• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN A. Karakteristik Sampel

B. Analisis Data Statistik

Penelitian mengenai ketebalan tulang angulus mandibula berdasarkan radiografi pada pasien RSGM FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar periode Januari-Oktober 2013 diperoleh hasil uji statistik sebagai berikut :

Tabel 4.1 Hasil uji rerata (dalam mm) ketebalan tulang angulus mandibula berdasarkan keadaan gigi molar ketiga

Gigi N Mean SD Std. Error

Mean Skor Impaksi 40 1,1777 0,04954 0,00783 Tanpa impaksi 40 1,4418 0,07764 0,01227 Keterangan tabel: N : Jumlah sampel SD : Standar Deviation

Berdasarkan tabel 4.1 Sampel radiografi panoramik yang berjumlah 80, terdiri atas 40 sampel impaksi yang memiliki rata-rata sebesar 1,1777 dan 40 sampel tanpa impaksi yang memiliki rata-rata sebesar 1,4418

28 Tabel 4.2 Hasil uji rerata (dalam mm) ketebalan tulang angulus mandibula

berdasarkan jenis kelamin

Jenis kelamin N Mean SD

Impaksi laki-laki 20 1,1935 0,05204

Perempuan 20 1,1620 0,04250

Tanpa impaksi laki-laki 20 1,4805 0,06947

Perempuan 20 1,4030 0,06618

Keterangan tabel: N : Jumlah sampel SD : Standar Deviation

Berdasarkan tabel 4.2 sampel radiografi panoramik yang berjumlah 80, terdiri atas 40 sampel impaksi menunjukkan nilai rerata ketebalan angulus mandibula sebesar 1,1935 pada 20 orang laki-laki dan 1,1620 pada 20 orang perempuan serta 40 sampel tanpa impaksi menunjukkan nilai rerata ketebalan angulus mandibula sebesar 1,4805 pada 20 orang laki-laki dan 1,4030 pada 20 orang perempuan.

Tabel 4.3 Hasil uji normalitas terhadap ketebalan angulus mandibula

K-SZ Sig. Impaksi 0,710 0,694 Tanpa impaksi 1,162 0,134 Keterangan tabel: K-SZ : Kolmogorov-Smirnov Z Sig : significant

Dari tabel 4.3 menunjukkan bahwa pada uji normalitas dengan menggunakan uji one-sample Kolmogorov-Smirnov Z didapatkan hasil dari significant dari kelompok impaksi dan tanpa impaksi lebih besar dari 0,05 sehingga data masing-masing kelompok tersebut berdistribusi normal. Setelah data berdistribusi normal dilanjutkan uji homogenitas untuk data impaksi dan tanpa impaksi.

29 Tabel 4.4 Hasil uji homogenitas terhadap ketebalan angulus mandibula

Levene's Test for Equality of Variances

F Sig. Impaksi 1,172 0,286 Tanpa impaksi 0,759 0,389 Keterangan tabel: F : Levene Statistic Sig : Significant

Dari tabel 4.4 menunjukkan bahwa pada uji homogenitas dengan menggunakan uji Levene’s didapat hasil dari significant dari kelompok impaksi adalah 0,286 dan tanpa impaksi adalah 0,389. Hasil dari significant tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga data tersebut homogen. Setelah data berdistribusi normal dan homogen dilanjutkan uji Independent T-Test untuk data impaksi maupun tanpa impaksi dan data jenis kelamin.

Table 4.5 Hasil uji Independent T-Test terhadap ketebalan angulus mandibula

Jenis kelamin t sig Mean

difference Rerata Impaksi Laki-laki 2,097 0,043 0,03150 1,1935 Perempuan 2,097 0,043 0,03150 1,1620 Tanpa impaksi Laki-laki 3,612 0,001 0,07750 1,4805 Perempuan 3,612 0,001 0,07750 1,4030 Keterangan tabel: T : T-test Sig : significant

30 Dari analisis data Independent T-test diperoleh hasil seperti pada Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa nilai signifikansi adalah <0,05 maka Ho ditolak, artinya bahwa ada perbedaan antara rata-rata ketebalan angulus mandibula berdasarkan kelompok impaksi dan tanpa impaksi. Begitu pula dengan kedua rerata ketebalan angulus mandibula berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan yang bermakna.

BAB V PEMBAHASAN

Penelitian ini menggunakan 80 sampel dari hasil rontgen foto panoramik pada pasien RSGM FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar periode Januari-Oktober 2013 dibagi menjadi 2 variabel yang berbeda masing-masing 40 sampel. Jika penelitian berupa deskriptif, maka minimum sampel yang dapat digunakan 10% populasi dan untuk populasi yang relatif kecil minimum 20% populasi (Husein Umar 2003).

Jumlah populasi sebesar 200 foto rontgen panoramik, diambil sampel sebesar 20%, maka dapat diperoleh sampel sebanyak 40 foto rontgen panoramik di masing-masing variable, sehingga jumlah sampel keseluruhan berjumlah 80 foto. Sampel penelitian dipilih dengan menggunakan metode simple random sampling, alasan menggunakan metode tersebut agar peneliti dapat menghemat waktu, tenaga, biaya dan desain metode yang sederhana. Metode stratifaid random sampling digunakan untuk memperkecil variabilitas sampel dan mendapatkan proporsi yang berbeda sesuai strata dalam sampel dan dalam populasi (Budiarto 2004).

31 Pada penelitian ini menentukan sampel dengan cara membagi dua kelompok dengan kedaan gigi molar ketiga dan jenis kelamin. Kelompok pertama berjumlah 40 sampel dengan keadaan gigi impaksi molar ketiga rahang bawah pada kedua sisi dan kelompok kedua berjumlah 40 sampel dengan keadaan tanpa gigi impaksi molar ketiga rahang bawah pada kedua sisi. Kemudian masing-masing kelompok di bagi menjadi 20 sampel berdasarkan jenis kelamin. Jenis kelamin di ketahui dari pengakuan pasien.

Dari hasil penelitian terhadap ketebalan tulang angulus mandibula berdasarkan keadaan gigi molar ketiga terdapat perbedaan rata-rata. Seperti yang dapat dilihat pada tabel 4.1 dimana rata-rata pada pasien yang memiliki gigi impaksi molar ketiga rahang bawah di kedua sisi, yaitu 1,1777 mm sedangkan rata-rata pada pasien yang tidak memiliki gigi impaksi molar ketiga di kedua sisi, yaitu 1,4418 mm sehingga diperoleh selisih sebesar 0,2641 mm. Hal ini terjadi karena terjadi kehilangan kualitas dan kekuatan tulang pada daerah ini. Kejadian ini paling nyata ketika molar ketiga mengalami impaksi, sedangkan keparahan impaksi dan letak gigi tersebut memiliki sedikit pengaruh terhadap fraktur angulus mandibula (Watanabe dkk. 2009)

Hasil pengukuran terhadap ketebalan angulus mandibula berdasarkan jenis kelamin terlihat perbedaan rata-rata pada masing-masing kelompok. Seperti yang dapat dilihat pada tabel 4.2 dimana rata-rata pada pasien laki-laki yang memiliki gigi impaksi, yaitu 1,1935 mm sedangkan rata-rata pada pasien perempuan yang memiliki gigi impaksi, yaitu 1,1620 mm terdapat perbedaan 0,0315 mm, begitu pula dengan kelompok yang tidak memiliki gigi impaksi rata-rata pada laki-laki, yaitu 1,4805 mm

32 dan rata-rata pada perempuan, yaitu 1,4030 mm jadi terdapat selisih rata-rata sebesar 0,0775 mm. Penurunan ketebalan tulang kortikal ditemukan pada angulus mandibula, yang diukur dalam radiograf panoramik dan dibandingkan antara laki-laki dan perempuan. Hasil juga menunjukkan bahwa kepadatan mineral tulang berkurang dapat mengubah bentuk tulang, dan menyebutkan bahwa osteoporosis mandibula juga berhubungan dengan perubahan tulang angulus mandibula (Watanabe dkk. 2009). Wanita usia 70 tahun mengalami 50% resorbsi tulang angulus mandibula dan mencapai sekitar 100% resorbsi pada usia 90 tahun (ardakani dan Niafar 2004). Dengan demikian, penulis yakin bahwa tulang madibular juga mengalami perubahan bentuk selama perkembangan osteoporosis pada hasil penelitian ini juga diamati bahwa adanya dampak molar ketiga rahang bawah di angulus mandibula yang mengurangi ketebalan korteks di daerah tulang angulus mandibula (Watanabe dkk. 2009). Hasil penelitian yang didapat didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Xie et al. (1997) yang menyatakan bahwa rata-rata ketebalan tulang angulus mandibula lebih besar pada pria dibandingkan pada wanita.

Hasil pengukuran ketebalan angulus mandibula berdasarkan jenis kelamin menggunakan Independent T-test terlihat hasil yang signifikan pada masing-masing kelompok. Seperti yang dapat dilihat pada tabel 4.5 dimana nilai signifikan pada kelompok yang memiliki gigi impaksi molar ketiga rahang bawah pada laki-laki yaitu 0,043 dan pada perempuan yaitu 0,043. Nilai signifikan pada kelompok yang tidak memiliki gigi impaksi molar ketiga rahang bawah pada laki-laki yaitu 0,001 dan pada perempuan yaitu 0,001. Dapat dilihat nilai signifikan adalah <0,05, itu artinya terdapat perbedaan yang signifikan terhadap ketebalan tulang angulus mandibula

33 berdasarkan gigi impaksi dan tanpa impaksi molar ketiga rahang bawah dilihat pada jenis kelamin.

Penelitian yang dilakukan oleh Fuselier (2002) pada 1210 pasien, menunjukkan bahwa pada pasien yang memiliki gigi impaksi molar ketiga rahang bawah terjadi fraktur angulus mandibula lebih dari 2 kali lipat dibandingkan dengan pasien yang tidak memiliki gigi impaksi molar ketiga. Ugboko (2000) tidak setuju dengan pernyataan tersebut, mungkin karena mereka menyelidiki kelompok etnis kulit hitam yang terbukti secara ilmiah memiliki lebih banyak masa tulang dibandingkan populasi penelitian lainnya.

Penelitian yang di lakukan oleh Takada et al. (2006) menggunakan gambar 3D yang diperoleh dengan CT, mempelajari struktur mikro tulang angulus mandibula dan tidak menemukan perbedaan dalam struktur mikro tulang pada pasien dengan dan tanpa gigi impaksi molar ketiga rahang bawah. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada mandibula yang mengalami impaksi gigi sebagian, kekuatan difokuskan pada daerah apikal gigi dan ditransmisikan ke arah angulus mandibula, mengakibatkan fraktur pada daerah ini.

Secara statistik, penelitian mengenai ketebalan angulus mandibula berdasarkan gigi impaksi molar ketiga rahang bawah dengan tanpa impaksi gigi molar ketiga rahang bawah dan jenis kelamin menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan, penelitian ini berbanding terbalik oleh penelitian yang dilakukan Watanabe dkk. (2009) dari 80 sampel menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok wanita tanpa gigi impaksi dan dengan gigi impaksi

34 molar ketiga rahang bawah. Begitu juga dengan kelompok laki-laki tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara yang memiliki gigi impaksi dan tidak.

Berdasarkan penelitian ini, maka dapat diketahui bahwa ada perbedaan ketebalan angulus mandibula berdasarkan kelompok keadaan gigi impaksi dan jenis kelamin, ini berarti diperlukan teknik khusus dalam melakukan pengambilan gigi impaksi molar ketiga rahang bawah pada laki-laki maupun pada perempuan. Dengan mengetahui ketebalan tulang angulus mandibula maka kegagalan dalam pencabutan gigi impaksi dapat diminimalisir. Hasil penelitian menunjukkan ketebalan angulus mandibula pada gigi impaksi yaitu 1,10-1,29 mm dan hasil penelitian menunjukan ketebalan angulus mandibula pada gigi tanpa impaksi yaitu 1,32-1,57 mm dengan demikian diperlukan teknik khusus pada pengambilan gigi impaksi molar ketiga rahang bawah yaitu dengan teknik odontektomi parsialis.

Odontektomi parsialis gigi molar ketiga rahang bawah pada kondisi impaksi yang sangat dalam sebaiknya dibuatkan perencanaan untuk memotong dan mengangkat mahkota serta membiarkan sisa akar agar tetap tertinggal di dalam soketnya. Odontektomi parsialis dianjurkan dengan alasan bahwa hanya dengan memotong mahkota saja tidak akan menganggu bagian akar yang letaknya sangat dekat dengan struktur nervus alveolaris inferior. Kontra indikasi dari teknik ini yaitu ketika daerah sekitar gigi sedang mengalami infeksi, pada gigi yang goyang tidak boleh dilakukan teknik ini karena sisa akar yang tertinggal dapat menjadi benda asing yang kemudian mengalami infeksi dan gigi yang mengalami impaksi horisontal sejajar dengan alur nervus alveolaris inferior, karena pemotongan pada gigi tersebut dapat membahayakan saraf itu sendiri (Alim 2009). Beberapa penelitian

35 menunjukkan bahwa akar vital akan tetap vital dengan perubahan degeneratif yang minimaal. Biasanya akar gigi akan tertutup oleh osteosementum. Tektik penyisaan akar kurang lebih 3 mm dibawah crest tulamg sepertinya dapat dilakukan dan terjadi pembentukan tulang pada sisa akar yang tersisa (Pogrel 2007).

36 BAB VI

Dokumen terkait