• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

4.2 Analisis Data Penelitian

Statistik deskriptif memberikan gambaran mengenai nilai minimum,

nilai maksimum, nilai rata-rata, dan standar deviasi data variable-variabel

yang digunakan dalam penelitian ini. Distribusi statistik deskriptif untuk

masing-masing variable terdapat pada Tabel 4.1 berikut:

Table 4.1 Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

enterprise size 66 10,92 13,72 12,1103 ,72081

growth opportunity 66 -,39 ,72 ,1047 ,15966

Likuiditas 66 ,65 11,74 3,1018 2,28201

Debt Ratio 66 ,09 ,89 ,3680 ,16919

Valid N (listwise) 66

Berdasarkan data dari Table 4.1 dapat dijelaskan bahwa:

1. Variabel independen ukuran perusahaan memiliki nilai terendah 10,92 dan

nilai tertinggi 13,72 dengan nilai rata-rata 12,1103 dan standar deviasi

0,72081.

2. Variabel independen peluang pertumbuhan memiliki nilai terendah -0,39

dan nilai tertinggi 0,72 dengan nilai rata-rata 0,1047 dan standar deviasi

0,15966.

3. Variabel independen likuiditas memiliki nilai terendah 0,65 dan nilai

tertinggi 11,74 dengan nilai rata-rata 3,1018 dan standar deviasi 2,28201.

4. Variabel dependen rasio hutang memiliki nilai terendah 0,09 dan nilai

tertinggi 0,89 dengan nilai rata-rata 0,3680 dan standar deviasi 0,16919.

4.2.2 Pengujian Asumsi Klasik

Menguji hipotesis akan dilakukan dengan menggunakan analisis

regresi linier berganda. Namun, terlebih dahulu akan diuji mengenai ada

tidaknya penyimpangan terhadap asumsi klasik yang diperlukan untuk

mendapatkan model regresi yang baik.

4.2.2.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal

atau tidak dengan membuat hipotesis sebagai berikut:

Ho: data residual terdistribusi normal

Ha: data residual terdistribusi tidak normal

a. Analisis grafik

b. Analisis Probability Plot

c. Uji Kolmogorov-Smirnov

Analisis grafik dapat digunakan dengan dua alat, yaitu grafik

histogram dan grafik P-Plot. Data yang baik adalah data yang memiliki

pola distribusi normal. Pada grafik histogram, data yang mengikuti atau

mendekati distribusi normal adalah distribusi data dengan bentuk

lonceng. Pada grafik P-Plot, apabila titik-titik data tidak banyak

menyebar ke kiri atau ke kanan, melainkan menyebar di sekitar garis

diagonal, maka data tersebut berdistribusi normal.

Gambar 4.1

Uji Normalitas Histogram

Dengan melihat tampilan grafik histogram pada gambar 4.1,

garis tersebut menyentuh hampir semua titik pada batang histogram

yang menunjukkan bahwa data terdistribusi normal.

Gambar 4.2

Uji Normalitas Grafik P-Plot

Pada grafik P-Plot pada gambar 4.2 diatas dapat dilihat

bahwa titik-titik menyebar di sepanjang garis diagonal dan tidak

menjauhi garis tersebut. Hal ini juga menunjukkan bahwa data

terdistribusi normal.

Pengujian normalitas data dengan hanya melihat grafik tidak

cukup, sehingga kita perlu melakukan uji normalitas data dengan

menggunakan statistik agar lebih meyakinkan. Untuk memastikan

apakah data di sepanjang garis diagonal berdistribusi normal atau tidak,

maka dilakukan uji Kolmogorov-Smirnov. Jika nilai signifikansinya

signifikansinya lebih kecil dari 0,05 maka data tidak terdistribusi

normal.

Table 4.2 Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 66

Normal Parametersa,,b Mean ,0000000

Std. Deviation ,11547561

Most Extreme Differences Absolute ,127

Positive ,127

Negative -,068

Kolmogorov-Smirnov Z 1,030

Asymp. Sig. (2-tailed) ,240

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Hasil uji Kolmogorov-Smirnov pada tabel diatas

menunjukkan nilai profitabilitas = 0,240. Dengan demikian, data pada

penelitian ini terdistribusi normal dan dapat digunakan untuk

melakukan uji hipotesis karena 0,240 > 0,05.

4.2.2.2 Uji Heterokedastisitas

Menurut Ghozali (2006), uji heterokedastisitas bertujuan

untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan

variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.

Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas atau

terjadi homoskedastisitas. Cara yang digunakan untuk mendeteksi ada

tidaknya gejala heterokedastisitas adalah dengan melihat grafik

Uji ini dilakukan dengan mengamati pola tertentu pada

grafik scatterplot, dimana bila ada titik-titik yang menyebar di atas dan

di bawah angka 0 pada sumbu Y serta tidak membentuk pola, maka

tidak terjadi heterokedastisitas.

Gambar 4.3

Uji Heterokedastisitas (Scatterplot)

Pada gambar 4.3 tentang grafik scatterplot di atas dapat

terlihat titik-titik menyebar acak dan tidak membentuk suatu pola

tertentu yang jelas serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0

pada sumbu Y. Hal ini menunjukkan tidak terjadinya heterokedastisitas,

sehingga model regresi layak digunakan untuk melihat pengaruh

variabel independen terhadap variabel dependen.

4.2.2.3 Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menganalisis apakah dalam

model regresi linear terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu

adalah yang bebas dari autokorelasi. Untuk mendeteksi masalah

autokorelasi dapat dilakukan dengan menggunakan uji Durbin Watson.

Cara mendeteksinya yaitu dengan mengamati hal berikut:

a. Angka D-W di bawah -2 berarti ada autokorelasi positif.

b. Angka D-W di antara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi.

c. Angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif.

Tabel 4.3

Hasil Uji Autokorelasi

Tabel 4.3 memperlihatkan nilai statistik D-W sebesar 1,831.

Angka ini terletak di antara -2 sampai +2, sehingga dapat disimpulkan

bahwa tidak terjadi autokorelasi dalam penelitian ini.

4.2.2.4 Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada

model regresi ditemukan adanya korelasi diantara variabel bebas.

Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara

variabel independen. Deteksi dilakukan dengan melihat nilai VIF

(Variable Inflation Factor) dan nilai tolerance. Multikolinearitas terjadi

jika VIF > 10 dan nilai tolerance < 0,10.

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,731a ,534 ,512 ,11824 1,831

a. Predictors: (Constant), likuiditas, growth opportunity, enterprise size b. Dependent Variable: Debt Ratio

Tabel 4.4 Uji Multikolinearitas Coefficientsa Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant) enterprise size ,945 1,059 growth opportunity ,981 1,019 likuiditas ,942 1,062

a. Dependent Variable: Debt Ratio

Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat dilihat bahwa tidak ada

satupun variabel bebas yang memiliki nilai VIF lebih dari 10 dan tidak

ada yang memiliki nilai tolerance lebih kecil dari 0,1. Jadi, dapat

disimpulkan bahwa penelitian ini bebas dari adanya multikolinearitas

dan semua variabel bebas yang dipakai dalam penelitian ini lolos uji

gejala multikolinearitas.

4.3 Pengujian Hipotesis

4.3.1 Uji Koefisien Determinasi (R2)

Nilai yang digunakan untuk melihat uji koefisien determinasi adalah

nilai Adjusted R2 yang pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan variabel independen dalam menerangkan variasi variabel dependen. Dalam

hal ini adjusted R2 digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel ukuran perusahaan, peluang pertumbuhan, dan likuiditas terhadap

rasio hutang.

Pada penelitian ini adjusted R2 yang digunakan antara 0 dan 1. Jika nilai adjusted R2 semakin mendekati 1, maka semakin baik kemampuan

Tabel 4.5

Uji Koefisien Determinasi (R2)

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 ,731a ,534 ,512 ,11824

a. Predictors: (Constant), likuiditas, growth opportunity, enterprise size b. Dependent Variable: Debt Ratio

Besarnya adjusted R2 berdasarkan hasil analisis statistik yang diperoleh sebesar 0,512. Dengan demikian, besarnya pengaruh ukuran

perusahaan, peluang pertumbuhan, dan likuiditas terhadap rasio hutang

adalah sebesar 51,2%. Sedangkan sisanya sebesar 48,8% dipengaruhi oleh

faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

4.3.2 Uji Simultan (Uji F)

Uji ini bertujuan untuk menguji pengaruh antara variabel

independen terhadap variabel dependen secara bersama-sama. Apabila

probabilitas (signifikansi) lebih besar dari α (0,05), maka variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel rasio hutang.

Tetapi jika signifikansi lebih kecil dari α (0,05), maka variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel rasio hutang.

Pengujian hipotesis uji F ini digunakan untuk melihat apakah

secara keseluruhan variabel bebas mempunyai pengaruh yang bermakna

terhadap variabel terikat. Dari pengujian simultan diperoleh hasil sebagai

Tabel 4.6

Hasil Uji Simultan (Uji F)

ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression ,994 3 ,331 23,698 ,000a

Residual ,867 62 ,014

Total 1,861 65

a. Predictors: (Constant), likuiditas, growth opportunity, enterprise size b. Dependent Variable: Debt Ratio

Pada tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa nilai probabilitas uji

simultan ini adalah sebesar 0,000 < 0,05 dan dari tabel diatas menunjukkan

bahwa nilai Fhitung > Ftabel (23,698 > 2,75). Berdasarkan hasil tersebut, maka

dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan, peluang pertumbuhan, dan

likuiditas secara simultan berpengaruh signifikan terhadap rasio hutang.

4.3.3 Uji Signifikansi Parsial (Uji t)

Uji t digunakan untuk mengetahui hubungan antara

variabel-variabel independen terhadap variabel-variabel dependen secara parsial (individu).

Jika probabilitas (signifikansi) lebih besar dari 0,05 (α), maka variabel bebas secara individu tidak berpengaruh terhadap rasio hutang. Jika signifikansi

lebih kecil dari 0,05, maka variabel bebas secara individu berpengaruh

Tabel 4.7

Hasil Uji Parsial (Uji t)

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) ,594 ,259 2,297 ,025 enterprise size -,003 ,021 -,014 -,154 ,878 growth opportunity -,174 ,093 -,164 -1,876 ,065 likuiditas -,054 ,007 -,734 -8,216 ,000

a. Dependent Variable: Debt Ratio

Pada tabel 4.7 diatas dapat diambil kesimpulan bahwa variabel

ukuran perusahaan memiliki nilai probabilitas sebesar 0,878 (lebih besar dari

0,05) sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap rasio hutang. Variabel

peluang pertumbuhan memiliki nilai probabilitas sebesar 0,065 (lebih besar

dari 0,05) sehingga tidak berpegaruh signifikan terhadap rasio hutang.

Variabel likuiditas memiliki nilai probabilitas sebesar 0,000 (lebih kecil dari

0,05) sehingga berpengaruh signifikan terhadap rasio hutang.

Dari tabel 4.7 diatas dapat diperoleh model persamaan regresi

berganda sebagai berikut:

Y = 0,594 – 0,003X1 – 0,174X2 – 0,054X3 + e

a. Koefisien konstan adalah 0,594 menyatakan jika X1, X2, dan X3 adalah 0, maka rasio hutang adalah 0,594.

b. Ukuran perusahaan mempunyai koefisien regresi ke arah negatif sebesar

-0,003. Hal ini berarti bahwa kenaikan sebesar 1 persen variabel ukuran

perusahaan akan menyebabkan rasio hutang perusahaan mengalami

c. Peluang pertumbuhan mempunyai koefisien regresi ke arah negatif sebesar

-0,174. Hal ini berarti bahwa kenaikan sebesar 1 persen variabel peluang

pertumbuhan akan menyebabkan rasio hutang perusahaan mengalami

penurunan sebesar 0,174 persen.

d. Likuiditas mempunyai koefisien ke arah negatif sebesar -0,054. Hal ini

berarti bahwa kenaikan sebesar 1 persen variabel likuiditas akan

menyebabkan rasio hutang perusahaan mengalami penurunan sebesar

0,054 persen.

Dokumen terkait