfaatkan oleh ikan dewa sehingga nutrisi yang terdapat dalam pakan tersebut tidak dapat terserap maksimal oleh tubuh ikan dewa dan terbuang melalui feses sehingga laju pertumbuhan yang diperoleh ikan relatif lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan C dan E. Sejalan dengan Arief et al., (2011) terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi tingginya rasio konversi pakan yaitu kualitas pakan yang kurang baik seperti pakan yang mudah hancur ataupun bau pakan yang tidak merangsang. Hal ini akan menyebabkan ikan tidak tertarik untuk memakan pakan tersebut. Namun, pada penelitian benih ikan dewa (Tor soro) masalah seperti ini sangat diminimalisir karena sebelum penelitian sudah uji pendahuluan terhadap pakan.
Hasil dari nilai konversi pakan optimum pada penelitian ini adalah 1,17±0,06.
Bila dibandingkan dengan penelitian ikan labeo oleh (Khati, Danish, S Mehta, &
Pandey, 2015) dengan nilai FCR terbaik yaitu 2,05 dan penelitian ikan sidat oleh (Arief et al., 2016) nilai FCR terbaik yaitu 2,27 ± 0,08, penelitian ini jauh lebih
25
rendah dan terbaik. Penyebabnya mungkin karena peningkatan metabolisme pada ikan yang berbeda dan diberi pakan tambahan papain dengan dosis berbeda pula yang pada akhirnya menghasilkan FCR yang lebih baik. Penambahan enzim papain atau enzim protease inilah yang dapat menghidrolisis protein menjadi peptida pendek dalam makanan, yang merupakan faktor kunci untuk meningkatkan daya cerna protein dan penyerapan cepat, sehingga nilai rasio konversi pakan yang rendah dan membantu meningkatkan faktor pertumbuhan (Khati et al., 2015).
4.4. Efisiensi Pakan
Efisiensi pakan adalah pemanfaatan pakan yang diberikan dapat digunakan dengan baik untuk pertumbuhan, atau secara ringkas bisa disebut pakan yang dimakan sedikit, namun dapat terserap tubuhnsecara maksimal. Nilai efisiensi pakan pada penelitian benih ikan dewa menunjukkan hasil yang signifikan (Gambar 7.).
Gambar 7. Nilai efisiensi pakan benih ikan dewa setiap dosis papain
Nilai efisiensi pakan tertinggi selama 40 hari pemeliharaan terdapat pada perlakuan E sebesar 93,19±6,38% dan nilai terendah terdapat pada perlakuan A sebesar 72,75±5,80%. Nilai optimum yaitu pada perlakuan C dengan penambahan enzim papain dosis 2% pada pakan buatan, menunjukkan bahwa efisiensi terhadap enzim papain dan juga pakan yang dikonsumsi memiliki kualitas yang baik,
26
sehingga dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara efisien. Hal ini sesuai dengan pendapat Taqwdasbriliani et al., (2013) efisiensi pakan yang semakin tinggi dan baik dalam pemanfaatan pakan oleh ikan berarti semakin baik mutu pada pakan tersebut dan berlaku sebaliknya. Oleh karena itu, pakan yang tidak ditambah papain atau pada perlakuan dosis papain 0%, tidak adanya enzim proteolitik yang dapat membantu pemecahan protein menjadi lebih sederhana pada pakan, sehingga energi dalam pakan tidak semuanya dapat terserap dan diedarkan ke seluruh tubuh ikan. Hal ini diperkuat oleh Haslaniza et al. (2010) menyatakan bahwa semakin meningkatnya konsentrasi enzim proteolitik dalam proses hidrolisis dapat menyebabkan peningkatan kandungan nitrogen terlarut dalam hidrolisat protein ikan dan dapat mempercepat pertumbuhan ikan tersebut.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan enzim papain pada pakan buatan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai efisiensi pakan pada ikan dewa. Dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan menunjukan bahwa terdapat perbedaan nyata pada perlakuan E terhadap perlakuan A, B, dan D, sedangkan pada perlakuan E tidak berbeda nyata terhadap perlakuan C. Hal ini diduga bahwa kebutuhan papain pada dosis 4% (maksimum) dan dosis 2%
(optimum) mampu meningkatkan kecernaan pakan dibandingkan dengan perlakuan A (0%), B (1%), dan D (4%). Hasil ini sesuai dengan pendapat Gunadi et al., (2010) bahwa salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menilai tingkat efisiensi pakan yang diberikan kepada ikan adalah kecernaan pakan, dengan maksud semakin besar nilai kecernaan pada suatu pakan maka semakin banyak nutrien pakan yang dimanfaatkan ikan tersebut. Tingkat reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi enzim. Meningkatnya tingkat reaksi seiring dengan peningkatan konsentrasi enzim, karena sisi akif enzim terdapat lebih banyak yang tersedia dan reaksi akan terus berlanjut hingga kompleks – enzim substrat tidak ada lagi yang dapat terbentuk (Ravindran, 2013).
Nilai efisiensi pakan optimum pada penelitian ini adalah 85,72±3,2%.
Penelitian ini menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari penelitian Muchlisin et al., (2016) pada ikan keureling yaitu sebesar 53,44 ± 2,05% dan penelitian Amalia et al., 2013) pada ikan lele dumbo yaitu sebesar 62,83±3,48% tetapi lebih rendah dari penelitian Rachmawati et al., (2015) pada ikan lele sangkuriang yaitu sebesar
27
135,33±19,25%. Hal ini diduga karena penggunaan jenis ikan yang berbeda, sehingga fungsi fisiologis seperti usus mungkin sudah berfungsi dengan baik dan kandungan endoenzim dari ikan telah tersedia (Tengjaroenkul et al., 2002).
Nilai efisiensi pakan (Gambar 7.) dan nilai rasio konversi pakan (Gambar 6.) pada benih ikan dewa (Tor soro) di penelitian ini memperlihatkan hasil yang berbanding terbalik namun berarti baik. Menurut Muchlisin et al., (2016) apabila tingginya nilai efisiensi pakan dan rendahnya rasio konversi pakan menunjukkan bahwa penerapan enzim papain yang ditambah ke dalam pakan berhasil meningkatkan pemanfaatan pakan untuk budidaya ikan.
4.5. Retensi Protein
Retensi protein adalah banyaknya protein dari pakan yang tersimpan menjadi protein jaringan tubuh ikan selama proses pemeliharaan. Nilai retensi protein menunjukan persentase bobot protein yang disimpan oleh tubuh. Nilai retensi protein pada penelitian benih ikan dewa menunjukkan hasil yang signifikan (Gambar 8.).
Gambar 8. Nilai retensi protein benih ikan dewa setiap dosis papain
Retensi protein pada ikan dewa selama 40 hari pemeliharaan memiliki
28
buatan merupakan nilai yang optimum untuk meretensi protein dari pakan menjadi protein dalam tubuh ikan dewa sehingga meningkatkan pertumbuhan dan penggunaan enzim papain yang lebih efisien. Enzim dari luar tubuh ikan atau enzim eksogen dapat meningkatkan kecernaan bahan pakan, sehingga mengurangi ekskresi nutrisi ke lingkungan dan pada akhirnya terentensi kedalam tubuh untuk meningkatkan pertumbuhan pada ikan (Khati et al., 2015).
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan enzim papain pada pakan buatan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap retensi protein pada ikan dewa. Dilanjutkan uji wilayah ganda Duncan menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan nyata pada perlakuan C terhadap perlakuan B, D dan E namun berbeda nyata terhadap perlakuan A. Hal ini diduga karena ikan dewa yang diberi pakan dengan tambahan enzim papain yang optimum dan mampu mengubah protein dalam pakan menjadi protein untuk disimpan di dalam tubuh, dibandingkan dengan ikan dewa yang diberi pakan tanpa penambahan enzim papain. Nilai retensi protein tertinggi dalam penelitian ini berbanding lurus dengan nilai laju pertumbuhan spesifik, bobot mutlak, dan tingkat efisiensi pakan.
Kandungan protein yang optimal di dalam pakan akan menghasilkan pertumbuhan yang maksimal bagi hewan (ikan) yang mengkonsumsinya. Pakan yang dikonsumsi ikan dalam jumlah banyak dan penggunaan pakan secara efisien maka akan semakin banyak protein yang teretensi kedalam tubuh, dan dapat meningkatkan pertumbuhan (Subandiyono et al., 2017). Menurut Nur (2011) salah satu aspek yang berperan penting dalam kelangsungan usaha budidaya adalah dari pakan. Protein pada pakan sebagai sumber energi utama bagi ikan.
Nilai retensi protein meningkat seiring dengan peningkatan kadar protein dalam pakan, retensi protein juga terjadi pada ikan jenis lain yaitu penelitian ikan gabus oleh Maulidin et al., (2016) dengan penambahan enzim papain sebanyak sebesar 26,98%. Nilai retensi protein tinggi karena kecernaan protein yang tinggi,
29
mungkin karena kehadiran enzim papain (kelompok enzim protease) dengan dosis yang sesuai pada masing-masing jenis ikan, hal ini menyebabkan hidrolisis protein menjadi asam amino dapat terjadi secara optimal (Muchlisin et al., 2016).
4.6. Kelangsungan Hidup
Kelangsungan hidup merupakan jumlah ikan yang bertahan hingga akhir penelitian dengan berbagai perlakuan yang dilakukan. Nilai kelangsungan hidup pada penelitian benih ikan dewa menunjukkan hasil yang signifikan (Gambar 9.).
Gambar 9. Nilai kelangsungan hidup benih ikan dewa setiap dosis papain
Hasil analisis ragam parameter kelangsungan hidup pada ikan dewa selama 40 hari pemeliharaan menunjukkan bahwa penambahan enzim papain pada pakan buatan tidak berpengaruh nyata (P<0,05) antar perlakuan pada pakan yang ditambahkan dengan enzim papain dan dengan pakan yang tidak ditambahkan dengan enzim papain pada kelangsungan hidup ikan dewa. Kelangsungan hidup dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik terdiri dari umurndan kemampuan ikanndalam menyesuaikanndiri dengan lingkungannya. Faktor abiotik antara lain ketersediaannmakanan dan kualitasmmedia hidup atau kualitas air (Siregar & Adelina, 2012). Sejalan dengan pendapat Panggabean et al., (2016) kualitas air faktor utama menentukan presentase kelulusan hidup ikannbudidaya karena air merupakanmmedia utama bagi kehidupanmikan.
Nilai kelangsungan hidup tertinggi pada penelitian ini adalah 93,33±2,36%.
Penelitian ini menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari penelitian Amalia et al.,
30
(2013) pada ikan lele Dumbo yaitu sebesar 91,67±7,64% dan penelitian Subandiyono et al., (2017) pada ikan gurame yaitu sebesar 83,33±5,77% tapi menunjukkan hasil yang lebih rendah dari penelitian (Sari, Subandiyono, &
Hastuti, 2013) pada ikan nila Larasati yaitu sebesar 95,00±4,30%, penelitian Taqwdasbriliani et al., (2013) pada ikan kerapu macan yaitu sebesar 100,0±0,0%
dan penelitian Maulidin et al., (2016) yaitu sebesar 100,0±0,0%. Untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan mempercepat pertumbuhan ikan digunakan pakan yang mempunyai nutrisi yang baik. Tingkat kelangsungan hidup ikan dipengaruhi oleh manajemennbudidaya yang baikaantara lain padat tebar, kualitas pakan, parasite atauppenyakit dankkualitas air (Arief et al., 2011).
4.7. Kualitas Air
Pengukuran kondisi perairan dilakukan untuk menunjang kegiatan karena lingkungan mempengaruhi keberhasilan dalam proses budidaya. Hasil pengukuran kualitas air selama kegiatan pada Tabel 2.
Tabel 2. Kisaran parameter kualitas air pada benih ikan dewa (Tor soro) selama
(ppm) 0,0007-0,01 0,003-0,006 0,003-0,01 0,003-0,07 0,001-0,004 Secara umum nilai kualitas air (Tabel 3.) yang didapatkan masih dalam batas normal untuk proses pertumbuhan dan sintasan pada ikan genus Tor (Subagja &
Radona, 2017; Radona, et al., 2016; Radona et al., 2015). Namun hasil pada perlakuan D (dosis 3%) terlihat sedikit berbeda pada ammonia dan nitrit yang
31
diatas batas normal. Nilai kualitas air untuk budidaya ikan air tawar menurut Baku Mutu PP No. 82 Tahun 2001 yaitu amonia yang baik untuk budidaya ikan adalah kurang dari 0,02 mg/L dan nitrit yang baik yaitu kurang dari 0,06 mg/L. Perlakuan D dengan hasil yang melebihi baku mutu tersebut hanya saat pengecekan 10 hari kedua, setelah itu dalam batas normal lagi. Hal ini diduga karena feses yang berlebih dalam kurun waktu 10 hari dari perlakuan lain sehingga terjadi perubahan fisik dan kimia pada perairan dan mengubah kualitas air. Ikan memiliki beberapa mekanisme untuk mentoleransi kelebihan amonia dan mengurangi toksisitas amonia termasuk ekskresinya (Cheng et al., 2015). Menurut (Juliyanti, Salamah,
& Muliani, 2016) kadar amoniak (NH3) yang terdapat dalam perairan umumya adalah hasil metabolisme ikan berupa kotoran padat (feses) dan terlarut (urin).
Papain tersendiri merupakan enzim pemacu pertumbuhan yang ramah lingkungan dan tidak mengalami penurunan kualitas efek pada lingkungan akuatik. Dengan demikian dapat digunakan dalam aquafeed untuk meningkatkan kecernaan nutrisi sebagai tambahan meningkatkan status kesehatan budidaya perairan organisme (Khati et al., 2015).
Berdasarkan hasil analisis dari berbagai parameter seperti laju pertumbuhan spesifik, bobot mutlak, rasio konversi pakan, efisiensi pakan, dan retensi protein maka dosis 2% penambahan papain pada pakan merupakan dosis yang optimum untuk pertumbuhan dan penggunaan enzim papain yang lebih efisien. Dosis 2%
ini menghasilkan perbedaan nyata dengan nilai kontrol tetapi tidak berbeda dengan nilai maksimum (dosis 4%) dan bila dilihat dari grafik dosis ini telah berpengaruh terhadap pertumbuhan yang meningkat dan juga lebih efisien secara ekonomis untuk budidaya.
32
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Hasil dari penelitian ini bahwa enzim papain mampu meningkatkan pertumbuhan benih ikan dewa (Tor soro). Dosis yang optimum pada penelitian ini adalah dosis penambahan enzim papain sebanyak 2% ke dalam pakan.
5.2. Saran
Diharapkan dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan parameter lain yakni daya cerna, retensi lemak dan retensi energi guna menunjang informasi pengaruh penambahan enzim papain pada pakan terhadap ikan dewa.
33
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, R., Subandiyono, & Endang, A. (2013). Pengaruh penggunaan papain terhadap tingkat pemanfaatan protein pakan dan pertumbuhan lele dumbo (Clarias gariepinus). Journal of Aquaculture Management and Technology, 2(1), 136–143.
Amri, E., & Mamboya, F. (2012). Papain, a plant enzyme of biological importance: A review. American Journal of Biochemistry and Biotechnology, 8(2), 99–104. https://doi.org/10.3844/ajbbsp.2012.99.104
Ananda, T., Rachmawati, D., & Samidjan, I. (2015). Pengaruh papain pada pakan buatan terhadap pertumbuhan ikan patin (Pangasius hypopthalmus). Journal of Aquaculture Management and Technology, 4(1), 47–53. Retrieved from http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jamt
Arief, M., Manan, A., & Pradana, C. A. (2016). Penambahan papain pada pakan komersial terhadap laju pertumbuhan, rasio konversi pakan dan kelulushidupan ikan sidat (Anguilla bicolor) stadia elver. Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan, 8(2), 67. https://doi.org/10.20473/jipk.v8i2.11179
Arief, M., Manan, A., & Pradana, C. A. (2016). Penambahan papain pada pakan komersial terhadap laju pertumbuhan, rasio konversi pakan dan kelulushidupan ikan sidat (Anguilla bicolor) stadia elver. Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan, 8(2), 67. https://doi.org/10.20473/jipk.v8i2.11179