• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Analisis Deskriptif

Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data hasil tes keterampilan proses sains dan kemampuan kolaborasi peserta didik kelas XI IPA 1 yang berjumlah 35 peserta didik, kemudian dilakukan analisis dengan menggunakan perangkat pengolah data SPSS versi 22 sehingga diperoleh data perhitungan analisis deskriptif sebagai berikut:

a. Pengetahuan Proses Sains

Berdasarkan hasil perhitungan analisis deskriptif untuk keterampilan proses sains dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1 Statistik Deskriptif Skor Keterampilan Proses Sains Peserta Didik

Statistik Skor Statisktik

Jumlah responden 35 Skor maksimum 21 Skor minimum 0 Skor tertinggi 20 Skor terendah 4 Rentang 16 Rata-rata 13,23 Deviasi standar 3,986 29

Jika didapatkan perolehan skor tes keterampilan proses sains peserta didik kelas XI IPA 1 SMAN 2 Jeneponto dikategorikan dalam lima bagian yaitu sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan sangat rendah, maka akan diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.2 Distribusi Pengkategorian Skor Keterampilan Proses Sains Rentang Frekuensi Persentase Keterangan

X ≤ 9 7 20% Rendah

9 < X < 17 20 57% Sedang

X ≥ 17 8 23% Tinggi

Jumlah 35 100% -

Berdasarkan tabel 4.1 rata-rata skor keterampilan proses sains peserta didik yaitu 13,32 sehingga melihat tabel diatas 13,32 berada pada interval skor 10 - 16 maka dapat dikatakan bahwa keterampilan proses sains peserta didik kelas XI IPA SMAN 2 Jeneponto berada pada kategori sedang dengan dengan persentase sebesar 57% yaitu sebanyak 20 dari 35 peserta didik hal ini menunjukkan bahwa tingkat keterampilan proses sains peserta didik kelas XI IPA SMAN 2 Jeneponto masih perlu untuk ditingkatkan karena akan mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Syafriansyah, dkk. (2017) bahwa keterampilan proses sains memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar peserta didik hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Salam, dkk. (2017) bahwa melatih keterampilan proses sains mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Dari tabel 4.2 diatas diagram distribusi tingkat keterampilan proses sains peserta didik di tunjukkan pada diagram batang berikut:

Gambar 4.1 Diagram Keterampilan Proses Sains Peserta Didik b. Kemampuan kolaborasi

Tabel 4.3 Statistik Deskripsi Skor Kemampuan Kolaborasi Peserta Didik

Statistik Skor Statisktik

Jumlah responden 35 Skor maksimum 80 Skor minimum 20 Skor tertinggi 77 Skor terendah 50 Rentang 27 Rata-rata 64,89 Deviasi standar 6,225

Berikut disajikan tabel distribusi frekuensi peserta didik berdasarkan indikator kemampuan kolaborasi:

0 5 10 15 20 25

Rendah Sedang Tinggi

F r e k u e n s i Kategori

Tabel 4.4 Distribusi Pengkategorian Skor Kolaborasi Peserta Didik Rentang Frekuensi Persentase Kategori

X ≤ 59 5 14% Rendah 59 < X < 71 24 69% Sedang X ≥ 71 6 17% Tinggi Jumlah 35 100% -

Berdasarkan tabel 4.3 rata-rata skor kemampuan kolaborasi peserta didik yaitu 64,89 sehingga dapat diketahui bahwa kemampuan kolaborasi peserta didik kelas XI IPA SMAN 2 Jeneponto berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata yang diperoleh berada pada rentang 60 – 69 dengan persentase sebesar 69% yaitu sebanyak 24 dari 35 peserta didik. Kemampuan kolaborasi peserta didik berada pada kategori sedang disebabkan karena tingginya persaingan belajar dalam kelas pembelajaran sehingga setiap peserta didik akan berlomba-lomba untuk menjadi yang terunggul di dalam kelas, hal ini menyebabkan peserta didik belajar secara individual dan juga menyebabkan kurangnya interaksi kolaborasi antar peserta didik dalam proses pembelajaran, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Risman. (2017) bahwa suasana belajar yang penuh dengan persaingan dan pengisolasian peserta didik menyebabkan hubungan antar peserta didik menjadi tidak baik dan menghambat pembentukan pengetahuan secara aktif dan secara tidak langsung kolaboratif antar peserta didik menjadi kurang baik.

Data persentase kemampuan kolaboasi peserta didik kelas XI IPA SMAN 2 Jeneponto dapat dilihat pada diagram beikut:

Gambar 4.2 Diagram Kemampuan Kolaborasi Peserta Didik 2. Analisis inferensial

Analisis inferensial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian yaitu untuk mencari hubungan antara keterampilan proses sains dengan kemampuan kolaborasi peserta didik. Adapun langkah-langkah yang digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis ini sebagai berikut:

a. Uji Normalitas

Uji normalitas data digunakan untuk melihat apakah data yang diperoleh berdistribusi secara normal atau tidak. Uji normalitas pada penelitian ini dimaksudkan untuk menguji variabel penelitian yaitu keterampilan proses sains terhadap kemampuan kolaborasi peserta didik. Pengujian normal atau tidaknya data yang diperoleh pada penelitian ini menggunakan bantuan perangkat pengolah data yaitu dengan uji Kolmogorov smirnov. 5 24 6 0 5 10 15 20 25 30

Rendah Sedang Tinggi

F r e k u e n s i Kategori

Uji Kolmogorov smirnov digunakan untuk menguji perbedaan antara data yang diuji normalitasnya dengan data normal baku. Dasar pengambilan keputusan untuk uji Kolmogorov smirnovdinyatakan bahwa jika nilai Sig. > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara data yang diuji dengan data normal baku artinya bahwa data tersebut normal dan juga dapat melihat tes statistik yang diperoleh dengan tabel Kolmogorov smirnov, apabila tes statistik yang diperoleh < dari tabel Kolmogorov smirnov maka data tersebut dapat dikatakan berdistribusi secara normal.

Berikut adalah hasil analisis uji normalitas keterampilan proses sains dan kemampuan kolaborasi peserta didik menggunakan uji Kolmogorov smirnov.

Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Variabel penelitian Test

statistik Sig. Keterangan

Keterampilan proses sains 0,120 0,200 Normal

Kemampuan kolaborasi 0,073 0,200 Normal

Berdasarkan uji normalitas yang telah dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov smirnov diperoleh data nilai signifikan untuk variabel keterampilan proses sains sebesar 0,200 begitupun untuk kemampuan kolaborasi yaitu 0,200. Hasil yang diperoleh dari kedua variabel tersebut > 0,05 artinya bahwa data yang diperoleh berdistribusi secara normal dan jika dibandingkan dengan tabel Kolmogorov smirnov pada jumlah sampel N=35 yaitu 0,22424 dapat dilihat pada lampiran G halaman 120 maka untuk keterampilan proses sains diperoleh tes

statistik 0,120 < 0,22424 dan kemampuan kolaborasi yaitu 0,073 < 0,22424 atau dapat dilihat pada lampiran G halaman 120 maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut berdistribusi secara normal.

b. Uji Linearitas

Uji linearitas adalah uji yang digunakan untuk mengetahui apakah data yang dimiliki sesuai dengan garis linear atau tidak. Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah variabel keterampilan proses sains memiliki hubungan yang linear dengan variabel kemampuan kolaborasi. Uji linearitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 22. Kaidah pengambilan keputusan digunakan jika Deviation from linearty (sig) > 0,05 maka terdapat hubungan yang linear secara signifikan antara keterampilan proses sains dengan kemampuan kolaborasi (Fhitung < Ftabel) maka hubungan kedua variabel tersebut dapat dikatakan linear. Kesimpulan hasil uji lineritas dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.6 Hasil Uji Linearitas

Variabel F Sig. Keterangan

XY 1,261 0,313 Linear

Berdasarkan tabel di atas hasil uji lineritas keterampilan proses sains dengan kemampuan kolaborasi peserta didik dapat dilihat pada lampiran G halaman 121. Diperoleh Deviasion from linearty(sig) sebesar 0,313 > 0,05 dan F hitung diperoleh sebesar 1,261 < F tabel dengan nilai df adalah 14:19 yaitu 2,26 yang berarti bahwa terdapat hubungan linear antara keterampilan proses sains (X) dengan kemampuan kolaborasi (Y)

peserta didik kelas XI IPA SMAN 2 Jeneponto. Tabel persentase ditribusi F dengan probabilitas dapat di lihat pada lampiran G halaman 121.

c. Pengujian Hipotesis

Uji hipotesis dihitung melalui korelasi product moment dengan bantuan perangkat pengolah data SPSS versi 22.

Ha = Terdapat hubungan antara keterampilan proses sains dengan kemampuan kolaborasi peserta didik.

Ho = Tidak terdapat hubungan antara keterampilan proses sains dengan kemampuan kolaborasi peserta didik.

Tabel 4.7 Korelasi keterampilan proses sains dengan kemampuan kolaborasi

Variabel Korelasi Person Sig. Keterangan

XY 0,824 0,000 Korelasi

Berdasarkan hasil output correlations SPSS versi 22 di atas diperoleh bahwa nilai koefisien korelasi (r) sebesar = 0,824. Karena nilai r ≠ 0,

maka Ha (terdapat hubungan) diterima dan Ho (tidak terdapat hubungan) ditolak. Interpretasi koefisien korelasi nilai tabel 3.7 halaman 28 terhadap nilai r yang diperoleh yaitu 0,824 maka keterampilan proses sains dan kemampuan kolaborasi memiliki korelasi sangat tinggi dengan

koefisien determinasi yakni r = (0,824)2 × 100% = 67,90%. Hal ini menandakan bahwa keertan hubungan kedua variabel sebesar 67,90% selebihnya ditentukan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Berdasarkan nilai sig (2-tailed) dan hasil output correlations SPSS versi 22 di atas diketahui bahwa nilai signifikansi antara keterampilan proses sains (X) dengan kemampuan kolaborasi (Y) sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara keterampilan proses sains dengan kemampuan kolaborasi peserta didik kelas XI IPA SMAN 2 Jeneponto.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari analisis deskriptif bahwa dari 35 peserta didik kelas XI IPA SMAN 2 Jeneponto dengan rata-rata yaitu13,23 menunjukkan bahwa keterampilan proses sains peserta didik berada pada kategori sedang dengan persentase sebesar 57%. Hal ini disebabkan karena peserta didik tidak pernah merasakan proses sains yang sebenarnya dikarenakan proses pembelajaran didalam kelas tidakk berjalan sebagaimana mestinya melihat kondisi dari dampak covid-19 dan juga sarana dan prasarana laboratorium yang kurang memadai sehingga menyebabkan frekuensi peserta didik untuk melakukan proses sains sangat minim sehingga alternatif guru hanya melaksanakan pembelajaran dengan memberikan materi di kelas, pemberian materi yang terlalu berlebihan tidak dibarengi dengan pengaplikasiannya menyebabkan peserta didik kurang memahami bagaimana sebenarnya prosedur proses sains sehingga peserta didik kurang memahami bagaiamana membuat rumusan masalah, hipotesis, dan merencanakan percobaan dengan tepat seperti indikator yang ditentukan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Khaerunnisa, dkk. (2017) bahwa

penyebab keterampilan proses sains peserta didik rendah disebabkan karena kurangnya fasilitas dalam melakukan praktikum sehingga peserta didik hanya berfokus pada teori, juga diperkuat dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Kurnia bahwa rendahnya keterampilan proses sains peserta didik yang dimiliki oleh peserta didik dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu kurikulum dan sistem pembelajaran, pemilihan metode dan pengajaran oleh guru, sarana dan fasilitas belajar, sumber belajar dan lain-lain.

Selanjutnya dari hasil analisis deskiptif didapatkan pula kemampuan kolaborasi peserta didik kelas XI IPA SMAN 2 Jeneponto dengan rata-rata yaitu 64,89 berada pada kategori sedang dengan persentase sebesar 69% yaitu 24 peserta didik. Hal ini disebabkan karena tingginya persaingan belajar diantara peserta didik untuk menjadi yang terunggul di dalam kelas sehingga menyebabkan peserta didik tumbuh dan belajar secara individual. Abdurahman dan Rusli menyatakan bahwa menurut teori behavioristik bahwa teori belajar lebih menekankan pada perubahan tingkah laku serta sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon yang diberikan sehingga peserta didik termotivasi untuk unggul didalam kelas. Karena tingginya persaingan tersebut minimnya kemampuan guru untuk mengakomodir setiap kemampuan yang dimiliki peserta didik untuk saling berkolaborasi sehingga ini juga menyebabkan hasil belajar hasil belajar peserta didik menjadi tidak optimal.

Pada hasil analisis korelasi menggunakan SPSS versi 22 antara keterampilan proses sains dengan kemampuan kolaborasi peserta didik kelas

XI IPA SMAN 2 Jeneponto diperoleh bahwa terdapat hubungan yang pisitif secara signifikan antara kedua variabel tersebut dengan nilai pearson Correlation adalah r = 0,824 dimana kedua variabel memiliki korelasi sangat tinggi. Kontribusi variabel keterampilan proses sains dengan kemampuan kolaborasi peserta didik pada penelitian ini diperoleh sebesar 67,90% dan selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Adanya hubungan yang positif secara signifikan antara keterampilan proses sains dengan kemampuan kolaborasi peserta didik kelas XI IPA SMAN 2 Jeneponto bahwa ketika peserta didik mampu untuk saling bekerja sama dengan baik atau berkolaborasi dengan baik maka proses sains peserta didik juga akan baik. Dalam pembelajaran fisika yaitu dalam kegiatan ilmiah pada proses sains akan melibatkan beberapa peserta didik dalam kegiatan belajar dengan keterlibatan tersebut akan menciptakan kolaborasi antar peserta didik sehingga peserta didik yang mempunyai kolaboasi yang baik akan lebih mudah menyelesaikan suatu pekerjaan. Sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Bordessa bahwa kerjasama sangat penting bagi peserta didik bahwa peserta didik harus benar-benar belajar dengan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan dengan pemahaman bahwa tidak ada seorang pun yang memilki semua jawaban yang tepat kecuali dengan adanya keja sama.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis dan pembahasan hasil penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang positif secara signifikan antara keterampilan proses sains dengan kemampuan kolaborasi peserta didik kelas XI IPA SMAN 2 Jeneponto dengan kontribusi sebesar 67,90% dan selebihnya dipengaruhi oleh faktor yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka terdapat beberapa saran yaitu:

1. Bagi pendidik

a. Pendidik lebih kreatif dalam mengejarkan mata pelajaran fisika

b. Pendidik harus terampil serta mampu memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada.

c. Pendidik dan peserta didik harus memiliki komunikasi yang baik dan kedekatan agar dapat mengetahui karakter peserta didik dalam belajar sehingga pendidik dapat mengimbangi dengan mengemas pembelajaran yang meneyenangkan.

2. Bagi sekolah

a. Sekolah sebaiknya memberikan sarana dan prasarana yang cukup memadai.

b. Sekolah berperan aktif dengan mengikut sertakan pendidik dalam pelatihan-pelatihan dan mengadakan study banding disekolah sekolah yang dirasa lebih unggul, hal ini sebagai bekal keilmuan dalam perkembangan pembelajaran

c. Mendukung pendidik untuk mengembangkan berbagai macam model; pembelajaran dalam proses pembelajaran agar selalu ada peningkatan kualitas pembelajaran baik dalam proses maupun hasil belajar peserta didik.

Dokumen terkait