• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.4. Analisis Daya Saing Komoditas Tembakau Aseli

Dalam menjawab tujuan kedua dalam penelitian ini yaitu menganalisis daya saing usahatani tembakau aseli digunakan pendekatan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dilahan sawah dan lahan perbukitan. Komoditas tembakau aseli

dilahan sawah Desa Kedungwaru Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto memiliki keunggulan komparatif jika koefisien nilai DRCR < 1 dan memiliki keunggulan kompetitif jika koefisien nilai PCR < 1. Indikator rasio daya saing disajikan pada tabel 20 sebagai berikut.

Tabel 20. Indikator Rasio Daya Saing Lahan Sawah

No. Indikator Rasio Nilai

1 Domestic Resources Cost Ratio (DRCR) 0,674

2 Private Cost Ratio (PCR) 0,677

Sumber: Tabel Hasil Perhitungan PAM (Policy Analysis Matrix)

Tabel 20 menunjukkan kemampuan daya saing tembakau aseli di Desa

koefisien Domestic Resources Cost Ratio (DRCR) dan Private Cost Ratio (PCR) dapat dilihat pada lampiran 5.

Komoditas tembakau aseli dilahan perbukitan Desa Simongagrok Kecamatan Dawarblandong Kabupaten Mojokerto memiliki keunggulan komparatif jika koefisien nilai DRCR < 1 dan memiliki keunggulan kompetitif jika koefisien nilai PCR < 1. Indikator rasio daya saing disajikan pada tabel 21 sebagai berikut.

Tabel 21. Indikator Rasio Daya Saing Lahan Perbukitan

No. Indikator Rasio Nilai

1 Domestic Resources Cost Ratio (DRCR) 0,624

2 Private Cost Ratio (PCR) 0,654

Sumber: Tabel Hasil Perhitungan PAM (Policy Analysis Matrix) (Tabel 21.)

Tabel 21 menunjukkan kemampuan daya saing tembakau aseli di Desa

Simongagrok, Kecamatan Dawarblandong Kabupaten Mojokerto. Cara perhitungan nilai koefisien Domestic Resources Cost Ratio (DRCR) dan Private Cost Ratio (PCR) dapat dilihat pada lampiran 6.

6.4.1. Keunggulan KomparatifUsahatani Tembakau Aseli

Konsep keunggulan komparatif merupakan ukuran daya saing (keunggulan) potensial dalam artian daya saing yang akan dicapai apabila perekonomian tidak mengalami distorsi sama sekali. Komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dikatakan juga memiliki efisiensi secara ekonomi. Hasil perhitungan keunggulan komparatif untuk lahan sawah dan lahan perbukitan ditampilkan pada lampiran 5 dan 6.

Berdasarkan tabel 20 dan 21 dapat disimpulkan bahwa sistem usahatani lahan sawah di Desa Kedungwaru Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto menunjukkan komoditas tembakau aseli mempunyai keunggulan komparatif, yang ditunjukkan oleh besaran nilai koefisien DRCR < 1. Hasil analisis sistem usahatani tembakau aseli

dilahan sawah diperoleh nilai koefisien DRCR sebesar 0,674. Artinya untuk menghemat satu unit devisa sebesar Rp 9.030,- melalui pengembangan usahatani tembakau aseli

untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dibutuhkan pengorbanan sumberdaya domestik sebesar 60% atau Rp 608.622,- dan untuk hasil analisis sistem usahatani tembakau aseli di lahan perbukitan diperoleh nilai koefisien DRCR sebesar 0,624. Artinya untuk menghemat satu unit devisa sebesar Rp 9.030,- melalui pengembangan

usahatani tembakau aseli untuk memenuhi kebutuhan didalam negeri dibutuhkan

pengorbanan sumberdaya domestik sebesar 50% atau Rp 563.473,-

Menurut penelitian Thomas Santoso, 2001, komoditas Tembakau aseli di

wilayah Jawa pada lahan sawah memiliki keunggulan komparatif sebagaimana ditunjukkan melalui nilai koefisien DRCR sebesar 0,65 – 0,99 dan untuk lahan perbukitan nilai koefisien DRCR sebesar 0,60 – 0,97. Berdasarkan perbandingan secara deskriptif penelitian ini dan penelitian terdahulu, dapat dinyatakan bahwa Kabupaten Mojokerto memiliki keunggulan komparatif yang lebih baik daripada wilayah Jawa yang telah diteliti oleh Thomas Santoso. Dikarenakan penggunaan dari budget sosial,

harga sosial dan faktor domestik pada usahatani tembakau aseli di Kabupaten

Mojokerto lebih efisen dan daya saing yang dicapai pada keunggulan komparatif lebih berpotensi. Sehingga untuk semakin meningkat keunggulan komparatif tembakau aseli

di Mojokerto diperlukan beberapa perbaikan dalam berusahatani salah satu contohnya adalah usaha peningkatan produktivitas. Dalam upaya peningkatan produkstivitas

tembakau aseli dibutuhkan berbagai macam penyuluhan yang mampu memberikan

pengetahuan penerapan teknologi baru dalam berusahatani.

Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa bagi Desa Kedungwaru (Lahan Sawah) dan Desa Simongagrok (Lahan Perbukitan) untuk

keunggulan komparatif yang lebih efisien yaitu pada lahan perbukitan yang dikarenakan penggunaan di tingkat harga sosial, biaya sosial, input tradable dan faktor domestik lebih efiesien dan menghasilkan satu-satuan output tembakau pada harga sosial diperlukan korbanan biaya sumberdaya domestik pada harga sosial lebih kecil dari satu. Atau dengan kata lain untuk menghasilkan satu-satuan devisa harus mengorbankan biaya imbangan sumberdaya domestik yang lebih kecil. Ditinjau dari hasil tersebut, usahatani tembakau aseli dengan keunggulan komparatifnya akan lebih menguntungkan memenuhi kebutuhan produksi tembakau aseli dalam negeri dibandingkan mengimpor tembakau aseli dari luar negeri. Karena tembakau aseli dalam negeri memiliki mutu yang bagus dan harga yang murah.

6.4.2. Keunggulan Kompetitif Usahatani Tembakau Aseli

Keunggulan kompetitif adalah alat untuk mengukur kelayakan aktivitas atau keuntungan privat yang dihitung berdasarkan harga pasar nilai uang resmi yang berlaku (berdasar analisis finansial). Komoditi yang memiliki keunggulan kompetititf dikatakan juga memiliki efisiensi secara finansial. Hasil perhitungan keunggulan kompetitif untuk lahan sawah dan lahan perbukitan ditampilkan pada lampiran 5 dan 6.

Hasil analisis yang dapat dilihat dari tabel 20 dan 21 menunjukkan komoditas tembakau aseli memiliki keunggulan kompetitif, yang ditunjukkan oleh besaran nilai koefisien PCR < 1. Hasil analisis sistem usahatani tembakau aseli di lahan sawah diperoleh nilai koefisien PCR sebesar 0,677. Artinya untuk menghasilkan satu unit devisa sebesar Rp 9.030,- melalui pengembangan usahatani tembakau aseli untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dibutuhkan pengorbanan sumberdaya domestik sebesar 62% atau Rp 611.331,- dan untuk hasil analisis sistem usahatani tembakau aseli

di lahan perbukitan diperoleh nilai koefisien PCR sebesar 0,654. Artinya untuk menghasilkan satu unit devisa sebesar Rp 9.030,- melalui pengembangan usahatani tembakau aseli untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dibutuhkan pengorbanan sumberdaya domestik sebesar 59% atau Rp 590.562,-

Menurut penelititan Thomas Santoso, 2001, komoditas tembakau aseli di

wilayah Jawa maupun wilayah luar Jawa dalam berbagai lahan memiliki keunggulan kompetitif yang ditunjukkan melalui nilai koefisien PCR sebesar 0,63 – 0,82 untuk wilayah Jawa dan nilai koefisien PCR sebesar 0,55 – 0,74 untuk wilayah luar Jawa.

Berdasarkan hasil analisis tersebut secara deskriptif dapat disimpulkan bahwa keunggulan kompetitif untuk lahan perbukitan nilai koefisienya lebih baik dari pada lahan sawah. Hal ini dikarenakan penggunaan ditingkat harga private, biaya private, input tradable dan faktor domestik lebih efisien dan dalam menghasilkan satu-satuan nilai tambah output pada harga privat hanya diperlukan kurang dari satu-satuan biaya sumberdaya domestik. Atau dengan kata lain untuk menghemat satu-satuan devisa pada harga privat hanya diperlukan korbanan kurang dari satu-satuan biaya sumberdaya domestik. Ditinjau dari hasil tersebut, usahatani tembakau aseli dengan keunggulan kompetitifnya akan lebih menguntungkan memenuhi kebutuhan produksi tembakau

aseli dalam negeri dari pada mengimpor tembakau dari luar negeri. Karena tembakau

aseli dalam negeri memiliki mutu yang bagus dan harga yang murah.

Dokumen terkait