• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Temuan Hasil Penelitian

1. Analisis Deskriptif Antar Variabel

Kondisi jalan nasional di Indonesia secara umum dalam kondisi mantap dengan presentase sebesar 92,81%, sedangkan kondisi tidak mantap sebesar 7,19%. Provinsi dengan presentase jalan mantap terbesar pada tahun 2019 adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu sebesar 99,84%. Sedangkan provinsi dengan presentase kondisi baik terendah adalah Provinsi Papua Barat yaitu sebesar 73,10%.

Sampai tahun 2019 di Indonesia, panjang jalan menurut kewenang terbesar masih di pegang oleh Jalan Kabupaten/Kota dengan panjang sebesar 442.701,00 Km dengan keadaan mantap sebesar 54%, tertinggi

84

kedua ada pada Jalan Provinsi sebesar 54.749,00 Km dengan keadaan jalan mantap sebesar 68%, dan yang paling rendah adalah jalan negara yaitu sebesar 47.024,00 Km dengan keadaan jalan mantap sebesar 78%.

Gambar 4. 2 : Jumlah Panjang Jalan KBI

Sumber : Informasi Statistik PUPR (2020)

Di lihat dari Gambar 4.2 jumlah panjang jalan di Kawasan Barat Indonesia (KBI) rata-rata mengalami kenaikan pada tahun 2019, sekitar 7 provinsi dari 17 provinsi yang mengalami penurunan panjang jalan. Hal ini di akibatkan karena data jalan yang di gunakan adalah data jalan dengan keadaan baik dan sedang sehingga, penurunan dapat terjadi di karenakan setiap tahunnya keadaan jalan menjadi rusak.

Selain itu panjang jalan Kabupaten/Kota tertinggi di Kawasan Barat Indonesia (KBI) di raih Provinsi Jawa Timur yaitu pada tahun 2019

0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000

ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT RIAU JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEP. BANGKA… KEP. RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT JAWA TENGAH DI YOGYAKARTA JAWA TIMUR BANTEN BALI

2015 2019

85

dengan panjang jalan sebesar 29.161 Km, dan terendah ada pada Provinsi Kepulauan Riau tahun 2019 sebesar 2.005 Km.

Gambar 4. 3 : Jumlah Panjang Jalan KTI

Sumber : Informasi Statistik PUPR (2020)

Terlihat pada Gambar 4.3 bahwa sebagain besar jalan Kabupaten/Kota di Kawasan Timur Indonesia (KTI) dengan keadaan baik dan sedang mengalami peningkatan pada tahun 2019, dengan titik tertinggi ada pada Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2015 sebesar 18.878 Km, dengan titik terendah ada pada Provinsi Maluku tahun 2015 dengan panjang jalan sebesar 1.114 Km, panjang jalan Provinsi Maluku pada tahun 2015 juga menjadi panjang jalan terendah di Indonesia pada tahun 2015-2019. Jika di bandingkan dengan Kawasan Barat Indonesia (KBI), panjang jalan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) terlihat lebih rendah jika dibandingkan KBI. Tentu saja hal ini menjadi permasalahan

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 18000 20000

NUSA TENGGARA NUSA TENGGARA KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TIMUR KALIMANTAN UTARA SULAWESI UTARA SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGGARA GORONTALO SULAWESI BARAT MALUKU MALUKU UTARA PAPUA BARAT PAPUA

2015 2019

86

konektivitas di karenakan luas wilayah yang cukup timpang antara KTI dan KBI, wilayah KTI memiliki wilayah lebih dari dari setengah wilayah di Indonesia, tepatnya sebesar 67,87%, dengan data panjang jalan tersebut tentunya masih sangat kurang dalam meningkatkan konektivitas wilayah

b. Infrastruktur Air

Dalam kehidupan sehari-hari manusia memerlukan sumber daya air untuk melakukan kegiatan sehari-hari, tidak dapat dipungkiri bahwa manusia tidak dapat hidup jika tidak ada sumber daya air. Namun, perlu disadari bahwa terbatasnya sumber daya air bersih baik kuantitas maupun kualitas yang ada. Sangat berpengaruhnya sumber daya air bagi manusia, namun manusia juga berpengaruh besar dalam menjaga sumber daya air tersebut. Dikarenakan aktivitas manusia terutama pembangunan daerah yang akhirnya menyebabkan banjir dimana-mana sehingga kualitas air cukup tercemar.

87

Gambar 4. 4 : Jumlah Air Terdistribusi KBI L/det

Sumber : Open data Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) (2020)

Jika dilihat dari Gambar 4.4 terlihat bahwa titik tertinggi distribusi air PDAM KBI ada pada Provinsi Jawa Timur pada tahun 2019 dengan distribusi sebesar 24.534 l/det, menjadikan Provinsi Jawa Timur sebagai distribusi air tertinggi pada tahun 2015-2019. Sementara di Kawasan Barat Indonesia (KBI) titik terendah ada pada Provinsi Bangka Belitung dengan nilai distribusi sebesar 276 l/det. Hal ini di karenakan penduduk Provinsi Bangka Belitung sendiri pun hanya sekitar 1.488.792 jiwa penduduk, dengan pelanggan air PDAM hanya sebesar 19.945 orang.

0 5000 10000 15000 20000 25000 30000

ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT RIAU JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEP. BANGKA… KEP. RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT JAWA TENGAH DI YOGYAKARTA JAWA TIMUR BANTEN BALI

2015 2019

88

Gambar 4. 5 : Jumlah Air Terdistribusi KTI L/det

Sumber : Open data Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) (2020)

Sementara itu jika dilihat dari Gambar 4.5 jumlah air terdistribusi di wilayah KTI paling tinggi ada pada tahun 2019 tepatnya pada Provinsi Kalimantan Timur yang jumlah volume airnya sebesar 6.454 L/det, dan titik terendah ada pada Provinsi Papua Barat Tahun 2015 dengan distribusi sebesar 114 l/det dan menjadikan wilayah Papua Barat, Provinsi dengan distribusi air terendah di Indonesia tahun 2015-2019. Jika dibandingkan dengan data yang ada pada wilayah KBI tentu saja terjadi ketimpangan di antara keduanya karena titik tertinggi di wilayah KTI hanya mampu memenuhi 26% dari titik tertinggi di KBI.

Rendahnya tingkat distribusi air di akibatkan oleh sulit di dapatkannya air bersih di wilayah tersebut yang akhirnya menyebabkan kegiatan

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000

NUSA TENGGARA NUSA TENGGARA KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN KALIMANTAN KALIMANTAN TIMUR KALIMANTAN UTARA SULAWESI UTARA SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGGARA GORONTALO SULAWESI BARAT MALUKU MALUKU UTARA PAPUA BARAT PAPUA

2015 2019

89

produksi menjadi terganggu, yang pada akhirnya mengganggu kegiatan output yang dihasilkan oleh daerah tersebut.

c. Infrastruktur Listrik

Di masa pandemi COVID-19 seperti saat ini, kebutuhan akan energi tidak bisa dihindari karena listrik menjadi semakin penting saat bekerja dan belajar dari rumah (work from home). Sebagai salah satu dari 20 negara dengan total konsumsi listrik tertinggi, Indonesia menghasilkan kurang dari 10% pembangkit listrik energi terbarukan.

Karena Indonesia masih mengandalkan bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan konsumsi energi terbarukan terendah bersama Pakistan dan Nigeria. Selama 75 tahun, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) berupaya memperluas pasokan listrik ke seluruh nusantara. Infrastruktur ketenagalistrikan terus meningkat dalam lima tahun terakhir. PLN terus berevolusi untuk memenuhi kebutuhan listrik. Kondisinya cukup memadai, bahkan sebagian besar memiliki cadangan daya lebih dari 30%. Meskipun pemerataan listrik dapat dilakukan oleh pemerintah namun kualitas aksesnya berbeda di setiap daerah.

90

Gambar 4. 6 :Jumlah Listrik Terdistribusi KBI (GWh)

Sumber : BPS (2020)

Jika dilihat dari Gambar 4.6 sebagaian besar jumlah listrik yang terdistribusi meningkat setiap tahunnya dengan titik tertinggi ada pada Provinsi Jawa Barat pada tahun 2019 yang memiliki listrik yang terdistribusi sebesar 54.480 GWh sekaligus menjadi Provinsi dengan jumlah listrik terdistribusi terbesar di Indonesia. Sementara itu di wilayah KBI titik terendah ada pada Provinsi Bengkulu tahun 2015 sebesar 785 GWh.

0 10000 20000 30000 40000 50000 60000

ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT RIAU JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEP. BANGKA… KEP. RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT JAWA TENGAH DI YOGYAKARTA JAWA TIMUR BANTEN BALI

2015 2019

91

Gambar 4. 7 : Jumlah Listrik Terdistribusi KTI (GWh)

Sumber : BPS (2020)

Jika dilihat pada Gambar 4.7 jumlah listrik yang terdistribusi di wilayah KTI terus mengalami peningkatan hal ini dikarenakan memang fokus pemerintah, dalam beberapa tahun terakhir adalah untuk meratakan energy listrik di wilayah terpencil. Walaupun jika dibandingkan jumlah listrik yang terdistribusi di wilayah KTI masih jauh di bandingkan di wilayah KBI. Jika dirangking dari seluruh provinsi wilayah KTI rata-rata menempati rangking 10 terakhir dengan distribusi listrik terendah, bahkan Provinsi Kalimantan utara tahun 2017 menempati jumlah distribusi terendah dari seluruh Provinsi yaitu sebesar 181 GWh, sementara titik tertinggi di wilayah KTI ada pada Provinsi Sulawesi Selatan dengan listrik terdistribusi sebesar 5.946 GWh. Masih kurangnya listrik di wilayah KTI di akibatkan oleh masih

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000

NUSA TENGGARA NUSA TENGGARA KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN KALIMANTAN KALIMANTAN TIMUR KALIMANTAN UTARA SULAWESI UTARA SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN SULAWESI… GORONTALO SULAWESI BARAT MALUKU MALUKU UTARA PAPUA BARAT PAPUA

2015 Series 2

92

kurangnya suplai listrik di daerah tersebut sehingga pada kegiatan sehari-hari masyarakat mengalami pemadaman listrik bergilir.

2. Analisis Model Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan