BAB VII ANALISIS DATA
2. Analisis Data Penelitian Linguistik Nonstruktural
2. Analisis Data Penelitian Linguistik Nonstruktural
Penelitian linguistik nonsruktural yang dimaksudkan di sini antara lain meliputi penelitian sosiolinguistik, pragmatik, semantik, psikolinguistik, dan etnolinguistik. Penelitian linguistik nonstruktural ini dapat juga disebut penelitian linguistik makro yang kadangkala dipertentangkan dengan penelitian linguistik mikro.
Analisis data dalam penelitian linguistik nonstruktural sesungguhnya dapat dibedakan atas dua macam yaitu analisis data secara kuantitatif dan analisis data secara kualitatif.
Perbedaan ini bergantung pada sifat data yang dikumpulkan. Menurut Wignjosoebroto (1994:269) apabila data yang dikumpulkan itu hanya sedikit, bersifat monografis atau berwujud kasus-kasus sehingga tidak dapat disusun ke dalam suatu struktur klasifikatoris, analisisnya pastilah kualitatif. Sebaliknya, jika jumlah data yang dikumpulkan tergolong besar dan mudah diklasifikasikan ke dalam kategori-kategori (dan oleh karenanya lalu berstruktur), analisis kuantitatiflah yang digunakan. Masing-masing diuraikan di bawah ini.
66
2.1 Analisis Data Dengan Metode Analisis Deskriptif Kuantitatif
Uraian pada bagian ini disarikan dari Wignjosoebroto (1994:269-280). Pada garis besarnya, ada tiga tahap dalam analisis kuantitatif dan ketiganya saling berkaitan satu dengan yang lain Tahap pertama adalah tahap pendahuluan atau sering disebut tahap pengolahn data. Tahap kedua adalah tahap pengorganisasian data. Tahap ketiga adalah tahap penemuan hasil. Lebih lanjut, dikatakan bahwa dibandingkan dengan analisis kualitatif, analisis kuantitatif memang jauh lebih mampu memperlihatkan hasil yang cermat. Namun, kelebihan dalam hal kecermatan tidaklah berarti bahwa pada analisis kuantitatif selalu ada kelebihan dalam hal derajat kebenarannya. Kecermatan dalam tahap analisis tidaklah menjamin bahwa setiap hasil yang diperoleh selalu benar. Data yang palsu, misalnya, bisa saja dianalisis secara cermat, tetapi hasil yang diperoleh tetap akan bersifat cacat.
Pengolahan data merupakan kegiatan pendahuluan dari analisis kuantitatif yang biasanya meliputi editing dan koding. Tugas pokok peneliti dalam tahap editing ini adalah
Setelah tahap editing selesai dilakukan, tahap selanjutnya adalah koding yaitu usaha mengklasifikasi jawaban-jawaban para responden/informan menurut macamnya. Klasifikasi itu dilakukan dengan menandai masing-masing jawaban dengan kode tertentu lazimnya dalam bentuk angka. Setiap kategori jawaban mempunyai angka kode tersendiri. Kesulitan koding sebenarnya tidak akan muncul jika peneliti (terutama para pengumpul data telah tahu terlebih dahulu kategori-kategori apa saja yang kiranya akan diadakan untuk menggolong-golongkan jawaban yang terkumpul.
Seperti kita ketahui bahwa sewaktu mengumpulkan data, seorang peneliti (pewawancara) akan mendapat beratus-ratus jawaban. Agar dapat dipakai sebagai data yang mudah dianalisis untuk menjawab masalah penelitian, jawaban-jawaban itu sepatutnya diringkas. Peringkasan itu dilakukan dengan cara menggolong-golongkan ratusan jawaban tersebut ke dalam kategori-kategori yang jumlahnya terbatas. Hal ini hanya mungkin
67
dilakukan jika si peneliti telah mempersiapkan terlebih dahulu suatu perangkat kategori.
Dengan menyiapkan perangkat kategori, proses koding termasuk juga proses analisis akan mudah dikerjakan.
Ada tiga hal (petunjuk) yang perlu diperhatikan dalam penyiapan kategori yaitu:
(1) Setiap perangkat kategori harus dibuat dengan mendasarkan diri pada satu azas kriterium yang tunggal.
(2) Setiap perangkat kategori harus dibuat lengkap sehingga tidak ada satu pun jawaban responden/informan yang tidak memperoleh tempat dalam kategori-kategori yang disiapkan.
(3) Kategori yang satu dengan kategori yang lain (dalam setiap perangkat) harus terpisah dengan tegas dan tidak boleh tumpang tindih sehingga setiap jawaban responden yang masuk tidak akan mungkin dimasukkan ke dalam lebih dari satu kategori.
Setelah koding selesai dilakukan, kita akan memperoleh data jawaban yang seluruhnya sudah berada di dalam keadaan terdistribusi ke dalam kategori-kategori. Dengan perkataan lain, kini setiap kategori telah menampung dan memuat data dalam jumlah (frekuensi) tertentu. Pada akhir tahap koding inilah, kita akan memperoleh distribusi data dalam frekuensi tertentu pada masing-masing kategori yang ada. Tugas selanjutnya adalah menghitung besarnya frekuensi data pada masing-masing kategori. Perhitungan ini dapat dilakukan secara sederhana dengan tangan atau dengan bantuan alat-alat elektronik yang lebih canggih. Proses menghitung frekuensi di dalam masing-masing kategori disebut tabulasi. Karena hasil penghitungan itu hampir selalu disajikan dalam bentuk tabel, istilah tabulasi diartikan juga sebagai proses penyusunan data ke dalam bentuk tabel. Dengan tabulasi ini, dianggap data sudah selesai diproses. Dengan tabulasi ini, data lapangan akan tampak ringkas dan bersifat merangkum. Dalam keadaan yang ringkas, data dapat dibaca dengan mudah dan maknanya pun mudah dipahami.
2.2 Analisis Data dengan Metode Analisis Deskriptif Kualitatif
Jika pada bagian yang lalu dijelaskan cara menganalisis data dengan teknik analisis biasa, yakni analisis yang hanya menggunakan paparan sederhana, baik menggunakan jumlah data maupun persentase maka pada bagian ini akan disampaikan teknik analisis yang sedikit berbeda dengan yang pertama, yaitu menggunakan tolok ukur. Bagi para pembaca yang pernah mempelajari evaluasi tentu teringat dengan istilah pengukuran dan penilain.
68
Pengukuran merupakan pekerjaan yang berkaitan dengan angka dan bersifat kuantitatif, sedangkan penilaian merupakan pekerjaan yang bersifat kualitatif. Analisis deskritif kualitatif sejajar dengan kegiatan kedua karena mengarah pada predikat.
Analisis data yang menggunakan teknik deskritif kualitatif memanfaatkan persentasi hanya merupakan langkah awal saja dari keseluruhan proses analisis. Persentase yang dinyatakan dalam bilangan sudah jelas merupakan ukuran yang bersifat kuantitatif, bukan kualitatif. Analisis kualitatif tentu harus dinyatakan dalam sebuah predikat yang menunjuk pada pernyataan dalam kualitas. Oleh karena itu hasil penilaian yang berupa bilangan tersebut harus diubah menjad sebuah predikat, misalnya :‖baik‖,‖cukup‖, ―kurang baik‖, dan ―tidak baik‖ (lima tingkatan).
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa menganalisis dengan deskriptif kualitatif adalah memberikan predikat kepada variabel yang diteliti sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Predikat yang diberikan tersebut dalam bentuk peringkat yang sebanding dengan atau atas dasar kondisi yang diinginkan. Agar pemberian predikat dapat tepat maka sebelum dilakukan pemberian predikat, dilakukan kondisi tersebut diukur dengan persentase, baru kemudian ditransfer ke predikat.
Dengan analisis deskriptif kualitatif, hal-hal khusus yang ditemukan dalam penelitian dikumpulkan bersama-sama lalu dibuat abstraksinya (Bogdan dan Bilklen, 1990). Data dan bukti-bukti yang diperoleh tidak dimaksudkan untuk membuktikan atau menolak hipotesis.
Pengelompokan dan pengabstraksian dilakukan secara terus-menerus selama pengumpulan data tanpa harus menunggu berakhirnya seluruh proses pengumpulan data.