• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 TINJAUAN PUSTAKA

4. Penetapan stasiun penelitian

3.4 Analisis Data

3.4.1 Analisis data ekologi a) Persentase tutupan karang

Dari data hasil LIT tersebut bisa di hitung nilai persentase tutupan karang hidup (hard coral maupun soft coral) untuk masing-masing kategori biota dan substrat yang berada di bawah garis transek. Analisis persentase tutupan karang hidup berdasarkan metode line intersect transect (LIT) dihitung berdasarkan formulasi Gomez and Yap (1988) yaitu :

Panjang tutupan karang hidup

Persentase tutupan (%) = x 100 %

Total panjang transek

Ni = li / L . 100 %

Dimana : Ni = Persen penutupan karang

li = Panjang total life form / jenis ke-i L = Panjang transek (70 m)

 75 - 100 % : Sangat baik  50 – 74.9 % : Baik

 25 – 49.9 % : Sedang  0 - 24.9 % : Rusak b) Analisis ikan karang

Untuk mengetahui kelimpahan masing-masing ikan karang dengan jumlah stasiun n, bisa dihitung kelimpahannya per satuan unit dengan rumus :

∑ ind. Jenis ikan karang pada sts – i Kelimpahan jenis ikan =

Luas transek

26

c) Analisis benthic fauna

Untuk mengetahui kelimpahan masing-masing benthic fauna karang dengan jumlah stasiun n, bisa dihitung kelimpahannya per satuan unit dengan rumus :

∑ ind. Benthic fauna pada sts – i Kelimpahan benthic fauna =

Luas transek

Untuk perhitungan analisis ekologis persentase tutupan karang, kelimpahan ikan karang dan kelimpahan benthic fauna dilakukan dengan menggunakan Ms.Excel 2007.

3.4.2 Analisis matriks kesesuaian untuk snorkeling

Kesesuaian wisata bahari kategori wisata snorkeling mempertimbangkan tujuh (7) parameter dengan tiga (3) klasifikasi penilaian. Parameter kesesuaian wisata snorkeling antara lain kecerahan perairan (%) dengan nilai bobot 5 dan mempunyai standar parameter (100) skor 3 (80 < 100) skor 3 (20-<80) skor 1 (<20) skor 0, tutupan komunitas karang (%) dengan nilai bobot 5 dan standar parameter (>75) skor 3 (>50-75) skor 2 (25-50) skor 1 (<25) skor 0, jumlah jenis

lifeform keragaman genus karang dengan bobot 3 dan standar parameter (>12)

skor 3 (<7-12) skor 2 (4-7) skor 1 (<4) skor 0, jumlah jenis ikan karang mempunyai bobot 3 dan standar parameter (>50) skor 3 (30-50) skor 2 (10-<30) skor 1 (<10) skor 0, kecepatan arus dengan bobot 1 dan standar parameter (0-15) skor 3 (>15-30) skor 2 (>30-50) skor 1 (>50) skor 0, kedalaman terumbu karang dengan bobot 1 dan standar parameter (1-3) skor 3 (>3-6) skor 2 (> 6-10) skor 1 (>10-<1) skor 0 dan lebar hamparan datar karang dengan bobot 1 dan standar parameter (>500) skor 3 (>100-500) skor 2 (20-100) skor 1 (<20) skor 0 dan mempunyai jumlah maximum yaitu 57 yang digunakan untuk pembagian jumlah bobot dikali jumlah skor untuk menghasil nilai indek kesesuaian wisata snorkeling (Yulianda 2007). Menentukan indek kesesuaian wisata bahari kategori wisata snorkeling berdasarkan spot stasiun penelitian dengan menkolektor beberapa parameter sesusai foam, tersaji pada matrik IKW snorkeling dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Matrik kesesuaian wisata bahari kategori wisata snorkeling

No. Parameter Bobot Standar Parameter Skor N (Bobot x

Skor) 1. Kecerahan perairan (%) 5 100 3 80 < 100 2 20 - < 80 1 < 20 0 2. Tutupan komunitas karang % 5 > 75 3 > 50 – 75 2 25 – 50 1 < 25 0 3. Σ Jenis (keragaman Genus) karang 3 > 12 3 < 7 -12 2 4 -7 1 < 4 0

4. Jenis ikan karang

3 > 50 3 30 – 50 2 10 - < 30 1 < 10 0 5. Kecepatan arus (cm/det) 1 0 – 15 3 >15 – 30 2 >30 – 50 1 > 50 0 6. Kedalaman terumbu karang (m) 1 1 – 3 3 > 3 – 6 2 >6-10 1 > 10-< 1 0 7. Lebar hamparan datar karang (m) 1 > 500 3 > 100 - 500 2 20 – 100 1 < 20 0 Σ N = Σ Nmaks = 57 IKW = Sumber : Yulianda (2007) IKW = Σ (Ni/Nmaks) 100 %

IKW = Indeks Kesesuaian Wisata

Ni = Nilai parameter ke-i (Bobot x Skor) Nmaks = Nilai maksimun dari suatu kategori wisata

Nilai maksimum = 57

Keterangan:

S1 = Sangat sesuai, dengan IKW 83-100 % S2 = Sesuai, dengan IKW 50 - < 83 % N = Tidak sesuai, dengan IKW < 50%

28

3.4.3 Analisis matrik kesesuaian untuk diving

Wisata bahari dikawasan terumbu karang dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu wisata diving, wisata snorkeling. Menurut Yulianda (2007) kesesuaian wisata bahari dalam kategori wisata diving mempertimbangkan enam parameter dengan tiga (3) klasifikasi penilaian. Parameter kesesuaian wisata bahari kategori wisata diving antara lain kecerahan perairan dengan nilai bobot 5 dan standar parameter (>80) skor 3 (50–80) skor 2 (20-<50) skor 1 (<20) skor 0, tutupan komunitas karang (karang keras, karang lunak dan biota lain) nilai bobot 5 dengan standar parameter (>75) skor 3 (>50-75) skor 2 (25-50) skor 1 (<25) skor 0, jenis lifefoom nilai bobot 3 dengan standar parameter (>12) skor 3 (<7-12) skor 2 (4-7) skor 1 (<4) skor 0 , jenis ikan karang dengan nilai bobot 3 dengan standar parameter (>100) skor 3 (50-100) skor 2 (20-<50) skor 1 (<20) skor 0, kecepatan arus memiliki nilai bobot 1 dengan standar parameter (0-15) skor 3 (>15-30) skor 2 (>30-50) skor 1 (>50) skor 0, dan kedalaman terumbu

karang dengan nilai bobot 1 dengan standar parameter (6-15) skor 3 (>15-20/3-<6) skor 2 (>20-30) skor 1 (>30-<3) skor 0. Potensi karang yang dapat

dimanfaatkan untuk pengembangan wisata selam terdiri dari karang keras, karang lunak, dan biota lain yang berasosiasi langsung dengan karang. Komunitas-komunitas ini mempunyai nilai daya tarik wisata karena mempunyai variasi morfologi dan warna yang menarik. Parameter karang yang digunakan untuk kesesuaian wisata diving adalah persentase tutupan komunitas karang yang terdiri dari karang keras, karang lunak dan biota lainnya masuk kategori “other fauna”. Sedangkan luas hamparan karang yang dapat dimanfaatkan untuk wisata diving dibatasi oleh kedalaman 30 meter. Selain parameter tutupan karang ada juga parameter lainnya seperti kecerahan perairan mempunyai nilai standar bobot yang sama dengan bobot tutupan karang, dimana kecerahan merupakan faktor pendukung untuk pertumbuhan karang, sehingga menjadi penentu untuk penetapan kesesuaian kawasan wisata diving. Penetapan indek kesesuain wisata

diving berdasarkan dalam penelitian ini berdasarka spot pengamatan di stasiun

penelitian. Matrik indek kesesuaian wisata bahari kategori wisata diving dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Matriks kesesuaian wisata bahari kategori wisata diving

No. Parameter Bobot Standar Parameter Skor N

(Bobot x Skor) 1. Kecerahan perairan (%) 5 > 80 3 50 – 80 2 20 - < 50 1 < 20 0 2. Tutupan komunitas karang % 5 > 75 3 > 50 – 75 2 25 – 50 1 < 25 0 3. Σ Jenis (keragaman Genus) karang 3 > 12 3 < 7 -12 2 4 -7 1 < 4 0

4. Jenis ikan karang

3 > 100 3 50 – 100 2 20 - < 50 1 < 20 0 5. Kecepatan arus (cm/det) 1 0 – 15 3 >15 – 30 2 >30 – 50 1 > 50 0 6. Kedalaman terumbu karang (m) 1 6 – 15 3 >15 – 20 / 3 - <6 2 >20 – 30 1 > 30 < 3 0 Σ N = Σ Nmaks = 54 IKW = Sumber : Yulianda (2007) IK W = ∑ ( Ni/Nmaks) 100 % IKW = Indeks Kesesuaian Wisata

Ni = Nilai parameter ke-i (Bobot x Skor)

Nmaks = Nilai maksimum dari suatu kategori wisata Nilai maksimum = 54

Keterangan:

S1 = Sangat sesuai, dengan IKW 83 – 100 % S2 = Sesuai dengan IKW 50 - < 83 %

N = Tidak sesuai, dengan IKW < 50%

Berdasarkan parameter-parameter tersebut disusun matriks kesesuaian, kelas-kelas kesesuaian pada matrik tersebut menggambarkan tingkat kecocokan dari suatu bidang untuk penggunaan tertentu. Dalam penelitian ini, kelas kesesuaian dibagi dalam dua kelas, yang didefenisikan sebagai berikut :

1) Kelas S1 : Sangat sesuai (highly suitable) : Kawasan ekosistem terumbu

30

kawasan wisata bahari (snorkeling dan diving) secara lestari, atau hanya mempunyai faktor pembatas yang kurang berarti dan tidak terpengaruh secara nyata terhadap kondisi kawasan tersebut, serta tidak menambah masukan (input) untuk dikembang sebagai objek wisata bahari.

2) Kelas S2 : Sesuai (Suitable) : kawasan ekosistem terumbu karang yang

mempunyai pembatas agak berat untuk pemanfaatan sebagai kawasan wisata bahari secara lestari. Faktor pembatas tersebut akan mengurangi pemanfaatan kawasan tersebut, sehingga diperlukan upaya tindakan-tindakan tertentu dalam membatasi pemanfaatan dan mengupayakan konservasi dan rehabilitasi.

3.4.4 Analisis penzonasian kawasan terumbu karang

Analisis penzonasian kawasan atau arahan pengeloaan pada penelitian ini, yaitu arahan pengembangan kawasan wisata bahari (Bakorsurtanal 1996; Arifin, 2001: Yulianda 2007). Pendekatan analisis keruangan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG), dengan menggunakan software Arc View Ver.3.3.

3.4.5 Analisis nilai visual foto komunitas karang

Untuk menentukan nilai visual pengembangan wisata bahari yaitu menggunakan metode Scenic Beauty Estimation (SBE). Tahapan yang dilakukan dalam menentukan nilai SBE ini di awali dengan penentuan titik pengamatan, pengambilan foto, seleksi foto, penilaian oleh responden. Adapun tahapan dalam penentuan nilai SBE, yaitu :

a. Penentuan hamparan titik pengamatan dan pengambilan foto, yaitu lokasi pengamatan yang memiliki nilai kesesuaian wisata snorkeling dan diving kategori S1 (sangat baik) dan S2 (baik). Pengambilan foto yaitu hamparan karang serta organisme yang berasosiasi dengan karang di stasiun penelitian. b. Seleksi foto, yaitu foto yang akan dipresentasikan/diperlihatkan pada

responden merupakan hasil seleksi dari seluruh foto yang diambil. Seleksi dilakukan dengan memilih foto yang dianggap dapat mewakili keanekaragaman ekosistem terumbu karang yang dilihat hamparan karang di stasiun penelitian. Untuk mengurangi bias akibat pengaruh cahaya perairan, maka dilakukan editing dengan menggunakan software ACDSee, sehingga

diharapkan foto yang dipresentasikan pada responden memiliki kualitas gambar yang sama dengan aslinya.

c. Penilaian oleh responden, yaitu: Responden yang dipilih wisatawan asing/lokal, pelaku wisata selam atau penyelam yang memiliki sertifikasi selam A1. Jumlah responden yang pilih sebanyak 50 orang. Penilaian oleh responden dalam bentuk memperlihatkan foto yang telah dipilih dalam bentuk kuisioner dan penayangan LCD Proyektor dalam bentuk presentasi. Dari setiap foto yang ditampilkan responden akan menilai setiap foto yang ditampilkan dengan memberikan skor 1 sampai 10, dimana skor 1 menunjukkan nilai yang paling tidak disukai dan skor 10 merupakan nilai yang paling disukai.

d. Perhitungan nilai visual dengan menggunakan Metode SBE diawali dengan tabulasi data, perhitungan frekuensi setiap skor (f), perhitungan frekuensi kumulatif (cf) dan cumulative probabilities (cp). Selanjutnya dengan menggunakan Tabel z ditentukan nilai z untuk setiap nilai cp. Khusus untuk nilai cp=1.00 atau cp = (z=± ) digunakan rumus perhitungan cp= 1 – 1/(2n) atau cp = 1/(2n) (Bock dan Jones 1968 diacu dalam khakim 2009). Rata-rata nilai z yang diperoleh untuk setiap fotonya kemudian di masukkan dalam rumus SBE sebagai berikut :

SBEx = (Zx – Zo) 100 Dimana :

SBEx = nilai penduga nilai keindahan pemandangan lanskap ke–x Zx = nilai rata-rata z untuk lanskap ke-x

Zo = nilai rata-rata suatu lanskap tertentu sebagai standar

Untuk sebaran apabila dibuat klasifikasi menjadi 3 yaitu nilai SBE tinggi, sedang dan rendah dengan menggunakan jenjang sederhana (simplified rating) menurut Sutrisno Hadi (2001) diacu dalam khakim (2009) dengan rumus:

Nilai tertinggi – nilai terendah I =

32

3.4.6 Analisis nilai daya dukung kawasan

Konsep daya dukung ekowisata mempertimbangkan dua hal, yaitu (1) kemampuan alam untuk mentolerir gangguan atau tekanan dan manusia, dan (2) standar keaslian sumberdaya alam (Yulianda 2007).

Analisis daya dukung ditujukan para pengembangan wisata bahari dengan memanfaatkan potensi sumberdaya pesisir, pantai dan pulau-pulau kecil secara lestari. Mengingat pengembangan wisata bahari tidak bersifat mass tourism, mudah rusak dan ruang untuk pengunjung sangat terbatas, sehingga perlu adanya penentuan daya dukung kawasan.

Metode yang digunakan untuk menghitung daya dukung pengembangan ekowisata alam dengan menggunakan konsep daya dukung kawasan (DDK). Daya dukung kawasan (DDK) adalah jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung dikawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia, dapat dilihat pada rumus:

DDK =

k

Keterangan:

DDK = Daya dukung kawasan

K = Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area Lp = Luas area atau panjang area yang dapat dimanfaatkan Lt = Unit area untuk kategori tertentu

Wt = Waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata dalam satu hari

Wp = Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan tertentu. Potensi ekologis pengunjung ditentukan oleh kondisi sumberdaya dan jenis kegiatan yang akan dikembangkan pada (Tabel. 5). Luas suatu area yang dapat digunakan oleh pengunjung mempertimbangkan kemampuan alam mentolerir pengunjung sehingga keaslian tetap terjaga. Setiap melakukan kegiatan ekowisata, setiap pengunjung akan memerlukan ruang gerak yang cukup luas untuk melakukan aktivitas seperti diving (menyelam) dan snorkeling untuk menikmati keindahan pesona alam bawah laut, sehingga perlu adanya prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata Tabel 6.

Tabel 5 Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt)

Jenis kegiatan

pengunjung

(orang) Unit area (Lt) Keterangan

Snorkeling 1 500 m2 Setiap 1 orang dalam

100 m x 5 m

Diving 2 2 000 m2 Setiap 2 orang dalam

200 m x 10 m

Sumber : Yulianda (2007)

Tabel 6 Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata

Jenis kegiatan Waktu yang dibutuhkan Wp-(jam)

Total waktu 1 hari Wt-(jam) Snorkeling 3 6 Diving 2 8 Sumber : Yulianda (2007)

86

Dokumen terkait