• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PAPARAN DAN TEMUAN DATA HASIL PENELITIAN

E. Peta Penerapan dan Manajemen TIK dalam Pendidikan

3. Sumber Daya Manusia TIK

Sumber daya manusia TIK adalah orang-orang yang terlibat baik secara langsung atau tidak langsung dalam mengelola sumber daya TIK, dalam rangka mendukung manajemen pendidikan, baik pada area proses pembelajaran maupun area manajemen administrasi pendidikan. Secara teoritik, ada tiga tingkatan sumber daya manusia yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya TIK, yaitu tingkatan strategis, tingkatan teknis, dan tingkatan operasional (Slamet, 2008).

Sumber daya manusia yang terlibat atau tergolong dalam tingkatan strategis

68

adalah CIO (chief information officer) dan manajer unit pengelola unit TIK.

Sementara, sumber daya manusia yang tergolong tingkatan teknis adalah orang-orang yang secara khusus mempunyai keahlian secara langsung di bidang TIK, seperti analisis sistem, programmer, ahli sistem jaringan, ahli sistem database, coding design system, teknisi hardware, dan lain sebagainya. Sedangkan sumber daya manusia yang tergolong tingkatan operasional adalah orang-orang yang mampu mengoperasikan komputer (operator) dan orang yang bertugas sebagai administrator.

Berdasarkan hasil penelitian, belum ada satupun dari objek penelitian yang mempunyai struktur organisasi unit pengelola sumber daya TIK yang dikelola secara strategis. Ketidak strategisan ini ditunjukkan dengan indikator belum ada struktur organisasi unit pengelola sumber daya TIK secara jelas. Untuk menuju kawasan lingkungan pendidikan yang berbasis TIK. Hal ini disebabkan oleh sumber daya manusia TIK dalam kelompok teknis belum terpenuhi secara memadai. Berdasarkan hasil survey dari ketiga madrasah didapati 0% staf yang mempunyai keahlian sebagai analisis sistem; dibidang programmer 18,90%; di bidang manajemen database 17,10%; di bidang multimedia 40,76%; di bidang manajemen jaringan 15%. Beberapa bidang sebagian besar juga dirangkap oleh bidang yang lain, belum ada spesialisasi pembidangan keahlian sumber daya manusia TIK.

Untuk mengatasi kekurangan sumber daya manusia di bidang TIK, sesungguhnya beberapa madrasah telah melakukan pengembangan dan pelatihan sumber daya manusia yang ada. Hal ini ditunjukkan oleh data hasil penelitian sebesar 83,03% responden menyatakan bahwa madrasah dimana mereka mengabdi pernah melaksanakan program pelatihan dan atau workshop pemanfaatan TIK. Namun, berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan, mereka menyatakan program pelatihan dan workshop tidak dilakukan secara terancang dengan baik. Ia dijalankan ketika ada perintah atau ada proyek, artinya tidak dijalankan berdasarkan kebutuhan.

4. Budaya Pemanfaatan TIK dalam Pendidikan

69

Budaya TIK bermakna tingkat kemajuan suatu masyarakat atau lembaga terhadap penggunaan TIK dan menjadikan TIK kebiasaan dalam kehidupan mereka. Budaya TIK merupakan salah satu faktor penting dalam mengoptimalkan pemanfaatan TIK dalam konteks pendidikan. Salah satu parameter budaya TIK dapat dilihat dari segi pemanfaatan TIK, baik pada area pembelajaran maupun pada area manajemen madrasah.

a. Budaya Pemanfaatan TIK dalam Area Pembelajaran

Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa 100% guru di madrasah-3 ketika hendak menyampaikan rencana kerja, materi mengajar dan atau presentasi lainnya menggunakan komputer/notebook dan LCD Projector sebagai medianya.

Alat tersebut merupakan salah satu bagian dari sarana pembelajaran berbasis e-learning. Semua guru selalu menggunakan LCD Projector dalam menyampaikan materi kepada siswa, hal ini sebagai salah satu indikator budaya pemanfaatan TIK, kondisi ini tidak terlepas dari kebijakan pimpinan madrasah yang mengharuskan kepada semua guru menggunakan fasilitas TIK yang sudah disedikan oleh pihak madrasah. Sedangkan di madrasah-2, sebanyak 72,73% dari sampel responden telah menggunakan komputer/notebook dan LCD Projector dalam menyampaikan materi, baik dalam forum-forum tertentu maupun ketika dalam proses pembelajaran di kelas. Sebanyak 27,27% dari jumlah responden masih menggunakan teknologi lama yaitu slide projector dalam menyampaikan materi kepada siswa. Sementara di MAN 2 Tulungagung, sebanyak 81,82% sudah menggunakan komputer/notebook dan LCD projector dalam menyampaikan materi, baik dalam forum tertentu maupun dalam kelas ketika proses pembelajaran berlangsung. Hanya 18,18% dari jumlah responden tidak pernah menggunakan alat bantu, baik menggunakan slide dan overhead projector maupun LCD projector ketika presentasi.

Secara rinci hasil analisis pemanfaatan media pembelajaran dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 4.4 Pemanfaatan Media Pembelajaran

70 Alat Bantu Presentasi

Objek Penelitian

Madrasah-1

Madrasah-2

Madrasah-3 Tidak pernah menggunakan media

pembelajaran ketika presentasi 18,18% 0,00% 0,00%

Menggunakan Slide dan Overhead Projector

0,00% 27,27% 0,00%

Menggunakan komputer/notebook dan LCD Projector

81,82% 72,73% 100,00%

Jumlah 100,00% 100,00% 100,00%

Sumber : Instrumen penelitian (diolah)

b. Budaya Pemanfaatan Perangkat Lunak

Jika dianalisis dari penggunaan perangkat lunak (software), baik saat presentasi maupun kerja lain atau perangkat lunak yang dikuasai oleh responden, 29,82% dari jumlah responden sudah mampu mengoperasikan software MS-Word; 25,58% responden mampu mengoperasikan MS-Excell; 31,98% responden mampu mengoperasikan MS-Powerpoint; 6,22% responden mampu mengoperasikan software Macro-Flash; dan hanya 6,39% responden menyatakan lain.

Hasil analisis penguasaan software oleh staf madrasah dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.5 Kemampuan Mengoperasikan Software

Kemampuan Software Objek Penelitian

Madrasah-1 Madrasah-2 Madrasah-3

MS-Word 31,03% 26,47% 32,00%

MS-Excell 24,14% 20,59% 32,00%

MS-Powerpoint 27,59% 32,35% 36,00%

Macro Flash 6,90% 11,76% 0,00%

Lain-lain 10,34% 8,82% 0,00%

Jumlah 100,00% 100,00% 100,00%

Sumber : Instrumen penelitian (diolah)

c. Budaya Pemanfaatan TIK sebagai Media Komunikasi

Budaya pemanfaatan TIK sebagai media komunikasi dimaksudkan untuk akses dan menyampaikan atau menyebarkan informasi. Berdasarkan tabel 4.6, responden menyatakan sangat bervariasi dalam menggunakan TIK sebagai media komunikasi untuk mengakses dan menyebarkan informasi. Kasus di MAN 2

71

Tulungagung, sebagian besar masih menggunakan media komunikasi yaitu telepon untuk akses dan menyebarkan informasi; 23,81% menggunakan media komunikasi melalui e-mail; 14,29% menggunakan media komunikasi tradisional yaitu dalam bentuk surat; 14,29% sudah menggunakan media komunikasi dalam bentuk jejaring sosial (facebook); dan 9,52% menggunakan media chating ketika berkomunikasi.

Sedangkan di madrasah-2, 50% dari jumlah responden masih menggunakan media telepon untuk berkomunikasi; 18,18% menggunakan jejaring sosial (facebook), dan 13,64% menggunakan e-mail sebagai media komunikasi.

Sementara di madrasah-1, 33,33% menggunakan facebook; 33,33% masih menggunakan telepon sebagai media komunikasi; 20% menggunakan sarana e-mail; 6,67% menggunakan surat tradisional. Dari ketiga lokasi penelitian, belum dijumpai menggunakan media teleconference atau videoconference sebagai media komunikasi.

Tabel berikut memaparkan penggunaan TIK sebagai media komunikasi pada ketiga madrasah yang dijadikan objek penelitian.

Tabel 4.6 Pemanfaatan Media Komunikasi

Media Komunikasi Objek Penelitian

Madrasah-1 Madrasah-2 Madrasah-3

Surat Tradisional 14,29% 0,00% 6,67%

Telepon 38,10% 50,00% 33,33%

Chating 9,52% 18,18% 6,67%

e-mail 23,81% 13,64% 20,00%

Teleconference 0,00% 0,00% 0,00%

Videoconference 0,00% 0,00% 0,00%

Facebook 14,29% 18,18% 33,33%

Jumlah 100,00% 100,00% 100,00%

Sumber : Instrumen penelitian (diolah)

Secara grafik dapat dinyatakan dalam gambar berikut :

72

Gambar 4.4 Pemanfaatan TIK sebagai Media Komunikasi

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa di ketiga lokasi penelitiansudah terbangun budaya TIK, meskipun belum optimal penggunaan TIK sebagai sarana komunikasi. Hal ini disebabkan, budaya pemanfaatan TIK belum merupakan bagian dalam mengoptimalkan fasilitas TIK dalam konteks pendidikan dan pemvbelajaran.

Dokumen terkait