• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODE PENELITIAN

3.4. Analisis Data

Data yang diperoleh selanjutnya diolah dan dianalisis, baik secara statistik (menggunakan analisis regresi) maupun deskriptif untuk mengetahui hubungan atau keterkaitan antara variab el yang satu dengan yang lain untuk mengetahui

persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap pembangunan hutan rakyat pola kemitraan dan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan partisipasi tersebut.

(1) Persepsi Masyarakat terhadap Pembangunan Hutan Rakyat Pola Kemitraan

Dalam penilaian tinggi rendahnya persepsi masyarakat terhadap pembangunan hutan rakyat pola kemitraan, untuk mengetahuinya dipergunakan indikator:

(a) Penilaian masyarakat terhadap lahan yang dimanfaatkan untuk hutan rakyat (b) Penilaian masyarakat terhadap manfaat hutan rakyat

(c) Penilaian masyarakat terhadap jenis tanaman hutan rakyat (d) Penilaian masyarakat terhadap pola kemitraan hutan rakyat

Masing-masing indikator tersebut dituangkan dalam 4 item pertanyaan sehingga untuk penilaian persepsi menggunakan 16 item pertanyaan dan setiap item pertanyaan mempunyai 3 alternatif jawaban yang diberi nilai 1 sampai dengan 3. Atas dasar itu maka nilai yang menggambarkan tentang persepsi setiap responden berkisar antara 16 dan 48. Nilai 16 merupakan nilai yang terendah dan nilai 48 merupakan nilai tertinggi, selanjutnya nilai persepsi dikelompokkan dalam 3 kategori sebagai berikut :

(a) Persepsi tinggi, apabila jumlah nilai Lebih dari 37 (b) Persepsi sedang, apabila jumlah nilai antara 26 – 37 (c) Persepsi rendah, apabila jumlah nilai kurang dari 26

Nilai rata-rata persepsi diperoleh dengan menjumlahkan total nilai persepsi dari responden dibagi dengan jumlah responden sebanyak 149 orang, sedangkan nilai rata-rata penilaian petani apabila lahannya dipakai untuk hutan rakyat, penilaian masyarakat terhadap manfaat hutan rakyat, penilaian masyarakat terhadap jenis tanaman untuk hutan rakyat dan penilaian masyarakat terhadap pola kemitraan hutan rakyat diperoleh dengan menjumlahkan masing-masing penilaian dibagi dengan jumlah responden sebanyak 149 orang.

(2) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Masyarakat

Dalam pembahasan persepsi masyarakat dalam pembangunan hutan rakyat pola kemitraan terdapat dua jenis variabel, yaitu variabel bebas (independent variable) dan variabel tidak bebas (dependent variable). Sebagai variabel bebas adalah : (a) Umur ( X1.1 ) (b) Pendidikan ( X1.2 ) (c) Penyuluhan ( X1.3 ) (d) Pengalaman ( X1.4) (e) Ekonomi ( X1.5 ) (f) Pemahaman Program

(

X1.6 )

Sedangkan variabel tidak bebasnya adalah persepsi masyarakat dalam pembangunan hutan rakyat pola kemitraan ( Y1 ).

Untuk mengukur variabel penelitian dipergunakan skala ordinal. Dengan skala ordinal dapat diperoleh perbedaan nilai dan tingkatan variabel yang berurutan. Melalui daftar pertanyaan dapat dilakukan pengukuran variabel, khususnya bagi pertanyaan tertutup atau pertanyaan yang telah disediakan jawabannya. Penentuan skor digunakan skala Likert dengan kriteria 3, 2 dan 1 (Malo 1986). Skala ini berfungsi mempermudah dalam analisis statistik.

Sedangkan untuk mengetah ui hubungan atau pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas dilakukan dengan menggunakan analisis regresi dengan model fungsi persepsi petani hutan rakyat sebagai berikut :

Dimana :

Y1

= Persepsi Petani

X1.1

= Umur

X1.2

= Pendidikan

X1.3

= Penyuluhan

X1.4

= Pengalaman

Y1 = f ( X

1.1

, X

1.2

, X1.3, X1.4, X1.5, X

1.6,)

X1.5

= Ekonomi

X1.6

= Pemahaman program

Kemudian dilanjutkan dengan uji F dan uji t. Uji F dipergunakan untuk melihat pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel tidak bebas. Sedangkan untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas secara sendiri-sendiri dipergunakan uji t.

(3) Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Hutan Rakyat Pola Kemitraan

Dalam penilaian tinggi rendahnya partisipasi masyarakat terhadap pembangunan hutan rakyat pola kemitraan, untuk mengetahuinya dipergunakan indikator pertanyaan keterlibatannya pada kegiatan :

(a) Partisipasi dalam kegiatan perencanaan

(b) Partisipasi dalam aktivitas kelompok tani hutan rakyat

(c) Partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan pembibitan, penanaman, pemeliharan dan pelatihan hutan rakyat

(d) Partisipasi dalam pengamanan, evaluasi kegiatan dan pemanfaatan hasil

Masing-masing indikator tersebut dituangkan dalam 4 item pertanyaan sehingga untuk penilaian tingkat partisipasi menggunakan 16 item pertanyaan dan setiap item pertanyaan mempunyai 3 alternatif jawaban yang diberi nilai 1 sampai dengan 3. Atas dasar itu maka nilai yang menggambarkan tentang partisipasi setiap responden berkisar antara 16 dan 48. Nilai 16 merupakan nilai yang terendah dan nilai 48 merupakan nilai tertinggi dan dan selanjutnya dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :

(a) Partisipasi tinggi, apabila jumlah nilai Lebih dari 37 (b) Partisipasi sedang, apabila jumlah nilai antara 26 – 37 (c) Partisipasi rendah, apabila jumlah nilai kurang dari 26

Nilai rata-rata partisipasi diperoleh dengan menjumlahkan total nilai partisipasi dari responden kemudian dibagi dengan jumlah responden sebanyak 149 orang, sedangkan nilai rata-rata partisipasi setiap kegiatan yaitu partisipasi dalam keg iatan perencanaan, partisipasi dalam aktivitas kelompok tani hutan

rakyat, partisipasi dalam tahap pelaksanaan dan partisipasi dalam pengamanan, evaluasi kegiatan dan pemanfaatan hasil diperoleh dengan menjumlahkan masing- masing penilaian dan dibagi dengan jumlah responden sebanyak 149 orang.

(4) Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Partisipasi Masyarakat

Sebagai mana dalam pembahasan persepsi, dalam pembahasan partisipasi masyarakat dalam pembangunan hutan rakyat pola kemitraan terdapat dua jenis variabel, yaitu variabel bebas (independent variable) dan variabel tidak bebas (dependent variable).

Sebagai variabel bebas adalah :

(a) Persepsi Petani ( X2.1 )

(b) Kelembagaan Hutan Rakyat ( X2.2 )

(c) Tokoh Masyarakat

(

X2.3 )

(d) Hak dan Kewajiban

(

X2.4 )

(e) Kebijakan Pemerintah

(

X2 .5 )

(f) Keaktifan

(

X2.6 )

(g) Status Sosial

(

X2.7 )

Sedangkan variabel tidak bebasnya adalah Partisipasi masyarakat dalam pembangunan hutan rakyat pola kemitraan ( Y2 ).

Variabel dalam penelitian dipergunakan skala ordinal. Dengan skala ordinal dapat diperoleh perbedaan nilai dan tingkatan variabel yang berurutan. Melalui daftar pertanyaan dapat dilakukan pengukuran variabel, khususnya bagi pertanyaan tertutup atau pertanyaan yang telah disediakan jawabannya. Penentuan skor digunakan skala Likert dengan kriteria 3, 2 dan 1 (Malo 1986). Skala ini berfungsi mempermudah dalam analisis statistik.

Sedangkan untuk mengetahui hubungan atau pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas dilakukan dengan menggunakan analisis regresi dengan model fungsi partisipasi petani hutan rakyat sebagai berikut :

Dimana :

Y2 = Partisipasi Petani

X2.1

= Persepsi Petani

X2.2

= Kelembagaan Hutan Rakyat

X2.3

= Tokoh Masyarakat

X2.4

= Hak dan Kewajiban

X2.5

= Kebijakan Pemerintah

X2.6

= Keaktifan

X2.7

= Status Sosial

Kemudian dilanjutkan dengan uji F dan uji t. Uji F dipergunakan untuk melihat pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel tidak bebas. Sedangkan untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas secara sendiri-sendiri dipergunakan uji t.

IV. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

4.1. Gambaran Umum Kabupaten Musi Rawas

Karakteristik Umum Wilayah Kabupaten Musi Rawas

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Daerah Kabupaten Musi Rawas nomor 18 tahun 2000 tentang Pembentukan Lima Kecamatan di Wilayah Kabupaten Musi Rawas dan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 7 tahun 2001 tentang pembentukan kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas memiliki wilayah administrasi kecamatan sebanyak 17 kecamatan yaitu Kecamatan Rawas Ulu, Ulu Rawas, Rupit, BKL Ulu, Selangit, Muara Beliti, Tugumulyo, Jayaloka, Muara Kelingi, Muara Lakitan, Megang Sakti, Rawas Ilir, Karang Dapo, Karang Jaya, Purwodadi, BTS Ulu dan Nibung.

Wilayah kabupaten Musi Rawas yang terletak di bagian barat Propinsi Sumatera Selatan, dengan batas-batas sebagai berikut:

• Sebelah Utara dengan Propinsi Jambi • Sebelah Selatan dengan Kabupaten Lahat • Sebelah Barat dengan Propinsi Bengkulu

• Sebelah Timur dengan Kabupaten Musi Banyu Asin dan Kabupaten Muara Enim

Secara geografis Kabupaten Musi Rawas terletak pada 102 O – 103 O 45’ Bujur Timur dan 2 O – 3 O 40’Lintang Selatan dengan ketinggian 129 meter diatas permukaan laut. Kabupaten Musi Rawas dengan luas 20.837 Km2 sebagaian besar bertopografi relatif datar sampai berombak dengan kelerengan 0 sampai 15 %. Jenis tanah aluvial coklat kekuningan, assosiasi podsolik coklat, latosol coklat kemerahan dan podsolik coklat kekuningan yang terbentuk dari formasi Palembang. Kabupaten Musi Rawas mempunyai iklim tropis dan termasuk tipe iklim A dengan curah hujan 2000-3000 mm/tahun, jarang dijumpai bulan kering.

Di Kabupaten Musi Rawas banyak terdapat sungai-sungai besar yang dapat dilayari, kebanyakan sungai-sungai tersebut bermata air di Bukit Barisan. Sungai- sungai besar di Kabupeten Musi Rawas adalah Sungai Rawas, Sungai Lakitan,

Sungai Kelingi, Sungai Rupit, Sungai Beliti dan Sungai Musi. Sebagian wilayah Musi Rawas masih merupakan hutan, oleh karena itu masih banyak dijumpai jenis –janis kayu hutan seperti Merawan, Sungkai, Merbau, Kolim dan Pulai.

Kependudukan

Kabupaten Musi Rawas merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sumatera Selatan mempunyai jumlah penduduk 456.228 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 219.674 Jiwa dan perempuan sebanyak 236.581 jiwa. Apabila dibandingkan dengan luas wilayah kabupaten, tingkat kepadatan penduduknya sebesar 22 jiwa/km2. Rincian jumlah penduduk Kabupaten Musi Rawas per kecamatan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Sebaran Penduduk Kabupaten Musi Rawas Menurut Jenis Kelamin

Luas

Wilayah Jumlah penduduk Kepadatan Kecamatan

( km2 ) Laki-laki Perempuan jumlah Penduduk

1. Rawas Ulu 1,187 13,091 15,091 28,182 24 2. Ulu Rawas 1,291 4,575 5,227 9,802 8 3. Rupit 4,241 10,472 15,776 26,248 6 4. BKL Ulu 1,150 20,411 20,977 41,388 36 5. Selangit 1,025 8,362 7,633 15,995 16 6. Muara Beliti 1,330 13,229 17,384 30,613 23 7. Tugumullyo 207 18,778 19,257 38,035 184 8. Jayaloka 408 10,084 12,765 22,849 56 9. Muara Kelingi 1,300 27,642 24,207 51,849 40 10. Muara lakitan 4,369 13,205 18,487 31,692 7 11. MegangSakti 940 20,132 23,928 44,060 47 12. Rawas Ilir 1,129 11,745 9,312 21,057 19 13. Karang Dapo 398 8,136 7,942 16,078 40 14. Karang Jaya 328 13,230 11,966 25,196 77 15. Purwodadi 41 6,595 7,028 13,623 332 16. BTS Ulu 758 12,524 9,444 21,968 29 17. Nibung 735 7,436 10,157 17,593 24 Jumlah 20,837 219,647 236,581 456,228 22

Adapun besarnya angka ketergantungan sebesar 40,09 persen, artinya bahwa dari 100 orang penduduk usia produktif (15-60 tahun) menanggung 40 orang usia non produktif.

Dokumen terkait