BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Temuan dan analisis data
2. Analisis Data
Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak merupakan film yang menyoroti budaya patriarki di pedalaman Sumba. Marlina yang merupakan tokoh utama dalam film ini digambarkan sebagai perempuan yang termarjinalkan oleh suatu budaya dimana laki-laki dianggap memiliki kekuasaan yang tinggi sementara perempuan hanya sebagai pelengkap saja.
Marlina merupakan seorang janda yang tinggal di sebuah gubuk yang terpencil bersama suami yang sudah berupa mumi. Ia didatangi oleh segerombolan perampok yang dipimpin oleh Markus dengan tujuan merampok ternaknya serta merenggut kehormatannya. Bahkan setelah mengutarakan maksud kedatangannya tersebut, Markus tetap meminta untuk dilayani dengan baik. Hal tersebut sedikit memberi gambaran bagaimana laki-laki dan perempuan diposisikan.
Marlina yang jauh dari jangkauan orang lain dan mengetahui bahwa ia dalam tekanan suatu budaya yang sudah lama diterapkan pada lingkungannya, tidak memungkinkan baginya untuk meminta pertolongan. Di tengah tekanan yang ia alami tersebut, ia menyiapkan strategi. Ia membunuh empat orang perampok dengan racun dan memenggal kepala Markus hingga terpisah dari tubuhnya.
Pada babak berikutnya, perlawanan terhadap hegemoni masyarakat patriarki di pedalaham Sumba pun dimulai. Dengan membawa bukti kepala Maekus, Marlina bermaksud melapor ke polisi mengenai pembunuhan yang
dilakukannya. Ia berniat berargumen bahwa perbuatan itu ia lakukan karena membela diri. Hal tersebut menunjukkan bahwa Marlina punya sensibilitas hukum. Padahal ia hidup dalam sebuah budaya dimana para laki-laki berkeliaran dengan parang panjang di pinggang mereka, dan mereka secara sepihak menyita ternak Marlina sebagai dalih membayar utang, tanpa melalui proses mediasi maupun proses hukum.
Namun ketika Marlina tiba di kantor polisi, ia tak mendapat respon yang baik. Ia harus lama menunggu, sementara para polisi sedang sibuk bermain pingpong. Hal tersebut menunjukkan bagaimana polisi disana yang menganggap remeh perempuan yang membutuhkan bantuan aparat dalam menegakkan hukum. sekaligus memberi anggapan bahwa warga yang seharusnya mereka lindungi tak lebih berharga dari bola pongpong. Sampai akhirnya laporannya ditangani oleh seorang petugas.
Penegak hukum ternyata dibatasi oleh berbagai hal, mulai dari perspektif mereka yang mengabaikan laporan, hingga kekurangan perangkat dan fasilitas untuk memenuhi prosedur standar mereka sendiri. Melapor ke polisi tidak mampu menyelesaikan masalah saat itu juga. Butuh waktu sampai 3 hari ke depan untuk memproses olah kejadian di tempat perkara, apalagi jarak dari kantor polisi menuju lokasi kejadian begitu jauh. Jika Marlina ingin cepat, ia juga harus memiliki uang untuk sewa dokter visum supaya bisa memeriksa kelaminnya sebagai bukti kuat atas apa yang telah terjadi di rumahnya.
Marlina akhirnya memupuskan perjuangannya dalam menegakkan hukum. Ia pun menangis ketika tiba di warung makan. Penegak hukum seakan tidak hadir untuk warga yang tidak berdaya. Berjanji melindungi warga, tapi justru mereka memaksa warga untuk membayar hak yang sebetulnya telah dibayar. Sebagai bentu emosionalnya, Ia menangis ketika tiba di kedai dimana ia menitipkan kepala Markus.
Tak sampai disitu, Marlina kembali harus berhadapan dengan Frans dan yang merupakan anggota perampok yang tidak ikut terbunuh. Fans mengejar Marlina untuk membalas dendam. Demi menyelamatkan sahabatnya, Novi, ia harus menyerahkan kepala Markus kepada Frans. Di rumah Marlina, Frans telah menunggu dengan Novi yang ia sandera. Di sana Marlina mengembalikan kepala Markus untuk disambung kembali dengan potongan tubuhnya. Tak puas dengan itu, Frans mencoba membalas dendam dengan meminta Marlina melayani nafsu birahinya, sedangkan Novi diminta memasak sup ayam.,Novi pun menyelamatkan Marlina dengan memanggal kepala Frans ketika menyetubuhi Marlina dengan paksa. Film ini ditutup dengan hlahirnys bayi dari rahim Novi. Kondisi bayi Novi pasca lahir bahkan tampak bersih dan tidak berlumur darah atau ari-ari. Sutradara seolah ingin memberi gambaran wanita Sumba dengan fisik sebegitu kuat di tengah kegetiran yang terjadi.
Walaupun dalam upaya Marlina melawan budaya patriarki dilingkungannya tak membuahkan hasil karena ia dihadapkan dengan
kenyataan hukum yang buruk, melalui film Marlina si pembunuh dalam Empat Babak, sutradara ingin mengajak masyarakat untuk berpikir kembali tentang kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian di atas, maka kesimpulan dari penelitian analisis wacana perlawanan perempuan pada film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak adalah sebagai berikut :
1. Posisi subjek pada film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak adalah Markus, dapat dilihat dari dua sudut pandang, yauti sudut pandang laki-laki dan perempuan. Dari sudut pandang laki-laki, subjek menceritakan posisi perempuan. Sedangkan dari sudut pandang perempuan, subjek mencoba menceritakan bagaimana perempuan dimarjinalkan oleh laki-laki, maka selain menceritakan diri sendiri, mereka juga menceritakan posisi laki-laki. Dalam film ini, laki-lakinya adalah Markus, Perampok, Frans, polisi dan Umbu. Sedangkan perempuannya adalah Marlina dan Novi.
Sementara itu, posisi objek dalam film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak juga dapat dilihat dari dua sudut pandang. Yaitu objek perempuan dari penceritaan laki-laki dan objek laki-laki dari penceritaan perempuan.
Posisi pembaca, sutradara cenderung mengarahkan penonton berada di pihak Marlina. mereka diarahkan untuk turut merasakan bagaimana perempuan terjerat dalam budaya patriarki dimana posisi laki-laki lebih berkuasa sedangkan perempuan cenderung termarjinalkan. Namun kemudian, penonton
juga diajak mjerasakan bagaimana perlawanan perempuan dalam melawan hegemoni masyarakat patriarki tesebut.
2. Bentuk perlawanan yang tertera dalam penelitian ini adalah perlawanan terhadap hegemoni masyarakat patriarki yang menjadikan perempuan mengalami ketidakadilan gender. Yaitu bagaimana Marlina memliki sensibilitas hukum untuk memperoleh keadilan dari pemarjinalan terhadap dirinya.
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, maka peneliti ingin memberikan beberapa saran kepada pihak sutradara, pembuat film, dan pembaca film, yaitu sebagai berikut.:
1. Kepada sutradara Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, hendaknya tidak menampilkan adegan Markus yang memperkosa Marlina secara vulgar. 2. Kepada para pembuat film, terutama untuk perfilman di Indonesia sebaiknya
tidak lagi membuat film yang merepresentasikan kerendahan perempan dan lebih sering menampilkan kesetaraan gender, sehingga posisi perempuan tidak lagi dianggap lemah.
3. Kepada pembaca, khususnya mahasiswa IAIN Surakarta, hendaknya mengembangkan penelitian pada skripsi ini agar lebih kritis dan mampu mengembangkan maknya dalam sebuah film.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Alimi, Moh Yasir. (2004). Dekontruksi Seksualitas Poskolonial. Yogyakrta: LKiS Ardianti, Elvinaro & Lukiati Komala. (2007). Komunikasi Massa: Suatu
Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media
Burhan Bungin. (2006). Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana.
Eriyanto. (2006). Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS
Fakih. Mansour, Dkk. (2003). Membincang Feminisme Diskursus Gender Perspektif Islam. Surabaya: Risalah Gusti
Fakih, Mansour. (2008). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: INSISTPress
Gunawan, Imam. (2015). Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktek. Jakarta: Bumi Aksara.
Heroepoetri, Arimbi dan R. Valentina. (2004). Percakapan Tentang Feminisme VS Neoliberalisme. Jakarta: debtWACH Indonesia
Krisyantono. Rachmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Maleong, Lexy J. (2014). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Prakoso, Gatot. (1997). Film Pinggiran-Antalogi Film Pendek, Eksperimental & Dokumenter. Jakarta: Fatma Pers
Pratista, Himawan. (2008). Memahami Film. Jakarta: Homerian Pustaka.
Sugihastuti dan Suharto. (2002). Kritik Sastra Feminis, Teori dan Aplikasinya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tong, Rosemarie Putnam. (2010). Feminist Thought. Yogyakarta: Jalasutra. Salim, Peter Y dan Yenny Salim. (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia
Konteporer. Jakarta: Modern English Pers
Sobur, Alex. (2001). Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, Analisis Framing. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Solihati, Siti. (2007). Wanita dan Media Massa. Yogyakarta: Teras
Vera, Nawira. (2014). Semiotika Dalam Riset Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Wibowo. Fred. (2006). Teknik Produksi Program Televisi. Yogyakarta: Pinus Book Publisher.
Skripsi
Fuad Rasis Muorrobin. 2017. “Relasi Gender dalam Dialog Film Surge yang Tak Dirindukan (Analisis Sara Mills)”. Fakultas Ushulluddin dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri Surakarta
Ishaya, Corri Prestita. 2014. “Analisis Wacana Sara Mills dalam Film Dokumenter Battle For Sevastopol”. Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universita Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Isminarti, Rosita. 2010. “Citra Perempuan dalam Novel Kesempatan Kedua
Karya Jusra Chandra”. Universitas Muhammadiyah Surakarta
Putri. Anggi Kartika. 2016. “Representasi Radikal Dalam Karya Sastra”. Fakultas Ilmu Komunikasi Univeritas Lampung.
Septiani, Rista Dwi. 2016. “Representasi Perempuan dalam Film The Herd (Analisis Wacana kritis Sara Mills”. Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Zelviana, Dini. 2017. “Representasi Feminisme dalam Film the Huntsman:
Winter‟s War”. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung
Jurnal
Karim, Abdul. (2014). Kerangka Studi Feminisme (Model Penelitian Kualitatif tentangPerempuan dalam Koridor Sosial Keagamaan) Jurnal Fikrah. Volume.2. No 1.
Nuryati. (2015)..Feminisme dalam Kepemimpinan. Jurnal Istinbath. Volume. 14. No. 16.
Oktavianus, Handi. (2015), Penerimaan Penonton Terhadap Praktik Eksorsis di Dalam Film Conjuring. Jurnal E-Komunikasi. Volume. 3. No. 2.
Pratiwi, Rhesa Zuhriya Briyan. (2018). Perempuan dan Kontes Kecantikan.Jurnal An-Nida, Volume. 10. No. 2.
Rajab, Budi. (2009). Perempuan dalam Modernisme dan Postmodernisme. Jurnal Sosiohumaniora. Volume. 11, No. 3.
Tazkiyyah, Zidnii & Roro Retno Wulan. (2017). Representasi Pers dalam Film Spotlight (Analisis Semiotikka John Fiske dalam Film Soptlight.dengan Penerapan 9 Elemen Jurnalistik Kovach & Rosenstiel. eProceeding of Management. Volume.4. No.3,
Internet
Dery Ridwansyah, Film Marlina Raih 3 Penghargaan di Asian Academy Creative Awards 2018 https://www.jawapos.com/entertainment/music-movie/08/12/2018/ film-marlina-raih-3-penghargaan-di-asian-academy-creative-awards-2018
(Diakses pada 18 Februari 2019, pukul 22.55 WIB)
Liza Novirdayani, Daftar Lengkap Nominasi Festival Film Indonesia 2018. https://www.kincir.com/movie/cinema/daftar-lengkap-nominasi-ffi-2018.(Diakses pada 31 Januari 2019, pukul 01.40 WIB)
Mark Schilling. Indonesia‟s „The Seen and Unseen,‟ „Marlina‟ Share Tokyo FILMeX Grand Prize https://variety.com/2017/film/asia/indonesia-the-seen-unseen-marlina-share-tokyo-filmex-prize-1202622798/ (Diakses pada 31 Januari, Pukul 02.30 WIB)
Putri Avi Nursasi, Mouly Surya. https://tirto.id/m/mouly-surya-bQB. (Diakses pada 31 Januari, pukul 2.38 WIB)
Ray Ramos, AFI Fest Announces Films In World Cinema, Midnight, Youth and
https://deadline.com/2017/10/afi-fest-2017-american-film-institute-world-cinema-midnight-youth-and-family-1202194749/. (Diakses pada 18 Februari 2019, pukul 22.58 WIB)
Syartiq Shalli,, Daftar Lengkap Peraih Citra FFI 2018. https://www.viva.co.id/showbiz/film/1101904-daftar-lengkap-peraih-piala-citra-ffi-2018 . (Diakses pada 31 Januari 2019 pukul 01.33 WIB)
Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak Raih Penghargaan di Polandia. http://www.pikiran-rakyat.com/hidup-gaya/2017/11/23/mencolok-marlina-si-pembunuh-dalam-empat-babak-raih-penghargaan-di-polandia (Diakses pada 26 Oktober 2018, pukul 01.22 WIB)
Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak Wakili Indonesia di
Penghargaan Oscar.
http://style.tribunnews.com/2018/09/19/film-marlina-si-pembunuh-dalam-empat-babak-wakili-indonesia-di-penghargaan-oscar-2019. (Diakses pada 26 Oktober, 2018, pukul, 01.25 WIB)
12th Asian Film Awards – Nominees 2018. https://asianfilmfestivals.com/ 2018/01/11/asian-film-awards-nominees-2018/. (Diakses pada 18 Februari 2019, pukul 22.43 WIB)
„Marlina,‟ „Pengabdi Setan‟ dominate Piala Maya 2017,.https://www. thejakartapost.com/life/2017/12/19/marlina-pengabdi-setan dominate-piala-maya-2017.html. .(Diakses pada 31 Januari 2019, pukul 01.43 WIB)
Nomination Announced For 11th Asia Pacific Screen Awards. https://www.
asiapacificscreenawards.com/news-events/nominations-announced11th-asia pacific-screen-awards (Diakses pada 18 Februari 2019, pukul 22.50 WIB)
The Fantastic Fable Jupiter‟s Moon Wins Sitges 2017.
https://sitgesfilmfestival.com/eng/noticies?id=1003486. (Diakses pada 31 Januari 2019, pukul 01.50 WIB)