Hasil proyeksi curah hujan musim kemarau periode (JJA) tersebut berdasarkan hasil kedua model relatif sama. Curah hujan pada musim kemarau diprediksi berkisar (0–80) mm/bulan, kembali terjadi penurunan rata-rata curah hujan pada musim kemarau periode future dengan sebaran curah hujan rendah (0-20) mm/bulan mendominasi sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat, curah hujan tertinggi dengan kisaran (60–80) mm/bulan hanya terjadi di Sumbawa bagian selatan dan Bima bagian Timur. Secara umum curah hujan pada periode
future turun sangat signifikan dibandingkan periode baseline, hal ini menunjukan bahwa di masa depan musim kemaraunya relatif akan lebih kering lagi dibanding periode sekarang.
IV.5 Analisis Data Temperatur
Proyeksi temperatur di provinsi Nusa Tenggara Barat tidak terlalu komplek dibandingkan proyeksi curah hujan. Laporan IPCC (2007) menyatakan bahwa perubahan iklim diprediksi terjadi seiring dengan peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) yang diikuti oleh peningkatan dua kali lipat konsentrasi CO2 pada tahun 2100. Peningkatan konsentrasi CO2 dianggap sebagai penyebab peningkatan rata-rata temperatur global, meskipun prediksi iklim dimasa depan merupakan hal yang tidak pasti, prediksi kenaikan emisi karbon dan GRK seperti halnya apa yang sedang terjadi sekarang, diilustrasikan pada Gambar IV.16.
37
Gambar IV.16 Proyeksi temperatur global dengan beberapa skenario
emisi dan asumsi pertumbuhan GRK pada tahun 2100 (Sumber : IPCC, 2007)
Berdasarkan Gambar IV.16, diilustrasikan bahwa pemanasan global sangat tergantung pada arah dan besaran timbal balik parameter iklim yang tidak secara pasti bisa diprediksi (IPCC, 2007). Besaran timbal balik parameter iklim yang tidak secara pasti inilah yang membuat IPCC membagai proyeksi iklim masa depan berdasarkan beberapa skenario. IPCC memprediksi bahwa temperatur bumi akan meningkat sekitar (1,1–6,4) °C pada akhir abad 21. Prediksi yang dianggap terbaik untuk akhir abad 21, sekitar (1,8–4,0) °C, range peningkatan tersebut diyakini akan berdampak terhadap kehidupan manusia termasuk pertanian dimasa yang akan datang (IPCC, 2007).
Dalam melakukan analisis perubahan temperatur untuk proyeksi iklim mendatang pada penelitian ini, sebelumnya dilakukan koreksi data model dengan simple corrected method seperti yang dijelaskan pada bab III. Hasil menghitung nilai Tkoreksi didapatkan nilai faktor koreksi sebagai koreksi bias periode baseline
(1971-2000), sehingga nilai ini dijadikan sebagai nilai untuk koreksi bias proyeksi temperatur pada analisis berikutnya. Sebagai ilustrasi hasil perhitungan nilai koreksi temperatur ditunjukkan pada Gambar IV.17.
38
Gambar IV.17 Koreksi rata-rata temperatur baseline (1971-2000)
Dimana nilai bias dari (TCCAM) dikurangi (Tobs) digunakan untuk mengkoreksi nilai proyeksi temperatur (Tcorr), berdasarkan hasil koreksi didapatkan nilai proyeksi temperatur. Trend kenaikan temperatur periode masa depan seperti diilustrasikan pada Gambar IV.18 berikut ini :
Gambar IV.18 Proyeksi temperatur periode (2040-2099)
Berdasarkan hasil proyeksi temperatur untuk periode (2040-2099) terlihat adanya
trend kenaikan rata-rata temperatur relatif terhadap rata-rata temperatur baseline, dengan angka kenaikan rata-rata hasil koreksi sekitar (1,7–3,7) °C. Hasil analisis setelah dikoreksi ini masih sesuai dengan prediksi IPCC bahwa prediksi kenaikan temperatur terbaik untuk akhir abad 21 akan berada pada kisaran (1,8–4,0) °C (IPCC, 2007).
39
IV.5.1 Analisis Data Temperatur Di NTB Periode (1971-2000)
Berikut ini adalah gambaran sebaran temperatur baseline hasil simulasi kedua model seperti terlihat pada Gambar IV.19.
Gambar IV.19 Temperatur rata-rata baseline (1971-2000) model MK.3.5 (kiri) dan model ECHAM5.MPI (kanan)
Hasil simulasi temperatur periode (1971-2000) sebagai informasi baseline
mewakili kondisi masa kini, terlihat bahwa temperatur rata-rata di wilayah NTB pada periode tersebut bekisar antara (17-27)°C, hasil simulasi dua model baik
ECHAM5.MPI maupun MK 3.5 menampilkan sebaran temperatur yang relatif sama, dimana temperatur tertinggi terjadi didaerah pantai dan terendah didaerah sekitar gunung. Hal ini sesuai dengan metode lapsrate temperatur yang dinyatakan oleh Braak 1928 dalam Tjasyono (2008), Slingo dkk. (2011) bahwa seiring naiknya elevasi diikuti penurunan temperatur sekitar 0,65 °C/100 meter.
IV.5.2 Proyeksi Temperatur Di NTB Periode (2040-2069)
Untuk proyeksi temperatur jangka menengah (near future) periode (2040-2069), terlihat bahwa sebaran temperatur rata-rata secara umum meningkat di wilayah NTB, dengan kisaran temperatur antara (22-28) °C, hasil proyeksi kedua model baik MK 3.5 maupun ECHAM5.MPI menampilkan sebaran temperatur yang relatif sama, artinya kedua model mempunyai agreement atau kecocokan. Peningkatan temperatur rata-rata pada near future periode (2040-2069) merupakan salah satu gambaran dari skenario A2 yang menyatakan pada periode tersebut akan terjadi kenaikan jumlah penduduk, namun perubahan teknologi berjalan lambat, kenaikan konsentrasi GRK di atmosfer diduga akan menyebabkan peningkatan temperatur secara regional maupun lokal wilayah. Hasil proyeksi temperatur untuk jangka menengah disajikan pada Gambar IV.20.
40
Gambar IV.20 Temperatur rata-rata periode (2040- 2069)model MK.3.5 (kiri) dan model ECHAM5.MPI (kanan)
IV.5.3 Proyeksi Temperatur Di NTB Periode (2070-2099)
Untuk proyeksi temperatur jangka panjang (future) periode (2070-2099) terlihat ada peningkatan temperatur rata-rata dibandingkan dengan temperatur periode (1971-2000) dengan kisaran antara (23-29) °C. Hasil proyeksi kedua model baik
MK 3.5 dan ECHAM5.MPI menampilkan sebaran temperatur yang relatif sama, hal ini dapat dilihat pada Gambar IV.21 berikut.
Gambar IV.21 Temperatur rata-rata periode (2070-2099) model MK.3.5 (kiri) dan model ECHAM5.MPI (kanan)
Secara perbandingan visual terlihat bahwa seiring dengan periode waktu secara umum diproyeksikan akan terjadi kenaikan temperatur hampir merata di seluruh NTB baik untuk periode near future maupun periode future. Kenaikan temperatur secara umum di NTB merupakan gambaran masa depan dengan asumsi yang digunakan pada skenario A2 bahwa kenaikan konsentrasi GRK dan aerosol pada akhir abad 21 akan meningkat 2 kali lipat dibanding periode baseline.
41
IV.5.4 Perubahan Temperatur Di NTB Periode (2040-2069)-(1971-2000) Analisis perubahan temperatur jangka menengah (near future) periode (2040-2069) relatif terhadap baseline periode (1971-2000), terlihat perubahan temperatur rata-rata di wilayah NTB dengan peningkatan berkisar (1,1–2,0) °C menurut model MK 3.5 dan ECHAM5.MPI. Kisaran peningkatan rata-rata temperatur yang mendominasi wilayah NTB bekisar antara (1,1–1,7) °C, terjadi di wilayah Lombok bagian Barat, Tengah dan Timur serta Sumbawa bagian Barat. Sementara itu untuk sebaran perubahan temperatur tertinggi terjadi Lombok Tengah bergerak ke arah Timur dan Sumbawa bagian Barat dan Tengah.
Gambar IV.22 Perubahan temperatur periode (2040-2069) model MK.3.5 (kiri) dan model ECHAM5.MPI (kanan)
IV.5.5 Perubahan Temperatur Di NTB Periode (2070-2099)-(1971-2000) Berdasarkan hasil proyeksi model MK 3.5 dan ECHAM.5MPI perubahan temperatur jangka panjang (future) periode (2070-2099), relatif terhadap baseline
periode (1971-2000), kedua model menunjukkan sebaran kenaikan temperatur di daerah yang relatif sama, perubahan temperatur rata-rata di wilayah NTB meningkat bekisar (2,6–3,7) °C menurut model ECHAM 5.MPI, sedangkan menurut hasil model MK 3.5 temperatur rata-rata meningkat bekisar (2,6–3,5) °C, dengan perubahan temperatur semakin meluas baik di pulau Lombok maupun pulau Sumbawa terutama bagian Barat dan Timur. Kenaikan temperatur tertinggi terjadi di wilayah Lombok bagian Utara dan Sumbawa bagian Tengah dan Barat. Dengan kenaikan temperatur yang relatif tinggi dan merata diseluruh wilayah NTB hal ini tentu akan mempengaruhi pada tingkat kesesuaian agroklimat dan produktivitas padi dimasa depan, hal ini akan di bahas pada sub bab berikutnya.
42
Adapun perubahan temperatur pada periode future relatif terhadap periode
baseline di ilustrasikan Gambar IV.23 berikut :
Gambar IV.23 Perubahan temperatur periode future (2070-2099) model MK.3.5 (kiri) dan model ECHAM5.MPI (kanan)