5. Stasiun Pemasakan dan Pemutaran
6.1. Analisis Daya Saing
Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi gula lokal yang dihasilkan oleh perkebunan tebu dalam negeri dalam bersaing dengan gula impor sebagai produk substitusi. Oleh karena itu daya saing gula lokal yang dihasilkan oleh petani tebu di lokasi penelitian dianalisis dengan menggunakan Matriks Analisis Kebijakan Pemerintah (PAM). Matirks ini disusun berdasarkan data penerimaan dan biaya produksi yang keseluruhanya terbagi dalam dua bagian yaitu harga privat (finansial) dan harga ekonomi (social opportunity cost). Masing-masing biaya produksi pada harga privat dan ekonomi dibagi menjadi input asing dan domestik. Adapun hasil analisis yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 12. Hasil Tabulasi PAM pada Kondisi Tarif Impor Rp 400/kg (Rp/ha)
Keterangan Penerimaan Biaya Input Keuntungan
tradable non tradable
Nilai Finansial 33.534.624,18 2.088.933,71 29.428.078,95 2.017.611,52 Nilai Ekonomi 41.783.059,97 2.520.121,35 26.491.343,85 12.771.594,77 Dampak Kebijakan -8.248.435,79 -431.187,64 2.936.735,10 -10.753.983,25
Divergensi yang dihasilkan pada Matriks Analisis Kebijakan Pemerintah bernilai negatif untuk divergensi penerimaan, divergensi pada biaya input tradabel, dan divergensi pendapatan. Sedangkan divergensi pada biaya input non
tradable (faktor domestik) bernilai positif.
Divergensi negatif dengan nilai Rp 8.248.435,79 pada penerimaan output terjadi karena harga sosial gula lebih tinggi dari harga yang diterima petani. Hal ini terjadi karena harga sosial gula dihitung berdasarkan harga gula impor yang lebih tinggi daripada harga gula lokal.
Divergesi negatif pada biaya input tradable sebesar Rp 431.187,64 terjadi karena harga sosial input tradable seperti pupuk lebih tinggi dari harga privatnya. Walaupun input tradable berupa pestisida memiliki harga sosial yang lebih rendah dari harga privatnya, secara keseluruhan harga dari input-input tradable lebih
51 besar dari harga yang diterima petani. Hal ini mengindikasikan adanya kebijakan pemerintah atau distorsi pasar yang mengakibatkan harga sosial input tradable lebih tinggi dari harga finansialnya seperti adanya subsidi pupuk, tarif impor, dan pajak pertambahan nilai.
Di sisi lain divergensi positif senilai Rp 2.936.735,10 pada biaya input non
tradable (faktor domestik) terjadi karena biaya sosial faktor domestik lebih rendah
daripada biaya privatnya. Hal ini menandakan bahwa petani harus mengeluarkan biaya lebih atas faktor domestik dibandingkan dengan biaya sosial faktor domestik yang bersangkutan. Hal tersebut diduga terjadi karena adanya kebijakan pemerintah atau kegagalan pasar pada penggunaan faktor domestik untuk pestisida. Selain itu penyebab divergensi positif pada biaya faktor domestik juga diakibatkan oleh pembayaran upah yang lebih tinggi dari harga sosialnya. Hal ini karena tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani tebu merupakan tenaga kerja tidak tetap dan pada umumnya juga tidak terdidik sehingga perhitungan harga bayangan tenaga kerja tersebut mengacu pada Siregar (2009) yaitu sebesar 80 persen dari tingkat upah yang berlaku di lokasi penelitian.
Divergensi negatif sebesar Rp 10.753.983,25 pada pendapatan terjadi karena pedapatan finansial petani lebih kecil daripada pendapatan sosialnya. Hal ini merupakan akumulasi dari efek divergensi harga output dan biaya input baik
tradable maupun non tradable.
Berdasarkan matriks analisis kebijakan yang telah disusun dilakukan perhitungan-perhitungan untuk memperoleh nilai-nilai yang akan menjadi indikator tingkat keuntungan yang diperoleh dari usahatani tebu pada kondisi finansial dan ekonomi, nilai keuntungan komparatif dan kompetitif serta nilai untuk mengukur pengaruh kebijakan pemerintah pada output dan input. Berdasarkan Tabel 12. diperoleh indikator-indikator analisis matriks kebijakan yang disajikan pada Tabel 13.
52 Tabel 13. Indikator-indikator dari Analisis Matriks Kebijakan
Indikator Nilai
Private Profitability (PP) Rp 2.017.611,52
Private Cost Rasio (PCR) 0,94
Social Profitability (SP) Rp 12.771.594,77
Domestic Resource Cost Ratio (DRC) 0,67
Input Transfer (IT) Rp (431.187,64)
Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCL) 0,83
Transfer Factor (TF) Rp 2.936.735,10
Output Transfer (OT) Rp (8.248.435,79)
Nominal Protection Coefficient on Tradable Output (NPCO) 0,80
Effective Protection Coeffiient (EPC) 0,80
Net Transfer (NT) Rp(10.753.983,25)
Prifitability Coefisien (PC) 0,16
Subsidy Ratio to Product (SRP) ( 0,26)
6.1.1. Analisis Keunggulan Kompetitif
Analisis keunggulan kompetitif terdiri dari analisis keuntungan privat (PP) dan rasio biaya privat (PCR). Keuntungan privat usahatani tebu merupakan selisih antara penerimaan dan biaya yang dikeluarkan per hektar lahan. Harga yang digunakan dalam analisis ini adalah harga aktual yang terjadi di pasar yang telah dipengaruhi oleh adanya kebijakan pemerintah, baik untuk input maupun output. Berdasarkan indikator pada Tabel 13, dapat dilihat penerimaan petani tebu per hektar secara finansial adalah Rp 2.017.611,52. Biaya total yang dikeluarkan adalah Rp 31.517.012,66 per hektar. Biaya tersebut terdiri dari biaya input
tradable sebesar Rp 2.088.933,71 serta biaya input non tradable sebesar
Rp 29.428.078,95. Oleh karena itu keuntungan privat yang diperoleh adalah sebesar Rp 2.017.611,52 per hektar. Nilai keuntungan finansial yang lebih besar dari nol (PP > 0) tersebut menunjukan bahwa secara finansial usahatani tebu di wilayah kerja PG Sindang Laut menguntungkan untuk dilaksanakan secara privat dan dapat bersaing pada tingkat harga privat.
53 Selain menggunakan analisis keuntungan finansial, rasio biaya privat (PCR) juga dapat digunakan untuk menilai keunggulan kompetitif dari pengusahaan komoditi. Efisiensi finansial dapat diukur dengan menggunakan rasio biaya privat (PCR) yang merupakan rasio antara biaya input non tradable dengan selisih antara peneriman dan biaya input tradable pada tingkat harga yang berlaku. Nilai PCR menunjukan bagaimana alokasi sumberdaya diarahkan untuk mencapai efisiensi finansial dalam menjalankan usahatani tebu. Suatu aktivitas akan efisien secara finansial apabila nilai PCR yang diperoleh lebih kecil dari satu (PCR < 1). Semakin kecil nilai PCR yang diperoleh maka semakin tinggi tingkat keuntungan kompetitif yang dimiliki.
Hasil analisis matriks PAM menunjukan bahwa nilai PCR adalah sebesar 0,94. Nilai tersebut menunjukan bahwa usahatani tebu di lokasi penelitian efisien secara finansial dan memiliki keunggulan secara kompetitf. Nilai PCR sebesar 0,94 berarti bahwa pada tingkat harga privat untuk meningkatkan nilai tambah output sebesar satu rupiah diperlukan tambahan biaya input non tradable (faktor domestik) sebesar Rp 0,94. Hal ini berarti penggunaan faktor domestik sudah efisien sehingga layak untuk diusahakan karena untuk meningkatkan nilai tambah gula sebesar satu rupiah membutuhkan biaya faktor domestik kurang dari satu rupiah.
6.1.2. Analisis Keunggulan Komparatif
Analisis keunggulan komparatif dapat diukur dengan menggunakan keuntungan sosial (ekonomi) (SP) dan rasio biaya sumberdaya domestik (DRC). Keuntungan sosial adalah keuntungan yang diperoleh jika terjadi pasar persaingan sempurna dimana tidak ada campur tangan pemerintah dan kegagalan pasar. Berbeda dengan analisis keuntungan finansial, dalam analisis keuntungan ekonomi komponen input dan output dinilai dengan menggunakan harga bayangan. Sehingga keunggulan komparatif dijadikan sebagai indikator untuk menilai apakah usahatani tebu memiliki daya saing, mampu hidup tanpa bantuan pemerintah, dan memiliki peluang yang besar sebagai produk substitusi impor.
Keuntungan sosial (SP) dari usahatani tebu di lokasi penelitian yang ditunjukan dengan nilai Social Profitability (SP) adalah positif (>1) yaitu Rp 12.771.594,77 per hektar. Keuntungan sosial tersebut menunjukkan bahwa
54 usahatani tebu untuk menghasilkan gula lokal menguntungkan secara ekonomi jika tanpa adanya kebijakan pemerintah dan distorsi pasar yang berlaku saat ini.
Selain dari keuntungan ekonomi, keunggulan komparatif usahatani tebu juga dapat diketahui dari rasio biaya sumberdaya domestik atau domestic resource
cost (DRC). DRC merupakan rasio antara biaya non tradable dengan selisih
antara penerimaan dikurangi biaya tradable pada harga bayangan atau harga sosial yaitu harga tanpa adanya intervensi pemerintah. Suatu aktivitas mempunyai keunggulan komparatif apabila nilai DRC lebih kecil dari satu (DRC < 1). Nilai DRC yang lebih kecil dari satu menunjukan bahwa untuk memperoleh tambahan satu rupiah output diperlukan tambahan biaya faktor domestik lebih kecil dari satu rupiah yang dinilai pada tingkat harga sosial. Sebaliknya, suatu aktivitas tidak mempunyai keunggulan komparatif apabila nilai DRC lebih besar dari 1 (DRC > 1). Semakin kecil nilai DRC maka komoditi tersebut akan semakin memiliki keunggulan komparatif.
Hasil analisis tabel PAM memperlihatkan nilai DRC sebesar 0,67. Nilai DRC 0,67 berarti pada tingkat harga sosial untuk meningkatkan nilai output sebesar satu rupiah diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar Rp 0,67. Hal ini menunjukan bahwa usahatani tebu sudah efisien dalam menggunakan sumberdaya ekonomi. Nilai DRC yang lebih kecil dari satu (DRC < 1) juga menunjukan bahwa tanpa kebijakan pemerintah, usahatani tebu di lokasi penelitian tetap mempunyai daya saing atau memiliki keunggulan komparatif.
Nilai keuntungan sosial (Rp 12.771.594,77 per hektar) yang lebih besar dari keuntungan privat (Rp 2.017.611,52 per hektar) menunjukkan kondisi pendapatan yang lebih menguntungkan pada tingkat harga sosial. Keuntungan sosial yang lebih tinggi dari keuntungan privat tersebut diakibatkan oleh harga gula impor yang lebih tinggi yaitu Rp 10.197,26 per kilogram sementara harga gula lokal adalah Rp 8.184 per kilogram. Selain itu hal tersebut juga disebabkan oleh adanya nilai pajak impor sebesar 10 persen untuk pestisida (insektisida dan herbisida) pada tingkat harga finansial sehingga menyebabkan biaya finansial input tradable untuk pestisida lebih tinggi dari biaya sosialnya. Biaya aktual tenaga kerja yang dibayarkan lebih tinggi dari biaya sosialnya juga menyebabkan keuntungan sosial lebih tinggi daripada keuntungan privatnya.
55 Nilai DRC yang lebih kecil dari PCR (DRC < PCR) menunjukkan bahwa cenderung tidak terdapat kebijakan pemerintah yang meningkatkan efisiensi produsen dalam berproduksi. Salah satunya penyebabnya adalah tidak adanya subsidi pemerintah terhadap pestisida padahal petani tebu masih menggunakannya. Selain itu kebijakan yang pemerintah yang diduga dapat mengurangi efisiensi petani tebu adalah adanya penurunnan tarif impor gula dari Rp 790 per kilogram menjadi Rp 400 per kilogram untuk semua jenis gula berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.239/PMK.011/2009. Adanya kebijakan-kebijakan tersebut mengakibat usahatani tebu mengalami penurunan efisiensi jika dibandingkan apabila pemerintah memberikan subsidi terhadap pestisida dan menurunkan tarif impor gula. Besarnya nilai keuntungan sosial daripada keuntungan privat yang diperoleh petani tebu serta nilai DRC yang lebih kecil dari PCR mengindikasikan adanya pengaruh intervensi pemerintah atau distorsi pasar yang tidak memberikan insentif yang baik kepada petani tebu sehingga keuntungan privat yang dihasilkan menjadi lebih rendah dari keuntungan sosial yang diperoleh tanpa adanya intervensi pemerintah terhadap input produksi dan distorsi pada pasar output.