• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

B. Analisis Data Penelitian

Analisis hasil instrumen pengumpulan data dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar atau tidak antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil instrumen pengumpulan data yang akan dianalisis adalah hasil

tes kemampuan awal (pretest) kelas eksperimen dan kelas kontrol dan data nilai tes hasil belajar (posttest) kedua kelas tersebut. Hasil observasi keaktifan siswa juga dianalisis untuk mengetahui efektivitas proses pembelajaran dengan menggunakan media alat peraga “Kotak Geser” dilihat dari tingkat keaktifan siswa.

Analisis hasil instrumen pengumpulan data dan penyajian data adalah sebagai berikut:

1. Analisis data hasil belajar siswa

Instrumen-instrumen yang sudah melalui uji pakar (validitas oleh pakar), uji validitas dan reliabilitas dinyatakan layak untuk digunakan sebagai instrumen pengambilan data.

a. Tes kemampuan awal (pretest)

Tes kemampuan awal (pretest) dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Sejauh mana kemampuan siswa terhadap materi operasi perkalian dan pemfaktoran bentuk aljabar. Selain itu, tes kemampuan awal (pretest) juga digunakan untuk membandingkan kemampuan awal dari kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dengan melihat dan membandingkan nilai yang diperoleh dari pretest kedua kelas tersebut, peneliti dapat mengetahui kesetaraan kemampuan awal siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Terdapat dua kemungkinan yang dapat terjadi, yaitu kemampuan awal kedua kelas tersebut sama/setara atau kemampuan awal salah satu dari kedua kelas tersebut lebih unggul.

Hasil tes kemampuan awal (pretest) kelas eksperimen dan kelas kontrol akan ditampilkan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 4.2: Nilai Pretest Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Siswa Kelas VIII A (Kelas Eksperimen) Kelas VIII C (Kelas Kontrol) S1 9,52 23,81 S2 4,76 4,76 S3 0,00 0,00 S4 0,00 0,00 S5 0,00 33,33 S6 9,52 23,81 S7 1,29 23,81 S8 1,29 42,86 S9 0,00 4,76 S10 14,29 42,86 S11 0,00 14,29 S12 9,52 28,57 S13 14,29 28,57 S14 0,00 23,81 S15 9,52 33,33 S16 0,00 9,52 S17 14,29 23,81 S18 0,00 9,52 S19 0,00 14,29 S20 2,81 19,05 S21 0,00 0,00 S22 0,00 42,86 S23 0,00 42,86 S24 0,00 14,29 S25 0,00 14,29 Jumlah 138,10 519,05 Rata-rata 5,52 20,76

Keterangan :

S1 : Siswa dengan nomor absen 1 S2 : Siswa dengan nomor absen 2

Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa nilai rata-rata

pretest siswa kelas VIII adalah 5,52 sedangkan siswa kelas VIII C memperoleh nilai rata-rata pretest 20,76. Nilai rata-rata siswa kelas VIII C (kelas kontrol) lebih besar dibanding nilai rata-rata siswa kelas VIII A (kelas eksperimen). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kemampuan awal siswa kelas VIII A dan VIII C tidak sama/setara melainkan kemampuan awal siswa kelas VIII C lebih baik dan lebih unggul dibanding kemampuan awal siswa kelas VIII A.

b. Tes Hasil Belajar (Posttest)

Tes hasil belajar (posttest) dilaksanakan untuk melihat bagaimana hasil proses belajar siswa, baik proses belajar dengan menggunakan media alat peraga “Kotak Geser” (VIII A) maupun proses belajar dengan tanpa menggunakan media alat peraga “Kotak Geser” (VIII C). Nilai hasil belajar dari kedua kelas tersebut kemudian dibandingkan untuk mengetahui apakah nilai rata-rata siswa kelas eksperimen lebih baik atau lebih unggul dibanding nilai rata-rata siswa kelas kontrol.

Berikut ini adalah tabel nilai tes hasil belajar (posttest) siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol :

Tabel 4.3: Nilai Posttest Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Siswa Kelas VIII A (Kelas Eksperimen) Kelas VIII C (Kelas Kontrol) S1 56,67 60,00 S2 40,00 13,33 S3 13,33 13,33 S4 63,33 23,33 S5 23,33 60,00 S6 60,00 40,00 S7 50,00 43,33 S8 46,67 53,33 S9 40,00 53,33 S10 33,33 36,67 S11 16,67 33,33 S12 56,67 60,00 S13 86,67 56,67 S14 40,00 26,67 S15 26,67 43,33 S16 80,00 33,33 S17 40,00 00,00 S18 30,00 60,00 S19 66,67 26,67 S20 36,67 53,33 S21 76,67 43,33 S22 73,33 66,67 S23 63,33 60,00 S24 26,67 30,00 S25 6,67 16,67 Jumlah 1153,33 1006,67 Rata-rata 46,13 40,27 Keterangan :

S1 : Siswa dengan nomor absen 1 S2 : Siswa dengan nomor absen 2

Proses pengolahan data yang pertama kali dilakukan untuk menguji rata- rata nilai posttest dari kedua kelas tersebut adalah uji normalitas. Data yang berupa nilai posttest tersebut harus diuji normalitas terlebih dahulu agar dapat ditentukan uji hipotesis yang akan digunakan untuk menguji rata-rata nilai posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Uji normalitas dilakukan dengan perhitungan menggunakan SPSS 17.0. 1) Uji Normalitas

Uji normalitas data yang digunakan adalah uji normal One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test.

Hipotesa

� : Data berdistribusi normal

� : Data berdistribusi tidak normal

Pengambilan Keputusan :

a) Jika � < �dan � < �maka � diterima. Jika � > �dan � > �maka � ditolak.

b) Jika sig Posttest A > 0,0 dan sig Posttest B > 0,0 maka � diterima.

Jika sig Posttest A < 0,0 dan sig Posttest B < 0,0 maka � ditolak.

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh � = −0,02 < � =

0,2 0dan� = −0,0 < � = 0,2 0. Selain itu, tampak dalam tabel bahwa nilai Sig data dari kelas eksperimen adalah 0, lebih besar dari tingkat signifikansi 0,0 dan Sig data dari kelas kontrol adalah 0, lebih besar dari tingkat signifikansi 0,0 sehingga disimpulkan bahwa � diterima. Jadi, nilai posttest kelas eksperimen (VIII A) dan kelas kontrol (VIII B) berdistribusi normal. 2) Uji Kesamaan Beberapa Variansi

Sebelum melakukan uji rata-rata dengan menggunakan Uji

Independent Sample t-test, harus dilakukan uji kesamaan variansi terlebih dahulu. Uji kesamaan variansi ini dilakukan untuk melihat apakah variansi nilai posttest antara kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama.

Tabel 4.5: Uji Kesamaan Variansi

Hipotesa

� : variansi data kedua kelas sama.

� : variansi data kedua kelas tidak sama. Pengambilan Keputusan :

a) Jika > = 0, 2 maka � diterima. Jika < = 0, 2 maka � ditolak. b) Jika Sig. > 0,0 maka � diterima.

Jika Sig. < 0,0 maka � ditolak.

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh = 0, > 0, 2 dan dari uji kesamaan variansi yang dilakukan dengan menggunakan SPSS 17.0, diperoleh bahwa Sig. = 0, 2 lebih dari tingkat signifikasi 0,0 sehingga � diterima. Jadi, variansi data (nilai

posttest) kelas eksperimen (VIII A) dan kelas kontrol (VIII C) sama. 3) Uji Independent Sample t-test

Hipotesa

� : rata-rata nilai posttest kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kelas kontrol

� : rata-rata nilai posttest kelas eksperimen lebih rendah dibanding kelas kontrol

Pengambilan Keputusan :

a) Jika < ∝, = 2,0 maka � diterima. Jika > ∝, = 2,0 maka � ditolak. b) Jika Sig. > 0,0 maka � diterima.

Jika Sig. < 0,0 maka � ditolak.

Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai = ,0 < 2,0 dan tabel hasil perhitungan menggunakan SPSS 17.0 menunjukkan bahwa Sig. = 0, 2 > � = 0,0 sehingga � diterima. Jadi, rata- rata nilai posttest kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kelas kontrol, dengan kata lain terdapat perbedaan rata-rata nilai posttest

antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan rata-rata nilai kelas eksperimen lebih unggul dibanding kelas kontrol.

c. Efektivitas pembelajaran

Efektivitas pembelajaran ini ditinjau dari hasil belajar yang diperoleh siswa kelas eksperimen.

Hipotesa

� : proses pembelajaran dengan menggunakan media alat peraga “Kotak Geser” efektif

� : proses pembelajaran dengan menggunakan media alat peraga “Kotak Geser” tidak efektif

Persentase ketuntasan siswa diperoleh dengan rumus perhitungan sebagai berikut :

� = � ℎ � � ��� � � � ℎ � � �× 00%

Keterangan :

P : Persentase siswa yang tuntas mencapai KKM

Hasil persentase siswa kelas eksperimen (VIII A) dan kelas kontrol (VIII C) yang tuntas mencapai KKM disajikan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.7: Rangkuman Analisis Hasil Belajar (Posttest) Siswa Berdasarkan KKM Kelas Kontrol (VIII C) Kelas Eksperimen (VIII A)

Jumlah Siswa Persentase Jumlah Siswa Persentase

5 20% 1 4%

Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa persentase ketuntasan hasil belajar siswa kelas eksperimen (VIII A) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (VIII C). Selisih persentase kedua kelas tersebut sebesar 19%. Namun, persentase ketuntasan hasil belajar siswa kelas eksperimen belum mencapai target yaitu sebesar 60% (< 0%). Selain itu, persentase yang diperoleh kelas eksperimen kemudian dikonsultasikan dengan tabel kriteria efektivitas hasil belajar siswa secara kuantitatif. Berdasarkan tabel tersebut, penggunaan media alat peraga pada pembelajaran termasuk dalam tingkat efektivitas sangat rendah sehingga � ditolak. Jadi, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan media alat peraga “Kotak Geser” tidak efektif. Ada beberapa faktor yang menyebabkan tidak efektifnya penggunaan media alat peraga “Kotak Geser” dalam proses pembelajaran. Salah satunya adalah kondisi kelas yang kurang kondusif. Terdapat beberapa siswa yang sulit diatur dan suka membuat suasana kelas menjadi ramai. Sama seperti proses pembelajaran yang diampu oleh guru matematika SMP Kanisius Kalasan, siswa juga cenderung

ramai dan sulit diatur. Hal itu diketahui pada saat peneliti melakukan observasi sebelum melaksanakan penelitian. Selain itu, kurangnya jam pertemuan dan kurang maksimalnya pembuatan media alat peraga juga bisa membuat siswa tidak dapat memahami materi secara mendalam, sehingga tidak dapat memperoleh hasil belajar yang optimal.

d. Observasi keaktifan siswa

Pada proses pembelajaran dengan menggunakan media alat peraga “Kotak Geser”, siswa terlihat mau ikut serta dalam berperan. Meskipun belum semua siswa ikut berperan, namun hampir sebagian besar siswa ikut berperan aktif dalam proses pembelajaran. Pada saat peneliti menjelaskan materi dengan menggunakan media alat peraga, siswa ikut berpikir, menghitung, dan mengutarakan pendapatnya. Siswa juga terlihat dapat berdinamika dan bekerja sama dalam kelompok. Mereka berdiskusi dan saling membantu satu sama lain saat mengerjakan soal dengan menggunakan media alat peraga “Kotak Geser”. Siswa juga mau bertanya saat mereka merasa kesulitan. Keberanian mereka pun terlihat saat mau mempresentasikan hasil pekerjaannya didepan kelas. Terdapat beberapa kelompok saling berebut, tetapi ada juga yang masih merasa malu untuk tampil di depan kelas. Kekurangan siswa yang sangat terlihat yaitu siswa sangat malas apabila disuruh mencatat materi. Hal itu disebabkan oleh kebiasaan mereka yang tidak pernah mencatat saat melaksanakan proses pembelajaran dengan guru karena mereka merasa telah memiliki LKS. Keaktifan siswa juga dapat terlihat jelas dari hasil

observasi yang dilakukan oleh observer. Hasil observasi keaktifan siswa yang telah didapat kemudian diolah untuk melihat bagaimana tingkat keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media alat peraga “Kotak Geser”. Hasil observasi diolah secara perhitungan manual. Setiap indikator memiliki skor 1. Skor akan diakumulasi dalam setiap kelompok. Namun, pada indikator nomor 8, setiap kelompok maksimal mendapat skor 2 karena dalam tiap kelompok hanya dipilih 2 siswa untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya. Total skor atau skor maksimal yang dapat diperoleh dalam satu kelompok dapat dilihat dalam lampiran.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh observer, diperoleh data penilaian sebagai berikut :

Tabel 4.8: Hasil Observasi Keaktifan Siswa Pertemuan ke- Kelompok Skor Total yang

Diperoleh Jumlah Skor Tiap Pertemuan 1 1 28 146 2 29 3 25 4 33 5 31 2 1 28 153 2 32 3 27 4 34 5 32

Berdasar tabel tersebut, terlihat bahwa skor yang diperoleh selama 2 hari proses pembelajaran adalah dan .

1) Pertemuan pertama

Persentase keaktifan siswa = ���� ��� �ℎ

� × 00%

= 6× 00%

= , 2%

2) Pertemuan kedua

Persentase keaktifan siswa = ���� ��� �ℎ

� × 00%

= × 00%

= 2, %

Persentase keaktifan siswa yang diperoleh selama dua pertemuan adalah

, 2% dan 2, % . Hasil persentase keaktifan siswa yang diperoleh oleh kelas VIII A (kelas eksperimen) kemudian dibandingkan dengan tabel kriteria keaktifan siswa. Berdasarkan tabel kriteria keaktifan siswa, persentase atau frekuensi yang diperoleh pada proses pembelajaran selama dua kali pertemuan tersebut termasuk dalam kriteria aktif. Jadi, proses pembelajaran dengan menggunakan media alat peraga “Kotak Geser” efektif untuk menciptakan siswa yang aktif.

Dokumen terkait